Cari Blog Ini

Kamis, 10 Januari 2013

Jokowi dan Kisah Jalan Sukarno

Baru-baru ini Jokowi akan berencana memberi nama salah satu ruas jalan besar di Jakarta dengan nama Sukarno. Mungkin bagi generasi yang lebih muda, bagi mereka yang lahir pertengahan tahun 80-an banyak yang tak paham, kenapa kok nama Jalan Sukarno saja jadi berita yang menghebohkan,  ada apa dengan Jalan Sukarno?

Di Indonesia, salah satu bentuk penghormatan adalah memberikan nama Jalan Utama dengan nama Pahlawan Nasional, atau Pahlawan yang dianggap berjasa di satu wilayah. Tak harus Pahlawan Nasional memang, seperti di Bogor terkenal sekali jalan Mayor Oking atau di Depok ada jalan besar nama Margonda, yang diambil dari nama Umar Ganda, salah satu pejuang di masa Revolusi 1945 yang memimpin barisan berani mati di sekitar Kukusan sampai Pondok Cina dan pernah menyerbu tangsi KNIL  di sekitar Pasar Minggu, juga menyerang Republik Depok (pada masa Revolusi Proklamasi 1945, Depok merupakan negara tersendiri yang dikuasai kelompok keturunan Belanda-Depok). Nama jalan juga kerap menjadi ajang pertarungan perkelahian sejarah, peristiwa pembantaian Bubat yang menewaskan seluruh delegasi Pajajaran dalam peristiwa “Pernikahan Politik Hayam Wuruk dan Puteri Dyah Pitaloka”  pada tahun 1357 sampai sekarang masih menyimpan luka dan tidak satu ruas-pun jalan di Bandung menggunakan nama Jalan Gadjah Mada, padahal di kota-kota lain di Jawa, nama Jalan Gadjah Mada selalu menjadi nama jalan besar bahkan jalan boulevard.
Bung Karno pada Tahun 1960 meresmikan Jalan Sukarno di Rabat, jalan ini dikenal dengan nama sharia Al-Rais Ahmed Sukarno, Jalan ini merupakan pusat kota yang ramai di Rabat (Sumber Photo : ANTARA)

Setelah didongkelnya Bung Karno lewat patgulipat Supersemar 1966 dan dihancurkannya seluruh jaringan kekuatan lingkaran dalam Sukarno, maka salah satu agenda penting pendirian rezim Orde Baru adalah melakukan politik De-Sukarnoisasi, tujuan utama politik De-Sukarnoisasi adalah menghilangkan secara bertahap ajaran-ajaran politik Sukarno, terutama sekali orientasi politik Sukarno yang amat berbau Kiri.  Modal Asing adalah tujuan utama sasaran pembangunan ekonomi politik Orde Baru, sementara pihak negara asing tidak ingin tujuan-tujuan berinvestasinya gagal karena masih kuatnya pengaruh alam pikiran Sukarno yang menolak segala bentuk dikte asing, kelompok Sukarnois dinilai akan menjadi hambatan serius bagi kelangsungan modal asing. Selain itu secara politik, kekuatan massa terbesar di Indonesia adalah ‘jaringan massa Sukarno’ yang kemudian dikooptasi oleh Orde Baru dan dilemahkan menjadi bagian dari ‘floating mass’ atau ‘massa mengambang’, dimana mereka tidak memiliki pilihan ideologis yang fanatik.

“De-Sukarnoisasi adalah Agenda yang berkelanjutan dan menyeluruh” begitulah salah satu isi tujuan politik Kopkamtib pada tahun 1968. De-Sukarnoisasi harus didukung empat kekuatan yaitu : Pers, Jaringan Mahasiswa, Intelektual dan Birokrasi. Strategi ini dijadikan bagian langsung dari Opsus dan ketertiban sipil. Usaha-usaha De-Sukarnoisasi dengan menjelek-jelekkan Sukarno sangat hebat di tahun 1968, bahkan secara berkala koran “Mahasiswa Indonesia” yang saat itu dipimpin banyak tokoh mahasiswa termasuk Rahman Tolleng, secara intens menyerang Sukarno dengan tuduhan macam-macam, salah satu tulisan yang kerap menyerang Sukarno ditulis oleh seorang jurnalis MI bernama Aldy Anwar. -Dokumentasi penyerangan ini kemudian dibundel oleh penulis Perancis, Francois Raillon dalam bukunya “Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia”.

Kebangkrutan Sukarno adalah tujuan utama berpolitik bagi mereka yang mendukung Orde Baru. Disini Suharto sebagai Presiden RI berusaha bermain cantik, Suharto selalu menjaga jarak dengan kelompok yang mati-matian menghancurkan nama Sukarno, tapi kadang Suharto juga membiarkan penghancuran nilai-nilai Sukarno itu. Usaha pembangkrutan nama Sukarno terus dilakukan, namun pada saat kematian Sukarno pada tanggal 21 Juni 1970, hampir semua bangsa ini menangisinya, pers kembali balik memuji-muji Bung Karno. Sebuah era baru kebangkitan nama Sukarno.
Jalan Sukarno di Mesir, Juga Merupakan Pusat Kota. (Sumber Photo : Kompas)

Pada tahun 1975, Ali Sadikin pernah berniat menamakan jalan sepanjang Jalan Pegangsaan sebagai nama “Jalan Sukarno” namun niat Ali Sadikin itu dilabrak oleh pihak anti Sukarno yang sedang amat berkuasa dilingkaran dalam Suharto. Niat Ali itu juga dituduh sebagai bentuk ambil hati Ali kepada kekuatan massa Sukarnois yang berpotensi menyerang Presiden Suhaarto.

Pada tahun 1978, saat itu desakan dunia Internasional menguat terhadap tahanan politik Orde Baru dan ada secara bertahap para tahanan politik dibebaskan. Di kalangan internal Suharto sudah ada gagasan untuk kembali menghargai Sukarno. Namun gagasan ini diperhalus dengan bahasa-bahasa patriotisme, ucapan-ucapan Sukarno kerap didengungkan dalam pidato-pidato politik Orde Baru, termasuk ucapan terkenal Sukarno di Tambaksari Surabaya menjelang pertempuran 10 November 1945 “Bangsa ini mencintai kebebasan tapi lebih cinta kemerdekaan”. Ucapan itu sering dilontarkan pejabat Orde Baru, termasuk Presiden Suharto dan Menteri Penerangan Ali Moertopo pada awal tahun 1980-an.

Puncak nostalgia bangsa ini kepada Sukarno sekaligus menciptakan arus besar melawan politik De-Sukarnoisasi adalah ketika Suharto memutuskan untuk menggempur Partai Persatuan Pembangunan (PPP), menceraikan PPP dengan NU dan mendekati PDI lewat lobbying politik Jenderal Benny Moerdani dimana salah satu anak didik Benny Moerdani, Drs Soeryadi adalah ketua PDI.  Jenderal Benny Moerdani sendiri memiliki kenangan manis dengan Bung Karno, dia adalah salah tentara kesayangan Sukarno. Semasa Benny masih berpangkat Letnan, Sukarno pernah berujar bahwa “Benny itu anak lanangku” didepan beberapa Jenderal, di satu sore menjelang tahun 1965 bahkan Benny sempat diminta untuk menikahi salah satu anak perempuan Sukarno, tapi Benny menolak karena sudah punya pacar. Benny Moerdani dianggap oleh banyak analis Politik sebagai salah satu pintu gerbang terbukanya arus besar lahirnya “politik Sukarno” dalam konstelasi politik nasional,  bahkan kelak dikemudian waktu “Politik Sukarno” adalah rivaal terkuat Orde Baru dan penggulingan Suharto tak lepas dari beredarnya banyak buku-buku yang menjelaskan bagaimana kekuatan Nasionalisme Sukarno terbentuk. Gerakan bawah tanah para mahasiswa dan intelektual yang menjadi penggerak demonstrasi besar-besaran 1998 kerap menggunakan anatomi pemikiran Sukarno sebagai penjelasan antitesis politik Orde Baru.

Politik Kompromi Orde Baru dengan Sukarnoisme

Pada saat pembangunan Bandar Udara di Cengkareng, saat itu didebatkan apa nama Bandara Utama Republik Indonesia, adalah suatu kebiasaan memberikan nama Bandara Nasional kepada nama Pahlawan yang dianggap paling berjasa bagi negaranya. Ada beberapa usulan yang masuk ada nama Bandara Gadjah Mada, Bandara MH Thamrin, bahkan ada yang mengusulkan Bandara Sudirman. Namun Pak Harto saat itu menolak semua usulan dan menyetujui usulan nama Bandara Sukarno-Hatta, alasan Pak Harto saat itu adalah yang membentuk negara ini lewat tanggung jawab dua orang itu yaitu : Bung Karno dan Bung Hatta, mereka adalah jaminan kepada rakyat, leher mereka menjadi taruhannya saat negeri ini berdiri.  Pak Harto memberikan nama itu setelah melakukan perenungan selama tiga hari. Keputusan nama Bandara Sukarno-Hatta sendiri keluar pada jam 6 pagi  tanggal 10 November tahun 1981 menjelang ia berangkat ke Taman Pahlawan Kalibata, peresmian bandara itu sendiri dilakukan pada tahun 1985.

Penisbahan nama Bandara Sukarno-Hatta di Bandara Cengkareng merupakan puncak dari politik kompromi Suharto terhadap kaum Sukarnois.  Namun secara implisit Orde Baru hanya mengakui jasa Sukarno terhadap Republik yaitu dibatasi sampai pada tahun 1956, tahun dimana Bung Hatta mengundurkan diri, antara tahun 1957 sampai dengan tahun 1965 adalah tahun yang dikutuki oleh Orde Baru, padahal bagi pengikut Sukarno atau kaum Sukarnois tahun 1957 sampai dengan tahun 1965 disebut sebagai “Tahun Puncak Kedaulatan Sukarno” itu adalah tahun panjang yang sakral dan menyerempet bahaya demi tujuan nasional dan tujuan revolusi sosialisme ala Sukarno.

Nama jalan Sukarno sendiri masih dilarang oleh Orde Baru, nama Sukarno harus melibatkan nama Hatta agar kenangan pada Sukarno sendiri dibatasi ‘kenangan terhadap Proklamasi’ bukan kenangan terhadap ‘Revolusi’.

Namun kini angin berubah cepat, setelah bangkrutnya era Neoliberalisme yang sempat merajai Indonesia setelah kejatuhan Suharto, maka kekuatan kaum Sukarnois bangkit.  Di Jakarta, kekuatan Sukarnois disimbolisasi dalam diri Jokowi, di Semarang Rustriningsih mulai berkibar sementara di Jawa Timur terutama wilayah Jawa Timur subkultur Mataraman nama Sukarno tetap menjadi nomor satu, diperkirakan PDIP akan menjadi Partai terbesar nomor dua bahkan nomor satu, setelah kebangkrutan Partai Demokrat yang dilipat karena masalah korupsi. Di Jawa Barat sendiri, salah satu anak didik ideologis Sukarno, Rieke Dyah Pitaloka sedang merebut kekuasaan politik di Jawa Barat.

Salah satu misi terpenting Jokowi di DKI Jakarta selain mengenalkan tata pemerintahan yang bersih dan berdaulat pro rakyat adalah mengenalkan rasa memiliki bangsa ini lewat alam pikiran Sukarno, salah satu alam pikiran Sukarno paling penting dalam peradaban kemerdekaan Indonesia adalah “Patriotisme yang Totaliteit”  Totalitas rasa Patriot untuk mencintai dan membela bangsa ini.

“Jalan Sukarno” sebentar lagi akan  banyak memenuhi ruang kota di Indonesia, ini sekaligus menghancurkan stigma politik 1967 dimana Bung Karno dianggap ‘penjahat’ dalam gerakan Gestapu Untung 1965, sekaligus mengembalikan kehormatan bagi yang berhak.

Sementara “Jalan Sukarno” sebagai ideologi, akan menjadi pilihan paling panas dalam pertarungan politik 2014.










Senin, 10 Desember 2012

Sajak Pagi

Pada musim penghujan
Di tahun lalu
Pada teka teki kesunyian
Ketika kabut sudah menjadi api
Dan malam menyelesaikan mimpi-mimpi

Pada satu musim penghujan
Air mata mengenangmu habis sudah
Dan kau entah dimana

Pada satu musim penghujan di waktu sekarang ini
Namamu, menjadi batu-batu candi yang beku dan kaku

-Desember 2012-.

Rabu, 05 Desember 2012

Kangen?

Desember, hujan dan namamu
Jalan setapak setengah becek
Wajahmu yang terus mengakar 
Lalu kesepian telah kehilangan kedaulatannya. 

Mencintaimu seperti membakar dupa tapi dengan mantera yang gagal bersuara. 

Aku rindu pada wajahmu
Pada bulan desember, bulan penuh teka teki gerak udara. 

Anda Kusmawan

Senin, 12 November 2012

Rasa Keindonesiaan......


Abis baca blog-blog wanita Indonesia yang nikah dengan bule, dari lima orang yang nulis semuanya hampir merindukan Indonesia tanah kelahirannya, tapi hampir semuanya juga membenci Indonesia sebagai sebuah sistem. Ada seorang wanita yang ibunya harus keluar dari kamar ICU karena tidak sanggup membayar biaya kamar dan terpaksa harus mati tanpa perawatan karena uang, lalu ia melihat sistem kesehatan di Kanada yang begitu manusiawi, padahal ibunya amat mencintai Indonesia, amat bangga dengan bangsanya bila nonton Bulutangkis - dia menceritakan saat Icuk bertanding lawan Yang Yang ibunya selalu nonton, saat sepakbola bertanding ibunya selalu berteriak-teriak, nasionalisme yang begitu banyak melekat pada diri orang Indonesia. Tapi kadang nasionalisme ini dibayar dengan sistem yang bejat.

Hebatnya lagi orang Indonesia tidak pernah membenci bangsanya, sedendam-dendam apapun, bila ia mengingat Indonesia di negeri yang jauh air matanya selalu menetes. Ada cerita lagi dari satu wanita Indonesia yang tinggal di Belgia dan menikah dengan lelaki Belgia, ia punya pengalaman pahit dengan pemerintahan geblek di Indonesia, tapi ia selalu memiliki kebiasaan di setiap tanggal 17 Agustus untuk duduk di tepi jendela pada satu malam dan meneteskan air mata, ia menyanyi sendirian lagu-lagu tentang kerinduan pada bangsanya.

Mencintai bangsa adalah hal yang abstrak, ia tidak begitu jelas, tapi ia nyata, ia memenuhi ruang pikiran dan hati bagi bangsanya. Indonesia ini aneh tiap hari ada saja hal-hal yang menyebalkan untuk dibicarakan, tapi kecintaan yang luar biasa tidak pernah menjadikan orang Indonesia terasing oleh kebangsaannya. Ada satu cerita yang menarik di Kanada juga, ia menangis saat harus berganti WNI, padahal ia dulu tidak pernah merasa mencintai Indonesia saat tinggal di Semarang, ia merasa biasa saja, ia bolos saat upacara bendera dan ia tak hapal nama-nama wapres Indonesia, ia bahkan tak tahu pulau Sulawesi bila ia melihat gambar peta, Ia keturunan Cina-Jawa, sebuah peranakan khas Semarang dengan identitas tersendiri, namun ia ketika ia harus berganti kewarganegaraan ia menangis, ada sesuatu yang hilang. Akhirnya ia menarik pena-nya menolak tanda tangan kewarganegaraan dan tetap memilih menjadi orang Indonesia.

Nasionalisme memang absurd, ia seperti udara tak terlihat tapi terasa.........

Minggu, 28 Oktober 2012

Sajakku, Sumpah Pemuda

Sajakku sajak pemuda yang bersumpah
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko

Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.

Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......

Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.

Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.

Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......

Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.

Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :

Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....

Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.

Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.

Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.

Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......

Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....

Kamis, 11 Oktober 2012

Tentang Rel dan Kamu



Tentang Rel dan Kamu

Dua garis rel memanjang
dari ujung cakrawala yang tak kelihatan
banyak ketakutan pada awan jingga
di satu sore yang tenang

Entah kenapa wajahmu menjadi hiasan batu-batu
mengenangmu seperti membuka kertas tua yang usang
rel itu masih terbujur
sentosa membariskan kayu-kayu jati
matahari masih padu
diantara kenangan-kenangan manis
yang dulu

Pada satu sore
ketika kenangan mulai layu
wajahmu mati
pada sudut pikiranku
tapi cintaku padamu
seperti air yang menggenang di air mataku
ia tak pernah habis.............


Anda Kusmawan, 11 Oktober 2012

Sabtu, 06 Oktober 2012

Menganalisa Kekuatan KPK

Konferensi Pers : Panggung Teater Yang Dibangun Bambang S Widjojanto Menjadi Sumber Penggerak Emosi Rakyat (Sumber Foto : KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)
Pengepungan KPK oleh Polri walaupun atas nama hukum berupa penangkapan salah satu penyidik yang diduga telah melakukan pembunuhan di masa lalu, menjadi sebuah peristiwa politik paling penting di negeri ini, karena bukan soal kriminal biasa yaitu dugaan pembunuhan di masa lalu, tapi soal tarik menarik kekuatan entitas penyidikan kasus-kasus korupsi di negeri ini yang dipersoalkan, hal ini jelas membawa peristiwa “Jumat Keramat” pada 5 Oktober 2012 menjadi kasus politik paling penting sepanjang tahun 2012.

Penggembosan KPK memang sudah puluhan kali terjadi, bahkan SBY sendiri bertindak sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk pertama kali dalam penyerangan KPK dengan menyatakan secara sinis “KPK Sebagai Lembaga Superbody”  pesan yang ditangkap disini adalah SBY menyatakan secara tidak langsung “KPK sudah menjadi ‘Negara di dalam Negara’ yang amat membahayakan struktur kekuasaan. Ucapan SBY mendapat sambutan gegap gempita utamanya dari kalangan Parlemen yang pro pada SBY, namun kemudian ucapan SBY mendapatkan gema-nya paling penting ketika dedengkot politisi PKS Fahri Hamzah secara terukur, sistematis dan jelas dalam perdebatan publik tentang kampanye pembubaran KPK,  alasan utama yang dikemukakan Fahri Hamzah adalah KPK gagal membersihkan lembaga-lembaga inti penegakan hukum yaitu : Kepolisian, Kehakiman dan Kejaksaan. Fahri dengan keras menuding KPK disetir oleh pihak lain yang membiayai secara non APBN.

Tapi kemudian tuduhan Fahri itu diserang habis-habisan oleh pendukung KPK yang lebih populis dan memiliki jaringan massa rakyat banyak. Fahri bahkan di bully terus di twitter oleh ratusan aktivis pro KPK, sedikit banyak sikap Fahri yang tidak populer ini menghancurkan suara PKS di banyak lini pemilihan daerah termasuk di DKI Jakarta, citra PKS sebagai Partai Bersih Anti Korupsi menjadi rusak oleh sikap Fahri yang menarik garis ke dalam skim pembubaran KPK yang kemudian pesan Fahri itu ditangkap oleh pikiran rakyat bahwa PKS berada pada kelompok pro koruptor, pikiran yang simplistis ini wajar saja di dalam pertarungan politik.
Kemajuan pesat KPK adalah ketika KPK dengan cerdik memanfaatkan momen cicak dan buaya dalam kasus Anggodo dimana Bambang S Widjajanto amat berperanan dalam ruang teater cicak dan buaya. KPK disini menjadi lembaga publik yang paling dipercaya oleh rakyat, namun juga harus diakui sebagai ‘Pemain Politik Paling Penting di Negeri ini’. Tak ada Parpol satupun di Indonesia yang mampu menandingi kekuatan politik KPK saat ini.

Parpol dan Ancaman KPK
Ancaman KPK bukan saja soal penangkapan para koruptor yang bisa dengan seenaknya dilakukan oleh KPK tanpa lagi kendala, di masa Indonesia modern baru kali inilah sebuah lembaga yang berdiri di luar struktur dasar UUD 1945 memiliki kekuatan besar dalam melakukan tindakan-tindakan politik, inilah yang kemudian menjadi sumber ketakutan banyak pihak terutama para pemain politik. Tapi di pihak lain juga timbul pertanyaan apakah kemudian KPK menjadi alat setir dari pihak lain? Fahri Hamzah sendiri sebagai pelontar pertama isu setir pihak lain belum bisa menjelaskan siapa pelaku Non APBN yang membiaya KPK.
Presiden SBY adalah juga pihak yang paling dirugikan aksi KPK. Paranoid terbesar SBY adalah kasus Bank Century yang kelak juga mengancam posisi politik klan SBY di masa depan. Kasus Century sendiri masih menjadi bahan tarik menarik politik paling ganas sepanjang masa Pemerintahan kedua SBY ini,  disini juga konfigurasi kekuatan politik saling membentuk, membongkar dan membentuk kembali.  KPK sendiri kemudian juga mengambil peluang secara intens dalam membentuk kekuatan politik di dalam dirinya. Pembentukan kekuatan politik semakin meraksasa ketika sejumlah Polisi dari Bengkulu menyerbu gedung KPK mencari Komisaris Polisi Novel Baswedan karena soal kriminal, kasus ini kemudian secara teatrikal dikembangkan jadi panggung politik oleh Bambang S Widjajanto dengan konferensi pers tengah malam yang dikesankan mencekam. Titik konferensi pers ini harus diperhatikan sebagai kekuatan politik penting dalam membentuk konfigurasi bangunan politik pada dirinya.
Kemenangan Panggung Teater Konferensi Pers ala Bambang S Widjojanto Jam 1.00 wib
Yang perlu diperhatikan dalam mengukur kekuatan KPK pasca penyerangan polisi Bengkulu adalah posisi Bambang S Widjajanto yang menjadi amat dominan dalam konferensi Pers jam 1.00 wib malam. Bambang S Widjajanto menjadi orang yang paling bertanggungjawab dan menjadi pemenang politik atas kasus “Insiden Polisi Bengkulu” dengan gaya yang amat cantik, lugas dan populis sehingga bisa dengan cepat menghadapkan rakyat dengan Polisi, disini KPK kemudian membentuk kekuatan ulang yang koridornya langsung masuk ke akar massa rakyat dan menjadikan militansi rakyat sebagai ancaman terselubung untuk mengganti struktur kepemimpinan di Kepolisian mulai dari Kapolri sampai jajaran eselon ring I diseputar Kapolri, KPK di jam 1.00 wib telah menjadikan dirinya secara kekuatan pengancam paling riil kedudukan Kapolri sendiri dan beberapa bawahan Kapolri yang ditengarai terlibat dalam politik permusuhan dengan KPK dimana kasus Simulator sebagai ‘Proxy War’ diantara mereka.
Bambang dengan nada cerdas berhasil membangun panggungnya ’seakan-akan’ Negara dalam Keadaan Berbahaya, disini KPK mengubah dirinya dari sekedar lembaga yang ditugaskan dalam pemberantasan korupsi menjadi lembaga yang paling penting di mata rakyat, inilah pendobrakan sejarah terbesar dalam kisah entitas anti korupsi sejak Paran 1960, Operasi Budhi tahun 1963, TPK 1970-an dan Opstib. Titik terpenting keberhasilan KPK adalah ‘tidak adanya peran tunggal Presiden dalam intervensi kasus korupsi’. SBY sendiri nampaknya gamang berhadapan langsung dengan KPK dalam penyelesaian persoalan hukum seperti apa yang pernah dilakukan Sukarno dan Suharto di masa lalu.   Dan kini hadapan KPK adalah justru lembaga yang disupervisi dan memiliki kekuatan bersenjata yaitu : Kepolisian. 

Kekuatan KPK menjadi sedemikian hebat dan menggulung ke arah people power bila kemudian Bambang S Widjajanto terus melanjutkan teater politiknya menjadi titik pusar pembangun isu. Hal ini dengan mudah ia lakukan saat kasus Cicak dan Buaya ketika dengan terang-terangan Bambang S Widjojanto mempermalukan institusi Polri di depan Mahkamah Konstitusi dimana ketua MK secara tersirat mendukung apa yang dilakukan Bambang kemudian terbangun isu besar yang menggerakkan kekuatan rakyat.

Kekalahan Polri Dalam Panggung Teater Jam 1.00 wib Malam
Entah siapa yang merancang skenario tidak cerdas dalam penjemputan paksa Kompol Novel Baswedan, dan apa yang dilakukan pihak Polri tidak mengukur kemungkinan-kemungkinan reaksi yang terjadi. Kepolisian kemungkinan kaget dengan kemunculan Bambang S Widjajanto yang secara tiba-tiba secara eksplisit meminta rakyat bersatu mendukung dirinya. Berbeda dengan panggung Bambang S Widjojanto yang semarak, menggugah dan dihadiri para selebritis terkenal di negeri ini,  panggung konferensi Pers Polisi cenderung kaku dan membosankan, sehingga citra buruk Polri di mata rakyat semakin kuat, inilah yang harus diperhatikan dari pihak Polisi bahwa mereka kurang cerdas membentuk panggung politik dalam manajemen konflik ketika dirinya sendiri berhadapan dengan kekuatan lain.
 
Negosiasi Yang Akan Terjadi. - Sudah dipastikan kekuatan Polri secara pencitraan hancur total pada peristiwa konferensi pers yang susunannya dibangun oleh Bambang S Widjojanto pada jam 1 malam itu, inilah yang kemudian menjadikan Polisi harus melakukan negosiasi ulang kepada pihak KPK, kecuali bila Polisi tetap terus berkeras dan menggunakan kekuatan besar dalam menggebuk KPK namun ini tak mungkin, Polisi harus ingat walaupun mereka memiliki kekuatan besar dengan dasar legitimasi UUD 1945 namun bias atau deviasi legalitas dalam sejarah modern Indonesia selalu kalah dengan kekuatan-kekuatan rakyat, bila Polisi ingin menang dalam pertarungan ia harus menciptakan panggung teater yang lugas, cerdas dan mampu menggebuk Bambang S Widjojanto dengan cara yang jenius bukan dengan pemaksaan model polisi Bengkulu pada Jumat Keramat.
Kekalahan pihak Polisi itu akan menjadikan Polisi sebagai pihak yang dibawah angin dalam memulai negosiasi ulang atas kasus Simulator SIM, kemungkinan besar skenario-skenario seperti barter penyidik dengan Djoko Susilo akan menjadi hancur apabila kemudian Bambang S Widjajanto secara intens memainkan irama emosi rakyat,  Bambang dengan mudah melakukan pengaturan tata emosi rakyat yang sudah dengan cerdas dibangunnya pada jam 1.00 wib dengan terus menekan Polri dengan penekanan ini pihak Bambang bahkan bisa lebih leluasa masuk ke tubuh Polisi tidak menutup kemungkinan besar juga ada korban seperti Susno Duadji di tubuh Polri dalam kasus Cicak dan Buaya.

Menjelang 2014 tarik menarik kekuatan politik menjadi amat penting, kelakuan para Parpol yang selalu memihak pada mereka yang populis menjadi mesin kekuatan besar dalam penggelembungan kekuatan KPK sementara di pihak lain Kapolri semakin lemah posisinya di mata rakyat. SBY jelas tidak akan melakukan rumusan pasti dalam perseteruan politik antara KPK dan Polri,  dan seperti jutaan rakyat yang sudah mengerti modus politik SBY yang selalu tidak mau ikut campur pada persoalan yang belum pasti siapa pemenangnya, SBY juga atas nama demokrasi tidak akan masuk ke dalam perseteruan-perseteruan yang mengatasnamakan hukum, karena sebagai eksekutif ia tidak berhak dalam masuk konflik itu, namun dalam soal kepemimpinan sikap pembiaran SBY ini akan menambah energi baru dukungan rakyat pada KPK.

Revisi UU KPK dan Bambang S Widjojanto Sebagai “Jokowinya KPK”. , - Pengisoliran KPK dan blunder Polisi Bengkulu kemarin akan menggagalkan seluruh skenario pelemahan KPK secara legal konstitusional yang sedang dibawa Komisi III DPR, namun yang paling penting disini adalah Peranan Bambang S Widjojanto sebagai aktor paling berbakat di panggung publik, Bambang kemudian menjadi orang paling terkenal setelah Jokowi di benak pikiran rakyat, ketika Bambang S Widjojanto menjadi terkenal maka dengan mudah KPK yang awalnya adalah kekuatan entitas tak jelas seperti “Cicak Buaya” dan sekumpulan orang lemah secara politis seperti “Bibid Samad Riyanto dan Chandra Hamzah”. Menjadi KPK yang kuat secara politis dan berkharisma secara personal disini kekuatan Bambang yang mampu menjadi pengatur skenario emosi rakyat dan Abraham Samad dengan wajah menyenangkan akan menjadi kekuatan utama KPK, atau setidak-tidaknya mampu membangkrutkan kepopuleran Jenderal Timur Pradopo sebagai Kapolri dalam kasus Simulator SIM dan Penyidikan Irjen Djoko Susilo.