Cari Blog Ini

Sabtu, 06 Oktober 2012

Menganalisa Kekuatan KPK

Konferensi Pers : Panggung Teater Yang Dibangun Bambang S Widjojanto Menjadi Sumber Penggerak Emosi Rakyat (Sumber Foto : KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)
Pengepungan KPK oleh Polri walaupun atas nama hukum berupa penangkapan salah satu penyidik yang diduga telah melakukan pembunuhan di masa lalu, menjadi sebuah peristiwa politik paling penting di negeri ini, karena bukan soal kriminal biasa yaitu dugaan pembunuhan di masa lalu, tapi soal tarik menarik kekuatan entitas penyidikan kasus-kasus korupsi di negeri ini yang dipersoalkan, hal ini jelas membawa peristiwa “Jumat Keramat” pada 5 Oktober 2012 menjadi kasus politik paling penting sepanjang tahun 2012.

Penggembosan KPK memang sudah puluhan kali terjadi, bahkan SBY sendiri bertindak sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk pertama kali dalam penyerangan KPK dengan menyatakan secara sinis “KPK Sebagai Lembaga Superbody”  pesan yang ditangkap disini adalah SBY menyatakan secara tidak langsung “KPK sudah menjadi ‘Negara di dalam Negara’ yang amat membahayakan struktur kekuasaan. Ucapan SBY mendapat sambutan gegap gempita utamanya dari kalangan Parlemen yang pro pada SBY, namun kemudian ucapan SBY mendapatkan gema-nya paling penting ketika dedengkot politisi PKS Fahri Hamzah secara terukur, sistematis dan jelas dalam perdebatan publik tentang kampanye pembubaran KPK,  alasan utama yang dikemukakan Fahri Hamzah adalah KPK gagal membersihkan lembaga-lembaga inti penegakan hukum yaitu : Kepolisian, Kehakiman dan Kejaksaan. Fahri dengan keras menuding KPK disetir oleh pihak lain yang membiayai secara non APBN.

Tapi kemudian tuduhan Fahri itu diserang habis-habisan oleh pendukung KPK yang lebih populis dan memiliki jaringan massa rakyat banyak. Fahri bahkan di bully terus di twitter oleh ratusan aktivis pro KPK, sedikit banyak sikap Fahri yang tidak populer ini menghancurkan suara PKS di banyak lini pemilihan daerah termasuk di DKI Jakarta, citra PKS sebagai Partai Bersih Anti Korupsi menjadi rusak oleh sikap Fahri yang menarik garis ke dalam skim pembubaran KPK yang kemudian pesan Fahri itu ditangkap oleh pikiran rakyat bahwa PKS berada pada kelompok pro koruptor, pikiran yang simplistis ini wajar saja di dalam pertarungan politik.
Kemajuan pesat KPK adalah ketika KPK dengan cerdik memanfaatkan momen cicak dan buaya dalam kasus Anggodo dimana Bambang S Widjajanto amat berperanan dalam ruang teater cicak dan buaya. KPK disini menjadi lembaga publik yang paling dipercaya oleh rakyat, namun juga harus diakui sebagai ‘Pemain Politik Paling Penting di Negeri ini’. Tak ada Parpol satupun di Indonesia yang mampu menandingi kekuatan politik KPK saat ini.

Parpol dan Ancaman KPK
Ancaman KPK bukan saja soal penangkapan para koruptor yang bisa dengan seenaknya dilakukan oleh KPK tanpa lagi kendala, di masa Indonesia modern baru kali inilah sebuah lembaga yang berdiri di luar struktur dasar UUD 1945 memiliki kekuatan besar dalam melakukan tindakan-tindakan politik, inilah yang kemudian menjadi sumber ketakutan banyak pihak terutama para pemain politik. Tapi di pihak lain juga timbul pertanyaan apakah kemudian KPK menjadi alat setir dari pihak lain? Fahri Hamzah sendiri sebagai pelontar pertama isu setir pihak lain belum bisa menjelaskan siapa pelaku Non APBN yang membiaya KPK.
Presiden SBY adalah juga pihak yang paling dirugikan aksi KPK. Paranoid terbesar SBY adalah kasus Bank Century yang kelak juga mengancam posisi politik klan SBY di masa depan. Kasus Century sendiri masih menjadi bahan tarik menarik politik paling ganas sepanjang masa Pemerintahan kedua SBY ini,  disini juga konfigurasi kekuatan politik saling membentuk, membongkar dan membentuk kembali.  KPK sendiri kemudian juga mengambil peluang secara intens dalam membentuk kekuatan politik di dalam dirinya. Pembentukan kekuatan politik semakin meraksasa ketika sejumlah Polisi dari Bengkulu menyerbu gedung KPK mencari Komisaris Polisi Novel Baswedan karena soal kriminal, kasus ini kemudian secara teatrikal dikembangkan jadi panggung politik oleh Bambang S Widjajanto dengan konferensi pers tengah malam yang dikesankan mencekam. Titik konferensi pers ini harus diperhatikan sebagai kekuatan politik penting dalam membentuk konfigurasi bangunan politik pada dirinya.
Kemenangan Panggung Teater Konferensi Pers ala Bambang S Widjojanto Jam 1.00 wib
Yang perlu diperhatikan dalam mengukur kekuatan KPK pasca penyerangan polisi Bengkulu adalah posisi Bambang S Widjajanto yang menjadi amat dominan dalam konferensi Pers jam 1.00 wib malam. Bambang S Widjajanto menjadi orang yang paling bertanggungjawab dan menjadi pemenang politik atas kasus “Insiden Polisi Bengkulu” dengan gaya yang amat cantik, lugas dan populis sehingga bisa dengan cepat menghadapkan rakyat dengan Polisi, disini KPK kemudian membentuk kekuatan ulang yang koridornya langsung masuk ke akar massa rakyat dan menjadikan militansi rakyat sebagai ancaman terselubung untuk mengganti struktur kepemimpinan di Kepolisian mulai dari Kapolri sampai jajaran eselon ring I diseputar Kapolri, KPK di jam 1.00 wib telah menjadikan dirinya secara kekuatan pengancam paling riil kedudukan Kapolri sendiri dan beberapa bawahan Kapolri yang ditengarai terlibat dalam politik permusuhan dengan KPK dimana kasus Simulator sebagai ‘Proxy War’ diantara mereka.
Bambang dengan nada cerdas berhasil membangun panggungnya ’seakan-akan’ Negara dalam Keadaan Berbahaya, disini KPK mengubah dirinya dari sekedar lembaga yang ditugaskan dalam pemberantasan korupsi menjadi lembaga yang paling penting di mata rakyat, inilah pendobrakan sejarah terbesar dalam kisah entitas anti korupsi sejak Paran 1960, Operasi Budhi tahun 1963, TPK 1970-an dan Opstib. Titik terpenting keberhasilan KPK adalah ‘tidak adanya peran tunggal Presiden dalam intervensi kasus korupsi’. SBY sendiri nampaknya gamang berhadapan langsung dengan KPK dalam penyelesaian persoalan hukum seperti apa yang pernah dilakukan Sukarno dan Suharto di masa lalu.   Dan kini hadapan KPK adalah justru lembaga yang disupervisi dan memiliki kekuatan bersenjata yaitu : Kepolisian. 

Kekuatan KPK menjadi sedemikian hebat dan menggulung ke arah people power bila kemudian Bambang S Widjajanto terus melanjutkan teater politiknya menjadi titik pusar pembangun isu. Hal ini dengan mudah ia lakukan saat kasus Cicak dan Buaya ketika dengan terang-terangan Bambang S Widjojanto mempermalukan institusi Polri di depan Mahkamah Konstitusi dimana ketua MK secara tersirat mendukung apa yang dilakukan Bambang kemudian terbangun isu besar yang menggerakkan kekuatan rakyat.

Kekalahan Polri Dalam Panggung Teater Jam 1.00 wib Malam
Entah siapa yang merancang skenario tidak cerdas dalam penjemputan paksa Kompol Novel Baswedan, dan apa yang dilakukan pihak Polri tidak mengukur kemungkinan-kemungkinan reaksi yang terjadi. Kepolisian kemungkinan kaget dengan kemunculan Bambang S Widjajanto yang secara tiba-tiba secara eksplisit meminta rakyat bersatu mendukung dirinya. Berbeda dengan panggung Bambang S Widjojanto yang semarak, menggugah dan dihadiri para selebritis terkenal di negeri ini,  panggung konferensi Pers Polisi cenderung kaku dan membosankan, sehingga citra buruk Polri di mata rakyat semakin kuat, inilah yang harus diperhatikan dari pihak Polisi bahwa mereka kurang cerdas membentuk panggung politik dalam manajemen konflik ketika dirinya sendiri berhadapan dengan kekuatan lain.
 
Negosiasi Yang Akan Terjadi. - Sudah dipastikan kekuatan Polri secara pencitraan hancur total pada peristiwa konferensi pers yang susunannya dibangun oleh Bambang S Widjojanto pada jam 1 malam itu, inilah yang kemudian menjadikan Polisi harus melakukan negosiasi ulang kepada pihak KPK, kecuali bila Polisi tetap terus berkeras dan menggunakan kekuatan besar dalam menggebuk KPK namun ini tak mungkin, Polisi harus ingat walaupun mereka memiliki kekuatan besar dengan dasar legitimasi UUD 1945 namun bias atau deviasi legalitas dalam sejarah modern Indonesia selalu kalah dengan kekuatan-kekuatan rakyat, bila Polisi ingin menang dalam pertarungan ia harus menciptakan panggung teater yang lugas, cerdas dan mampu menggebuk Bambang S Widjojanto dengan cara yang jenius bukan dengan pemaksaan model polisi Bengkulu pada Jumat Keramat.
Kekalahan pihak Polisi itu akan menjadikan Polisi sebagai pihak yang dibawah angin dalam memulai negosiasi ulang atas kasus Simulator SIM, kemungkinan besar skenario-skenario seperti barter penyidik dengan Djoko Susilo akan menjadi hancur apabila kemudian Bambang S Widjajanto secara intens memainkan irama emosi rakyat,  Bambang dengan mudah melakukan pengaturan tata emosi rakyat yang sudah dengan cerdas dibangunnya pada jam 1.00 wib dengan terus menekan Polri dengan penekanan ini pihak Bambang bahkan bisa lebih leluasa masuk ke tubuh Polisi tidak menutup kemungkinan besar juga ada korban seperti Susno Duadji di tubuh Polri dalam kasus Cicak dan Buaya.

Menjelang 2014 tarik menarik kekuatan politik menjadi amat penting, kelakuan para Parpol yang selalu memihak pada mereka yang populis menjadi mesin kekuatan besar dalam penggelembungan kekuatan KPK sementara di pihak lain Kapolri semakin lemah posisinya di mata rakyat. SBY jelas tidak akan melakukan rumusan pasti dalam perseteruan politik antara KPK dan Polri,  dan seperti jutaan rakyat yang sudah mengerti modus politik SBY yang selalu tidak mau ikut campur pada persoalan yang belum pasti siapa pemenangnya, SBY juga atas nama demokrasi tidak akan masuk ke dalam perseteruan-perseteruan yang mengatasnamakan hukum, karena sebagai eksekutif ia tidak berhak dalam masuk konflik itu, namun dalam soal kepemimpinan sikap pembiaran SBY ini akan menambah energi baru dukungan rakyat pada KPK.

Revisi UU KPK dan Bambang S Widjojanto Sebagai “Jokowinya KPK”. , - Pengisoliran KPK dan blunder Polisi Bengkulu kemarin akan menggagalkan seluruh skenario pelemahan KPK secara legal konstitusional yang sedang dibawa Komisi III DPR, namun yang paling penting disini adalah Peranan Bambang S Widjojanto sebagai aktor paling berbakat di panggung publik, Bambang kemudian menjadi orang paling terkenal setelah Jokowi di benak pikiran rakyat, ketika Bambang S Widjojanto menjadi terkenal maka dengan mudah KPK yang awalnya adalah kekuatan entitas tak jelas seperti “Cicak Buaya” dan sekumpulan orang lemah secara politis seperti “Bibid Samad Riyanto dan Chandra Hamzah”. Menjadi KPK yang kuat secara politis dan berkharisma secara personal disini kekuatan Bambang yang mampu menjadi pengatur skenario emosi rakyat dan Abraham Samad dengan wajah menyenangkan akan menjadi kekuatan utama KPK, atau setidak-tidaknya mampu membangkrutkan kepopuleran Jenderal Timur Pradopo sebagai Kapolri dalam kasus Simulator SIM dan Penyidikan Irjen Djoko Susilo.

Selasa, 18 September 2012

Demo Anti Jepang di Cina : Perang Dagang Terselubung?

Wilayah Asia Yang Paling Kaya Di Dunia Sebagai Pasar Konsumen, Wilayah Produksi, Arus Modal, dan Sumber Daya Alam (Sumber foto : Asian Map.com)
Kini wilayah Asia bergerak cepat, seluruh kekuatan-kekuatan besar Asia ingin menjadi pemain dalam pasar besar di dunia. Asia menempati urutan nomor satu dalam jumlah penduduk, arus modal dan sumber daya alam. Inilah yang kemudian Asia akan jadi wilayah paling kaya di dunia, setelah di masa-masa kolonialisme antara abad 17-20 Asia dijadikan wilayah jajahan negara-negara Eropa, dan sepanjang abad 20 dipermainkan oleh politik luar negeri Amerika Serikat.

Pemain-pemain besar Asia yang muncul saat ini adalah : Arab Saudi dan sekitaran negara teluk yang kaya modal mereka menjadi kekuatan penuh atas sumber-sumber modal yang banyak ditanamkan di seluruh dunia, India yang kuat di sumber daya manusia, Jepang yang sangat tinggi tingkat kemampuan teknologinya, Korea Selatan sebagai bayang-bayang Jepang,  wilayah Indo-China dan Melayu (Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura dan Indonesia) yang pasar konsumsinya memiliki daya serap tinggi dan terbesar adalah Cina yang memiliki hampir semua lini :  Sumber Modal, Sumber Daya Alam, Tenaga Kerja dan Kekuatan Produksi Massal.

Kekuatan Cina jelas merupakan ancaman bagi kekuatan dagang Amerika Serikat yang menancapkan pengaruhnya di Asia Tenggara dan Timur selama lebih dari 60 tahun. Kekuatan massal produksi Cina sekarang sudah menguasai wilayah Asia Tenggara, bahkan invasi produksi Cina untuk alat-alat produksi merembes ke seluruh dataran Eropa, puncaknya adalah invasi produk Cina ke Amerika Serikat pada tahun 2005 yang membuat goncang pasaran produk Amerika Serikat sehingga mereka harus melakukan pengkhianatan terhadap politik liberal-nya dengan melakukan tindakan-tindakan diskriminatif atas perdagangannya dengan Cina.

Amerika Serikat selalu mendasari provokasi untuk melakukan konflik dagangnya. Wilayah Asia Tenggara adalah wilayah yang paling rentan dalam konflik dagang dan konflik militer, sementara Indonesia masih sangat bergantung sekali dengan arus modal dari Amerika Serikat, tapi beberapa kekuatan internal politik di Indonesia sudah melihat bahwa harus ada ‘kemandirian politik dan ekonomi’ seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1960-an.

Perang dagang bisa saja berlanjut menjadi konflik militer, atau konflik militer adalah diplomasi dalam perang dagang. Proxy War ini sering dimainkan Amerika Serikat setelah mereka belajar dari kegagalan pada perang Korea dan Perang Vietnam. Lalu apakah konflik di Pulau Daiyou akan menjadi perang Proxy antara Amerika Serikat dan Jepang saat ini?.

 Provokasi Jepang dan Kenangan Invasi Jepang ke Shanghai 
Pembantaian Nanking, Desember 1937 atas Orang Cina yang dilakukan Tentara Jepang. Merupakan Dendam Kolektif bagi Bangsa Cina kepada Bangsa Jepang (Sumber Foto : Wikipedia)


Bila dilihat dari trauma sejarah, bangsa Cina masih menyimpan dendam yang luar biasa terhadap bangsa Jepang. Dendam yang menjadi ingatan kolektif mereka adalah saat Invasi Jepang ke Shanghai pada tahun 1937, Invasi ini adalah puncak dari politik ekspansi Jepang yang merampas satu persatu wilayah Cina di masa lalu, perampasan ini dalam sejarah dikenal sebagai ‘insiden-insiden kecil’ seperti Insiden Jembatan Marcopolo’, Insiden Tembok Besar dan Insiden-Insiden lainnya yang jadi pelatuk dalam perang total Cina-Jepang pada tahun 1937 dimana Jenderal Kaum Nasionalis, Chiang Kai Sek menghubungi pihak Komunis dan bersekutu untuk bersatu melawan Jepang.  Jepang melakukan pendaratan amfibi ke wilayah Shanghai dan bertempur habis-habisan sekaligus melakukan tindakan-tindakan brutal seperti pemerkosaan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk shanghai.  Pendudukan kota Shanghai inilah yang kemudian menjadi awal kebangkitan Nasionalisme Cina periode kedua, pasca Sun Yat Sen.  -Kebangkitan yang lebih didasari pada politik kebanggaan orang Cina yang lebih superior dalam sejarah dan budaya ketimbang orang Jepang yang dianggapnya masih barbar.

Sampai sekarangpun, Cina tidak mau memaafkan Jepang atas tindakannya menginvasi mereka dan membantai jutaan orang Cina. Bahkan politik luar negeri Cina tanpa tertulis mengatakan Kuil Yasukuni yang merupakan makam bagi tentara Jepang veteran perang dunia II adalah kuil para ‘penjahat’  pejabat Cina yang berkunjung ke Jepang tidak boleh kesana, bahkan Perdana Menteri Jepang yang berani ke kuil Yasukuni dan melakukan penghormatan dianggap musuh insiden PM Jepang Junichiro Koizumi (menjabat : 2001-2007), hal yang sama juga dilakukan oleh Korea Selatan yang menganggap kuil Yasukuni sebagai tempat haram jadah.

Titik-titik sakral atas sengketa inilah yang bisa jadi permainan Amerika Serikat dalam geopolitiknya untuk memanfaatkan ketidakstabilan Asia Timur.  Hal ini akan sama persis dengan posisi konflik Israel-Palestina dimana AS mengambil keuntungan atas konflik ini dengan persekutuan kuat di negara-negara teluk sekaligus berperang di wilayah panas Arab Nasionalis seperti : Libya, Suriah, Mesir, Irak, Iran dan Lebanon.

Apakah Amerika Serikat akan bermain pada konflik ini?. Pemerintahan komunis RRC tentu tidak akan menurunkan gengsinya dengan melepas kepulauan Cina, tapi Jepang tidak juga memiliki kekuatan kemiliteran karena sejak pengakuan kekalahan Jepang atas Amerika Serikat setelah dibom sekutu pada Agustus 1945, Jepang hanya memiliki pasukan bela diri,  jadi apa yang dibaca intel-intel RRC atas pergerakan Jepang di Kepulauan Daiyou itu?

Konflik Pulau Daiyou, akankah jadi perang di Asia Timur Atau Hanya Gertak Perang Dagang AS kepada Cina? (Sumber : Wikipedia)

Dua aktivis Jepang mendarat di kepulauan itu sekaligus melakukan wawancara pers bahwa kepulauan itu adalah hak milik pribadi seorang warga Jepang yang sudah dibelinya. Sementara ada data-data masuk ke Pemerintahan RRC serta menyebarluas ke rakyat banyak di Cina soal adanya sumber daya alam yang luar biasa seperti minyak bumi di kawasan itu. Kenangan kolektif atas kebrutalan Jepang di masa lalu juga menjadi pemicu demonstrasi besar anti Jepang di Qingdao yang memaksa dua Pabrikan besar Jepang : Panasonic dan Canon menutup lokasi usahanya.
 
Ribuan Warga RRC Menyerbu Beberapa Perusahaan Jepang di Cina dan Menghancurkan Pintu-Pintunya, Kemarahan Orang-Orang Cina Ini Bisakah ini mengancam Ekonomi Jepang? (Sumber Foto : Reuters)

Orang-orang Jepang bersembunyi takut di sweeping sementara mobil-mobil Jepang dilempari batu.  Apa selanjutnya yang terjadi pada sengketa pulau ini, Jepang kemungkinan tidak memiliki minat atas perang, karena mereka sudah merasakan pahitnya perang, dan nasionalisme Jepang hanya tinggal kenangan, mereka sudah sepenuhnya jadi bangsa pedagang, sementara Cina jelas ini soal gengsi politik di depan Pemerintahan Taiwan, karena bisa saja Taiwan merebut Pulau itu dan menegakkan garis klaim Nasionalis tinggalan Chiang Kai Sek di depan para generasi Maois di RRC. Apakah ini dimanfaatkan oleh Amerika Serikat sebagai Perang Dagang dalam penguasaan wilayah dagang di Asia Timur dan Asia Tenggara dengan Jepang sebagai Boneka seperti layaknya Pemerintahan Bao Dai di Vietnam Selatan pada awal tahun 1960-an?

Kita tunggu perkembangan selanjutnya…………

Sabtu, 25 Agustus 2012

Catatan Akhir Agustus 2012

Masa dekat-dekat setelah kejatuhan Suharto saya menonton WS Rendra pidato di UI, salah satu yang saya ingat adalah kata-kata yang diucapkannya dengan lekukan intonasi seorang dramawan besar :

"Sesungguhnya demokrasi itu bukan soal kebebasan bicara, demokrasi sekali lagi bukan kebebasan bicara, tapi demokrasi ruang yang luas untuk rakyat masuk ke dalam partisipasi rakyat, rakyat berdaulat atas s
uaranya sendiri, rakyat menjadi pelaku atas demokrasi itu sendiri. Selama demokrasi bernaluri priyayi maka demokrasi tidak akan berkembang, selama partai-partai mengejar untuk menjadi birokrasi maka partai-partai akan gagap soal kebudayaan".

Itu yang saya ingat, apa yang dikatakan Rendra, 14 tahun yang lalu sekarang menjadi kenyataan, Partai-Partai bukan lagi agen pengubah budaya, Partai menjadi Brokerage house atas Proyek-Proyek Negara.

Yang saya suka bila mendengarkan Rendra pidato adalah saya selalu membayangkan gaya dia bicara seperti seorang Bung Karno, seperti seorang Pemenang, seperti seorang Panembahan Reso yang menguasai keadaan. Namun kedalaman maknanya dalam ucapannya menjadikan dia guru yang mampu membaca tanda-tanda jaman. Rendra hidup dalam dua dimensinya : Dimensi Nalar dan Dimensi Batin, dalam dimensi nalar dia mampu menjelaskan akar-akar rasional mengapa kita selalu saja menjadi bangsa yang kalah, ia membahas soal tata bahasa, ilmu hitung dan kemampuan membuat himpunan-himpunan dalam persoalan manajemen kolonial penaklukan Raja-Raja Jawa oleh cukong loji Belanda, dalam soal kebatinan, Rendra mengajak untuk melihat secara waspada, sebuah keadaan selalu ditunjukkan oleh pertanda, inilah kenapa orang Jawa tidak pernah berkata "Saya Pikir" tapi berkata "Saya rasa".

Rendra selalu menghidupkan apa yang disebut sebagai "Daulat Rakyat" inti demokrasi itu adalah daulat manusia atas hidupnya sendiri dalam kerja masyarakat. Di jaman Suharto, daulat rakyat itu dibatasi dengan tiga B : Buang, Bui dan Bunuh sementara di jaman Reformasi ini daulat rakyat ditandai oleh 3 D : Duit, Duit dan Duit.

Tapi apakah kemudian rakyat bisa bangkit melawan sistem manajemen politik melewati basis kepartaian? tidak sama sekali, dalam sejarah modern, gerakan politik dikoordinasi oleh gerakan kepartaian, tidak pernah ada perlawanan politik tanpa pergerakan kepartaian, hanya saja soal ini sejarah modern terbelenggu antara Maklumat X 1945 dengan Dekrit 1959 dan Fusi 1973. Partai-partai akan selalu selamanya menjadi mesin koordinasi atas kerja rakyat.

Dengan seluruh kehormatan, Faisal Basrie mampu mengangkat gerakan individual dalam melawan sistem kepartaian, tapi Faisal Basrie terjebak pada kegagapannya dalam mengolah politik paling pragmatis, ia gagal memahami pemasaran politik yang paling mendasar " Segmentasi, Targeting dan Positioning" Tim Suksesnya tidak mampu langsung terjun ke dalam persoalan-persoalan rakyat, mereka berinteraksi di lingkungan itu-itu saja : kalangan menengah kota, intelek-intelek urban dengan keuangan yang sudah mapan, mereka tidak masuk dalam alam pikir rakyat yang paling sederhana. Inilah kemudian perlu dipertanyakan, sejauh mana kekuatan tanpa partai mampu bertarung dalam agenda-agenda perebutan kekuasaan.

Pada akhirnya setiap kerja politik akan membutuhkan himpunan, dan himpunan tetaplah partai-partai, maka tugas dari kaum pembaharu politik adalah melakukan revisi ulang atas pertanyaan paling filosofis, "apa itu Partai?" -Pertanyaan paling mendasar ini sebenarnya sudah diajukan WS Rendra sendiri "Daulat Rakyat, akan membuat Daulat Kebudayaan". Apakah kemudian Partai bisa menjadi bagian dari Daulat Rakyat itu sendiri, sama persis ketika Danton ditengah huru hara di kota Paris "bisakah kita menertibkan ini dengan himpunan-himpunan yang terorganisir"?

Terus terang saja saya merindukan sebuah Partai yang kadernya bukanlah mereka yang saling BBM-an dan telpon2an "Bagaimana Bang, bagaimana kakanda proyek kita"....bukan itu, saya merindukan sebuah Partai yang kader-kadernya mampu menjadi bagian produksi sastra, yang kader-kadernya mampu membaca persoalan rakyat paling mendasar, yang kadernya mampu memahami simpul-simpul ketertindasan rakyat dalam ruang partisipatifnya, dan saya yakin suatu saat kita bisa bila kita bergerak, mungkin dalam satu soal saat ini saya berharap pada Jokowi.

Senin, 13 Agustus 2012

"The Last Man Standing" : Jokowi !

Jokowi : "The Last Man Standing"
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menyatakan persekutuannya dengan Foke-Nara dalam memenangkan pasangan itu menjadi Gubernur DKI. Seluruh Partai besar dibelakang Foke-Nara, sementara Jokowi masih bertahan dengan dua Partai Nasionalis yang juga merupakan partai oposisi, apakah Jokowi akan bertahan? Apakah Jokowi akan bernasib serupa Megawati? Ataukah Jokowi menjadi anomali terhadap kekuatan Partai-Partai Politik sehingga Indonesia masuk ke jaman baru-nya? Semua pertanyaan ini bisa kita jawab dengan terlebih dulu mengupas ada apa dengan sistem politik kita pasca kejatuhan Suharto.
Lansekap kekuasaan di Indonesia sekarang ini dikuasai dua hal : Partai Politik dan Trah Menteng. Dinasti Menteng menjadi patron penting kekuasaan politik sekarang, dua bentuk ini juga bagian dari pertemuan : Modal dan Sejarah Politik. Seluruh penggede politik sekarang masih memiliki kaitannya dengan kekuasaan dimasa lalu, baik garis nostalgia Sukarno ataupun modal duit Suharto. Dua bentuk kekuasaan ini kemudian menjadi seiring sejalan menguasai peta perpolitikkan pasca kejatuhan Suharto 1998. Kelompok oposisi Suharto yang dulu sempat bertaruh nyawa melawan Suharto habis semua, ada yang terlanjur merasa nyaman dengan prestise politiknya di masa lalu dan mendapatkan gengsi sosial seperti Amin Rais, ada yang tersingkir terus menerus secara menyakitkan dan kemudian wafat dalam ketersingkiran itu seperti Gus Dur, ada yang harus tiap berhadapan dengan kompromi-kompromi politik seperti Megawati. 

Tiga orang terpenting oposisi di masa Suharto tidak mampu menembus jejaring kekuasaan setelah tahun 2004. Dari garis Kelompok Nostalgia Sukarno, praktis habis ketika Megawati terus ngotot ingin jadi Presiden RI. Ketika Megawati disingkirkan secara permanen maka kelompok jaringan pemodal Orde Baru dan eks mesin politik Suharto menguasai medan politik dan menjadi rezim penguasa sekaligus membenihkan jaringan politik yang kuat dimana kekuatan rakyat bukan lagi jaminan politik mereka. 

Lansekap politik yang dikuasai kelompok Menteng dan Modal Suharto ini terus menggurita bahkan melahirkan politisi-politisi baru, mereka bersimbiosis dan menguasai kanal-kanal kekuasaan politik, mereka membentuk sindikasi penguasaan anggaran APBN dan APBD, mereka menjadi makelar-makelar atas jabatan birokrasi, disini kekuasaan tiranik Suharto sudah berubah menjadi kekuasaan tiranik oligarkis. Instrumen terbesar dalam bentuk makelar kekuasaan adalah sistem Kepartaian. Partai bukan lagi menjadi agen perubahan sejarah masyarakat, bukan lagi menjadi mesin produksi budaya dan bukan lagi menjadi pelopor gerakan kebangsaan tapi Partai sudah menjadi seperti perusahaan biro jasa politik. Pertemuan-pertemuan peran ironik Partai ini kemudian menjadikan rakyat bukan lagi sebagai alat massa aksi dalam membentuk sejarah masyarakat, tapi rakyat sudah menjadi bagian obyek politik yang ukuran-ukurannya adalah permainan : Sentimen Agama, Politik Uang dan Manipulasi Janji Politik. 

Lalu tiba-tiba datanglah Jokowi berhadap-hadapan dengan sistem itu, tidak seperti Faisal Basri yang mengklaim lahir dari kegelisahan rakyat yang menolak sistem kepartaian, tapi sesungguhnya ia lahir dari kemarahan kaum intelektual yang kakinya tak berlumpur di persoalan-persoalan rakyat, Jokowi adalah produksi Partai tapi lahir dari Prestasinya dalam mengurusi rakyat, disini Jokowi menjadi anomali di segala lini, ia lahir dari Mesin Partai tapi ia menjadikan rakyat sebagai tuan rumah kebijakan politik, ia lahir dari sistem politik yang keterlaluan bejatnya tapi ia menjadi sedemikian mulia-nya, ia lahir dari kekacauan-kekacauan demokrasi tapi kemudian ia berhasil menertibkan kekacauan dan menjadikan rakyat sebagai pusat dari segala gerakan bukan Partai, di Solo Jokowi membuktikan kemenangan politik 90%, sebuah absolusitas yang mencengangkan. 

Jokowi tampil ke muka publik di DKI Jakarta juga tak mulus, faksi Taufik Kiemas ditubuh PDIP menampik Jokowi, ini artinya secara tersirat Taufik Kiemas menghendaki adanya persekutuan PDIP dengan Demokrat untuk Jakarta, tapi adalah sebuah keanehan bagaimana bisa sebuah Partai menyia-nyiakan kadernya yang berbakat, jutaan suara rakyat yang berteriak di sosial media dan ruang publik lainnya menghendaki Jokowi maju ke DKI. Kemudian Prabowo mengetuk pintu Megawati dan bersedia menjadi jaminan politik atas Jokowi, sampai disini Jokowi masih menjadi bagian dari mesin Partai. 

Lalu Jokowi muncul dengan baju kotak-kotak, ia keluar dari mesin partai dan masuk ke dalam mesin pergerakan rakyat, tak ada jeda disini, Jokowi melakukan jembatan politik antara Partai dengan Rakyat, Borjuasi-nya PDIP yang pernah menjadi penguasa negeri ini dengan melahirkan kelas baru yang kaya yang berjarak dengan massa rakyat kemudian dihukum oleh massa rakyat dengan gagal dalam dua kali Pemilu, dipersatukan kembali dan diarahkan menjadi Partainya Rakyat Jelata, Partainya Wong Cilik bukan Partai Para Priyayi, PDIP bukan lagi menjadi partai Borjuis beraksen Taufik Kiemas, tapi PDIP seperti menemukan gairah politiknya seperti masa-masa 1986-1992, dimana gairah Sukarno, gairah kerakyatan menemukan momentumnya. 

Massa Jokowi adalah massa sukarelawan massa yang bertemu dari sekian banyak arus kegelisahan, ada alasan multikultural, alasan perubahan Jakarta dari kota yang hancur-hancuran menjadi kota yang tertib dan ramah manusia, ada alasan tentang Jakarta yang berpihak pada ekonomi kerakyatan dimana Pasar-Pasar rakyat dimenangkan dalam pertarungannya dengan Hypermarket pemodal asing. 

Ketika PKS menyatakan mendukung Foke, secara tak langsung PKS sedang berjarak dengan rakyat, sedang berjarak dengan suasana kebatinan rakyat yang menghendaki perubahan, PKS yang juga sudah bermasalah secara internal semakin mengambil resiko politik untuk ikut arus dalam perubahan politik besar.
Gagalnya PKS membaca jaman ini semakin memperkuat posisi Jokowi dengan beraliansi pada kekuataan swing voter , kekuatan rakyat yang tidak tergabung dalam afiliasi-afiliasi kekuatan non partisan dan non partai itu. Hal ini bisa jadi indikasi untuk mengukur bagaimana kekuatan non partisan dan non partai bekerja dalam arus politik. 

Pada putaran I, kekuatan-kekuatan yang pesimis terhadap Pemilu DKI sangat banyak, lebih dari 30% tidak menggunakan hak suaranya, namun perkembangan pada Putaran II semakin memanaskan pergerakan rakyat yang mencari tempat itu sendiri. Di satu sisi kekuatan rakyat yang tidak menyukai sindikasi Partai Politik dipastikan akan mencoblos Jokowi dan dipihak lain kampanye-kampanye SARA akan membuat kelompok yang tadinya diam terpaksa bangkit mendukung Jokowi. Disini Jokowi mendulang keuntungan politiknya.
Pemetaan menjadi semakin jelas, Jokowi seperti dikeroyok banyak Partai yang persekutuan politiknya didasarkan pada rebutan proyek dan jatah jabatan kepala dinas Pemda DKI, sementara Jokowi seperti ‘The Last Man Standing’ dalam perang politik di Jakarta, Bagaimana kemudian Jokowi bisa menjadi The Last Man Standing dari intrik dan konflik Partai yang tidak lagi amanah terhadap suara kegelisahan rakyat? – Lepaskan dikte Partai Politik dan Biarkan Jokowi berimprovisasi dengan Kebijakannya Tanpa Tekanan Partai. 

Kunci kemenangan Jokowi dalam kemenangan politik yang substansial adalah keikhlasan bagi penggede-penggede PDIP dan Gerindra terutama Megawati dan Prabowo untuk menjadikan Jokowi bukan lagi alat Partai, tapi sebuah simbol kemandirian rakyat, disini harus ada kontrak yang jelas bagi Jokowi untuk membebaskan dirinya dari mesin kepartaian, jadi posisinya dibalik, bila dulu seorang pejabat politik baik Gubernur dan Bupati menjadi alat dikte Partai, kini saatnya seorang Pejabat Politik mendikte Partai dan berdiri diatas kepentingan rakyat banyak bukan kepentingan Partai. 

Kontrak politik ‘Bebas Dikte Partai’ inilah yang diperlukan dan menjadi garansi atas kemenangan Jokowi kelak. Bila DKI Jakarta ingin berubah dan menjadi pintu pembuka perubahan politik Indonesia secara menyeluruh maka Partai tidak boleh mendikte atau meminta jatah proyek kepada Gubernur DKI, bila ini terjadi Jokowi telah membawa Revolusi dari ruang senyap, tanpa gemuruh, tanpa holopis kuntul baris, sebuah revolusi dari ketiadaan………..

Kamis, 19 Juli 2012

Ingat Pesan Jokowi, Bung Karno dan Ladang Sejarah

Bersatu tanpa Prasangka, Bersatu dalam Niat Baik adalah Substansi dari Sebuah KeIndonesiaan Kita (Sumber Photo : Antara)

Indonesia bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada, Indonesia adalah sebuah Proses Peradaban ….
Sebuah bangsa adalah ladang kenangan, ia ladang sejarah yang kemudian membentuk masyarakat. Sebuah bangsa tak tiba-tiba saja ada, ia proses, ia kumpulan dari royan-royan (royan=luka), di satu saat ia kelam, di satu saat ia penuh kemenangan, tapi terlepas semua itu, sebuah bangsa adalah kebersamaan, sebuah bangsa adalah Rumah Bersama Kita dalam Kebhinnekaan

Lalu bagaimana keIndonesiaan kita terbentuk, lalu bagaimana sebuah Indonesia menjadi bundel-bundel kenangan bagi seluruh penghuninya, apa yang menjadikan Indonesia tetap ada sampai saat ini. – Mungkin ini jawaban yang logis dari pertanyaan yang sudah usang dihimpun waktu, yang menjadikan kita sekarang masih disini sebagai bangsa adalah : BERSATU..!! Rumah Bersama dalam Persatuan Indonesia. 

Suatu malam di Bandung pertengahan tahun 1920-an, di Jalan Pangkur Bung Karno termenung lama di teras rumahnya. Di temani bintang gemintang, udara dingin khas Bandung, dan kopi kental buatan Inggit, Bung Karno tafakur dalam daya hidup intelektualitasnya, ia tenggelam dalam rasa berbudaya-nya. Halaman-halaman narasi sejarah terbuka di kepalanya menerobos tanpa henti. Ia menganalisa dalam tafakurnya itu.
Kenapa kita menjadi bangsa yang kalah? Kenapa perbudakan bisa dilakukan oleh Hindia Belanda, kenapa bangsa ini yang dulu mampu menciptakan Borobudur, membangun candi Hindu tercantik sedunia seperti Prambanan, mampu menjadi kekuatan Islam pesisir terkuat di Asia Tenggara seperti Samudra Pasai, mampu menjadi bangsa yang menguasai seluruh sel-sel dagang Nusantara seperti Majapahit, bangsa yang dulu penuh kemenangan, bangsa yang dulu tegak dalam tantangan-tantangan persaingan dunia, kini tak lebih dari bangsa babu, bangsa budak, bangsa yang hanya bisa menoreh-noreh karet lalu dicambuki di Perkebunan Deli, bangsa yang terkapar oleh hinaan-hinaan bangsa lain. Kenapa?
Jawabnya adalah karena kita TIDAK BERSATU.
 
Lalu pada rapat Radicale Concentratie di Batavia tahun 1924 Bung Karno mulai berteriak keras soal Persatuan…Persatuan…Persatuan. Sebuah bangsa mustahil akan membebaskan dirinya tanpa persatuan, Sejak saat itu Persatuan Indonesia adalah menjadi prolog paling penting dalam membentuk KeIndonesiaan.

Sukarno adalah jaminan sejarah, seperti kata Sutan Sjahrir kepada Tan Malaka : “bila kamu punya sepersepuluh saja kekuatan seperti Sukarno, aku ikut kamu. Saya sudah keliling Jawa dan rakyat tau-nya Sukarno adalah pemimpin yang diakui semua rakyat”. 

Satu-satunya kelebihan Bung Karno dengan seluruh pemimpin bangsa ini adalah kemampuannya membangkitkan daya batin, daya imajinasi untuk bersatu. Rakyat berbondong-bondong mendengarkan pidatonya, rakyat dicerahkan, bahwa sebuah masa depan bangsa tak mungkin bisa dibentuk bila tak ada daya batin untuk bersatu.

Indonesia bukan pemberian gratis makan siang di Istana Risjwijk antara para Raja di Nusantara, bukan…bukan itu. Indonesia bukan sebuah pemberian kenang-kenangan Hindia Belanda atas sebuah bangsa yang luar biasa luas ini, bukan itu….Indonesia adalah perebutan untuk membebaskan diri, Indonesia adalah sebuah usaha besar bersama membangun Peradaban yang dimulai dari jam-jam pertamanya dengan darah, air mata, teriakan kesakitan dan mimpi yang kuat untuk membentuk sebuah bangsa yang berdaulat demi rakyat yang dilindungi. Demi sebuah Peradaban Baru, Peradaban yang melihat Manusia sebagai Manusia, Manusia yang penuh cinta pada Tanah air, sebuah sikap Patria yang menjaga negerinya dengan segala penuh kehormatan.

Indonesia bukan milik sekelompok golongan yang menjual suku-nya, yang menjual agama-nya untuk kepentingan kekuasaan, Indonesia bukan milik sekelompok yang menggadaikan perkelahian antar suku dan agama hanya untuk kekuasaan. Indonesia adalah rumah bersama kesadaran, bahwa bangsa ini sudah selesai soal perbedaan-perbedaan suku, beragama tapi tak saling menyakiti satu sama lain, menjadi satu karena mimpi bersama untuk menjadi bangsa terkuat di Asia, menjadi bangsa yang tidak satupun ada manusia kelaparan di dalamnya, itu mimpi kita sejak awal. 

Karena tanah Indonesia ini dilumuri oleh darah-darah pejuang, dilumuri oleh teriakan kesakitan berkepanjangan, seperti Panglima Besar Sudirman yang berdzikir dan sholat dalam kondisi duduk di atas tandunya, seperti darah Ngurah Rai yang beragama Hindu itu tumpah di Tanah Bali bukan untuk sekedar Bali, tapi untuk Indonesia. Seperti Wolter Monginsidi yang berdoa secara Kristen tenang menghadapi regu tembak untuk dihukum mati, setelah malam sebelumnya ia menulis di dalam penjara Belanda tentang harapan sebuah bangsa yang terbit dan membebaskan, bukan hanya untuk Minahasa tapi untuk Indonesia, seperti Yos Sudarso yang beragama Katolik itu tetap bertahan di geladak kapal, berdiri tegak dengan mata lurus menantang korvet-korvet Belanda, ia berdiri dengan seribu keberanian dan runtunan doa di geladak kapal lalu sebuah destroyer Belanda melesatkan tembakan dan terbakarlah Macan Tutul, Yos Sudarso mati secara gentleman untuk bangsanya, kehormatannya, Indonesia …sampai-sampai saat KRI Macan Tutul tenggelam pelan-pelan, beberapa perwira Belanda melakukan hormat militer dengan sikap penuh tegak sempurna.
Indonesia dihuni segala manusia dengan pengalaman keyakinannya, dengan banyak agamanya, dengan macam-macam sukunya, tapi dalam kemacam-macaman itu, ada rasa bersatu dan ini jelas dirumuskan dalam konstitusi bahwa kita hidup di masyarakat Berbhinneka. –Sebuah bangsa tidak akan pernah dibangun berdasarkan sentimen perbedaan, sebuah bangsa adalah semangat kebersamaan-. 

Indonesia itulah yang kita wariskan, sehingga kita mempunyai bangsa saat ini. Lalu kenapa persoalan-persoalan yang sudah selesai itu dijual murah hanya untuk kekuasaan seperti suku, seperti sentimen agama dan lain-lain yang tidak berkebudayaan, dimanakah kesadaran sejarahmu? Kenapa kebodohan kamu pamerkan terus menerus tanpa malu? Kenapa kamu dan jualan SARA-mu tak malu terhadap pendiri bangsa ini yang sudah berwawasan amat luas. 

Dan Tuhan telah menghadiahkan dua orang bagi bangsa Indonesia : Sukarno dan Jokowi. Bila Bung Karno membentuk kesadaran bersatu, Bung Karno melakukan konsolidasi atas konsepsi-konsepsi Persatuan Indonesia, maka ketika jaman ini agama dan suku dijual murah untuk kekuasaan. Tuhan menghadirkan Jokowi untuk mengingatkan bangsa ini “Bukankah kita bangsa Indonesia?, bukankah kita berkebudayaan? Janganlah kita menjual sentimen-sentimen agama, sentimen suku, bersikaplah wajar dalam berpolitik, bersikaplah sederhana, karena sekarang bangsa ini butuh kerja kita, bukan perkelahian kita”.

 

Rabu, 11 Juli 2012

Belajar dari Kemenangan Jokowi (Sebuah Anatomi Kultural)

Foto dokumentasi TEMPO edisi : 10 Walikota terbaik, 2006 ini merupakan Foto paling Spektakuler pengenalan Pertama Jokowi di luar Solo, yang kemudian membangunkan persepsi Jokowi sebagai bagian dari Rakyat Jelata yang Mampu Memimpin Pemerintahan (Sumber Photo : TEMPO)


Kemenangan Jokowi malam ini juga menjadi bukti bagaimana orang-orang Betawi menyukai orang Jawa seperti mereka membela mati-matian Sukarno pada jam-jam pertama Republik, seperti mereka berbondong-bondong memilih Jokowi. -Keikhlasan orang Betawi dalam dharma bakti bela negara pun amat diacungi jempol, yang paling spektakuler adalah kerelaan ratusan ribu orang Betawi pindah dari Senayan ke Tebet, karena ribuan hektar lahan di Senayan akan dijadikan Stadion Gelora Bung Karno. Perpindahan ini didasari rasa sukarela karena kecintaan mereka pada Bung Karno dan demi kejayaan bangsa Indonesia.

Orang Jawa memang disukai oleh orang Betawi secara kultural, dan banyak perantau-perantau Jawa ditolong tempat tinggalnya oleh orang Betawi, kedekatan Jawa Mataraman dengan Betawi amat lekat dalam kebudayaan, sama seperti kedekatan kultural Betawi Arab dan Betawi Cina, namun hubungan Betawi Jawa ini lebih lekat soal kepemimpinan politik, orang Betawi menyukai orang Jawa sebagai pemimpin. Mayoritas kepemimpinan lingkungan di Jakarta dipegang orang Jawa dari tingkat RT sampai RW.  -Banyak orang Betawi lebih menyukai memilih menantu yang berasal dari Jawa, karena penilaian mereka orang Jawa perantau rajin-rajin dan sopan.

Jadi jargon-jargon ‘pendatang’ dan ‘pribumi’ tidak tepat dalam soal konteks politik di Jakarta. -Sudah lama orang betawi sendiri menerima diri mereka sebagai bagian kosmopolitan negeri ini.  Sebagai catatan, Betawi sendiri menjadi kota metropolitan jauh sebelum New York berdiri.

Dan lagi ini juga pembelajaran kultur politik negeri kita, sampai saat ini orang Jawa masih mendominasi kekuatan politik secara keseluruhan Nusantara. Karakter Jawa yang ‘ngalah’ dan tidak suka kekisruhan, bekerja dengan hati, bicara menggunakan perasaan, masih menjadi preferesi dominan pilihan politik. -Kita bisa lihat ini nanti dalam Pemilu 2014, diantara barisan capres yang akan muncul maka citra orang Jawa paling utama dimiliki oleh Prabowo.  Apakah Prabowo akan mendapatkan preferensi politiknya yang tinggi? dari rating lembaga Survey saat ini, Ranking Prabowo selalu tertinggi sebagai Capres paling diminati tahun 2014.
Bila SBY menggunakan pencitraan sebagai Jawa yang santun, maka Jokowi mengedepankan orang Jawa yang melayani, seperti tukang-tukang becak orang Jawa di masa lalu waktu Becak masih ada di Jakarta, karakter tukang becak yang melayani inilah yang kemudian disukai banyak orang dalam dunia politik sekarang.

Dan Jokowi tahu itu.






Minggu, 08 Juli 2012

Kangen


Aku pinjam bayangan mu 
Sebagai teman lewati malamku
Kan ku simpan senyumanmu , , , , biar hidup ku terang bercahaya
Meski hanya bisa mengintaimu dari kejauhan ,,, sungguh menakjubkan
Apajadinya bila sehari saja ku tak bisa melihatmu ,,,, melihatmu

Aku kecanduan senyummu ,,,, senyummu
Aku ketagihan cantikmu ,,,, cantikmu

Bagaimana caranya membuat kamu perhatikan aku
Bagaimana caranya tuk mengalihkan tatapan indah mu



Lagi Kangeeeeen Bangeeeet !!