 |
| Suharto dengan senyum manisnya yang terkenal (sumber photo : Republika.co.id) |
Indonesia
harus memiliki pemimpin Lembu Petheng -anak yang tak jelas bapaknya-
seperti Ken Arok, seperti Pak Harto yang juga tak jelas siapa bapaknya,
karena orang yang tak jelas siapa Bapaknya tidak memiliki rasa minder
terhadap masa lalu…….
(Sudjiwotedjo, Indonesian Lawyer Club 2011)
Ucapan
Sudjiwotedjo saat itu menjadi tertawaan banyak orang di studio ILC dan
penonton TV One, karena memang tak banyak yang mengerti kedalaman
filsafah dalam sejarah Jawa seperti ungkapan Sudjiwotedjo itu.
Mitologi silsilah inilah yang kemudian ditembak oleh Sudjiwotedjo dalam melihat kasus Suharto. –Bagaimana mungkin seorang anak
petani biasa membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX tertunduk dan menurut
pada Pak Harto, bagaimana mungkin orang yang begitu Prabawa dan penuh
kharisma seperti Bung Karno seperti gemetar ketakutan melihat Suharto,
bahkan di akhir tahun 1966 dengan nada galau Sukarno berteriak tiga kali
menyebut Suharto sebagai keadaan bahwa tak boleh ada yang merebut kursi
Presiden : “Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga
engkau Suharto….” kata Bung Karno sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke
arah barisan para Jenderalnya. Ada apa dengan kekuatan Suharto?
Jelas
Sukarno tidak akan takut dengan kekuatan militer Amerika Serikat, ia
sudah terbiasa menghadapi teater perang besar. Bahkan dihadapan Dadong
(nama panggilan Presiden Filipina-Macapagal), Sukarno menyatakan siap
menghadapi perang sebesar apapun, dan itu memang sudah dilakukan Sukarno
ketika ia meletuskan kata-kata Dwikora dan mengancam perang dengan
Malaysia, sebuah pidato yang mirip pidato Franklin Delano Roosevelt,
“Pidato Pengumuman Perang terbesar setelah Perang Dunia II selesai” di
koran-koran besar Amerika menjuluki Sukarno sebagai ‘Tiran’ dengan
kekuatan tanpa tanding yang mengancam dunia bebas, tapi di sisi lain di
negara-negara bekas jajahan dan negara tertindas Sukarno dijuluki “Hadiah Tuhan untuk Kebebasan Bagi mereka Yang Tertindas” disini Sukarno menunjukkan bukan saja orang nomor satu, tapi juga tokoh dunia.

Sementara
Jenderal AH Nasution sendiri saat menunggui anaknya di RS Gatot Subroto
yang sekarat tertembak pasukan penculik pimpinan Letkol Untung,
menampik saran Adam Malik. Saat itu Adam Malik berkata pada Nasution
yang juga merupakan sepupunya sendiri “Nas, kau ambil itu kekuasaan
Angkatan Darat, sekarang juga kau ke Kostrad, kau pegang sendiri
militer” tapi Nasution menolak dengan alasan bahwa ‘bagaimana mungkin
aku meninggalkan anakku yang sekarat untuk urusan pekerjaan’. Disinilah
kemudian Adam Malik kecewa, dan menganggap Nasution lemah, tapi mungkin
Adam Malik lupa, sepanjang sejarah karir militer Nasution, ia tak berani
berhadapan head to head dengan Sukarno. Seperti
yang diucapkan Nasution sendiri di Amerika Serikat dalam wawancara
dengan jurnalis Amerika Serikat di awal tahun 1960-an “Saya tak
mungkin berhadapan dengan Sukarno, dialah yang menyadarkan saya tentang
arti kemerdekaan, sebelum saya tahu apa itu merdeka di masa saya sekolah
dulu” ini artinya kekuatan Sukarno memang secara personal luar
biasa, dan anehnya kekuatan Sukarno bisa lebur ditangan Jenderal yang
sama sekali tak dikenal sebelumnya, nama Jenderal itu pernah
disebut-sebut di koran-koran sepanjang konflik politik yang panas pada
paruh pertama 1960-an, namanya hanya muncul sekilas saat pemakaman
Jenderal Gatot Subroto dan saat ia diangkat jadi Panglima Mandala dalam
Perang Perebutan Irian Barat, itupun kemudian namanya tenggelam oleh
Subandrio, Menteri Luar Negeri yang memiliki kelihaian diplomasi dengan
mencari celah dukungan Inggris dan Amerika Serikat dalam menendang
Belanda keluar dari Irian Barat.
Suharto lahir dari situasi yang tak jelas
– Pernyataan ini bukan hanya lahir dari majalah-majalah gosip yang
banyak bermunculan di tahun 1970-an mengenal asal usul Suharto, tapi
juga dari buku-buku yang berbobot ilmiah tinggi seperti buku Robert Edward Elson,
seorang Profesor dari University of Queensland, Australia yang secara
serius meriset Suharto. Dalam satu bab pertamanya tentang asal usul
Suharto menjadi bagian paling rumit untuk mendefinisikan kepribadian dan
posisi psikologis Suharto dimasa mendatang, analisa Elson ini mirip
dengan Karl Marx dalam mengotopsi kritik atas Kapital dalam tulisan Das
Kapital tentang bagian pertamanya yang abstraktif untuk mendefinisikan
fungsi komoditi dalam kehidupan manusia begitu juga Elson menyajikan
riset atas konfigurasi keluarga Suharto yang rumit, mengenaskan serta
tidak jelasnya siapa ayah kandung Suharto sesungguhnya dan berpengaruh
atas kepribadian Suharto yang pendiam, menganalisa masalah,
mempertimbangkan keadaan serta hati-hati dan kepribadian ini menjadi
modal dalam keberhasilan hidupnya.
Suharto
lahir 8 Juni 1921, angka ini juga masih diperdebatkan banyak orang,
namun Suharto sendiri meredakan perdebatan ini dan ia secara gamblang
menyatakan tanggal lahirnya adalah 8 Juli 1921. Suharto dilahirkan dari
seorang Ibu yang galau, yang stress dan seorang sedang prihatin. Hal ini
dinyatakan dalam Elson pada bab pertama buku tentang Suharto. – Di buku
lain karangan Roeder : Anak desa : Biografi Presiden Suharto,
menyebutkan dua tahun setelah kelahiran Suharto orangtua mereka
bercerai, tapi Elson lebih ganas lagi menyebutkan waktunya : Orangtua
Suharto bercerai empat minggu setelah kelahiran Suharto.
Sukirah sendiri mengalami kondisi stress, ia dikabarkan hilang dan ternyata sedang ‘ngebleng’
puasa tanpa makan dan minum, ia merasa membawa beban hidup yang amat
berat. –Kondisi ini secara tak sadar hanya sekilas saja diberitakan para
ilmuwan barat yang berpaham rasional, namun bagi kalangan Jawa yang
mengerti ilmu kebatinan, jelas Sukirah mengalami beban psikologi luar
biasa karena ia mengandung ‘Seorang Raja di Masa Depan’. Penduduk
kampung mencari-cari Sukirah, yang kemudian ditemukan dalam keadaan
hampir mati karena kurang makan dan minum.
Dari
situasi keprihatinan yang tinggi itulah Suharto lahir. Di usia empat
tahun Suharto sudah diserahkan ke kakak ibunya, pada keluarga
Kromodiryo. Pada usia yang masih amat muda sekitar lima tahun dan ini
mengherankan bagi anak desa seumurnya, Suharto sudah disekolahkan.
–Suharto yang berada di dusun amat terpencil bisa bersekolah bagus ini
juga menjadi bahan riset yang menarik, siapa ayah Suharto sesungguhnya? Suharto
sendiri tak mengalami ikatan emosional yang tinggi kepada orang yang
dianggap ayahnya yaitu Kertosudiro, -kemungkinan Suharto sudah mengerti
bahwa Kertosudiro bukan ayah kandungnya (Elson, bab I –Permulaan dan Masa Muda Suharto). Di
dalam buku otobiografi-nya : Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan,
yang disusun oleh Ramadhan KH mengatakan : “dimasa lalu ada teman
seingat saya bernama si Kromo, yang mengata-ngatai saya sebagai ‘Den Mas Tahi Mabul’.
Dan ini penghinaan bagi Suharto kecil, lalu Suharto menonjok anak itu
dan itulah pengalaman satu-satunya Suharto berkelahi, ini artinya
berbeda dengan pengalaman berkelahi pertama Sukarno yang mempersoalkan
dia dilarang main bola oleh Sinyo Belanda karena ia seorang Pribumi tapi
Suharto berkelahi karena persoalan tak jelas asal usulnya. Dari Sukirah
sendiri Suharto memang ada keturunan bangsawan Yogyakarta, kakek buyut
Suharto : Notosudiro, memiliki isteri yang merupakan anak perempuan dari
Hamengkubuwono V.
Terlepas
dari situasi sulit siapa ayah kandungnya, perpecahan keluarga dan
segala macam konflik psikologis dalam lingkungannya Suharto tumbuh
secara baik, ia adalah pemuda yang tampan, berwajah ningrat dan sangat
halus perangainya. Beberapa kali Suharto menjadi bahan rebutan antara
Sukirah dan Kertosudiro, sehingga Suharto harus tabah dalam menjalani
kehidupan. Suharto sendiri mengakui saat paling bahagia adalah ketika ia ‘ngenger’
(menumpang) pada keluarga Prawirohardjo, yang salah satu anaknya adalah
Sulardi, di Wuryantoro. Lewat Sulardi inilah Suharto berkenalan dengan
Hartinah, puteri wedana di Wonogiri, yang juga merupakan kawan sekelas
Sulardi, kelak Hartinah adalah isteri Suharto.
Suharto
hidup prihatin, ia senang sekali berpuasa “Saya sudah mengalami banyak
laku, banyak tindakan pertapaan di diri saya, satu-satunya yang belum
saya lakukan adalah tidur diatas sampah” kenang Suharto dalam
biografinya. Bertapa adalah ‘keprihatinan’ ala orang Jawa dalam memahami
penderitaan, dalam keprihatinan manusia tidak boleh hidup enak, mereka
harus mendidik dirinya sendiri dengan keras agar tidak gampang mengeluh
dalam kehidupan dan kuat menghadapi godaan dalam menjalani cita-cita.
Guru Suharto paling awal dalam soal kebatinan dan pemahaman pada
nilai-nilai filsafat Jawa adalah Kyai Daryatmo yang ditemui Suharto
sewaktu muda.
Kemampuan
Suharto dalam mengolah diri inilah yang kemudian berhasil menjadikan
dirinya sebagai orang disiplin. –Ia juga terus menerus mencari daya
linuwih dalam kehidupannya, ia orang yang tidak gemar kenikmatan hidup,
ia hanya menjalani apa yang diyakininya benar –terlepas keyakinannya itu
membuat sengsara banyak orang, atau membuat keadaan susah- ia tahu apa
tujuannya.
Perkenalan
Suharto pertama kali dengan militer adalah di KNIL, awalnya ia ingin
melamar jadi Angkatan Laut, jadi seorang kelasi, hal ini ia lakukan
karena melihat seorang kelasi sedang berlibur di Yogya dan amat gagah.
Namun keinginannya saat menjadi kelasi ia urungkan ketika ia mendaftar
ke Angkatan Laut Hindia Belanda, soalnya ia mendengar bahwa lowongan
yang dibuka hanya sebagai juru masak, sekeluarnya dari pendaftaran
kelasi Angkatan Laut, tanpa sengaja ia mendengar bahwa KNIL membuka
pendaftaran, ia amat berminat kejadian itu sekitar akhir tahun 1939 atau
awal 1940. Hindia Belanda sedang membutuhkan tenaga perang sekitar
35.000 orang pribumi saat itu memang berkembang wacana bahwa kemungkinan
Jepang masuk ke Hindia Belanda dan tak mungkin berhadapan dengan Jepang
sendirian, seperti di Filipina yang sedang mempersiapkan perlawanan
rakyat, maka Belanda harus mempersiapkan pribumi untuk militerisasi demi
menghadapi serbuan Jepang. Namun tampaknya wacana militerisasi kaum
pribumi menjadi mentah, karena militerisasi ini hanya akan menjadikan
‘senjata makan tuan’ bagi Belanda kelak dikemudian hari, akhirnya kaum
pribumi dibatalkan untuk menghadapi Jepang, ratusan ribu senjata yang
sedianya digunakan untuk perang disembunyikan dan Pemerintahan Hindia
Belanda memilih lari ke Australia.
Suharto
masuk dalam program militerisasi besar-besaran itu dan ia lulus sebagai
yang terbaik tiga tahun kemudian, tak lama kemudian Jepang masuk.
 |
Suharto saat masih berpangkat Overste/Letnan Kolonel. (Sumber Photo : Harian Kedaulatan Rakjat, Yogyakarta)
|
Ada
cerita menarik ketika Suharto ingin masuk KNIL, ia ngangon dua
kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito,
Sukardjo bercerita dalam bukunya : “Mereka Menodong Bung Karno” bahwa
Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat
bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan
seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta.
“Kebetulan
Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu” katanya
kepadaku. “Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali” jawabku sambil
mengerat tebuku untuk kugigit dipatahkan. “Penting sih tidak, cuma mau
minta pamit”.
“Memang mau kemana sih mas?”
“Aku akan masuk Kumpeni” kata Suharto. “Sekolahan?”
“Aku
sudah berhenti sekolah kok” Sukardjo heran lantas bertanya “Padahal
kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau
tamat saja?”
(Percakapan
ini tercatat dalam buku “Mereka Menodong Bung Karno, Kesaksian seorang
Pengawal Presiden, Soekardjo Wilardjito, Galang Press cetakan I, 2008)
Suharto
pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah
dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja
karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua
orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan. Suharto
memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang : Mayjen
Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta
surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan, sementara di pihak lain
sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu
menjadi ajudan Bung Karno dan menurut pengakuannya menyaksikan sendiri
bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia
sebut sebagai : Mayjen Panggabean, Jenderal keempat dalam urusan
Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000,
dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling
menghebohkan. Namun seperti biasa berita ini tetap dimenangkan oleh
pembela Suharto yang mau tak mau Suharto telah memenangkan sejarah
dengan memasukkan SP 11 Maret 1966 sebagai tonggak penting konstitusi di
Indonesia. Sukardjo kemudian diburu dan dipenjara bahkan sempat dibuang
ke luar Jawa, namun selalu urung dibunuh apakah karena mungkin ia
sepupu Suharto (?), namun yang jelas disini Suharto bisa amat dingin
membedakan mana saudara, mana politik, dan inilah yang kemudian membuat
Suharto memang merupakan Jenderal Berdarah Dingin, dan memiliki
kepribadian lebih kuat apalagi hanya dibandingkan dengan Nasution yang
cenderung lemah.
Kemampuan
Suharto dalam memenangkan sejarah ini tak lepas dari kepribadiannya
yang teliti sebelum mengambil tindakan dan mengamati. Salah satu modal
psikologis dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah ia amat
“pendiam” Rosihan Anwar sendiri pernah menceritakan hal itu “Saya
berjalan berjam-jam dengan Suharto untuk menemui Jenderal Sudirman dan
diantar oleh dia, tapi sekalipun ia tidak bicara, ia hanya menyetir
mobil, lalu masuk pedesaan, ia juga memetik kelapa dan satu-satunya
ucapan yang ia katakan pada saya adalah “silahkan diminum” –Ia adalah orang yang ‘kulino meneng’ (terbiasa berdiam diri) sebut Rosihan menjuluki watak Suharto.
Kelak di tahun 1974 surat kabar Rosihan Anwar ‘Pedoman’ dibredel
Pemerintahan Suharto, ketika Mashuri bertanya bagaimana nasib Pedoman
pasca peristiwa Malari 1974, Suharto menjawab sinis “Wis dipateni wae (sudah
dibunuh saja)” jelas ini menunjukkan Suharto amat dingin terhadap orang
yang ia kenal dimasa lalu. Ia lebih mementingkan tujuan dalam
mengerjakan sesuatu ketimbang kehangatan hubungan antar manusia.
Suharto
amat berminat dalam latihan-latihan kemiliteran. Ia juga terpengaruh
oleh ide-ide nasionalisme yang amat bergema pada masa latihan
kemiliteran di PETA, saat itu ide paling besar dari perwira PETA adalah :
Nasionalisme Ekstrim, anti Belanda dan Anti Jepang. –ada hal lain yang
perlu dicatat PETA berbeda dengan KNIL, dalam PETA tidak adanya pengaruh
sipil yang mengendalikan ia seakan-akan bergerak sendiri sementara KNIL
amat dipengaruhi keputusan sipil, watak dasar entitas inilah yang
kemudian menjelaskan bagaimana kemudian Jenderal-Jenderal Orde Baru
lulusan PETA yang kemudian mengambil alih kendali sejarah, memutuskan
hubungan dengan sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan
jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil.
Karir
Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah
memerdekakan Indonesia, ia sendiri mengakui bersorak gembira ia larut
dalam eforia kemerdekaan Republik Indonesia, ia langsung bertindak di
Yogyakarta dan karena masa lalunya yang baik dalam latihan kemiliteran
ia langsung diangkat menjadi Mayor Republik, ini adalah keputusan
menarik bagi seorang Suharto, karena bagaimanapun sebagai eks KNIL dan
memiliki karir bagus di PETA ia bisa saja menunggu Belanda dan melamar
menjadi Perwira KNIL untuk perang dengan Republik, tapi Suharto lebih
memilih menjadi pejuang di garis kemerdekaan Republik Indonesia, pilihan
ini tidak bisa dianggap remeh karena ini bisa menjelaskan watak
nasionalisme Suharto yang puritan, ekstrim dan tidak aneh-aneh, setia
pada merah putih walaupun kemudian ia gagal paham soal pandangan yang
lebih menjlimet lagi ‘soal kedaulatan total’ ide yang dikeluarkan oleh
Tan Malaka dan Bung Karno. Bagi Suharto nasionalisme adalah soal
kesejahteraan, cinta tanah air dan rakyat tidak kelaparan. Nasionalisme
logistik inilah yang kemudian mewarnai Indonesia selama lebih dari 32
tahun.
Suharto
adalah orang yang beruntung, ia tanpa sengaja masuk ke dalam pusaran
sejarah dan kenal dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ia bisa
kenal dengan Bung Karno lewat kejadian paling bersejarah : Penangkapan
Djenderal Mayoor Sudarsono, saat itu Sudarsono adalah orang yang paling
berjasa terhadap pembentukan pasukan di Yogyakarta, ia yang menyerang
seluruh markas Jepang dan merebut persenjataan sehingga pasukan di
Yogyakarta menjadi pasukan terkuat se Indonesia, kekuatan pasukan inilah
yang kemudian menjadikan posisi Sri Sultan Hamengkubuwono IX amat
penting serta membuat seluruh kabinet Republik Indonesia mengungsi ke
Yogyakarta meminta perlindungan pada Sri Sultan Hamengkubuwono IX
sekaligus menyusun strategi militer yang lebih komprehensif untuk
menghadapi kekuatan Belanda yang menurut data intelijen Inggris dan
sudah diterima Sjahrir akan masuk lewat struktur entitas militer bernama
NICA.
Di
awal tahun 1946 berkembang perdebatan sengit di dua kelompok : Kelompok
Sjahrir dan Amir Sjarifuddin yang saat itu mereka bersatu dalam Partai
Sosialis (PS) serta menjadi dominan dalam Kabinet menghendaki
perundingan kepada Belanda sementara di pihak lain kelompok oposisi yang
dipimpin Tan Malaka menghendaki perang total, perang tanpa kompromi
dengan Belanda. “Tak Perundingan, Tak ada diplomasi, Merdeka-lah kita
100%”. Kelompok Tan Malaka mendapatkan simpati hampir semua perwira
militer terutama yang berasal dari PETA. Jenderal Sudirman adalah
pengagum Tan Malaka, ia selalu berdiri dan bertepuk tangan ketika Tan
Malaka pidato, anak buah Sudirman Jenderal Mayoor Sudarsono dan anak
buahnya Mayor AK Yusuf juga amat berdiri di garis Tan Malaka, namun ada
situasi over acting dari tindakan Sudarsono yaitu menangkap Perdana
Menteri Sjahrir dan pengikutnya.
Tindakan
Sudarsono ini jelas dikecam Sukarno, seorang pemimpin pemuda bernama
Sudjojo memerintahkan Suharto –yang saat itu sudah menjadi Letkol karena
keberaniannya dalam perang Ambarawa dan menjadi anak buah kesayangan
Jenderal Sudirman- untuk menangkap Sudarsono, sementara tak lama
kemudian keluar surat perintah dari Sukarno untuk menangkap Sudarsono.
Suharto
berpikir, “bagaimana bisa ia menangkap atasannya, orang yang paling
berjasa atas lengkapnya persenjataan pasukan di Yogyakarta dan dikagumi
banyak serdadu Yogya, sementara saya sendiri adalah pengikut Sudarsono”
tapi Suharto amat hati-hati ia membalas surat Sukarno “ia akan menangkap Sudarsono bila ada perintah dari Jenderal Sudirman” Konflik
3 Juli 1946 ini menjadi amat jelas bagi kita bagaimana menilai
kemampuan Suharto dalam manajemen konflik dan mengerti atas situasi, ia
mendapatkan pelajaran ‘Bahwa kekuasaan bukanlah selalu orang
yang berada di atas posisinya, tapi kekuasaan adalah mereka yang secara
realitas memegang kekuatan dan kendali atas keadaan’.
Suharto
mengerti saat itu bukan Sukarno yang memegang kendali kekuasaan, tapi
Sudirman dan Tan Malaka – soal ini secara jelas diungkapkan banyak
sejarawan pada waktu itu tentang pola kekuasaan di Indonesia selama masa
revolusi bersenjata 1945-1949. Suharto tak mau melakukan tindakan
sebelum tahu jelas sekali situasi dan tak mau bertindak sebelum mengerti
siapa yang memegang kendali keadaan, inilah yang kemudian menjadikan
Suharto selalu memenangkan sejarah, dan ucapan paling fenomenalnya “PKI
berada dalam penculikan para Jenderal” di awal Oktober 1965 menunjukkan
bahwa memang Suharto memiliki informasi amat lengkap sebelum kejadian
dan bukan merupakan spekulasi. Inilah yang membedakan Suharto dengan
pelaku sejarah lainnya.
 |
| Presiden Sukarno, Brigjen Suharto dan Mayor Untung dalam satu inspeksi,
Sukarno dan Untung adalah dua orang yang dikalahkan secara tragis oleh
Suharto (Sumber Photo : Tabloid Detik) |
Hari
ini kelahiran Suharto, 8 Juni seorang yang amat penting dalam sejarah
Indonesia, memang Sukarno merupakan Bapak Pembebas Rakyat Indonesia,
tapi mau tak mau peradaban sekarang ini tetaplah peradaban Suhartorian,
seluruh pemegang kekuasaan saat ini merupakan anak didik Suharto yang
diberi fasilitas pada jaman Suharto, hampir 100% pelaku penting politik
saat ini bukanlah orang yang melawan Suharto. Inilah yang menjelaskan
kenapa Sudjiwotedjo mengatakan ‘Siapa Bapak Kandung Suharto?” kekuatan
tanpa rasa minder, seperti ketika Suharto disindir oleh Mayjen S Parman
sebelum kejadian 1965, “Suharto itu siapa, pendidikannya apa, arep melu-melu ngurus negoro”
yang dicatat dalam Buku Subandrio, juga beberapa catatan sejarah
tentang para Jenderal yang berpendidikan tinggi dan mengejek Suharto
apalagi ketika Suharto dengan lihai menggantikan posisi Bung Karno
sebagai Presiden RI di tahun-tahun awal kekuasaannya, Suharto selalu
menerima banjir ejekan atas dirinya yang kurang berpendidikan dan
memiliki masa lalu tak jelas
Keadaan
itu dijawab Suharto dengan tenang termasuk ketika ia mengadakan
konferensi pers saat itu di tahun 1974, ramai sekali perdebatan siapa
Bapak Kandung sesungguhnya Suharto, bahkan Mashuri bekas tetangga
Suharto dan mantan Menteri Pendidikan memberikan keterangan bahwa
Suharto adalah anak keturunan Cina (seperti yang diungkapkan Elson
dalam bukunya). Saat itu ramai spekulasi bahwa Suharto adalah anak
kandung Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, artinya dia adalah adik kandung
Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ada juga yang menyatakan bahwa ayah
kandung Suharto adalah “orang yang memegang payung kuning Sri Sultan
Hamengkubuwono VIII. Namun spekulasi-spekulasi itu dijawab tenang oleh
Suharto dalam konferensi pers : “Saya adalah anak Petani”……
Ya,
Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan
Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di
negeri ini yang mustahil dikalahkan, secara politik ia hanya dikalahkan
oleh umurnya sendiri…………..
Selamat Ulang Tahun Pak Harto.
8 Juni 2012.
Bahan Bacaan :
Robert Edward Elson : SUHARTO, Sebuah biografi Politik : Pustaka Minda Utama, 2005
Suharto
: Pikiran, Ucapan dan Tindakan, sebuah biografi : Disusun Ramadhan KH
dan Gufron Dwipayana, Penerbit Citra Lamtorogung, 1988
Mereka Menodong Bung Karno -Kesaksian seorang Pengawal Presiden, Sukardjo Wilardjito, Penerbit : Galang Press, 2008.
Anak Desa : Biografi Presiden Soeharto, O.G Roeder, Penerbit : Gunung Agung, 1976
Suharto and his General : Indonesian Military Politics, 1975-1983 : David Jenkins, Penerbit : Ithaca, 1984
Kebatinan dan hidup sehari-hari orang Jawa, Niels Murder, Gramedia 1983.