Desember, hujan dan namamu
Jalan setapak setengah becek
Wajahmu yang terus mengakar
Lalu kesepian telah kehilangan kedaulatannya.
Mencintaimu seperti membakar dupa tapi dengan mantera yang gagal bersuara.
Aku rindu pada wajahmu
Pada bulan desember, bulan penuh teka teki gerak udara.
Anda Kusmawan
Cari Blog Ini
Rabu, 05 Desember 2012
Senin, 12 November 2012
Rasa Keindonesiaan......
Abis
baca blog-blog wanita Indonesia yang nikah dengan bule, dari lima orang
yang nulis semuanya hampir merindukan Indonesia tanah kelahirannya,
tapi hampir semuanya juga membenci Indonesia sebagai sebuah sistem. Ada
seorang wanita yang ibunya harus keluar dari kamar ICU karena tidak
sanggup membayar biaya kamar dan terpaksa harus mati tanpa perawatan
karena uang, lalu ia melihat sistem kesehatan
di Kanada yang begitu manusiawi, padahal ibunya amat mencintai
Indonesia, amat bangga dengan bangsanya bila nonton Bulutangkis - dia
menceritakan saat Icuk bertanding lawan Yang Yang ibunya selalu nonton,
saat sepakbola bertanding ibunya selalu berteriak-teriak, nasionalisme
yang begitu banyak melekat pada diri orang Indonesia. Tapi kadang
nasionalisme ini dibayar dengan sistem yang bejat.
Hebatnya lagi
orang Indonesia tidak pernah membenci bangsanya, sedendam-dendam apapun,
bila ia mengingat Indonesia di negeri yang jauh air matanya selalu
menetes. Ada cerita lagi dari satu wanita Indonesia yang tinggal di
Belgia dan menikah dengan lelaki Belgia, ia punya pengalaman pahit
dengan pemerintahan geblek di Indonesia, tapi ia selalu memiliki
kebiasaan di setiap tanggal 17 Agustus untuk duduk di tepi jendela pada
satu malam dan meneteskan air mata, ia menyanyi sendirian lagu-lagu
tentang kerinduan pada bangsanya.
Mencintai bangsa adalah hal
yang abstrak, ia tidak begitu jelas, tapi ia nyata, ia memenuhi ruang
pikiran dan hati bagi bangsanya. Indonesia ini aneh tiap hari ada saja
hal-hal yang menyebalkan untuk dibicarakan, tapi kecintaan yang luar
biasa tidak pernah menjadikan orang Indonesia terasing oleh
kebangsaannya. Ada satu cerita yang menarik di Kanada juga, ia menangis
saat harus berganti WNI, padahal ia dulu tidak pernah merasa mencintai
Indonesia saat tinggal di Semarang, ia merasa biasa saja, ia bolos saat
upacara bendera dan ia tak hapal nama-nama wapres Indonesia, ia bahkan
tak tahu pulau Sulawesi bila ia melihat gambar peta, Ia keturunan
Cina-Jawa, sebuah peranakan khas Semarang dengan identitas tersendiri,
namun ia ketika ia harus berganti kewarganegaraan ia menangis, ada
sesuatu yang hilang. Akhirnya ia menarik pena-nya menolak tanda tangan
kewarganegaraan dan tetap memilih menjadi orang Indonesia.
Nasionalisme memang absurd, ia seperti udara tak terlihat tapi terasa.........
Minggu, 28 Oktober 2012
Sajakku, Sumpah Pemuda
Sajakku sajak pemuda yang bersumpah
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko
Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.
Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......
Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.
Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.
Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......
Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.
Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :
Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....
Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.
Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.
Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.
Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......
Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko
Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.
Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......
Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.
Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.
Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......
Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.
Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :
Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....
Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.
Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.
Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.
Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......
Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....
Kamis, 11 Oktober 2012
Tentang Rel dan Kamu
Tentang Rel dan Kamu
Dua garis rel memanjang
dari ujung cakrawala yang tak kelihatan
banyak ketakutan pada awan jingga
di satu sore yang tenang
Entah kenapa wajahmu menjadi hiasan batu-batu
mengenangmu seperti membuka kertas tua yang usang
rel itu masih terbujur
sentosa membariskan kayu-kayu jati
matahari masih padu
diantara kenangan-kenangan manis
yang dulu
Pada satu sore
ketika kenangan mulai layu
wajahmu mati
pada sudut pikiranku
tapi cintaku padamu
seperti air yang menggenang di air mataku
ia tak pernah habis.............
Dua garis rel memanjang
dari ujung cakrawala yang tak kelihatan
banyak ketakutan pada awan jingga
di satu sore yang tenang
Entah kenapa wajahmu menjadi hiasan batu-batu
mengenangmu seperti membuka kertas tua yang usang
rel itu masih terbujur
sentosa membariskan kayu-kayu jati
matahari masih padu
diantara kenangan-kenangan manis
yang dulu
Pada satu sore
ketika kenangan mulai layu
wajahmu mati
pada sudut pikiranku
tapi cintaku padamu
seperti air yang menggenang di air mataku
ia tak pernah habis.............
Anda Kusmawan, 11 Oktober 2012
Sabtu, 06 Oktober 2012
Menganalisa Kekuatan KPK
![]() |
| Konferensi Pers : Panggung Teater Yang Dibangun Bambang S Widjojanto Menjadi Sumber Penggerak Emosi Rakyat (Sumber Foto : KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES) |
Pengepungan KPK oleh Polri walaupun atas
nama hukum berupa penangkapan salah satu penyidik yang diduga telah
melakukan pembunuhan di masa lalu, menjadi sebuah peristiwa politik
paling penting di negeri ini, karena bukan soal kriminal biasa yaitu
dugaan pembunuhan di masa lalu, tapi soal tarik menarik kekuatan entitas
penyidikan kasus-kasus korupsi di negeri ini yang dipersoalkan, hal ini
jelas membawa peristiwa “Jumat Keramat” pada 5 Oktober 2012 menjadi
kasus politik paling penting sepanjang tahun 2012.
Penggembosan KPK memang sudah puluhan
kali terjadi, bahkan SBY sendiri bertindak sebagai orang yang paling
bertanggungjawab untuk pertama kali dalam penyerangan KPK dengan
menyatakan secara sinis “KPK Sebagai Lembaga Superbody” pesan yang
ditangkap disini adalah SBY menyatakan secara tidak langsung “KPK sudah menjadi ‘Negara di dalam Negara’ yang amat membahayakan struktur kekuasaan. Ucapan
SBY mendapat sambutan gegap gempita utamanya dari kalangan Parlemen
yang pro pada SBY, namun kemudian ucapan SBY mendapatkan gema-nya paling
penting ketika dedengkot politisi PKS Fahri Hamzah secara terukur,
sistematis dan jelas dalam perdebatan publik tentang kampanye pembubaran
KPK, alasan utama yang dikemukakan Fahri Hamzah adalah KPK gagal
membersihkan lembaga-lembaga inti penegakan hukum yaitu : Kepolisian,
Kehakiman dan Kejaksaan. Fahri dengan keras menuding KPK disetir oleh
pihak lain yang membiayai secara non APBN.
Tapi kemudian tuduhan Fahri itu diserang
habis-habisan oleh pendukung KPK yang lebih populis dan memiliki
jaringan massa rakyat banyak. Fahri bahkan di bully terus di
twitter oleh ratusan aktivis pro KPK, sedikit banyak sikap Fahri yang
tidak populer ini menghancurkan suara PKS di banyak lini pemilihan
daerah termasuk di DKI Jakarta, citra PKS sebagai Partai Bersih Anti
Korupsi menjadi rusak oleh sikap Fahri yang menarik garis ke dalam skim
pembubaran KPK yang kemudian pesan Fahri itu ditangkap oleh pikiran
rakyat bahwa PKS berada pada kelompok pro koruptor, pikiran yang
simplistis ini wajar saja di dalam pertarungan politik.
Kemajuan pesat KPK adalah ketika KPK
dengan cerdik memanfaatkan momen cicak dan buaya dalam kasus Anggodo
dimana Bambang S Widjajanto amat berperanan dalam ruang teater cicak dan
buaya. KPK disini menjadi lembaga publik yang paling dipercaya oleh
rakyat, namun juga harus diakui sebagai ‘Pemain Politik Paling Penting
di Negeri ini’. Tak ada Parpol satupun di Indonesia yang mampu
menandingi kekuatan politik KPK saat ini.
Parpol dan Ancaman KPK
Ancaman KPK bukan saja soal penangkapan
para koruptor yang bisa dengan seenaknya dilakukan oleh KPK tanpa lagi
kendala, di masa Indonesia modern baru kali inilah sebuah lembaga yang
berdiri di luar struktur dasar UUD 1945 memiliki kekuatan besar dalam
melakukan tindakan-tindakan politik, inilah yang kemudian menjadi sumber
ketakutan banyak pihak terutama para pemain politik. Tapi di pihak lain
juga timbul pertanyaan apakah kemudian KPK menjadi alat setir dari
pihak lain? Fahri Hamzah sendiri sebagai pelontar pertama isu setir
pihak lain belum bisa menjelaskan siapa pelaku Non APBN yang membiaya
KPK.
Presiden SBY adalah juga pihak yang
paling dirugikan aksi KPK. Paranoid terbesar SBY adalah kasus Bank
Century yang kelak juga mengancam posisi politik klan SBY di masa depan.
Kasus Century sendiri masih menjadi bahan tarik menarik politik paling
ganas sepanjang masa Pemerintahan kedua SBY ini, disini juga
konfigurasi kekuatan politik saling membentuk, membongkar dan membentuk
kembali. KPK sendiri kemudian juga mengambil peluang secara intens
dalam membentuk kekuatan politik di dalam dirinya. Pembentukan kekuatan
politik semakin meraksasa ketika sejumlah Polisi dari Bengkulu menyerbu
gedung KPK mencari Komisaris Polisi Novel Baswedan karena soal kriminal,
kasus ini kemudian secara teatrikal dikembangkan jadi panggung politik
oleh Bambang S Widjajanto dengan konferensi pers tengah malam yang
dikesankan mencekam. Titik konferensi pers ini harus diperhatikan
sebagai kekuatan politik penting dalam membentuk konfigurasi bangunan
politik pada dirinya.
Kemenangan Panggung Teater Konferensi Pers ala Bambang S Widjojanto Jam 1.00 wib
Yang perlu diperhatikan dalam mengukur
kekuatan KPK pasca penyerangan polisi Bengkulu adalah posisi Bambang S
Widjajanto yang menjadi amat dominan dalam konferensi Pers jam 1.00 wib
malam. Bambang S Widjajanto menjadi orang yang paling bertanggungjawab
dan menjadi pemenang politik atas kasus “Insiden Polisi Bengkulu” dengan
gaya yang amat cantik, lugas dan populis sehingga bisa dengan cepat
menghadapkan rakyat dengan Polisi, disini KPK kemudian membentuk
kekuatan ulang yang koridornya langsung masuk ke akar massa rakyat dan
menjadikan militansi rakyat sebagai ancaman terselubung untuk mengganti
struktur kepemimpinan di Kepolisian mulai dari Kapolri sampai jajaran
eselon ring I diseputar Kapolri, KPK di jam 1.00 wib telah menjadikan
dirinya secara kekuatan pengancam paling riil kedudukan Kapolri sendiri
dan beberapa bawahan Kapolri yang ditengarai terlibat dalam politik
permusuhan dengan KPK dimana kasus Simulator sebagai ‘Proxy War’
diantara mereka.
Bambang dengan nada cerdas berhasil
membangun panggungnya ’seakan-akan’ Negara dalam Keadaan Berbahaya,
disini KPK mengubah dirinya dari sekedar lembaga yang ditugaskan dalam
pemberantasan korupsi menjadi lembaga yang paling penting di mata
rakyat, inilah pendobrakan sejarah terbesar dalam kisah entitas anti
korupsi sejak Paran 1960, Operasi Budhi tahun 1963, TPK 1970-an dan
Opstib. Titik terpenting keberhasilan KPK adalah ‘tidak adanya peran
tunggal Presiden dalam intervensi kasus korupsi’. SBY sendiri nampaknya
gamang berhadapan langsung dengan KPK dalam penyelesaian persoalan hukum
seperti apa yang pernah dilakukan Sukarno dan Suharto di masa lalu.
Dan kini hadapan KPK adalah justru lembaga yang disupervisi dan
memiliki kekuatan bersenjata yaitu : Kepolisian.
Kekuatan KPK menjadi sedemikian hebat dan menggulung ke arah people power
bila kemudian Bambang S Widjajanto terus melanjutkan teater politiknya
menjadi titik pusar pembangun isu. Hal ini dengan mudah ia lakukan saat
kasus Cicak dan Buaya ketika dengan terang-terangan Bambang S Widjojanto
mempermalukan institusi Polri di depan Mahkamah Konstitusi dimana ketua
MK secara tersirat mendukung apa yang dilakukan Bambang kemudian
terbangun isu besar yang menggerakkan kekuatan rakyat.
Kekalahan Polri Dalam Panggung Teater Jam 1.00 wib Malam
Entah siapa yang merancang skenario
tidak cerdas dalam penjemputan paksa Kompol Novel Baswedan, dan apa yang
dilakukan pihak Polri tidak mengukur kemungkinan-kemungkinan reaksi
yang terjadi. Kepolisian kemungkinan kaget dengan kemunculan Bambang S
Widjajanto yang secara tiba-tiba secara eksplisit meminta rakyat bersatu
mendukung dirinya. Berbeda dengan panggung Bambang S Widjojanto yang
semarak, menggugah dan dihadiri para selebritis terkenal di negeri ini,
panggung konferensi Pers Polisi cenderung kaku dan membosankan,
sehingga citra buruk Polri di mata rakyat semakin kuat, inilah yang
harus diperhatikan dari pihak Polisi bahwa mereka kurang cerdas
membentuk panggung politik dalam manajemen konflik ketika dirinya
sendiri berhadapan dengan kekuatan lain.
Negosiasi Yang Akan Terjadi. - Sudah
dipastikan kekuatan Polri secara pencitraan hancur total pada peristiwa
konferensi pers yang susunannya dibangun oleh Bambang S Widjojanto pada
jam 1 malam itu, inilah yang kemudian menjadikan Polisi harus melakukan
negosiasi ulang kepada pihak KPK, kecuali bila Polisi tetap terus
berkeras dan menggunakan kekuatan besar dalam menggebuk KPK namun ini
tak mungkin, Polisi harus ingat walaupun mereka memiliki kekuatan besar
dengan dasar legitimasi UUD 1945 namun bias atau deviasi legalitas dalam
sejarah modern Indonesia selalu kalah dengan kekuatan-kekuatan rakyat,
bila Polisi ingin menang dalam pertarungan ia harus menciptakan panggung
teater yang lugas, cerdas dan mampu menggebuk Bambang S Widjojanto
dengan cara yang jenius bukan dengan pemaksaan model polisi Bengkulu
pada Jumat Keramat.
Kekalahan pihak Polisi itu akan
menjadikan Polisi sebagai pihak yang dibawah angin dalam memulai
negosiasi ulang atas kasus Simulator SIM, kemungkinan besar
skenario-skenario seperti barter penyidik dengan Djoko Susilo akan
menjadi hancur apabila kemudian Bambang S Widjajanto secara intens
memainkan irama emosi rakyat, Bambang dengan mudah melakukan pengaturan
tata emosi rakyat yang sudah dengan cerdas dibangunnya pada jam 1.00
wib dengan terus menekan Polri dengan penekanan ini pihak Bambang bahkan
bisa lebih leluasa masuk ke tubuh Polisi tidak menutup kemungkinan
besar juga ada korban seperti Susno Duadji di tubuh Polri dalam kasus
Cicak dan Buaya.
Menjelang 2014 tarik menarik kekuatan
politik menjadi amat penting, kelakuan para Parpol yang selalu memihak
pada mereka yang populis menjadi mesin kekuatan besar dalam
penggelembungan kekuatan KPK sementara di pihak lain Kapolri semakin
lemah posisinya di mata rakyat. SBY jelas tidak akan melakukan rumusan
pasti dalam perseteruan politik antara KPK dan Polri, dan seperti
jutaan rakyat yang sudah mengerti modus politik SBY yang selalu tidak
mau ikut campur pada persoalan yang belum pasti siapa pemenangnya, SBY
juga atas nama demokrasi tidak akan masuk ke dalam
perseteruan-perseteruan yang mengatasnamakan hukum, karena sebagai
eksekutif ia tidak berhak dalam masuk konflik itu, namun dalam soal
kepemimpinan sikap pembiaran SBY ini akan menambah energi baru dukungan
rakyat pada KPK.
Revisi UU KPK dan Bambang S Widjojanto Sebagai “Jokowinya KPK”. , - Pengisoliran
KPK dan blunder Polisi Bengkulu kemarin akan menggagalkan seluruh
skenario pelemahan KPK secara legal konstitusional yang sedang dibawa
Komisi III DPR, namun yang paling penting disini adalah Peranan Bambang S
Widjojanto sebagai aktor paling berbakat di panggung
publik, Bambang kemudian menjadi orang paling terkenal setelah Jokowi di
benak pikiran rakyat, ketika Bambang S Widjojanto menjadi terkenal maka
dengan mudah KPK yang awalnya adalah kekuatan entitas tak jelas seperti
“Cicak Buaya” dan sekumpulan orang lemah secara politis seperti “Bibid
Samad Riyanto dan Chandra Hamzah”. Menjadi KPK yang kuat secara politis
dan berkharisma secara personal disini kekuatan Bambang yang mampu
menjadi pengatur skenario emosi rakyat dan Abraham Samad dengan wajah
menyenangkan akan menjadi kekuatan utama KPK, atau setidak-tidaknya
mampu membangkrutkan kepopuleran Jenderal Timur Pradopo sebagai Kapolri
dalam kasus Simulator SIM dan Penyidikan Irjen Djoko Susilo.
Selasa, 18 September 2012
Demo Anti Jepang di Cina : Perang Dagang Terselubung?
![]() | ||
| Wilayah Asia Yang Paling Kaya Di Dunia Sebagai Pasar Konsumen, Wilayah Produksi, Arus Modal, dan Sumber Daya Alam (Sumber foto : Asian Map.com) |
Kini wilayah Asia bergerak cepat,
seluruh kekuatan-kekuatan besar Asia ingin menjadi pemain dalam pasar
besar di dunia. Asia menempati urutan nomor satu dalam jumlah penduduk,
arus modal dan sumber daya alam. Inilah yang kemudian Asia akan jadi
wilayah paling kaya di dunia, setelah di masa-masa kolonialisme antara
abad 17-20 Asia dijadikan wilayah jajahan negara-negara Eropa, dan
sepanjang abad 20 dipermainkan oleh politik luar negeri Amerika Serikat.
Pemain-pemain besar Asia yang muncul
saat ini adalah : Arab Saudi dan sekitaran negara teluk yang kaya modal
mereka menjadi kekuatan penuh atas sumber-sumber modal yang banyak
ditanamkan di seluruh dunia, India yang kuat di sumber daya manusia,
Jepang yang sangat tinggi tingkat kemampuan teknologinya, Korea Selatan
sebagai bayang-bayang Jepang, wilayah Indo-China dan Melayu (Vietnam,
Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura dan Indonesia) yang pasar
konsumsinya memiliki daya serap tinggi dan terbesar adalah Cina yang
memiliki hampir semua lini : Sumber Modal, Sumber Daya Alam, Tenaga
Kerja dan Kekuatan Produksi Massal.
Kekuatan Cina jelas merupakan ancaman
bagi kekuatan dagang Amerika Serikat yang menancapkan pengaruhnya di
Asia Tenggara dan Timur selama lebih dari 60 tahun. Kekuatan massal
produksi Cina sekarang sudah menguasai wilayah Asia Tenggara, bahkan
invasi produksi Cina untuk alat-alat produksi merembes ke seluruh
dataran Eropa, puncaknya adalah invasi produk Cina ke Amerika Serikat
pada tahun 2005 yang membuat goncang pasaran produk Amerika Serikat
sehingga mereka harus melakukan pengkhianatan terhadap politik
liberal-nya dengan melakukan tindakan-tindakan diskriminatif atas
perdagangannya dengan Cina.
Amerika Serikat selalu mendasari
provokasi untuk melakukan konflik dagangnya. Wilayah Asia Tenggara
adalah wilayah yang paling rentan dalam konflik dagang dan konflik
militer, sementara Indonesia masih sangat bergantung sekali dengan arus
modal dari Amerika Serikat, tapi beberapa kekuatan internal politik di
Indonesia sudah melihat bahwa harus ada ‘kemandirian politik dan
ekonomi’ seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1960-an.
Perang dagang bisa saja berlanjut
menjadi konflik militer, atau konflik militer adalah diplomasi dalam
perang dagang. Proxy War ini sering dimainkan Amerika Serikat setelah
mereka belajar dari kegagalan pada perang Korea dan Perang Vietnam. Lalu
apakah konflik di Pulau Daiyou akan menjadi perang Proxy antara Amerika
Serikat dan Jepang saat ini?.
Provokasi Jepang dan Kenangan Invasi Jepang ke Shanghai
![]() |
| Pembantaian Nanking, Desember 1937 atas Orang Cina yang dilakukan Tentara Jepang. Merupakan Dendam Kolektif bagi Bangsa Cina kepada Bangsa Jepang (Sumber Foto : Wikipedia) |
Bila dilihat dari trauma sejarah, bangsa Cina masih menyimpan dendam yang luar biasa terhadap bangsa Jepang. Dendam yang menjadi ingatan kolektif mereka adalah saat Invasi Jepang ke Shanghai pada tahun 1937, Invasi ini adalah puncak dari politik ekspansi Jepang yang merampas satu persatu wilayah Cina di masa lalu, perampasan ini dalam sejarah dikenal sebagai ‘insiden-insiden kecil’ seperti Insiden Jembatan Marcopolo’, Insiden Tembok Besar dan Insiden-Insiden lainnya yang jadi pelatuk dalam perang total Cina-Jepang pada tahun 1937 dimana Jenderal Kaum Nasionalis, Chiang Kai Sek menghubungi pihak Komunis dan bersekutu untuk bersatu melawan Jepang. Jepang melakukan pendaratan amfibi ke wilayah Shanghai dan bertempur habis-habisan sekaligus melakukan tindakan-tindakan brutal seperti pemerkosaan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk shanghai. Pendudukan kota Shanghai inilah yang kemudian menjadi awal kebangkitan Nasionalisme Cina periode kedua, pasca Sun Yat Sen. -Kebangkitan yang lebih didasari pada politik kebanggaan orang Cina yang lebih superior dalam sejarah dan budaya ketimbang orang Jepang yang dianggapnya masih barbar.
Sampai sekarangpun, Cina tidak mau
memaafkan Jepang atas tindakannya menginvasi mereka dan membantai jutaan
orang Cina. Bahkan politik luar negeri Cina tanpa tertulis mengatakan
Kuil Yasukuni yang merupakan makam bagi tentara Jepang veteran perang
dunia II adalah kuil para ‘penjahat’ pejabat Cina yang berkunjung ke
Jepang tidak boleh kesana, bahkan Perdana Menteri Jepang yang berani ke
kuil Yasukuni dan melakukan penghormatan dianggap musuh insiden PM
Jepang Junichiro Koizumi (menjabat : 2001-2007), hal yang sama juga
dilakukan oleh Korea Selatan yang menganggap kuil Yasukuni sebagai
tempat haram jadah.
Titik-titik sakral atas sengketa inilah
yang bisa jadi permainan Amerika Serikat dalam geopolitiknya untuk
memanfaatkan ketidakstabilan Asia Timur. Hal ini akan sama persis
dengan posisi konflik Israel-Palestina dimana AS mengambil keuntungan
atas konflik ini dengan persekutuan kuat di negara-negara teluk
sekaligus berperang di wilayah panas Arab Nasionalis seperti : Libya,
Suriah, Mesir, Irak, Iran dan Lebanon.
![]() |
| Konflik Pulau Daiyou, akankah jadi perang di Asia Timur Atau Hanya Gertak Perang Dagang AS kepada Cina? (Sumber : Wikipedia) |
Dua aktivis Jepang mendarat di kepulauan itu sekaligus melakukan wawancara pers bahwa kepulauan itu adalah hak milik pribadi seorang warga Jepang yang sudah dibelinya. Sementara ada data-data masuk ke Pemerintahan RRC serta menyebarluas ke rakyat banyak di Cina soal adanya sumber daya alam yang luar biasa seperti minyak bumi di kawasan itu. Kenangan kolektif atas kebrutalan Jepang di masa lalu juga menjadi pemicu demonstrasi besar anti Jepang di Qingdao yang memaksa dua Pabrikan besar Jepang : Panasonic dan Canon menutup lokasi usahanya.
![]() |
| Ribuan Warga RRC Menyerbu Beberapa Perusahaan Jepang di Cina dan Menghancurkan Pintu-Pintunya, Kemarahan Orang-Orang Cina Ini Bisakah ini mengancam Ekonomi Jepang? (Sumber Foto : Reuters) |
Orang-orang Jepang bersembunyi takut di sweeping
sementara mobil-mobil Jepang dilempari batu. Apa selanjutnya yang
terjadi pada sengketa pulau ini, Jepang kemungkinan tidak memiliki minat
atas perang, karena mereka sudah merasakan pahitnya perang, dan
nasionalisme Jepang hanya tinggal kenangan, mereka sudah sepenuhnya jadi
bangsa pedagang, sementara Cina jelas ini soal gengsi politik di depan
Pemerintahan Taiwan, karena bisa saja Taiwan merebut Pulau itu dan
menegakkan garis klaim Nasionalis tinggalan Chiang Kai Sek di depan para
generasi Maois di RRC. Apakah ini dimanfaatkan oleh Amerika Serikat
sebagai Perang Dagang dalam penguasaan wilayah dagang di Asia Timur dan
Asia Tenggara dengan Jepang sebagai Boneka seperti layaknya Pemerintahan
Bao Dai di Vietnam Selatan pada awal tahun 1960-an?
Kita tunggu perkembangan selanjutnya…………
Sabtu, 25 Agustus 2012
Catatan Akhir Agustus 2012
Masa dekat-dekat setelah kejatuhan Suharto
saya menonton WS Rendra pidato di UI, salah satu yang saya ingat adalah
kata-kata yang diucapkannya dengan lekukan intonasi seorang dramawan
besar :
"Sesungguhnya demokrasi itu bukan soal kebebasan bicara, demokrasi sekali lagi bukan kebebasan bicara, tapi demokrasi ruang yang luas untuk rakyat masuk ke dalam partisipasi rakyat, rakyat berdaulat atas s
"Sesungguhnya demokrasi itu bukan soal kebebasan bicara, demokrasi sekali lagi bukan kebebasan bicara, tapi demokrasi ruang yang luas untuk rakyat masuk ke dalam partisipasi rakyat, rakyat berdaulat atas s
uaranya sendiri, rakyat
menjadi pelaku atas demokrasi itu sendiri. Selama demokrasi bernaluri
priyayi maka demokrasi tidak akan berkembang, selama partai-partai
mengejar untuk menjadi birokrasi maka partai-partai akan gagap soal
kebudayaan".
Itu yang saya ingat, apa yang dikatakan Rendra, 14 tahun yang lalu sekarang menjadi kenyataan, Partai-Partai bukan lagi agen pengubah budaya, Partai menjadi Brokerage house atas Proyek-Proyek Negara.
Yang saya suka bila mendengarkan Rendra pidato adalah saya selalu membayangkan gaya dia bicara seperti seorang Bung Karno, seperti seorang Pemenang, seperti seorang Panembahan Reso yang menguasai keadaan. Namun kedalaman maknanya dalam ucapannya menjadikan dia guru yang mampu membaca tanda-tanda jaman. Rendra hidup dalam dua dimensinya : Dimensi Nalar dan Dimensi Batin, dalam dimensi nalar dia mampu menjelaskan akar-akar rasional mengapa kita selalu saja menjadi bangsa yang kalah, ia membahas soal tata bahasa, ilmu hitung dan kemampuan membuat himpunan-himpunan dalam persoalan manajemen kolonial penaklukan Raja-Raja Jawa oleh cukong loji Belanda, dalam soal kebatinan, Rendra mengajak untuk melihat secara waspada, sebuah keadaan selalu ditunjukkan oleh pertanda, inilah kenapa orang Jawa tidak pernah berkata "Saya Pikir" tapi berkata "Saya rasa".
Rendra selalu menghidupkan apa yang disebut sebagai "Daulat Rakyat" inti demokrasi itu adalah daulat manusia atas hidupnya sendiri dalam kerja masyarakat. Di jaman Suharto, daulat rakyat itu dibatasi dengan tiga B : Buang, Bui dan Bunuh sementara di jaman Reformasi ini daulat rakyat ditandai oleh 3 D : Duit, Duit dan Duit.
Tapi apakah kemudian rakyat bisa bangkit melawan sistem manajemen politik melewati basis kepartaian? tidak sama sekali, dalam sejarah modern, gerakan politik dikoordinasi oleh gerakan kepartaian, tidak pernah ada perlawanan politik tanpa pergerakan kepartaian, hanya saja soal ini sejarah modern terbelenggu antara Maklumat X 1945 dengan Dekrit 1959 dan Fusi 1973. Partai-partai akan selalu selamanya menjadi mesin koordinasi atas kerja rakyat.
Dengan seluruh kehormatan, Faisal Basrie mampu mengangkat gerakan individual dalam melawan sistem kepartaian, tapi Faisal Basrie terjebak pada kegagapannya dalam mengolah politik paling pragmatis, ia gagal memahami pemasaran politik yang paling mendasar " Segmentasi, Targeting dan Positioning" Tim Suksesnya tidak mampu langsung terjun ke dalam persoalan-persoalan rakyat, mereka berinteraksi di lingkungan itu-itu saja : kalangan menengah kota, intelek-intelek urban dengan keuangan yang sudah mapan, mereka tidak masuk dalam alam pikir rakyat yang paling sederhana. Inilah kemudian perlu dipertanyakan, sejauh mana kekuatan tanpa partai mampu bertarung dalam agenda-agenda perebutan kekuasaan.
Pada akhirnya setiap kerja politik akan membutuhkan himpunan, dan himpunan tetaplah partai-partai, maka tugas dari kaum pembaharu politik adalah melakukan revisi ulang atas pertanyaan paling filosofis, "apa itu Partai?" -Pertanyaan paling mendasar ini sebenarnya sudah diajukan WS Rendra sendiri "Daulat Rakyat, akan membuat Daulat Kebudayaan". Apakah kemudian Partai bisa menjadi bagian dari Daulat Rakyat itu sendiri, sama persis ketika Danton ditengah huru hara di kota Paris "bisakah kita menertibkan ini dengan himpunan-himpunan yang terorganisir"?
Terus terang saja saya merindukan sebuah Partai yang kadernya bukanlah mereka yang saling BBM-an dan telpon2an "Bagaimana Bang, bagaimana kakanda proyek kita"....bukan itu, saya merindukan sebuah Partai yang kader-kadernya mampu menjadi bagian produksi sastra, yang kader-kadernya mampu membaca persoalan rakyat paling mendasar, yang kadernya mampu memahami simpul-simpul ketertindasan rakyat dalam ruang partisipatifnya, dan saya yakin suatu saat kita bisa bila kita bergerak, mungkin dalam satu soal saat ini saya berharap pada Jokowi.
Itu yang saya ingat, apa yang dikatakan Rendra, 14 tahun yang lalu sekarang menjadi kenyataan, Partai-Partai bukan lagi agen pengubah budaya, Partai menjadi Brokerage house atas Proyek-Proyek Negara.
Yang saya suka bila mendengarkan Rendra pidato adalah saya selalu membayangkan gaya dia bicara seperti seorang Bung Karno, seperti seorang Pemenang, seperti seorang Panembahan Reso yang menguasai keadaan. Namun kedalaman maknanya dalam ucapannya menjadikan dia guru yang mampu membaca tanda-tanda jaman. Rendra hidup dalam dua dimensinya : Dimensi Nalar dan Dimensi Batin, dalam dimensi nalar dia mampu menjelaskan akar-akar rasional mengapa kita selalu saja menjadi bangsa yang kalah, ia membahas soal tata bahasa, ilmu hitung dan kemampuan membuat himpunan-himpunan dalam persoalan manajemen kolonial penaklukan Raja-Raja Jawa oleh cukong loji Belanda, dalam soal kebatinan, Rendra mengajak untuk melihat secara waspada, sebuah keadaan selalu ditunjukkan oleh pertanda, inilah kenapa orang Jawa tidak pernah berkata "Saya Pikir" tapi berkata "Saya rasa".
Rendra selalu menghidupkan apa yang disebut sebagai "Daulat Rakyat" inti demokrasi itu adalah daulat manusia atas hidupnya sendiri dalam kerja masyarakat. Di jaman Suharto, daulat rakyat itu dibatasi dengan tiga B : Buang, Bui dan Bunuh sementara di jaman Reformasi ini daulat rakyat ditandai oleh 3 D : Duit, Duit dan Duit.
Tapi apakah kemudian rakyat bisa bangkit melawan sistem manajemen politik melewati basis kepartaian? tidak sama sekali, dalam sejarah modern, gerakan politik dikoordinasi oleh gerakan kepartaian, tidak pernah ada perlawanan politik tanpa pergerakan kepartaian, hanya saja soal ini sejarah modern terbelenggu antara Maklumat X 1945 dengan Dekrit 1959 dan Fusi 1973. Partai-partai akan selalu selamanya menjadi mesin koordinasi atas kerja rakyat.
Dengan seluruh kehormatan, Faisal Basrie mampu mengangkat gerakan individual dalam melawan sistem kepartaian, tapi Faisal Basrie terjebak pada kegagapannya dalam mengolah politik paling pragmatis, ia gagal memahami pemasaran politik yang paling mendasar " Segmentasi, Targeting dan Positioning" Tim Suksesnya tidak mampu langsung terjun ke dalam persoalan-persoalan rakyat, mereka berinteraksi di lingkungan itu-itu saja : kalangan menengah kota, intelek-intelek urban dengan keuangan yang sudah mapan, mereka tidak masuk dalam alam pikir rakyat yang paling sederhana. Inilah kemudian perlu dipertanyakan, sejauh mana kekuatan tanpa partai mampu bertarung dalam agenda-agenda perebutan kekuasaan.
Pada akhirnya setiap kerja politik akan membutuhkan himpunan, dan himpunan tetaplah partai-partai, maka tugas dari kaum pembaharu politik adalah melakukan revisi ulang atas pertanyaan paling filosofis, "apa itu Partai?" -Pertanyaan paling mendasar ini sebenarnya sudah diajukan WS Rendra sendiri "Daulat Rakyat, akan membuat Daulat Kebudayaan". Apakah kemudian Partai bisa menjadi bagian dari Daulat Rakyat itu sendiri, sama persis ketika Danton ditengah huru hara di kota Paris "bisakah kita menertibkan ini dengan himpunan-himpunan yang terorganisir"?
Terus terang saja saya merindukan sebuah Partai yang kadernya bukanlah mereka yang saling BBM-an dan telpon2an "Bagaimana Bang, bagaimana kakanda proyek kita"....bukan itu, saya merindukan sebuah Partai yang kader-kadernya mampu menjadi bagian produksi sastra, yang kader-kadernya mampu membaca persoalan rakyat paling mendasar, yang kadernya mampu memahami simpul-simpul ketertindasan rakyat dalam ruang partisipatifnya, dan saya yakin suatu saat kita bisa bila kita bergerak, mungkin dalam satu soal saat ini saya berharap pada Jokowi.
Langganan:
Postingan (Atom)





