Aku akan berdiri di tepi jendela
tapi tak menguapkan udara
aku hanya melihat daun runtuh
menimbuni halaman
dan melihat bulan yang sayup-sayup perak warnanya
Rinduku seperti gunung kapur
menukar air kali
dan menjadikannya tiada
kapur-kapur yang menuliskan ajaran anak murid
pada sekolah, pada kehidupan
Inilah rinduku
yang diterbangkan oleh angin
dan memesankan satu kata : Aku mencintaimu.
Cari Blog Ini
Selasa, 07 Mei 2013
Kamis, 10 Januari 2013
Jokowi dan Kisah Jalan Sukarno
Baru-baru ini Jokowi akan berencana
memberi nama salah satu ruas jalan besar di Jakarta dengan nama Sukarno.
Mungkin bagi generasi yang lebih muda, bagi mereka yang lahir
pertengahan tahun 80-an banyak yang tak paham, kenapa kok nama Jalan
Sukarno saja jadi berita yang menghebohkan, ada apa dengan Jalan
Sukarno?
Di Indonesia, salah satu bentuk
penghormatan adalah memberikan nama Jalan Utama dengan nama Pahlawan
Nasional, atau Pahlawan yang dianggap berjasa di satu wilayah. Tak harus
Pahlawan Nasional memang, seperti di Bogor terkenal sekali jalan Mayor
Oking atau di Depok ada jalan besar nama Margonda, yang diambil dari
nama Umar Ganda, salah satu pejuang di masa Revolusi 1945 yang memimpin
barisan berani mati di sekitar Kukusan sampai Pondok Cina dan pernah
menyerbu tangsi KNIL di sekitar Pasar Minggu, juga menyerang Republik
Depok (pada masa Revolusi Proklamasi 1945, Depok merupakan negara
tersendiri yang dikuasai kelompok keturunan Belanda-Depok). Nama jalan
juga kerap menjadi ajang pertarungan perkelahian sejarah, peristiwa
pembantaian Bubat yang menewaskan seluruh delegasi Pajajaran dalam
peristiwa “Pernikahan Politik Hayam Wuruk dan Puteri Dyah Pitaloka”
pada tahun 1357 sampai sekarang masih menyimpan luka dan tidak satu
ruas-pun jalan di Bandung menggunakan nama Jalan Gadjah Mada, padahal di
kota-kota lain di Jawa, nama Jalan Gadjah Mada selalu menjadi nama
jalan besar bahkan jalan boulevard.
![]() |
| Bung Karno pada Tahun 1960 meresmikan Jalan Sukarno di Rabat, jalan ini dikenal dengan nama sharia Al-Rais Ahmed Sukarno, Jalan ini merupakan pusat kota yang ramai di Rabat (Sumber Photo : ANTARA) |
“De-Sukarnoisasi adalah Agenda yang
berkelanjutan dan menyeluruh” begitulah salah satu isi tujuan politik
Kopkamtib pada tahun 1968. De-Sukarnoisasi harus didukung empat kekuatan
yaitu : Pers, Jaringan Mahasiswa, Intelektual dan Birokrasi. Strategi
ini dijadikan bagian langsung dari Opsus dan ketertiban sipil.
Usaha-usaha De-Sukarnoisasi dengan menjelek-jelekkan Sukarno sangat
hebat di tahun 1968, bahkan secara berkala koran “Mahasiswa Indonesia”
yang saat itu dipimpin banyak tokoh mahasiswa termasuk Rahman Tolleng,
secara intens menyerang Sukarno dengan tuduhan macam-macam, salah satu
tulisan yang kerap menyerang Sukarno ditulis oleh seorang jurnalis MI
bernama Aldy Anwar. -Dokumentasi penyerangan ini kemudian dibundel oleh
penulis Perancis, Francois Raillon dalam bukunya “Politik dan Ideologi
Mahasiswa Indonesia”.
Kebangkrutan Sukarno adalah tujuan utama
berpolitik bagi mereka yang mendukung Orde Baru. Disini Suharto sebagai
Presiden RI berusaha bermain cantik, Suharto selalu menjaga jarak
dengan kelompok yang mati-matian menghancurkan nama Sukarno, tapi kadang
Suharto juga membiarkan penghancuran nilai-nilai Sukarno itu. Usaha
pembangkrutan nama Sukarno terus dilakukan, namun pada saat kematian
Sukarno pada tanggal 21 Juni 1970, hampir semua bangsa ini menangisinya,
pers kembali balik memuji-muji Bung Karno. Sebuah era baru kebangkitan
nama Sukarno.
![]() |
| Jalan Sukarno di Mesir, Juga Merupakan Pusat Kota. (Sumber Photo : Kompas) |
Pada tahun 1978, saat itu desakan dunia
Internasional menguat terhadap tahanan politik Orde Baru dan ada secara
bertahap para tahanan politik dibebaskan. Di kalangan internal Suharto
sudah ada gagasan untuk kembali menghargai Sukarno. Namun gagasan ini
diperhalus dengan bahasa-bahasa patriotisme, ucapan-ucapan Sukarno kerap
didengungkan dalam pidato-pidato politik Orde Baru, termasuk ucapan
terkenal Sukarno di Tambaksari Surabaya menjelang pertempuran 10
November 1945 “Bangsa ini mencintai kebebasan tapi lebih cinta
kemerdekaan”. Ucapan itu sering dilontarkan pejabat Orde Baru, termasuk
Presiden Suharto dan Menteri Penerangan Ali Moertopo pada awal tahun
1980-an.
Puncak nostalgia bangsa ini kepada
Sukarno sekaligus menciptakan arus besar melawan politik De-Sukarnoisasi
adalah ketika Suharto memutuskan untuk menggempur Partai Persatuan
Pembangunan (PPP), menceraikan PPP dengan NU dan mendekati PDI lewat
lobbying politik Jenderal Benny Moerdani dimana salah satu anak didik
Benny Moerdani, Drs Soeryadi adalah ketua PDI. Jenderal Benny Moerdani
sendiri memiliki kenangan manis dengan Bung Karno, dia adalah salah
tentara kesayangan Sukarno. Semasa Benny masih berpangkat Letnan,
Sukarno pernah berujar bahwa “Benny itu anak lanangku” didepan beberapa
Jenderal, di satu sore menjelang tahun 1965 bahkan Benny sempat diminta
untuk menikahi salah satu anak perempuan Sukarno, tapi Benny menolak
karena sudah punya pacar. Benny Moerdani dianggap oleh banyak analis
Politik sebagai salah satu pintu gerbang terbukanya arus besar lahirnya
“politik Sukarno” dalam konstelasi politik nasional, bahkan kelak
dikemudian waktu “Politik Sukarno” adalah rivaal terkuat Orde Baru dan
penggulingan Suharto tak lepas dari beredarnya banyak buku-buku yang
menjelaskan bagaimana kekuatan Nasionalisme Sukarno terbentuk. Gerakan
bawah tanah para mahasiswa dan intelektual yang menjadi penggerak
demonstrasi besar-besaran 1998 kerap menggunakan anatomi pemikiran
Sukarno sebagai penjelasan antitesis politik Orde Baru.
Pada saat pembangunan Bandar Udara di
Cengkareng, saat itu didebatkan apa nama Bandara Utama Republik
Indonesia, adalah suatu kebiasaan memberikan nama Bandara Nasional
kepada nama Pahlawan yang dianggap paling berjasa bagi negaranya. Ada
beberapa usulan yang masuk ada nama Bandara Gadjah Mada, Bandara MH
Thamrin, bahkan ada yang mengusulkan Bandara Sudirman. Namun Pak Harto
saat itu menolak semua usulan dan menyetujui usulan nama Bandara
Sukarno-Hatta, alasan Pak Harto saat itu adalah yang membentuk negara
ini lewat tanggung jawab dua orang itu yaitu : Bung Karno dan Bung
Hatta, mereka adalah jaminan kepada rakyat, leher mereka menjadi
taruhannya saat negeri ini berdiri. Pak Harto memberikan nama itu
setelah melakukan perenungan selama tiga hari. Keputusan nama Bandara
Sukarno-Hatta sendiri keluar pada jam 6 pagi tanggal 10 November tahun
1981 menjelang ia berangkat ke Taman Pahlawan Kalibata, peresmian
bandara itu sendiri dilakukan pada tahun 1985.
Penisbahan nama Bandara Sukarno-Hatta di
Bandara Cengkareng merupakan puncak dari politik kompromi Suharto
terhadap kaum Sukarnois. Namun secara implisit Orde Baru hanya mengakui
jasa Sukarno terhadap Republik yaitu dibatasi sampai pada tahun 1956,
tahun dimana Bung Hatta mengundurkan diri, antara tahun 1957 sampai
dengan tahun 1965 adalah tahun yang dikutuki oleh Orde Baru, padahal
bagi pengikut Sukarno atau kaum Sukarnois tahun 1957 sampai dengan tahun
1965 disebut sebagai “Tahun Puncak Kedaulatan Sukarno” itu adalah tahun
panjang yang sakral dan menyerempet bahaya demi tujuan nasional dan
tujuan revolusi sosialisme ala Sukarno.
Nama jalan Sukarno sendiri masih
dilarang oleh Orde Baru, nama Sukarno harus melibatkan nama Hatta agar
kenangan pada Sukarno sendiri dibatasi ‘kenangan terhadap Proklamasi’
bukan kenangan terhadap ‘Revolusi’.
Namun kini angin berubah cepat, setelah
bangkrutnya era Neoliberalisme yang sempat merajai Indonesia setelah
kejatuhan Suharto, maka kekuatan kaum Sukarnois bangkit. Di Jakarta,
kekuatan Sukarnois disimbolisasi dalam diri Jokowi, di Semarang
Rustriningsih mulai berkibar sementara di Jawa Timur terutama wilayah
Jawa Timur subkultur Mataraman nama Sukarno tetap menjadi nomor satu,
diperkirakan PDIP akan menjadi Partai terbesar nomor dua bahkan nomor
satu, setelah kebangkrutan Partai Demokrat yang dilipat karena masalah
korupsi. Di Jawa Barat sendiri, salah satu anak didik ideologis Sukarno,
Rieke Dyah Pitaloka sedang merebut kekuasaan politik di Jawa Barat.
Salah satu misi terpenting Jokowi di DKI
Jakarta selain mengenalkan tata pemerintahan yang bersih dan berdaulat
pro rakyat adalah mengenalkan rasa memiliki bangsa ini lewat alam
pikiran Sukarno, salah satu alam pikiran Sukarno paling penting dalam
peradaban kemerdekaan Indonesia adalah “Patriotisme yang Totaliteit”
Totalitas rasa Patriot untuk mencintai dan membela bangsa ini.
“Jalan Sukarno” sebentar lagi akan
banyak memenuhi ruang kota di Indonesia, ini sekaligus menghancurkan
stigma politik 1967 dimana Bung Karno dianggap ‘penjahat’ dalam gerakan
Gestapu Untung 1965, sekaligus mengembalikan kehormatan bagi yang
berhak.
Sementara “Jalan Sukarno” sebagai ideologi, akan menjadi pilihan paling panas dalam pertarungan politik 2014.
Senin, 10 Desember 2012
Sajak Pagi
Pada musim penghujan
Di tahun lalu
Pada teka teki kesunyian
Ketika kabut sudah menjadi api
Dan malam menyelesaikan mimpi-mimpi
Pada satu musim penghujan
Air mata mengenangmu habis sudah
Dan kau entah dimana
Di tahun lalu
Pada teka teki kesunyian
Ketika kabut sudah menjadi api
Dan malam menyelesaikan mimpi-mimpi
Pada satu musim penghujan
Air mata mengenangmu habis sudah
Dan kau entah dimana
Pada satu musim penghujan di waktu sekarang ini
Namamu, menjadi batu-batu candi yang beku dan kaku
-Desember 2012-.
Namamu, menjadi batu-batu candi yang beku dan kaku
-Desember 2012-.
Rabu, 05 Desember 2012
Kangen?
Desember, hujan dan namamu
Jalan setapak setengah becek
Wajahmu yang terus mengakar
Lalu kesepian telah kehilangan kedaulatannya.
Mencintaimu seperti membakar dupa tapi dengan mantera yang gagal bersuara.
Aku rindu pada wajahmu
Pada bulan desember, bulan penuh teka teki gerak udara.
Anda Kusmawan
Jalan setapak setengah becek
Wajahmu yang terus mengakar
Lalu kesepian telah kehilangan kedaulatannya.
Mencintaimu seperti membakar dupa tapi dengan mantera yang gagal bersuara.
Aku rindu pada wajahmu
Pada bulan desember, bulan penuh teka teki gerak udara.
Anda Kusmawan
Senin, 12 November 2012
Rasa Keindonesiaan......
Abis
baca blog-blog wanita Indonesia yang nikah dengan bule, dari lima orang
yang nulis semuanya hampir merindukan Indonesia tanah kelahirannya,
tapi hampir semuanya juga membenci Indonesia sebagai sebuah sistem. Ada
seorang wanita yang ibunya harus keluar dari kamar ICU karena tidak
sanggup membayar biaya kamar dan terpaksa harus mati tanpa perawatan
karena uang, lalu ia melihat sistem kesehatan
di Kanada yang begitu manusiawi, padahal ibunya amat mencintai
Indonesia, amat bangga dengan bangsanya bila nonton Bulutangkis - dia
menceritakan saat Icuk bertanding lawan Yang Yang ibunya selalu nonton,
saat sepakbola bertanding ibunya selalu berteriak-teriak, nasionalisme
yang begitu banyak melekat pada diri orang Indonesia. Tapi kadang
nasionalisme ini dibayar dengan sistem yang bejat.
Hebatnya lagi
orang Indonesia tidak pernah membenci bangsanya, sedendam-dendam apapun,
bila ia mengingat Indonesia di negeri yang jauh air matanya selalu
menetes. Ada cerita lagi dari satu wanita Indonesia yang tinggal di
Belgia dan menikah dengan lelaki Belgia, ia punya pengalaman pahit
dengan pemerintahan geblek di Indonesia, tapi ia selalu memiliki
kebiasaan di setiap tanggal 17 Agustus untuk duduk di tepi jendela pada
satu malam dan meneteskan air mata, ia menyanyi sendirian lagu-lagu
tentang kerinduan pada bangsanya.
Mencintai bangsa adalah hal
yang abstrak, ia tidak begitu jelas, tapi ia nyata, ia memenuhi ruang
pikiran dan hati bagi bangsanya. Indonesia ini aneh tiap hari ada saja
hal-hal yang menyebalkan untuk dibicarakan, tapi kecintaan yang luar
biasa tidak pernah menjadikan orang Indonesia terasing oleh
kebangsaannya. Ada satu cerita yang menarik di Kanada juga, ia menangis
saat harus berganti WNI, padahal ia dulu tidak pernah merasa mencintai
Indonesia saat tinggal di Semarang, ia merasa biasa saja, ia bolos saat
upacara bendera dan ia tak hapal nama-nama wapres Indonesia, ia bahkan
tak tahu pulau Sulawesi bila ia melihat gambar peta, Ia keturunan
Cina-Jawa, sebuah peranakan khas Semarang dengan identitas tersendiri,
namun ia ketika ia harus berganti kewarganegaraan ia menangis, ada
sesuatu yang hilang. Akhirnya ia menarik pena-nya menolak tanda tangan
kewarganegaraan dan tetap memilih menjadi orang Indonesia.
Nasionalisme memang absurd, ia seperti udara tak terlihat tapi terasa.........
Minggu, 28 Oktober 2012
Sajakku, Sumpah Pemuda
Sajakku sajak pemuda yang bersumpah
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko
Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.
Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......
Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.
Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.
Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......
Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.
Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :
Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....
Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.
Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.
Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.
Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......
Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko
Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.
Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......
Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.
Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.
Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......
Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.
Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :
Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....
Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.
Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.
Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.
Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......
Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....
Kamis, 11 Oktober 2012
Tentang Rel dan Kamu
Tentang Rel dan Kamu
Dua garis rel memanjang
dari ujung cakrawala yang tak kelihatan
banyak ketakutan pada awan jingga
di satu sore yang tenang
Entah kenapa wajahmu menjadi hiasan batu-batu
mengenangmu seperti membuka kertas tua yang usang
rel itu masih terbujur
sentosa membariskan kayu-kayu jati
matahari masih padu
diantara kenangan-kenangan manis
yang dulu
Pada satu sore
ketika kenangan mulai layu
wajahmu mati
pada sudut pikiranku
tapi cintaku padamu
seperti air yang menggenang di air mataku
ia tak pernah habis.............
Dua garis rel memanjang
dari ujung cakrawala yang tak kelihatan
banyak ketakutan pada awan jingga
di satu sore yang tenang
Entah kenapa wajahmu menjadi hiasan batu-batu
mengenangmu seperti membuka kertas tua yang usang
rel itu masih terbujur
sentosa membariskan kayu-kayu jati
matahari masih padu
diantara kenangan-kenangan manis
yang dulu
Pada satu sore
ketika kenangan mulai layu
wajahmu mati
pada sudut pikiranku
tapi cintaku padamu
seperti air yang menggenang di air mataku
ia tak pernah habis.............
Anda Kusmawan, 11 Oktober 2012
Langganan:
Postingan (Atom)


