Cari Blog Ini

Selasa, 19 Juni 2012

Sisi Kapital dalam Klaim Kebudayaan

Bung Karno, Henk Ngantung dan Para Seniman di Istana Negara (Sumber Photo :Antara)
Awal minggu ini kita dihebohkan oleh berita di media massa tentang klaim Malaysia terhadap tari Tor Tor dan Gondang Sambilan, muncul pro kontra disini. Bagi pihak yang panas dan emosional menganggap aksi Malaysia ini adalah tindakan maling yang direstui negara sementara dari pihak yang berkepala dingin menganggap ini soal biasa saja, soal budaya bangsa.

Tapi pernahkah ada yang berpikir selama ini apa yang dilakukan Malaysia mulai dari klaim Batik, Tari Pendet, Lagu Rasa Sayange,  dan banyak lagi pengakuan secara sepihak sebagai strategi kebudayaan Malaysia dalam ‘penumpukan kapital masa depannya’ sebagai negara? 

Sebelum masuk ke dalam strategi kebudayaan Malaysia dan akumulasi Kapital atas strategi kebudayaan itu, kita lihat dulu arah strategi kebudayaan kita yang sejarahnya juga pernah berpikiran sama dengan Malaysia dalam ambisinya menyebutkan dirinya sebagai ‘The Truly Asia’  dalam menciptakan centrum kebudayaan sebagai alat peningkatan kekayaan negara.
Pavilyun Hindia Belanda di Pameran 100 tahun revolusi Perancis, di Paris (Sumber Photo : KITLV)
 
Bung Karno dan Taman Bhinneka Tunggal Ika 


Sejak jaman Hindia Belanda, keanekaragaman kekayaan Nusantara menjadi bahan paling menarik bagi para antropolog dan peminat studi-studi kebudayaan timur.  Pemerintahan Hindia Belanda juga secara resmi menggalakkan penggalian kebudayaan itu kemudian digerakkan sebagai ‘akumulasi kapital’ dalam banyak pameran di Bandung, Batavia dan Surabaya seringkali Pemerintah Hindia Belanda memamerkan rumah-rumah adat, tarian tradisional dan segala macam bentuknya, bahkan di era Van Limburg Stirum sudah ada ide untuk membentuk semacam ‘Taman Mini Hindia Belanda’.   Namun rencana ini tak berlanjut karena krisis ekonomi dan kemudian Van Limburg Stirum digantikan oleh Dirk Fock yang tidak begitu menyukai adanya kekayaan kebudayaan Hindia Belanda dan lebih berkonsentrasi pada pengembangan ekonomi komoditi ketimbang menggali kekayaan kebudayaan dan meningkatkan sektor pendidikan seperti masa Van Limburg Stirum. -Namun ada yang layak dikenang di jaman Stirum ini menjadikan Pulau Bali dikenal di Eropa, Stirum membangun jalur-jalur khusus pelayaran pariwisata ke Bali, kemudian Bali mulai dikenal masyarakat Internasional, Bali yang awalnya menjadi sorga seniman Bohemian, di tahun-tahun 1930-an awal mulai dijadikan tempat Pariwisata secara profesional dan berpotensi menumpuk Kapital.

 Rencana Stirum itu sedikit banyak kemudian diambil kembali pada era Pemerintahan Sukarno setelah Sukarno memberlakukan Demokrasi terpimpin 1959. Pada tahun 1960, Sukarno mengangkat Henk Ngantung menjadi Wakil Gubernur Djakarta Raja,  pemikiran pertama adalah menggali pemikiran Sukarno soal kebudayaan.

Bung Karno Menginspeksi Pembangunan Monas (Sumber Photo : LIFE Magazine)
Bagi Sukarno sendiri “kebudayaan adalah landasan dasar” bukan saja ‘pembentuk jiwa karakter sebuah bangsa’  tapi landasan dari seluruh gerak bangsa. Kebudayaan itu dibagi dua menjadi Kebudayaan sebagai arah pengembangan pencerahan batin dan kebudayaan sebagai aset kekayaan bangsa, dari dua sisi inilah kemudian Bung Karno meletakkan arah pembangunan Revolusi-nya. -Kebudayaan selalu jadi avant garde dalam revolusi Sukarno, seni lukis berkembang hebat, aliran-aliran lukisan masa itu semarak, sastra berkembang amat baik dan Sukarno sendiri secara frontal melawan lagu-lagu asing, di satu sisi ia berteriak soal “Kebudayaan Sendiri!” di sisi lain yang tak dilihat banyak orang adalah Sukarno mengembangkan strategi bahwa jika kebudayaan warisan masa lalu bisa menjadi ‘tuan rumah’ di negeri sendiri maka seluruh hasil kebudayaan itu bisa menjadi sumber akumulasi kapital, bisa menjadi sumber kekayaan bagi bangsa sendiri. ‘Strategi kapital dalam kebudayaan ini dilakukan Sukarno dengan amat jenius dan berwawasan jangka panjang’. Ia membentuk Lapangan Monas sebagai lapangan terpadu, titik nol kebudayaan kita. - Dalam lapangan Monas itu rencananya akan dibangun Museum besar, yang menurut Sukarno ‘Lebih hebat dari Museum Nasional Mexico’ bahkan dalam pidatonya di masa menjelang kejatuhannya tahun 1966, Sukarno berkata “Di depan pintu keluar museum ini akan ada tulisan ‘Nah, kalian sekarang bisa meninggalkan museum ini, tapi kalian tak bisa meninggalkan sejarah”. Arah pemikiran Bung Karno ini dibaca oleh Henk Ngantung dan kemudian ia menyusun sebuah tim untuk merekonstruksi centrum kebudayaan, saat itu sekitar tahun 1962 Bung Karno pernah mengunjungi wilayah Ragunan dan dielu-elukan warga sekitar, di wilayah Ragunan ada sekitar 100 hektar tanah yang bisa digarap negara untuk keperluan kebudayaan. Henk memberikan usulan agar di Ragunan dibentuk ‘Taman Bhinneka Tunggal Ika’. Namun Sukarno tampaknya mendiamkan saja rencana Henk, karena ia sedang konsentrasi pada pembangunan di wilayah pusat Jakarta seperti Monas dan Istiqlal, memang menurut pemikiran Henk dari Monas ke Ragunan adalah jalur kebudayaan, disana akan dibangun banyak patung-patung, dan karya seni dipajang dalam ruang publik kota, ujungnya adalah ‘centrum kebudayaan, sebuah miniatur Indonesia’ yang terletak di Ragunan. - Akhirnya Ragunan di tahun 1970-an oleh Ali Sadikin dibuatkan Kebon Binatang Ragunan menggantikan kebun binatang yang dulunya ada di Cikini.

Di masa Sukarno, lagu-lagu daerah meledak luar biasa : lagu Butet dinyanyikan dimana-mana oleh orang Klaten atau orang Sidoarjo, lagu Apuse dinyanyikan dengan senang oleh orang Bukittinggi,  lagu Ayam den Lapeh dinyanyikan oleh orang Makassar sambil tertawa-tawa . -Bung Karno mampu menjadikan produk kebudayaan sebagai alat mengenalkan manusia lain dengan manusia, dan menjadi bahan pelekat imajiner pembentuk sebuah bangsa. -Sekaligus menjadi modal kekayaan negara untuk mengakumulasi kapital.  Selain menjadi pelekat sebuah bangsa, Bung Karno juga mampu meledakkan lagu-lagu Indonesia menjadi alat untuk mengenal antar bangsa, seperti lagu Panon Hideung dari Sunda yang banyak dikenal orang Rusia atau lagu Ayo Mama amat dikenal oleh orang RRC. -Disini lagu-lagu tersebut kemudian tidak diklaim oleh orang Rusia atau RRC sebagai kekayaan mereka, tapi memang sebagai pengenalan kemanusiaan, bukan menjadi ‘hak milik’ resmi.
Demo Menolak Taman Mini (Sumber Photo : Dok. Tempo 1972)

Setelah jaman Bung Karno usai, muncullah jaman Suharto. - Di masa ini persoalan kapital atas strategi kebudayaan menjadi banal tapi  jelas dan lugas.  Adalah Ibu Tien Suharto yang dengan keras akan membangun pusat kebudayaan Indonesia di Jakarta. Proyek itu dinamakan Proyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) - ide ini digagas Bu Tien dan didukung oleh para pejabat di lingkaran dalam Suharto, saat itu Ali Sadikin juga masih akur dengan Pak Harto. Ide bu Tien didukung penuh oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani, sebagai konsultan Pembangunan Taman Mini ditunjuk Ir. Hardjasudirdja. - Rencana bu Tien di tahun 1972 yang berencana akan menggelontorkan dana Rp. 10,5 milyar di masa itu sungguh mengejutkan banyak pihak. Para ekonom-ekonom Suharto seperti Widjojo Nitisastro menolak keras rencana ini ‘Tidak ada kas negara!’.  Sementara dari kalangan mahasiswa memanas, kompleks kebudayaan itu adalah penghambur-hamburan kekayaan negara, masih banyak yang harus dibangun. Namun bu Tien keukeuh terhadap rencana itu, ketika mahasiswa memanas dan hampir tak terkendali, Suharto mengumpulkan para Jenderalnya di Wisma Ahmad Yani untuk mendinginkan keadaan. Lalu muncul Pangkopkamtib Sumitro ke depan untuk bertanya pada Pak Harto secara pribadi soal Taman Mini, - Pak Harto hanya menunjuk itu rencana bu Tien dan Sumitro lalu mencari Bu Tien dan bertemu, Bu Tien tetap keras kepala dengan pembentukan Taman Mini.

Akhirnya di tahun 1975 Taman Mini berdiri. Disini Pemerintahan Orde Baru akan menjadikan Taman Mini sebagai akumulasi kapital segala bentuk kegiatan kebudayaan dan tak perlu mengunjungi seluruh Indonesia cukup di Taman Mini Indonesia saja, strategi akumulasi kapital soal kebudayaan inilah yang kemudian ditiru oleh Malaysia setelah melihat keberhasilan Taman Mini.
Kereta Gantung TMII Simbol Perjalanan Miniatur Indonesia (Sumber Photo : Wesajelajahindonesia

Malaysia membentuk agenda kerja besar Pariwisata mereka dengan nama ‘Malaysia Truly Asia’ ini ambisi besar Malaysia menciptakan sebuah ‘Taman Mini Asia’ , dan Malaysia amat haus akan referensi kebudayaan-kebudayaan. Yang menjadi pokok persoalannya adalah Malaysia selalu menggunakan jalur formalitas untuk mematenkan kebudayaan diluar negaranya, sementara disisi lain selalu berkilah banyak orang Cina, India, Indonesia tinggal di Malaysia mereka berhak atas kebudayaan mereka dan ditanamkan sebagai kebudayaan Malaysia.

Ini menjadi pelik karena tidak adanya kecerdasan diplomasi dari pemerintahan kita dalam mengantisipasi persoalan ini, karena yang dilakukan Malaysia adalah melakukan hak paten dan didaftarkan ke entitas PBB sebagai bentuk warisan kebudayaan mereka. yang ujung-ujungnya adalah persoalan kekayaan negara. 

Melihat kasus Malaysia ini sesungguhnya Pertahanan wilayah hendaknya tidak hanya dilihat dari sisi geopolitik saja tapi harus dilihat dari segala lini yang menyangkut ‘Modal Nasional, Modal Sosial dan Modal Kebudayaan’.

Karena bila didiamkan apa yang dilakukan Malaysia ini adalah bentuk pengelabuan dan penipuan kepada banyak wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Indonesia atau wilayah Asia lainnya, mereka cukup hanya datang ke Malaysia saja, tak usah ke Bali, tak usah ke Yogyakarta, atau tak usah ke alam cantik Minangkabau, mereka bisa bilang orang Sunda hanya meniru Malaysia dalam soal angklung, orang Ponorogo ikut-ikutan soal Reog dan orang Batak suka manortor karena ikut-ikutan orang Malaysia.
Pemutarbalikan fakta ini akan menjadi strategis bagi mereka di masa depan.  Coba anda bayangkan betapa tinggi potensi Batik, setelah semua orang Indonesia memakai batik, sentra-sentra batik seperti di Laweyan Solo hidup kembali,  Pasar Klewer menjadi semakin semarak.

Nah, cobalah sekali-kali melihat kasus klaim kebudayaan Malaysia ini dilihat dari sisi perebutan Modal bukan hanya perdebatan kebudayaan dan soal saling menghargai. -Bila soal saling menghargai soal kebudayaan lihatlah orang RRC yang membacakan dengan indah sajak Bung Karno  di aula Guangxi Normal University dan disambut tepuk tangan dengan mempesona,  lihatlah betapa menghargainya warga Internasional yang datang ke Esplanade, Singapura menonton opera tari ‘Matahati’  dan lihatlah betapa rakyat RRC senang menyanyikan lagu ‘Ayo Mama’ dan orang Jepang berkebun sambil menyanyikan lagu Bengawan Solo.
Kebudayaan adalah usaha mengenalkan hubungan antar manusia, bukan persoalan mencuri kemudian membuat sertifikat kepemilikan tanpa malu.

Kamis, 14 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun, Che Guevara

Foto Che Guevara yang dibuat Alberto Korda, foto ini merupakan karya fotografi paling populer di dunia, dibuat saat Che berdiri melihat pasukan Kuba (Sumber Photo :official website Alberto Korda)

Dengan apa kita membayangkan Che Guevara?, dengan ujung rambut depan berbentuk segitiga yang terkenal, atau foto Alberto Korda yang memuat saat Commandante Che Guevara dengan jaket tempurnya berdiri di sebuah pojok dan kepalanya dilengkapi baret hitam yang terkenal itu, lalu wajahnya yang ‘manly’ (laki-laki sekali) dengan gurat-gurat pengalaman tempur di masa lalu, membuncah pada kenangan banyak anak muda.

Mungkin benar apa kata pepatah : “memalukan bila anak muda di usia 20 tahun tidak menjadi kiri dan memberontak, tapi bila sampai umur 40 tahun masih memberontak dan tetap jadi kiri maka ia tak punya otak”. Pepatah itu untuk ejekan pada kaum pemberontak-pemberontak tua yang kemudian menjadi mapan bahkan menjadi diktator, tapi tidak bagi Che Guevara, sepanjang hidupnya adalah pemberontakan, sepanjang hidupnya Che Guevara terus melawan, bukan saja melawan kaum kanan, kaum imperialis ia juga melawan Sovjet Uni, ia melawan segala bentuk penindasan, di sisi pembebasan manusia ia berdiri. Ia masuk kota Havana dengan seribu kemenangan, seribu sambutan tapi ia tak lena, ia tak larut dalam kebanggaan, ia surut kebelakang dan memanggul senjata kembali berperang melawan penindasan di negara-negara Amerika Latin, ia masuk hutan, dan tertembak dalam ruang kesunyian, ia mati dengan perjuangannya, ia mati tertembak dengan kepala tegak seolah membawa pesan tersembunyi ‘akulah pengancam hidup bagi kaum penindas’.
Che Guevara adalah anak muda, motor dan buku-. Ia lahir dari keluarga kaya, awalnya ia tak berminat di bidang politik, seluruh pikirannya hanya terpusat pada penyakitnya ‘asma’ ia sangat tersiksa dengan penyakitnya ini, ia terus mencari tahu informasi tentang penyembuhan penyakitnya. Hobi membacanya tumbuh karena ibunya Celia de la Serna, amat berminat di bidang sastra, ia ingin anaknya menyukai membaca, Celia tak hanya mengajari anaknya tentang huruf, ia mengajari kosa kata yang hidup, dari ibunya-lah pertama kali Che, mengenali bahwa ‘dibalik aksara’ ada kehidupan. 

Di umur 12 tahun ia suka sekali berkutat di ruang perpustakaan ayahnya, ada satu buku yang amat menarik, sebuah buku berbahasa Spanyol terjemahan dari bahasa Jerman. Judulnya ‘Das Kapital’ karangan Karl Marx, ia menggeluti buku ini, ia mendefinisikan kemanusiaan, ia mendefinisikan bagaimana komoditi kemudian berkembang bukan sebagai ‘alat yang memudahkan manusia’ tapi sebagai alat penindasan, -manusia terasingkan oleh kehidupannya-.
Che Guevara, muda masih hidup dalam dunia yang nyaman, dunia kelas menengah Argentina. Saat itu tahun 1940, Argentina adalah salah satu negara terkaya di Amerika. Bahkan kekayaannya tak jauh dari Amerika Serikat. Argentina menjadi negara makmur karena Eropa amat bergantung pada ekspor pertaniannya, beberapa ladang minyak ditemukan di berbagai tempat, tapi distribusi kekayaan tak merata, di kalangan miskin mereka tak mendapatkan ‘kesempatan menikmati’ kekayaan hanya menjadi kolam susu bagi kelas menengah dan kelas atas. 

Argentina memiliki kedekatan hubungan dengan Spanyol sebagai bekas negara jajahan, bahkan orang Argentina menggunakan Spanyol sebagai bahasa sehari-hari mereka, selain Spanyol, Argentina amat dekat dengan Italia dan Jerman. Faktor kedekatan ini berasal dari mayoritas agama yang sama dipeluk Italia dan Jerman (terutama Jerman Selatan, Bavaria) –agama Katolik Roma. 

Saat perang Spanyol meletus, banyak pengungsi Spanyol datang ke Argentina, kehidupan mereka terlunta-lunta. Ratusan ribu terdampar di pelabuhan-pelabuhan tak bisa masuk karena pemerintahan Argentina menahan keimigrasian mereka, pengungsi ini juga menjadi bahan keributan politik. Suatu sore yang panas, Che berjalan ke Pelabuhan ia melihat sebarisan pengungsi mengenaskan, ia melihat bayi yang menangis, ia melihat seorang tua berjalan yang amat susah, ia melihat sebarisan manusia tak bisa masuk, terasing kebebasannya karen hukum yang dibuat manusia. –disaat inilah hatinya tersentuh, Che tertarik dengan kemanusiaan. Kenapa manusia bisa tertindas?’ ia kemudian menarik dirinya dalam ruang sunyi dan berpikir, hatinya gelisah. 

Tahun 1941 adalah tahun penting bagi perubahan dunia, perang dunia sudah meletus di Eropa, pasukan Jerman menggasak Perancis, menghajar seluruh wilayah barat Eropa dan masuk juga ke Sovjet Uni dalam operasi Barbarossa, Che Guevara membaca terus berita-berita perang, ia beranggapan bahwa ‘dunia bukan berubah menjadi yang baik, tapi dunia mengarah kepada penindasan baru, siapapun yang memenangkan perang maka pemenangnya adalah penindas’ namun pengetahuan soal penindasan ini masih samar-samar, Che belum mendapatkan cara yang sistematis, ia belum menemukan revolusinya. 

Che bersama teman-temannya memperbaiki motor (Album film motorcycle diaries)

Suatu pagi yang cerah, matahari merembes dari balik jendela, ia melihat begitu indahnya kehidupan, Tuhan memberikan keindahan, tapi dibalik keindahan ada pesan, ‘setiap manusia harus punya tindakan untuk berguna bagi manusia lain’ Che Guevara termenung ia duduk sebentar dan matanya tanpa sengaja melihat motornya, sepeda motor buatan Inggris bermerk : Norton. Ia kemudian memanggil dua tetangganya yang montir di belakang pom bensin dekat rumah dan memperbaiki motor itu agar pacu-nya lebih hebat, mesinnya diperbaiki dan ia memeriksa semua. Lalu sorenya ia berjalan-jalan dengan motor, rambutnya yang agak gondrong kepirangan terburai, hidungnya yang lancip membaui udara kebebasan. –Disinilah Che menemui kehidupan, dan kehidupan itu bukan rasa tenang, tapi kehidupan adalah ketika naluri kemanusiaan bertemu dengan manusia lain yang harus dibebaskan.

Pembebasan adalah kata-kata pertama yang dipahami, Che. – Ia mengajak kawannya Alberto Granado keliling Argentina, ia masuk hutan, melewati sungai, melihat perkampungan-perkampungan yang tak terlihat dengan motornya, ia menaiki rakit dan berjalan terus menantang sinar matahari, dan tangannya mencoba meraih bulan di angkasa, hatinya penuh, ia bergembira sekaligus bertanya ‘kemanusiaan, kemanusiaan…’. Che, menemukan kebahagiaan di atas tunggangannya, kuda besi dan dengan buku berlapis kulit ia mencatat seluruh yang ia lihat, orang miskin, para Indian yang terpinggirkan, mereka yang terlupakan, mereka yang harus berkutat dengan kehidupan, seluruh dari mereka yang tak bebas dan harus dibebaskan – catatan itu kelak menjadi sebuah buku dan di filmkan dengan judul ‘Motorcycles diaries’.

Film Che Guevara 
 Setelah berkeliling Argentina, ia merasa menemukan dirinya, ia harus keluar masuk hutan dan melakukan perlawanan, ia membaca semua literatur-literatur revolusi, ia membaca Lenin, ia membaca Revolusi Rusia, ia membaca seluruh gagasan tentang penjungkirbalikan masyarakat, ia membaca bagaimana sejarah masyarakat bekerja, dan ia memahami bahwa Amerika Latin adalah laboratorium besar untuk berubah. 
 
Ia lalu berkelana ke banyak tempat, ada hal yang amat berkesan padanya, tentang cerita-cerita perjuangan di wilayah Peru, seorang pencerita ini adalah Salvador Allende, kelak ia akan menjadi Presiden Chile namun digulingkan oleh militer sayap kanan pro Amerika Serikat, Jenderal Pinochet –dimana penggulingan Allende menggunakan cara-cara penggulingan Sukarno dan kode kudetanya adalah ‘Operation Djakarta’. Che pergi ke Guatemala, disana ia juga mulai angkat senjata tapi belum sepenuh hati, perjumpaan revolusionernya dalam tindakan justru ketika ia dikenalkan dengan seorang berkulit putih, berjenggot tebal dan doyan menghisap cerutu ‘Saya Fidel Castro’ kata orang itu, saat Che melalui sahabatnya Nico Lopez, Fidel berdiri tenang, badannya yang menjulang dan tatapannya mirip mata elang mengawasi Che, lalu ia tersenyum ‘sekarang kau bergabung denganku kawan, kenalkan ini adikku…Raul’. Che tersenyum pada Raul, setelah bergaul dengan Fidel, Che mendapatkan penafsiran ‘bahwa inilah pemimpin yang ia cari untuk melakukan pemberontakan melawan penindasan’. Fidel dan Raul Castro adalah dua pelarian dari Kuba, ia dikejar-kejar rezim Batista dukungan Amerika Serikat. 
Raul Castro dan Fidel Castro, dua sahabat Che Guevara (Cuban Modern History)

Kemenangan besar kaum gerilyawan disambut besar-besaran penduduk Havana, bila Batista berpesta hanya untuk kaum penggede dan para sekutu Amerika Serikat, maka Fidel dan Che disambut rakyat jelata yang berharap kehidupannya akan membaik karena perang perebutan kekuasaan ini.
Fidel Castro menjadi pemimpin Kuba. Sejak 1959 dan menjadi pemimpin yang berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat. Suatu saat di pertengahan tahun 1959 ia berbicara pada Castro agar Kuba berhubungan serius dengan negara-negara sosialis, Castro menyebut dua nama yang ia kagumi : Mao Tse Tung dan Sukarno. “Cobalah kamu ke dua orang itu”. 

Indonesia menjadi pusat perhatian penting Kuba, karena perjuangan bangsa Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana kedaulatan bisa direbut, saat itu Che Guevara sedang berpikir soal ‘ekonomi yang berkedaulatan’. Ekonomi yang bebas. Dari Sukarno-lah ia kemudian banyak belajar, “Sebuah bangsa benar-benar merdeka, bila bangsa itu tidak berdaulat ekonominya” kata Bung Karno pada Che. Bung Karno juga menyarankan agar Che, mengunjungi Borobudur “lihatlah Borobudur, agar kau bisa memahami sejarah masyarakat berkembang, mekar dan kemudian berbudaya”. 

Di tengah kunjungan Che, Bung Karno memanggil pengikutnya paling fanatik dan sudah ikut Bung Karno sejak sebelum merdeka, namanya AM Hanafi, Hanafi disuruh Bung Karno menjadi dubes Kuba dan mempelajari Castro agar hubungan Indonesia-Kuba meningkat. 

Sepulangnya dari keliling negara Asia, Che diangkat menjadi Menteri Perindustrian, ia melakukan tindakan paling drastis yaitu mencabut ekspor gula ke Amerika Serikat, selama ini Amerika Serikat menjadikan Kuba sebagai ladang tebu-nya yang terbesar, seluruh pabrik-pabrik gula di sekitaran pulau Kuba harus mengekspor ke Amerika Serikat. Setelah terkenang akan obrolannya dengan Sukarno, Che ambil langkah yang mirip dengan Indonesia, saat itu Indonesia menggertak perusahaan minyak asing untuk memilih opsi mendukung kedaulatan energi Indonesia, atau hak konsesi diberikan kepada negara lain. Che, memaksa ekspor gula tidak lagi bergantung pada Amerika Serikat, ia memerintahkan gula bisa diekspor kemana saja, Kuba negara bebas.
Che Guevara dan idolanya : Bung Karno, Che amat mengagumi pemikiran-pemikiran Sukarno, kedaulatan ekspor gula ia tiru dari cara Sukarno soal gertak minyak (Sumber Photo : Antara)
 Setahun setelah kunjungan Che ke Indonesia, Bung Karno datang dan disambut rakyat Kuba dengan gembira, rakyat Kuba senang karena pemimpin legendaris dunia itu datang menyambangi Havana, ribuan orang berbaris menyambut Bung Karno, namun sambutan hangat di Kuba ini membuat marah Presiden Eisenhower, “Bagaimana bisa ia mengunjungi ‘kampung komunis’ sebelum ia masuk ke halaman Amerika Serikat” keluh Ike Eisenhower dengan nada geram. Waktu Sukarno tiba di Amerika Serikat bulan Juni 1960, Ike ngambek luar biasa, ia tak mau menyambut Bung Karno, apa sebab? Bung Karno membawa DN Aidit pemimpin Partai Komunis terbesar nomor tiga di dunia, “Bagaimana mungkin seorang Presiden AS, bersalaman dengan pemimpin Komunis, tanpa konfirmasi dulu” Ike memang benar-benar tak suka Bung Karno, tapi Che Guevara menyukainya, Che berkata pada Fidel “Sukarno idolaku”………
Che, bukanlah pemimpin yang senang hidup nyaman, ia berjuang hanya karena “harus” berjuang, ia melihat bagian dunia lain masih sengsara, ia ingin membebaskan dunia, tapi kadang-kadang manusia punya kenaifannya, mungkin di Kuba Revolusi menemukan momentum-nya, tapi tidak di dunia lain. Che gagal di Kongo, Afrika begitu juga saat ia memasuki Bolivia, Che ditangkap tentara pemerintah Bolivia, ia mati dengan kepala ditembusi peluru, peluru penindasan……
Itulah Che, seorang pejuang abadi, seorang yang menolak kemapanan, memilih revolusi angkat bersenjata sebagai jalan hidupnya, seorang yang berkata kepada isterinya ‘Kuberikan kebebasanku pada dunia, tapi aku tak bisa membebaskan dunia, aku mencintaimu sekali lagi mencintaimu’. Dan seorang bapak yang amat mencintai anaknya seperti surat yang ia kirimkan kepada anak sulungnya Hildita, di hari ulangtahun Hildita :
Anakku, kau musti berjuang menjadi yang terbaik di sekolah, terbaik dalam setiap pengertia, dan kau akan mengetahuinya kelak : belajar dan bersikaplah revolusioner.
Apa itu sikap revolusioner? Sikap itu adalah kelakuanmu yang baik, cintamu yang tulus pada revolusi, pada persamaan manusia, persaudaraan.
Aku sendiri tidak bersikap demikian disaat usiaku sama denganmu, aku hidup dalam masyarakat yang berbeda, masyarakat yang kolot dan berpaham sempit, ‘dimana manusia menjadi ancaman bagi manusia lainnya’. Tapi kau nak, hidup dalam masa yang indah, memiliki kemudahan hidup di jaman yang lain dari jaman bapak-mu, kau harus bersyukur soal itu.
Bermainlah dalam dunia kanak-kanakmu, bermainlah ke rumah tetanggamu untuk menyapa mereka dan ceritakan pada mereka bagaimana kelakuan baik seharusnya dijalankan. Dekati adikmu Aleidita, ajarkan bagaimana bertindak baik, yang butuh perhatian besar darimu, sebagai anak tertua.
Oke, Tuan Putri……Sekali lagi aku berharap hatimu mekar berbahagia di hari ulang tahunmu ini, Peluk mesra untuk ibumu dan Gina. Aku memelukmu, memeluk dengan keabadian, memeluk sebagai rasa cinta bapak kepada anaknya hingga akhirnya kita berpisah.

Papamu, Che Guevara.

Minggu, 10 Juni 2012

Setelah Soegija, adakah Film Tentang Romo Mangun?

Setelah menonton film Soegija jum’at malam kemarin, saya amat menyukai alur cerita dari film ini, dari sisi sinema tak usah diragukan lagi kemampuan Garin Nugroho alumnus Loyola Semarang ini dalam menjalin cerita..seperti bagaimana ia menggambarkan ruang yang diam, mata yang teduh sebagai pralambang ‘penolakan’ Soegija terhadap penindasan kolonial Belanda, keberanian Soegija mempertahankan martabat keyakinannya dan banyak lagi cerita yang menjadikan kita paham ‘bahwa dimanapun, penindasan adalah persoalan kemanusiaan…dan kemanusiaan itu satu”.

YB Mangunwijaya, 1929-1999 (Sumber Photo : Kompas)

Setelah menonton film ini apakah kemudian nanti ada film tentang Romo Mangun?  mungkin amat menarik bila para sineas kita mengangkat Romo Mangun sebagai film yang ‘mengajarkan manusia untuk memahami manusia sebagai manusia. Bila Soegija mengangkat sebuah pemikiran alam bawah sadar bagaimana kemudian pribumi bisa sejajar dengan penjajah Belanda dan manusia itu tidak dibedakan atas nama ras dan gap sosial maka film Romo Mangun nanti akan memberikan pencerahan pada kita : “Manusia yang tidak terasingkan oleh lingkungannya karena dia miskin, dan manusia yang tidak terasingkan pendidikannya karena berstatus sosial rendah’. Romo Mangun sepanjang hidupnya bergerak di bidang sosial dan membangun ruang kemasyarakatan yang ramah pada lingkungan dengan ‘Kali Code’ sebagai hasil perbuatannya beliau semasa hidup.

Romo Mangun lahir 6 Mei 1929, ada kenangan menarik dia sewaktu masih muda yaitu bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) ia menemukan komandan yang amat pendiam, komandan itu adalah Suharto. Mungkin anda masih ingat kisah seorang anak kecil berna,a Temon dalam film ‘Serangan Fajar’ salah satu adegannya yaitu : Temon melihat  seorang komandan yang  naik Jeep dengan disetiri oleh seorang anak buahnya, itulah sebenarnya Suharto dan YB Mangunwijaya,  waktu bergabung dengan TKR dan kemudian diangkat jadi perwira TNI, Romo Mangun sempat menjadi sopir Jeep Pak Harto dalam menginspeksi kota Yogyakarta.  Walaupun kelak kemudian hari saat Pak Harto jadi Presiden RI dan Romo Mangun bergiat di lingkungan kaum miskin di Yogyakarta mereka kerap bersebrangan pendapat, Romo Mangun selalu mengeritik pemerintah yang seakan tak sensitif mendengarkan suara kaum miskin, mereka yang terpinggirkan oleh sistem masyarakat yang mapan.

Yogyakarta sendiri adalah ‘rumah jiwa’  bagi Romo Mangun, di Yogyakarta-lah telaga air mata Romo Mangun dibangun untuk mengerti bagaimana kemanusiaan bekerja, ada dua hal yang amat diperhatikan Romo Mangun dalam melihat kemanusiaan : Pertama, Lingkungan dan Kedua, Pendidikan anak.

Dari lingkungan yang sehat manusia bisa berkembang menjadi pribadi yang memenuhi ruang kedewasaannya-.  Itulah yang menjadi prinsip Romo Mangun dalam membangun sebuah lingkungan dimana manusia bisa berinteraksi dengan alam, bisa menciptakan kemanusiaannya dengan alam. Suatu sore Romo Mangun berjalan-jalan keliling kota Yogyakarta dengan sepeda onthel ia menikmati langit sore kota Yogyakarta yang berwarna kuning muda,  ia berkeliling di pemukiman mapan kaum pejabat dan bangsawan dekat Keraton yang teratur dan bersih lalu ia mengarahkan sepedanya  Kali Code,  satu hal Romo Mangun sangat menyukai arus deras kali. Ketika ia berada di tengah jembatan Kali Code ia melihat dibawah talud (tembok penahan bibir sungai dari erosi) banyak sekali sampah, imajinasinya berjalan ketika ia bertanya ‘bagaimana bisa seseorang dengan kemiskinannya bisa hidup di ruang yang kotor ini?, lalu bagaimana kemudian menciptakan sebuah ruang baru dimana ruang itu tetap bersahaja tapi bersih?’.

Salah satu sudut yang indah di Kali Code (Sumber Photo : Kali Code SD Mangunan)
Pikiran itu berkecamuk dalam dirinya, suatu pagi ia duduk di teras rumahnya, bunga-bunga bermekaran dan ratusan embun jatuh perlahan menimpa rumput yang ditanam seperti beludru berwarna hijau, ia begitu menikmati, kemudian Romo Mangun tersentak, ia mendapatkan pencerahan ‘Lingkungan yang memanusiakan bisa dibangun tanpa harus mahal, yang penting adalah ‘tidak mengasingkan manusia dengan dirinya sendiri’ bagaimana manusia bisa menikmati alam, di tengah lingkungan yang kumuh sekalipun jika lingkungan itu dibersihkan maka manusia bisa menikmati alam.

Uang tidak dapat membeli bintang-bintang, malam yang indah, ratusan bulir embun yang jatuh di pagi waktu dan udara sore yang tenang dengan langit berwarna tembaga, -karena hidup yang indah itu sebenarnya gratis,  alam yang indah itu adalah pemberian Tuhan pada manusia.

Pencerahan inilah yang kemudian menjadikan Romo Mangun bangkit dari ruang nyamannya dan masuk ke perkampungan kali Code, membangun Kali Code sebagai ruang yang ramah manusia. Setelah kerja kerasnya dan kegembiraan ‘wong cilik’ menerima Romo Mangun dengan tulus dan ikhlas, rakyat bergotong royong membangun lingkungannya sebagai lingkungan yang bersih dan indah, pelajaran pertama bagi mereka sederhana sekali seperti ajaran seorang guru SD pada muridnya di sebuah siang yang panas : “Jangan Membuang Sampah di Kali”. Hasilnya sebuah karya seni luar biasa terbangun di Kali Code, di masa Romo Mangun, kali code menjadi kali yang bersih, orang senang melihat kali ini dikala sore duduk-duduk dan memakan pisang goreng dengan secangkir kopi hangat atau bermain gitar dan kentrung menyanyikan lagu keroncong dengan bulan bulat di atas Kali Code yang berbinar indah.

Berarsitektur berarti berbahasa dengan Ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan material dan suasana tempat. Dalam berarsitektur, bukan hanya soal efisiensi-teknis dan fungsional saja, tetapi ada unsur lain yaitu harus adanya dimensi ‘ Budaya’ 

(Wastu Citra, YB Mangunwijaya, hal.7)

Romo Mangun berhasil mengenakan kepada orang yang berpendidikan relatif rendah, yang terpinggirkan oleh sistem, yang kerap tidak ‘diuwongke’ (tidak dimanusiakan kemanusiaannya) dan kerap merasa sebagai hamba sahaya karena kemiskinan menjadi orang yang sadar ruang, sadar bentuk dan sadar budaya, manusia yang kemudian menjadi sangat paham bagaimana kemudian bentuk mengisi ruang bukan hanya fungsional tapi juga berbudaya.

Karya Arsitektur Romo Mangun di Sendangsono dimana Ruang dan Gatra menyatu dalam diri manusia dan lingkungan (Sumber Photo : dok.sendangsono)

Selain bidang lingkungan dimana Romo Mangun mengenalkan arsitektur yang merakyat dan membumi, menjadikan manusia tidak terasing dengan lingkungannya, Romo Mangun juga mengenalkan konsep pendidikan sebagai ‘pemerdekaan manusia’.  Yang paling diperhatikan Romo Mangun adalah pendidikan anak, seorang anak harus merdeka dalam imajinasinya, berdaulat dalam kebebasan berpikirnya. -Hal ini menjadi sebuah antitesis atas sistem pendidikan yang diciptakan Orde Baru, sebuah pendidikan dengan model taat komando.
Romo Mangun dan Pendidikan Anak Miskin (film dokumenter tahun 1995)
Suatu pagi Romo Mangun memperhatikan bagaimana anak didik sekolah di sebuah Sekolah Dasar, ia melihat ada sebuah pesan tersembunyi dari pendidikan yang diciptakan Orde Baru, yaitu : menciptakan murid yang hanya mengerti satu kata ‘menurut’ pada otoritas guru, murid tidak dilihat sebagai ’subjek’ yang hidup, anak tak terbebaskan daya imajinasinya,  mereka menjadi barisan-barisan manusia yang terdiam oleh sistem kekuasaan, dari sini kemudian Romo Mangun berpikir tentang dasar-dasar pemerdekaan pendidikan anak.
Ia kemudian meletakkan tapak pertama dalam proses pendidikan anak : Di mana hati diletakkan, di situ proses belajar dan maju mulai.  Pertama-tama dalam mengembangkan pendidikan anak maka hati yang tulus dulu ditaruh sebagai ruang pembuka untuk membuka wawasan anak terhadap dunia.

Dengan dasar dan hati yang ikhlas Romo Mangun mendirikan SD Mangunan, sebuah lembaga eksperimen bagaimana kemudian anak bisa dimerdekakan alam pikirannya dan alam terkotak-kotak karena adanya perbedaan. Prinsip dasar SD Mangunan adalah :
Sekolah mestinya bukan lembaga diskriminasi yang berfungsi sebagai pasak pemecah-belah sosial, akan tetapi suatu convivium, hidup bersama. 

Sekolah yang tidak diskriminatif, dimana kemudian ia mencoba lewat SD Mangunan menghancurkan sistem sekolah bergaya pabrik menjadi sekolah yang mendekatkan hubungan batin guru dan murid bukan sebagai penguasa dan orang yang dikuasai tapi sebagai ‘dua manusia yang bertemu’  untuk memekarkan kemanusiaan.
Saya kira adalah menarik untuk membuat film tentang jalan hidup Romo Mangun, ditengah masyarakat sekarang ini yang tidak lagi menjadikan kemiskinan sebagai ‘ruang persoalan kemanusiaan’  kemiskinan sebagai gugatan untuk mengembangkan kepedulian tapi malah kita sering berkelahi karena perbedaan-perbedaan dan menjadi main benar sendiri.

Sungguh menarik apabila film itu bercerita bagaimana Romo Mangun bersepeda sore hari, melihat kali Code, melihat masyarakat yang bekerja, melihat alam, membersihkan kali, membangun rumah si miskin, membangun kamar-kamar pendidikan dan mencerahkan anak manusia dalam kesejahteraannya, sungguh menarik ketika memperlihatkan Romo Mangun bergulat di kamar kerjanya menggambar bentuk-bentuk rumah yang kaya budaya dan ramah ruang bagi kemanusiaan, dengan hanya berkaos oblong serta sarungan berbicara di beranda rumahnya di kali Code, berbicara dengan bahasa rakyat, bahasa sehari-sehari, bahasa memahami kemanusiaan. Ah, seandainya Garin atau Hanung Bramantyo mau membuat film tentang Romo Mangun, maka akan menyadarkan pada dunia, bahwa di Indonesia adalah tempat yang indah bagi persoalan-persoalan kemanusiaan, tempat yang membuka ruang saling memberi bukan saling membunuh.

Dari keikhlasan Romo Mangun menjalani kehidupan, kita banyak belajar………..

Jakarta, 10 Juni 2012













Jumat, 08 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun, Pak Harto

Suharto dengan senyum manisnya yang terkenal (sumber photo : Republika.co.id)


Indonesia harus memiliki pemimpin Lembu Petheng -anak yang tak jelas bapaknya- seperti Ken Arok, seperti Pak Harto yang juga tak jelas siapa bapaknya, karena orang yang tak jelas siapa Bapaknya tidak memiliki rasa minder terhadap masa lalu……. 

(Sudjiwotedjo, Indonesian Lawyer Club 2011)

Ucapan Sudjiwotedjo saat itu menjadi tertawaan banyak orang di studio ILC dan penonton TV One, karena memang tak banyak yang mengerti kedalaman filsafah dalam sejarah Jawa seperti ungkapan Sudjiwotedjo itu.


Mitologi silsilah inilah yang kemudian ditembak oleh Sudjiwotedjo dalam melihat kasus Suharto. –Bagaimana mungkin seorang anak petani biasa membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX tertunduk dan menurut pada Pak Harto, bagaimana mungkin orang yang begitu Prabawa dan penuh kharisma seperti Bung Karno seperti gemetar ketakutan melihat Suharto, bahkan di akhir tahun 1966 dengan nada galau Sukarno berteriak tiga kali menyebut Suharto sebagai keadaan bahwa tak boleh ada yang merebut kursi Presiden : “Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto….” kata Bung Karno sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah barisan para Jenderalnya. Ada apa dengan kekuatan Suharto? 

Jelas Sukarno tidak akan takut dengan kekuatan militer Amerika Serikat, ia sudah terbiasa menghadapi teater perang besar. Bahkan dihadapan Dadong (nama panggilan Presiden Filipina-Macapagal), Sukarno menyatakan siap menghadapi perang sebesar apapun, dan itu memang sudah dilakukan Sukarno ketika ia meletuskan kata-kata Dwikora dan mengancam perang dengan Malaysia, sebuah pidato yang mirip pidato Franklin Delano Roosevelt, “Pidato Pengumuman Perang terbesar setelah Perang Dunia II selesai” di koran-koran besar Amerika menjuluki Sukarno sebagai ‘Tiran’ dengan kekuatan tanpa tanding yang mengancam dunia bebas, tapi di sisi lain di negara-negara bekas jajahan dan negara tertindas Sukarno dijuluki “Hadiah Tuhan untuk Kebebasan Bagi mereka Yang Tertindas” disini Sukarno menunjukkan bukan saja orang nomor satu, tapi juga tokoh dunia.

 Sementara Jenderal AH Nasution sendiri saat menunggui anaknya di RS Gatot Subroto yang sekarat tertembak pasukan penculik pimpinan Letkol Untung, menampik saran Adam Malik. Saat itu Adam Malik berkata pada Nasution yang juga merupakan sepupunya sendiri “Nas, kau ambil itu kekuasaan Angkatan Darat, sekarang juga kau ke Kostrad, kau pegang sendiri militer” tapi Nasution menolak dengan alasan bahwa ‘bagaimana mungkin aku meninggalkan anakku yang sekarat untuk urusan pekerjaan’. Disinilah kemudian Adam Malik kecewa, dan menganggap Nasution lemah, tapi mungkin Adam Malik lupa, sepanjang sejarah karir militer Nasution, ia tak berani berhadapan head to head dengan Sukarno. Seperti yang diucapkan Nasution sendiri di Amerika Serikat dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat di awal tahun 1960-an “Saya tak mungkin berhadapan dengan Sukarno, dialah yang menyadarkan saya tentang arti kemerdekaan, sebelum saya tahu apa itu merdeka di masa saya sekolah dulu” ini artinya kekuatan Sukarno memang secara personal luar biasa, dan anehnya kekuatan Sukarno bisa lebur ditangan Jenderal yang sama sekali tak dikenal sebelumnya, nama Jenderal itu pernah disebut-sebut di koran-koran sepanjang konflik politik yang panas pada paruh pertama 1960-an, namanya hanya muncul sekilas saat pemakaman Jenderal Gatot Subroto dan saat ia diangkat jadi Panglima Mandala dalam Perang Perebutan Irian Barat, itupun kemudian namanya tenggelam oleh Subandrio, Menteri Luar Negeri yang memiliki kelihaian diplomasi dengan mencari celah dukungan Inggris dan Amerika Serikat dalam menendang Belanda keluar dari Irian Barat. 

Suharto lahir dari situasi yang tak jelas – Pernyataan ini bukan hanya lahir dari majalah-majalah gosip yang banyak bermunculan di tahun 1970-an mengenal asal usul Suharto, tapi juga dari buku-buku yang berbobot ilmiah tinggi seperti buku Robert Edward Elson, seorang Profesor dari University of Queensland, Australia yang secara serius meriset Suharto. Dalam satu bab pertamanya tentang asal usul Suharto menjadi bagian paling rumit untuk mendefinisikan kepribadian dan posisi psikologis Suharto dimasa mendatang, analisa Elson ini mirip dengan Karl Marx dalam mengotopsi kritik atas Kapital dalam tulisan Das Kapital tentang bagian pertamanya yang abstraktif untuk mendefinisikan fungsi komoditi dalam kehidupan manusia begitu juga Elson menyajikan riset atas konfigurasi keluarga Suharto yang rumit, mengenaskan serta tidak jelasnya siapa ayah kandung Suharto sesungguhnya dan berpengaruh atas kepribadian Suharto yang pendiam, menganalisa masalah, mempertimbangkan keadaan serta hati-hati dan kepribadian ini menjadi modal dalam keberhasilan hidupnya.
 
Suharto lahir 8 Juni 1921, angka ini juga masih diperdebatkan banyak orang, namun Suharto sendiri meredakan perdebatan ini dan ia secara gamblang menyatakan tanggal lahirnya adalah 8 Juli 1921. Suharto dilahirkan dari seorang Ibu yang galau, yang stress dan seorang sedang prihatin. Hal ini dinyatakan dalam Elson pada bab pertama buku tentang Suharto. – Di buku lain karangan Roeder : Anak desa : Biografi Presiden Suharto, menyebutkan dua tahun setelah kelahiran Suharto orangtua mereka bercerai, tapi Elson lebih ganas lagi menyebutkan waktunya : Orangtua Suharto bercerai empat minggu setelah kelahiran Suharto.
Sukirah sendiri mengalami kondisi stress, ia dikabarkan hilang dan ternyata sedang ‘ngebleng’ puasa tanpa makan dan minum, ia merasa membawa beban hidup yang amat berat. –Kondisi ini secara tak sadar hanya sekilas saja diberitakan para ilmuwan barat yang berpaham rasional, namun bagi kalangan Jawa yang mengerti ilmu kebatinan, jelas Sukirah mengalami beban psikologi luar biasa karena ia mengandung ‘Seorang Raja di Masa Depan’. Penduduk kampung mencari-cari Sukirah, yang kemudian ditemukan dalam keadaan hampir mati karena kurang makan dan minum. 
Dari situasi keprihatinan yang tinggi itulah Suharto lahir. Di usia empat tahun Suharto sudah diserahkan ke kakak ibunya, pada keluarga Kromodiryo. Pada usia yang masih amat muda sekitar lima tahun dan ini mengherankan bagi anak desa seumurnya, Suharto sudah disekolahkan. –Suharto yang berada di dusun amat terpencil bisa bersekolah bagus ini juga menjadi bahan riset yang menarik, siapa ayah Suharto sesungguhnya? Suharto sendiri tak mengalami ikatan emosional yang tinggi kepada orang yang dianggap ayahnya yaitu Kertosudiro, -kemungkinan Suharto sudah mengerti bahwa Kertosudiro bukan ayah kandungnya (Elson, bab I –Permulaan dan Masa Muda Suharto). Di dalam buku otobiografi-nya : Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan, yang disusun oleh Ramadhan KH mengatakan : “dimasa lalu ada teman seingat saya bernama si Kromo, yang mengata-ngatai saya sebagai ‘Den Mas Tahi Mabul’. Dan ini penghinaan bagi Suharto kecil, lalu Suharto menonjok anak itu dan itulah pengalaman satu-satunya Suharto berkelahi, ini artinya berbeda dengan pengalaman berkelahi pertama Sukarno yang mempersoalkan dia dilarang main bola oleh Sinyo Belanda karena ia seorang Pribumi tapi Suharto berkelahi karena persoalan tak jelas asal usulnya. Dari Sukirah sendiri Suharto memang ada keturunan bangsawan Yogyakarta, kakek buyut Suharto : Notosudiro, memiliki isteri yang merupakan anak perempuan dari Hamengkubuwono V. 
Terlepas dari situasi sulit siapa ayah kandungnya, perpecahan keluarga dan segala macam konflik psikologis dalam lingkungannya Suharto tumbuh secara baik, ia adalah pemuda yang tampan, berwajah ningrat dan sangat halus perangainya. Beberapa kali Suharto menjadi bahan rebutan antara Sukirah dan Kertosudiro, sehingga Suharto harus tabah dalam menjalani kehidupan. Suharto sendiri mengakui saat paling bahagia adalah ketika ia ‘ngenger’ (menumpang) pada keluarga Prawirohardjo, yang salah satu anaknya adalah Sulardi, di Wuryantoro. Lewat Sulardi inilah Suharto berkenalan dengan Hartinah, puteri wedana di Wonogiri, yang juga merupakan kawan sekelas Sulardi, kelak Hartinah adalah isteri Suharto. 

Suharto hidup prihatin, ia senang sekali berpuasa “Saya sudah mengalami banyak laku, banyak tindakan pertapaan di diri saya, satu-satunya yang belum saya lakukan adalah tidur diatas sampah” kenang Suharto dalam biografinya. Bertapa adalah ‘keprihatinan’ ala orang Jawa dalam memahami penderitaan, dalam keprihatinan manusia tidak boleh hidup enak, mereka harus mendidik dirinya sendiri dengan keras agar tidak gampang mengeluh dalam kehidupan dan kuat menghadapi godaan dalam menjalani cita-cita. Guru Suharto paling awal dalam soal kebatinan dan pemahaman pada nilai-nilai filsafat Jawa adalah Kyai Daryatmo yang ditemui Suharto sewaktu muda. 

Kemampuan Suharto dalam mengolah diri inilah yang kemudian berhasil menjadikan dirinya sebagai orang disiplin. –Ia juga terus menerus mencari daya linuwih dalam kehidupannya, ia orang yang tidak gemar kenikmatan hidup, ia hanya menjalani apa yang diyakininya benar –terlepas keyakinannya itu membuat sengsara banyak orang, atau membuat keadaan susah- ia tahu apa tujuannya.

Perkenalan Suharto pertama kali dengan militer adalah di KNIL, awalnya ia ingin melamar jadi Angkatan Laut, jadi seorang kelasi, hal ini ia lakukan karena melihat seorang kelasi sedang berlibur di Yogya dan amat gagah. Namun keinginannya saat menjadi kelasi ia urungkan ketika ia mendaftar ke Angkatan Laut Hindia Belanda, soalnya ia mendengar bahwa lowongan yang dibuka hanya sebagai juru masak, sekeluarnya dari pendaftaran kelasi Angkatan Laut, tanpa sengaja ia mendengar bahwa KNIL membuka pendaftaran, ia amat berminat kejadian itu sekitar akhir tahun 1939 atau awal 1940. Hindia Belanda sedang membutuhkan tenaga perang sekitar 35.000 orang pribumi saat itu memang berkembang wacana bahwa kemungkinan Jepang masuk ke Hindia Belanda dan tak mungkin berhadapan dengan Jepang sendirian, seperti di Filipina yang sedang mempersiapkan perlawanan rakyat, maka Belanda harus mempersiapkan pribumi untuk militerisasi demi menghadapi serbuan Jepang. Namun tampaknya wacana militerisasi kaum pribumi menjadi mentah, karena militerisasi ini hanya akan menjadikan ‘senjata makan tuan’ bagi Belanda kelak dikemudian hari, akhirnya kaum pribumi dibatalkan untuk menghadapi Jepang, ratusan ribu senjata yang sedianya digunakan untuk perang disembunyikan dan Pemerintahan Hindia Belanda memilih lari ke Australia.

Suharto masuk dalam program militerisasi besar-besaran itu dan ia lulus sebagai yang terbaik tiga tahun kemudian, tak lama kemudian Jepang masuk. 

 Suharto saat masih berpangkat Overste/Letnan Kolonel. (Sumber Photo : Harian Kedaulatan Rakjat, Yogyakarta)

Ada cerita menarik ketika Suharto ingin masuk KNIL, ia ngangon dua kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito, Sukardjo bercerita dalam bukunya : “Mereka Menodong Bung Karno” bahwa Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta. 

“Kebetulan Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu” katanya kepadaku. “Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali” jawabku sambil mengerat tebuku untuk kugigit dipatahkan. “Penting sih tidak, cuma mau minta pamit”.
“Memang mau kemana sih mas?”
“Aku akan masuk Kumpeni” kata Suharto. “Sekolahan?”
“Aku sudah berhenti sekolah kok” Sukardjo heran lantas bertanya “Padahal kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau tamat saja?”
(Percakapan ini tercatat dalam buku “Mereka Menodong Bung Karno, Kesaksian seorang Pengawal Presiden, Soekardjo Wilardjito, Galang Press cetakan I, 2008)
Suharto pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan. Suharto memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang : Mayjen Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan, sementara di pihak lain sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu menjadi ajudan Bung Karno dan menurut pengakuannya menyaksikan sendiri bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia sebut sebagai : Mayjen Panggabean, Jenderal keempat dalam urusan Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000, dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling menghebohkan. Namun seperti biasa berita ini tetap dimenangkan oleh pembela Suharto yang mau tak mau Suharto telah memenangkan sejarah dengan memasukkan SP 11 Maret 1966 sebagai tonggak penting konstitusi di Indonesia. Sukardjo kemudian diburu dan dipenjara bahkan sempat dibuang ke luar Jawa, namun selalu urung dibunuh apakah karena mungkin ia sepupu Suharto (?), namun yang jelas disini Suharto bisa amat dingin membedakan mana saudara, mana politik, dan inilah yang kemudian membuat Suharto memang merupakan Jenderal Berdarah Dingin, dan memiliki kepribadian lebih kuat apalagi hanya dibandingkan dengan Nasution yang cenderung lemah. 
Kemampuan Suharto dalam memenangkan sejarah ini tak lepas dari kepribadiannya yang teliti sebelum mengambil tindakan dan mengamati. Salah satu modal psikologis dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah ia amat “pendiam” Rosihan Anwar sendiri pernah menceritakan hal itu “Saya berjalan berjam-jam dengan Suharto untuk menemui Jenderal Sudirman dan diantar oleh dia, tapi sekalipun ia tidak bicara, ia hanya menyetir mobil, lalu masuk pedesaan, ia juga memetik kelapa dan satu-satunya ucapan yang ia katakan pada saya adalah “silahkan diminum” –Ia adalah orang yang ‘kulino meneng’ (terbiasa berdiam diri) sebut Rosihan menjuluki watak Suharto. Kelak di tahun 1974 surat kabar Rosihan Anwar ‘Pedoman’ dibredel Pemerintahan Suharto, ketika Mashuri bertanya bagaimana nasib Pedoman pasca peristiwa Malari 1974, Suharto menjawab sinis “Wis dipateni wae (sudah dibunuh saja)” jelas ini menunjukkan Suharto amat dingin terhadap orang yang ia kenal dimasa lalu. Ia lebih mementingkan tujuan dalam mengerjakan sesuatu ketimbang kehangatan hubungan antar manusia. 
Suharto amat berminat dalam latihan-latihan kemiliteran. Ia juga terpengaruh oleh ide-ide nasionalisme yang amat bergema pada masa latihan kemiliteran di PETA, saat itu ide paling besar dari perwira PETA adalah : Nasionalisme Ekstrim, anti Belanda dan Anti Jepang. –ada hal lain yang perlu dicatat PETA berbeda dengan KNIL, dalam PETA tidak adanya pengaruh sipil yang mengendalikan ia seakan-akan bergerak sendiri sementara KNIL amat dipengaruhi keputusan sipil, watak dasar entitas inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana kemudian Jenderal-Jenderal Orde Baru lulusan PETA yang kemudian mengambil alih kendali sejarah, memutuskan hubungan dengan sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil.
Karir Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah memerdekakan Indonesia, ia sendiri mengakui bersorak gembira ia larut dalam eforia kemerdekaan Republik Indonesia, ia langsung bertindak di Yogyakarta dan karena masa lalunya yang baik dalam latihan kemiliteran ia langsung diangkat menjadi Mayor Republik, ini adalah keputusan menarik bagi seorang Suharto, karena bagaimanapun sebagai eks KNIL dan memiliki karir bagus di PETA ia bisa saja menunggu Belanda dan melamar menjadi Perwira KNIL untuk perang dengan Republik, tapi Suharto lebih memilih menjadi pejuang di garis kemerdekaan Republik Indonesia, pilihan ini tidak bisa dianggap remeh karena ini bisa menjelaskan watak nasionalisme Suharto yang puritan, ekstrim dan tidak aneh-aneh, setia pada merah putih walaupun kemudian ia gagal paham soal pandangan yang lebih menjlimet lagi ‘soal kedaulatan total’ ide yang dikeluarkan oleh Tan Malaka dan Bung Karno. Bagi Suharto nasionalisme adalah soal kesejahteraan, cinta tanah air dan rakyat tidak kelaparan. Nasionalisme logistik inilah yang kemudian mewarnai Indonesia selama lebih dari 32 tahun. 
Suharto adalah orang yang beruntung, ia tanpa sengaja masuk ke dalam pusaran sejarah dan kenal dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ia bisa kenal dengan Bung Karno lewat kejadian paling bersejarah : Penangkapan Djenderal Mayoor Sudarsono, saat itu Sudarsono adalah orang yang paling berjasa terhadap pembentukan pasukan di Yogyakarta, ia yang menyerang seluruh markas Jepang dan merebut persenjataan sehingga pasukan di Yogyakarta menjadi pasukan terkuat se Indonesia, kekuatan pasukan inilah yang kemudian menjadikan posisi Sri Sultan Hamengkubuwono IX amat penting serta membuat seluruh kabinet Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta meminta perlindungan pada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sekaligus menyusun strategi militer yang lebih komprehensif untuk menghadapi kekuatan Belanda yang menurut data intelijen Inggris dan sudah diterima Sjahrir akan masuk lewat struktur entitas militer bernama NICA.
Di awal tahun 1946 berkembang perdebatan sengit di dua kelompok : Kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin yang saat itu mereka bersatu dalam Partai Sosialis (PS) serta menjadi dominan dalam Kabinet menghendaki perundingan kepada Belanda sementara di pihak lain kelompok oposisi yang dipimpin Tan Malaka menghendaki perang total, perang tanpa kompromi dengan Belanda. “Tak Perundingan, Tak ada diplomasi, Merdeka-lah kita 100%”. Kelompok Tan Malaka mendapatkan simpati hampir semua perwira militer terutama yang berasal dari PETA. Jenderal Sudirman adalah pengagum Tan Malaka, ia selalu berdiri dan bertepuk tangan ketika Tan Malaka pidato, anak buah Sudirman Jenderal Mayoor Sudarsono dan anak buahnya Mayor AK Yusuf juga amat berdiri di garis Tan Malaka, namun ada situasi over acting dari tindakan Sudarsono yaitu menangkap Perdana Menteri Sjahrir dan pengikutnya. 
Tindakan Sudarsono ini jelas dikecam Sukarno, seorang pemimpin pemuda bernama Sudjojo memerintahkan Suharto –yang saat itu sudah menjadi Letkol karena keberaniannya dalam perang Ambarawa dan menjadi anak buah kesayangan Jenderal Sudirman- untuk menangkap Sudarsono, sementara tak lama kemudian keluar surat perintah dari Sukarno untuk menangkap Sudarsono. 
Suharto berpikir, “bagaimana bisa ia menangkap atasannya, orang yang paling berjasa atas lengkapnya persenjataan pasukan di Yogyakarta dan dikagumi banyak serdadu Yogya, sementara saya sendiri adalah pengikut Sudarsono” tapi Suharto amat hati-hati ia membalas surat Sukarno “ia akan menangkap Sudarsono bila ada perintah dari Jenderal Sudirman” Konflik 3 Juli 1946 ini menjadi amat jelas bagi kita bagaimana menilai kemampuan Suharto dalam manajemen konflik dan mengerti atas situasi, ia mendapatkan pelajaran ‘Bahwa kekuasaan bukanlah selalu orang yang berada di atas posisinya, tapi kekuasaan adalah mereka yang secara realitas memegang kekuatan dan kendali atas keadaan’.
Suharto mengerti saat itu bukan Sukarno yang memegang kendali kekuasaan, tapi Sudirman dan Tan Malaka – soal ini secara jelas diungkapkan banyak sejarawan pada waktu itu tentang pola kekuasaan di Indonesia selama masa revolusi bersenjata 1945-1949. Suharto tak mau melakukan tindakan sebelum tahu jelas sekali situasi dan tak mau bertindak sebelum mengerti siapa yang memegang kendali keadaan, inilah yang kemudian menjadikan Suharto selalu memenangkan sejarah, dan ucapan paling fenomenalnya “PKI berada dalam penculikan para Jenderal” di awal Oktober 1965 menunjukkan bahwa memang Suharto memiliki informasi amat lengkap sebelum kejadian dan bukan merupakan spekulasi. Inilah yang membedakan Suharto dengan pelaku sejarah lainnya. 

Presiden Sukarno, Brigjen Suharto dan Mayor Untung dalam satu inspeksi, Sukarno dan Untung adalah dua orang yang dikalahkan secara tragis oleh Suharto (Sumber Photo : Tabloid Detik)

Hari ini kelahiran Suharto, 8 Juni seorang yang amat penting dalam sejarah Indonesia, memang Sukarno merupakan Bapak Pembebas Rakyat Indonesia, tapi mau tak mau peradaban sekarang ini tetaplah peradaban Suhartorian, seluruh pemegang kekuasaan saat ini merupakan anak didik Suharto yang diberi fasilitas pada jaman Suharto, hampir 100% pelaku penting politik saat ini bukanlah orang yang melawan Suharto. Inilah yang menjelaskan kenapa Sudjiwotedjo mengatakan ‘Siapa Bapak Kandung Suharto?” kekuatan tanpa rasa minder, seperti ketika Suharto disindir oleh Mayjen S Parman sebelum kejadian 1965, “Suharto itu siapa, pendidikannya apa, arep melu-melu ngurus negoro” yang dicatat dalam Buku Subandrio, juga beberapa catatan sejarah tentang para Jenderal yang berpendidikan tinggi dan mengejek Suharto apalagi ketika Suharto dengan lihai menggantikan posisi Bung Karno sebagai Presiden RI di tahun-tahun awal kekuasaannya, Suharto selalu menerima banjir ejekan atas dirinya yang kurang berpendidikan dan memiliki masa lalu tak jelas
Keadaan itu dijawab Suharto dengan tenang termasuk ketika ia mengadakan konferensi pers  saat itu di tahun 1974, ramai sekali perdebatan siapa Bapak Kandung sesungguhnya Suharto, bahkan Mashuri bekas tetangga Suharto dan mantan Menteri Pendidikan memberikan keterangan bahwa Suharto adalah anak keturunan  Cina (seperti yang diungkapkan Elson dalam bukunya). Saat itu ramai spekulasi bahwa Suharto adalah anak kandung Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, artinya dia adalah adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ada juga yang menyatakan bahwa ayah kandung Suharto adalah “orang yang memegang payung kuning Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Namun spekulasi-spekulasi itu dijawab tenang oleh Suharto dalam konferensi pers : “Saya adalah anak Petani”……
Ya, Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di negeri ini yang mustahil dikalahkan, secara politik ia hanya dikalahkan oleh umurnya sendiri…………..
Selamat Ulang Tahun Pak Harto.
8 Juni 2012.
Bahan Bacaan :
Robert Edward Elson : SUHARTO, Sebuah biografi Politik : Pustaka Minda Utama, 2005
Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan,  sebuah biografi : Disusun Ramadhan KH dan Gufron Dwipayana,  Penerbit Citra Lamtorogung, 1988
Mereka Menodong Bung Karno -Kesaksian seorang Pengawal Presiden,  Sukardjo Wilardjito, Penerbit : Galang Press, 2008.
Anak Desa : Biografi Presiden Soeharto, O.G Roeder, Penerbit : Gunung Agung, 1976
Suharto and his General : Indonesian Military Politics, 1975-1983 : David Jenkins, Penerbit : Ithaca, 1984
Kebatinan dan hidup sehari-hari orang Jawa,  Niels Murder, Gramedia 1983.


Rabu, 06 Juni 2012

Kisah Kelahiran Bung Karno

Soekemi Sosrodihardjo seorang guru muda dari Surabaya yang ditugaskan untuk mengajar di Sekolah Rakyat (setingkat SD) di Bali, tepatnya di Banjar Paketan-Liligundi-Buleleng, Singaradja Bali. Setelah mengajar Sukemi senang sekali berjalan-jalan mengelilingi desa dan melihat kehidupan sosial masyarakatnya. Bahkan Soekemi sering mencatat bagaimana rakyat desa bergerak.
 
Satu hal yang diperhatikan Soekemi adalah budaya dari banjar Bali yang amat marak itu, sebuah kegiatan sakral dan penuh harmoni. Tiap ada upacara-upacara suci di Pura Bali sendiri ada tarian sakral bernama Tari Rejang. Tarian ini ditarikan khusus perempuan dengan gerakan amat halus, tarian ini bisa amat indahnya bila dilatari bulan purnama dan malam bersih penuh bintang, sehingga penontonnya bisa menjadi amat tenang, khidmat dan penuh syukur pada Tuhan.
 
Suatu saat Soekemi menonton bersama temannya yang seorang guru juga dari Jawa, tarian ini. Ia terpesona dengan dua orang perempuan cantik, tapi ia tak tau siapa namanya kedua perempuan itu. Namun kemudian ada kesempatan dimana Soekemi melempar bunga, dan lemparan bunga itu mengenai seorang penari cantik dengan mata bulat bulan ‘Ni Nyoman Srimben’. Ia penari yang amat cantik dengan bibir yang tebal manis, dan alis mata yang amat hitam, tersenyum pada Soekemi, saat itulah cinta pertama jatuh pada dua hati anak manusia.
 
“Perkenalan adalah takdir, menjadi teman adalah pilihan dan mencintai seseorang kerap diluar kendali dari diri seorang yang sedang jatuh cinta” Soekemi sudah jatuh cinta, ia telah memilih dan ia sanggup menghadapi resikonya apa saja.
 
Rupanya Ni Nyoman Srimben juga jatuh hati pada pemuda dari Jawa ini, -“Ia seorang guru ayah” kata Nyoman Srimben kepada ayahnya I Nyoman Pasek ketika menghaturkan cerita tentang pemuda pilihan hatinya. I Nyoman Pasek tentunya menolak “dia berbeda agama dengan kita” Soekemi sendiri beragama Islam, dan Nyoman Pasek menghendaki Srimben menikah saja dengan pemuda dari banjar-nya sendiri ketimbang pemuda yang berasal dari Jawa, dari tempat yang jauh.
 
Tapi cinta telah mengikat dua perasaan ini, cinta telah menjadikan dua cerita antara Soekemi dan Srimben sebagai naluri aksara puisi, Soekemi melihat dua mata Srimben, ada getaran, bukan saja ia melihat masa depan dirinya sendiri, tapi masa depan yang lebih besar, ‘namun ia tak mengerti’. Srimben sendiri melihat Soekemi juga dengan perasaan sama, ada perasaan pertanggungjawaban bahwa cinta ini harus diteruskan, -apapun resikonya-.
 
Lalu Soekemi bertanya pada Srimben “Apakah kau mencintaiku” lalu Srimben diam lama dia melihat sawah luas membentang hijau di desanya, udara langit putih bersih dan daun-daun pohon kamboja mengayun lembut. –Srimben mengangguk penuh arti-. Akhirnya Soekemi berani melamar menikah pada ayah Srimben, Bapak Nyoman Pasek. Namun Nyoman Pasek secara halus menolak.

Akhirnya dipilih suatu sikap yang berani, yaitu : Ngarorod atau Kawin Lari. Di Tengah Malam Soekemi membawa lari Srimben, lalu dikejar-kejar penduduk desa dan Soekemi berlindung di tempat seorang Polisi. Penyelesaiannya adalah ke Pengadilan, di Pengadilan tampaknya cinta dua anak manusia ini tak bisa dipisahkan, akhirnya semua orang yang menyaksikan rela dengan ikhlas menyatukan dua perbedaan ini karena keberanian dan pertanggungjawaban Soekemi serta Srimben dalam menjalankan cintanya, Soekemi hanya dimintai denda atas tindakannya melakukan Ngarorod, dan keluarga Srimben menyetujui Soekemi menikah dengan Ni Nyoman Srimben.
 
Pernikahan ini berlangsung damai, tiba-tiba datang surat dari penilik sekolah yang mengabarkan bahwa Soekemi harus pindah ke Blitar dan bertugas disana. Ni Nyoman Srimben ikut Soekemi, dengan menumpang perahu layar mereka mengarungi selat Bali menuju Jawa, tampak dari kejauhan pulau Jawa berkabut, keindahan pulau Jawa dengan ratusan nyiur di pantai membuat Srimben merasa bergetar, ada suara lembut menyapa kalbunya ‘Disinilah masa depanmu bermula’.
 
Di Blitar, Soekemi dan Srimben hidup amat sederhana, seperti layaknya penduduk Jawa yang lain, hidup dalam suasana keprihatinan suasana orang yang dijajah, tiap pagi Srimben harus menumbuk padi, menjaga tumbukannya tidak dimakan ayam, ia mencuci dan segala bentuk kegiatan lainnya, ia mencintai suaminya dengan amat sangat yang tiap hari dengan sepeda warna hitam itu pergi ke sekolah mengajar. Di tahun pertama pernikahannya, lahirlah seorang anak perempuan dan diberikan nama sebagai Soekarmini. Gembiralah rumah kecil pak guru itu dengan hadirnya anak perempuan yang lucu.
 
Suatu siang Srimben bermimpi tentang bulan purnama terang sekali, ia bermimpi berjalan di ruang yang bergolak, kemudian melanjutkan ke ruang yang tenang. Ia berdoa semoga mimpinya ini berjalan ke arah kebaikan, tak lama setelah mimpinya ini ada, ia hamil. Di tengah kehamilannya ini ia kerap bermimpi tentang sinar matahari berwarna kuning muda bangkit dari balik cakrawala, dan entah kenapa Srimben sangat menyukai warna pagi matahari. Soekemi senang bukan kepalang, melihat isterinya hamil lagi. Ia mengelus-elus perut isterinya dan membacai surat al fatihah, ia berharap anak ini akan menjadi berguna bagi keluarga dan bangsanya. Anak ini akan dipenuhi oleh rasa cinta, dipenuhi keberanian dalam menghadapi kehidupan dan ketabahan dalam penderitaan untuk mencapai tujuan. Anak ini harus menjadi seorang yang kuat, begitu harapan Soekemi.
 
Lalu tanggal 6 Juni 1901, jam 6 pagi meledaklah suara tangis bayi, Soekemi berdiri dari tempat duduknya, ia mendatangi dukun bayi yang membantu proses kelahiran…”Anakmu laki-laki, Pak Guru…laki-laki” kata dukun bayi itu dengan wajah senang seraya memberi selamat dan Soekemi dengan dada berdegup kencang berlari ke sudut rumah lalu mengucapkan syukur.
 
Malamnya Soekemi menuliskan surat kepada keluarga isterinya di Buleleng dengan kata-kata singkat : “Anakku telah lahir, anak kedua, dia laki-laki dan kuberikan nama Koesno. Semoga ini menjadi awal yang baik dari semuanya”. Tulis Soekemi di tengah pelita yang redup.
 
Bayi itu sehat, gemuk dan pipinya merah. Bayi ini sangat tampan. Bahkan beberapa kerabat Soekemi yang mengunjungi terpesona dengan ketampanan bayi ini. Satu hal yang sangat disenangi Srimben dalam merawat bayi ini adalah menghadapkannya ke timur matahari, dengan cahaya matahari yang merekah, wajah tampan bayi merah ini tertimpa alur-alur cahaya pagi lalu Srimben berucap “ Lihatlah anakku, lihatlah sang Fajar bangkit dari peraduannya, kau lahir ketika sang fajar bangkit dan menerangi dunia, kau lahir bukan saja membawa hari baru, tapi sebuah jaman baru…..” 


Bung Karno semasa sekolah di HBS (Sumber Photo : Yayasan Idayu)
Kelak di kemudian hari ucapan Srimben ini semacam profetik (ramalan) yang dinisbahkan pada diri anak ini, seorang anak yang kemudian sakit-sakitan dan diganti nama menjadi SUKARNO.
Sukarno kecil tumbuh dengan gembira, ia suka berenang-renang dikali, memancing dan bermain gasing. Ia tak mau kalah dalam permainan “Bagi Sukarno, ia tak boleh dikalahkan” kenang Sukarno kelak dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams.
 
Karena kemiskinan Sukarno kerap hidup kekurangan, ia harus menumbuk beras sendiri, ia berjalan kaki ke sekolah tanpa sepatu. Yang paling sedih diingat Sukarno adalah ketika hari menjelang lebaran, banyak anak-anak bermain petasan, ledakan petasan dimana-mana, ia ingin membakar petasan, ia iri teman lainnya bisa membeli dan membakar petasan menyambut malam takbiran. Sukarno ingin merayakan menjelang lebaran dengan petasan “aku ingin petasan…ingin sekali” tapi Sukarno kecil tau, ayahnya tak punya uang, ia tak tega meminta pada bapaknya. Kemudian yang ia lakukan adalah menangis di kamar, ia melingkari wajahnya dengan bantal yang penuh air mata, ia ingin petasan. ‘keinginan anak-anak yang lumrah’. Tak lama ketika Sukarno menangis, datanglah seseorang teman ayahnya mengetuk pintu dan memberikan sebungkus petasan pada Soekemi “ini untuk anakmu” lalu Soekemi memanggil Sukarno dan memberikan sebungkus petasan itu “Ini untuk kamu, hati-hati mainnya” Bukan main gembira hati Sukarno, kenangan ini ia tak bisa lupakan seumur hidupnya, ia juga sadar ‘tangisan yang tulus adalah doa yang didengar Tuhan”. Dan memang sepanjang hidupnya Sukarno kerap menangis diam-diam untuk bangsanya.
 
Sukarno dibawa ayahnya ke rumah indekost HOS Tjokroaminoto di Jalan Plampitan, Surabaya.. saat itu Sukarno diterima di HBS Surabaya, Pak Tjokro adalah kawan dekat ayah Sukarno, “Jagalah baik-baik anakku” kata Soekemi, Pak Tjokro dengan kumis yang tegas itu memegang pundak Sukarno “Nah, kau sekarang di HBS, kau harus bertanggung jawab bukan saja pada hidupmu, tapi juga bangsamu” nasihat Pak Tjokro dengan mata tajam dan wajah yang teduh. Sukarno mengangguk pelan, lalu ia diantarkan ke kamarnya yang gelap, kecil dan agak kotor, -karena kamar yang lain sudah penuh-. Tapi Sukarno menerima dengan gembira, ia memang punya watak selalu senang dalam keadaan apapun. Bagi Sukarno ‘mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa, bergembiralah di tiap hidupmu, seberat apapun masalahmu…gembiralah…gembiralah” itu prinsip Sukarno dalam menjalani kehidupan.

Banyak kawan-kawan yang mengenang Sukarno adalah seorang pelajar yang cerdas, pembaca buku, pintar menggambar – salah satu yang paling diingat adalah ketika di kelas sedang ada pelajaran menggambar bebas, Sukarno muda menggambar anjing dan kandangnya, gambar anjing itu amat hidup dan membuat guru Belandanya terperangah, ia memamerkan gambar Sukarno- tapi nilai gambar itu tetap tidak boleh tinggi dari gambar anak Belanda, diam-diam Sukarno mulai tau bahwa bangsanya terjajah.
 
Sukarno cepat bila mengerjakan PR, setelah selesai mengerjakan PR ia mengusili kawan kost yang lain, hingga kalau malam banyak kamar ditutup pintunya ‘untuk menghindari gangguan Sukarno’. Akhirnya Sukarno iseng-iseng pidato sendirian di kamar, ia meniru seorang dalang dan meniru Pak Tjokro yang sedang berpidato. Bila Sukarno kecil berpidato ia bergerak seakan-akan seorang aktor yang bisa menggenggam dunia, “Kebebasan…Kebebasan..dan Kebebasan” teriak Sukarno meniru Danton tokoh revolusi Perancis dalam khayalannya itu. Lalu anak-anak melongok keluar jendela kamar dan dengan malas-malasan kembali lagi ke meja belajarnya sambil mengomel “Ah, Paling itu Si No…ingin menguasai dunia” kata mereka.

Dan memang Sukarno kelak menguasai dunia, dibawah pesonanya banyak negara-negara terinspirasi untuk merdeka, dibawah jalan hidupnya kemerdekaan Indonesia direbut, bangsa Indonesia memiliki martabatnya, merebut kehormatannya dan berdiri sebagai bangsa besar di dunia. Dan Sukarno-lah alasan terbesar bangsa ini berdiri-.
-Hari ini 6 juni 2012 dan Bung Karno ulang tahun, Selamat Ulang Tahun Bung Karno…………-
Indonesia, 6 Juni 2012

Catatan : Nama Ibunda Sukarno adalah Ni Nyoman Srimben, pada tahun 1954 sebagai Presiden RI, Sukarno menghadiahkan nama Ida Ayu atau Idayu kepada Ibunda-nya dengan disaksikan banyak pejabat RI dan dari negara sahabat, sebuah penghargaan terbesar dari seorang anak kepada ibunya.