Cari Blog Ini

Kamis, 19 Juli 2012

Ingat Pesan Jokowi, Bung Karno dan Ladang Sejarah

Bersatu tanpa Prasangka, Bersatu dalam Niat Baik adalah Substansi dari Sebuah KeIndonesiaan Kita (Sumber Photo : Antara)

Indonesia bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada, Indonesia adalah sebuah Proses Peradaban ….
Sebuah bangsa adalah ladang kenangan, ia ladang sejarah yang kemudian membentuk masyarakat. Sebuah bangsa tak tiba-tiba saja ada, ia proses, ia kumpulan dari royan-royan (royan=luka), di satu saat ia kelam, di satu saat ia penuh kemenangan, tapi terlepas semua itu, sebuah bangsa adalah kebersamaan, sebuah bangsa adalah Rumah Bersama Kita dalam Kebhinnekaan

Lalu bagaimana keIndonesiaan kita terbentuk, lalu bagaimana sebuah Indonesia menjadi bundel-bundel kenangan bagi seluruh penghuninya, apa yang menjadikan Indonesia tetap ada sampai saat ini. – Mungkin ini jawaban yang logis dari pertanyaan yang sudah usang dihimpun waktu, yang menjadikan kita sekarang masih disini sebagai bangsa adalah : BERSATU..!! Rumah Bersama dalam Persatuan Indonesia. 

Suatu malam di Bandung pertengahan tahun 1920-an, di Jalan Pangkur Bung Karno termenung lama di teras rumahnya. Di temani bintang gemintang, udara dingin khas Bandung, dan kopi kental buatan Inggit, Bung Karno tafakur dalam daya hidup intelektualitasnya, ia tenggelam dalam rasa berbudaya-nya. Halaman-halaman narasi sejarah terbuka di kepalanya menerobos tanpa henti. Ia menganalisa dalam tafakurnya itu.
Kenapa kita menjadi bangsa yang kalah? Kenapa perbudakan bisa dilakukan oleh Hindia Belanda, kenapa bangsa ini yang dulu mampu menciptakan Borobudur, membangun candi Hindu tercantik sedunia seperti Prambanan, mampu menjadi kekuatan Islam pesisir terkuat di Asia Tenggara seperti Samudra Pasai, mampu menjadi bangsa yang menguasai seluruh sel-sel dagang Nusantara seperti Majapahit, bangsa yang dulu penuh kemenangan, bangsa yang dulu tegak dalam tantangan-tantangan persaingan dunia, kini tak lebih dari bangsa babu, bangsa budak, bangsa yang hanya bisa menoreh-noreh karet lalu dicambuki di Perkebunan Deli, bangsa yang terkapar oleh hinaan-hinaan bangsa lain. Kenapa?
Jawabnya adalah karena kita TIDAK BERSATU.
 
Lalu pada rapat Radicale Concentratie di Batavia tahun 1924 Bung Karno mulai berteriak keras soal Persatuan…Persatuan…Persatuan. Sebuah bangsa mustahil akan membebaskan dirinya tanpa persatuan, Sejak saat itu Persatuan Indonesia adalah menjadi prolog paling penting dalam membentuk KeIndonesiaan.

Sukarno adalah jaminan sejarah, seperti kata Sutan Sjahrir kepada Tan Malaka : “bila kamu punya sepersepuluh saja kekuatan seperti Sukarno, aku ikut kamu. Saya sudah keliling Jawa dan rakyat tau-nya Sukarno adalah pemimpin yang diakui semua rakyat”. 

Satu-satunya kelebihan Bung Karno dengan seluruh pemimpin bangsa ini adalah kemampuannya membangkitkan daya batin, daya imajinasi untuk bersatu. Rakyat berbondong-bondong mendengarkan pidatonya, rakyat dicerahkan, bahwa sebuah masa depan bangsa tak mungkin bisa dibentuk bila tak ada daya batin untuk bersatu.

Indonesia bukan pemberian gratis makan siang di Istana Risjwijk antara para Raja di Nusantara, bukan…bukan itu. Indonesia bukan sebuah pemberian kenang-kenangan Hindia Belanda atas sebuah bangsa yang luar biasa luas ini, bukan itu….Indonesia adalah perebutan untuk membebaskan diri, Indonesia adalah sebuah usaha besar bersama membangun Peradaban yang dimulai dari jam-jam pertamanya dengan darah, air mata, teriakan kesakitan dan mimpi yang kuat untuk membentuk sebuah bangsa yang berdaulat demi rakyat yang dilindungi. Demi sebuah Peradaban Baru, Peradaban yang melihat Manusia sebagai Manusia, Manusia yang penuh cinta pada Tanah air, sebuah sikap Patria yang menjaga negerinya dengan segala penuh kehormatan.

Indonesia bukan milik sekelompok golongan yang menjual suku-nya, yang menjual agama-nya untuk kepentingan kekuasaan, Indonesia bukan milik sekelompok yang menggadaikan perkelahian antar suku dan agama hanya untuk kekuasaan. Indonesia adalah rumah bersama kesadaran, bahwa bangsa ini sudah selesai soal perbedaan-perbedaan suku, beragama tapi tak saling menyakiti satu sama lain, menjadi satu karena mimpi bersama untuk menjadi bangsa terkuat di Asia, menjadi bangsa yang tidak satupun ada manusia kelaparan di dalamnya, itu mimpi kita sejak awal. 

Karena tanah Indonesia ini dilumuri oleh darah-darah pejuang, dilumuri oleh teriakan kesakitan berkepanjangan, seperti Panglima Besar Sudirman yang berdzikir dan sholat dalam kondisi duduk di atas tandunya, seperti darah Ngurah Rai yang beragama Hindu itu tumpah di Tanah Bali bukan untuk sekedar Bali, tapi untuk Indonesia. Seperti Wolter Monginsidi yang berdoa secara Kristen tenang menghadapi regu tembak untuk dihukum mati, setelah malam sebelumnya ia menulis di dalam penjara Belanda tentang harapan sebuah bangsa yang terbit dan membebaskan, bukan hanya untuk Minahasa tapi untuk Indonesia, seperti Yos Sudarso yang beragama Katolik itu tetap bertahan di geladak kapal, berdiri tegak dengan mata lurus menantang korvet-korvet Belanda, ia berdiri dengan seribu keberanian dan runtunan doa di geladak kapal lalu sebuah destroyer Belanda melesatkan tembakan dan terbakarlah Macan Tutul, Yos Sudarso mati secara gentleman untuk bangsanya, kehormatannya, Indonesia …sampai-sampai saat KRI Macan Tutul tenggelam pelan-pelan, beberapa perwira Belanda melakukan hormat militer dengan sikap penuh tegak sempurna.
Indonesia dihuni segala manusia dengan pengalaman keyakinannya, dengan banyak agamanya, dengan macam-macam sukunya, tapi dalam kemacam-macaman itu, ada rasa bersatu dan ini jelas dirumuskan dalam konstitusi bahwa kita hidup di masyarakat Berbhinneka. –Sebuah bangsa tidak akan pernah dibangun berdasarkan sentimen perbedaan, sebuah bangsa adalah semangat kebersamaan-. 

Indonesia itulah yang kita wariskan, sehingga kita mempunyai bangsa saat ini. Lalu kenapa persoalan-persoalan yang sudah selesai itu dijual murah hanya untuk kekuasaan seperti suku, seperti sentimen agama dan lain-lain yang tidak berkebudayaan, dimanakah kesadaran sejarahmu? Kenapa kebodohan kamu pamerkan terus menerus tanpa malu? Kenapa kamu dan jualan SARA-mu tak malu terhadap pendiri bangsa ini yang sudah berwawasan amat luas. 

Dan Tuhan telah menghadiahkan dua orang bagi bangsa Indonesia : Sukarno dan Jokowi. Bila Bung Karno membentuk kesadaran bersatu, Bung Karno melakukan konsolidasi atas konsepsi-konsepsi Persatuan Indonesia, maka ketika jaman ini agama dan suku dijual murah untuk kekuasaan. Tuhan menghadirkan Jokowi untuk mengingatkan bangsa ini “Bukankah kita bangsa Indonesia?, bukankah kita berkebudayaan? Janganlah kita menjual sentimen-sentimen agama, sentimen suku, bersikaplah wajar dalam berpolitik, bersikaplah sederhana, karena sekarang bangsa ini butuh kerja kita, bukan perkelahian kita”.

 

Rabu, 11 Juli 2012

Belajar dari Kemenangan Jokowi (Sebuah Anatomi Kultural)

Foto dokumentasi TEMPO edisi : 10 Walikota terbaik, 2006 ini merupakan Foto paling Spektakuler pengenalan Pertama Jokowi di luar Solo, yang kemudian membangunkan persepsi Jokowi sebagai bagian dari Rakyat Jelata yang Mampu Memimpin Pemerintahan (Sumber Photo : TEMPO)


Kemenangan Jokowi malam ini juga menjadi bukti bagaimana orang-orang Betawi menyukai orang Jawa seperti mereka membela mati-matian Sukarno pada jam-jam pertama Republik, seperti mereka berbondong-bondong memilih Jokowi. -Keikhlasan orang Betawi dalam dharma bakti bela negara pun amat diacungi jempol, yang paling spektakuler adalah kerelaan ratusan ribu orang Betawi pindah dari Senayan ke Tebet, karena ribuan hektar lahan di Senayan akan dijadikan Stadion Gelora Bung Karno. Perpindahan ini didasari rasa sukarela karena kecintaan mereka pada Bung Karno dan demi kejayaan bangsa Indonesia.

Orang Jawa memang disukai oleh orang Betawi secara kultural, dan banyak perantau-perantau Jawa ditolong tempat tinggalnya oleh orang Betawi, kedekatan Jawa Mataraman dengan Betawi amat lekat dalam kebudayaan, sama seperti kedekatan kultural Betawi Arab dan Betawi Cina, namun hubungan Betawi Jawa ini lebih lekat soal kepemimpinan politik, orang Betawi menyukai orang Jawa sebagai pemimpin. Mayoritas kepemimpinan lingkungan di Jakarta dipegang orang Jawa dari tingkat RT sampai RW.  -Banyak orang Betawi lebih menyukai memilih menantu yang berasal dari Jawa, karena penilaian mereka orang Jawa perantau rajin-rajin dan sopan.

Jadi jargon-jargon ‘pendatang’ dan ‘pribumi’ tidak tepat dalam soal konteks politik di Jakarta. -Sudah lama orang betawi sendiri menerima diri mereka sebagai bagian kosmopolitan negeri ini.  Sebagai catatan, Betawi sendiri menjadi kota metropolitan jauh sebelum New York berdiri.

Dan lagi ini juga pembelajaran kultur politik negeri kita, sampai saat ini orang Jawa masih mendominasi kekuatan politik secara keseluruhan Nusantara. Karakter Jawa yang ‘ngalah’ dan tidak suka kekisruhan, bekerja dengan hati, bicara menggunakan perasaan, masih menjadi preferesi dominan pilihan politik. -Kita bisa lihat ini nanti dalam Pemilu 2014, diantara barisan capres yang akan muncul maka citra orang Jawa paling utama dimiliki oleh Prabowo.  Apakah Prabowo akan mendapatkan preferensi politiknya yang tinggi? dari rating lembaga Survey saat ini, Ranking Prabowo selalu tertinggi sebagai Capres paling diminati tahun 2014.
Bila SBY menggunakan pencitraan sebagai Jawa yang santun, maka Jokowi mengedepankan orang Jawa yang melayani, seperti tukang-tukang becak orang Jawa di masa lalu waktu Becak masih ada di Jakarta, karakter tukang becak yang melayani inilah yang kemudian disukai banyak orang dalam dunia politik sekarang.

Dan Jokowi tahu itu.






Minggu, 08 Juli 2012

Kangen


Aku pinjam bayangan mu 
Sebagai teman lewati malamku
Kan ku simpan senyumanmu , , , , biar hidup ku terang bercahaya
Meski hanya bisa mengintaimu dari kejauhan ,,, sungguh menakjubkan
Apajadinya bila sehari saja ku tak bisa melihatmu ,,,, melihatmu

Aku kecanduan senyummu ,,,, senyummu
Aku ketagihan cantikmu ,,,, cantikmu

Bagaimana caranya membuat kamu perhatikan aku
Bagaimana caranya tuk mengalihkan tatapan indah mu



Lagi Kangeeeeen Bangeeeet !!