Cari Blog Ini
Selasa, 21 Juni 2011
Mengenang Kematian Bung Karno, 21 Juni 1970
Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".
Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu". Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno, lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan ia makulum, ajudan itu sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggak di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.
Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno. "Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kamu memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya". Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."
Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan. Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara. Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar. Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Saelan dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan. "Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak. Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.
Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman. Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi. Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri -gadis Bali- untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo. Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental. Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno. Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.
Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...
Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri. Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis. Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden" kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya. Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya. "Lhol, Mbak Rachma ada apa?" tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggemgam tangan Rachma lalu dengan menggemgam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto. "Lho, Mbak Rachma..ada apa?" kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawar di Wisma Yaso.
Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi. Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapihkan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno. Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.
Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberaoa orang diketahui akan nekat membebaskan Bung Karno. Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.
Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak. Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!" Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.
Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.
Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini". Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.
Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil. Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.
Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.
Mendengar kematian Bung Karno rakyat berjejer-jejer berdiri di jalan. Rakyat Indonesia dalam kondisi bingung. Banyak rumah yang isinya hanya orang menangis karena Bung Karno meninggal. Tapi tentara memerintahkan agar jangan ada rakyat yang hadir di pemakaman Bung Karno. Bung Karno ingin dikesankan sebagai pribadi yang senyap, tapi sejarah akan kenangan tidak bisa dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk hadir. Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat jenazah Bung Karno, di pinggir jalan Gatot Subroto banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur tentara yang melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno menolak dengan hanya duduk-duduk di pinggir jalan, mereka diusiri tapi datang lagi. Tau sikap rakyat seperti itu tentara menyerah. Jutaan orang Indonesia berhamburan di jalan-jalan pada 21 Juni 1970. Hampir semua orang yang rajin menulis catatan hariannya pasti mencatat tanggal itu sebagai tanggal meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih. Koran-koran yang isinya hanya menjelek-jelekkan Bung Karno sontak tulisannya memuja Bung Karno.
Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh dokter hewan, tidak diperlakukan dengan secara manusiawi. Mendapatkan keagungan yang luar biasa saat dia meninggal. Jutaan rakyat berjejer di pinggir jalan, mereka melambai-lambaikan tangan dan menangis. Mereka berdiri kepanasan, berdiri dengan rasa cinta bukan sebuah keterpaksaan. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana sebuah memperlakukan orang yang kalah, walaupun orang yang kalah itu adalah orang yang memerdekakan bangsanya, orang yang menjadi alasan terbesar mengapa Indonesia harus berdiri, Tapi dia diperlakukan layaknya binatang terbuang, semoga kita tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi.....
Anda, 21 Juni- Tanggal Meninggalnya Bung Karno.
Senin, 20 Juni 2011
Siangku Menangis !!
“. . . Dan sejarah akan menulis: di sana di antara benua Asia dan Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa yang mula-mula mencoba untuk kembali hidup sebagai bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa kembali menjadi bangsa kuli dan kuli dari bangsa-bangsa (een natie van koelies, en een kolie onder de naties) . .”. (Bung Karno, 1961) -
Dibawah rezim skrg, kita benar-benar menjadi bangsa Kuli, tidak tahu malu, TKW dipancung tanpa pembelaan, pegawai K*RI tidak tau apa yang musti diperbuat. Bangsa kita menjadi kuli, karena Bangsa kita bermental pengemis, lalu ramalan Bung Karno benar-benar terjadi," bila kita tidak berdaulat di negeri sendiri, maka sejarah akan mencatat kita menjadi bangsa kuli"....Kembali...sekali lagi kembali pada Revolusionernya orang Indonesia dimasa lalu, yang meletakkan kehormatan manusia diatas segala-galanya!!
K*RI, bila anda merasa tidak mampu, bila kepemimpinan anda tidak melindungi warga negara, bila kepemimpinan anda tidak mampu menyejahterakan. Maka lebih baik anda mundur terhormat, daripada rakyat membiarkan anda berkuasa tapi seluruh dunia mentertawakan anda, rakyat tidak lagi memiliki jaminan keamanan bekerja di luar negeri. Muak saya!! dengan sirkus politik yang saling rebut korupsi anggaran seperti manusia tanpa peradaban, sementara rakyat harus eksodus ke luar negeri meninggalkan tanah yang paling dicintainya, memunguti remah-remah rejeki tapi di negeri sendiri emas, batubara, Tandan Buah Segar Kelapa Sawit diangkuti ke luar negeri!!............
Kita satu bangsa, bila satu dilukai maka yang lainnya akan merasa sakit. Bukan ketika yang satu dibunuh, sementara yang lainnya menggarong uang keringat yang dibunuh. Sekali lagi, kita satu bangsa...............
Anda, Juni 2011
Selasa, 14 Juni 2011
Siangku, Sumpah Pemuda
Siangku sajak pemuda yang bersumpah
bersumpah sambil kencing di celana dan membayangkan luna maya
di jaman penuh tontonan ini aku bersumpah, tentang kabar kabur nasionalisme, tentang melawan secara gagap modal asing dan tentang romantisme picisan yang menghasilkan duit bagi pemilik toko-toko
Hari ini sumpah pemuda, kata buku-buku sejarah
lalu kita mengenang bendera merah putih dan Indonesia Raya dengan sebungkus kuaci dan coca cola
lalu dengan gembira kita hisap ganja sambil menghitung duit bapak yang ditransfer ke bank kita, duit hasil komisi proyek cukong yang baru kemarin ditandatangani.
Sumpahku, sumpah pemuda. Buat apa hidup susah demi ide yang tak pernah aku mengerti.
Buat apa buang-buang waktu demi mimpi yang pada akhirnya toh tak terjaga.
Sumpahku adalah sumpah, ketika Disc Jockey memutarkan irama ajib-ajib atau sambil melihat Pemandu lagu karaoke telanjang di depan TV dan dengan gembira aku nyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"......
Mengapa harus banyak baca buku politik, sejarah dan budaya. Toh, dengan mudah aku bisa duduki bangku parlemen, karena di Indonesia kekuasaan adalah warisan bukan soal perjuangan.
Mengapa aku harus sibuk bicara kemiskinan dan perut rakyat yang lapar, atau bicara tentang sistem moda transportasi yang menghasilkan rakyat seperti lele disesakkan pada plastik beroksigen di Metromini dan Kopaja, Di Busway dan Angkutan Kota. Toh kita tak pernah masuk dalam dunia mereka, biarlah kaum kere tetap di dunia yang kere, kaum kaya menjaga kehidupan. Jangan biarkan kaum kere mengancam kaum kita, biarlah mereka tenang di kehidupan, berilah mereka sinetron dan sulap agar duduk manis penuh harapan.
Sumpahku, Sumpah Pemuda yang dibangun atas semangat menumpuk kekayaan, menjaga agar Bapakku tetap berkuasa dan bahasaku adalah bahasa elite kaum kaya dimana logatnya mirip Cinta Laura.......
Sumpahku, Sumpah Pemuda dimana kemewahan adalah duniaku dan Indonesia adalah negeri dimana aku bisa mendapat seribu kuli untuk dibohongi baik itu buruh pabrik atau kuli jurnalistik.
Dengan disaksikan mobil bapakku yang baru diberi Bapak Presiden tadi pagi dan ajudan berderet-deret sambil menyembah daulat Tuan Muda padaku, aku bersumpah :
Sumpah Pemuda
Bertanah air satu, tanah air yang ada ladang batubara, lahan kelapa sawit dan minyak bumi agar aku bisa jadi makelar komisi....
Berbangsa satu, bangsa para kuli yang mendewakan asing sebagai sumber modal.
Berbahasa satu, bahasa proposal proyek dan mencari solusi menyogok kaum birokrasi.
Inilah sumpahku, sumpah dengan ketulusan hati untuk menjaga kelasku dan menjaga kekuasaan. Toh apa artinya hidup bila tak bisa menjaga kelanggengan kelas berkuasa.
Sejarah bangsaku sudah dimenangkan bapakku
dan tugas kaum muda bagiku adalah bagaimana kerja bapakku menjadi monumen hidup
dan aku diwariskan kerjanya
tanpa otak dan tanpa pengetahuan
dengan jas puluhan juta
dan senyum di pas-paskan
aku duduk di kursi Parlemen, toh bangsa ini hanya mainan bagi bapakku......
Hujan rayap di negeri Indonesia
karena Pemuda hanya berani kentut saja
takut pada penguasa
dan berebut menjilat kaum bajingan yang pegang negara....
Senin, 13 Juni 2011
Demokrasi dan Mitos
Catatan Pagi
Demokrasi dan Mitos
Demokrasi di Indonesia tak bisa lepas dari soal pertarungan modal, perdagangan-perdagangan dunia dan bentuk kebijakan geopolitik Internasional. Angin demokrasi di Indonesia beriringan dengan minat besar Negara-negara maju membongkar hambatan-hambatan perdagangan.
Setelah hancurnya Sovjet Uni maka tidak ada lagi musuh bagi Amerika untuk menguasai sumber daya alam. Pada hakikatnya perang dingin di masa lalu bukanlah perang ideologi tapi perang imperialisme penguasaan sumber daya alam antara Sovjet Uni dengan Amerika Serikat. Dan Indonesia adalah korban paling utama atas pertarungan itu. Sejarah Sukarno ke Suharto adalah gambaran bagaimana geopolitik perang dingin bekerja dari tahun 1950-1990. Setelah pertarungan besar antara Imperialisme Sovjet dengan Imperialisme Amerika selesai dengan kemenangan telak Amerika Serikat karena berhasil membongkar jaringan perdagangan bebas di wilayah timur Eropa sekaligus mendorong Eropa Timur bersatu dengan Eropa Barat dalam wadah Masyarakat Uni Eropa yang digunakan AS sebagai sekutu terkuatnya dalam bersaing dengan Cina dan Negara-Negara baru Militan dalam rebutan wilayah dagang baru. Maka Demokrasi Liberal adalah alat paling paten untuk menciptakan mesin persekutuan di wilayah-wilayah perdagangan penting. Demokrasi Liberal adalah sebuah alasan pembentukan masyarakat yang kemudian bisa menjadi alat katalisator pembentuk persekutuan dagang.
Maka tak aneh kemudian karena demokrasi liberal yang dicangkok Indonesia adalah penciptaan demokrasi modal yang kemudian menghasilkan kelompok-kelompok pemodal yang menikmati alam kebebasannya itu seraya menjauhkan disiplin masyarakat pada kesejahteraan umum. Demokrasi liberal yang tumbuh di Indonesia tidak sejalan dengan pertumbuhan demokrasi di Amerika Serikat. Bila di Amerika Serikat demokrasi liberal mampu menciptakan masyarakat yang terbuka dan toleran, maka demokrasi liberal di Indonesia malah menciptakan masyarakat tertutup, adu kuat intoleransi dan permisif terhadap segala hal sampai pada penyerangan landasan pembentukan bangsa ini : Pancasila.
Pancasila adalah ruang realitas sejarah negeri ini dan alasan terbesar kenapa negeri ini harus didirikan. Pembentukan negeri ini tak lepas dari visi besar membentuk masyarakat baru yang dilandasi pada gagasan pandangan hidup bersama. Lalu atas nama Demokrasi orang bisa berpikir dan berbicara seenaknya. Ruang sejarah yang sudah mencapai tahapan fase tertentu dihancurkan oleh ruang lain bahkan ruang tersebut mengusung wacana penghancuran Pancasila. Di ruang publik teriakan ‘Hancurkan Pancasila sudah menjadi biasa’ dan atas nama demokrasi ini dibiarkan.
Pengaburan Pancasila ini juga diikuti dengan pembentukan tiga mitos besar : Pasar, Uang dan Partai Politik. Konstruksi negara dan bangsa tidak lagi seperti masa Sukarno yang penuh gairah dan pertaruhan nyawa atau di masa Suharto yang dilakukan dengan indoktrinisasi dan penguasaan bahasa secara bertahap untuk menguasai alam bawah sadar manusia Indonesia, maka saat ini pembentukan negara didasarkan pada tiga mitos besar : Pasar, Uang dan Partai Politik.
Ruang Sejarah adalah Ruang pertarungan wacana-wacana, sepanjang sejarah bekerja maka pertarungan wacana menjadi sumber referensi terpenting dalam membaca kemana arah masyarakat berjalan. Dan pertarungan selalu menyodorkan mitos sebagai kerangka argumennya. “Mitos Pasar, Uang Dan Partai Politik” menjadi Trisakti Mitos pada masa Demokrasi Liberal saat ini. Mitos adalah sebuah penguatan atas konotasi, proses konotasi ini bisa berlangsung lama atau terjadi amat cepat seperti penjungkir balikkan nilai-nilai, pemaknaan dan mitos-mitos, biasanya mitos ini berkaitan dengan kebudayaan massa.
Mitos Pasar : Seakan-akan pasar tidak bisa diintervensi, pasar menjadi ruang yang vakum atas keterlibatan segala soal, pasar menjadi sakral dan terasing dari ruang-ruang lain termasuk ruang kebudayaan dan dinamika sosial. Mitos Pasar ini kemudian mendukung terjadinya Mitos Uang. Saat ini uang sudah menjadi mitos paling luar biasa atas keberlangsungan kinerja sosial. Tanpa Uang kita tidak bisa berpolitik, bernegosiasi untuk pembelaan kepentingan kita dan lebih jauh uang adalah rumah bersama dalam proses pembentukan masyarakat. Uang bukan lagi menjadi pralambang hedonis, tapi sudah menjadi bentuk komunikasi, baik komunikasi politik ataupun komunikasi massa. Sementara Partai Politik oleh kelompok pemodal dijadikan sebuah mitos seakan-akan aspirasi politik hanya bisa disalurkan lewat partisipasi politik. Sebelum masa reformasi partai politik hanyalah alat formalitas tapi sekarang Partai Politik adalah pertemuan dua hal : Pasar dan Uang. Partai Politik dimitoskan sebagai satu-satunya alat untuk mencapai kekuasaan.
Ujung dari mitos itu adalah pengavlingan kekuasaan. Partai Politik dibuat selektif mungkin untuk menyaring pemodal, sehingga demokrasi bertingkah seperti sebuah bursa saham ketimbang sebagai alat komunikasi dan pembentukan keterbukaan di tengah masyarakat. Kelompok-kelompok yang memiliki dana milyaran dan bersedia membayar untuk membeli jabatan di keanggotaan Partai kemudian menjadi pemain politik. Seleksi bukan lagi pada kemampuan kesejarahan seseorang dalam pertarungan politik dan tumbuhnya dia dimasyarakat tapi dari seberapa jauhnya seseorang bisa menaruh dana di Partai dan kemudian disponsori Partai untuk menjadi Pelaku Politik.
Demokrasi kita yang ditopang oleh tiga mitos : Pasar, Uang dan Partai Politik kemudian menjadi hingar bingar ketika kelompok radikal baik agama maupun ideologis lain masuk tanpa kendali lagi. Kacau dan hiruk pikuknya hal ini membuat tujuan bangsa yang teratur dan diarahkan menjadi hilang. Orang mulai percaya bahwa kebebasan demokrasi akan membawa mereka pada koreksi terus menerus atas sejarah, padahal mereka naif bahwa demokrasi yang tumbuh di Indonesia adalah “Demokrasi Pasar, Uang dan Partai Politik” sehingga yang terjadi adalah siapa yang memiliki penyaluran besar pendanaan, bersedia mengalihkan kasus-kasus korupsi di ruang publik dan menciptakan Partai Politik sebagai industri keuangan maka Demokrasi korektif model Amerika Serikat tidak akan tercapai karena demokrasi yang kita alami tak lebih dari anarkisme kaum pemodal.
Anarkisme kaum pemodal ini kemudian akan berkembang untuk menciptakan pasar baru bagi perdagangan bebas, apa yang dimaksud perdagangan bebas ini harus dibacai bukan sebagai bentuk fair perdagangan tapi lebih dilihat sebagai pembukaan pintu hambatan untuk masuknya modal-modal besar baik asing atau domestik dengan meminimalisir sedikit mungkin hambatan regulasi sehingga modal besar bisa bergerak liar.
Ketika modal masuk dan perdagangan melaburkan wilayah-wilayah batas konvensional maka lambat laun mitos-mitos lama seperti : Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme akan hancur dengan sendirinya digantikan mitos baru : Pasar, Uang dan Partai Politik”.
Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme akan menjadi artefak apabila tidak adanya ruang hambatan atas pembentukan mitos baru. Seiringan dengan mitos Pasar, Uang dan Partai Politik kemudian berkembang counter-mitos yaitu : Pembentukan Nasionalisme tapi dengan menggunakan nama agama. Kelompok ini menolak mitos Pancasila sekaligus juga menolak mitos Pasar, Uang dan Partai Politik. Kelompok ini lebih kecil tidak mempunyai jaringan massa luas tapi amat nyaring suaranya di ruang publik.
Pertarungan ke depan bukan lagi pertarungan kiri dan kanan seperti warisan pertarungan negara modern Indonesia selama lebih dari 60 tahun, tapi pertarungan saat ini adalah pertarungan mitos yang pertama dilandasi modal kesejarahan : Pancasila dan yang kedua dilandasi modal pragmatisme : Pasar, Uang dan Partai Politik. Sementara radikalisasi agama hanya bumbu saja dalam pertarungan dua mitos besar ini.
Anda, Juni 2011.
Rabu, 08 Juni 2011
Catatan Di Siang Bolong
Aku suka caramu bicara
yang seperti merumahkan senja
dengan kayu-kayu kehidupan
tanpa titik koma
tanpa tanda tanya
Aku suka caramu bernyanyi
senandung kecil, tapi menggoyangkan akar cemara
ketika kamu bercerita
seribu novel kehilangan lagaknya
Aku suka caramu melihat kehidupan
tak pernah keliatan ada tangis air mata
tapi biarlah kutebak
kamu adalah anak sunyi kehidupan
Anak sunyi kehidupan tidak pernah mengeluh
karena mengeluh adalah kematiannya
Selasa, 07 Juni 2011
Gerhana Bulan Total 16 Juni Bisa Disaksikan Live Streaming
Tanggal 16 Juni dini hari hingga menjelang fajar akan terjadi gerhana bulan total yang bisa disaksikan di seluruh wilayah di Indonesia. Bosscha bekerjasama dengan Kominfo akan melakukan ujicoba live streaming fenomena alam tersebut.
"Ini ujicoba livestreaming baru, Tteropong akan dipasangi kamera CCD kemudian hasil pencitraannya akan disalurkan ke internet yang terhubung dengan internet lalu dikirim ke server milik Kominfo.
"Nah live streaming kali ini akan mudah diakses oleh masyarakat luas melalui website resmi Kominfo dan Bosscha," terangnya. Untuk website Kominfo di depkominfo.go.id atau bisa dilihat di bossca.itb.ac.id Livestreaming sudah dilakukan sejak 2007. Namun karena untuk mengaksesnya diperlukan perangkat khusus, makanya hanya bisa dinikmati kalangan terbatas.
"Kalau nanti itu lebih enteng, bisa dimasukin juga ke YouTube kalau mau, karena filenya bisa disimpan di flashdisk,"
Gerhana bulan total pada 16 Juni nanti akan mulai terjadi pada pukul 01.25 WIB dan total pada 2.25 WIB. Kemudian maksimum gerhana total di mana bulan seluruhnya ditutupi bayangan bumi akan terjadi pada pukul 03.14 WIB. Gerhana baru berakhir menjelang fajar 05.04 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)




