Cari Blog Ini

Kamis, 14 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun, Che Guevara

Foto Che Guevara yang dibuat Alberto Korda, foto ini merupakan karya fotografi paling populer di dunia, dibuat saat Che berdiri melihat pasukan Kuba (Sumber Photo :official website Alberto Korda)

Dengan apa kita membayangkan Che Guevara?, dengan ujung rambut depan berbentuk segitiga yang terkenal, atau foto Alberto Korda yang memuat saat Commandante Che Guevara dengan jaket tempurnya berdiri di sebuah pojok dan kepalanya dilengkapi baret hitam yang terkenal itu, lalu wajahnya yang ‘manly’ (laki-laki sekali) dengan gurat-gurat pengalaman tempur di masa lalu, membuncah pada kenangan banyak anak muda.

Mungkin benar apa kata pepatah : “memalukan bila anak muda di usia 20 tahun tidak menjadi kiri dan memberontak, tapi bila sampai umur 40 tahun masih memberontak dan tetap jadi kiri maka ia tak punya otak”. Pepatah itu untuk ejekan pada kaum pemberontak-pemberontak tua yang kemudian menjadi mapan bahkan menjadi diktator, tapi tidak bagi Che Guevara, sepanjang hidupnya adalah pemberontakan, sepanjang hidupnya Che Guevara terus melawan, bukan saja melawan kaum kanan, kaum imperialis ia juga melawan Sovjet Uni, ia melawan segala bentuk penindasan, di sisi pembebasan manusia ia berdiri. Ia masuk kota Havana dengan seribu kemenangan, seribu sambutan tapi ia tak lena, ia tak larut dalam kebanggaan, ia surut kebelakang dan memanggul senjata kembali berperang melawan penindasan di negara-negara Amerika Latin, ia masuk hutan, dan tertembak dalam ruang kesunyian, ia mati dengan perjuangannya, ia mati tertembak dengan kepala tegak seolah membawa pesan tersembunyi ‘akulah pengancam hidup bagi kaum penindas’.
Che Guevara adalah anak muda, motor dan buku-. Ia lahir dari keluarga kaya, awalnya ia tak berminat di bidang politik, seluruh pikirannya hanya terpusat pada penyakitnya ‘asma’ ia sangat tersiksa dengan penyakitnya ini, ia terus mencari tahu informasi tentang penyembuhan penyakitnya. Hobi membacanya tumbuh karena ibunya Celia de la Serna, amat berminat di bidang sastra, ia ingin anaknya menyukai membaca, Celia tak hanya mengajari anaknya tentang huruf, ia mengajari kosa kata yang hidup, dari ibunya-lah pertama kali Che, mengenali bahwa ‘dibalik aksara’ ada kehidupan. 

Di umur 12 tahun ia suka sekali berkutat di ruang perpustakaan ayahnya, ada satu buku yang amat menarik, sebuah buku berbahasa Spanyol terjemahan dari bahasa Jerman. Judulnya ‘Das Kapital’ karangan Karl Marx, ia menggeluti buku ini, ia mendefinisikan kemanusiaan, ia mendefinisikan bagaimana komoditi kemudian berkembang bukan sebagai ‘alat yang memudahkan manusia’ tapi sebagai alat penindasan, -manusia terasingkan oleh kehidupannya-.
Che Guevara, muda masih hidup dalam dunia yang nyaman, dunia kelas menengah Argentina. Saat itu tahun 1940, Argentina adalah salah satu negara terkaya di Amerika. Bahkan kekayaannya tak jauh dari Amerika Serikat. Argentina menjadi negara makmur karena Eropa amat bergantung pada ekspor pertaniannya, beberapa ladang minyak ditemukan di berbagai tempat, tapi distribusi kekayaan tak merata, di kalangan miskin mereka tak mendapatkan ‘kesempatan menikmati’ kekayaan hanya menjadi kolam susu bagi kelas menengah dan kelas atas. 

Argentina memiliki kedekatan hubungan dengan Spanyol sebagai bekas negara jajahan, bahkan orang Argentina menggunakan Spanyol sebagai bahasa sehari-hari mereka, selain Spanyol, Argentina amat dekat dengan Italia dan Jerman. Faktor kedekatan ini berasal dari mayoritas agama yang sama dipeluk Italia dan Jerman (terutama Jerman Selatan, Bavaria) –agama Katolik Roma. 

Saat perang Spanyol meletus, banyak pengungsi Spanyol datang ke Argentina, kehidupan mereka terlunta-lunta. Ratusan ribu terdampar di pelabuhan-pelabuhan tak bisa masuk karena pemerintahan Argentina menahan keimigrasian mereka, pengungsi ini juga menjadi bahan keributan politik. Suatu sore yang panas, Che berjalan ke Pelabuhan ia melihat sebarisan pengungsi mengenaskan, ia melihat bayi yang menangis, ia melihat seorang tua berjalan yang amat susah, ia melihat sebarisan manusia tak bisa masuk, terasing kebebasannya karen hukum yang dibuat manusia. –disaat inilah hatinya tersentuh, Che tertarik dengan kemanusiaan. Kenapa manusia bisa tertindas?’ ia kemudian menarik dirinya dalam ruang sunyi dan berpikir, hatinya gelisah. 

Tahun 1941 adalah tahun penting bagi perubahan dunia, perang dunia sudah meletus di Eropa, pasukan Jerman menggasak Perancis, menghajar seluruh wilayah barat Eropa dan masuk juga ke Sovjet Uni dalam operasi Barbarossa, Che Guevara membaca terus berita-berita perang, ia beranggapan bahwa ‘dunia bukan berubah menjadi yang baik, tapi dunia mengarah kepada penindasan baru, siapapun yang memenangkan perang maka pemenangnya adalah penindas’ namun pengetahuan soal penindasan ini masih samar-samar, Che belum mendapatkan cara yang sistematis, ia belum menemukan revolusinya. 

Che bersama teman-temannya memperbaiki motor (Album film motorcycle diaries)

Suatu pagi yang cerah, matahari merembes dari balik jendela, ia melihat begitu indahnya kehidupan, Tuhan memberikan keindahan, tapi dibalik keindahan ada pesan, ‘setiap manusia harus punya tindakan untuk berguna bagi manusia lain’ Che Guevara termenung ia duduk sebentar dan matanya tanpa sengaja melihat motornya, sepeda motor buatan Inggris bermerk : Norton. Ia kemudian memanggil dua tetangganya yang montir di belakang pom bensin dekat rumah dan memperbaiki motor itu agar pacu-nya lebih hebat, mesinnya diperbaiki dan ia memeriksa semua. Lalu sorenya ia berjalan-jalan dengan motor, rambutnya yang agak gondrong kepirangan terburai, hidungnya yang lancip membaui udara kebebasan. –Disinilah Che menemui kehidupan, dan kehidupan itu bukan rasa tenang, tapi kehidupan adalah ketika naluri kemanusiaan bertemu dengan manusia lain yang harus dibebaskan.

Pembebasan adalah kata-kata pertama yang dipahami, Che. – Ia mengajak kawannya Alberto Granado keliling Argentina, ia masuk hutan, melewati sungai, melihat perkampungan-perkampungan yang tak terlihat dengan motornya, ia menaiki rakit dan berjalan terus menantang sinar matahari, dan tangannya mencoba meraih bulan di angkasa, hatinya penuh, ia bergembira sekaligus bertanya ‘kemanusiaan, kemanusiaan…’. Che, menemukan kebahagiaan di atas tunggangannya, kuda besi dan dengan buku berlapis kulit ia mencatat seluruh yang ia lihat, orang miskin, para Indian yang terpinggirkan, mereka yang terlupakan, mereka yang harus berkutat dengan kehidupan, seluruh dari mereka yang tak bebas dan harus dibebaskan – catatan itu kelak menjadi sebuah buku dan di filmkan dengan judul ‘Motorcycles diaries’.

Film Che Guevara 
 Setelah berkeliling Argentina, ia merasa menemukan dirinya, ia harus keluar masuk hutan dan melakukan perlawanan, ia membaca semua literatur-literatur revolusi, ia membaca Lenin, ia membaca Revolusi Rusia, ia membaca seluruh gagasan tentang penjungkirbalikan masyarakat, ia membaca bagaimana sejarah masyarakat bekerja, dan ia memahami bahwa Amerika Latin adalah laboratorium besar untuk berubah. 
 
Ia lalu berkelana ke banyak tempat, ada hal yang amat berkesan padanya, tentang cerita-cerita perjuangan di wilayah Peru, seorang pencerita ini adalah Salvador Allende, kelak ia akan menjadi Presiden Chile namun digulingkan oleh militer sayap kanan pro Amerika Serikat, Jenderal Pinochet –dimana penggulingan Allende menggunakan cara-cara penggulingan Sukarno dan kode kudetanya adalah ‘Operation Djakarta’. Che pergi ke Guatemala, disana ia juga mulai angkat senjata tapi belum sepenuh hati, perjumpaan revolusionernya dalam tindakan justru ketika ia dikenalkan dengan seorang berkulit putih, berjenggot tebal dan doyan menghisap cerutu ‘Saya Fidel Castro’ kata orang itu, saat Che melalui sahabatnya Nico Lopez, Fidel berdiri tenang, badannya yang menjulang dan tatapannya mirip mata elang mengawasi Che, lalu ia tersenyum ‘sekarang kau bergabung denganku kawan, kenalkan ini adikku…Raul’. Che tersenyum pada Raul, setelah bergaul dengan Fidel, Che mendapatkan penafsiran ‘bahwa inilah pemimpin yang ia cari untuk melakukan pemberontakan melawan penindasan’. Fidel dan Raul Castro adalah dua pelarian dari Kuba, ia dikejar-kejar rezim Batista dukungan Amerika Serikat. 
Raul Castro dan Fidel Castro, dua sahabat Che Guevara (Cuban Modern History)

Kemenangan besar kaum gerilyawan disambut besar-besaran penduduk Havana, bila Batista berpesta hanya untuk kaum penggede dan para sekutu Amerika Serikat, maka Fidel dan Che disambut rakyat jelata yang berharap kehidupannya akan membaik karena perang perebutan kekuasaan ini.
Fidel Castro menjadi pemimpin Kuba. Sejak 1959 dan menjadi pemimpin yang berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat. Suatu saat di pertengahan tahun 1959 ia berbicara pada Castro agar Kuba berhubungan serius dengan negara-negara sosialis, Castro menyebut dua nama yang ia kagumi : Mao Tse Tung dan Sukarno. “Cobalah kamu ke dua orang itu”. 

Indonesia menjadi pusat perhatian penting Kuba, karena perjuangan bangsa Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana kedaulatan bisa direbut, saat itu Che Guevara sedang berpikir soal ‘ekonomi yang berkedaulatan’. Ekonomi yang bebas. Dari Sukarno-lah ia kemudian banyak belajar, “Sebuah bangsa benar-benar merdeka, bila bangsa itu tidak berdaulat ekonominya” kata Bung Karno pada Che. Bung Karno juga menyarankan agar Che, mengunjungi Borobudur “lihatlah Borobudur, agar kau bisa memahami sejarah masyarakat berkembang, mekar dan kemudian berbudaya”. 

Di tengah kunjungan Che, Bung Karno memanggil pengikutnya paling fanatik dan sudah ikut Bung Karno sejak sebelum merdeka, namanya AM Hanafi, Hanafi disuruh Bung Karno menjadi dubes Kuba dan mempelajari Castro agar hubungan Indonesia-Kuba meningkat. 

Sepulangnya dari keliling negara Asia, Che diangkat menjadi Menteri Perindustrian, ia melakukan tindakan paling drastis yaitu mencabut ekspor gula ke Amerika Serikat, selama ini Amerika Serikat menjadikan Kuba sebagai ladang tebu-nya yang terbesar, seluruh pabrik-pabrik gula di sekitaran pulau Kuba harus mengekspor ke Amerika Serikat. Setelah terkenang akan obrolannya dengan Sukarno, Che ambil langkah yang mirip dengan Indonesia, saat itu Indonesia menggertak perusahaan minyak asing untuk memilih opsi mendukung kedaulatan energi Indonesia, atau hak konsesi diberikan kepada negara lain. Che, memaksa ekspor gula tidak lagi bergantung pada Amerika Serikat, ia memerintahkan gula bisa diekspor kemana saja, Kuba negara bebas.
Che Guevara dan idolanya : Bung Karno, Che amat mengagumi pemikiran-pemikiran Sukarno, kedaulatan ekspor gula ia tiru dari cara Sukarno soal gertak minyak (Sumber Photo : Antara)
 Setahun setelah kunjungan Che ke Indonesia, Bung Karno datang dan disambut rakyat Kuba dengan gembira, rakyat Kuba senang karena pemimpin legendaris dunia itu datang menyambangi Havana, ribuan orang berbaris menyambut Bung Karno, namun sambutan hangat di Kuba ini membuat marah Presiden Eisenhower, “Bagaimana bisa ia mengunjungi ‘kampung komunis’ sebelum ia masuk ke halaman Amerika Serikat” keluh Ike Eisenhower dengan nada geram. Waktu Sukarno tiba di Amerika Serikat bulan Juni 1960, Ike ngambek luar biasa, ia tak mau menyambut Bung Karno, apa sebab? Bung Karno membawa DN Aidit pemimpin Partai Komunis terbesar nomor tiga di dunia, “Bagaimana mungkin seorang Presiden AS, bersalaman dengan pemimpin Komunis, tanpa konfirmasi dulu” Ike memang benar-benar tak suka Bung Karno, tapi Che Guevara menyukainya, Che berkata pada Fidel “Sukarno idolaku”………
Che, bukanlah pemimpin yang senang hidup nyaman, ia berjuang hanya karena “harus” berjuang, ia melihat bagian dunia lain masih sengsara, ia ingin membebaskan dunia, tapi kadang-kadang manusia punya kenaifannya, mungkin di Kuba Revolusi menemukan momentum-nya, tapi tidak di dunia lain. Che gagal di Kongo, Afrika begitu juga saat ia memasuki Bolivia, Che ditangkap tentara pemerintah Bolivia, ia mati dengan kepala ditembusi peluru, peluru penindasan……
Itulah Che, seorang pejuang abadi, seorang yang menolak kemapanan, memilih revolusi angkat bersenjata sebagai jalan hidupnya, seorang yang berkata kepada isterinya ‘Kuberikan kebebasanku pada dunia, tapi aku tak bisa membebaskan dunia, aku mencintaimu sekali lagi mencintaimu’. Dan seorang bapak yang amat mencintai anaknya seperti surat yang ia kirimkan kepada anak sulungnya Hildita, di hari ulangtahun Hildita :
Anakku, kau musti berjuang menjadi yang terbaik di sekolah, terbaik dalam setiap pengertia, dan kau akan mengetahuinya kelak : belajar dan bersikaplah revolusioner.
Apa itu sikap revolusioner? Sikap itu adalah kelakuanmu yang baik, cintamu yang tulus pada revolusi, pada persamaan manusia, persaudaraan.
Aku sendiri tidak bersikap demikian disaat usiaku sama denganmu, aku hidup dalam masyarakat yang berbeda, masyarakat yang kolot dan berpaham sempit, ‘dimana manusia menjadi ancaman bagi manusia lainnya’. Tapi kau nak, hidup dalam masa yang indah, memiliki kemudahan hidup di jaman yang lain dari jaman bapak-mu, kau harus bersyukur soal itu.
Bermainlah dalam dunia kanak-kanakmu, bermainlah ke rumah tetanggamu untuk menyapa mereka dan ceritakan pada mereka bagaimana kelakuan baik seharusnya dijalankan. Dekati adikmu Aleidita, ajarkan bagaimana bertindak baik, yang butuh perhatian besar darimu, sebagai anak tertua.
Oke, Tuan Putri……Sekali lagi aku berharap hatimu mekar berbahagia di hari ulang tahunmu ini, Peluk mesra untuk ibumu dan Gina. Aku memelukmu, memeluk dengan keabadian, memeluk sebagai rasa cinta bapak kepada anaknya hingga akhirnya kita berpisah.

Papamu, Che Guevara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar