Cari Blog Ini

Senin, 10 Desember 2012

Sajak Pagi

Pada musim penghujan
Di tahun lalu
Pada teka teki kesunyian
Ketika kabut sudah menjadi api
Dan malam menyelesaikan mimpi-mimpi

Pada satu musim penghujan
Air mata mengenangmu habis sudah
Dan kau entah dimana

Pada satu musim penghujan di waktu sekarang ini
Namamu, menjadi batu-batu candi yang beku dan kaku

-Desember 2012-.

Rabu, 05 Desember 2012

Kangen?

Desember, hujan dan namamu
Jalan setapak setengah becek
Wajahmu yang terus mengakar 
Lalu kesepian telah kehilangan kedaulatannya. 

Mencintaimu seperti membakar dupa tapi dengan mantera yang gagal bersuara. 

Aku rindu pada wajahmu
Pada bulan desember, bulan penuh teka teki gerak udara. 

Anda Kusmawan

Senin, 12 November 2012

Rasa Keindonesiaan......


Abis baca blog-blog wanita Indonesia yang nikah dengan bule, dari lima orang yang nulis semuanya hampir merindukan Indonesia tanah kelahirannya, tapi hampir semuanya juga membenci Indonesia sebagai sebuah sistem. Ada seorang wanita yang ibunya harus keluar dari kamar ICU karena tidak sanggup membayar biaya kamar dan terpaksa harus mati tanpa perawatan karena uang, lalu ia melihat sistem kesehatan di Kanada yang begitu manusiawi, padahal ibunya amat mencintai Indonesia, amat bangga dengan bangsanya bila nonton Bulutangkis - dia menceritakan saat Icuk bertanding lawan Yang Yang ibunya selalu nonton, saat sepakbola bertanding ibunya selalu berteriak-teriak, nasionalisme yang begitu banyak melekat pada diri orang Indonesia. Tapi kadang nasionalisme ini dibayar dengan sistem yang bejat.

Hebatnya lagi orang Indonesia tidak pernah membenci bangsanya, sedendam-dendam apapun, bila ia mengingat Indonesia di negeri yang jauh air matanya selalu menetes. Ada cerita lagi dari satu wanita Indonesia yang tinggal di Belgia dan menikah dengan lelaki Belgia, ia punya pengalaman pahit dengan pemerintahan geblek di Indonesia, tapi ia selalu memiliki kebiasaan di setiap tanggal 17 Agustus untuk duduk di tepi jendela pada satu malam dan meneteskan air mata, ia menyanyi sendirian lagu-lagu tentang kerinduan pada bangsanya.

Mencintai bangsa adalah hal yang abstrak, ia tidak begitu jelas, tapi ia nyata, ia memenuhi ruang pikiran dan hati bagi bangsanya. Indonesia ini aneh tiap hari ada saja hal-hal yang menyebalkan untuk dibicarakan, tapi kecintaan yang luar biasa tidak pernah menjadikan orang Indonesia terasing oleh kebangsaannya. Ada satu cerita yang menarik di Kanada juga, ia menangis saat harus berganti WNI, padahal ia dulu tidak pernah merasa mencintai Indonesia saat tinggal di Semarang, ia merasa biasa saja, ia bolos saat upacara bendera dan ia tak hapal nama-nama wapres Indonesia, ia bahkan tak tahu pulau Sulawesi bila ia melihat gambar peta, Ia keturunan Cina-Jawa, sebuah peranakan khas Semarang dengan identitas tersendiri, namun ia ketika ia harus berganti kewarganegaraan ia menangis, ada sesuatu yang hilang. Akhirnya ia menarik pena-nya menolak tanda tangan kewarganegaraan dan tetap memilih menjadi orang Indonesia.

Nasionalisme memang absurd, ia seperti udara tak terlihat tapi terasa.........

Minggu, 28 Oktober 2012

Sajakku, Sumpah Pemuda

Sajakku sajak pemuda yang bersumpah
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko

Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.

Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......

Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.

Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.

Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......

Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.

Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :

Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....

Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.

Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.

Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.

Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......

Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....

Kamis, 11 Oktober 2012

Tentang Rel dan Kamu



Tentang Rel dan Kamu

Dua garis rel memanjang
dari ujung cakrawala yang tak kelihatan
banyak ketakutan pada awan jingga
di satu sore yang tenang

Entah kenapa wajahmu menjadi hiasan batu-batu
mengenangmu seperti membuka kertas tua yang usang
rel itu masih terbujur
sentosa membariskan kayu-kayu jati
matahari masih padu
diantara kenangan-kenangan manis
yang dulu

Pada satu sore
ketika kenangan mulai layu
wajahmu mati
pada sudut pikiranku
tapi cintaku padamu
seperti air yang menggenang di air mataku
ia tak pernah habis.............


Anda Kusmawan, 11 Oktober 2012

Sabtu, 06 Oktober 2012

Menganalisa Kekuatan KPK

Konferensi Pers : Panggung Teater Yang Dibangun Bambang S Widjojanto Menjadi Sumber Penggerak Emosi Rakyat (Sumber Foto : KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)
Pengepungan KPK oleh Polri walaupun atas nama hukum berupa penangkapan salah satu penyidik yang diduga telah melakukan pembunuhan di masa lalu, menjadi sebuah peristiwa politik paling penting di negeri ini, karena bukan soal kriminal biasa yaitu dugaan pembunuhan di masa lalu, tapi soal tarik menarik kekuatan entitas penyidikan kasus-kasus korupsi di negeri ini yang dipersoalkan, hal ini jelas membawa peristiwa “Jumat Keramat” pada 5 Oktober 2012 menjadi kasus politik paling penting sepanjang tahun 2012.

Penggembosan KPK memang sudah puluhan kali terjadi, bahkan SBY sendiri bertindak sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk pertama kali dalam penyerangan KPK dengan menyatakan secara sinis “KPK Sebagai Lembaga Superbody”  pesan yang ditangkap disini adalah SBY menyatakan secara tidak langsung “KPK sudah menjadi ‘Negara di dalam Negara’ yang amat membahayakan struktur kekuasaan. Ucapan SBY mendapat sambutan gegap gempita utamanya dari kalangan Parlemen yang pro pada SBY, namun kemudian ucapan SBY mendapatkan gema-nya paling penting ketika dedengkot politisi PKS Fahri Hamzah secara terukur, sistematis dan jelas dalam perdebatan publik tentang kampanye pembubaran KPK,  alasan utama yang dikemukakan Fahri Hamzah adalah KPK gagal membersihkan lembaga-lembaga inti penegakan hukum yaitu : Kepolisian, Kehakiman dan Kejaksaan. Fahri dengan keras menuding KPK disetir oleh pihak lain yang membiayai secara non APBN.

Tapi kemudian tuduhan Fahri itu diserang habis-habisan oleh pendukung KPK yang lebih populis dan memiliki jaringan massa rakyat banyak. Fahri bahkan di bully terus di twitter oleh ratusan aktivis pro KPK, sedikit banyak sikap Fahri yang tidak populer ini menghancurkan suara PKS di banyak lini pemilihan daerah termasuk di DKI Jakarta, citra PKS sebagai Partai Bersih Anti Korupsi menjadi rusak oleh sikap Fahri yang menarik garis ke dalam skim pembubaran KPK yang kemudian pesan Fahri itu ditangkap oleh pikiran rakyat bahwa PKS berada pada kelompok pro koruptor, pikiran yang simplistis ini wajar saja di dalam pertarungan politik.
Kemajuan pesat KPK adalah ketika KPK dengan cerdik memanfaatkan momen cicak dan buaya dalam kasus Anggodo dimana Bambang S Widjajanto amat berperanan dalam ruang teater cicak dan buaya. KPK disini menjadi lembaga publik yang paling dipercaya oleh rakyat, namun juga harus diakui sebagai ‘Pemain Politik Paling Penting di Negeri ini’. Tak ada Parpol satupun di Indonesia yang mampu menandingi kekuatan politik KPK saat ini.

Parpol dan Ancaman KPK
Ancaman KPK bukan saja soal penangkapan para koruptor yang bisa dengan seenaknya dilakukan oleh KPK tanpa lagi kendala, di masa Indonesia modern baru kali inilah sebuah lembaga yang berdiri di luar struktur dasar UUD 1945 memiliki kekuatan besar dalam melakukan tindakan-tindakan politik, inilah yang kemudian menjadi sumber ketakutan banyak pihak terutama para pemain politik. Tapi di pihak lain juga timbul pertanyaan apakah kemudian KPK menjadi alat setir dari pihak lain? Fahri Hamzah sendiri sebagai pelontar pertama isu setir pihak lain belum bisa menjelaskan siapa pelaku Non APBN yang membiaya KPK.
Presiden SBY adalah juga pihak yang paling dirugikan aksi KPK. Paranoid terbesar SBY adalah kasus Bank Century yang kelak juga mengancam posisi politik klan SBY di masa depan. Kasus Century sendiri masih menjadi bahan tarik menarik politik paling ganas sepanjang masa Pemerintahan kedua SBY ini,  disini juga konfigurasi kekuatan politik saling membentuk, membongkar dan membentuk kembali.  KPK sendiri kemudian juga mengambil peluang secara intens dalam membentuk kekuatan politik di dalam dirinya. Pembentukan kekuatan politik semakin meraksasa ketika sejumlah Polisi dari Bengkulu menyerbu gedung KPK mencari Komisaris Polisi Novel Baswedan karena soal kriminal, kasus ini kemudian secara teatrikal dikembangkan jadi panggung politik oleh Bambang S Widjajanto dengan konferensi pers tengah malam yang dikesankan mencekam. Titik konferensi pers ini harus diperhatikan sebagai kekuatan politik penting dalam membentuk konfigurasi bangunan politik pada dirinya.
Kemenangan Panggung Teater Konferensi Pers ala Bambang S Widjojanto Jam 1.00 wib
Yang perlu diperhatikan dalam mengukur kekuatan KPK pasca penyerangan polisi Bengkulu adalah posisi Bambang S Widjajanto yang menjadi amat dominan dalam konferensi Pers jam 1.00 wib malam. Bambang S Widjajanto menjadi orang yang paling bertanggungjawab dan menjadi pemenang politik atas kasus “Insiden Polisi Bengkulu” dengan gaya yang amat cantik, lugas dan populis sehingga bisa dengan cepat menghadapkan rakyat dengan Polisi, disini KPK kemudian membentuk kekuatan ulang yang koridornya langsung masuk ke akar massa rakyat dan menjadikan militansi rakyat sebagai ancaman terselubung untuk mengganti struktur kepemimpinan di Kepolisian mulai dari Kapolri sampai jajaran eselon ring I diseputar Kapolri, KPK di jam 1.00 wib telah menjadikan dirinya secara kekuatan pengancam paling riil kedudukan Kapolri sendiri dan beberapa bawahan Kapolri yang ditengarai terlibat dalam politik permusuhan dengan KPK dimana kasus Simulator sebagai ‘Proxy War’ diantara mereka.
Bambang dengan nada cerdas berhasil membangun panggungnya ’seakan-akan’ Negara dalam Keadaan Berbahaya, disini KPK mengubah dirinya dari sekedar lembaga yang ditugaskan dalam pemberantasan korupsi menjadi lembaga yang paling penting di mata rakyat, inilah pendobrakan sejarah terbesar dalam kisah entitas anti korupsi sejak Paran 1960, Operasi Budhi tahun 1963, TPK 1970-an dan Opstib. Titik terpenting keberhasilan KPK adalah ‘tidak adanya peran tunggal Presiden dalam intervensi kasus korupsi’. SBY sendiri nampaknya gamang berhadapan langsung dengan KPK dalam penyelesaian persoalan hukum seperti apa yang pernah dilakukan Sukarno dan Suharto di masa lalu.   Dan kini hadapan KPK adalah justru lembaga yang disupervisi dan memiliki kekuatan bersenjata yaitu : Kepolisian. 

Kekuatan KPK menjadi sedemikian hebat dan menggulung ke arah people power bila kemudian Bambang S Widjajanto terus melanjutkan teater politiknya menjadi titik pusar pembangun isu. Hal ini dengan mudah ia lakukan saat kasus Cicak dan Buaya ketika dengan terang-terangan Bambang S Widjojanto mempermalukan institusi Polri di depan Mahkamah Konstitusi dimana ketua MK secara tersirat mendukung apa yang dilakukan Bambang kemudian terbangun isu besar yang menggerakkan kekuatan rakyat.

Kekalahan Polri Dalam Panggung Teater Jam 1.00 wib Malam
Entah siapa yang merancang skenario tidak cerdas dalam penjemputan paksa Kompol Novel Baswedan, dan apa yang dilakukan pihak Polri tidak mengukur kemungkinan-kemungkinan reaksi yang terjadi. Kepolisian kemungkinan kaget dengan kemunculan Bambang S Widjajanto yang secara tiba-tiba secara eksplisit meminta rakyat bersatu mendukung dirinya. Berbeda dengan panggung Bambang S Widjojanto yang semarak, menggugah dan dihadiri para selebritis terkenal di negeri ini,  panggung konferensi Pers Polisi cenderung kaku dan membosankan, sehingga citra buruk Polri di mata rakyat semakin kuat, inilah yang harus diperhatikan dari pihak Polisi bahwa mereka kurang cerdas membentuk panggung politik dalam manajemen konflik ketika dirinya sendiri berhadapan dengan kekuatan lain.
 
Negosiasi Yang Akan Terjadi. - Sudah dipastikan kekuatan Polri secara pencitraan hancur total pada peristiwa konferensi pers yang susunannya dibangun oleh Bambang S Widjojanto pada jam 1 malam itu, inilah yang kemudian menjadikan Polisi harus melakukan negosiasi ulang kepada pihak KPK, kecuali bila Polisi tetap terus berkeras dan menggunakan kekuatan besar dalam menggebuk KPK namun ini tak mungkin, Polisi harus ingat walaupun mereka memiliki kekuatan besar dengan dasar legitimasi UUD 1945 namun bias atau deviasi legalitas dalam sejarah modern Indonesia selalu kalah dengan kekuatan-kekuatan rakyat, bila Polisi ingin menang dalam pertarungan ia harus menciptakan panggung teater yang lugas, cerdas dan mampu menggebuk Bambang S Widjojanto dengan cara yang jenius bukan dengan pemaksaan model polisi Bengkulu pada Jumat Keramat.
Kekalahan pihak Polisi itu akan menjadikan Polisi sebagai pihak yang dibawah angin dalam memulai negosiasi ulang atas kasus Simulator SIM, kemungkinan besar skenario-skenario seperti barter penyidik dengan Djoko Susilo akan menjadi hancur apabila kemudian Bambang S Widjajanto secara intens memainkan irama emosi rakyat,  Bambang dengan mudah melakukan pengaturan tata emosi rakyat yang sudah dengan cerdas dibangunnya pada jam 1.00 wib dengan terus menekan Polri dengan penekanan ini pihak Bambang bahkan bisa lebih leluasa masuk ke tubuh Polisi tidak menutup kemungkinan besar juga ada korban seperti Susno Duadji di tubuh Polri dalam kasus Cicak dan Buaya.

Menjelang 2014 tarik menarik kekuatan politik menjadi amat penting, kelakuan para Parpol yang selalu memihak pada mereka yang populis menjadi mesin kekuatan besar dalam penggelembungan kekuatan KPK sementara di pihak lain Kapolri semakin lemah posisinya di mata rakyat. SBY jelas tidak akan melakukan rumusan pasti dalam perseteruan politik antara KPK dan Polri,  dan seperti jutaan rakyat yang sudah mengerti modus politik SBY yang selalu tidak mau ikut campur pada persoalan yang belum pasti siapa pemenangnya, SBY juga atas nama demokrasi tidak akan masuk ke dalam perseteruan-perseteruan yang mengatasnamakan hukum, karena sebagai eksekutif ia tidak berhak dalam masuk konflik itu, namun dalam soal kepemimpinan sikap pembiaran SBY ini akan menambah energi baru dukungan rakyat pada KPK.

Revisi UU KPK dan Bambang S Widjojanto Sebagai “Jokowinya KPK”. , - Pengisoliran KPK dan blunder Polisi Bengkulu kemarin akan menggagalkan seluruh skenario pelemahan KPK secara legal konstitusional yang sedang dibawa Komisi III DPR, namun yang paling penting disini adalah Peranan Bambang S Widjojanto sebagai aktor paling berbakat di panggung publik, Bambang kemudian menjadi orang paling terkenal setelah Jokowi di benak pikiran rakyat, ketika Bambang S Widjojanto menjadi terkenal maka dengan mudah KPK yang awalnya adalah kekuatan entitas tak jelas seperti “Cicak Buaya” dan sekumpulan orang lemah secara politis seperti “Bibid Samad Riyanto dan Chandra Hamzah”. Menjadi KPK yang kuat secara politis dan berkharisma secara personal disini kekuatan Bambang yang mampu menjadi pengatur skenario emosi rakyat dan Abraham Samad dengan wajah menyenangkan akan menjadi kekuatan utama KPK, atau setidak-tidaknya mampu membangkrutkan kepopuleran Jenderal Timur Pradopo sebagai Kapolri dalam kasus Simulator SIM dan Penyidikan Irjen Djoko Susilo.

Selasa, 18 September 2012

Demo Anti Jepang di Cina : Perang Dagang Terselubung?

Wilayah Asia Yang Paling Kaya Di Dunia Sebagai Pasar Konsumen, Wilayah Produksi, Arus Modal, dan Sumber Daya Alam (Sumber foto : Asian Map.com)
Kini wilayah Asia bergerak cepat, seluruh kekuatan-kekuatan besar Asia ingin menjadi pemain dalam pasar besar di dunia. Asia menempati urutan nomor satu dalam jumlah penduduk, arus modal dan sumber daya alam. Inilah yang kemudian Asia akan jadi wilayah paling kaya di dunia, setelah di masa-masa kolonialisme antara abad 17-20 Asia dijadikan wilayah jajahan negara-negara Eropa, dan sepanjang abad 20 dipermainkan oleh politik luar negeri Amerika Serikat.

Pemain-pemain besar Asia yang muncul saat ini adalah : Arab Saudi dan sekitaran negara teluk yang kaya modal mereka menjadi kekuatan penuh atas sumber-sumber modal yang banyak ditanamkan di seluruh dunia, India yang kuat di sumber daya manusia, Jepang yang sangat tinggi tingkat kemampuan teknologinya, Korea Selatan sebagai bayang-bayang Jepang,  wilayah Indo-China dan Melayu (Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura dan Indonesia) yang pasar konsumsinya memiliki daya serap tinggi dan terbesar adalah Cina yang memiliki hampir semua lini :  Sumber Modal, Sumber Daya Alam, Tenaga Kerja dan Kekuatan Produksi Massal.

Kekuatan Cina jelas merupakan ancaman bagi kekuatan dagang Amerika Serikat yang menancapkan pengaruhnya di Asia Tenggara dan Timur selama lebih dari 60 tahun. Kekuatan massal produksi Cina sekarang sudah menguasai wilayah Asia Tenggara, bahkan invasi produksi Cina untuk alat-alat produksi merembes ke seluruh dataran Eropa, puncaknya adalah invasi produk Cina ke Amerika Serikat pada tahun 2005 yang membuat goncang pasaran produk Amerika Serikat sehingga mereka harus melakukan pengkhianatan terhadap politik liberal-nya dengan melakukan tindakan-tindakan diskriminatif atas perdagangannya dengan Cina.

Amerika Serikat selalu mendasari provokasi untuk melakukan konflik dagangnya. Wilayah Asia Tenggara adalah wilayah yang paling rentan dalam konflik dagang dan konflik militer, sementara Indonesia masih sangat bergantung sekali dengan arus modal dari Amerika Serikat, tapi beberapa kekuatan internal politik di Indonesia sudah melihat bahwa harus ada ‘kemandirian politik dan ekonomi’ seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1960-an.

Perang dagang bisa saja berlanjut menjadi konflik militer, atau konflik militer adalah diplomasi dalam perang dagang. Proxy War ini sering dimainkan Amerika Serikat setelah mereka belajar dari kegagalan pada perang Korea dan Perang Vietnam. Lalu apakah konflik di Pulau Daiyou akan menjadi perang Proxy antara Amerika Serikat dan Jepang saat ini?.

 Provokasi Jepang dan Kenangan Invasi Jepang ke Shanghai 
Pembantaian Nanking, Desember 1937 atas Orang Cina yang dilakukan Tentara Jepang. Merupakan Dendam Kolektif bagi Bangsa Cina kepada Bangsa Jepang (Sumber Foto : Wikipedia)


Bila dilihat dari trauma sejarah, bangsa Cina masih menyimpan dendam yang luar biasa terhadap bangsa Jepang. Dendam yang menjadi ingatan kolektif mereka adalah saat Invasi Jepang ke Shanghai pada tahun 1937, Invasi ini adalah puncak dari politik ekspansi Jepang yang merampas satu persatu wilayah Cina di masa lalu, perampasan ini dalam sejarah dikenal sebagai ‘insiden-insiden kecil’ seperti Insiden Jembatan Marcopolo’, Insiden Tembok Besar dan Insiden-Insiden lainnya yang jadi pelatuk dalam perang total Cina-Jepang pada tahun 1937 dimana Jenderal Kaum Nasionalis, Chiang Kai Sek menghubungi pihak Komunis dan bersekutu untuk bersatu melawan Jepang.  Jepang melakukan pendaratan amfibi ke wilayah Shanghai dan bertempur habis-habisan sekaligus melakukan tindakan-tindakan brutal seperti pemerkosaan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk shanghai.  Pendudukan kota Shanghai inilah yang kemudian menjadi awal kebangkitan Nasionalisme Cina periode kedua, pasca Sun Yat Sen.  -Kebangkitan yang lebih didasari pada politik kebanggaan orang Cina yang lebih superior dalam sejarah dan budaya ketimbang orang Jepang yang dianggapnya masih barbar.

Sampai sekarangpun, Cina tidak mau memaafkan Jepang atas tindakannya menginvasi mereka dan membantai jutaan orang Cina. Bahkan politik luar negeri Cina tanpa tertulis mengatakan Kuil Yasukuni yang merupakan makam bagi tentara Jepang veteran perang dunia II adalah kuil para ‘penjahat’  pejabat Cina yang berkunjung ke Jepang tidak boleh kesana, bahkan Perdana Menteri Jepang yang berani ke kuil Yasukuni dan melakukan penghormatan dianggap musuh insiden PM Jepang Junichiro Koizumi (menjabat : 2001-2007), hal yang sama juga dilakukan oleh Korea Selatan yang menganggap kuil Yasukuni sebagai tempat haram jadah.

Titik-titik sakral atas sengketa inilah yang bisa jadi permainan Amerika Serikat dalam geopolitiknya untuk memanfaatkan ketidakstabilan Asia Timur.  Hal ini akan sama persis dengan posisi konflik Israel-Palestina dimana AS mengambil keuntungan atas konflik ini dengan persekutuan kuat di negara-negara teluk sekaligus berperang di wilayah panas Arab Nasionalis seperti : Libya, Suriah, Mesir, Irak, Iran dan Lebanon.

Apakah Amerika Serikat akan bermain pada konflik ini?. Pemerintahan komunis RRC tentu tidak akan menurunkan gengsinya dengan melepas kepulauan Cina, tapi Jepang tidak juga memiliki kekuatan kemiliteran karena sejak pengakuan kekalahan Jepang atas Amerika Serikat setelah dibom sekutu pada Agustus 1945, Jepang hanya memiliki pasukan bela diri,  jadi apa yang dibaca intel-intel RRC atas pergerakan Jepang di Kepulauan Daiyou itu?

Konflik Pulau Daiyou, akankah jadi perang di Asia Timur Atau Hanya Gertak Perang Dagang AS kepada Cina? (Sumber : Wikipedia)

Dua aktivis Jepang mendarat di kepulauan itu sekaligus melakukan wawancara pers bahwa kepulauan itu adalah hak milik pribadi seorang warga Jepang yang sudah dibelinya. Sementara ada data-data masuk ke Pemerintahan RRC serta menyebarluas ke rakyat banyak di Cina soal adanya sumber daya alam yang luar biasa seperti minyak bumi di kawasan itu. Kenangan kolektif atas kebrutalan Jepang di masa lalu juga menjadi pemicu demonstrasi besar anti Jepang di Qingdao yang memaksa dua Pabrikan besar Jepang : Panasonic dan Canon menutup lokasi usahanya.
 
Ribuan Warga RRC Menyerbu Beberapa Perusahaan Jepang di Cina dan Menghancurkan Pintu-Pintunya, Kemarahan Orang-Orang Cina Ini Bisakah ini mengancam Ekonomi Jepang? (Sumber Foto : Reuters)

Orang-orang Jepang bersembunyi takut di sweeping sementara mobil-mobil Jepang dilempari batu.  Apa selanjutnya yang terjadi pada sengketa pulau ini, Jepang kemungkinan tidak memiliki minat atas perang, karena mereka sudah merasakan pahitnya perang, dan nasionalisme Jepang hanya tinggal kenangan, mereka sudah sepenuhnya jadi bangsa pedagang, sementara Cina jelas ini soal gengsi politik di depan Pemerintahan Taiwan, karena bisa saja Taiwan merebut Pulau itu dan menegakkan garis klaim Nasionalis tinggalan Chiang Kai Sek di depan para generasi Maois di RRC. Apakah ini dimanfaatkan oleh Amerika Serikat sebagai Perang Dagang dalam penguasaan wilayah dagang di Asia Timur dan Asia Tenggara dengan Jepang sebagai Boneka seperti layaknya Pemerintahan Bao Dai di Vietnam Selatan pada awal tahun 1960-an?

Kita tunggu perkembangan selanjutnya…………

Sabtu, 25 Agustus 2012

Catatan Akhir Agustus 2012

Masa dekat-dekat setelah kejatuhan Suharto saya menonton WS Rendra pidato di UI, salah satu yang saya ingat adalah kata-kata yang diucapkannya dengan lekukan intonasi seorang dramawan besar :

"Sesungguhnya demokrasi itu bukan soal kebebasan bicara, demokrasi sekali lagi bukan kebebasan bicara, tapi demokrasi ruang yang luas untuk rakyat masuk ke dalam partisipasi rakyat, rakyat berdaulat atas s
uaranya sendiri, rakyat menjadi pelaku atas demokrasi itu sendiri. Selama demokrasi bernaluri priyayi maka demokrasi tidak akan berkembang, selama partai-partai mengejar untuk menjadi birokrasi maka partai-partai akan gagap soal kebudayaan".

Itu yang saya ingat, apa yang dikatakan Rendra, 14 tahun yang lalu sekarang menjadi kenyataan, Partai-Partai bukan lagi agen pengubah budaya, Partai menjadi Brokerage house atas Proyek-Proyek Negara.

Yang saya suka bila mendengarkan Rendra pidato adalah saya selalu membayangkan gaya dia bicara seperti seorang Bung Karno, seperti seorang Pemenang, seperti seorang Panembahan Reso yang menguasai keadaan. Namun kedalaman maknanya dalam ucapannya menjadikan dia guru yang mampu membaca tanda-tanda jaman. Rendra hidup dalam dua dimensinya : Dimensi Nalar dan Dimensi Batin, dalam dimensi nalar dia mampu menjelaskan akar-akar rasional mengapa kita selalu saja menjadi bangsa yang kalah, ia membahas soal tata bahasa, ilmu hitung dan kemampuan membuat himpunan-himpunan dalam persoalan manajemen kolonial penaklukan Raja-Raja Jawa oleh cukong loji Belanda, dalam soal kebatinan, Rendra mengajak untuk melihat secara waspada, sebuah keadaan selalu ditunjukkan oleh pertanda, inilah kenapa orang Jawa tidak pernah berkata "Saya Pikir" tapi berkata "Saya rasa".

Rendra selalu menghidupkan apa yang disebut sebagai "Daulat Rakyat" inti demokrasi itu adalah daulat manusia atas hidupnya sendiri dalam kerja masyarakat. Di jaman Suharto, daulat rakyat itu dibatasi dengan tiga B : Buang, Bui dan Bunuh sementara di jaman Reformasi ini daulat rakyat ditandai oleh 3 D : Duit, Duit dan Duit.

Tapi apakah kemudian rakyat bisa bangkit melawan sistem manajemen politik melewati basis kepartaian? tidak sama sekali, dalam sejarah modern, gerakan politik dikoordinasi oleh gerakan kepartaian, tidak pernah ada perlawanan politik tanpa pergerakan kepartaian, hanya saja soal ini sejarah modern terbelenggu antara Maklumat X 1945 dengan Dekrit 1959 dan Fusi 1973. Partai-partai akan selalu selamanya menjadi mesin koordinasi atas kerja rakyat.

Dengan seluruh kehormatan, Faisal Basrie mampu mengangkat gerakan individual dalam melawan sistem kepartaian, tapi Faisal Basrie terjebak pada kegagapannya dalam mengolah politik paling pragmatis, ia gagal memahami pemasaran politik yang paling mendasar " Segmentasi, Targeting dan Positioning" Tim Suksesnya tidak mampu langsung terjun ke dalam persoalan-persoalan rakyat, mereka berinteraksi di lingkungan itu-itu saja : kalangan menengah kota, intelek-intelek urban dengan keuangan yang sudah mapan, mereka tidak masuk dalam alam pikir rakyat yang paling sederhana. Inilah kemudian perlu dipertanyakan, sejauh mana kekuatan tanpa partai mampu bertarung dalam agenda-agenda perebutan kekuasaan.

Pada akhirnya setiap kerja politik akan membutuhkan himpunan, dan himpunan tetaplah partai-partai, maka tugas dari kaum pembaharu politik adalah melakukan revisi ulang atas pertanyaan paling filosofis, "apa itu Partai?" -Pertanyaan paling mendasar ini sebenarnya sudah diajukan WS Rendra sendiri "Daulat Rakyat, akan membuat Daulat Kebudayaan". Apakah kemudian Partai bisa menjadi bagian dari Daulat Rakyat itu sendiri, sama persis ketika Danton ditengah huru hara di kota Paris "bisakah kita menertibkan ini dengan himpunan-himpunan yang terorganisir"?

Terus terang saja saya merindukan sebuah Partai yang kadernya bukanlah mereka yang saling BBM-an dan telpon2an "Bagaimana Bang, bagaimana kakanda proyek kita"....bukan itu, saya merindukan sebuah Partai yang kader-kadernya mampu menjadi bagian produksi sastra, yang kader-kadernya mampu membaca persoalan rakyat paling mendasar, yang kadernya mampu memahami simpul-simpul ketertindasan rakyat dalam ruang partisipatifnya, dan saya yakin suatu saat kita bisa bila kita bergerak, mungkin dalam satu soal saat ini saya berharap pada Jokowi.

Senin, 13 Agustus 2012

"The Last Man Standing" : Jokowi !

Jokowi : "The Last Man Standing"
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menyatakan persekutuannya dengan Foke-Nara dalam memenangkan pasangan itu menjadi Gubernur DKI. Seluruh Partai besar dibelakang Foke-Nara, sementara Jokowi masih bertahan dengan dua Partai Nasionalis yang juga merupakan partai oposisi, apakah Jokowi akan bertahan? Apakah Jokowi akan bernasib serupa Megawati? Ataukah Jokowi menjadi anomali terhadap kekuatan Partai-Partai Politik sehingga Indonesia masuk ke jaman baru-nya? Semua pertanyaan ini bisa kita jawab dengan terlebih dulu mengupas ada apa dengan sistem politik kita pasca kejatuhan Suharto.
Lansekap kekuasaan di Indonesia sekarang ini dikuasai dua hal : Partai Politik dan Trah Menteng. Dinasti Menteng menjadi patron penting kekuasaan politik sekarang, dua bentuk ini juga bagian dari pertemuan : Modal dan Sejarah Politik. Seluruh penggede politik sekarang masih memiliki kaitannya dengan kekuasaan dimasa lalu, baik garis nostalgia Sukarno ataupun modal duit Suharto. Dua bentuk kekuasaan ini kemudian menjadi seiring sejalan menguasai peta perpolitikkan pasca kejatuhan Suharto 1998. Kelompok oposisi Suharto yang dulu sempat bertaruh nyawa melawan Suharto habis semua, ada yang terlanjur merasa nyaman dengan prestise politiknya di masa lalu dan mendapatkan gengsi sosial seperti Amin Rais, ada yang tersingkir terus menerus secara menyakitkan dan kemudian wafat dalam ketersingkiran itu seperti Gus Dur, ada yang harus tiap berhadapan dengan kompromi-kompromi politik seperti Megawati. 

Tiga orang terpenting oposisi di masa Suharto tidak mampu menembus jejaring kekuasaan setelah tahun 2004. Dari garis Kelompok Nostalgia Sukarno, praktis habis ketika Megawati terus ngotot ingin jadi Presiden RI. Ketika Megawati disingkirkan secara permanen maka kelompok jaringan pemodal Orde Baru dan eks mesin politik Suharto menguasai medan politik dan menjadi rezim penguasa sekaligus membenihkan jaringan politik yang kuat dimana kekuatan rakyat bukan lagi jaminan politik mereka. 

Lansekap politik yang dikuasai kelompok Menteng dan Modal Suharto ini terus menggurita bahkan melahirkan politisi-politisi baru, mereka bersimbiosis dan menguasai kanal-kanal kekuasaan politik, mereka membentuk sindikasi penguasaan anggaran APBN dan APBD, mereka menjadi makelar-makelar atas jabatan birokrasi, disini kekuasaan tiranik Suharto sudah berubah menjadi kekuasaan tiranik oligarkis. Instrumen terbesar dalam bentuk makelar kekuasaan adalah sistem Kepartaian. Partai bukan lagi menjadi agen perubahan sejarah masyarakat, bukan lagi menjadi mesin produksi budaya dan bukan lagi menjadi pelopor gerakan kebangsaan tapi Partai sudah menjadi seperti perusahaan biro jasa politik. Pertemuan-pertemuan peran ironik Partai ini kemudian menjadikan rakyat bukan lagi sebagai alat massa aksi dalam membentuk sejarah masyarakat, tapi rakyat sudah menjadi bagian obyek politik yang ukuran-ukurannya adalah permainan : Sentimen Agama, Politik Uang dan Manipulasi Janji Politik. 

Lalu tiba-tiba datanglah Jokowi berhadap-hadapan dengan sistem itu, tidak seperti Faisal Basri yang mengklaim lahir dari kegelisahan rakyat yang menolak sistem kepartaian, tapi sesungguhnya ia lahir dari kemarahan kaum intelektual yang kakinya tak berlumpur di persoalan-persoalan rakyat, Jokowi adalah produksi Partai tapi lahir dari Prestasinya dalam mengurusi rakyat, disini Jokowi menjadi anomali di segala lini, ia lahir dari Mesin Partai tapi ia menjadikan rakyat sebagai tuan rumah kebijakan politik, ia lahir dari sistem politik yang keterlaluan bejatnya tapi ia menjadi sedemikian mulia-nya, ia lahir dari kekacauan-kekacauan demokrasi tapi kemudian ia berhasil menertibkan kekacauan dan menjadikan rakyat sebagai pusat dari segala gerakan bukan Partai, di Solo Jokowi membuktikan kemenangan politik 90%, sebuah absolusitas yang mencengangkan. 

Jokowi tampil ke muka publik di DKI Jakarta juga tak mulus, faksi Taufik Kiemas ditubuh PDIP menampik Jokowi, ini artinya secara tersirat Taufik Kiemas menghendaki adanya persekutuan PDIP dengan Demokrat untuk Jakarta, tapi adalah sebuah keanehan bagaimana bisa sebuah Partai menyia-nyiakan kadernya yang berbakat, jutaan suara rakyat yang berteriak di sosial media dan ruang publik lainnya menghendaki Jokowi maju ke DKI. Kemudian Prabowo mengetuk pintu Megawati dan bersedia menjadi jaminan politik atas Jokowi, sampai disini Jokowi masih menjadi bagian dari mesin Partai. 

Lalu Jokowi muncul dengan baju kotak-kotak, ia keluar dari mesin partai dan masuk ke dalam mesin pergerakan rakyat, tak ada jeda disini, Jokowi melakukan jembatan politik antara Partai dengan Rakyat, Borjuasi-nya PDIP yang pernah menjadi penguasa negeri ini dengan melahirkan kelas baru yang kaya yang berjarak dengan massa rakyat kemudian dihukum oleh massa rakyat dengan gagal dalam dua kali Pemilu, dipersatukan kembali dan diarahkan menjadi Partainya Rakyat Jelata, Partainya Wong Cilik bukan Partai Para Priyayi, PDIP bukan lagi menjadi partai Borjuis beraksen Taufik Kiemas, tapi PDIP seperti menemukan gairah politiknya seperti masa-masa 1986-1992, dimana gairah Sukarno, gairah kerakyatan menemukan momentumnya. 

Massa Jokowi adalah massa sukarelawan massa yang bertemu dari sekian banyak arus kegelisahan, ada alasan multikultural, alasan perubahan Jakarta dari kota yang hancur-hancuran menjadi kota yang tertib dan ramah manusia, ada alasan tentang Jakarta yang berpihak pada ekonomi kerakyatan dimana Pasar-Pasar rakyat dimenangkan dalam pertarungannya dengan Hypermarket pemodal asing. 

Ketika PKS menyatakan mendukung Foke, secara tak langsung PKS sedang berjarak dengan rakyat, sedang berjarak dengan suasana kebatinan rakyat yang menghendaki perubahan, PKS yang juga sudah bermasalah secara internal semakin mengambil resiko politik untuk ikut arus dalam perubahan politik besar.
Gagalnya PKS membaca jaman ini semakin memperkuat posisi Jokowi dengan beraliansi pada kekuataan swing voter , kekuatan rakyat yang tidak tergabung dalam afiliasi-afiliasi kekuatan non partisan dan non partai itu. Hal ini bisa jadi indikasi untuk mengukur bagaimana kekuatan non partisan dan non partai bekerja dalam arus politik. 

Pada putaran I, kekuatan-kekuatan yang pesimis terhadap Pemilu DKI sangat banyak, lebih dari 30% tidak menggunakan hak suaranya, namun perkembangan pada Putaran II semakin memanaskan pergerakan rakyat yang mencari tempat itu sendiri. Di satu sisi kekuatan rakyat yang tidak menyukai sindikasi Partai Politik dipastikan akan mencoblos Jokowi dan dipihak lain kampanye-kampanye SARA akan membuat kelompok yang tadinya diam terpaksa bangkit mendukung Jokowi. Disini Jokowi mendulang keuntungan politiknya.
Pemetaan menjadi semakin jelas, Jokowi seperti dikeroyok banyak Partai yang persekutuan politiknya didasarkan pada rebutan proyek dan jatah jabatan kepala dinas Pemda DKI, sementara Jokowi seperti ‘The Last Man Standing’ dalam perang politik di Jakarta, Bagaimana kemudian Jokowi bisa menjadi The Last Man Standing dari intrik dan konflik Partai yang tidak lagi amanah terhadap suara kegelisahan rakyat? – Lepaskan dikte Partai Politik dan Biarkan Jokowi berimprovisasi dengan Kebijakannya Tanpa Tekanan Partai. 

Kunci kemenangan Jokowi dalam kemenangan politik yang substansial adalah keikhlasan bagi penggede-penggede PDIP dan Gerindra terutama Megawati dan Prabowo untuk menjadikan Jokowi bukan lagi alat Partai, tapi sebuah simbol kemandirian rakyat, disini harus ada kontrak yang jelas bagi Jokowi untuk membebaskan dirinya dari mesin kepartaian, jadi posisinya dibalik, bila dulu seorang pejabat politik baik Gubernur dan Bupati menjadi alat dikte Partai, kini saatnya seorang Pejabat Politik mendikte Partai dan berdiri diatas kepentingan rakyat banyak bukan kepentingan Partai. 

Kontrak politik ‘Bebas Dikte Partai’ inilah yang diperlukan dan menjadi garansi atas kemenangan Jokowi kelak. Bila DKI Jakarta ingin berubah dan menjadi pintu pembuka perubahan politik Indonesia secara menyeluruh maka Partai tidak boleh mendikte atau meminta jatah proyek kepada Gubernur DKI, bila ini terjadi Jokowi telah membawa Revolusi dari ruang senyap, tanpa gemuruh, tanpa holopis kuntul baris, sebuah revolusi dari ketiadaan………..

Kamis, 19 Juli 2012

Ingat Pesan Jokowi, Bung Karno dan Ladang Sejarah

Bersatu tanpa Prasangka, Bersatu dalam Niat Baik adalah Substansi dari Sebuah KeIndonesiaan Kita (Sumber Photo : Antara)

Indonesia bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada, Indonesia adalah sebuah Proses Peradaban ….
Sebuah bangsa adalah ladang kenangan, ia ladang sejarah yang kemudian membentuk masyarakat. Sebuah bangsa tak tiba-tiba saja ada, ia proses, ia kumpulan dari royan-royan (royan=luka), di satu saat ia kelam, di satu saat ia penuh kemenangan, tapi terlepas semua itu, sebuah bangsa adalah kebersamaan, sebuah bangsa adalah Rumah Bersama Kita dalam Kebhinnekaan

Lalu bagaimana keIndonesiaan kita terbentuk, lalu bagaimana sebuah Indonesia menjadi bundel-bundel kenangan bagi seluruh penghuninya, apa yang menjadikan Indonesia tetap ada sampai saat ini. – Mungkin ini jawaban yang logis dari pertanyaan yang sudah usang dihimpun waktu, yang menjadikan kita sekarang masih disini sebagai bangsa adalah : BERSATU..!! Rumah Bersama dalam Persatuan Indonesia. 

Suatu malam di Bandung pertengahan tahun 1920-an, di Jalan Pangkur Bung Karno termenung lama di teras rumahnya. Di temani bintang gemintang, udara dingin khas Bandung, dan kopi kental buatan Inggit, Bung Karno tafakur dalam daya hidup intelektualitasnya, ia tenggelam dalam rasa berbudaya-nya. Halaman-halaman narasi sejarah terbuka di kepalanya menerobos tanpa henti. Ia menganalisa dalam tafakurnya itu.
Kenapa kita menjadi bangsa yang kalah? Kenapa perbudakan bisa dilakukan oleh Hindia Belanda, kenapa bangsa ini yang dulu mampu menciptakan Borobudur, membangun candi Hindu tercantik sedunia seperti Prambanan, mampu menjadi kekuatan Islam pesisir terkuat di Asia Tenggara seperti Samudra Pasai, mampu menjadi bangsa yang menguasai seluruh sel-sel dagang Nusantara seperti Majapahit, bangsa yang dulu penuh kemenangan, bangsa yang dulu tegak dalam tantangan-tantangan persaingan dunia, kini tak lebih dari bangsa babu, bangsa budak, bangsa yang hanya bisa menoreh-noreh karet lalu dicambuki di Perkebunan Deli, bangsa yang terkapar oleh hinaan-hinaan bangsa lain. Kenapa?
Jawabnya adalah karena kita TIDAK BERSATU.
 
Lalu pada rapat Radicale Concentratie di Batavia tahun 1924 Bung Karno mulai berteriak keras soal Persatuan…Persatuan…Persatuan. Sebuah bangsa mustahil akan membebaskan dirinya tanpa persatuan, Sejak saat itu Persatuan Indonesia adalah menjadi prolog paling penting dalam membentuk KeIndonesiaan.

Sukarno adalah jaminan sejarah, seperti kata Sutan Sjahrir kepada Tan Malaka : “bila kamu punya sepersepuluh saja kekuatan seperti Sukarno, aku ikut kamu. Saya sudah keliling Jawa dan rakyat tau-nya Sukarno adalah pemimpin yang diakui semua rakyat”. 

Satu-satunya kelebihan Bung Karno dengan seluruh pemimpin bangsa ini adalah kemampuannya membangkitkan daya batin, daya imajinasi untuk bersatu. Rakyat berbondong-bondong mendengarkan pidatonya, rakyat dicerahkan, bahwa sebuah masa depan bangsa tak mungkin bisa dibentuk bila tak ada daya batin untuk bersatu.

Indonesia bukan pemberian gratis makan siang di Istana Risjwijk antara para Raja di Nusantara, bukan…bukan itu. Indonesia bukan sebuah pemberian kenang-kenangan Hindia Belanda atas sebuah bangsa yang luar biasa luas ini, bukan itu….Indonesia adalah perebutan untuk membebaskan diri, Indonesia adalah sebuah usaha besar bersama membangun Peradaban yang dimulai dari jam-jam pertamanya dengan darah, air mata, teriakan kesakitan dan mimpi yang kuat untuk membentuk sebuah bangsa yang berdaulat demi rakyat yang dilindungi. Demi sebuah Peradaban Baru, Peradaban yang melihat Manusia sebagai Manusia, Manusia yang penuh cinta pada Tanah air, sebuah sikap Patria yang menjaga negerinya dengan segala penuh kehormatan.

Indonesia bukan milik sekelompok golongan yang menjual suku-nya, yang menjual agama-nya untuk kepentingan kekuasaan, Indonesia bukan milik sekelompok yang menggadaikan perkelahian antar suku dan agama hanya untuk kekuasaan. Indonesia adalah rumah bersama kesadaran, bahwa bangsa ini sudah selesai soal perbedaan-perbedaan suku, beragama tapi tak saling menyakiti satu sama lain, menjadi satu karena mimpi bersama untuk menjadi bangsa terkuat di Asia, menjadi bangsa yang tidak satupun ada manusia kelaparan di dalamnya, itu mimpi kita sejak awal. 

Karena tanah Indonesia ini dilumuri oleh darah-darah pejuang, dilumuri oleh teriakan kesakitan berkepanjangan, seperti Panglima Besar Sudirman yang berdzikir dan sholat dalam kondisi duduk di atas tandunya, seperti darah Ngurah Rai yang beragama Hindu itu tumpah di Tanah Bali bukan untuk sekedar Bali, tapi untuk Indonesia. Seperti Wolter Monginsidi yang berdoa secara Kristen tenang menghadapi regu tembak untuk dihukum mati, setelah malam sebelumnya ia menulis di dalam penjara Belanda tentang harapan sebuah bangsa yang terbit dan membebaskan, bukan hanya untuk Minahasa tapi untuk Indonesia, seperti Yos Sudarso yang beragama Katolik itu tetap bertahan di geladak kapal, berdiri tegak dengan mata lurus menantang korvet-korvet Belanda, ia berdiri dengan seribu keberanian dan runtunan doa di geladak kapal lalu sebuah destroyer Belanda melesatkan tembakan dan terbakarlah Macan Tutul, Yos Sudarso mati secara gentleman untuk bangsanya, kehormatannya, Indonesia …sampai-sampai saat KRI Macan Tutul tenggelam pelan-pelan, beberapa perwira Belanda melakukan hormat militer dengan sikap penuh tegak sempurna.
Indonesia dihuni segala manusia dengan pengalaman keyakinannya, dengan banyak agamanya, dengan macam-macam sukunya, tapi dalam kemacam-macaman itu, ada rasa bersatu dan ini jelas dirumuskan dalam konstitusi bahwa kita hidup di masyarakat Berbhinneka. –Sebuah bangsa tidak akan pernah dibangun berdasarkan sentimen perbedaan, sebuah bangsa adalah semangat kebersamaan-. 

Indonesia itulah yang kita wariskan, sehingga kita mempunyai bangsa saat ini. Lalu kenapa persoalan-persoalan yang sudah selesai itu dijual murah hanya untuk kekuasaan seperti suku, seperti sentimen agama dan lain-lain yang tidak berkebudayaan, dimanakah kesadaran sejarahmu? Kenapa kebodohan kamu pamerkan terus menerus tanpa malu? Kenapa kamu dan jualan SARA-mu tak malu terhadap pendiri bangsa ini yang sudah berwawasan amat luas. 

Dan Tuhan telah menghadiahkan dua orang bagi bangsa Indonesia : Sukarno dan Jokowi. Bila Bung Karno membentuk kesadaran bersatu, Bung Karno melakukan konsolidasi atas konsepsi-konsepsi Persatuan Indonesia, maka ketika jaman ini agama dan suku dijual murah untuk kekuasaan. Tuhan menghadirkan Jokowi untuk mengingatkan bangsa ini “Bukankah kita bangsa Indonesia?, bukankah kita berkebudayaan? Janganlah kita menjual sentimen-sentimen agama, sentimen suku, bersikaplah wajar dalam berpolitik, bersikaplah sederhana, karena sekarang bangsa ini butuh kerja kita, bukan perkelahian kita”.

 

Rabu, 11 Juli 2012

Belajar dari Kemenangan Jokowi (Sebuah Anatomi Kultural)

Foto dokumentasi TEMPO edisi : 10 Walikota terbaik, 2006 ini merupakan Foto paling Spektakuler pengenalan Pertama Jokowi di luar Solo, yang kemudian membangunkan persepsi Jokowi sebagai bagian dari Rakyat Jelata yang Mampu Memimpin Pemerintahan (Sumber Photo : TEMPO)


Kemenangan Jokowi malam ini juga menjadi bukti bagaimana orang-orang Betawi menyukai orang Jawa seperti mereka membela mati-matian Sukarno pada jam-jam pertama Republik, seperti mereka berbondong-bondong memilih Jokowi. -Keikhlasan orang Betawi dalam dharma bakti bela negara pun amat diacungi jempol, yang paling spektakuler adalah kerelaan ratusan ribu orang Betawi pindah dari Senayan ke Tebet, karena ribuan hektar lahan di Senayan akan dijadikan Stadion Gelora Bung Karno. Perpindahan ini didasari rasa sukarela karena kecintaan mereka pada Bung Karno dan demi kejayaan bangsa Indonesia.

Orang Jawa memang disukai oleh orang Betawi secara kultural, dan banyak perantau-perantau Jawa ditolong tempat tinggalnya oleh orang Betawi, kedekatan Jawa Mataraman dengan Betawi amat lekat dalam kebudayaan, sama seperti kedekatan kultural Betawi Arab dan Betawi Cina, namun hubungan Betawi Jawa ini lebih lekat soal kepemimpinan politik, orang Betawi menyukai orang Jawa sebagai pemimpin. Mayoritas kepemimpinan lingkungan di Jakarta dipegang orang Jawa dari tingkat RT sampai RW.  -Banyak orang Betawi lebih menyukai memilih menantu yang berasal dari Jawa, karena penilaian mereka orang Jawa perantau rajin-rajin dan sopan.

Jadi jargon-jargon ‘pendatang’ dan ‘pribumi’ tidak tepat dalam soal konteks politik di Jakarta. -Sudah lama orang betawi sendiri menerima diri mereka sebagai bagian kosmopolitan negeri ini.  Sebagai catatan, Betawi sendiri menjadi kota metropolitan jauh sebelum New York berdiri.

Dan lagi ini juga pembelajaran kultur politik negeri kita, sampai saat ini orang Jawa masih mendominasi kekuatan politik secara keseluruhan Nusantara. Karakter Jawa yang ‘ngalah’ dan tidak suka kekisruhan, bekerja dengan hati, bicara menggunakan perasaan, masih menjadi preferesi dominan pilihan politik. -Kita bisa lihat ini nanti dalam Pemilu 2014, diantara barisan capres yang akan muncul maka citra orang Jawa paling utama dimiliki oleh Prabowo.  Apakah Prabowo akan mendapatkan preferensi politiknya yang tinggi? dari rating lembaga Survey saat ini, Ranking Prabowo selalu tertinggi sebagai Capres paling diminati tahun 2014.
Bila SBY menggunakan pencitraan sebagai Jawa yang santun, maka Jokowi mengedepankan orang Jawa yang melayani, seperti tukang-tukang becak orang Jawa di masa lalu waktu Becak masih ada di Jakarta, karakter tukang becak yang melayani inilah yang kemudian disukai banyak orang dalam dunia politik sekarang.

Dan Jokowi tahu itu.






Minggu, 08 Juli 2012

Kangen


Aku pinjam bayangan mu 
Sebagai teman lewati malamku
Kan ku simpan senyumanmu , , , , biar hidup ku terang bercahaya
Meski hanya bisa mengintaimu dari kejauhan ,,, sungguh menakjubkan
Apajadinya bila sehari saja ku tak bisa melihatmu ,,,, melihatmu

Aku kecanduan senyummu ,,,, senyummu
Aku ketagihan cantikmu ,,,, cantikmu

Bagaimana caranya membuat kamu perhatikan aku
Bagaimana caranya tuk mengalihkan tatapan indah mu



Lagi Kangeeeeen Bangeeeet !!

Selasa, 19 Juni 2012

Sisi Kapital dalam Klaim Kebudayaan

Bung Karno, Henk Ngantung dan Para Seniman di Istana Negara (Sumber Photo :Antara)
Awal minggu ini kita dihebohkan oleh berita di media massa tentang klaim Malaysia terhadap tari Tor Tor dan Gondang Sambilan, muncul pro kontra disini. Bagi pihak yang panas dan emosional menganggap aksi Malaysia ini adalah tindakan maling yang direstui negara sementara dari pihak yang berkepala dingin menganggap ini soal biasa saja, soal budaya bangsa.

Tapi pernahkah ada yang berpikir selama ini apa yang dilakukan Malaysia mulai dari klaim Batik, Tari Pendet, Lagu Rasa Sayange,  dan banyak lagi pengakuan secara sepihak sebagai strategi kebudayaan Malaysia dalam ‘penumpukan kapital masa depannya’ sebagai negara? 

Sebelum masuk ke dalam strategi kebudayaan Malaysia dan akumulasi Kapital atas strategi kebudayaan itu, kita lihat dulu arah strategi kebudayaan kita yang sejarahnya juga pernah berpikiran sama dengan Malaysia dalam ambisinya menyebutkan dirinya sebagai ‘The Truly Asia’  dalam menciptakan centrum kebudayaan sebagai alat peningkatan kekayaan negara.
Pavilyun Hindia Belanda di Pameran 100 tahun revolusi Perancis, di Paris (Sumber Photo : KITLV)
 
Bung Karno dan Taman Bhinneka Tunggal Ika 


Sejak jaman Hindia Belanda, keanekaragaman kekayaan Nusantara menjadi bahan paling menarik bagi para antropolog dan peminat studi-studi kebudayaan timur.  Pemerintahan Hindia Belanda juga secara resmi menggalakkan penggalian kebudayaan itu kemudian digerakkan sebagai ‘akumulasi kapital’ dalam banyak pameran di Bandung, Batavia dan Surabaya seringkali Pemerintah Hindia Belanda memamerkan rumah-rumah adat, tarian tradisional dan segala macam bentuknya, bahkan di era Van Limburg Stirum sudah ada ide untuk membentuk semacam ‘Taman Mini Hindia Belanda’.   Namun rencana ini tak berlanjut karena krisis ekonomi dan kemudian Van Limburg Stirum digantikan oleh Dirk Fock yang tidak begitu menyukai adanya kekayaan kebudayaan Hindia Belanda dan lebih berkonsentrasi pada pengembangan ekonomi komoditi ketimbang menggali kekayaan kebudayaan dan meningkatkan sektor pendidikan seperti masa Van Limburg Stirum. -Namun ada yang layak dikenang di jaman Stirum ini menjadikan Pulau Bali dikenal di Eropa, Stirum membangun jalur-jalur khusus pelayaran pariwisata ke Bali, kemudian Bali mulai dikenal masyarakat Internasional, Bali yang awalnya menjadi sorga seniman Bohemian, di tahun-tahun 1930-an awal mulai dijadikan tempat Pariwisata secara profesional dan berpotensi menumpuk Kapital.

 Rencana Stirum itu sedikit banyak kemudian diambil kembali pada era Pemerintahan Sukarno setelah Sukarno memberlakukan Demokrasi terpimpin 1959. Pada tahun 1960, Sukarno mengangkat Henk Ngantung menjadi Wakil Gubernur Djakarta Raja,  pemikiran pertama adalah menggali pemikiran Sukarno soal kebudayaan.

Bung Karno Menginspeksi Pembangunan Monas (Sumber Photo : LIFE Magazine)
Bagi Sukarno sendiri “kebudayaan adalah landasan dasar” bukan saja ‘pembentuk jiwa karakter sebuah bangsa’  tapi landasan dari seluruh gerak bangsa. Kebudayaan itu dibagi dua menjadi Kebudayaan sebagai arah pengembangan pencerahan batin dan kebudayaan sebagai aset kekayaan bangsa, dari dua sisi inilah kemudian Bung Karno meletakkan arah pembangunan Revolusi-nya. -Kebudayaan selalu jadi avant garde dalam revolusi Sukarno, seni lukis berkembang hebat, aliran-aliran lukisan masa itu semarak, sastra berkembang amat baik dan Sukarno sendiri secara frontal melawan lagu-lagu asing, di satu sisi ia berteriak soal “Kebudayaan Sendiri!” di sisi lain yang tak dilihat banyak orang adalah Sukarno mengembangkan strategi bahwa jika kebudayaan warisan masa lalu bisa menjadi ‘tuan rumah’ di negeri sendiri maka seluruh hasil kebudayaan itu bisa menjadi sumber akumulasi kapital, bisa menjadi sumber kekayaan bagi bangsa sendiri. ‘Strategi kapital dalam kebudayaan ini dilakukan Sukarno dengan amat jenius dan berwawasan jangka panjang’. Ia membentuk Lapangan Monas sebagai lapangan terpadu, titik nol kebudayaan kita. - Dalam lapangan Monas itu rencananya akan dibangun Museum besar, yang menurut Sukarno ‘Lebih hebat dari Museum Nasional Mexico’ bahkan dalam pidatonya di masa menjelang kejatuhannya tahun 1966, Sukarno berkata “Di depan pintu keluar museum ini akan ada tulisan ‘Nah, kalian sekarang bisa meninggalkan museum ini, tapi kalian tak bisa meninggalkan sejarah”. Arah pemikiran Bung Karno ini dibaca oleh Henk Ngantung dan kemudian ia menyusun sebuah tim untuk merekonstruksi centrum kebudayaan, saat itu sekitar tahun 1962 Bung Karno pernah mengunjungi wilayah Ragunan dan dielu-elukan warga sekitar, di wilayah Ragunan ada sekitar 100 hektar tanah yang bisa digarap negara untuk keperluan kebudayaan. Henk memberikan usulan agar di Ragunan dibentuk ‘Taman Bhinneka Tunggal Ika’. Namun Sukarno tampaknya mendiamkan saja rencana Henk, karena ia sedang konsentrasi pada pembangunan di wilayah pusat Jakarta seperti Monas dan Istiqlal, memang menurut pemikiran Henk dari Monas ke Ragunan adalah jalur kebudayaan, disana akan dibangun banyak patung-patung, dan karya seni dipajang dalam ruang publik kota, ujungnya adalah ‘centrum kebudayaan, sebuah miniatur Indonesia’ yang terletak di Ragunan. - Akhirnya Ragunan di tahun 1970-an oleh Ali Sadikin dibuatkan Kebon Binatang Ragunan menggantikan kebun binatang yang dulunya ada di Cikini.

Di masa Sukarno, lagu-lagu daerah meledak luar biasa : lagu Butet dinyanyikan dimana-mana oleh orang Klaten atau orang Sidoarjo, lagu Apuse dinyanyikan dengan senang oleh orang Bukittinggi,  lagu Ayam den Lapeh dinyanyikan oleh orang Makassar sambil tertawa-tawa . -Bung Karno mampu menjadikan produk kebudayaan sebagai alat mengenalkan manusia lain dengan manusia, dan menjadi bahan pelekat imajiner pembentuk sebuah bangsa. -Sekaligus menjadi modal kekayaan negara untuk mengakumulasi kapital.  Selain menjadi pelekat sebuah bangsa, Bung Karno juga mampu meledakkan lagu-lagu Indonesia menjadi alat untuk mengenal antar bangsa, seperti lagu Panon Hideung dari Sunda yang banyak dikenal orang Rusia atau lagu Ayo Mama amat dikenal oleh orang RRC. -Disini lagu-lagu tersebut kemudian tidak diklaim oleh orang Rusia atau RRC sebagai kekayaan mereka, tapi memang sebagai pengenalan kemanusiaan, bukan menjadi ‘hak milik’ resmi.
Demo Menolak Taman Mini (Sumber Photo : Dok. Tempo 1972)

Setelah jaman Bung Karno usai, muncullah jaman Suharto. - Di masa ini persoalan kapital atas strategi kebudayaan menjadi banal tapi  jelas dan lugas.  Adalah Ibu Tien Suharto yang dengan keras akan membangun pusat kebudayaan Indonesia di Jakarta. Proyek itu dinamakan Proyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) - ide ini digagas Bu Tien dan didukung oleh para pejabat di lingkaran dalam Suharto, saat itu Ali Sadikin juga masih akur dengan Pak Harto. Ide bu Tien didukung penuh oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani, sebagai konsultan Pembangunan Taman Mini ditunjuk Ir. Hardjasudirdja. - Rencana bu Tien di tahun 1972 yang berencana akan menggelontorkan dana Rp. 10,5 milyar di masa itu sungguh mengejutkan banyak pihak. Para ekonom-ekonom Suharto seperti Widjojo Nitisastro menolak keras rencana ini ‘Tidak ada kas negara!’.  Sementara dari kalangan mahasiswa memanas, kompleks kebudayaan itu adalah penghambur-hamburan kekayaan negara, masih banyak yang harus dibangun. Namun bu Tien keukeuh terhadap rencana itu, ketika mahasiswa memanas dan hampir tak terkendali, Suharto mengumpulkan para Jenderalnya di Wisma Ahmad Yani untuk mendinginkan keadaan. Lalu muncul Pangkopkamtib Sumitro ke depan untuk bertanya pada Pak Harto secara pribadi soal Taman Mini, - Pak Harto hanya menunjuk itu rencana bu Tien dan Sumitro lalu mencari Bu Tien dan bertemu, Bu Tien tetap keras kepala dengan pembentukan Taman Mini.

Akhirnya di tahun 1975 Taman Mini berdiri. Disini Pemerintahan Orde Baru akan menjadikan Taman Mini sebagai akumulasi kapital segala bentuk kegiatan kebudayaan dan tak perlu mengunjungi seluruh Indonesia cukup di Taman Mini Indonesia saja, strategi akumulasi kapital soal kebudayaan inilah yang kemudian ditiru oleh Malaysia setelah melihat keberhasilan Taman Mini.
Kereta Gantung TMII Simbol Perjalanan Miniatur Indonesia (Sumber Photo : Wesajelajahindonesia

Malaysia membentuk agenda kerja besar Pariwisata mereka dengan nama ‘Malaysia Truly Asia’ ini ambisi besar Malaysia menciptakan sebuah ‘Taman Mini Asia’ , dan Malaysia amat haus akan referensi kebudayaan-kebudayaan. Yang menjadi pokok persoalannya adalah Malaysia selalu menggunakan jalur formalitas untuk mematenkan kebudayaan diluar negaranya, sementara disisi lain selalu berkilah banyak orang Cina, India, Indonesia tinggal di Malaysia mereka berhak atas kebudayaan mereka dan ditanamkan sebagai kebudayaan Malaysia.

Ini menjadi pelik karena tidak adanya kecerdasan diplomasi dari pemerintahan kita dalam mengantisipasi persoalan ini, karena yang dilakukan Malaysia adalah melakukan hak paten dan didaftarkan ke entitas PBB sebagai bentuk warisan kebudayaan mereka. yang ujung-ujungnya adalah persoalan kekayaan negara. 

Melihat kasus Malaysia ini sesungguhnya Pertahanan wilayah hendaknya tidak hanya dilihat dari sisi geopolitik saja tapi harus dilihat dari segala lini yang menyangkut ‘Modal Nasional, Modal Sosial dan Modal Kebudayaan’.

Karena bila didiamkan apa yang dilakukan Malaysia ini adalah bentuk pengelabuan dan penipuan kepada banyak wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Indonesia atau wilayah Asia lainnya, mereka cukup hanya datang ke Malaysia saja, tak usah ke Bali, tak usah ke Yogyakarta, atau tak usah ke alam cantik Minangkabau, mereka bisa bilang orang Sunda hanya meniru Malaysia dalam soal angklung, orang Ponorogo ikut-ikutan soal Reog dan orang Batak suka manortor karena ikut-ikutan orang Malaysia.
Pemutarbalikan fakta ini akan menjadi strategis bagi mereka di masa depan.  Coba anda bayangkan betapa tinggi potensi Batik, setelah semua orang Indonesia memakai batik, sentra-sentra batik seperti di Laweyan Solo hidup kembali,  Pasar Klewer menjadi semakin semarak.

Nah, cobalah sekali-kali melihat kasus klaim kebudayaan Malaysia ini dilihat dari sisi perebutan Modal bukan hanya perdebatan kebudayaan dan soal saling menghargai. -Bila soal saling menghargai soal kebudayaan lihatlah orang RRC yang membacakan dengan indah sajak Bung Karno  di aula Guangxi Normal University dan disambut tepuk tangan dengan mempesona,  lihatlah betapa menghargainya warga Internasional yang datang ke Esplanade, Singapura menonton opera tari ‘Matahati’  dan lihatlah betapa rakyat RRC senang menyanyikan lagu ‘Ayo Mama’ dan orang Jepang berkebun sambil menyanyikan lagu Bengawan Solo.
Kebudayaan adalah usaha mengenalkan hubungan antar manusia, bukan persoalan mencuri kemudian membuat sertifikat kepemilikan tanpa malu.

Kamis, 14 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun, Che Guevara

Foto Che Guevara yang dibuat Alberto Korda, foto ini merupakan karya fotografi paling populer di dunia, dibuat saat Che berdiri melihat pasukan Kuba (Sumber Photo :official website Alberto Korda)

Dengan apa kita membayangkan Che Guevara?, dengan ujung rambut depan berbentuk segitiga yang terkenal, atau foto Alberto Korda yang memuat saat Commandante Che Guevara dengan jaket tempurnya berdiri di sebuah pojok dan kepalanya dilengkapi baret hitam yang terkenal itu, lalu wajahnya yang ‘manly’ (laki-laki sekali) dengan gurat-gurat pengalaman tempur di masa lalu, membuncah pada kenangan banyak anak muda.

Mungkin benar apa kata pepatah : “memalukan bila anak muda di usia 20 tahun tidak menjadi kiri dan memberontak, tapi bila sampai umur 40 tahun masih memberontak dan tetap jadi kiri maka ia tak punya otak”. Pepatah itu untuk ejekan pada kaum pemberontak-pemberontak tua yang kemudian menjadi mapan bahkan menjadi diktator, tapi tidak bagi Che Guevara, sepanjang hidupnya adalah pemberontakan, sepanjang hidupnya Che Guevara terus melawan, bukan saja melawan kaum kanan, kaum imperialis ia juga melawan Sovjet Uni, ia melawan segala bentuk penindasan, di sisi pembebasan manusia ia berdiri. Ia masuk kota Havana dengan seribu kemenangan, seribu sambutan tapi ia tak lena, ia tak larut dalam kebanggaan, ia surut kebelakang dan memanggul senjata kembali berperang melawan penindasan di negara-negara Amerika Latin, ia masuk hutan, dan tertembak dalam ruang kesunyian, ia mati dengan perjuangannya, ia mati tertembak dengan kepala tegak seolah membawa pesan tersembunyi ‘akulah pengancam hidup bagi kaum penindas’.
Che Guevara adalah anak muda, motor dan buku-. Ia lahir dari keluarga kaya, awalnya ia tak berminat di bidang politik, seluruh pikirannya hanya terpusat pada penyakitnya ‘asma’ ia sangat tersiksa dengan penyakitnya ini, ia terus mencari tahu informasi tentang penyembuhan penyakitnya. Hobi membacanya tumbuh karena ibunya Celia de la Serna, amat berminat di bidang sastra, ia ingin anaknya menyukai membaca, Celia tak hanya mengajari anaknya tentang huruf, ia mengajari kosa kata yang hidup, dari ibunya-lah pertama kali Che, mengenali bahwa ‘dibalik aksara’ ada kehidupan. 

Di umur 12 tahun ia suka sekali berkutat di ruang perpustakaan ayahnya, ada satu buku yang amat menarik, sebuah buku berbahasa Spanyol terjemahan dari bahasa Jerman. Judulnya ‘Das Kapital’ karangan Karl Marx, ia menggeluti buku ini, ia mendefinisikan kemanusiaan, ia mendefinisikan bagaimana komoditi kemudian berkembang bukan sebagai ‘alat yang memudahkan manusia’ tapi sebagai alat penindasan, -manusia terasingkan oleh kehidupannya-.
Che Guevara, muda masih hidup dalam dunia yang nyaman, dunia kelas menengah Argentina. Saat itu tahun 1940, Argentina adalah salah satu negara terkaya di Amerika. Bahkan kekayaannya tak jauh dari Amerika Serikat. Argentina menjadi negara makmur karena Eropa amat bergantung pada ekspor pertaniannya, beberapa ladang minyak ditemukan di berbagai tempat, tapi distribusi kekayaan tak merata, di kalangan miskin mereka tak mendapatkan ‘kesempatan menikmati’ kekayaan hanya menjadi kolam susu bagi kelas menengah dan kelas atas. 

Argentina memiliki kedekatan hubungan dengan Spanyol sebagai bekas negara jajahan, bahkan orang Argentina menggunakan Spanyol sebagai bahasa sehari-hari mereka, selain Spanyol, Argentina amat dekat dengan Italia dan Jerman. Faktor kedekatan ini berasal dari mayoritas agama yang sama dipeluk Italia dan Jerman (terutama Jerman Selatan, Bavaria) –agama Katolik Roma. 

Saat perang Spanyol meletus, banyak pengungsi Spanyol datang ke Argentina, kehidupan mereka terlunta-lunta. Ratusan ribu terdampar di pelabuhan-pelabuhan tak bisa masuk karena pemerintahan Argentina menahan keimigrasian mereka, pengungsi ini juga menjadi bahan keributan politik. Suatu sore yang panas, Che berjalan ke Pelabuhan ia melihat sebarisan pengungsi mengenaskan, ia melihat bayi yang menangis, ia melihat seorang tua berjalan yang amat susah, ia melihat sebarisan manusia tak bisa masuk, terasing kebebasannya karen hukum yang dibuat manusia. –disaat inilah hatinya tersentuh, Che tertarik dengan kemanusiaan. Kenapa manusia bisa tertindas?’ ia kemudian menarik dirinya dalam ruang sunyi dan berpikir, hatinya gelisah. 

Tahun 1941 adalah tahun penting bagi perubahan dunia, perang dunia sudah meletus di Eropa, pasukan Jerman menggasak Perancis, menghajar seluruh wilayah barat Eropa dan masuk juga ke Sovjet Uni dalam operasi Barbarossa, Che Guevara membaca terus berita-berita perang, ia beranggapan bahwa ‘dunia bukan berubah menjadi yang baik, tapi dunia mengarah kepada penindasan baru, siapapun yang memenangkan perang maka pemenangnya adalah penindas’ namun pengetahuan soal penindasan ini masih samar-samar, Che belum mendapatkan cara yang sistematis, ia belum menemukan revolusinya. 

Che bersama teman-temannya memperbaiki motor (Album film motorcycle diaries)

Suatu pagi yang cerah, matahari merembes dari balik jendela, ia melihat begitu indahnya kehidupan, Tuhan memberikan keindahan, tapi dibalik keindahan ada pesan, ‘setiap manusia harus punya tindakan untuk berguna bagi manusia lain’ Che Guevara termenung ia duduk sebentar dan matanya tanpa sengaja melihat motornya, sepeda motor buatan Inggris bermerk : Norton. Ia kemudian memanggil dua tetangganya yang montir di belakang pom bensin dekat rumah dan memperbaiki motor itu agar pacu-nya lebih hebat, mesinnya diperbaiki dan ia memeriksa semua. Lalu sorenya ia berjalan-jalan dengan motor, rambutnya yang agak gondrong kepirangan terburai, hidungnya yang lancip membaui udara kebebasan. –Disinilah Che menemui kehidupan, dan kehidupan itu bukan rasa tenang, tapi kehidupan adalah ketika naluri kemanusiaan bertemu dengan manusia lain yang harus dibebaskan.

Pembebasan adalah kata-kata pertama yang dipahami, Che. – Ia mengajak kawannya Alberto Granado keliling Argentina, ia masuk hutan, melewati sungai, melihat perkampungan-perkampungan yang tak terlihat dengan motornya, ia menaiki rakit dan berjalan terus menantang sinar matahari, dan tangannya mencoba meraih bulan di angkasa, hatinya penuh, ia bergembira sekaligus bertanya ‘kemanusiaan, kemanusiaan…’. Che, menemukan kebahagiaan di atas tunggangannya, kuda besi dan dengan buku berlapis kulit ia mencatat seluruh yang ia lihat, orang miskin, para Indian yang terpinggirkan, mereka yang terlupakan, mereka yang harus berkutat dengan kehidupan, seluruh dari mereka yang tak bebas dan harus dibebaskan – catatan itu kelak menjadi sebuah buku dan di filmkan dengan judul ‘Motorcycles diaries’.

Film Che Guevara 
 Setelah berkeliling Argentina, ia merasa menemukan dirinya, ia harus keluar masuk hutan dan melakukan perlawanan, ia membaca semua literatur-literatur revolusi, ia membaca Lenin, ia membaca Revolusi Rusia, ia membaca seluruh gagasan tentang penjungkirbalikan masyarakat, ia membaca bagaimana sejarah masyarakat bekerja, dan ia memahami bahwa Amerika Latin adalah laboratorium besar untuk berubah. 
 
Ia lalu berkelana ke banyak tempat, ada hal yang amat berkesan padanya, tentang cerita-cerita perjuangan di wilayah Peru, seorang pencerita ini adalah Salvador Allende, kelak ia akan menjadi Presiden Chile namun digulingkan oleh militer sayap kanan pro Amerika Serikat, Jenderal Pinochet –dimana penggulingan Allende menggunakan cara-cara penggulingan Sukarno dan kode kudetanya adalah ‘Operation Djakarta’. Che pergi ke Guatemala, disana ia juga mulai angkat senjata tapi belum sepenuh hati, perjumpaan revolusionernya dalam tindakan justru ketika ia dikenalkan dengan seorang berkulit putih, berjenggot tebal dan doyan menghisap cerutu ‘Saya Fidel Castro’ kata orang itu, saat Che melalui sahabatnya Nico Lopez, Fidel berdiri tenang, badannya yang menjulang dan tatapannya mirip mata elang mengawasi Che, lalu ia tersenyum ‘sekarang kau bergabung denganku kawan, kenalkan ini adikku…Raul’. Che tersenyum pada Raul, setelah bergaul dengan Fidel, Che mendapatkan penafsiran ‘bahwa inilah pemimpin yang ia cari untuk melakukan pemberontakan melawan penindasan’. Fidel dan Raul Castro adalah dua pelarian dari Kuba, ia dikejar-kejar rezim Batista dukungan Amerika Serikat. 
Raul Castro dan Fidel Castro, dua sahabat Che Guevara (Cuban Modern History)

Kemenangan besar kaum gerilyawan disambut besar-besaran penduduk Havana, bila Batista berpesta hanya untuk kaum penggede dan para sekutu Amerika Serikat, maka Fidel dan Che disambut rakyat jelata yang berharap kehidupannya akan membaik karena perang perebutan kekuasaan ini.
Fidel Castro menjadi pemimpin Kuba. Sejak 1959 dan menjadi pemimpin yang berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat. Suatu saat di pertengahan tahun 1959 ia berbicara pada Castro agar Kuba berhubungan serius dengan negara-negara sosialis, Castro menyebut dua nama yang ia kagumi : Mao Tse Tung dan Sukarno. “Cobalah kamu ke dua orang itu”. 

Indonesia menjadi pusat perhatian penting Kuba, karena perjuangan bangsa Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana kedaulatan bisa direbut, saat itu Che Guevara sedang berpikir soal ‘ekonomi yang berkedaulatan’. Ekonomi yang bebas. Dari Sukarno-lah ia kemudian banyak belajar, “Sebuah bangsa benar-benar merdeka, bila bangsa itu tidak berdaulat ekonominya” kata Bung Karno pada Che. Bung Karno juga menyarankan agar Che, mengunjungi Borobudur “lihatlah Borobudur, agar kau bisa memahami sejarah masyarakat berkembang, mekar dan kemudian berbudaya”. 

Di tengah kunjungan Che, Bung Karno memanggil pengikutnya paling fanatik dan sudah ikut Bung Karno sejak sebelum merdeka, namanya AM Hanafi, Hanafi disuruh Bung Karno menjadi dubes Kuba dan mempelajari Castro agar hubungan Indonesia-Kuba meningkat. 

Sepulangnya dari keliling negara Asia, Che diangkat menjadi Menteri Perindustrian, ia melakukan tindakan paling drastis yaitu mencabut ekspor gula ke Amerika Serikat, selama ini Amerika Serikat menjadikan Kuba sebagai ladang tebu-nya yang terbesar, seluruh pabrik-pabrik gula di sekitaran pulau Kuba harus mengekspor ke Amerika Serikat. Setelah terkenang akan obrolannya dengan Sukarno, Che ambil langkah yang mirip dengan Indonesia, saat itu Indonesia menggertak perusahaan minyak asing untuk memilih opsi mendukung kedaulatan energi Indonesia, atau hak konsesi diberikan kepada negara lain. Che, memaksa ekspor gula tidak lagi bergantung pada Amerika Serikat, ia memerintahkan gula bisa diekspor kemana saja, Kuba negara bebas.
Che Guevara dan idolanya : Bung Karno, Che amat mengagumi pemikiran-pemikiran Sukarno, kedaulatan ekspor gula ia tiru dari cara Sukarno soal gertak minyak (Sumber Photo : Antara)
 Setahun setelah kunjungan Che ke Indonesia, Bung Karno datang dan disambut rakyat Kuba dengan gembira, rakyat Kuba senang karena pemimpin legendaris dunia itu datang menyambangi Havana, ribuan orang berbaris menyambut Bung Karno, namun sambutan hangat di Kuba ini membuat marah Presiden Eisenhower, “Bagaimana bisa ia mengunjungi ‘kampung komunis’ sebelum ia masuk ke halaman Amerika Serikat” keluh Ike Eisenhower dengan nada geram. Waktu Sukarno tiba di Amerika Serikat bulan Juni 1960, Ike ngambek luar biasa, ia tak mau menyambut Bung Karno, apa sebab? Bung Karno membawa DN Aidit pemimpin Partai Komunis terbesar nomor tiga di dunia, “Bagaimana mungkin seorang Presiden AS, bersalaman dengan pemimpin Komunis, tanpa konfirmasi dulu” Ike memang benar-benar tak suka Bung Karno, tapi Che Guevara menyukainya, Che berkata pada Fidel “Sukarno idolaku”………
Che, bukanlah pemimpin yang senang hidup nyaman, ia berjuang hanya karena “harus” berjuang, ia melihat bagian dunia lain masih sengsara, ia ingin membebaskan dunia, tapi kadang-kadang manusia punya kenaifannya, mungkin di Kuba Revolusi menemukan momentum-nya, tapi tidak di dunia lain. Che gagal di Kongo, Afrika begitu juga saat ia memasuki Bolivia, Che ditangkap tentara pemerintah Bolivia, ia mati dengan kepala ditembusi peluru, peluru penindasan……
Itulah Che, seorang pejuang abadi, seorang yang menolak kemapanan, memilih revolusi angkat bersenjata sebagai jalan hidupnya, seorang yang berkata kepada isterinya ‘Kuberikan kebebasanku pada dunia, tapi aku tak bisa membebaskan dunia, aku mencintaimu sekali lagi mencintaimu’. Dan seorang bapak yang amat mencintai anaknya seperti surat yang ia kirimkan kepada anak sulungnya Hildita, di hari ulangtahun Hildita :
Anakku, kau musti berjuang menjadi yang terbaik di sekolah, terbaik dalam setiap pengertia, dan kau akan mengetahuinya kelak : belajar dan bersikaplah revolusioner.
Apa itu sikap revolusioner? Sikap itu adalah kelakuanmu yang baik, cintamu yang tulus pada revolusi, pada persamaan manusia, persaudaraan.
Aku sendiri tidak bersikap demikian disaat usiaku sama denganmu, aku hidup dalam masyarakat yang berbeda, masyarakat yang kolot dan berpaham sempit, ‘dimana manusia menjadi ancaman bagi manusia lainnya’. Tapi kau nak, hidup dalam masa yang indah, memiliki kemudahan hidup di jaman yang lain dari jaman bapak-mu, kau harus bersyukur soal itu.
Bermainlah dalam dunia kanak-kanakmu, bermainlah ke rumah tetanggamu untuk menyapa mereka dan ceritakan pada mereka bagaimana kelakuan baik seharusnya dijalankan. Dekati adikmu Aleidita, ajarkan bagaimana bertindak baik, yang butuh perhatian besar darimu, sebagai anak tertua.
Oke, Tuan Putri……Sekali lagi aku berharap hatimu mekar berbahagia di hari ulang tahunmu ini, Peluk mesra untuk ibumu dan Gina. Aku memelukmu, memeluk dengan keabadian, memeluk sebagai rasa cinta bapak kepada anaknya hingga akhirnya kita berpisah.

Papamu, Che Guevara.