Cari Blog Ini

Rabu, 11 Juli 2012

Belajar dari Kemenangan Jokowi (Sebuah Anatomi Kultural)

Foto dokumentasi TEMPO edisi : 10 Walikota terbaik, 2006 ini merupakan Foto paling Spektakuler pengenalan Pertama Jokowi di luar Solo, yang kemudian membangunkan persepsi Jokowi sebagai bagian dari Rakyat Jelata yang Mampu Memimpin Pemerintahan (Sumber Photo : TEMPO)


Kemenangan Jokowi malam ini juga menjadi bukti bagaimana orang-orang Betawi menyukai orang Jawa seperti mereka membela mati-matian Sukarno pada jam-jam pertama Republik, seperti mereka berbondong-bondong memilih Jokowi. -Keikhlasan orang Betawi dalam dharma bakti bela negara pun amat diacungi jempol, yang paling spektakuler adalah kerelaan ratusan ribu orang Betawi pindah dari Senayan ke Tebet, karena ribuan hektar lahan di Senayan akan dijadikan Stadion Gelora Bung Karno. Perpindahan ini didasari rasa sukarela karena kecintaan mereka pada Bung Karno dan demi kejayaan bangsa Indonesia.

Orang Jawa memang disukai oleh orang Betawi secara kultural, dan banyak perantau-perantau Jawa ditolong tempat tinggalnya oleh orang Betawi, kedekatan Jawa Mataraman dengan Betawi amat lekat dalam kebudayaan, sama seperti kedekatan kultural Betawi Arab dan Betawi Cina, namun hubungan Betawi Jawa ini lebih lekat soal kepemimpinan politik, orang Betawi menyukai orang Jawa sebagai pemimpin. Mayoritas kepemimpinan lingkungan di Jakarta dipegang orang Jawa dari tingkat RT sampai RW.  -Banyak orang Betawi lebih menyukai memilih menantu yang berasal dari Jawa, karena penilaian mereka orang Jawa perantau rajin-rajin dan sopan.

Jadi jargon-jargon ‘pendatang’ dan ‘pribumi’ tidak tepat dalam soal konteks politik di Jakarta. -Sudah lama orang betawi sendiri menerima diri mereka sebagai bagian kosmopolitan negeri ini.  Sebagai catatan, Betawi sendiri menjadi kota metropolitan jauh sebelum New York berdiri.

Dan lagi ini juga pembelajaran kultur politik negeri kita, sampai saat ini orang Jawa masih mendominasi kekuatan politik secara keseluruhan Nusantara. Karakter Jawa yang ‘ngalah’ dan tidak suka kekisruhan, bekerja dengan hati, bicara menggunakan perasaan, masih menjadi preferesi dominan pilihan politik. -Kita bisa lihat ini nanti dalam Pemilu 2014, diantara barisan capres yang akan muncul maka citra orang Jawa paling utama dimiliki oleh Prabowo.  Apakah Prabowo akan mendapatkan preferensi politiknya yang tinggi? dari rating lembaga Survey saat ini, Ranking Prabowo selalu tertinggi sebagai Capres paling diminati tahun 2014.
Bila SBY menggunakan pencitraan sebagai Jawa yang santun, maka Jokowi mengedepankan orang Jawa yang melayani, seperti tukang-tukang becak orang Jawa di masa lalu waktu Becak masih ada di Jakarta, karakter tukang becak yang melayani inilah yang kemudian disukai banyak orang dalam dunia politik sekarang.

Dan Jokowi tahu itu.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar