Bukankah malam selalu tetap menjadi malam, bila malam itu adalah matamu
Bukankah bintang akan tetap menjadi bintang, bila bintang itu adalah ribuan mimpimu
Seperti debu yang menempel di tepi jendela kaca
begitulah dirimu mendikte seluruh perasaanku
Aku ingin menghancurkan candi rindumu
Tapi yang kudapat justru telaga air mata, telaga dewa kesunyian
Anda, 13 Februari 2018
Cari Blog Ini
Selasa, 13 Februari 2018
Minggu, 25 Mei 2014
mencari angin menadah hujan
pada tepi tiang jendela dan siku-siku rumah
mata api hari ini membakar sepi
dan bulan menjadi tengkorak yang dilupakan
putih tanpa nyala
Aku kangen
kangen pada selendang yang kau ikatkan di masa-masa lama
jalan-jalan kita dan cerita di tengah malam
aku kangen pada ingatanmu
tentang buah2an atau makanan sehat
Laut menghitam angkasa menjadi neraka
tak peduli ombak meraksasa sebesar gunung merbabu
matamu yang kuingat menusuk tajam pelan-pelan
Terpaksa hidup kutantang sendirian
Sore dulu begitu indah
dengan gagasan dan warna pelangi
seribu kenangan menyerbu bagai roman picisan yang tak kunjung selesai
dan mata hujan menjadi langit-langit setiap bab cerita yang kita bacai
Bunga itu tumbuh pelan
bunga yang kau tanam dengan derasan tanganmu dan doamu di tiap malam
sajadah merah sudah bersimbah air mata
dan lamunan kekesalan menjadi kerak-kerak luka
Aku kangen dan ingin memelukmu
aku rindu pada badai yang membesarkan pikiran
aku rindu pada gairah membangun masa depan yang kau sodorkan
aku rindu pada impian raksasa
aku rindu pada kesederhanaan
Balok-balok kayu dan batu yang sudah kau susun di hatiku
kini sudah menjadi pintu membaja
susah untuk dibuka
mengganti hati, hanyalah urusan tawar-menawar kehidupan
bukan ketulusan, bukan niat menemani
Kesetiaan apakah bisa aku pertahankan
tak peduli aku harus menjadi majnun yang merenungkan layla
tak peduli aku harus menjadi Romeo yang kapiran
Malam ini menepi
esok pagi datang
dan separuh jiwaku hilang
aku kangen
Rinduku adalah sayap-sayap patah yang kehilangan arah
burung tak lagi punya nama
harimau tak lagi prabawa
tanpamu separuh jiwa terbang ke langit jingga
Aku mencintaimu lebih dari tapal batas yang engkau mengerti
aku menyayangimu seperti seorang ibu pada anaknya, tanpa batas waktu
Luka ini sudah menjadi candi batu
diam membisu di hatiku
ruang suci candi hanya menyimpan namamu
dan ketika perkamen-perkamen kisahmu dibuka
hanya kangen yang aku rasai.
Anda Kusmawan, 2014
Selasa, 07 Mei 2013
Allah swt Menyimpan Jodohmu.......
Andaa, Allah swt menyimpan jodohmu dengan baik, ia akan datang di saat
yang tepat dan ketika engkau juga tepat menerimanya. Allah swt
mengetahui segala hal tentang dirimu dan tunggulah di satu masa yang
tepat itu akan datang kau harus siap untuk membahagiakan kehendak Allah
swt. Dari semua hal bersyukurlah apa yang kamu alami seberat apapun
cobaan yang kamu hadapi. Karena itu semua pelajaranmu untuk menjadi
dewasa.
Inilah...rinduku yang diterbangkan oleh angin
Aku akan berdiri di tepi jendela
tapi tak menguapkan udara
aku hanya melihat daun runtuh
menimbuni halaman
dan melihat bulan yang sayup-sayup perak warnanya
Rinduku seperti gunung kapur
menukar air kali
dan menjadikannya tiada
kapur-kapur yang menuliskan ajaran anak murid
pada sekolah, pada kehidupan
Inilah rinduku
yang diterbangkan oleh angin
dan memesankan satu kata : Aku mencintaimu.
tapi tak menguapkan udara
aku hanya melihat daun runtuh
menimbuni halaman
dan melihat bulan yang sayup-sayup perak warnanya
Rinduku seperti gunung kapur
menukar air kali
dan menjadikannya tiada
kapur-kapur yang menuliskan ajaran anak murid
pada sekolah, pada kehidupan
Inilah rinduku
yang diterbangkan oleh angin
dan memesankan satu kata : Aku mencintaimu.
Kamis, 10 Januari 2013
Jokowi dan Kisah Jalan Sukarno
Baru-baru ini Jokowi akan berencana
memberi nama salah satu ruas jalan besar di Jakarta dengan nama Sukarno.
Mungkin bagi generasi yang lebih muda, bagi mereka yang lahir
pertengahan tahun 80-an banyak yang tak paham, kenapa kok nama Jalan
Sukarno saja jadi berita yang menghebohkan, ada apa dengan Jalan
Sukarno?
Di Indonesia, salah satu bentuk
penghormatan adalah memberikan nama Jalan Utama dengan nama Pahlawan
Nasional, atau Pahlawan yang dianggap berjasa di satu wilayah. Tak harus
Pahlawan Nasional memang, seperti di Bogor terkenal sekali jalan Mayor
Oking atau di Depok ada jalan besar nama Margonda, yang diambil dari
nama Umar Ganda, salah satu pejuang di masa Revolusi 1945 yang memimpin
barisan berani mati di sekitar Kukusan sampai Pondok Cina dan pernah
menyerbu tangsi KNIL di sekitar Pasar Minggu, juga menyerang Republik
Depok (pada masa Revolusi Proklamasi 1945, Depok merupakan negara
tersendiri yang dikuasai kelompok keturunan Belanda-Depok). Nama jalan
juga kerap menjadi ajang pertarungan perkelahian sejarah, peristiwa
pembantaian Bubat yang menewaskan seluruh delegasi Pajajaran dalam
peristiwa “Pernikahan Politik Hayam Wuruk dan Puteri Dyah Pitaloka”
pada tahun 1357 sampai sekarang masih menyimpan luka dan tidak satu
ruas-pun jalan di Bandung menggunakan nama Jalan Gadjah Mada, padahal di
kota-kota lain di Jawa, nama Jalan Gadjah Mada selalu menjadi nama
jalan besar bahkan jalan boulevard.
![]() |
| Bung Karno pada Tahun 1960 meresmikan Jalan Sukarno di Rabat, jalan ini dikenal dengan nama sharia Al-Rais Ahmed Sukarno, Jalan ini merupakan pusat kota yang ramai di Rabat (Sumber Photo : ANTARA) |
“De-Sukarnoisasi adalah Agenda yang
berkelanjutan dan menyeluruh” begitulah salah satu isi tujuan politik
Kopkamtib pada tahun 1968. De-Sukarnoisasi harus didukung empat kekuatan
yaitu : Pers, Jaringan Mahasiswa, Intelektual dan Birokrasi. Strategi
ini dijadikan bagian langsung dari Opsus dan ketertiban sipil.
Usaha-usaha De-Sukarnoisasi dengan menjelek-jelekkan Sukarno sangat
hebat di tahun 1968, bahkan secara berkala koran “Mahasiswa Indonesia”
yang saat itu dipimpin banyak tokoh mahasiswa termasuk Rahman Tolleng,
secara intens menyerang Sukarno dengan tuduhan macam-macam, salah satu
tulisan yang kerap menyerang Sukarno ditulis oleh seorang jurnalis MI
bernama Aldy Anwar. -Dokumentasi penyerangan ini kemudian dibundel oleh
penulis Perancis, Francois Raillon dalam bukunya “Politik dan Ideologi
Mahasiswa Indonesia”.
Kebangkrutan Sukarno adalah tujuan utama
berpolitik bagi mereka yang mendukung Orde Baru. Disini Suharto sebagai
Presiden RI berusaha bermain cantik, Suharto selalu menjaga jarak
dengan kelompok yang mati-matian menghancurkan nama Sukarno, tapi kadang
Suharto juga membiarkan penghancuran nilai-nilai Sukarno itu. Usaha
pembangkrutan nama Sukarno terus dilakukan, namun pada saat kematian
Sukarno pada tanggal 21 Juni 1970, hampir semua bangsa ini menangisinya,
pers kembali balik memuji-muji Bung Karno. Sebuah era baru kebangkitan
nama Sukarno.
![]() |
| Jalan Sukarno di Mesir, Juga Merupakan Pusat Kota. (Sumber Photo : Kompas) |
Pada tahun 1978, saat itu desakan dunia
Internasional menguat terhadap tahanan politik Orde Baru dan ada secara
bertahap para tahanan politik dibebaskan. Di kalangan internal Suharto
sudah ada gagasan untuk kembali menghargai Sukarno. Namun gagasan ini
diperhalus dengan bahasa-bahasa patriotisme, ucapan-ucapan Sukarno kerap
didengungkan dalam pidato-pidato politik Orde Baru, termasuk ucapan
terkenal Sukarno di Tambaksari Surabaya menjelang pertempuran 10
November 1945 “Bangsa ini mencintai kebebasan tapi lebih cinta
kemerdekaan”. Ucapan itu sering dilontarkan pejabat Orde Baru, termasuk
Presiden Suharto dan Menteri Penerangan Ali Moertopo pada awal tahun
1980-an.
Puncak nostalgia bangsa ini kepada
Sukarno sekaligus menciptakan arus besar melawan politik De-Sukarnoisasi
adalah ketika Suharto memutuskan untuk menggempur Partai Persatuan
Pembangunan (PPP), menceraikan PPP dengan NU dan mendekati PDI lewat
lobbying politik Jenderal Benny Moerdani dimana salah satu anak didik
Benny Moerdani, Drs Soeryadi adalah ketua PDI. Jenderal Benny Moerdani
sendiri memiliki kenangan manis dengan Bung Karno, dia adalah salah
tentara kesayangan Sukarno. Semasa Benny masih berpangkat Letnan,
Sukarno pernah berujar bahwa “Benny itu anak lanangku” didepan beberapa
Jenderal, di satu sore menjelang tahun 1965 bahkan Benny sempat diminta
untuk menikahi salah satu anak perempuan Sukarno, tapi Benny menolak
karena sudah punya pacar. Benny Moerdani dianggap oleh banyak analis
Politik sebagai salah satu pintu gerbang terbukanya arus besar lahirnya
“politik Sukarno” dalam konstelasi politik nasional, bahkan kelak
dikemudian waktu “Politik Sukarno” adalah rivaal terkuat Orde Baru dan
penggulingan Suharto tak lepas dari beredarnya banyak buku-buku yang
menjelaskan bagaimana kekuatan Nasionalisme Sukarno terbentuk. Gerakan
bawah tanah para mahasiswa dan intelektual yang menjadi penggerak
demonstrasi besar-besaran 1998 kerap menggunakan anatomi pemikiran
Sukarno sebagai penjelasan antitesis politik Orde Baru.
Pada saat pembangunan Bandar Udara di
Cengkareng, saat itu didebatkan apa nama Bandara Utama Republik
Indonesia, adalah suatu kebiasaan memberikan nama Bandara Nasional
kepada nama Pahlawan yang dianggap paling berjasa bagi negaranya. Ada
beberapa usulan yang masuk ada nama Bandara Gadjah Mada, Bandara MH
Thamrin, bahkan ada yang mengusulkan Bandara Sudirman. Namun Pak Harto
saat itu menolak semua usulan dan menyetujui usulan nama Bandara
Sukarno-Hatta, alasan Pak Harto saat itu adalah yang membentuk negara
ini lewat tanggung jawab dua orang itu yaitu : Bung Karno dan Bung
Hatta, mereka adalah jaminan kepada rakyat, leher mereka menjadi
taruhannya saat negeri ini berdiri. Pak Harto memberikan nama itu
setelah melakukan perenungan selama tiga hari. Keputusan nama Bandara
Sukarno-Hatta sendiri keluar pada jam 6 pagi tanggal 10 November tahun
1981 menjelang ia berangkat ke Taman Pahlawan Kalibata, peresmian
bandara itu sendiri dilakukan pada tahun 1985.
Penisbahan nama Bandara Sukarno-Hatta di
Bandara Cengkareng merupakan puncak dari politik kompromi Suharto
terhadap kaum Sukarnois. Namun secara implisit Orde Baru hanya mengakui
jasa Sukarno terhadap Republik yaitu dibatasi sampai pada tahun 1956,
tahun dimana Bung Hatta mengundurkan diri, antara tahun 1957 sampai
dengan tahun 1965 adalah tahun yang dikutuki oleh Orde Baru, padahal
bagi pengikut Sukarno atau kaum Sukarnois tahun 1957 sampai dengan tahun
1965 disebut sebagai “Tahun Puncak Kedaulatan Sukarno” itu adalah tahun
panjang yang sakral dan menyerempet bahaya demi tujuan nasional dan
tujuan revolusi sosialisme ala Sukarno.
Nama jalan Sukarno sendiri masih
dilarang oleh Orde Baru, nama Sukarno harus melibatkan nama Hatta agar
kenangan pada Sukarno sendiri dibatasi ‘kenangan terhadap Proklamasi’
bukan kenangan terhadap ‘Revolusi’.
Namun kini angin berubah cepat, setelah
bangkrutnya era Neoliberalisme yang sempat merajai Indonesia setelah
kejatuhan Suharto, maka kekuatan kaum Sukarnois bangkit. Di Jakarta,
kekuatan Sukarnois disimbolisasi dalam diri Jokowi, di Semarang
Rustriningsih mulai berkibar sementara di Jawa Timur terutama wilayah
Jawa Timur subkultur Mataraman nama Sukarno tetap menjadi nomor satu,
diperkirakan PDIP akan menjadi Partai terbesar nomor dua bahkan nomor
satu, setelah kebangkrutan Partai Demokrat yang dilipat karena masalah
korupsi. Di Jawa Barat sendiri, salah satu anak didik ideologis Sukarno,
Rieke Dyah Pitaloka sedang merebut kekuasaan politik di Jawa Barat.
Salah satu misi terpenting Jokowi di DKI
Jakarta selain mengenalkan tata pemerintahan yang bersih dan berdaulat
pro rakyat adalah mengenalkan rasa memiliki bangsa ini lewat alam
pikiran Sukarno, salah satu alam pikiran Sukarno paling penting dalam
peradaban kemerdekaan Indonesia adalah “Patriotisme yang Totaliteit”
Totalitas rasa Patriot untuk mencintai dan membela bangsa ini.
“Jalan Sukarno” sebentar lagi akan
banyak memenuhi ruang kota di Indonesia, ini sekaligus menghancurkan
stigma politik 1967 dimana Bung Karno dianggap ‘penjahat’ dalam gerakan
Gestapu Untung 1965, sekaligus mengembalikan kehormatan bagi yang
berhak.
Sementara “Jalan Sukarno” sebagai ideologi, akan menjadi pilihan paling panas dalam pertarungan politik 2014.
Senin, 10 Desember 2012
Sajak Pagi
Pada musim penghujan
Di tahun lalu
Pada teka teki kesunyian
Ketika kabut sudah menjadi api
Dan malam menyelesaikan mimpi-mimpi
Pada satu musim penghujan
Air mata mengenangmu habis sudah
Dan kau entah dimana
Di tahun lalu
Pada teka teki kesunyian
Ketika kabut sudah menjadi api
Dan malam menyelesaikan mimpi-mimpi
Pada satu musim penghujan
Air mata mengenangmu habis sudah
Dan kau entah dimana
Pada satu musim penghujan di waktu sekarang ini
Namamu, menjadi batu-batu candi yang beku dan kaku
-Desember 2012-.
Namamu, menjadi batu-batu candi yang beku dan kaku
-Desember 2012-.
Rabu, 05 Desember 2012
Kangen?
Desember, hujan dan namamu
Jalan setapak setengah becek
Wajahmu yang terus mengakar
Lalu kesepian telah kehilangan kedaulatannya.
Mencintaimu seperti membakar dupa tapi dengan mantera yang gagal bersuara.
Aku rindu pada wajahmu
Pada bulan desember, bulan penuh teka teki gerak udara.
Anda Kusmawan
Jalan setapak setengah becek
Wajahmu yang terus mengakar
Lalu kesepian telah kehilangan kedaulatannya.
Mencintaimu seperti membakar dupa tapi dengan mantera yang gagal bersuara.
Aku rindu pada wajahmu
Pada bulan desember, bulan penuh teka teki gerak udara.
Anda Kusmawan
Langganan:
Postingan (Atom)

