![]() |
| Bersatu tanpa Prasangka, Bersatu dalam Niat Baik adalah Substansi dari Sebuah KeIndonesiaan Kita (Sumber Photo : Antara) |
Indonesia bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada, Indonesia adalah sebuah Proses Peradaban ….
Sebuah
bangsa adalah ladang kenangan, ia ladang sejarah yang kemudian
membentuk masyarakat. Sebuah bangsa tak tiba-tiba saja ada, ia proses,
ia kumpulan dari royan-royan (royan=luka), di satu saat ia kelam, di
satu saat ia penuh kemenangan, tapi terlepas semua itu, sebuah bangsa adalah kebersamaan, sebuah bangsa adalah Rumah Bersama Kita dalam Kebhinnekaan.
Lalu
bagaimana keIndonesiaan kita terbentuk, lalu bagaimana sebuah Indonesia
menjadi bundel-bundel kenangan bagi seluruh penghuninya, apa yang
menjadikan Indonesia tetap ada sampai saat ini. – Mungkin ini jawaban
yang logis dari pertanyaan yang sudah usang dihimpun waktu, yang
menjadikan kita sekarang masih disini sebagai bangsa adalah :
BERSATU..!! Rumah Bersama dalam Persatuan Indonesia.
Suatu
malam di Bandung pertengahan tahun 1920-an, di Jalan Pangkur Bung Karno
termenung lama di teras rumahnya. Di temani bintang gemintang, udara
dingin khas Bandung, dan kopi kental buatan Inggit, Bung Karno tafakur
dalam daya hidup intelektualitasnya, ia tenggelam dalam rasa
berbudaya-nya. Halaman-halaman narasi sejarah terbuka di kepalanya
menerobos tanpa henti. Ia menganalisa dalam tafakurnya itu.
Kenapa
kita menjadi bangsa yang kalah? Kenapa perbudakan bisa dilakukan oleh
Hindia Belanda, kenapa bangsa ini yang dulu mampu menciptakan Borobudur,
membangun candi Hindu tercantik sedunia seperti Prambanan, mampu
menjadi kekuatan Islam pesisir terkuat di Asia Tenggara seperti Samudra
Pasai, mampu menjadi bangsa yang menguasai seluruh sel-sel dagang
Nusantara seperti Majapahit, bangsa yang dulu penuh kemenangan, bangsa
yang dulu tegak dalam tantangan-tantangan persaingan dunia, kini tak
lebih dari bangsa babu, bangsa budak, bangsa yang hanya bisa
menoreh-noreh karet lalu dicambuki di Perkebunan Deli, bangsa yang
terkapar oleh hinaan-hinaan bangsa lain. Kenapa?
Jawabnya adalah karena kita TIDAK BERSATU.
Lalu pada rapat Radicale Concentratie di Batavia tahun 1924 Bung Karno mulai berteriak keras soal Persatuan…Persatuan…Persatuan. Sebuah
bangsa mustahil akan membebaskan dirinya tanpa persatuan, Sejak saat
itu Persatuan Indonesia adalah menjadi prolog paling penting dalam
membentuk KeIndonesiaan.
Sukarno adalah jaminan sejarah, seperti kata Sutan Sjahrir kepada Tan Malaka : “bila
kamu punya sepersepuluh saja kekuatan seperti Sukarno, aku ikut kamu.
Saya sudah keliling Jawa dan rakyat tau-nya Sukarno adalah pemimpin yang
diakui semua rakyat”.
Satu-satunya
kelebihan Bung Karno dengan seluruh pemimpin bangsa ini adalah
kemampuannya membangkitkan daya batin, daya imajinasi untuk bersatu.
Rakyat berbondong-bondong mendengarkan pidatonya, rakyat dicerahkan,
bahwa sebuah masa depan bangsa tak mungkin bisa dibentuk bila tak ada
daya batin untuk bersatu.
Indonesia
bukan pemberian gratis makan siang di Istana Risjwijk antara para Raja
di Nusantara, bukan…bukan itu. Indonesia bukan sebuah pemberian
kenang-kenangan Hindia Belanda atas sebuah bangsa yang luar biasa luas
ini, bukan itu….Indonesia adalah perebutan untuk membebaskan diri,
Indonesia adalah sebuah usaha besar bersama membangun Peradaban yang
dimulai dari jam-jam pertamanya dengan darah, air mata, teriakan
kesakitan dan mimpi yang kuat untuk membentuk sebuah bangsa yang
berdaulat demi rakyat yang dilindungi. Demi sebuah Peradaban Baru,
Peradaban yang melihat Manusia
sebagai Manusia, Manusia yang penuh cinta pada Tanah air, sebuah sikap
Patria yang menjaga negerinya dengan segala penuh kehormatan.
Indonesia
bukan milik sekelompok golongan yang menjual suku-nya, yang menjual
agama-nya untuk kepentingan kekuasaan, Indonesia bukan milik sekelompok
yang menggadaikan perkelahian antar suku dan agama hanya untuk
kekuasaan. Indonesia adalah rumah bersama kesadaran, bahwa bangsa ini
sudah selesai soal perbedaan-perbedaan suku, beragama tapi tak saling
menyakiti satu sama lain, menjadi satu karena mimpi bersama untuk menjadi bangsa terkuat di Asia, menjadi bangsa yang tidak satupun ada manusia kelaparan di dalamnya, itu mimpi kita sejak awal.
Karena
tanah Indonesia ini dilumuri oleh darah-darah pejuang, dilumuri oleh
teriakan kesakitan berkepanjangan, seperti Panglima Besar Sudirman yang
berdzikir dan sholat dalam kondisi duduk di atas tandunya, seperti darah
Ngurah Rai yang beragama Hindu itu tumpah
di Tanah Bali bukan untuk sekedar Bali, tapi untuk Indonesia. Seperti
Wolter Monginsidi yang berdoa secara Kristen tenang menghadapi regu
tembak untuk dihukum mati, setelah malam sebelumnya ia menulis di dalam
penjara Belanda tentang harapan sebuah bangsa yang terbit dan
membebaskan, bukan hanya untuk Minahasa tapi untuk Indonesia, seperti Yos Sudarso yang beragama Katolik itu tetap bertahan di geladak kapal, berdiri tegak dengan mata lurus menantang korvet-korvet Belanda, ia
berdiri dengan seribu keberanian dan runtunan doa di geladak kapal lalu
sebuah destroyer Belanda melesatkan tembakan dan terbakarlah Macan
Tutul, Yos Sudarso mati secara gentleman untuk bangsanya, kehormatannya,
Indonesia …sampai-sampai saat KRI Macan Tutul tenggelam pelan-pelan,
beberapa perwira Belanda melakukan hormat militer dengan sikap penuh
tegak sempurna.
Indonesia
dihuni segala manusia dengan pengalaman keyakinannya, dengan banyak
agamanya, dengan macam-macam sukunya, tapi dalam kemacam-macaman itu,
ada rasa bersatu dan ini jelas dirumuskan dalam konstitusi bahwa kita
hidup di masyarakat Berbhinneka. –Sebuah bangsa tidak akan pernah
dibangun berdasarkan sentimen perbedaan, sebuah bangsa adalah semangat
kebersamaan-.
Indonesia
itulah yang kita wariskan, sehingga kita mempunyai bangsa saat ini.
Lalu kenapa persoalan-persoalan yang sudah selesai itu dijual murah
hanya untuk kekuasaan seperti suku, seperti sentimen agama dan lain-lain
yang tidak berkebudayaan, dimanakah kesadaran sejarahmu? Kenapa
kebodohan kamu pamerkan terus menerus tanpa malu? Kenapa kamu dan jualan
SARA-mu tak malu terhadap pendiri bangsa ini yang sudah berwawasan amat
luas.
Dan
Tuhan telah menghadiahkan dua orang bagi bangsa Indonesia : Sukarno dan
Jokowi. Bila Bung Karno membentuk kesadaran bersatu, Bung Karno
melakukan konsolidasi atas konsepsi-konsepsi Persatuan Indonesia, maka
ketika jaman ini agama dan suku dijual murah untuk kekuasaan. Tuhan menghadirkan Jokowi untuk mengingatkan bangsa ini “Bukankah
kita bangsa Indonesia?, bukankah kita berkebudayaan? Janganlah kita
menjual sentimen-sentimen agama, sentimen suku, bersikaplah wajar dalam
berpolitik, bersikaplah sederhana, karena sekarang bangsa ini butuh
kerja kita, bukan perkelahian kita”.

