![]() |
| Konferensi Pers : Panggung Teater Yang Dibangun Bambang S Widjojanto Menjadi Sumber Penggerak Emosi Rakyat (Sumber Foto : KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES) |
Pengepungan KPK oleh Polri walaupun atas
nama hukum berupa penangkapan salah satu penyidik yang diduga telah
melakukan pembunuhan di masa lalu, menjadi sebuah peristiwa politik
paling penting di negeri ini, karena bukan soal kriminal biasa yaitu
dugaan pembunuhan di masa lalu, tapi soal tarik menarik kekuatan entitas
penyidikan kasus-kasus korupsi di negeri ini yang dipersoalkan, hal ini
jelas membawa peristiwa “Jumat Keramat” pada 5 Oktober 2012 menjadi
kasus politik paling penting sepanjang tahun 2012.
Penggembosan KPK memang sudah puluhan
kali terjadi, bahkan SBY sendiri bertindak sebagai orang yang paling
bertanggungjawab untuk pertama kali dalam penyerangan KPK dengan
menyatakan secara sinis “KPK Sebagai Lembaga Superbody” pesan yang
ditangkap disini adalah SBY menyatakan secara tidak langsung “KPK sudah menjadi ‘Negara di dalam Negara’ yang amat membahayakan struktur kekuasaan. Ucapan
SBY mendapat sambutan gegap gempita utamanya dari kalangan Parlemen
yang pro pada SBY, namun kemudian ucapan SBY mendapatkan gema-nya paling
penting ketika dedengkot politisi PKS Fahri Hamzah secara terukur,
sistematis dan jelas dalam perdebatan publik tentang kampanye pembubaran
KPK, alasan utama yang dikemukakan Fahri Hamzah adalah KPK gagal
membersihkan lembaga-lembaga inti penegakan hukum yaitu : Kepolisian,
Kehakiman dan Kejaksaan. Fahri dengan keras menuding KPK disetir oleh
pihak lain yang membiayai secara non APBN.
Tapi kemudian tuduhan Fahri itu diserang
habis-habisan oleh pendukung KPK yang lebih populis dan memiliki
jaringan massa rakyat banyak. Fahri bahkan di bully terus di
twitter oleh ratusan aktivis pro KPK, sedikit banyak sikap Fahri yang
tidak populer ini menghancurkan suara PKS di banyak lini pemilihan
daerah termasuk di DKI Jakarta, citra PKS sebagai Partai Bersih Anti
Korupsi menjadi rusak oleh sikap Fahri yang menarik garis ke dalam skim
pembubaran KPK yang kemudian pesan Fahri itu ditangkap oleh pikiran
rakyat bahwa PKS berada pada kelompok pro koruptor, pikiran yang
simplistis ini wajar saja di dalam pertarungan politik.
Kemajuan pesat KPK adalah ketika KPK
dengan cerdik memanfaatkan momen cicak dan buaya dalam kasus Anggodo
dimana Bambang S Widjajanto amat berperanan dalam ruang teater cicak dan
buaya. KPK disini menjadi lembaga publik yang paling dipercaya oleh
rakyat, namun juga harus diakui sebagai ‘Pemain Politik Paling Penting
di Negeri ini’. Tak ada Parpol satupun di Indonesia yang mampu
menandingi kekuatan politik KPK saat ini.
Parpol dan Ancaman KPK
Ancaman KPK bukan saja soal penangkapan
para koruptor yang bisa dengan seenaknya dilakukan oleh KPK tanpa lagi
kendala, di masa Indonesia modern baru kali inilah sebuah lembaga yang
berdiri di luar struktur dasar UUD 1945 memiliki kekuatan besar dalam
melakukan tindakan-tindakan politik, inilah yang kemudian menjadi sumber
ketakutan banyak pihak terutama para pemain politik. Tapi di pihak lain
juga timbul pertanyaan apakah kemudian KPK menjadi alat setir dari
pihak lain? Fahri Hamzah sendiri sebagai pelontar pertama isu setir
pihak lain belum bisa menjelaskan siapa pelaku Non APBN yang membiaya
KPK.
Presiden SBY adalah juga pihak yang
paling dirugikan aksi KPK. Paranoid terbesar SBY adalah kasus Bank
Century yang kelak juga mengancam posisi politik klan SBY di masa depan.
Kasus Century sendiri masih menjadi bahan tarik menarik politik paling
ganas sepanjang masa Pemerintahan kedua SBY ini, disini juga
konfigurasi kekuatan politik saling membentuk, membongkar dan membentuk
kembali. KPK sendiri kemudian juga mengambil peluang secara intens
dalam membentuk kekuatan politik di dalam dirinya. Pembentukan kekuatan
politik semakin meraksasa ketika sejumlah Polisi dari Bengkulu menyerbu
gedung KPK mencari Komisaris Polisi Novel Baswedan karena soal kriminal,
kasus ini kemudian secara teatrikal dikembangkan jadi panggung politik
oleh Bambang S Widjajanto dengan konferensi pers tengah malam yang
dikesankan mencekam. Titik konferensi pers ini harus diperhatikan
sebagai kekuatan politik penting dalam membentuk konfigurasi bangunan
politik pada dirinya.
Kemenangan Panggung Teater Konferensi Pers ala Bambang S Widjojanto Jam 1.00 wib
Yang perlu diperhatikan dalam mengukur
kekuatan KPK pasca penyerangan polisi Bengkulu adalah posisi Bambang S
Widjajanto yang menjadi amat dominan dalam konferensi Pers jam 1.00 wib
malam. Bambang S Widjajanto menjadi orang yang paling bertanggungjawab
dan menjadi pemenang politik atas kasus “Insiden Polisi Bengkulu” dengan
gaya yang amat cantik, lugas dan populis sehingga bisa dengan cepat
menghadapkan rakyat dengan Polisi, disini KPK kemudian membentuk
kekuatan ulang yang koridornya langsung masuk ke akar massa rakyat dan
menjadikan militansi rakyat sebagai ancaman terselubung untuk mengganti
struktur kepemimpinan di Kepolisian mulai dari Kapolri sampai jajaran
eselon ring I diseputar Kapolri, KPK di jam 1.00 wib telah menjadikan
dirinya secara kekuatan pengancam paling riil kedudukan Kapolri sendiri
dan beberapa bawahan Kapolri yang ditengarai terlibat dalam politik
permusuhan dengan KPK dimana kasus Simulator sebagai ‘Proxy War’
diantara mereka.
Bambang dengan nada cerdas berhasil
membangun panggungnya ’seakan-akan’ Negara dalam Keadaan Berbahaya,
disini KPK mengubah dirinya dari sekedar lembaga yang ditugaskan dalam
pemberantasan korupsi menjadi lembaga yang paling penting di mata
rakyat, inilah pendobrakan sejarah terbesar dalam kisah entitas anti
korupsi sejak Paran 1960, Operasi Budhi tahun 1963, TPK 1970-an dan
Opstib. Titik terpenting keberhasilan KPK adalah ‘tidak adanya peran
tunggal Presiden dalam intervensi kasus korupsi’. SBY sendiri nampaknya
gamang berhadapan langsung dengan KPK dalam penyelesaian persoalan hukum
seperti apa yang pernah dilakukan Sukarno dan Suharto di masa lalu.
Dan kini hadapan KPK adalah justru lembaga yang disupervisi dan
memiliki kekuatan bersenjata yaitu : Kepolisian.
Kekuatan KPK menjadi sedemikian hebat dan menggulung ke arah people power
bila kemudian Bambang S Widjajanto terus melanjutkan teater politiknya
menjadi titik pusar pembangun isu. Hal ini dengan mudah ia lakukan saat
kasus Cicak dan Buaya ketika dengan terang-terangan Bambang S Widjojanto
mempermalukan institusi Polri di depan Mahkamah Konstitusi dimana ketua
MK secara tersirat mendukung apa yang dilakukan Bambang kemudian
terbangun isu besar yang menggerakkan kekuatan rakyat.
Kekalahan Polri Dalam Panggung Teater Jam 1.00 wib Malam
Entah siapa yang merancang skenario
tidak cerdas dalam penjemputan paksa Kompol Novel Baswedan, dan apa yang
dilakukan pihak Polri tidak mengukur kemungkinan-kemungkinan reaksi
yang terjadi. Kepolisian kemungkinan kaget dengan kemunculan Bambang S
Widjajanto yang secara tiba-tiba secara eksplisit meminta rakyat bersatu
mendukung dirinya. Berbeda dengan panggung Bambang S Widjojanto yang
semarak, menggugah dan dihadiri para selebritis terkenal di negeri ini,
panggung konferensi Pers Polisi cenderung kaku dan membosankan,
sehingga citra buruk Polri di mata rakyat semakin kuat, inilah yang
harus diperhatikan dari pihak Polisi bahwa mereka kurang cerdas
membentuk panggung politik dalam manajemen konflik ketika dirinya
sendiri berhadapan dengan kekuatan lain.
Negosiasi Yang Akan Terjadi. - Sudah
dipastikan kekuatan Polri secara pencitraan hancur total pada peristiwa
konferensi pers yang susunannya dibangun oleh Bambang S Widjojanto pada
jam 1 malam itu, inilah yang kemudian menjadikan Polisi harus melakukan
negosiasi ulang kepada pihak KPK, kecuali bila Polisi tetap terus
berkeras dan menggunakan kekuatan besar dalam menggebuk KPK namun ini
tak mungkin, Polisi harus ingat walaupun mereka memiliki kekuatan besar
dengan dasar legitimasi UUD 1945 namun bias atau deviasi legalitas dalam
sejarah modern Indonesia selalu kalah dengan kekuatan-kekuatan rakyat,
bila Polisi ingin menang dalam pertarungan ia harus menciptakan panggung
teater yang lugas, cerdas dan mampu menggebuk Bambang S Widjojanto
dengan cara yang jenius bukan dengan pemaksaan model polisi Bengkulu
pada Jumat Keramat.
Kekalahan pihak Polisi itu akan
menjadikan Polisi sebagai pihak yang dibawah angin dalam memulai
negosiasi ulang atas kasus Simulator SIM, kemungkinan besar
skenario-skenario seperti barter penyidik dengan Djoko Susilo akan
menjadi hancur apabila kemudian Bambang S Widjajanto secara intens
memainkan irama emosi rakyat, Bambang dengan mudah melakukan pengaturan
tata emosi rakyat yang sudah dengan cerdas dibangunnya pada jam 1.00
wib dengan terus menekan Polri dengan penekanan ini pihak Bambang bahkan
bisa lebih leluasa masuk ke tubuh Polisi tidak menutup kemungkinan
besar juga ada korban seperti Susno Duadji di tubuh Polri dalam kasus
Cicak dan Buaya.
Menjelang 2014 tarik menarik kekuatan
politik menjadi amat penting, kelakuan para Parpol yang selalu memihak
pada mereka yang populis menjadi mesin kekuatan besar dalam
penggelembungan kekuatan KPK sementara di pihak lain Kapolri semakin
lemah posisinya di mata rakyat. SBY jelas tidak akan melakukan rumusan
pasti dalam perseteruan politik antara KPK dan Polri, dan seperti
jutaan rakyat yang sudah mengerti modus politik SBY yang selalu tidak
mau ikut campur pada persoalan yang belum pasti siapa pemenangnya, SBY
juga atas nama demokrasi tidak akan masuk ke dalam
perseteruan-perseteruan yang mengatasnamakan hukum, karena sebagai
eksekutif ia tidak berhak dalam masuk konflik itu, namun dalam soal
kepemimpinan sikap pembiaran SBY ini akan menambah energi baru dukungan
rakyat pada KPK.
Revisi UU KPK dan Bambang S Widjojanto Sebagai “Jokowinya KPK”. , - Pengisoliran
KPK dan blunder Polisi Bengkulu kemarin akan menggagalkan seluruh
skenario pelemahan KPK secara legal konstitusional yang sedang dibawa
Komisi III DPR, namun yang paling penting disini adalah Peranan Bambang S
Widjojanto sebagai aktor paling berbakat di panggung
publik, Bambang kemudian menjadi orang paling terkenal setelah Jokowi di
benak pikiran rakyat, ketika Bambang S Widjojanto menjadi terkenal maka
dengan mudah KPK yang awalnya adalah kekuatan entitas tak jelas seperti
“Cicak Buaya” dan sekumpulan orang lemah secara politis seperti “Bibid
Samad Riyanto dan Chandra Hamzah”. Menjadi KPK yang kuat secara politis
dan berkharisma secara personal disini kekuatan Bambang yang mampu
menjadi pengatur skenario emosi rakyat dan Abraham Samad dengan wajah
menyenangkan akan menjadi kekuatan utama KPK, atau setidak-tidaknya
mampu membangkrutkan kepopuleran Jenderal Timur Pradopo sebagai Kapolri
dalam kasus Simulator SIM dan Penyidikan Irjen Djoko Susilo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar