![]() |
| Jokowi : "The Last Man Standing" |
Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) telah menyatakan persekutuannya dengan
Foke-Nara dalam memenangkan pasangan itu menjadi Gubernur DKI. Seluruh
Partai besar dibelakang Foke-Nara, sementara Jokowi masih bertahan
dengan dua Partai Nasionalis yang juga merupakan partai oposisi, apakah
Jokowi akan bertahan? Apakah Jokowi akan bernasib serupa Megawati?
Ataukah Jokowi menjadi anomali terhadap kekuatan Partai-Partai Politik
sehingga Indonesia masuk ke jaman baru-nya? Semua pertanyaan ini bisa
kita jawab dengan terlebih dulu mengupas ada apa dengan sistem politik
kita pasca kejatuhan Suharto.
Lansekap
kekuasaan di Indonesia sekarang ini dikuasai dua hal : Partai Politik
dan Trah Menteng. Dinasti Menteng menjadi patron penting kekuasaan
politik sekarang, dua bentuk ini juga bagian dari pertemuan : Modal dan
Sejarah Politik. Seluruh penggede politik sekarang masih memiliki
kaitannya dengan kekuasaan dimasa lalu, baik garis nostalgia Sukarno
ataupun modal duit Suharto. Dua bentuk kekuasaan ini kemudian menjadi
seiring sejalan menguasai peta perpolitikkan pasca kejatuhan Suharto
1998. Kelompok oposisi Suharto yang dulu sempat bertaruh nyawa melawan
Suharto habis semua, ada yang terlanjur merasa nyaman dengan prestise
politiknya di masa lalu dan mendapatkan gengsi sosial seperti Amin Rais,
ada yang tersingkir terus menerus secara menyakitkan dan kemudian wafat
dalam ketersingkiran itu seperti Gus Dur, ada yang harus tiap
berhadapan dengan kompromi-kompromi politik seperti Megawati.
Tiga
orang terpenting oposisi di masa Suharto tidak mampu menembus jejaring
kekuasaan setelah tahun 2004. Dari garis Kelompok Nostalgia Sukarno,
praktis habis ketika Megawati terus ngotot ingin jadi Presiden RI. Ketika
Megawati disingkirkan secara permanen maka kelompok jaringan pemodal
Orde Baru dan eks mesin politik Suharto menguasai medan politik dan
menjadi rezim penguasa sekaligus membenihkan jaringan politik yang kuat
dimana kekuatan rakyat bukan lagi jaminan politik mereka.
Lansekap
politik yang dikuasai kelompok Menteng dan Modal Suharto ini terus
menggurita bahkan melahirkan politisi-politisi baru, mereka bersimbiosis dan
menguasai kanal-kanal kekuasaan politik, mereka membentuk sindikasi
penguasaan anggaran APBN dan APBD, mereka menjadi makelar-makelar atas
jabatan birokrasi, disini kekuasaan tiranik Suharto sudah berubah
menjadi kekuasaan tiranik oligarkis. Instrumen terbesar dalam bentuk
makelar kekuasaan adalah sistem Kepartaian. Partai bukan lagi menjadi
agen perubahan sejarah masyarakat, bukan lagi menjadi mesin produksi
budaya dan bukan lagi menjadi pelopor gerakan kebangsaan tapi Partai
sudah menjadi seperti perusahaan biro jasa politik. Pertemuan-pertemuan
peran ironik Partai ini kemudian menjadikan rakyat bukan lagi sebagai
alat massa aksi dalam membentuk sejarah masyarakat, tapi rakyat sudah
menjadi bagian obyek politik yang ukuran-ukurannya adalah permainan :
Sentimen Agama, Politik Uang dan Manipulasi Janji Politik.
Lalu
tiba-tiba datanglah Jokowi berhadap-hadapan dengan sistem itu, tidak
seperti Faisal Basri yang mengklaim lahir dari kegelisahan rakyat yang
menolak sistem kepartaian, tapi sesungguhnya ia lahir dari kemarahan
kaum intelektual yang kakinya tak berlumpur di persoalan-persoalan
rakyat, Jokowi adalah produksi Partai tapi lahir dari Prestasinya dalam
mengurusi rakyat, disini Jokowi menjadi anomali di segala lini, ia lahir
dari Mesin Partai tapi ia menjadikan rakyat sebagai tuan rumah
kebijakan politik, ia lahir dari sistem politik yang keterlaluan
bejatnya tapi ia menjadi sedemikian mulia-nya, ia lahir dari
kekacauan-kekacauan demokrasi tapi kemudian ia berhasil menertibkan
kekacauan dan menjadikan rakyat sebagai pusat dari segala gerakan bukan
Partai, di Solo Jokowi membuktikan kemenangan politik 90%, sebuah
absolusitas yang mencengangkan.
Jokowi
tampil ke muka publik di DKI Jakarta juga tak mulus, faksi Taufik
Kiemas ditubuh PDIP menampik Jokowi, ini artinya secara tersirat Taufik
Kiemas menghendaki adanya persekutuan PDIP dengan Demokrat untuk
Jakarta, tapi adalah sebuah keanehan bagaimana bisa sebuah Partai
menyia-nyiakan kadernya yang berbakat, jutaan suara rakyat yang
berteriak di sosial media dan ruang publik lainnya menghendaki Jokowi
maju ke DKI. Kemudian Prabowo mengetuk pintu Megawati dan bersedia
menjadi jaminan politik atas Jokowi, sampai disini Jokowi masih menjadi
bagian dari mesin Partai.
Lalu
Jokowi muncul dengan baju kotak-kotak, ia keluar dari mesin partai dan
masuk ke dalam mesin pergerakan rakyat, tak ada jeda disini, Jokowi
melakukan jembatan politik antara Partai dengan Rakyat, Borjuasi-nya
PDIP yang pernah menjadi penguasa negeri ini dengan melahirkan kelas
baru yang kaya yang berjarak dengan massa rakyat kemudian
dihukum oleh massa rakyat dengan gagal dalam dua kali Pemilu,
dipersatukan kembali dan diarahkan menjadi Partainya Rakyat Jelata,
Partainya Wong Cilik bukan Partai Para Priyayi, PDIP bukan lagi menjadi
partai Borjuis beraksen Taufik Kiemas, tapi PDIP seperti menemukan
gairah politiknya seperti masa-masa 1986-1992, dimana gairah Sukarno,
gairah kerakyatan menemukan momentumnya.
Massa
Jokowi adalah massa sukarelawan massa yang bertemu dari sekian banyak
arus kegelisahan, ada alasan multikultural, alasan perubahan Jakarta
dari kota yang hancur-hancuran menjadi kota yang tertib dan ramah
manusia, ada alasan tentang Jakarta yang berpihak pada ekonomi
kerakyatan dimana Pasar-Pasar rakyat dimenangkan dalam pertarungannya
dengan Hypermarket pemodal asing.
Ketika
PKS menyatakan mendukung Foke, secara tak langsung PKS sedang berjarak
dengan rakyat, sedang berjarak dengan suasana kebatinan rakyat yang
menghendaki perubahan, PKS yang juga sudah bermasalah secara internal
semakin mengambil resiko politik untuk ikut arus dalam perubahan politik
besar.
Gagalnya PKS membaca jaman ini semakin memperkuat posisi Jokowi dengan beraliansi pada kekuataan swing voter ,
kekuatan rakyat yang tidak tergabung dalam afiliasi-afiliasi kekuatan
non partisan dan non partai itu. Hal ini bisa jadi indikasi untuk
mengukur bagaimana kekuatan non partisan dan non partai bekerja dalam
arus politik.
Pada
putaran I, kekuatan-kekuatan yang pesimis terhadap Pemilu DKI sangat
banyak, lebih dari 30% tidak menggunakan hak suaranya, namun
perkembangan pada Putaran II semakin memanaskan pergerakan rakyat yang
mencari tempat itu sendiri. Di satu sisi kekuatan rakyat yang tidak
menyukai sindikasi Partai Politik dipastikan akan mencoblos Jokowi dan
dipihak lain kampanye-kampanye SARA akan membuat kelompok yang tadinya
diam terpaksa bangkit mendukung Jokowi. Disini Jokowi mendulang
keuntungan politiknya.
Pemetaan menjadi semakin jelas, Jokowi seperti dikeroyok banyak Partai yang persekutuan politiknya didasarkan pada rebutan proyek dan jatah jabatan kepala dinas Pemda DKI, sementara Jokowi seperti ‘The Last Man Standing’
dalam perang politik di Jakarta, Bagaimana kemudian Jokowi bisa menjadi
The Last Man Standing dari intrik dan konflik Partai yang tidak lagi
amanah terhadap suara kegelisahan rakyat? – Lepaskan dikte Partai Politik dan Biarkan Jokowi berimprovisasi dengan Kebijakannya Tanpa Tekanan Partai.
Kunci
kemenangan Jokowi dalam kemenangan politik yang substansial adalah
keikhlasan bagi penggede-penggede PDIP dan Gerindra terutama Megawati
dan Prabowo untuk menjadikan Jokowi bukan lagi alat Partai, tapi sebuah
simbol kemandirian rakyat, disini harus ada kontrak yang jelas bagi
Jokowi untuk membebaskan dirinya dari mesin kepartaian, jadi posisinya
dibalik, bila dulu seorang pejabat politik baik Gubernur dan Bupati
menjadi alat dikte Partai, kini saatnya seorang Pejabat Politik mendikte
Partai dan berdiri diatas kepentingan rakyat banyak bukan kepentingan
Partai.
Kontrak politik ‘Bebas Dikte Partai’
inilah yang diperlukan dan menjadi garansi atas kemenangan Jokowi
kelak. Bila DKI Jakarta ingin berubah dan menjadi pintu pembuka
perubahan politik Indonesia secara menyeluruh maka Partai tidak boleh
mendikte atau meminta jatah proyek kepada Gubernur DKI, bila ini terjadi
Jokowi telah membawa Revolusi dari ruang senyap, tanpa gemuruh, tanpa holopis kuntul baris, sebuah revolusi dari ketiadaan………..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar