Cari Blog Ini

Rabu, 05 Desember 2012

Kangen?

Desember, hujan dan namamu
Jalan setapak setengah becek
Wajahmu yang terus mengakar 
Lalu kesepian telah kehilangan kedaulatannya. 

Mencintaimu seperti membakar dupa tapi dengan mantera yang gagal bersuara. 

Aku rindu pada wajahmu
Pada bulan desember, bulan penuh teka teki gerak udara. 

Anda Kusmawan

Senin, 12 November 2012

Rasa Keindonesiaan......


Abis baca blog-blog wanita Indonesia yang nikah dengan bule, dari lima orang yang nulis semuanya hampir merindukan Indonesia tanah kelahirannya, tapi hampir semuanya juga membenci Indonesia sebagai sebuah sistem. Ada seorang wanita yang ibunya harus keluar dari kamar ICU karena tidak sanggup membayar biaya kamar dan terpaksa harus mati tanpa perawatan karena uang, lalu ia melihat sistem kesehatan di Kanada yang begitu manusiawi, padahal ibunya amat mencintai Indonesia, amat bangga dengan bangsanya bila nonton Bulutangkis - dia menceritakan saat Icuk bertanding lawan Yang Yang ibunya selalu nonton, saat sepakbola bertanding ibunya selalu berteriak-teriak, nasionalisme yang begitu banyak melekat pada diri orang Indonesia. Tapi kadang nasionalisme ini dibayar dengan sistem yang bejat.

Hebatnya lagi orang Indonesia tidak pernah membenci bangsanya, sedendam-dendam apapun, bila ia mengingat Indonesia di negeri yang jauh air matanya selalu menetes. Ada cerita lagi dari satu wanita Indonesia yang tinggal di Belgia dan menikah dengan lelaki Belgia, ia punya pengalaman pahit dengan pemerintahan geblek di Indonesia, tapi ia selalu memiliki kebiasaan di setiap tanggal 17 Agustus untuk duduk di tepi jendela pada satu malam dan meneteskan air mata, ia menyanyi sendirian lagu-lagu tentang kerinduan pada bangsanya.

Mencintai bangsa adalah hal yang abstrak, ia tidak begitu jelas, tapi ia nyata, ia memenuhi ruang pikiran dan hati bagi bangsanya. Indonesia ini aneh tiap hari ada saja hal-hal yang menyebalkan untuk dibicarakan, tapi kecintaan yang luar biasa tidak pernah menjadikan orang Indonesia terasing oleh kebangsaannya. Ada satu cerita yang menarik di Kanada juga, ia menangis saat harus berganti WNI, padahal ia dulu tidak pernah merasa mencintai Indonesia saat tinggal di Semarang, ia merasa biasa saja, ia bolos saat upacara bendera dan ia tak hapal nama-nama wapres Indonesia, ia bahkan tak tahu pulau Sulawesi bila ia melihat gambar peta, Ia keturunan Cina-Jawa, sebuah peranakan khas Semarang dengan identitas tersendiri, namun ia ketika ia harus berganti kewarganegaraan ia menangis, ada sesuatu yang hilang. Akhirnya ia menarik pena-nya menolak tanda tangan kewarganegaraan dan tetap memilih menjadi orang Indonesia.

Nasionalisme memang absurd, ia seperti udara tak terlihat tapi terasa.........

Minggu, 28 Oktober 2012

Sajakku, Sumpah Pemuda

Sajakku sajak pemuda yang bersumpah
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko

Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.

Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......

Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.

Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.

Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......

Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.

Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :

Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....

Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.

Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.

Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.

Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......

Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....

Kamis, 11 Oktober 2012

Tentang Rel dan Kamu



Tentang Rel dan Kamu

Dua garis rel memanjang
dari ujung cakrawala yang tak kelihatan
banyak ketakutan pada awan jingga
di satu sore yang tenang

Entah kenapa wajahmu menjadi hiasan batu-batu
mengenangmu seperti membuka kertas tua yang usang
rel itu masih terbujur
sentosa membariskan kayu-kayu jati
matahari masih padu
diantara kenangan-kenangan manis
yang dulu

Pada satu sore
ketika kenangan mulai layu
wajahmu mati
pada sudut pikiranku
tapi cintaku padamu
seperti air yang menggenang di air mataku
ia tak pernah habis.............


Anda Kusmawan, 11 Oktober 2012

Sabtu, 06 Oktober 2012

Menganalisa Kekuatan KPK

Konferensi Pers : Panggung Teater Yang Dibangun Bambang S Widjojanto Menjadi Sumber Penggerak Emosi Rakyat (Sumber Foto : KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)
Pengepungan KPK oleh Polri walaupun atas nama hukum berupa penangkapan salah satu penyidik yang diduga telah melakukan pembunuhan di masa lalu, menjadi sebuah peristiwa politik paling penting di negeri ini, karena bukan soal kriminal biasa yaitu dugaan pembunuhan di masa lalu, tapi soal tarik menarik kekuatan entitas penyidikan kasus-kasus korupsi di negeri ini yang dipersoalkan, hal ini jelas membawa peristiwa “Jumat Keramat” pada 5 Oktober 2012 menjadi kasus politik paling penting sepanjang tahun 2012.

Penggembosan KPK memang sudah puluhan kali terjadi, bahkan SBY sendiri bertindak sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk pertama kali dalam penyerangan KPK dengan menyatakan secara sinis “KPK Sebagai Lembaga Superbody”  pesan yang ditangkap disini adalah SBY menyatakan secara tidak langsung “KPK sudah menjadi ‘Negara di dalam Negara’ yang amat membahayakan struktur kekuasaan. Ucapan SBY mendapat sambutan gegap gempita utamanya dari kalangan Parlemen yang pro pada SBY, namun kemudian ucapan SBY mendapatkan gema-nya paling penting ketika dedengkot politisi PKS Fahri Hamzah secara terukur, sistematis dan jelas dalam perdebatan publik tentang kampanye pembubaran KPK,  alasan utama yang dikemukakan Fahri Hamzah adalah KPK gagal membersihkan lembaga-lembaga inti penegakan hukum yaitu : Kepolisian, Kehakiman dan Kejaksaan. Fahri dengan keras menuding KPK disetir oleh pihak lain yang membiayai secara non APBN.

Tapi kemudian tuduhan Fahri itu diserang habis-habisan oleh pendukung KPK yang lebih populis dan memiliki jaringan massa rakyat banyak. Fahri bahkan di bully terus di twitter oleh ratusan aktivis pro KPK, sedikit banyak sikap Fahri yang tidak populer ini menghancurkan suara PKS di banyak lini pemilihan daerah termasuk di DKI Jakarta, citra PKS sebagai Partai Bersih Anti Korupsi menjadi rusak oleh sikap Fahri yang menarik garis ke dalam skim pembubaran KPK yang kemudian pesan Fahri itu ditangkap oleh pikiran rakyat bahwa PKS berada pada kelompok pro koruptor, pikiran yang simplistis ini wajar saja di dalam pertarungan politik.
Kemajuan pesat KPK adalah ketika KPK dengan cerdik memanfaatkan momen cicak dan buaya dalam kasus Anggodo dimana Bambang S Widjajanto amat berperanan dalam ruang teater cicak dan buaya. KPK disini menjadi lembaga publik yang paling dipercaya oleh rakyat, namun juga harus diakui sebagai ‘Pemain Politik Paling Penting di Negeri ini’. Tak ada Parpol satupun di Indonesia yang mampu menandingi kekuatan politik KPK saat ini.

Parpol dan Ancaman KPK
Ancaman KPK bukan saja soal penangkapan para koruptor yang bisa dengan seenaknya dilakukan oleh KPK tanpa lagi kendala, di masa Indonesia modern baru kali inilah sebuah lembaga yang berdiri di luar struktur dasar UUD 1945 memiliki kekuatan besar dalam melakukan tindakan-tindakan politik, inilah yang kemudian menjadi sumber ketakutan banyak pihak terutama para pemain politik. Tapi di pihak lain juga timbul pertanyaan apakah kemudian KPK menjadi alat setir dari pihak lain? Fahri Hamzah sendiri sebagai pelontar pertama isu setir pihak lain belum bisa menjelaskan siapa pelaku Non APBN yang membiaya KPK.
Presiden SBY adalah juga pihak yang paling dirugikan aksi KPK. Paranoid terbesar SBY adalah kasus Bank Century yang kelak juga mengancam posisi politik klan SBY di masa depan. Kasus Century sendiri masih menjadi bahan tarik menarik politik paling ganas sepanjang masa Pemerintahan kedua SBY ini,  disini juga konfigurasi kekuatan politik saling membentuk, membongkar dan membentuk kembali.  KPK sendiri kemudian juga mengambil peluang secara intens dalam membentuk kekuatan politik di dalam dirinya. Pembentukan kekuatan politik semakin meraksasa ketika sejumlah Polisi dari Bengkulu menyerbu gedung KPK mencari Komisaris Polisi Novel Baswedan karena soal kriminal, kasus ini kemudian secara teatrikal dikembangkan jadi panggung politik oleh Bambang S Widjajanto dengan konferensi pers tengah malam yang dikesankan mencekam. Titik konferensi pers ini harus diperhatikan sebagai kekuatan politik penting dalam membentuk konfigurasi bangunan politik pada dirinya.
Kemenangan Panggung Teater Konferensi Pers ala Bambang S Widjojanto Jam 1.00 wib
Yang perlu diperhatikan dalam mengukur kekuatan KPK pasca penyerangan polisi Bengkulu adalah posisi Bambang S Widjajanto yang menjadi amat dominan dalam konferensi Pers jam 1.00 wib malam. Bambang S Widjajanto menjadi orang yang paling bertanggungjawab dan menjadi pemenang politik atas kasus “Insiden Polisi Bengkulu” dengan gaya yang amat cantik, lugas dan populis sehingga bisa dengan cepat menghadapkan rakyat dengan Polisi, disini KPK kemudian membentuk kekuatan ulang yang koridornya langsung masuk ke akar massa rakyat dan menjadikan militansi rakyat sebagai ancaman terselubung untuk mengganti struktur kepemimpinan di Kepolisian mulai dari Kapolri sampai jajaran eselon ring I diseputar Kapolri, KPK di jam 1.00 wib telah menjadikan dirinya secara kekuatan pengancam paling riil kedudukan Kapolri sendiri dan beberapa bawahan Kapolri yang ditengarai terlibat dalam politik permusuhan dengan KPK dimana kasus Simulator sebagai ‘Proxy War’ diantara mereka.
Bambang dengan nada cerdas berhasil membangun panggungnya ’seakan-akan’ Negara dalam Keadaan Berbahaya, disini KPK mengubah dirinya dari sekedar lembaga yang ditugaskan dalam pemberantasan korupsi menjadi lembaga yang paling penting di mata rakyat, inilah pendobrakan sejarah terbesar dalam kisah entitas anti korupsi sejak Paran 1960, Operasi Budhi tahun 1963, TPK 1970-an dan Opstib. Titik terpenting keberhasilan KPK adalah ‘tidak adanya peran tunggal Presiden dalam intervensi kasus korupsi’. SBY sendiri nampaknya gamang berhadapan langsung dengan KPK dalam penyelesaian persoalan hukum seperti apa yang pernah dilakukan Sukarno dan Suharto di masa lalu.   Dan kini hadapan KPK adalah justru lembaga yang disupervisi dan memiliki kekuatan bersenjata yaitu : Kepolisian. 

Kekuatan KPK menjadi sedemikian hebat dan menggulung ke arah people power bila kemudian Bambang S Widjajanto terus melanjutkan teater politiknya menjadi titik pusar pembangun isu. Hal ini dengan mudah ia lakukan saat kasus Cicak dan Buaya ketika dengan terang-terangan Bambang S Widjojanto mempermalukan institusi Polri di depan Mahkamah Konstitusi dimana ketua MK secara tersirat mendukung apa yang dilakukan Bambang kemudian terbangun isu besar yang menggerakkan kekuatan rakyat.

Kekalahan Polri Dalam Panggung Teater Jam 1.00 wib Malam
Entah siapa yang merancang skenario tidak cerdas dalam penjemputan paksa Kompol Novel Baswedan, dan apa yang dilakukan pihak Polri tidak mengukur kemungkinan-kemungkinan reaksi yang terjadi. Kepolisian kemungkinan kaget dengan kemunculan Bambang S Widjajanto yang secara tiba-tiba secara eksplisit meminta rakyat bersatu mendukung dirinya. Berbeda dengan panggung Bambang S Widjojanto yang semarak, menggugah dan dihadiri para selebritis terkenal di negeri ini,  panggung konferensi Pers Polisi cenderung kaku dan membosankan, sehingga citra buruk Polri di mata rakyat semakin kuat, inilah yang harus diperhatikan dari pihak Polisi bahwa mereka kurang cerdas membentuk panggung politik dalam manajemen konflik ketika dirinya sendiri berhadapan dengan kekuatan lain.
 
Negosiasi Yang Akan Terjadi. - Sudah dipastikan kekuatan Polri secara pencitraan hancur total pada peristiwa konferensi pers yang susunannya dibangun oleh Bambang S Widjojanto pada jam 1 malam itu, inilah yang kemudian menjadikan Polisi harus melakukan negosiasi ulang kepada pihak KPK, kecuali bila Polisi tetap terus berkeras dan menggunakan kekuatan besar dalam menggebuk KPK namun ini tak mungkin, Polisi harus ingat walaupun mereka memiliki kekuatan besar dengan dasar legitimasi UUD 1945 namun bias atau deviasi legalitas dalam sejarah modern Indonesia selalu kalah dengan kekuatan-kekuatan rakyat, bila Polisi ingin menang dalam pertarungan ia harus menciptakan panggung teater yang lugas, cerdas dan mampu menggebuk Bambang S Widjojanto dengan cara yang jenius bukan dengan pemaksaan model polisi Bengkulu pada Jumat Keramat.
Kekalahan pihak Polisi itu akan menjadikan Polisi sebagai pihak yang dibawah angin dalam memulai negosiasi ulang atas kasus Simulator SIM, kemungkinan besar skenario-skenario seperti barter penyidik dengan Djoko Susilo akan menjadi hancur apabila kemudian Bambang S Widjajanto secara intens memainkan irama emosi rakyat,  Bambang dengan mudah melakukan pengaturan tata emosi rakyat yang sudah dengan cerdas dibangunnya pada jam 1.00 wib dengan terus menekan Polri dengan penekanan ini pihak Bambang bahkan bisa lebih leluasa masuk ke tubuh Polisi tidak menutup kemungkinan besar juga ada korban seperti Susno Duadji di tubuh Polri dalam kasus Cicak dan Buaya.

Menjelang 2014 tarik menarik kekuatan politik menjadi amat penting, kelakuan para Parpol yang selalu memihak pada mereka yang populis menjadi mesin kekuatan besar dalam penggelembungan kekuatan KPK sementara di pihak lain Kapolri semakin lemah posisinya di mata rakyat. SBY jelas tidak akan melakukan rumusan pasti dalam perseteruan politik antara KPK dan Polri,  dan seperti jutaan rakyat yang sudah mengerti modus politik SBY yang selalu tidak mau ikut campur pada persoalan yang belum pasti siapa pemenangnya, SBY juga atas nama demokrasi tidak akan masuk ke dalam perseteruan-perseteruan yang mengatasnamakan hukum, karena sebagai eksekutif ia tidak berhak dalam masuk konflik itu, namun dalam soal kepemimpinan sikap pembiaran SBY ini akan menambah energi baru dukungan rakyat pada KPK.

Revisi UU KPK dan Bambang S Widjojanto Sebagai “Jokowinya KPK”. , - Pengisoliran KPK dan blunder Polisi Bengkulu kemarin akan menggagalkan seluruh skenario pelemahan KPK secara legal konstitusional yang sedang dibawa Komisi III DPR, namun yang paling penting disini adalah Peranan Bambang S Widjojanto sebagai aktor paling berbakat di panggung publik, Bambang kemudian menjadi orang paling terkenal setelah Jokowi di benak pikiran rakyat, ketika Bambang S Widjojanto menjadi terkenal maka dengan mudah KPK yang awalnya adalah kekuatan entitas tak jelas seperti “Cicak Buaya” dan sekumpulan orang lemah secara politis seperti “Bibid Samad Riyanto dan Chandra Hamzah”. Menjadi KPK yang kuat secara politis dan berkharisma secara personal disini kekuatan Bambang yang mampu menjadi pengatur skenario emosi rakyat dan Abraham Samad dengan wajah menyenangkan akan menjadi kekuatan utama KPK, atau setidak-tidaknya mampu membangkrutkan kepopuleran Jenderal Timur Pradopo sebagai Kapolri dalam kasus Simulator SIM dan Penyidikan Irjen Djoko Susilo.

Selasa, 18 September 2012

Demo Anti Jepang di Cina : Perang Dagang Terselubung?

Wilayah Asia Yang Paling Kaya Di Dunia Sebagai Pasar Konsumen, Wilayah Produksi, Arus Modal, dan Sumber Daya Alam (Sumber foto : Asian Map.com)
Kini wilayah Asia bergerak cepat, seluruh kekuatan-kekuatan besar Asia ingin menjadi pemain dalam pasar besar di dunia. Asia menempati urutan nomor satu dalam jumlah penduduk, arus modal dan sumber daya alam. Inilah yang kemudian Asia akan jadi wilayah paling kaya di dunia, setelah di masa-masa kolonialisme antara abad 17-20 Asia dijadikan wilayah jajahan negara-negara Eropa, dan sepanjang abad 20 dipermainkan oleh politik luar negeri Amerika Serikat.

Pemain-pemain besar Asia yang muncul saat ini adalah : Arab Saudi dan sekitaran negara teluk yang kaya modal mereka menjadi kekuatan penuh atas sumber-sumber modal yang banyak ditanamkan di seluruh dunia, India yang kuat di sumber daya manusia, Jepang yang sangat tinggi tingkat kemampuan teknologinya, Korea Selatan sebagai bayang-bayang Jepang,  wilayah Indo-China dan Melayu (Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura dan Indonesia) yang pasar konsumsinya memiliki daya serap tinggi dan terbesar adalah Cina yang memiliki hampir semua lini :  Sumber Modal, Sumber Daya Alam, Tenaga Kerja dan Kekuatan Produksi Massal.

Kekuatan Cina jelas merupakan ancaman bagi kekuatan dagang Amerika Serikat yang menancapkan pengaruhnya di Asia Tenggara dan Timur selama lebih dari 60 tahun. Kekuatan massal produksi Cina sekarang sudah menguasai wilayah Asia Tenggara, bahkan invasi produksi Cina untuk alat-alat produksi merembes ke seluruh dataran Eropa, puncaknya adalah invasi produk Cina ke Amerika Serikat pada tahun 2005 yang membuat goncang pasaran produk Amerika Serikat sehingga mereka harus melakukan pengkhianatan terhadap politik liberal-nya dengan melakukan tindakan-tindakan diskriminatif atas perdagangannya dengan Cina.

Amerika Serikat selalu mendasari provokasi untuk melakukan konflik dagangnya. Wilayah Asia Tenggara adalah wilayah yang paling rentan dalam konflik dagang dan konflik militer, sementara Indonesia masih sangat bergantung sekali dengan arus modal dari Amerika Serikat, tapi beberapa kekuatan internal politik di Indonesia sudah melihat bahwa harus ada ‘kemandirian politik dan ekonomi’ seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1960-an.

Perang dagang bisa saja berlanjut menjadi konflik militer, atau konflik militer adalah diplomasi dalam perang dagang. Proxy War ini sering dimainkan Amerika Serikat setelah mereka belajar dari kegagalan pada perang Korea dan Perang Vietnam. Lalu apakah konflik di Pulau Daiyou akan menjadi perang Proxy antara Amerika Serikat dan Jepang saat ini?.

 Provokasi Jepang dan Kenangan Invasi Jepang ke Shanghai 
Pembantaian Nanking, Desember 1937 atas Orang Cina yang dilakukan Tentara Jepang. Merupakan Dendam Kolektif bagi Bangsa Cina kepada Bangsa Jepang (Sumber Foto : Wikipedia)


Bila dilihat dari trauma sejarah, bangsa Cina masih menyimpan dendam yang luar biasa terhadap bangsa Jepang. Dendam yang menjadi ingatan kolektif mereka adalah saat Invasi Jepang ke Shanghai pada tahun 1937, Invasi ini adalah puncak dari politik ekspansi Jepang yang merampas satu persatu wilayah Cina di masa lalu, perampasan ini dalam sejarah dikenal sebagai ‘insiden-insiden kecil’ seperti Insiden Jembatan Marcopolo’, Insiden Tembok Besar dan Insiden-Insiden lainnya yang jadi pelatuk dalam perang total Cina-Jepang pada tahun 1937 dimana Jenderal Kaum Nasionalis, Chiang Kai Sek menghubungi pihak Komunis dan bersekutu untuk bersatu melawan Jepang.  Jepang melakukan pendaratan amfibi ke wilayah Shanghai dan bertempur habis-habisan sekaligus melakukan tindakan-tindakan brutal seperti pemerkosaan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk shanghai.  Pendudukan kota Shanghai inilah yang kemudian menjadi awal kebangkitan Nasionalisme Cina periode kedua, pasca Sun Yat Sen.  -Kebangkitan yang lebih didasari pada politik kebanggaan orang Cina yang lebih superior dalam sejarah dan budaya ketimbang orang Jepang yang dianggapnya masih barbar.

Sampai sekarangpun, Cina tidak mau memaafkan Jepang atas tindakannya menginvasi mereka dan membantai jutaan orang Cina. Bahkan politik luar negeri Cina tanpa tertulis mengatakan Kuil Yasukuni yang merupakan makam bagi tentara Jepang veteran perang dunia II adalah kuil para ‘penjahat’  pejabat Cina yang berkunjung ke Jepang tidak boleh kesana, bahkan Perdana Menteri Jepang yang berani ke kuil Yasukuni dan melakukan penghormatan dianggap musuh insiden PM Jepang Junichiro Koizumi (menjabat : 2001-2007), hal yang sama juga dilakukan oleh Korea Selatan yang menganggap kuil Yasukuni sebagai tempat haram jadah.

Titik-titik sakral atas sengketa inilah yang bisa jadi permainan Amerika Serikat dalam geopolitiknya untuk memanfaatkan ketidakstabilan Asia Timur.  Hal ini akan sama persis dengan posisi konflik Israel-Palestina dimana AS mengambil keuntungan atas konflik ini dengan persekutuan kuat di negara-negara teluk sekaligus berperang di wilayah panas Arab Nasionalis seperti : Libya, Suriah, Mesir, Irak, Iran dan Lebanon.

Apakah Amerika Serikat akan bermain pada konflik ini?. Pemerintahan komunis RRC tentu tidak akan menurunkan gengsinya dengan melepas kepulauan Cina, tapi Jepang tidak juga memiliki kekuatan kemiliteran karena sejak pengakuan kekalahan Jepang atas Amerika Serikat setelah dibom sekutu pada Agustus 1945, Jepang hanya memiliki pasukan bela diri,  jadi apa yang dibaca intel-intel RRC atas pergerakan Jepang di Kepulauan Daiyou itu?

Konflik Pulau Daiyou, akankah jadi perang di Asia Timur Atau Hanya Gertak Perang Dagang AS kepada Cina? (Sumber : Wikipedia)

Dua aktivis Jepang mendarat di kepulauan itu sekaligus melakukan wawancara pers bahwa kepulauan itu adalah hak milik pribadi seorang warga Jepang yang sudah dibelinya. Sementara ada data-data masuk ke Pemerintahan RRC serta menyebarluas ke rakyat banyak di Cina soal adanya sumber daya alam yang luar biasa seperti minyak bumi di kawasan itu. Kenangan kolektif atas kebrutalan Jepang di masa lalu juga menjadi pemicu demonstrasi besar anti Jepang di Qingdao yang memaksa dua Pabrikan besar Jepang : Panasonic dan Canon menutup lokasi usahanya.
 
Ribuan Warga RRC Menyerbu Beberapa Perusahaan Jepang di Cina dan Menghancurkan Pintu-Pintunya, Kemarahan Orang-Orang Cina Ini Bisakah ini mengancam Ekonomi Jepang? (Sumber Foto : Reuters)

Orang-orang Jepang bersembunyi takut di sweeping sementara mobil-mobil Jepang dilempari batu.  Apa selanjutnya yang terjadi pada sengketa pulau ini, Jepang kemungkinan tidak memiliki minat atas perang, karena mereka sudah merasakan pahitnya perang, dan nasionalisme Jepang hanya tinggal kenangan, mereka sudah sepenuhnya jadi bangsa pedagang, sementara Cina jelas ini soal gengsi politik di depan Pemerintahan Taiwan, karena bisa saja Taiwan merebut Pulau itu dan menegakkan garis klaim Nasionalis tinggalan Chiang Kai Sek di depan para generasi Maois di RRC. Apakah ini dimanfaatkan oleh Amerika Serikat sebagai Perang Dagang dalam penguasaan wilayah dagang di Asia Timur dan Asia Tenggara dengan Jepang sebagai Boneka seperti layaknya Pemerintahan Bao Dai di Vietnam Selatan pada awal tahun 1960-an?

Kita tunggu perkembangan selanjutnya…………

Sabtu, 25 Agustus 2012

Catatan Akhir Agustus 2012

Masa dekat-dekat setelah kejatuhan Suharto saya menonton WS Rendra pidato di UI, salah satu yang saya ingat adalah kata-kata yang diucapkannya dengan lekukan intonasi seorang dramawan besar :

"Sesungguhnya demokrasi itu bukan soal kebebasan bicara, demokrasi sekali lagi bukan kebebasan bicara, tapi demokrasi ruang yang luas untuk rakyat masuk ke dalam partisipasi rakyat, rakyat berdaulat atas s
uaranya sendiri, rakyat menjadi pelaku atas demokrasi itu sendiri. Selama demokrasi bernaluri priyayi maka demokrasi tidak akan berkembang, selama partai-partai mengejar untuk menjadi birokrasi maka partai-partai akan gagap soal kebudayaan".

Itu yang saya ingat, apa yang dikatakan Rendra, 14 tahun yang lalu sekarang menjadi kenyataan, Partai-Partai bukan lagi agen pengubah budaya, Partai menjadi Brokerage house atas Proyek-Proyek Negara.

Yang saya suka bila mendengarkan Rendra pidato adalah saya selalu membayangkan gaya dia bicara seperti seorang Bung Karno, seperti seorang Pemenang, seperti seorang Panembahan Reso yang menguasai keadaan. Namun kedalaman maknanya dalam ucapannya menjadikan dia guru yang mampu membaca tanda-tanda jaman. Rendra hidup dalam dua dimensinya : Dimensi Nalar dan Dimensi Batin, dalam dimensi nalar dia mampu menjelaskan akar-akar rasional mengapa kita selalu saja menjadi bangsa yang kalah, ia membahas soal tata bahasa, ilmu hitung dan kemampuan membuat himpunan-himpunan dalam persoalan manajemen kolonial penaklukan Raja-Raja Jawa oleh cukong loji Belanda, dalam soal kebatinan, Rendra mengajak untuk melihat secara waspada, sebuah keadaan selalu ditunjukkan oleh pertanda, inilah kenapa orang Jawa tidak pernah berkata "Saya Pikir" tapi berkata "Saya rasa".

Rendra selalu menghidupkan apa yang disebut sebagai "Daulat Rakyat" inti demokrasi itu adalah daulat manusia atas hidupnya sendiri dalam kerja masyarakat. Di jaman Suharto, daulat rakyat itu dibatasi dengan tiga B : Buang, Bui dan Bunuh sementara di jaman Reformasi ini daulat rakyat ditandai oleh 3 D : Duit, Duit dan Duit.

Tapi apakah kemudian rakyat bisa bangkit melawan sistem manajemen politik melewati basis kepartaian? tidak sama sekali, dalam sejarah modern, gerakan politik dikoordinasi oleh gerakan kepartaian, tidak pernah ada perlawanan politik tanpa pergerakan kepartaian, hanya saja soal ini sejarah modern terbelenggu antara Maklumat X 1945 dengan Dekrit 1959 dan Fusi 1973. Partai-partai akan selalu selamanya menjadi mesin koordinasi atas kerja rakyat.

Dengan seluruh kehormatan, Faisal Basrie mampu mengangkat gerakan individual dalam melawan sistem kepartaian, tapi Faisal Basrie terjebak pada kegagapannya dalam mengolah politik paling pragmatis, ia gagal memahami pemasaran politik yang paling mendasar " Segmentasi, Targeting dan Positioning" Tim Suksesnya tidak mampu langsung terjun ke dalam persoalan-persoalan rakyat, mereka berinteraksi di lingkungan itu-itu saja : kalangan menengah kota, intelek-intelek urban dengan keuangan yang sudah mapan, mereka tidak masuk dalam alam pikir rakyat yang paling sederhana. Inilah kemudian perlu dipertanyakan, sejauh mana kekuatan tanpa partai mampu bertarung dalam agenda-agenda perebutan kekuasaan.

Pada akhirnya setiap kerja politik akan membutuhkan himpunan, dan himpunan tetaplah partai-partai, maka tugas dari kaum pembaharu politik adalah melakukan revisi ulang atas pertanyaan paling filosofis, "apa itu Partai?" -Pertanyaan paling mendasar ini sebenarnya sudah diajukan WS Rendra sendiri "Daulat Rakyat, akan membuat Daulat Kebudayaan". Apakah kemudian Partai bisa menjadi bagian dari Daulat Rakyat itu sendiri, sama persis ketika Danton ditengah huru hara di kota Paris "bisakah kita menertibkan ini dengan himpunan-himpunan yang terorganisir"?

Terus terang saja saya merindukan sebuah Partai yang kadernya bukanlah mereka yang saling BBM-an dan telpon2an "Bagaimana Bang, bagaimana kakanda proyek kita"....bukan itu, saya merindukan sebuah Partai yang kader-kadernya mampu menjadi bagian produksi sastra, yang kader-kadernya mampu membaca persoalan rakyat paling mendasar, yang kadernya mampu memahami simpul-simpul ketertindasan rakyat dalam ruang partisipatifnya, dan saya yakin suatu saat kita bisa bila kita bergerak, mungkin dalam satu soal saat ini saya berharap pada Jokowi.