![]() |
| Foto Che Guevara yang dibuat Alberto Korda, foto ini merupakan karya fotografi paling populer di dunia, dibuat saat Che berdiri melihat pasukan Kuba (Sumber Photo :official website Alberto Korda) |
Dengan
apa kita membayangkan Che Guevara?, dengan ujung rambut depan berbentuk
segitiga yang terkenal, atau foto Alberto Korda yang memuat saat
Commandante Che Guevara dengan jaket tempurnya berdiri di sebuah pojok
dan kepalanya dilengkapi baret hitam yang terkenal itu, lalu wajahnya
yang ‘manly’ (laki-laki sekali) dengan gurat-gurat pengalaman tempur di masa lalu, membuncah pada kenangan banyak anak muda.
Mungkin benar apa kata pepatah : “memalukan
bila anak muda di usia 20 tahun tidak menjadi kiri dan memberontak,
tapi bila sampai umur 40 tahun masih memberontak dan tetap jadi kiri
maka ia tak punya otak”. Pepatah
itu untuk ejekan pada kaum pemberontak-pemberontak tua yang kemudian
menjadi mapan bahkan menjadi diktator, tapi tidak bagi Che Guevara,
sepanjang hidupnya adalah pemberontakan, sepanjang hidupnya Che Guevara
terus melawan, bukan saja melawan kaum kanan, kaum imperialis ia juga
melawan Sovjet Uni, ia melawan segala bentuk penindasan, di sisi
pembebasan manusia ia berdiri. Ia masuk kota Havana dengan seribu
kemenangan, seribu sambutan tapi ia tak lena, ia tak larut dalam
kebanggaan, ia surut kebelakang dan memanggul senjata kembali berperang
melawan penindasan di negara-negara Amerika Latin, ia masuk hutan, dan
tertembak dalam ruang kesunyian, ia mati dengan perjuangannya, ia mati
tertembak dengan kepala tegak seolah membawa pesan tersembunyi ‘akulah
pengancam hidup bagi kaum penindas’.
Che Guevara adalah anak muda, motor dan buku-.
Ia lahir dari keluarga kaya, awalnya ia tak berminat di bidang politik,
seluruh pikirannya hanya terpusat pada penyakitnya ‘asma’ ia sangat
tersiksa dengan penyakitnya ini, ia terus mencari tahu informasi tentang
penyembuhan penyakitnya. Hobi membacanya tumbuh karena ibunya Celia de
la Serna, amat berminat di bidang sastra, ia ingin anaknya menyukai
membaca, Celia tak hanya mengajari anaknya tentang huruf, ia mengajari
kosa kata yang hidup, dari ibunya-lah pertama kali Che, mengenali bahwa
‘dibalik aksara’ ada kehidupan.
Di
umur 12 tahun ia suka sekali berkutat di ruang perpustakaan ayahnya,
ada satu buku yang amat menarik, sebuah buku berbahasa Spanyol
terjemahan dari bahasa Jerman. Judulnya ‘Das Kapital’ karangan Karl
Marx, ia menggeluti buku ini, ia mendefinisikan kemanusiaan, ia
mendefinisikan bagaimana komoditi kemudian berkembang bukan sebagai
‘alat yang memudahkan manusia’ tapi sebagai alat penindasan, -manusia
terasingkan oleh kehidupannya-.
Che
Guevara, muda masih hidup dalam dunia yang nyaman, dunia kelas menengah
Argentina. Saat itu tahun 1940, Argentina adalah salah satu negara
terkaya di Amerika. Bahkan kekayaannya tak jauh dari Amerika Serikat.
Argentina menjadi negara makmur karena Eropa amat bergantung pada ekspor
pertaniannya, beberapa ladang minyak ditemukan di berbagai tempat, tapi
distribusi kekayaan tak merata, di kalangan miskin mereka tak
mendapatkan ‘kesempatan menikmati’ kekayaan hanya menjadi kolam susu
bagi kelas menengah dan kelas atas.
Argentina memiliki kedekatan hubungan dengan Spanyol sebagai bekas negara jajahan, bahkan
orang Argentina menggunakan Spanyol sebagai bahasa sehari-hari mereka,
selain Spanyol, Argentina amat dekat dengan Italia dan Jerman. Faktor
kedekatan ini berasal dari mayoritas agama yang sama dipeluk Italia dan
Jerman (terutama Jerman Selatan, Bavaria) –agama Katolik Roma.
Saat
perang Spanyol meletus, banyak pengungsi Spanyol datang ke Argentina,
kehidupan mereka terlunta-lunta. Ratusan ribu terdampar di
pelabuhan-pelabuhan tak bisa masuk karena pemerintahan Argentina menahan
keimigrasian mereka, pengungsi ini juga menjadi bahan keributan
politik. Suatu sore yang panas, Che berjalan ke Pelabuhan ia melihat
sebarisan pengungsi mengenaskan, ia melihat bayi yang menangis, ia
melihat seorang tua berjalan yang amat susah, ia melihat sebarisan
manusia tak bisa masuk, terasing kebebasannya karen hukum yang dibuat
manusia. –disaat inilah hatinya tersentuh, Che tertarik dengan
kemanusiaan. Kenapa manusia bisa tertindas?’ ia kemudian menarik dirinya
dalam ruang sunyi dan berpikir, hatinya gelisah.
Tahun
1941 adalah tahun penting bagi perubahan dunia, perang dunia sudah
meletus di Eropa, pasukan Jerman menggasak Perancis, menghajar seluruh
wilayah barat Eropa dan masuk juga ke Sovjet Uni dalam operasi
Barbarossa, Che Guevara membaca terus berita-berita perang, ia
beranggapan bahwa ‘dunia bukan berubah menjadi yang baik, tapi dunia
mengarah kepada penindasan baru, siapapun yang memenangkan perang maka
pemenangnya adalah penindas’ namun pengetahuan soal penindasan ini masih
samar-samar, Che belum mendapatkan cara yang sistematis, ia belum
menemukan revolusinya.
![]() |
| Che bersama teman-temannya memperbaiki motor (Album film motorcycle diaries) |
Suatu pagi yang cerah, matahari merembes
dari balik jendela, ia melihat begitu indahnya kehidupan, Tuhan
memberikan keindahan, tapi dibalik keindahan ada pesan, ‘setiap manusia
harus punya tindakan untuk berguna bagi manusia lain’ Che Guevara
termenung ia duduk sebentar dan matanya tanpa sengaja melihat motornya,
sepeda motor buatan Inggris bermerk : Norton. Ia kemudian memanggil dua
tetangganya yang montir di belakang pom bensin dekat rumah dan
memperbaiki motor itu agar pacu-nya lebih hebat, mesinnya diperbaiki dan
ia memeriksa semua. Lalu sorenya ia berjalan-jalan dengan motor,
rambutnya yang agak gondrong kepirangan terburai, hidungnya yang lancip
membaui udara kebebasan. –Disinilah Che menemui kehidupan, dan kehidupan
itu bukan rasa tenang, tapi kehidupan adalah ketika naluri kemanusiaan
bertemu dengan manusia lain yang harus dibebaskan.
Pembebasan adalah kata-kata pertama yang dipahami, Che.
– Ia mengajak kawannya Alberto Granado keliling Argentina, ia masuk
hutan, melewati sungai, melihat perkampungan-perkampungan yang tak
terlihat dengan motornya, ia menaiki rakit dan berjalan terus menantang
sinar matahari, dan tangannya mencoba meraih bulan di angkasa, hatinya
penuh, ia bergembira sekaligus bertanya ‘kemanusiaan, kemanusiaan…’.
Che, menemukan kebahagiaan di atas tunggangannya, kuda besi dan dengan
buku berlapis kulit ia mencatat seluruh yang ia lihat, orang miskin,
para Indian yang terpinggirkan, mereka yang terlupakan, mereka yang
harus berkutat dengan kehidupan, seluruh dari mereka yang tak bebas dan
harus dibebaskan – catatan itu kelak menjadi sebuah buku dan di filmkan
dengan judul ‘Motorcycles diaries’.
![]() | |||||
| Film Che Guevara |
Setelah
berkeliling Argentina, ia merasa menemukan dirinya, ia harus keluar
masuk hutan dan melakukan perlawanan, ia membaca semua
literatur-literatur revolusi, ia membaca Lenin, ia membaca Revolusi
Rusia, ia membaca seluruh gagasan tentang penjungkirbalikan masyarakat,
ia membaca bagaimana sejarah masyarakat bekerja, dan ia memahami bahwa
Amerika Latin adalah laboratorium besar untuk berubah.
Ia lalu berkelana ke banyak tempat, ada
hal yang amat berkesan padanya, tentang cerita-cerita perjuangan di
wilayah Peru, seorang pencerita ini adalah Salvador Allende, kelak ia
akan menjadi Presiden Chile namun digulingkan oleh militer sayap kanan
pro Amerika Serikat, Jenderal Pinochet –dimana penggulingan Allende
menggunakan cara-cara penggulingan Sukarno dan kode kudetanya adalah
‘Operation Djakarta’. Che pergi ke Guatemala, disana ia juga mulai
angkat senjata tapi belum sepenuh hati, perjumpaan revolusionernya dalam
tindakan justru ketika ia dikenalkan dengan seorang berkulit putih,
berjenggot tebal dan doyan menghisap cerutu ‘Saya Fidel Castro’ kata
orang itu, saat Che melalui sahabatnya Nico Lopez, Fidel
berdiri tenang, badannya yang menjulang dan tatapannya mirip mata elang
mengawasi Che, lalu ia tersenyum ‘sekarang kau bergabung denganku
kawan, kenalkan ini adikku…Raul’. Che tersenyum pada Raul, setelah
bergaul dengan Fidel, Che mendapatkan penafsiran ‘bahwa inilah pemimpin
yang ia cari untuk melakukan pemberontakan melawan penindasan’. Fidel
dan Raul Castro adalah dua pelarian dari Kuba, ia dikejar-kejar rezim
Batista dukungan Amerika Serikat.
![]() |
| Raul Castro dan Fidel Castro, dua sahabat Che Guevara (Cuban Modern History) |
Kemenangan besar kaum gerilyawan
disambut besar-besaran penduduk Havana, bila Batista berpesta hanya
untuk kaum penggede dan para sekutu Amerika Serikat, maka Fidel dan Che
disambut rakyat jelata yang berharap kehidupannya akan membaik karena
perang perebutan kekuasaan ini.
Fidel
Castro menjadi pemimpin Kuba. Sejak 1959 dan menjadi pemimpin yang
berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat. Suatu saat di pertengahan tahun
1959 ia berbicara pada Castro agar Kuba berhubungan serius dengan
negara-negara sosialis, Castro menyebut dua nama yang ia kagumi : Mao
Tse Tung dan Sukarno. “Cobalah kamu ke dua orang itu”.
Indonesia
menjadi pusat perhatian penting Kuba, karena perjuangan bangsa
Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana kedaulatan bisa direbut, saat
itu Che Guevara sedang berpikir soal ‘ekonomi yang berkedaulatan’.
Ekonomi yang bebas. Dari Sukarno-lah ia kemudian banyak belajar, “Sebuah
bangsa benar-benar merdeka, bila bangsa itu tidak berdaulat ekonominya”
kata Bung Karno pada Che. Bung Karno juga menyarankan agar Che,
mengunjungi Borobudur “lihatlah Borobudur, agar kau bisa memahami
sejarah masyarakat berkembang, mekar dan kemudian berbudaya”.
Di
tengah kunjungan Che, Bung Karno memanggil pengikutnya paling fanatik
dan sudah ikut Bung Karno sejak sebelum merdeka, namanya AM Hanafi,
Hanafi disuruh Bung Karno menjadi dubes Kuba dan mempelajari Castro agar
hubungan Indonesia-Kuba meningkat.
![]() | ||
| Che Guevara dan idolanya : Bung Karno, Che amat mengagumi pemikiran-pemikiran Sukarno, kedaulatan ekspor gula ia tiru dari cara Sukarno soal gertak minyak (Sumber Photo : Antara) |
Setahun
setelah kunjungan Che ke Indonesia, Bung Karno datang dan disambut
rakyat Kuba dengan gembira, rakyat Kuba senang karena pemimpin
legendaris dunia itu datang menyambangi Havana, ribuan orang berbaris
menyambut Bung Karno, namun sambutan hangat di Kuba ini membuat marah
Presiden Eisenhower, “Bagaimana bisa ia mengunjungi ‘kampung komunis’
sebelum ia masuk ke halaman Amerika Serikat” keluh Ike Eisenhower dengan
nada geram. Waktu Sukarno tiba di Amerika Serikat bulan Juni 1960, Ike
ngambek luar biasa, ia tak mau menyambut Bung Karno, apa sebab? Bung
Karno membawa DN Aidit pemimpin Partai Komunis terbesar nomor tiga di
dunia, “Bagaimana mungkin seorang Presiden AS, bersalaman dengan
pemimpin Komunis, tanpa konfirmasi dulu” Ike memang benar-benar tak suka
Bung Karno, tapi Che Guevara menyukainya, Che berkata pada Fidel
“Sukarno idolaku”………
Che, bukanlah pemimpin yang senang hidup nyaman, ia berjuang hanya karena “harus”
berjuang, ia melihat bagian dunia lain masih sengsara, ia ingin
membebaskan dunia, tapi kadang-kadang manusia punya kenaifannya, mungkin
di Kuba Revolusi menemukan momentum-nya, tapi tidak di dunia lain. Che
gagal di Kongo, Afrika begitu juga saat ia memasuki Bolivia, Che
ditangkap tentara pemerintah Bolivia, ia mati dengan kepala ditembusi
peluru, peluru penindasan……
Itulah
Che, seorang pejuang abadi, seorang yang menolak kemapanan, memilih
revolusi angkat bersenjata sebagai jalan hidupnya, seorang yang berkata
kepada isterinya ‘Kuberikan kebebasanku pada dunia, tapi aku tak bisa
membebaskan dunia, aku mencintaimu sekali lagi mencintaimu’. Dan seorang
bapak yang amat mencintai anaknya seperti surat yang ia kirimkan kepada
anak sulungnya Hildita, di hari ulangtahun Hildita :
Anakku,
kau musti berjuang menjadi yang terbaik di sekolah, terbaik dalam
setiap pengertia, dan kau akan mengetahuinya kelak : belajar dan
bersikaplah revolusioner.
Apa
itu sikap revolusioner? Sikap itu adalah kelakuanmu yang baik, cintamu
yang tulus pada revolusi, pada persamaan manusia, persaudaraan.
Aku
sendiri tidak bersikap demikian disaat usiaku sama denganmu, aku hidup
dalam masyarakat yang berbeda, masyarakat yang kolot dan berpaham
sempit, ‘dimana manusia menjadi ancaman bagi manusia lainnya’. Tapi kau
nak, hidup dalam masa yang indah, memiliki kemudahan hidup di jaman yang
lain dari jaman bapak-mu, kau harus bersyukur soal itu.
Bermainlah
dalam dunia kanak-kanakmu, bermainlah ke rumah tetanggamu untuk menyapa
mereka dan ceritakan pada mereka bagaimana kelakuan baik seharusnya
dijalankan. Dekati adikmu Aleidita, ajarkan bagaimana bertindak baik, yang butuh perhatian besar darimu, sebagai anak tertua.
Oke,
Tuan Putri……Sekali lagi aku berharap hatimu mekar berbahagia di hari
ulang tahunmu ini, Peluk mesra untuk ibumu dan Gina. Aku memelukmu,
memeluk dengan keabadian, memeluk sebagai rasa cinta bapak kepada
anaknya hingga akhirnya kita berpisah.
Papamu, Che Guevara.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar