Cari Blog Ini

Selasa, 19 Juni 2012

Sisi Kapital dalam Klaim Kebudayaan

Bung Karno, Henk Ngantung dan Para Seniman di Istana Negara (Sumber Photo :Antara)
Awal minggu ini kita dihebohkan oleh berita di media massa tentang klaim Malaysia terhadap tari Tor Tor dan Gondang Sambilan, muncul pro kontra disini. Bagi pihak yang panas dan emosional menganggap aksi Malaysia ini adalah tindakan maling yang direstui negara sementara dari pihak yang berkepala dingin menganggap ini soal biasa saja, soal budaya bangsa.

Tapi pernahkah ada yang berpikir selama ini apa yang dilakukan Malaysia mulai dari klaim Batik, Tari Pendet, Lagu Rasa Sayange,  dan banyak lagi pengakuan secara sepihak sebagai strategi kebudayaan Malaysia dalam ‘penumpukan kapital masa depannya’ sebagai negara? 

Sebelum masuk ke dalam strategi kebudayaan Malaysia dan akumulasi Kapital atas strategi kebudayaan itu, kita lihat dulu arah strategi kebudayaan kita yang sejarahnya juga pernah berpikiran sama dengan Malaysia dalam ambisinya menyebutkan dirinya sebagai ‘The Truly Asia’  dalam menciptakan centrum kebudayaan sebagai alat peningkatan kekayaan negara.
Pavilyun Hindia Belanda di Pameran 100 tahun revolusi Perancis, di Paris (Sumber Photo : KITLV)
 
Bung Karno dan Taman Bhinneka Tunggal Ika 


Sejak jaman Hindia Belanda, keanekaragaman kekayaan Nusantara menjadi bahan paling menarik bagi para antropolog dan peminat studi-studi kebudayaan timur.  Pemerintahan Hindia Belanda juga secara resmi menggalakkan penggalian kebudayaan itu kemudian digerakkan sebagai ‘akumulasi kapital’ dalam banyak pameran di Bandung, Batavia dan Surabaya seringkali Pemerintah Hindia Belanda memamerkan rumah-rumah adat, tarian tradisional dan segala macam bentuknya, bahkan di era Van Limburg Stirum sudah ada ide untuk membentuk semacam ‘Taman Mini Hindia Belanda’.   Namun rencana ini tak berlanjut karena krisis ekonomi dan kemudian Van Limburg Stirum digantikan oleh Dirk Fock yang tidak begitu menyukai adanya kekayaan kebudayaan Hindia Belanda dan lebih berkonsentrasi pada pengembangan ekonomi komoditi ketimbang menggali kekayaan kebudayaan dan meningkatkan sektor pendidikan seperti masa Van Limburg Stirum. -Namun ada yang layak dikenang di jaman Stirum ini menjadikan Pulau Bali dikenal di Eropa, Stirum membangun jalur-jalur khusus pelayaran pariwisata ke Bali, kemudian Bali mulai dikenal masyarakat Internasional, Bali yang awalnya menjadi sorga seniman Bohemian, di tahun-tahun 1930-an awal mulai dijadikan tempat Pariwisata secara profesional dan berpotensi menumpuk Kapital.

 Rencana Stirum itu sedikit banyak kemudian diambil kembali pada era Pemerintahan Sukarno setelah Sukarno memberlakukan Demokrasi terpimpin 1959. Pada tahun 1960, Sukarno mengangkat Henk Ngantung menjadi Wakil Gubernur Djakarta Raja,  pemikiran pertama adalah menggali pemikiran Sukarno soal kebudayaan.

Bung Karno Menginspeksi Pembangunan Monas (Sumber Photo : LIFE Magazine)
Bagi Sukarno sendiri “kebudayaan adalah landasan dasar” bukan saja ‘pembentuk jiwa karakter sebuah bangsa’  tapi landasan dari seluruh gerak bangsa. Kebudayaan itu dibagi dua menjadi Kebudayaan sebagai arah pengembangan pencerahan batin dan kebudayaan sebagai aset kekayaan bangsa, dari dua sisi inilah kemudian Bung Karno meletakkan arah pembangunan Revolusi-nya. -Kebudayaan selalu jadi avant garde dalam revolusi Sukarno, seni lukis berkembang hebat, aliran-aliran lukisan masa itu semarak, sastra berkembang amat baik dan Sukarno sendiri secara frontal melawan lagu-lagu asing, di satu sisi ia berteriak soal “Kebudayaan Sendiri!” di sisi lain yang tak dilihat banyak orang adalah Sukarno mengembangkan strategi bahwa jika kebudayaan warisan masa lalu bisa menjadi ‘tuan rumah’ di negeri sendiri maka seluruh hasil kebudayaan itu bisa menjadi sumber akumulasi kapital, bisa menjadi sumber kekayaan bagi bangsa sendiri. ‘Strategi kapital dalam kebudayaan ini dilakukan Sukarno dengan amat jenius dan berwawasan jangka panjang’. Ia membentuk Lapangan Monas sebagai lapangan terpadu, titik nol kebudayaan kita. - Dalam lapangan Monas itu rencananya akan dibangun Museum besar, yang menurut Sukarno ‘Lebih hebat dari Museum Nasional Mexico’ bahkan dalam pidatonya di masa menjelang kejatuhannya tahun 1966, Sukarno berkata “Di depan pintu keluar museum ini akan ada tulisan ‘Nah, kalian sekarang bisa meninggalkan museum ini, tapi kalian tak bisa meninggalkan sejarah”. Arah pemikiran Bung Karno ini dibaca oleh Henk Ngantung dan kemudian ia menyusun sebuah tim untuk merekonstruksi centrum kebudayaan, saat itu sekitar tahun 1962 Bung Karno pernah mengunjungi wilayah Ragunan dan dielu-elukan warga sekitar, di wilayah Ragunan ada sekitar 100 hektar tanah yang bisa digarap negara untuk keperluan kebudayaan. Henk memberikan usulan agar di Ragunan dibentuk ‘Taman Bhinneka Tunggal Ika’. Namun Sukarno tampaknya mendiamkan saja rencana Henk, karena ia sedang konsentrasi pada pembangunan di wilayah pusat Jakarta seperti Monas dan Istiqlal, memang menurut pemikiran Henk dari Monas ke Ragunan adalah jalur kebudayaan, disana akan dibangun banyak patung-patung, dan karya seni dipajang dalam ruang publik kota, ujungnya adalah ‘centrum kebudayaan, sebuah miniatur Indonesia’ yang terletak di Ragunan. - Akhirnya Ragunan di tahun 1970-an oleh Ali Sadikin dibuatkan Kebon Binatang Ragunan menggantikan kebun binatang yang dulunya ada di Cikini.

Di masa Sukarno, lagu-lagu daerah meledak luar biasa : lagu Butet dinyanyikan dimana-mana oleh orang Klaten atau orang Sidoarjo, lagu Apuse dinyanyikan dengan senang oleh orang Bukittinggi,  lagu Ayam den Lapeh dinyanyikan oleh orang Makassar sambil tertawa-tawa . -Bung Karno mampu menjadikan produk kebudayaan sebagai alat mengenalkan manusia lain dengan manusia, dan menjadi bahan pelekat imajiner pembentuk sebuah bangsa. -Sekaligus menjadi modal kekayaan negara untuk mengakumulasi kapital.  Selain menjadi pelekat sebuah bangsa, Bung Karno juga mampu meledakkan lagu-lagu Indonesia menjadi alat untuk mengenal antar bangsa, seperti lagu Panon Hideung dari Sunda yang banyak dikenal orang Rusia atau lagu Ayo Mama amat dikenal oleh orang RRC. -Disini lagu-lagu tersebut kemudian tidak diklaim oleh orang Rusia atau RRC sebagai kekayaan mereka, tapi memang sebagai pengenalan kemanusiaan, bukan menjadi ‘hak milik’ resmi.
Demo Menolak Taman Mini (Sumber Photo : Dok. Tempo 1972)

Setelah jaman Bung Karno usai, muncullah jaman Suharto. - Di masa ini persoalan kapital atas strategi kebudayaan menjadi banal tapi  jelas dan lugas.  Adalah Ibu Tien Suharto yang dengan keras akan membangun pusat kebudayaan Indonesia di Jakarta. Proyek itu dinamakan Proyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) - ide ini digagas Bu Tien dan didukung oleh para pejabat di lingkaran dalam Suharto, saat itu Ali Sadikin juga masih akur dengan Pak Harto. Ide bu Tien didukung penuh oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani, sebagai konsultan Pembangunan Taman Mini ditunjuk Ir. Hardjasudirdja. - Rencana bu Tien di tahun 1972 yang berencana akan menggelontorkan dana Rp. 10,5 milyar di masa itu sungguh mengejutkan banyak pihak. Para ekonom-ekonom Suharto seperti Widjojo Nitisastro menolak keras rencana ini ‘Tidak ada kas negara!’.  Sementara dari kalangan mahasiswa memanas, kompleks kebudayaan itu adalah penghambur-hamburan kekayaan negara, masih banyak yang harus dibangun. Namun bu Tien keukeuh terhadap rencana itu, ketika mahasiswa memanas dan hampir tak terkendali, Suharto mengumpulkan para Jenderalnya di Wisma Ahmad Yani untuk mendinginkan keadaan. Lalu muncul Pangkopkamtib Sumitro ke depan untuk bertanya pada Pak Harto secara pribadi soal Taman Mini, - Pak Harto hanya menunjuk itu rencana bu Tien dan Sumitro lalu mencari Bu Tien dan bertemu, Bu Tien tetap keras kepala dengan pembentukan Taman Mini.

Akhirnya di tahun 1975 Taman Mini berdiri. Disini Pemerintahan Orde Baru akan menjadikan Taman Mini sebagai akumulasi kapital segala bentuk kegiatan kebudayaan dan tak perlu mengunjungi seluruh Indonesia cukup di Taman Mini Indonesia saja, strategi akumulasi kapital soal kebudayaan inilah yang kemudian ditiru oleh Malaysia setelah melihat keberhasilan Taman Mini.
Kereta Gantung TMII Simbol Perjalanan Miniatur Indonesia (Sumber Photo : Wesajelajahindonesia

Malaysia membentuk agenda kerja besar Pariwisata mereka dengan nama ‘Malaysia Truly Asia’ ini ambisi besar Malaysia menciptakan sebuah ‘Taman Mini Asia’ , dan Malaysia amat haus akan referensi kebudayaan-kebudayaan. Yang menjadi pokok persoalannya adalah Malaysia selalu menggunakan jalur formalitas untuk mematenkan kebudayaan diluar negaranya, sementara disisi lain selalu berkilah banyak orang Cina, India, Indonesia tinggal di Malaysia mereka berhak atas kebudayaan mereka dan ditanamkan sebagai kebudayaan Malaysia.

Ini menjadi pelik karena tidak adanya kecerdasan diplomasi dari pemerintahan kita dalam mengantisipasi persoalan ini, karena yang dilakukan Malaysia adalah melakukan hak paten dan didaftarkan ke entitas PBB sebagai bentuk warisan kebudayaan mereka. yang ujung-ujungnya adalah persoalan kekayaan negara. 

Melihat kasus Malaysia ini sesungguhnya Pertahanan wilayah hendaknya tidak hanya dilihat dari sisi geopolitik saja tapi harus dilihat dari segala lini yang menyangkut ‘Modal Nasional, Modal Sosial dan Modal Kebudayaan’.

Karena bila didiamkan apa yang dilakukan Malaysia ini adalah bentuk pengelabuan dan penipuan kepada banyak wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Indonesia atau wilayah Asia lainnya, mereka cukup hanya datang ke Malaysia saja, tak usah ke Bali, tak usah ke Yogyakarta, atau tak usah ke alam cantik Minangkabau, mereka bisa bilang orang Sunda hanya meniru Malaysia dalam soal angklung, orang Ponorogo ikut-ikutan soal Reog dan orang Batak suka manortor karena ikut-ikutan orang Malaysia.
Pemutarbalikan fakta ini akan menjadi strategis bagi mereka di masa depan.  Coba anda bayangkan betapa tinggi potensi Batik, setelah semua orang Indonesia memakai batik, sentra-sentra batik seperti di Laweyan Solo hidup kembali,  Pasar Klewer menjadi semakin semarak.

Nah, cobalah sekali-kali melihat kasus klaim kebudayaan Malaysia ini dilihat dari sisi perebutan Modal bukan hanya perdebatan kebudayaan dan soal saling menghargai. -Bila soal saling menghargai soal kebudayaan lihatlah orang RRC yang membacakan dengan indah sajak Bung Karno  di aula Guangxi Normal University dan disambut tepuk tangan dengan mempesona,  lihatlah betapa menghargainya warga Internasional yang datang ke Esplanade, Singapura menonton opera tari ‘Matahati’  dan lihatlah betapa rakyat RRC senang menyanyikan lagu ‘Ayo Mama’ dan orang Jepang berkebun sambil menyanyikan lagu Bengawan Solo.
Kebudayaan adalah usaha mengenalkan hubungan antar manusia, bukan persoalan mencuri kemudian membuat sertifikat kepemilikan tanpa malu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar