Cari Blog Ini

Selasa, 13 Desember 2011

Kekejaman Yang Ditutup-tutupi



Kekejaman Yang Ditutup-tutupi :

Pada tahun 1945 Indonesia menyatakan kemerdekaan liwat penantangan pada perintah-perintah sekutu. Aksi dari kaum pribumi yang tadinya dianggap remeh oleh Pemerintah Belanda mulai ditanggapi serius ketika Belanda membaca laporan-laporan yang lebih teliti dari Intel-Intel Amerika Serikat yang lebih jujur dalam menggambarkan keadaan sosial masyarakat saat itu.

Belanda mulai mengirimkan pasukan tempurnya ketika Inggris sudah menganggap tak ada urusannya lagi di Indonesia, Inggris tidak mau dianggap berlebihan menangani Hindia Belanda karena bisa memancing kemarahan Amerika Serikat yang sesungguhnya meminta Inggris melepaskan wilayah-wilayah jajahan di Asia.

Militer Belanda masuk ke Indonesia tahun 1947 liwat Operasi “Produk” untuk mengamankan wilayah-wilayah perkebunan, pada saat itu dilancarkan operasi militer masuk ke Pedalaman Jawa dan Sumatera. Militer Belanda yang terdiri dari anak-anak muda putus sekolah, atau anak-anak muda yang belum mengerti medan perang, para KNIL yang masih bermimpi bisa menguasai Indonesia dan veteran-veteran perang dunia II yang menganggap Perang di Jawa dan Sumatera sebagai hiburan ringan di waktu libur.

Mereka kaget ketika masuk ke Jawa, blokade dimana-mana, tentara-tentara resmi Republik dan Laskar-Laskar rakyat amat terlatih, berani dan haus darah. Di tengah situasi yang mengagetkan ini Pasukan Belanda menjadi kalap, mereka menggebuki penduduk, membakari rumah-rumah, menyeret keluar rakyat dan menembakinya dengan marah.

Sementara di Belanda sendiri terjadi penyensoran berita, kaum intelektual disana banyak menjadi pelacur ketika harus dipaksa membohongi rakyat Belanda tentang kekejaman serdadunya di tanah Indonesia : Berita-berita di Belanda banyak mengabarkan bahwa pasukan Belanda mengamankan wilayah Hindia Belanda dari garong-garong, kecu dan begundal pribumi. Berita ini amat dipercaya oleh rakyat Belanda hingga sampai detik ini nama Sukarno masih paling dibenci di alam pikiran orang Belanda.

Foto tentara yang terluka tembakan, atau penduduk yang ditangkap dan diancam laras senapan, foto-foto yang boleh dibilang kontroversial, tidak pernah muncul di media Belanda. René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers menggabungkan hampir 200 foto dalam buku mereka ‘Perang Kolonial 1945-1949: Dari Hindia Belanda keIndonesia. Radio Nederland berbincang dengan Erik Somers, salah satu penulisnya.

René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers memang sudah lama menyelidiki berbagai arsip gambar dan juga fotografi mengenai Perang Dunia II. Selain itu mereka juga menyelidiki arsip-arsip foto di periode dekolonisasi Hindia-Belanda antara 1945 hingga 1949. Ketika itu banyak wartawan yang dipakai oleh pemerintah kolonial untuk membuat foto-foto perang. Para wartawan ini diwajibkan untuk menyerahkan semua foto yang dibuat kepada pemerintah Batavia untuk diseleksi, sebelum dikirim ke media di Belanda.

Dalam buku ini dipaparkan foto-foto yang ditutup-tutupi itu.


Koloniale Oorlog: 1945-1949
René Kok, Erik Somers, Louis Zweers
Penerbit Carrera
ISBN: 978 90 488 0320 0
Terbit mulai 8 Desember 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar