![]() | |
| Bung Karno, Henk Ngantung dan Para Seniman di Istana Negara (Sumber Photo :Antara) |
Awal minggu ini kita dihebohkan oleh
berita di media massa tentang klaim Malaysia terhadap tari Tor Tor dan
Gondang Sambilan, muncul pro kontra disini. Bagi pihak yang panas dan
emosional menganggap aksi Malaysia ini adalah tindakan maling yang
direstui negara sementara dari pihak yang berkepala dingin menganggap
ini soal biasa saja, soal budaya bangsa.
Tapi pernahkah ada yang berpikir selama
ini apa yang dilakukan Malaysia mulai dari klaim Batik, Tari Pendet,
Lagu Rasa Sayange, dan banyak lagi pengakuan secara sepihak sebagai strategi kebudayaan Malaysia dalam ‘penumpukan kapital masa depannya’ sebagai negara?
Sebelum masuk ke dalam strategi
kebudayaan Malaysia dan akumulasi Kapital atas strategi kebudayaan itu,
kita lihat dulu arah strategi kebudayaan kita yang sejarahnya juga
pernah berpikiran sama dengan Malaysia dalam ambisinya menyebutkan
dirinya sebagai ‘The Truly Asia’ dalam menciptakan centrum kebudayaan
sebagai alat peningkatan kekayaan negara.
![]() |
| Pavilyun Hindia Belanda di Pameran 100 tahun revolusi Perancis, di Paris (Sumber Photo : KITLV) |
Bung Karno dan Taman Bhinneka Tunggal Ika
Sejak jaman Hindia Belanda,
keanekaragaman kekayaan Nusantara menjadi bahan paling menarik bagi para
antropolog dan peminat studi-studi kebudayaan timur. Pemerintahan
Hindia Belanda juga secara resmi menggalakkan penggalian kebudayaan itu
kemudian digerakkan sebagai ‘akumulasi kapital’ dalam banyak pameran di
Bandung, Batavia dan Surabaya seringkali Pemerintah Hindia Belanda
memamerkan rumah-rumah adat, tarian tradisional dan segala macam
bentuknya, bahkan di era Van Limburg Stirum sudah ada ide untuk
membentuk semacam ‘Taman Mini Hindia Belanda’. Namun rencana ini tak
berlanjut karena krisis ekonomi dan kemudian Van Limburg Stirum
digantikan oleh Dirk Fock yang tidak begitu menyukai adanya kekayaan
kebudayaan Hindia Belanda dan lebih berkonsentrasi pada pengembangan
ekonomi komoditi ketimbang menggali kekayaan kebudayaan dan meningkatkan
sektor pendidikan seperti masa Van Limburg Stirum. -Namun ada yang
layak dikenang di jaman Stirum ini menjadikan Pulau Bali dikenal di
Eropa, Stirum membangun jalur-jalur khusus pelayaran pariwisata ke Bali,
kemudian Bali mulai dikenal masyarakat Internasional, Bali yang awalnya
menjadi sorga seniman Bohemian, di tahun-tahun 1930-an awal mulai
dijadikan tempat Pariwisata secara profesional dan berpotensi menumpuk
Kapital.
Rencana Stirum itu sedikit banyak kemudian diambil kembali pada era
Pemerintahan Sukarno setelah Sukarno memberlakukan Demokrasi terpimpin
1959. Pada tahun 1960, Sukarno mengangkat Henk Ngantung menjadi Wakil
Gubernur Djakarta Raja, pemikiran pertama adalah menggali pemikiran
Sukarno soal kebudayaan.
![]() |
| Bung Karno Menginspeksi Pembangunan Monas (Sumber Photo : LIFE Magazine) |
Bagi Sukarno sendiri “kebudayaan adalah landasan dasar” bukan
saja ‘pembentuk jiwa karakter sebuah bangsa’ tapi landasan dari
seluruh gerak bangsa. Kebudayaan itu dibagi dua menjadi Kebudayaan
sebagai arah pengembangan pencerahan batin dan kebudayaan sebagai aset
kekayaan bangsa, dari dua sisi inilah kemudian Bung Karno meletakkan
arah pembangunan Revolusi-nya. -Kebudayaan selalu jadi avant garde dalam
revolusi Sukarno, seni lukis berkembang hebat, aliran-aliran lukisan
masa itu semarak, sastra berkembang amat baik dan Sukarno sendiri secara
frontal melawan lagu-lagu asing, di satu sisi ia berteriak soal
“Kebudayaan Sendiri!” di sisi lain yang tak dilihat banyak orang adalah
Sukarno mengembangkan strategi bahwa jika kebudayaan warisan masa lalu
bisa menjadi ‘tuan rumah’ di negeri sendiri maka seluruh hasil
kebudayaan itu bisa menjadi sumber akumulasi kapital, bisa menjadi
sumber kekayaan bagi bangsa sendiri. ‘Strategi kapital dalam kebudayaan
ini dilakukan Sukarno dengan amat jenius dan berwawasan jangka panjang’.
Ia membentuk Lapangan Monas sebagai lapangan terpadu, titik nol
kebudayaan kita. - Dalam lapangan Monas itu rencananya akan dibangun
Museum besar, yang menurut Sukarno ‘Lebih hebat dari Museum Nasional
Mexico’ bahkan dalam pidatonya di masa menjelang kejatuhannya tahun
1966, Sukarno berkata “Di depan pintu keluar museum ini akan ada tulisan ‘Nah, kalian sekarang bisa meninggalkan museum ini, tapi kalian tak bisa meninggalkan sejarah”. Arah
pemikiran Bung Karno ini dibaca oleh Henk Ngantung dan kemudian ia
menyusun sebuah tim untuk merekonstruksi centrum kebudayaan, saat itu
sekitar tahun 1962 Bung Karno pernah mengunjungi wilayah Ragunan dan
dielu-elukan warga sekitar, di wilayah Ragunan ada sekitar 100 hektar
tanah yang bisa digarap negara untuk keperluan kebudayaan. Henk
memberikan usulan agar di Ragunan dibentuk ‘Taman Bhinneka Tunggal Ika’.
Namun Sukarno tampaknya mendiamkan saja rencana Henk, karena ia sedang
konsentrasi pada pembangunan di wilayah pusat Jakarta seperti Monas dan
Istiqlal, memang menurut pemikiran Henk dari Monas ke Ragunan adalah
jalur kebudayaan, disana akan dibangun banyak patung-patung, dan karya
seni dipajang dalam ruang publik kota, ujungnya adalah ‘centrum
kebudayaan, sebuah miniatur Indonesia’ yang terletak di Ragunan. -
Akhirnya Ragunan di tahun 1970-an oleh Ali Sadikin dibuatkan Kebon
Binatang Ragunan menggantikan kebun binatang yang dulunya ada di Cikini.
Di masa Sukarno, lagu-lagu daerah
meledak luar biasa : lagu Butet dinyanyikan dimana-mana oleh orang
Klaten atau orang Sidoarjo, lagu Apuse dinyanyikan dengan senang oleh
orang Bukittinggi, lagu Ayam den Lapeh dinyanyikan oleh orang Makassar
sambil tertawa-tawa . -Bung Karno mampu menjadikan produk kebudayaan
sebagai alat mengenalkan manusia lain dengan manusia, dan menjadi bahan
pelekat imajiner pembentuk sebuah bangsa. -Sekaligus menjadi modal
kekayaan negara untuk mengakumulasi kapital. Selain menjadi pelekat
sebuah bangsa, Bung Karno juga mampu meledakkan lagu-lagu Indonesia
menjadi alat untuk mengenal antar bangsa, seperti lagu Panon Hideung
dari Sunda yang banyak dikenal orang Rusia atau lagu Ayo Mama amat
dikenal oleh orang RRC. -Disini lagu-lagu tersebut kemudian tidak
diklaim oleh orang Rusia atau RRC sebagai kekayaan mereka, tapi memang
sebagai pengenalan kemanusiaan, bukan menjadi ‘hak milik’ resmi.
![]() |
| Demo Menolak Taman Mini (Sumber Photo : Dok. Tempo 1972) |
Setelah jaman Bung Karno usai, muncullah
jaman Suharto. - Di masa ini persoalan kapital atas strategi kebudayaan
menjadi banal tapi jelas dan lugas. Adalah Ibu Tien Suharto yang
dengan keras akan membangun pusat kebudayaan Indonesia di Jakarta.
Proyek itu dinamakan Proyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) - ide ini
digagas Bu Tien dan didukung oleh para pejabat di lingkaran dalam
Suharto, saat itu Ali Sadikin juga masih akur dengan Pak Harto. Ide bu
Tien didukung penuh oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani, sebagai
konsultan Pembangunan Taman Mini ditunjuk Ir. Hardjasudirdja. - Rencana
bu Tien di tahun 1972 yang berencana akan menggelontorkan dana Rp. 10,5
milyar di masa itu sungguh mengejutkan banyak pihak. Para ekonom-ekonom
Suharto seperti Widjojo Nitisastro menolak keras rencana ini ‘Tidak ada
kas negara!’. Sementara dari kalangan mahasiswa memanas, kompleks
kebudayaan itu adalah penghambur-hamburan kekayaan negara, masih banyak
yang harus dibangun. Namun bu Tien keukeuh terhadap rencana itu, ketika
mahasiswa memanas dan hampir tak terkendali, Suharto mengumpulkan para
Jenderalnya di Wisma Ahmad Yani untuk mendinginkan keadaan. Lalu muncul
Pangkopkamtib Sumitro ke depan untuk bertanya pada Pak Harto secara
pribadi soal Taman Mini, - Pak Harto hanya menunjuk itu rencana bu Tien
dan Sumitro lalu mencari Bu Tien dan bertemu, Bu Tien tetap keras kepala
dengan pembentukan Taman Mini.
Akhirnya di tahun 1975 Taman Mini
berdiri. Disini Pemerintahan Orde Baru akan menjadikan Taman Mini
sebagai akumulasi kapital segala bentuk kegiatan kebudayaan dan tak
perlu mengunjungi seluruh Indonesia cukup di Taman Mini Indonesia saja,
strategi akumulasi kapital soal kebudayaan inilah yang kemudian ditiru
oleh Malaysia setelah melihat keberhasilan Taman Mini.
![]() |
| Kereta Gantung TMII Simbol Perjalanan Miniatur Indonesia (Sumber Photo : Wesajelajahindonesia |
Malaysia membentuk agenda kerja besar Pariwisata mereka dengan nama ‘Malaysia Truly Asia’ ini ambisi besar Malaysia menciptakan sebuah ‘Taman Mini Asia’ , dan Malaysia amat haus akan referensi kebudayaan-kebudayaan. Yang
menjadi pokok persoalannya adalah Malaysia selalu menggunakan jalur
formalitas untuk mematenkan kebudayaan diluar negaranya,
sementara disisi lain selalu berkilah banyak orang Cina, India,
Indonesia tinggal di Malaysia mereka berhak atas kebudayaan mereka dan
ditanamkan sebagai kebudayaan Malaysia.
Ini menjadi pelik karena
tidak adanya kecerdasan diplomasi dari pemerintahan kita dalam
mengantisipasi persoalan ini, karena yang dilakukan Malaysia adalah
melakukan hak paten dan didaftarkan ke entitas PBB sebagai bentuk
warisan kebudayaan mereka. yang ujung-ujungnya adalah persoalan kekayaan negara.
Melihat kasus Malaysia ini sesungguhnya
Pertahanan wilayah hendaknya tidak hanya dilihat dari sisi geopolitik
saja tapi harus dilihat dari segala lini yang menyangkut ‘Modal
Nasional, Modal Sosial dan Modal Kebudayaan’.
Karena bila didiamkan apa yang dilakukan
Malaysia ini adalah bentuk pengelabuan dan penipuan kepada banyak
wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Indonesia atau wilayah Asia
lainnya, mereka cukup hanya datang ke Malaysia saja, tak usah ke Bali,
tak usah ke Yogyakarta, atau tak usah ke alam cantik Minangkabau, mereka
bisa bilang orang Sunda hanya meniru Malaysia dalam soal angklung,
orang Ponorogo ikut-ikutan soal Reog dan orang Batak suka manortor
karena ikut-ikutan orang Malaysia.
Pemutarbalikan fakta ini akan menjadi
strategis bagi mereka di masa depan. Coba anda bayangkan betapa tinggi
potensi Batik, setelah semua orang Indonesia memakai batik,
sentra-sentra batik seperti di Laweyan Solo hidup kembali, Pasar Klewer
menjadi semakin semarak.
Nah, cobalah sekali-kali melihat kasus
klaim kebudayaan Malaysia ini dilihat dari sisi perebutan Modal bukan
hanya perdebatan kebudayaan dan soal saling menghargai. -Bila soal
saling menghargai soal kebudayaan lihatlah orang RRC yang membacakan
dengan indah sajak Bung Karno di aula Guangxi Normal University dan
disambut tepuk tangan dengan mempesona, lihatlah betapa menghargainya
warga Internasional yang datang ke Esplanade, Singapura menonton opera
tari ‘Matahati’ dan lihatlah betapa rakyat RRC senang menyanyikan lagu
‘Ayo Mama’ dan orang Jepang berkebun sambil menyanyikan lagu Bengawan
Solo.
Kebudayaan adalah usaha mengenalkan
hubungan antar manusia, bukan persoalan mencuri kemudian membuat
sertifikat kepemilikan tanpa malu.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar