Cari Blog Ini

Sabtu, 06 Oktober 2012

Menganalisa Kekuatan KPK

Konferensi Pers : Panggung Teater Yang Dibangun Bambang S Widjojanto Menjadi Sumber Penggerak Emosi Rakyat (Sumber Foto : KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)
Pengepungan KPK oleh Polri walaupun atas nama hukum berupa penangkapan salah satu penyidik yang diduga telah melakukan pembunuhan di masa lalu, menjadi sebuah peristiwa politik paling penting di negeri ini, karena bukan soal kriminal biasa yaitu dugaan pembunuhan di masa lalu, tapi soal tarik menarik kekuatan entitas penyidikan kasus-kasus korupsi di negeri ini yang dipersoalkan, hal ini jelas membawa peristiwa “Jumat Keramat” pada 5 Oktober 2012 menjadi kasus politik paling penting sepanjang tahun 2012.

Penggembosan KPK memang sudah puluhan kali terjadi, bahkan SBY sendiri bertindak sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk pertama kali dalam penyerangan KPK dengan menyatakan secara sinis “KPK Sebagai Lembaga Superbody”  pesan yang ditangkap disini adalah SBY menyatakan secara tidak langsung “KPK sudah menjadi ‘Negara di dalam Negara’ yang amat membahayakan struktur kekuasaan. Ucapan SBY mendapat sambutan gegap gempita utamanya dari kalangan Parlemen yang pro pada SBY, namun kemudian ucapan SBY mendapatkan gema-nya paling penting ketika dedengkot politisi PKS Fahri Hamzah secara terukur, sistematis dan jelas dalam perdebatan publik tentang kampanye pembubaran KPK,  alasan utama yang dikemukakan Fahri Hamzah adalah KPK gagal membersihkan lembaga-lembaga inti penegakan hukum yaitu : Kepolisian, Kehakiman dan Kejaksaan. Fahri dengan keras menuding KPK disetir oleh pihak lain yang membiayai secara non APBN.

Tapi kemudian tuduhan Fahri itu diserang habis-habisan oleh pendukung KPK yang lebih populis dan memiliki jaringan massa rakyat banyak. Fahri bahkan di bully terus di twitter oleh ratusan aktivis pro KPK, sedikit banyak sikap Fahri yang tidak populer ini menghancurkan suara PKS di banyak lini pemilihan daerah termasuk di DKI Jakarta, citra PKS sebagai Partai Bersih Anti Korupsi menjadi rusak oleh sikap Fahri yang menarik garis ke dalam skim pembubaran KPK yang kemudian pesan Fahri itu ditangkap oleh pikiran rakyat bahwa PKS berada pada kelompok pro koruptor, pikiran yang simplistis ini wajar saja di dalam pertarungan politik.
Kemajuan pesat KPK adalah ketika KPK dengan cerdik memanfaatkan momen cicak dan buaya dalam kasus Anggodo dimana Bambang S Widjajanto amat berperanan dalam ruang teater cicak dan buaya. KPK disini menjadi lembaga publik yang paling dipercaya oleh rakyat, namun juga harus diakui sebagai ‘Pemain Politik Paling Penting di Negeri ini’. Tak ada Parpol satupun di Indonesia yang mampu menandingi kekuatan politik KPK saat ini.

Parpol dan Ancaman KPK
Ancaman KPK bukan saja soal penangkapan para koruptor yang bisa dengan seenaknya dilakukan oleh KPK tanpa lagi kendala, di masa Indonesia modern baru kali inilah sebuah lembaga yang berdiri di luar struktur dasar UUD 1945 memiliki kekuatan besar dalam melakukan tindakan-tindakan politik, inilah yang kemudian menjadi sumber ketakutan banyak pihak terutama para pemain politik. Tapi di pihak lain juga timbul pertanyaan apakah kemudian KPK menjadi alat setir dari pihak lain? Fahri Hamzah sendiri sebagai pelontar pertama isu setir pihak lain belum bisa menjelaskan siapa pelaku Non APBN yang membiaya KPK.
Presiden SBY adalah juga pihak yang paling dirugikan aksi KPK. Paranoid terbesar SBY adalah kasus Bank Century yang kelak juga mengancam posisi politik klan SBY di masa depan. Kasus Century sendiri masih menjadi bahan tarik menarik politik paling ganas sepanjang masa Pemerintahan kedua SBY ini,  disini juga konfigurasi kekuatan politik saling membentuk, membongkar dan membentuk kembali.  KPK sendiri kemudian juga mengambil peluang secara intens dalam membentuk kekuatan politik di dalam dirinya. Pembentukan kekuatan politik semakin meraksasa ketika sejumlah Polisi dari Bengkulu menyerbu gedung KPK mencari Komisaris Polisi Novel Baswedan karena soal kriminal, kasus ini kemudian secara teatrikal dikembangkan jadi panggung politik oleh Bambang S Widjajanto dengan konferensi pers tengah malam yang dikesankan mencekam. Titik konferensi pers ini harus diperhatikan sebagai kekuatan politik penting dalam membentuk konfigurasi bangunan politik pada dirinya.
Kemenangan Panggung Teater Konferensi Pers ala Bambang S Widjojanto Jam 1.00 wib
Yang perlu diperhatikan dalam mengukur kekuatan KPK pasca penyerangan polisi Bengkulu adalah posisi Bambang S Widjajanto yang menjadi amat dominan dalam konferensi Pers jam 1.00 wib malam. Bambang S Widjajanto menjadi orang yang paling bertanggungjawab dan menjadi pemenang politik atas kasus “Insiden Polisi Bengkulu” dengan gaya yang amat cantik, lugas dan populis sehingga bisa dengan cepat menghadapkan rakyat dengan Polisi, disini KPK kemudian membentuk kekuatan ulang yang koridornya langsung masuk ke akar massa rakyat dan menjadikan militansi rakyat sebagai ancaman terselubung untuk mengganti struktur kepemimpinan di Kepolisian mulai dari Kapolri sampai jajaran eselon ring I diseputar Kapolri, KPK di jam 1.00 wib telah menjadikan dirinya secara kekuatan pengancam paling riil kedudukan Kapolri sendiri dan beberapa bawahan Kapolri yang ditengarai terlibat dalam politik permusuhan dengan KPK dimana kasus Simulator sebagai ‘Proxy War’ diantara mereka.
Bambang dengan nada cerdas berhasil membangun panggungnya ’seakan-akan’ Negara dalam Keadaan Berbahaya, disini KPK mengubah dirinya dari sekedar lembaga yang ditugaskan dalam pemberantasan korupsi menjadi lembaga yang paling penting di mata rakyat, inilah pendobrakan sejarah terbesar dalam kisah entitas anti korupsi sejak Paran 1960, Operasi Budhi tahun 1963, TPK 1970-an dan Opstib. Titik terpenting keberhasilan KPK adalah ‘tidak adanya peran tunggal Presiden dalam intervensi kasus korupsi’. SBY sendiri nampaknya gamang berhadapan langsung dengan KPK dalam penyelesaian persoalan hukum seperti apa yang pernah dilakukan Sukarno dan Suharto di masa lalu.   Dan kini hadapan KPK adalah justru lembaga yang disupervisi dan memiliki kekuatan bersenjata yaitu : Kepolisian. 

Kekuatan KPK menjadi sedemikian hebat dan menggulung ke arah people power bila kemudian Bambang S Widjajanto terus melanjutkan teater politiknya menjadi titik pusar pembangun isu. Hal ini dengan mudah ia lakukan saat kasus Cicak dan Buaya ketika dengan terang-terangan Bambang S Widjojanto mempermalukan institusi Polri di depan Mahkamah Konstitusi dimana ketua MK secara tersirat mendukung apa yang dilakukan Bambang kemudian terbangun isu besar yang menggerakkan kekuatan rakyat.

Kekalahan Polri Dalam Panggung Teater Jam 1.00 wib Malam
Entah siapa yang merancang skenario tidak cerdas dalam penjemputan paksa Kompol Novel Baswedan, dan apa yang dilakukan pihak Polri tidak mengukur kemungkinan-kemungkinan reaksi yang terjadi. Kepolisian kemungkinan kaget dengan kemunculan Bambang S Widjajanto yang secara tiba-tiba secara eksplisit meminta rakyat bersatu mendukung dirinya. Berbeda dengan panggung Bambang S Widjojanto yang semarak, menggugah dan dihadiri para selebritis terkenal di negeri ini,  panggung konferensi Pers Polisi cenderung kaku dan membosankan, sehingga citra buruk Polri di mata rakyat semakin kuat, inilah yang harus diperhatikan dari pihak Polisi bahwa mereka kurang cerdas membentuk panggung politik dalam manajemen konflik ketika dirinya sendiri berhadapan dengan kekuatan lain.
 
Negosiasi Yang Akan Terjadi. - Sudah dipastikan kekuatan Polri secara pencitraan hancur total pada peristiwa konferensi pers yang susunannya dibangun oleh Bambang S Widjojanto pada jam 1 malam itu, inilah yang kemudian menjadikan Polisi harus melakukan negosiasi ulang kepada pihak KPK, kecuali bila Polisi tetap terus berkeras dan menggunakan kekuatan besar dalam menggebuk KPK namun ini tak mungkin, Polisi harus ingat walaupun mereka memiliki kekuatan besar dengan dasar legitimasi UUD 1945 namun bias atau deviasi legalitas dalam sejarah modern Indonesia selalu kalah dengan kekuatan-kekuatan rakyat, bila Polisi ingin menang dalam pertarungan ia harus menciptakan panggung teater yang lugas, cerdas dan mampu menggebuk Bambang S Widjojanto dengan cara yang jenius bukan dengan pemaksaan model polisi Bengkulu pada Jumat Keramat.
Kekalahan pihak Polisi itu akan menjadikan Polisi sebagai pihak yang dibawah angin dalam memulai negosiasi ulang atas kasus Simulator SIM, kemungkinan besar skenario-skenario seperti barter penyidik dengan Djoko Susilo akan menjadi hancur apabila kemudian Bambang S Widjajanto secara intens memainkan irama emosi rakyat,  Bambang dengan mudah melakukan pengaturan tata emosi rakyat yang sudah dengan cerdas dibangunnya pada jam 1.00 wib dengan terus menekan Polri dengan penekanan ini pihak Bambang bahkan bisa lebih leluasa masuk ke tubuh Polisi tidak menutup kemungkinan besar juga ada korban seperti Susno Duadji di tubuh Polri dalam kasus Cicak dan Buaya.

Menjelang 2014 tarik menarik kekuatan politik menjadi amat penting, kelakuan para Parpol yang selalu memihak pada mereka yang populis menjadi mesin kekuatan besar dalam penggelembungan kekuatan KPK sementara di pihak lain Kapolri semakin lemah posisinya di mata rakyat. SBY jelas tidak akan melakukan rumusan pasti dalam perseteruan politik antara KPK dan Polri,  dan seperti jutaan rakyat yang sudah mengerti modus politik SBY yang selalu tidak mau ikut campur pada persoalan yang belum pasti siapa pemenangnya, SBY juga atas nama demokrasi tidak akan masuk ke dalam perseteruan-perseteruan yang mengatasnamakan hukum, karena sebagai eksekutif ia tidak berhak dalam masuk konflik itu, namun dalam soal kepemimpinan sikap pembiaran SBY ini akan menambah energi baru dukungan rakyat pada KPK.

Revisi UU KPK dan Bambang S Widjojanto Sebagai “Jokowinya KPK”. , - Pengisoliran KPK dan blunder Polisi Bengkulu kemarin akan menggagalkan seluruh skenario pelemahan KPK secara legal konstitusional yang sedang dibawa Komisi III DPR, namun yang paling penting disini adalah Peranan Bambang S Widjojanto sebagai aktor paling berbakat di panggung publik, Bambang kemudian menjadi orang paling terkenal setelah Jokowi di benak pikiran rakyat, ketika Bambang S Widjojanto menjadi terkenal maka dengan mudah KPK yang awalnya adalah kekuatan entitas tak jelas seperti “Cicak Buaya” dan sekumpulan orang lemah secara politis seperti “Bibid Samad Riyanto dan Chandra Hamzah”. Menjadi KPK yang kuat secara politis dan berkharisma secara personal disini kekuatan Bambang yang mampu menjadi pengatur skenario emosi rakyat dan Abraham Samad dengan wajah menyenangkan akan menjadi kekuatan utama KPK, atau setidak-tidaknya mampu membangkrutkan kepopuleran Jenderal Timur Pradopo sebagai Kapolri dalam kasus Simulator SIM dan Penyidikan Irjen Djoko Susilo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar