Cari Blog Ini

Minggu, 26 Juni 2011

Catatan Malam


Matahari senja ini pelan-pelan turun
Entahlah, waktu begitu cepat menyapa kita
Aku tak sempat lagi melihat wajahmu yang cantik
tertawamu yang mampu membuat sorga barang sejenak

Di matamu
daun-daun rindu tumbuh
Di matamu
senja masuk perlahan

Aku ingin menghentikan cinta ini
pada matamu saja
sejarah cinta yang kelam seperti novel-novel buram
adalah sejarah cinta yang harus dibereskan
ia sudah terlalu lama merusak pikiran
harapan berlebihan
gagasan tanpa sebab
atau rindu yang tidak pernah terjawab

Aku menarasikan dirimu
seperti sebuah jalan lengkung di tepi senja
wajahmu tanah lempung

Senja yang merumahkan semua kisah
tapi, sayang kamu kadang ingin menghancurkan rumah itu
padahal semuanya adalah soal waktu
apakah ini harus bisa diteruskan
ataukan ini hanya cinta sesaat penuh kekosongan.

Cinta sesaat penuh kekosongan?
aku rasa tidak, ini persoalan membangun benih pohon flamboyan
aku tau betapa enaknya kita bicara
membangun harapan pelan-pelan
atau bercanda dengan ringan
kadang sayap-sayap kangen menjadi lekukan manis
atau suratmu dengan sapaan sederhana

Kekasihku, hidup ini tidak pernah membosankan
tidak pernah seperti candi tua tanpa penghuni
hidup ini adalah loncatan-loncatan nasib
dimana kau mengikuti irama burung perkutut
aku berani untuk mengambil keceriaan itu
dengan resiko apa saja
asal kamu disini
berjalan bersamaku, meneduhkan rindu
melihat senja
dan bercerita
bahwa toh kita berani
menantang nasib dimana cinta kita disembunyikan
pada kaki-kaki langit


Anda, Mei 2011.

Jumat, 24 Juni 2011


Pada tahun 1960 Sukarno mengunjungi Kuba. Bagi Sukarno mengunjungi Kuba sangat penting untuk membuktikan politik bebas aktif-nya. Kabarnya Presiden Ike Eisenhower tidak menyukai kunjungan Sukarno ke Kuba itu. Bahkan Ike Eisenhower sempat memanggil agen CIA untuk mengamati prospek kunjungan Sukarno ke Kuba.

Setahun sebelumnya tahun 1959, jagoan revolusi Che Guevara datang ke Jakarta dan bertemu Sukarno untuk menyampaikan undangan resmi dari Fidel Castro, pemimpin revolusi Kuba. Saat itu Jakarta sedang hangat-hangatnya pembubaran Konstituante dan Sukarno baru saja dengan semangat mengembalikan sejarah Indonesia ke dalam garis Revolusi. Fidel memperhatikan gerakan Sukarno ini, dan ia mengirimkan Che ke Jakarta untuk berguru pada Sukarno sekaligus mengundangnya. Pada satu malam setelah Fidel membaca sebuah terjemahan tulisan Sukarno dalam bahasa Inggris soal ‘Indonesia Menggugat’ maka ia merasa apa yang dijadikan dalam tujuan revolusi Indonesia adalah sejalan dengan Revolusi yang inginkan di Kuba.

Che Guevara, seorang jagoan revolusi Argentina yang dari muda berkelana dengan motornya mencari arti tentang masyarakat, sebuah pembebasan. Che berpikir bahwa satu-satunya pembebasan adalah menghilangkan struktur masyarakat yang menindas. Lalu Che bergabung dengan Fidel membakar revolusinya dan menggulingkan diktator Fulgencio Batista. Dan akhirnya sejarah membawa Che bertemu dengan guru besar Revolusi dari Asia : Sukarno.

“Bagi saya, Che...bagi saya sebuah perubahan sejarah itu tidak boleh setengah-setengah, ia harus menjebol, ia harus memporakporandakan, dari situasi porak poranda itu kita bangun yang baru, bangunan masyarakat yang modern, terhormat dan memanusiakan manusia” kata Sukarno saat usai makan malam dengan Sukarno. Lalu Che memberi cerutu Kuba pada Sukarno yang mengajak Che bicara di teras Istana Negara. “Kamu lihat Che, bangunan ini adalah bangunan Belanda, kota-kota kami adalah contoh kota kolonial terbaik pada jamannya, di timur Jakarta ada kota bernama Bandung indahnya luar biasa, lalu ada juga bernama Kota Surabaya yang menjadi pelabuhan paling timur milik jaringan dagang Hindia Belanda sebelum Australia didirikan Inggris. Mereka sudah membangun permodalan dari abad demi abad, mereka sudah membangun benteng-benteng kesejahteraannya. Tapi Che, bangsa-bangsa yang mereka jajah hanya menjadi kuli...kuli dari kemauan mereka. Lalu kami sejak pergantian abad lalu, sadar bahwa satu-satunya jalan untuk membebaskan bangsa dari kekuliannya, dari perbudakannya adalah menjadi ‘bangsa tuan’ di negeri sendiri. Menjadi demikian terhormatnya, sehingga kami bisa menggali kekayaan kami, kami bisa membangun budaya kami, kami bisa menguasai diri kami sendiri. Lalu dengan rasa terhormat itu : Ekonomi kami, Kebudayaan Kami dan Pandangan-pandangan politik kami menjadi arus besar bagi sumbangan peradaban dunia”.......kata Sukarno sambil menghirup cerutu.

“Jadi apa yang Tuan Sukarno lakukan untuk itu” kata Che dengan pandangan berapi-api. Ia seakan melihat sang guru sedang menjelaskan konsep sosialisme, konsep kesejahteraan umum, konsep yang akan membawa masyarakat pada pembebasannya. “Bagiku Che, revolusi itu sebuah keharusan untuk membuka pintu sejarah baru. Saat ini sejarah yang berlangsung sudah berbeda dengan sejarah di abad-abad lampau. Pergerakan eksploitasi bukan lagi pada pendudukan-pendudukan koloni, tapi pada pergerakan arus modal. Arus modal inilah yang kemudian menjadi alat penindas antara pemilik modal dan tidak pemilik modal. Negara-negara baru jelas tidak punya modal, mereka belum ada waktu akumulasi modal, mereka baru memulai. Tapi setidak-tidaknya, Che yang kami pelajari bahwa untuk berjuang dalam situasi apapun, maka kuncinya cuma satu : persatuan...persatuan....persatuan. Kami menang karena bersatu, andai seluruh negara-negara baru bersatu, maka penindasan modal itu menjadi medan pertarungan yang seimbang. Untuk itulah aku inginkan Indonesia menjadi lokomotif atas persatuan dari negara-negara baru, negara-negara yang baru saja melepaskan diri dari belenggu penjajahnya. Setelah persatuan, Che.....maka modal itu dialihkan pada kesejahteraan umum, pada bangunan-bangunan yang berguna untuk rakyat, bangun sekolah-sekolah. Dengan kekayaan yang ada kami bisa membangun jutaan unit sekolah untuk anak-anak kami, itulah awal dari revolusi kami” kata Sukarno dengan nada bangga. Ia melihat di depannya adalah anak muda yang berhasil mengalahkan sejarah kapitalisme, dan ia bangga.......

“Tuan Sukarno, sudikah tuan datang memenuhi undangan pemimpin kami, Fidel Castro?” kata Che dengan tersenyum. Sukarno menjawab sembari memamerkan gingsulnya yang terkenal itu bila tertawa ‘Saya bersedia anak muda”.

Lalu di tahun 1960 datanglah Sukarno ke Kuba. Ia dibawa ke Istana dan ditempat khusus, Fidel minta diajari konsep-konsep revolusi. “Tuan Sukarno, negara ini memiliki semangat tersendiri dalam mewujudkan perubahan, kami berdiri disini sendirian dikelilingi negara-negara perkebunan tinggalan Spanyol dan Portugal, kami juga berdekatan dengan rajanya Kapitalis dunia Amerika Serikat, tiap waktu kami berjaga agar jangan sampai rudal Amerika menimpa kota kami, dan kami terpaksa bersekutu dengan Sovjet Uni agar kami aman. Memang Mao meminta kami agar bersama-sama membangun persekutuan politik, tapi karena Sovjet Uni menolak bila Mao ikut campur maka kami terpaksa melepaskan Mao, walau itu menyakitinya. Padahal kami merasa kami harus mandiri, tidak bergantung kepada negara lain seperti negara Tuan, Indonesia...”

“Begini, Yang Mulia Castro..... Sebuah negara pertama-tama harus mandiri. Itu persyaratan terbesar sebuah revolusi. Ia tidak boleh bergantung kepada siapa-siapa, kekuatan dirinya sendiri yang menjadi ukuran. Sebuah negara harus memiliki kemandiriannya, karena kemandirian ia akan mendapatkan tiga hal : Kehormatan, Kemanusiaannya dan Kepandaiannya. Nah, untuk mencapai ini kita harus tegar menghadapi badai godaan. Saya sendiri akan melawan bila negara saya dikelilingi koloni-koloni yang kemudian akan berkembang sebagai sebuah ancaman”

Lalu Fidel bertanya lagi. “Jadi apa yang harus dilakukan Kuba”. Sukarno menjawab “Yang harus dilakukan adalah pertama-tama Yang Mulia harus menganalisa kekuatan modal yang mulia, apa yang bisa dijadikan alat untuk mandiri, lalu gunakan modal itu 100% untuk kesejahteraan umum. Bagi saya kesejahteraan umum itu sumber kebahagiaan rakyat, negara tidak boleh menjadi tempat bagi penggarong atas nama kapital, atas nama komoditi”

Ajaran Sukarno ini kemudian benar-benar dipegang Kuba. Setelah kunjungan Sukarno, Castro memerintahkan UU Kesejahteraan Umum. Rumah Sakit, Sekolah, Sarana Publik dibuat sebaik mungkin demi kesejahteraan rakyat banyak. Sampai saat ini fasilitas kesehatan publik Kuba merupakan yang terbaik sedunia, rakyat mendapatkan hak-hak kesehatannya. Sekolah didirikan dengan gratis dan dibiayai negara. Sarana Publik amatlah rapi.

Sementara Sukarno harus mati dalam kandang sempit yang tak layak bagi orang sebesar dia. Sukarno mati, semua ide-nya mati. Lalu di Indonesia terjadi penggarongan luar biasa, Freeport dirampok, Newmont dirampok, ladang-ladang gas bukan lagi untuk kesejahteraan umum, ladang-ladang minyak, lahan kelapa sawit. Semuanya digarong tanpa sedikitpun mengalir ke sarana kesejahteraan umum. Rakyat dibiarkan hidup secara minimal. Seorang Supriyono harus membawa mayat bayinya karena tak mampu membayar ambulance, rakyat miskin mati rebutan dzakat, ratusan ribu wanita kita eksodus ke luar negeri, berangkat tanpa kehormatan dan martabat sebagai manusia Indonesia yang cerdas dan terdidik, tapi berangkat sebagai manusia yang pasrah.

Dan sejarah memang selalu melahirkan tragedinya........................


ANDA, 2011.

Selasa, 21 Juni 2011

Mengenang Kematian Bung Karno, 21 Juni 1970


Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu". Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno, lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan ia makulum, ajudan itu sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggak di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.

Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno. "Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kamu memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya". Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."

Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan. Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara. Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar. Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Saelan dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan. "Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak. Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman. Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi. Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri -gadis Bali- untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo. Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental. Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno. Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.

Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...

Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri. Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis. Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden" kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya. Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya. "Lhol, Mbak Rachma ada apa?" tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggemgam tangan Rachma lalu dengan menggemgam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto. "Lho, Mbak Rachma..ada apa?" kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawar di Wisma Yaso.

Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi. Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapihkan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno. Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.

Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberaoa orang diketahui akan nekat membebaskan Bung Karno. Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.

Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak. Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!" Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.

Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini". Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil. Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

Mendengar kematian Bung Karno rakyat berjejer-jejer berdiri di jalan. Rakyat Indonesia dalam kondisi bingung. Banyak rumah yang isinya hanya orang menangis karena Bung Karno meninggal. Tapi tentara memerintahkan agar jangan ada rakyat yang hadir di pemakaman Bung Karno. Bung Karno ingin dikesankan sebagai pribadi yang senyap, tapi sejarah akan kenangan tidak bisa dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk hadir. Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat jenazah Bung Karno, di pinggir jalan Gatot Subroto banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur tentara yang melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno menolak dengan hanya duduk-duduk di pinggir jalan, mereka diusiri tapi datang lagi. Tau sikap rakyat seperti itu tentara menyerah. Jutaan orang Indonesia berhamburan di jalan-jalan pada 21 Juni 1970. Hampir semua orang yang rajin menulis catatan hariannya pasti mencatat tanggal itu sebagai tanggal meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih. Koran-koran yang isinya hanya menjelek-jelekkan Bung Karno sontak tulisannya memuja Bung Karno.

Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh dokter hewan, tidak diperlakukan dengan secara manusiawi. Mendapatkan keagungan yang luar biasa saat dia meninggal. Jutaan rakyat berjejer di pinggir jalan, mereka melambai-lambaikan tangan dan menangis. Mereka berdiri kepanasan, berdiri dengan rasa cinta bukan sebuah keterpaksaan. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana sebuah memperlakukan orang yang kalah, walaupun orang yang kalah itu adalah orang yang memerdekakan bangsanya, orang yang menjadi alasan terbesar mengapa Indonesia harus berdiri, Tapi dia diperlakukan layaknya binatang terbuang, semoga kita tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi.....


Anda, 21 Juni- Tanggal Meninggalnya Bung Karno.

Senin, 20 Juni 2011

Siangku Menangis !!


“. . . Dan sejarah akan menulis: di sana di antara benua Asia dan Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa yang mula-mula mencoba untuk kembali hidup sebagai bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa kembali menjadi bangsa kuli dan kuli dari bangsa-bangsa (een natie van koelies, en een kolie onder de naties) . .”. (Bung Karno, 1961) -

 Dibawah rezim skrg, kita benar-benar menjadi bangsa Kuli, tidak tahu malu, TKW dipancung tanpa pembelaan, pegawai K*RI tidak tau apa yang musti diperbuat. Bangsa kita menjadi kuli, karena Bangsa kita bermental pengemis, lalu ramalan Bung Karno benar-benar terjadi," bila kita tidak berdaulat di negeri sendiri, maka sejarah akan mencatat kita menjadi bangsa kuli"....Kembali...sekali lagi kembali pada Revolusionernya orang Indonesia dimasa lalu, yang meletakkan kehormatan manusia diatas segala-galanya!!

K*RI, bila anda merasa tidak mampu, bila kepemimpinan anda tidak melindungi warga negara, bila kepemimpinan anda tidak mampu menyejahterakan. Maka lebih baik anda mundur terhormat, daripada rakyat membiarkan anda berkuasa tapi seluruh dunia mentertawakan anda, rakyat tidak lagi memiliki jaminan keamanan bekerja di luar negeri. Muak saya!! dengan sirkus politik yang saling rebut korupsi anggaran seperti manusia tanpa peradaban, sementara rakyat harus eksodus ke luar negeri meninggalkan tanah yang paling dicintainya, memunguti remah-remah rejeki tapi di negeri sendiri emas, batubara, Tandan Buah Segar Kelapa Sawit diangkuti ke luar negeri!!............

Kita satu bangsa, bila satu dilukai maka yang lainnya akan merasa sakit. Bukan ketika yang satu dibunuh, sementara yang lainnya menggarong uang keringat yang dibunuh. Sekali lagi, kita satu bangsa...............

Anda, Juni 2011

Selasa, 14 Juni 2011

Siangku, Sumpah Pemuda




Siangku sajak pemuda yang bersumpah
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko

Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.

Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......

Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.

Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.

Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......

Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.

Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :

Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....

Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.

Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.

Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.

Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......

Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....

Senin, 13 Juni 2011

Demokrasi dan Mitos


Catatan Pagi

Demokrasi dan Mitos

Demokrasi di Indonesia tak bisa lepas dari soal pertarungan modal, perdagangan-perdagangan dunia dan bentuk kebijakan geopolitik Internasional. Angin demokrasi di Indonesia beriringan dengan minat besar Negara-negara maju membongkar hambatan-hambatan perdagangan.

Setelah hancurnya Sovjet Uni maka tidak ada lagi musuh bagi Amerika untuk menguasai sumber daya alam. Pada hakikatnya perang dingin di masa lalu bukanlah perang ideologi tapi perang imperialisme penguasaan sumber daya alam antara Sovjet Uni dengan Amerika Serikat. Dan Indonesia adalah korban paling utama atas pertarungan itu. Sejarah Sukarno ke Suharto adalah gambaran bagaimana geopolitik perang dingin bekerja dari tahun 1950-1990. Setelah pertarungan besar antara Imperialisme Sovjet dengan Imperialisme Amerika selesai dengan kemenangan telak Amerika Serikat karena berhasil membongkar jaringan perdagangan bebas di wilayah timur Eropa sekaligus mendorong Eropa Timur bersatu dengan Eropa Barat dalam wadah Masyarakat Uni Eropa yang digunakan AS sebagai sekutu terkuatnya dalam bersaing dengan Cina dan Negara-Negara baru Militan dalam rebutan wilayah dagang baru. Maka Demokrasi Liberal adalah alat paling paten untuk menciptakan mesin persekutuan di wilayah-wilayah perdagangan penting. Demokrasi Liberal adalah sebuah alasan pembentukan masyarakat yang kemudian bisa menjadi alat katalisator pembentuk persekutuan dagang.

Maka tak aneh kemudian karena demokrasi liberal yang dicangkok Indonesia adalah penciptaan demokrasi modal yang kemudian menghasilkan kelompok-kelompok pemodal yang menikmati alam kebebasannya itu seraya menjauhkan disiplin masyarakat pada kesejahteraan umum. Demokrasi liberal yang tumbuh di Indonesia tidak sejalan dengan pertumbuhan demokrasi di Amerika Serikat. Bila di Amerika Serikat demokrasi liberal mampu menciptakan masyarakat yang terbuka dan toleran, maka demokrasi liberal di Indonesia malah menciptakan masyarakat tertutup, adu kuat intoleransi dan permisif terhadap segala hal sampai pada penyerangan landasan pembentukan bangsa ini : Pancasila.

Pancasila adalah ruang realitas sejarah negeri ini dan alasan terbesar kenapa negeri ini harus didirikan. Pembentukan negeri ini tak lepas dari visi besar membentuk masyarakat baru yang dilandasi pada gagasan pandangan hidup bersama. Lalu atas nama Demokrasi orang bisa berpikir dan berbicara seenaknya. Ruang sejarah yang sudah mencapai tahapan fase tertentu dihancurkan oleh ruang lain bahkan ruang tersebut mengusung wacana penghancuran Pancasila. Di ruang publik teriakan ‘Hancurkan Pancasila sudah menjadi biasa’ dan atas nama demokrasi ini dibiarkan.

Pengaburan Pancasila ini juga diikuti dengan pembentukan tiga mitos besar : Pasar, Uang dan Partai Politik. Konstruksi negara dan bangsa tidak lagi seperti masa Sukarno yang penuh gairah dan pertaruhan nyawa atau di masa Suharto yang dilakukan dengan indoktrinisasi dan penguasaan bahasa secara bertahap untuk menguasai alam bawah sadar manusia Indonesia, maka saat ini pembentukan negara didasarkan pada tiga mitos besar : Pasar, Uang dan Partai Politik.

Ruang Sejarah adalah Ruang pertarungan wacana-wacana, sepanjang sejarah bekerja maka pertarungan wacana menjadi sumber referensi terpenting dalam membaca kemana arah masyarakat berjalan. Dan pertarungan selalu menyodorkan mitos sebagai kerangka argumennya. “Mitos Pasar, Uang Dan Partai Politik” menjadi Trisakti Mitos pada masa Demokrasi Liberal saat ini. Mitos adalah sebuah penguatan atas konotasi, proses konotasi ini bisa berlangsung lama atau terjadi amat cepat seperti penjungkir balikkan nilai-nilai, pemaknaan dan mitos-mitos, biasanya mitos ini berkaitan dengan kebudayaan massa.

Mitos Pasar : Seakan-akan pasar tidak bisa diintervensi, pasar menjadi ruang yang vakum atas keterlibatan segala soal, pasar menjadi sakral dan terasing dari ruang-ruang lain termasuk ruang kebudayaan dan dinamika sosial. Mitos Pasar ini kemudian mendukung terjadinya Mitos Uang. Saat ini uang sudah menjadi mitos paling luar biasa atas keberlangsungan kinerja sosial. Tanpa Uang kita tidak bisa berpolitik, bernegosiasi untuk pembelaan kepentingan kita dan lebih jauh uang adalah rumah bersama dalam proses pembentukan masyarakat. Uang bukan lagi menjadi pralambang hedonis, tapi sudah menjadi bentuk komunikasi, baik komunikasi politik ataupun komunikasi massa. Sementara Partai Politik oleh kelompok pemodal dijadikan sebuah mitos seakan-akan aspirasi politik hanya bisa disalurkan lewat partisipasi politik. Sebelum masa reformasi partai politik hanyalah alat formalitas tapi sekarang Partai Politik adalah pertemuan dua hal : Pasar dan Uang. Partai Politik dimitoskan sebagai satu-satunya alat untuk mencapai kekuasaan.

Ujung dari mitos itu adalah pengavlingan kekuasaan. Partai Politik dibuat selektif mungkin untuk menyaring pemodal, sehingga demokrasi bertingkah seperti sebuah bursa saham ketimbang sebagai alat komunikasi dan pembentukan keterbukaan di tengah masyarakat. Kelompok-kelompok yang memiliki dana milyaran dan bersedia membayar untuk membeli jabatan di keanggotaan Partai kemudian menjadi pemain politik. Seleksi bukan lagi pada kemampuan kesejarahan seseorang dalam pertarungan politik dan tumbuhnya dia dimasyarakat tapi dari seberapa jauhnya seseorang bisa menaruh dana di Partai dan kemudian disponsori Partai untuk menjadi Pelaku Politik.

Demokrasi kita yang ditopang oleh tiga mitos : Pasar, Uang dan Partai Politik kemudian menjadi hingar bingar ketika kelompok radikal baik agama maupun ideologis lain masuk tanpa kendali lagi. Kacau dan hiruk pikuknya hal ini membuat tujuan bangsa yang teratur dan diarahkan menjadi hilang. Orang mulai percaya bahwa kebebasan demokrasi akan membawa mereka pada koreksi terus menerus atas sejarah, padahal mereka naif bahwa demokrasi yang tumbuh di Indonesia adalah “Demokrasi Pasar, Uang dan Partai Politik” sehingga yang terjadi adalah siapa yang memiliki penyaluran besar pendanaan, bersedia mengalihkan kasus-kasus korupsi di ruang publik dan menciptakan Partai Politik sebagai industri keuangan maka Demokrasi korektif model Amerika Serikat tidak akan tercapai karena demokrasi yang kita alami tak lebih dari anarkisme kaum pemodal.

Anarkisme kaum pemodal ini kemudian akan berkembang untuk menciptakan pasar baru bagi perdagangan bebas, apa yang dimaksud perdagangan bebas ini harus dibacai bukan sebagai bentuk fair perdagangan tapi lebih dilihat sebagai pembukaan pintu hambatan untuk masuknya modal-modal besar baik asing atau domestik dengan meminimalisir sedikit mungkin hambatan regulasi sehingga modal besar bisa bergerak liar.

Ketika modal masuk dan perdagangan melaburkan wilayah-wilayah batas konvensional maka lambat laun mitos-mitos lama seperti : Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme akan hancur dengan sendirinya digantikan mitos baru : Pasar, Uang dan Partai Politik”.

Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme akan menjadi artefak apabila tidak adanya ruang hambatan atas pembentukan mitos baru. Seiringan dengan mitos Pasar, Uang dan Partai Politik kemudian berkembang counter-mitos yaitu : Pembentukan Nasionalisme tapi dengan menggunakan nama agama. Kelompok ini menolak mitos Pancasila sekaligus juga menolak mitos Pasar, Uang dan Partai Politik. Kelompok ini lebih kecil tidak mempunyai jaringan massa luas tapi amat nyaring suaranya di ruang publik.

Pertarungan ke depan bukan lagi pertarungan kiri dan kanan seperti warisan pertarungan negara modern Indonesia selama lebih dari 60 tahun, tapi pertarungan saat ini adalah pertarungan mitos yang pertama dilandasi modal kesejarahan : Pancasila dan yang kedua dilandasi modal pragmatisme : Pasar, Uang dan Partai Politik. Sementara radikalisasi agama hanya bumbu saja dalam pertarungan dua mitos besar ini.


Anda, Juni 2011.

Rabu, 08 Juni 2011

Pancasila sebagai Manual Bangsa

Catatan Di Siang Bolong




Aku suka caramu bicara
yang seperti merumahkan senja
dengan kayu-kayu kehidupan
tanpa titik koma
tanpa tanda tanya

Aku suka caramu bernyanyi
senandung kecil, tapi menggoyangkan akar cemara
ketika kamu bercerita
seribu novel kehilangan lagaknya

Aku suka caramu melihat kehidupan
tak pernah keliatan ada tangis air mata
tapi biarlah kutebak
kamu adalah anak sunyi kehidupan

Anak sunyi kehidupan tidak pernah mengeluh
karena mengeluh adalah kematiannya

Selasa, 07 Juni 2011

Gerhana Bulan Total 16 Juni Bisa Disaksikan Live Streaming


Tanggal 16 Juni dini hari hingga menjelang fajar akan terjadi gerhana bulan total yang bisa disaksikan di seluruh wilayah di Indonesia. Bosscha bekerjasama dengan Kominfo akan melakukan ujicoba live streaming fenomena alam tersebut.

"Ini ujicoba livestreaming baru, Tteropong akan dipasangi kamera CCD kemudian hasil pencitraannya akan disalurkan ke internet yang terhubung dengan internet lalu dikirim ke server milik Kominfo.

"Nah live streaming kali ini akan mudah diakses oleh masyarakat luas melalui website resmi Kominfo dan Bosscha," terangnya. Untuk website Kominfo di depkominfo.go.id atau bisa dilihat di bossca.itb.ac.id Livestreaming sudah dilakukan sejak 2007. Namun karena untuk mengaksesnya diperlukan perangkat khusus, makanya hanya bisa dinikmati kalangan terbatas.

"Kalau nanti itu lebih enteng, bisa dimasukin juga ke YouTube kalau mau, karena filenya bisa disimpan di flashdisk,"
Gerhana bulan total pada 16 Juni nanti akan mulai terjadi pada pukul 01.25 WIB dan total pada 2.25 WIB. Kemudian maksimum gerhana total di mana bulan seluruhnya ditutupi bayangan bumi akan terjadi pada pukul 03.14 WIB. Gerhana baru berakhir menjelang fajar 05.04 WIB.

Ungku Nawawi, Gurunya Tan Malaka



Catatan Malam : Anda Djogja, 7 Juni 2011

JIKA kita menelusuri sejarah pendidikan ala Eropa di Minangkabau, tentu kita akan tersua dengan nama Nawawi Soetan Ma’moer. Beliau adalah guru pribumi yang paling menonjol di Kweekschool (Sekolah Radja) Fort de Kock. Beliau sering pula dipanggil Engkoe Nawawi.

Guru atau Angkoe Nawawi gelar Soetan Ma’moer dilahirkan di Padang Panjang tahun 1859 dari pasangan Malim Maradjo, seorang menteri cacar, asal Koto Gadang dengan istrinya yang berasal dari Tiku. Awalnya ia masuk sekolah rendah (2 tahun) di bawah asuhan keras ayah tirinya, Soetan Radjo Ameh. Tahun 1873 ia tamat dari sekolah rendah dan langsung melanjutkan studinya ke Sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi tahun 1873. Waktu itu Pemerintah berencana untuk mengirim Nawawi melanjutkan studinya ke Belanda, tapi entah kenapa tiba-tiba rencana itu tidak jadi (lihat: Java Bode, 20 November 1928). Tahun 1877 Nawawi lulus dan berhasil menggondol ijazah guru. Kemudian beliau diangkat menjadi guru sekolah rendah dengan gaji 20 gulden (f 20) sebulan. Pada tahun 1879 beliau diangkat menjadi guru bahasa Melayu di almamaternya dengan gaji f 75 sebulan.

Pada tahun 1883 Nawawi lulus ujian menjadi guru pembantu (hulponderwijzer). Dengan ijazah hulpacte, kemudian beliau diangkat menjadi guru pembantu (hulponderwijzer) tingkat satu di almamaternya, suatu posisi yang cukup tinggi bagi orang pribumi dalam struktur pendidikan sekuler di Hindia Belanda zaman itu. Gajinya naik menjadi f 150 sampai f 400 sebulan.

Nawawi menulis beberapa buku dalam bahasa Melayu dengan J.L.van der Toorn, salah seorang kepala sekolah Kweekschool Bukittinggi dan T. Kramer, salah seorang kolega Belandanya yang lain. Nawawi juga pernah menjadi anggota (lid) Komisi Sekolah Belanda di Sumatra Barat dan anggota Dewan Kotapraja (Gemeenteraad) Bukittinggi.

Karena dedikasinya yang tinggi di bidang pendidikan, Nawawi menerima penghargaan bintang perak dari Departemen Pendidikan dan Ibadat (Departement van Onderwijs en Eëredienst), bintang emas dari Gubernur Jendral Hindia Belanda, dan bintang Oranje Nassau dari Ratu Belanda, Wilhelmina. Pada tahun 1907 Departemen Pendidikan dan Ibadat memberi kesempatan kepada Nawawi untuk mengunjungi Pulau Jawa untuk menambah wawasan. Ia mengunjungi Candi Borobudur dan Mendut.

Nawawi adalah salah seorang feminis laki-laki dari Minangkabau. Beliaulah ayah Minangkabau pertama yang menyekolahkan anak perempuannya ke sekolah Eropa. Di akhir abad ke-19 umumnya gadis-gadis Minang dipingit oleh orang tua dan keluarga matrilinealnya di rumah, untuk kemudian dikawinkan dalam usia muda. Nawawi melangggar tabu: anak perempuannya, Syarifah (anak ke-4, putri ke-3), disekolahkan di E.L.S. (De Europeesche Lagere School di Bukittinggi, lalu diteruskan ke Kweekschool Bukittinggi tahun 1907. Kemudian Nawawi mengirim Syarifah ke sekolah Kristen Salemba School di Batavia.

Nawawi meninggal pada hari Minggu, 11 November 1928, di Bukittinggi, setelah menderita sakit tidak begitu lama. ”Semua pemuka setempat, polisi, pandu, murid-muridnya dan banyak orang lain datang melawat [melayat]” begitu kenang cucunya Mien Soedarpo (1994:24).

Nawawi Soetan Ma’moer adalah seberkas jejak dalam sejarah transfer ilmu pengetahuan Barat kepada masyarakat Minangkabau. Sebagaimana suratan tangan kaum guru pada umumnya, jasa-jasa Engkoe Nawawi mungkin tak begitu banyak disebut dalam hingar bingar wacana politik; jasa seorang guru lebih banyak tercatat dalam hati murid-muridnya.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Volksalmanak Melajoe, Serie no. 582, 1925: antara hlm. 142-143).



Singgalang, Minggu, 13 Februari 2011

Senin, 06 Juni 2011

Lalu kemanakah Bangsa yang diimpikan Sukarno ini?


Setelah Sukarno membaca Indonesia Menggugat hakim tetap memutuskan Sukarno bersalah dan ia harus dipenjara di Sukamiskin. Sukarno adalah seorang Sarjana Teknik Arsitektur, saat itu Kota Bandung sedang menggeliat menjadi kota besar bahkan Bandung mendapat predikat kota kolonial terbaik di dunia pada perlombaan tata ruang kota di Afrika Selatan pada tahun 1928. Profesi Arsitektur saat itu booming, Sukarno ditawari menjadi pegawai pemerintah untuk mendesain bangunan-bangunan pemerintah, sarana umum seperti jembatan dan desain taman kota. Tapi Sukarno menolak, walaupun ia ditawari gaji : 5.000 gulden, namun Sukarno berkata pada orang yang menawarinya "Saya memang akan hidup enak dengan gaji seperti ini, saya bisa menyenangkan orang tua saya, saya bisa bahagia membangun rumah tangga tanpa kekurangan sedikitpun. Tapi bila saya terima ini, bangsa saya tidak akan berubah. Dan mimpi-mimpi saya seperti akan menjadi tergadaikan hanya untuk kesenangan pribadi. Bagi saya Tuan, perjuangan untuk bangsa ini, diatas segala-galanya. Saya hidup diatas landasan mimpi saya, dan dengan begitu saya tidak mengkhianati mimpi-mimpi saya dan mimpi jutaan orang dari bangsa ini, bangsa yang bermimpi memiliki kebebasannya".


Ia yang berjuang demi bangsanya, rela masuk bui pada sel kecil sempit dan bau, ia rela mengorbankan kesenangan-kesenangan pribadinya. Dia hanya bisa berolahraga menghangatkan dirinya dengan matahari hanya satu jam lalu dikurung lagi. Inilah watak manusia sesungguhnya, ia berjuang demi mimpi dan Sukarno hanyalah satu dari representasi ribuan manusia Indonesia yang rela dikurung badannya demi sebuah bangsa. Mereka menolak kesenangan dunia, mereka bersatu menderita demi mimpi yang mereka inginkan.

Lalu kemanakah bangsa yang diimpikan Sukarno ini? Bangsa yang sudah didirikan dengan pengorbanan bui, buang dan bunuh ini. Puluhan tahun setelah Sukarno mati, puluhan tahun setelah apa yang diimpikannya berhasil, rakyat negeri ini hanya melihat dagelan-dagelan politik yang isinya pembohongan semua. Dari Presiden sampai pegawai sekecil-kecilnya memamerkan cara terampil berkorupsi, tak ada gairah perjuangan, gairah hidup menderita demi terwujudnya mimpi, semua senang-senang menghamburkan uang rakyat, uang yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan umum.

Pada diri Sukarno, pada ribuan orang yang hidup di Digoel, Pada kematian-kematian di masa Orde Baru yang berjuang menggulingkan pemerintahan fasis, hendaknya Presiden SBY merasa malu, bahwa negerinya berjalan seolah tanpa etika.

Anda Djogja, 6 Juni 2011

Kelahiran Bayi Kusno dan Kelahiran Sukarno


Pagi setelah Subuh, Pada 6 Juni 1901 di satu jalan sempit perkampungan Surabaya, telah lahir seorang bayi lelaki yang dinamakan Kusno dari seorang ayah bernama Sukemi Sosrodihardjo. Sukemi memberikan nama anak ini singkat saja : Kusno, lalu beberapa jam setelah kelahirannya, ia menuliskan surat kepada saudara-saudara isterinya yang berada di Singaraja, Bali :"Telah lahir anakku yang kuat dan sehat, berwajah bersih dan menawan. Semoga kelak dia akan berguna untuk bangsa ini dan kebaikan kita semua" Setelah menerima surat Sukemi, saudara-saudara Nyoman Rai langsung beribadah di Pura memohon agar bayi ini diberi perlindungan dewata, di Surabaya Kusno kecil juga di adzani sesaat setelah dilahirkan. Sejak bayi, Sukarno memang ditakdirkan tidak hanya direstui satu jenis doa saja. Ia dilahirkan dalam situasi-situasi penuh perbedaan.

Beberapa bulan kemudian ia tumbuh menjadi bayi yang ringkih, ia sakit-sakitan. Lalu Sukemi mengganti nama Kusno menjadi nama Sukarno. Dan entah kenapa penyakit panasnya kontan sembuh.

Sukarno kecil tumbuh menjadi anak yang lincah, ia amat suka bermain. Dan dalam permainan ia ingin selalu menjadi pemenang. Jika tidak maka lawan akan dihantamnya atau mainan kawannya dibuang ke kali, dan kelak di masa tuanya Sukarno bercerita pada Cindy Adams "Aku ingin selalu menjadi pemenang, bila kawanku memiliki gasing yang lebih baik dan lama berputarnya, dan aku gagal mengalahkannya maka gasing itu kuambil lalu kubuang. Itulah cara-cara Sukarno dia tidak boleh dikalahkan".

Perjalanan hidup Sukarno tak bisa dilepaskan dari dua hal : Buku dan Mimpi. Perkenalannya dengan dunia buku pertama kali adalah saat ia sudah bisa membaca di umur 6 tahun. Ayahnya pulang mengajar dan membawa buku cerita tipis tentang cerita-cerita anak Belanda. Sejak itu Sukarno suka sekali membaca. Suatu saat ayahnya mengajak ke perpustakaan di tengah kota dan Sukarno melihat sebuah buku yang amat menarik judulnya "David Copperfield" karangan Charles Dickens, buku inilah yang kemudian membawa Sukarno pada kesukaan membaca dunia sastra, dan entah kenapa penderitaan David Copperfield justru mengilhami dirinya Pertama, ia selalu mengindentifikasikan dirinya sebagai David Copperfield dan kedua, ia mulai belajar tentang susunan masyarakat berdasarkan kelas-kelas sosial. Disini Sukarno mulai mengerti tentang situasi penindasan, setidaknya penindasan satu manusia dengan manusia lainnya.

Sukarno selalu bermimpi menjadi pembebas, ia seorang sembrono dalam memutuskan sesuatu, sama ketika saat ia pulang sekolah dan melihat beberapa sinyo bermain bola lalu ia ikut bermain di tengah lapangan dan sinyo-sinyo tersebut mengusirnya lalu Sukarno dihajar habis-habisan, atau Sukarno tanpa seijin ayahnya memacari wanita Belanda dan kemudian diusir ayah pacarnya itu, sakit hati Sukarno inilah yang kemudian menjadi dasar pembentukan dirinya di masa depan. Sukarno sedikit-sedikit mulai paham bahwa bangsanya dijajah oleh bangsa lain.

Suatu hari Sukarno sedang menumbuk beras di pelataran, lalu ia melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan rumahnya. Ia melihat seorang lelaki berusia 30-an, langsing dan berkumis baplang. Ia memanggil Sukarno dan bertanya "Apa ini rumah Pak Sukemi?" Sukarno mengangguk, ada getar di hatinya saat melihat wajah orang itu. Sukarno seakan melihat masa depannya. Orang itu adalah HOS Tjokroaminoto.

HOS Tjokroaminoto adalah bidan yang melahirkan watak-watak Sukarno, dan pertemuan dengan Tjokro inilah yang kemudian menjadi kelahiran kedua bagi diri Sukarno melihat dunia.

Anda Djogja, 6 Juni 2011

Sabtu, 04 Juni 2011

Dua Tahun Ibu Meninggalkan Kita


HINGGA hari ini kadang aku masih belum percaya ibu telah meninggal. Keluargaku memang belum pernah kehilangan. Kini aku begitu merindukan ibu. Menyesal belum sempat membuat ibu bahagia.

Kehilangan itu membuatku begitu hampa. Segalanya seolah menjadi tak berjiwa. Aku seakan tak mendengar bunyi apa pun, saat aku di rumah aq seolah kehilangan pijakan. Kedua kakiku rasanya melayang. Aku seolah meluncur ke dalam lubang yang tak bisa kuhentikan.

Semua kenangan masa kecilku kuingat kembali. Waktu remaja dan saat aku masih kecil, ibu begitu cantik. Lembut, meski keras dalam sikap. Aku bangga punya ibu seperti ibuku. Memang kuakui aku tumbuh dengan pikiranku sendiri dan sibuk dengan diriku sendiri. Mungkin ibu berpikir aku seolah tidak peduli. Padahal dalam hati aku selalu sayang ibu. Selalu mengingatnya. Kini ibu sudah Dua tahun tiada. Sudah benar-benar hilang dari keluarga .. aq berdoa dan selalu berdoa utk Ibu.....aku sayng Ibu aq yakin Ibu sudah tenang di sana.

Lain sekali rasanya kehilangan itu. Dua tahun  ini kami sudah kehilangan beliau,sore ini saya berkunjung di makam ibu. Ada bentangan daun dan kembang. Juga bunga yang ditabur di makam. Sejam yang lalu aku ke makam ibu (nyekar). Aku berdoa semoga Ibu selalu tenang dan tersenyum di sana  .. Aamiin !!!


Dua Tahun Kini aku hanya memiliki seorang ayah. Aku harap ayahku selalu sehat dan kuat.. Aku sayang sekali dengan ayahku. Ayahlah yang mendidikku dalam banyak hal. Caranya mendidikku luar biasa: aku dibiarkannya melakukan apa saja yang aku suka, tidak pernah melarang apa yang aku pilih dalam menjalankan hidup ini, walaupun kadang kita sekarang jarang ketemu dalam sehari hari karena kesibukan masing masing tapi hati kita merasa dekat sekali ... we love Ayah !!

(anda djogja, 04-06 -2011)

Racun !!!!



Renungan Jum'at,
(Curhatan dari Seorang Sahabat )

Racun

Ular kobra adalah ular yang mempunyai salah satu racun yang paling mematikan di dunia ini. Apabila ada manusia yang sampai digigit oleh ular kobra, dia harus segera mendapat pertolongan, sebab bila terlambat korban bisa meninggal. Tahukah Anda bahwa manusia juga menghasilkan racun yang tak kalah berbisanya dari racun kobra? Kalau ular dan binatang berbisa lain menghasilkan racun yang mencelakai mangsa atau makhluk lain, racun manusia mencelakakan dirinya sendiri. Racun ini juga mematikan, tetapi yang mati adalah penghasil racun itu sendiri, tanpa dia sadari. Racun ini bisa diproduksi oleh setiap orang, dan uniknya lagi setiap orang bisa mengatur seberapa tinggi kadar mematikan dari racun yang dia ciptakan. Pembuat racun ini boleh jadi mati dalam arti sesungguhnya, atau dia bisa masih tetap hidup, tetapi sejatinya dia bak orang mati. Dia keracunan sehingga dirinya terbebas dari rasa bahagia. Racun yang diproduksi manusia itu diberi nama sakit hati.

Dalam hidup diri kita masing-masing, kita pasti mengalami berbagai hal, berjumpa dengan banyak orang yang telah menorehkan luka di hati kita. Sebagian luka boleh jadi langsung bisa sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, sebagian besar masih terbuka dan masih terasa perih di hati Anda.
Luka yang masih terbuka itu bisa saja kita wujudkan menjadi marah, dendam, dan benci yang tidak berkesudahan. Atau, luka tadi kita wujudkan menjadi rasa menderita yang tanpa sadar selalu menghantui ke mana pun langkah kita pergi. Hidup kita tidak pernah merasa tenang, dan hati kita tak kunjung merasa tenteram.

“Memaafkan dia? No way! Enak aja! Dulu ketika masih kekurangan, aku yang mendampinginya, aku yang ikut bekerja untuk membiayai rumah tangga. Aku yang hamil, melahirkan, dan membesarkan anak-anak. Sekarang sesudah uangnya banyak dan badanku peyot, dia seenaknya selingkuh dengan perempuan yang pantas jadi anaknya. @#$%^$#@*&^! Memaafkan tidak akan membuat dia jera, memaafkan itu hanya dilakukan oleh orang yang lemah hatinya!” begitu ungkap seorang perempuan tentang suaminya, yang selingkuh dengan seorang ABG, kepada pembimbing rohaninya. Rupanya ibu ini adalah penganut paham mata ganti mata, gigi ganti gigi, kalau perlu ditambah “bunga”. Secara tidak sadar, kita hidup bersama dengan emosi-emosi negatif, yang menghambat kita terbang seperti elang, dengan perasaan bebas dan bahagia.

"Hati-hati bu, nanti malah jadi penyakit, kalo emosi negatif berlebih, bisa keserang lho livernya," sahut pembimbing rohani itu berusaha meredam emosi yang berkobar-kobar dari sang ibu.

Pendapat ibu itu pun keliru karena, “Orang yang lemah tidak akan pernah bisa memaafkan. Memaafkan adalah sebuah atribut yang hanya dimiliki oleh mereka yang kuat,” demikian ujar Mahatma Gandhi. Perkataan itu konon juga dipraktikkannya, “Aku memaafkan engkau,” kata Gandhi kepada penembaknya, Nathuram Godse.

"Tubuh dan pikiran adalah satu sistem, dan keduanya saling mempengaruhi," itulah salah satu pelajaran penting dari NLP. Kalau pikiran kita penuh dengan emosi negatif, ingin membalas dendam, berbagai hal yang negatif juga akan mendekati kita. Tubuh menjadi sakit, mengambil keputusan keliru, ditipu orang, melakukan berbagai kesalahan, bahkan mengalami kecelakaan adalah beberapa contohnya.

Dengan kata lain, bukan kemampuan menyimpan kemarahan dan kebencian yang menjadikan Anda sebagai sosok yang kuat. Bukan pula sehebat apa Anda mampu membalas dendam atas luka yang telah Anda rasakan. Bukan, bukan itu semuanya. Anda adalah sosok yang kuat ketika Anda mau memaafkan, benar-benar memaafkan, bahkan ketika orang yang melukai Anda tidak meminta maaf kepada anda.

Dengan memaafkan, Anda telah mengizinkan diri Anda sendiri untuk bisa menjalani hidup ini dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Andalah yang telah menjebol penjara kemarahan dan penderitaan di hati Anda, karena sesungguhnya Anda sendirilah pemegang kunci atas hati Anda sendiri.

Mulai saat ini buanglah racun dalam diri Anda. Gantilah racun “sakit hati” itu dengan memaafkan dan membuang semua amarah, dendam, dan kebencian ke dalam tempat sampah, karena memang di situlah tempatnya. Ingat, jangan sampai Anda ingin mengambilnya kembali, itu sampah.

Kamis, 02 Juni 2011

Korban Ledakan Gas




Ibu Ini Membawa Anaknya Yang Korban Ledakan Gas, Presiden Tidak Menanggapi.....!!!
Ada SMS yang katanya dari tempat gelap menuduh Presiden berhubungan sesama jenis dengan staf-nya, Presiden Menanggapi. ...???
Sebuah realitas tetaplah sebuah realitas, seorang Pemimpin harus berdiri diatas lumpur-lumpur realitas.
Seorang Pemimpin tidak boleh berdiri di atas dunia mimpi, dan menganggap dirinya seperti Pangeran tampan tanpa cela, dimana rakyat tak boleh mengingatkan bahwa sang Pangeran sesungguhnya telanjang bulat di depan podium Istana.

Benarlah kata Agus Salim "Leiden is Lijden" Memimpin adalah menderita, karena kepemimpinan adalah jalan sulit untuk membangun kehidupan, dimana seorang pemimpin harus membuang kesenangan-kesenangan pribadinya untuk membangun masa depan.

........Leiden is Lijden, Mr. Presiden

Anda Djogja, 2011.

Catatan Pagi Hari


Pancasila Itu Bukan Ideologi Kita, Tapi Pancasila Adalah Rumah Kita

Di tanggal ini 66 tahun yang lalu pada sebuah komite persiapan kemerdekaan, Sukarno sebagai ketua bicara kepada banyak anggota yang terdiri dari perwakilan masyarakat, tokoh agama, birokrat dan perwakilan militer Jepang yang saat itu menguasai Indonesia. Bung Karno berpidato tentang bagaimana sebuah negara berdiri, bagaimana sebuah negara memiliki tujuannya, apa dasar-dasar dari tujuan itu. "Itulah yang kusebut sebagai Philosofische grondslag (dasar filosofi) dari Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi".

Sebuah bangsa harus berdiri dengan konsep. Tanpa itu ia menjadi hampa. Sebuah bangsa harus menyadari sejarahnya, karena dengan sejarahnya ia tahu siapa dirinya. Maka Sukarno berkata pada tahun 1960-an, "Pancasila bukanlah sebuah penemuan raksasa seperti yang ditemukan Marx pada meja-meja perpustakaan London, bukanlah sebuah hasil pergesekan pemikiran-pemikiran seperti yang ditemukan para pemikir Perancis, atau perdebatan-perdebatan dari pendiri Amerika Serikat tapi Pancasila adalah persoalan bagaimana sebuah bangsa bisa mengenang masa lalunya, tau siapa dirinya dan bagaimana dirinya bekerja di tengah masyarakat dan hadir untuk masa depan dunia".

Pancasila adalah "Kumpulan kesadaran Kita" maka apabila kita asing dengan Pancasila, itu bukan kita terasingkan dari ideologi atau hapalan-hapalan Pancasila tapi kita terasingkan pada diri kita sendiri, kita terasing dari kesadaran kita. Disadari atau tidak Pancasila adalah definisi dari manusia Indonesia itu sendiri. Baik sebagai impian, sebagai cita-cita dan sebagai manusia yang merumuskan hidupnya.

Manusia Indonesia senang bercerita, mendongeng, mencari, beribadah dan amat percaya pada Iman KeTuhanan. Manusia Indonesia pada hakikatnya adalah orang yang mencari Tuhannya. Orang yang mencari bagaimana suasana kebatinan itu bertemu dengan Tuhan, se Atheisnya pun dia, Se Sekulernya pun dia, dia pasti dilandasi pada ajaran-ajaran agamanya, pada dasar-dasar dia punya do'a. Seperti DN Aidit pemimpin PKI, sejak kecil dia khatam mengaji Al Qur'an, sejak muda ia disiplin shalat bagaimana kemudian kehidupannya menjadi amat percaya dengan materialisme yang menafikan nilai-nilai paramateri tapi sebagai manusia Indonesia DN Aidit sekalipun akan berdoa ketika ia menemukan kesulitan dalam hidupnya, karena itulah watak manusia Indonesia sesungguhnya. Ia merupakan gambaran Iman yang naik turun, ia merupakan epos manusia menemukan dirinya dalam gambaran Tuhan. Seperti yang digambarkan Hamka dalam Tasawuf Modern "Manusia harus menciptakan keseimbangan jasmani dan rohani, antara materi dan non materi, lebih dari itu manusia harus aktif di dunia ini" Konsepsi keTuhanan disini adalah KeTuhanan yang aktif, ia punya sejarah di muka bumi sebagai sebuah bentuk kesadaran bahwa manusia mencari Tuhannya. Dan ketika manusia mencari Tuhan, manusia memiliki pengalaman pribadi, pengalaman ini dihargai oleh masyarakat sebagai pengalaman keTuhanan baik itu menggunakan disiplin agama, spiritual atau ritual-ritual yang tidak menyimpang nilai-nilai kemanusiaan. Rumah Ibadah di tengah-tengah masyarakat yang hidup dengan damai adalah sebuah harmoni dasar bahwa Manusia dihargai Kemanusiaannya dalam Mencari dan menemukan Tuhannya.

Manusia yang sudah menemukan Tuhan, sudah menanamkan nilai-nilai KeTuhanan dalam dirinya maka ia mendapatkan nilai kemanusiaan. Dari kemanusiaan maka lahirlah hukum-hukum yang beradab, hukum-hukum yang adil. Konsepsi keadilan ini harus mempertimbangkan dengan detil. “Bahwa Keadilan adalah proses membacai Kemanusiaan, keadilan adalah membangun peradaban, membangun hukum yang tahu tatanan”.

Dengan tatanan itu maka manusia diarahkan untuk bersatu. “Persatuan Indonesia” bukanlah kata singkat, ia adalah proses pembentukan peradaban baru, Indonesia Baru, dimana manusia yang jumlahnya terdiri ratusan suku, beratus-ratus bahasa dilebur menjadi “Manusia Indonesia”. Konsepsi Manusia Indonesia inilah yang digadang-gadang Bung Karno sebagai manusia yang akan berhadapan dengan “Manusia Liberal Ekonomistis model Amerika Serikat”, “Manusia Fasisme” seperti Jerman (apa yang terjadi di Jaman Hitler), “Manusia Komunisme” (Seperti yang diproyeksikan Leninisme). Manusia Indonesia akan menjadi model dari pertumbuhan sejarah lingkungan yang mempengaruhi jiwa manusia itu dalam menanggapi perkembangan lingkungan. Jadi Persatuan Indonesia adalah Peradaban kita sendiri, konsepnya bukan saja persatuan wilayah NKRI tapi bersatunya tubuh dengan pikiran terhadap Konsepsi-Konsepsi dasar manusia dalam berbangsa.

Manusia Indonesia adalah Manusia yang bermusyawarah, ia senang berdialog, ia senang membangun komunikasinya lewat nada-nada harmoni, ia tidak dilahirkan dari persaingan, tidak dilahirkan dari definisi-definisi ruang “main benar sendiri”. Manusia Indonesia adalah definisi dari manusia yang senang merumuskan satu hal dengan mendengarkan suara yang lain dan suara masyarakatnya. Inti dari Musyawarah adalah “Terciptanya Harmoni, situasi dimana tidak ada perdebatan-perdebatan yang menyakitkan hati dan menghasilkan kemarahan”.

Keadilan Sosial adalah tujuan dari bangsa ini berdiri. Manusia menemukan keadilannya bukan dari apa yang ia butuhkan tapi dari situasi apa yang ia rasakan kemudian perasaan itu menemukan hukum-hukumnya, menemukan apa yang berkembang di tengah masyarakat. Keadilan Sosial adalah situasi dimana kita bisa mendirikan bangunan penting yaitu : Kesejahteraan Umum.

Jadi Pancasila itu adalah diri kita sendiri, proyeksi manusia Indonesia menemukan dirinya. Itu adalah karakter dasar dan bukan ideologi yang harus dicekoki. Apabila di hari-hari ini kita lihat ada gerakan agama yang mau menang sendiri, membakari rumah ibadah itu akan berhenti dengan sendirinya karena tidak sesuai dengan karakter bangsa ini, bila juga kita lihat beberapa orang yang berlagak menjadi barat, berlagak mengalami transformasi intelektual kebarat-baratan kemudian menafikan adanya bangsa, adanya nasionalisme, mentertawakan Sukarno, mentertawakan Sosialisme yang dipikirkan para pendiri bangsa, mengatakan modal asing dan persaingan pasar bebas adalah dewa, maka itu juga akan hancur dengan sendirinya, karena karakter dasar kita akan menolaknya.

Pancasila itu adalah sejarah diri kita, sejarah nilai-nilai kita dia bukan ideologi yang dipaksakan karena Pancasila adalah Rumah Kita Sendiri.