Cari Blog Ini

Minggu, 26 Juni 2011

Catatan Malam


Matahari senja ini pelan-pelan turun
Entahlah, waktu begitu cepat menyapa kita
Aku tak sempat lagi melihat wajahmu yang cantik
tertawamu yang mampu membuat sorga barang sejenak

Di matamu
daun-daun rindu tumbuh
Di matamu
senja masuk perlahan

Aku ingin menghentikan cinta ini
pada matamu saja
sejarah cinta yang kelam seperti novel-novel buram
adalah sejarah cinta yang harus dibereskan
ia sudah terlalu lama merusak pikiran
harapan berlebihan
gagasan tanpa sebab
atau rindu yang tidak pernah terjawab

Aku menarasikan dirimu
seperti sebuah jalan lengkung di tepi senja
wajahmu tanah lempung

Senja yang merumahkan semua kisah
tapi, sayang kamu kadang ingin menghancurkan rumah itu
padahal semuanya adalah soal waktu
apakah ini harus bisa diteruskan
ataukan ini hanya cinta sesaat penuh kekosongan.

Cinta sesaat penuh kekosongan?
aku rasa tidak, ini persoalan membangun benih pohon flamboyan
aku tau betapa enaknya kita bicara
membangun harapan pelan-pelan
atau bercanda dengan ringan
kadang sayap-sayap kangen menjadi lekukan manis
atau suratmu dengan sapaan sederhana

Kekasihku, hidup ini tidak pernah membosankan
tidak pernah seperti candi tua tanpa penghuni
hidup ini adalah loncatan-loncatan nasib
dimana kau mengikuti irama burung perkutut
aku berani untuk mengambil keceriaan itu
dengan resiko apa saja
asal kamu disini
berjalan bersamaku, meneduhkan rindu
melihat senja
dan bercerita
bahwa toh kita berani
menantang nasib dimana cinta kita disembunyikan
pada kaki-kaki langit


Anda, Mei 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar