![]() |
| YB Mangunwijaya, 1929-1999 (Sumber Photo : Kompas) |
Setelah menonton film ini apakah
kemudian nanti ada film tentang Romo Mangun? mungkin amat menarik bila
para sineas kita mengangkat Romo Mangun sebagai film yang ‘mengajarkan
manusia untuk memahami manusia sebagai manusia. Bila
Soegija mengangkat sebuah pemikiran alam bawah sadar bagaimana kemudian
pribumi bisa sejajar dengan penjajah Belanda dan manusia itu tidak
dibedakan atas nama ras dan gap sosial maka film Romo Mangun nanti akan
memberikan pencerahan pada kita : “Manusia yang tidak terasingkan
oleh lingkungannya karena dia miskin, dan manusia yang tidak terasingkan
pendidikannya karena berstatus sosial rendah’. Romo Mangun
sepanjang hidupnya bergerak di bidang sosial dan membangun ruang
kemasyarakatan yang ramah pada lingkungan dengan ‘Kali Code’ sebagai
hasil perbuatannya beliau semasa hidup.
Romo Mangun lahir 6 Mei 1929, ada
kenangan menarik dia sewaktu masih muda yaitu bergabung dengan TKR
(Tentara Keamanan Rakyat) ia menemukan komandan yang amat pendiam,
komandan itu adalah Suharto. Mungkin anda masih ingat kisah seorang anak
kecil berna,a Temon dalam film ‘Serangan Fajar’ salah satu adegannya
yaitu : Temon melihat seorang komandan yang naik Jeep dengan disetiri
oleh seorang anak buahnya, itulah sebenarnya Suharto dan YB
Mangunwijaya, waktu bergabung dengan TKR dan kemudian diangkat jadi
perwira TNI, Romo Mangun sempat menjadi sopir Jeep Pak Harto dalam
menginspeksi kota Yogyakarta. Walaupun kelak kemudian hari saat Pak
Harto jadi Presiden RI dan Romo Mangun bergiat di lingkungan kaum miskin
di Yogyakarta mereka kerap bersebrangan pendapat, Romo Mangun selalu
mengeritik pemerintah yang seakan tak sensitif mendengarkan suara kaum
miskin, mereka yang terpinggirkan oleh sistem masyarakat yang mapan.
Yogyakarta sendiri adalah ‘rumah jiwa’
bagi Romo Mangun, di Yogyakarta-lah telaga air mata Romo Mangun
dibangun untuk mengerti bagaimana kemanusiaan bekerja, ada dua hal yang
amat diperhatikan Romo Mangun dalam melihat kemanusiaan : Pertama,
Lingkungan dan Kedua, Pendidikan anak.
Dari lingkungan yang sehat manusia bisa berkembang menjadi pribadi yang memenuhi ruang kedewasaannya-.
Itulah yang menjadi prinsip Romo Mangun dalam membangun sebuah
lingkungan dimana manusia bisa berinteraksi dengan alam, bisa
menciptakan kemanusiaannya dengan alam. Suatu sore Romo Mangun
berjalan-jalan keliling kota Yogyakarta dengan sepeda onthel ia
menikmati langit sore kota Yogyakarta yang berwarna kuning muda, ia
berkeliling di pemukiman mapan kaum pejabat dan bangsawan dekat Keraton
yang teratur dan bersih lalu ia mengarahkan sepedanya Kali Code, satu
hal Romo Mangun sangat menyukai arus deras kali. Ketika ia berada di
tengah jembatan Kali Code ia melihat dibawah talud (tembok penahan bibir
sungai dari erosi) banyak sekali sampah, imajinasinya berjalan ketika
ia bertanya ‘bagaimana bisa seseorang dengan kemiskinannya bisa
hidup di ruang yang kotor ini?, lalu bagaimana kemudian menciptakan
sebuah ruang baru dimana ruang itu tetap bersahaja tapi bersih?’.
![]() |
Salah satu sudut yang indah di Kali Code (Sumber Photo : Kali Code SD Mangunan)
|
Pikiran itu berkecamuk dalam dirinya,
suatu pagi ia duduk di teras rumahnya, bunga-bunga bermekaran dan
ratusan embun jatuh perlahan menimpa rumput yang ditanam seperti beludru
berwarna hijau, ia begitu menikmati, kemudian Romo Mangun tersentak, ia
mendapatkan pencerahan ‘Lingkungan yang memanusiakan bisa dibangun
tanpa harus mahal, yang penting adalah ‘tidak mengasingkan manusia
dengan dirinya sendiri’ bagaimana manusia bisa menikmati alam, di tengah
lingkungan yang kumuh sekalipun jika lingkungan itu dibersihkan maka
manusia bisa menikmati alam.
Uang tidak dapat membeli
bintang-bintang, malam yang indah, ratusan bulir embun yang jatuh di
pagi waktu dan udara sore yang tenang dengan langit berwarna tembaga,
-karena hidup yang indah itu sebenarnya gratis, alam yang indah itu
adalah pemberian Tuhan pada manusia.
Pencerahan inilah yang kemudian
menjadikan Romo Mangun bangkit dari ruang nyamannya dan masuk ke
perkampungan kali Code, membangun Kali Code sebagai ruang yang ramah
manusia. Setelah kerja kerasnya dan kegembiraan ‘wong cilik’ menerima
Romo Mangun dengan tulus dan ikhlas, rakyat bergotong royong membangun
lingkungannya sebagai lingkungan yang bersih dan indah, pelajaran
pertama bagi mereka sederhana sekali seperti ajaran seorang guru SD pada
muridnya di sebuah siang yang panas : “Jangan Membuang Sampah di Kali”.
Hasilnya sebuah karya seni luar biasa terbangun di Kali Code, di masa
Romo Mangun, kali code menjadi kali yang bersih, orang senang melihat
kali ini dikala sore duduk-duduk dan memakan pisang goreng dengan
secangkir kopi hangat atau bermain gitar dan kentrung menyanyikan lagu
keroncong dengan bulan bulat di atas Kali Code yang berbinar indah.
Berarsitektur berarti
berbahasa dengan Ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan
material dan suasana tempat. Dalam berarsitektur, bukan hanya soal
efisiensi-teknis dan fungsional saja, tetapi ada unsur lain yaitu harus
adanya dimensi ‘ Budaya’
(Wastu Citra, YB Mangunwijaya, hal.7)
Romo Mangun berhasil mengenakan kepada orang yang berpendidikan relatif rendah, yang terpinggirkan oleh sistem, yang kerap tidak ‘diuwongke’ (tidak
dimanusiakan kemanusiaannya) dan kerap merasa sebagai hamba sahaya
karena kemiskinan menjadi orang yang sadar ruang, sadar bentuk dan sadar
budaya, manusia yang kemudian menjadi sangat paham bagaimana kemudian
bentuk mengisi ruang bukan hanya fungsional tapi juga berbudaya.
![]() |
| Karya Arsitektur Romo Mangun di Sendangsono dimana Ruang dan Gatra menyatu dalam diri manusia dan lingkungan (Sumber Photo : dok.sendangsono) |
Selain bidang lingkungan dimana Romo Mangun mengenalkan arsitektur yang
merakyat dan membumi, menjadikan manusia tidak terasing dengan
lingkungannya, Romo Mangun juga mengenalkan konsep pendidikan sebagai
‘pemerdekaan manusia’. Yang paling diperhatikan Romo Mangun adalah
pendidikan anak, seorang anak harus merdeka dalam imajinasinya,
berdaulat dalam kebebasan berpikirnya. -Hal ini menjadi sebuah antitesis
atas sistem pendidikan yang diciptakan Orde Baru, sebuah pendidikan
dengan model taat komando.
![]() |
| Romo Mangun dan Pendidikan Anak Miskin (film dokumenter tahun 1995) |
Ia kemudian meletakkan tapak pertama dalam proses pendidikan anak : Di mana hati diletakkan, di situ proses belajar dan maju mulai.
Pertama-tama dalam mengembangkan pendidikan anak maka hati yang tulus
dulu ditaruh sebagai ruang pembuka untuk membuka wawasan anak terhadap
dunia.
Dengan dasar dan hati yang ikhlas Romo
Mangun mendirikan SD Mangunan, sebuah lembaga eksperimen bagaimana
kemudian anak bisa dimerdekakan alam pikirannya dan alam terkotak-kotak
karena adanya perbedaan. Prinsip dasar SD Mangunan adalah :
Sekolah mestinya bukan
lembaga diskriminasi yang berfungsi sebagai pasak pemecah-belah sosial,
akan tetapi suatu convivium, hidup bersama.
Sekolah yang tidak diskriminatif,
dimana kemudian ia mencoba lewat SD Mangunan menghancurkan sistem
sekolah bergaya pabrik menjadi sekolah yang mendekatkan hubungan batin
guru dan murid bukan sebagai penguasa dan orang yang dikuasai tapi
sebagai ‘dua manusia yang bertemu’ untuk memekarkan kemanusiaan.
Saya kira adalah menarik untuk membuat
film tentang jalan hidup Romo Mangun, ditengah masyarakat sekarang ini
yang tidak lagi menjadikan kemiskinan sebagai ‘ruang persoalan
kemanusiaan’ kemiskinan sebagai gugatan untuk mengembangkan kepedulian
tapi malah kita sering berkelahi karena perbedaan-perbedaan dan menjadi
main benar sendiri.
Sungguh menarik apabila film itu
bercerita bagaimana Romo Mangun bersepeda sore hari, melihat kali Code,
melihat masyarakat yang bekerja, melihat alam, membersihkan kali,
membangun rumah si miskin, membangun kamar-kamar pendidikan dan
mencerahkan anak manusia dalam kesejahteraannya, sungguh menarik ketika
memperlihatkan Romo Mangun bergulat di kamar kerjanya menggambar
bentuk-bentuk rumah yang kaya budaya dan ramah ruang bagi kemanusiaan,
dengan hanya berkaos oblong serta sarungan berbicara di beranda rumahnya
di kali Code, berbicara dengan bahasa rakyat, bahasa sehari-sehari,
bahasa memahami kemanusiaan. Ah, seandainya Garin atau Hanung Bramantyo
mau membuat film tentang Romo Mangun, maka akan menyadarkan pada dunia,
bahwa di Indonesia adalah tempat yang indah bagi persoalan-persoalan
kemanusiaan, tempat yang membuka ruang saling memberi bukan saling
membunuh.
Dari keikhlasan Romo Mangun menjalani kehidupan, kita banyak belajar………..
Jakarta, 10 Juni 2012




Tidak ada komentar:
Posting Komentar