Pulang
Pulang pada tempat yang dikenang
Seribu masa lalu
Seribu cerita-cerita tentang kanak-kanak yang riang
Pulang....pulang pada tempat yang dikenang
Pulang, aku pulang
Dari pertarungan melawan dentaman kehidupan
Sejenak mengunjungi tempat aku dibesarkan
Tembok-tembok tua
rumah nenek dan paman
rumah tetangga yang rapuh dan kebun ilalang
jalan-jalan kecil, selokan dan bendungan
kelok-kelok menuju pelataran kelurahan
Sekolah dan rumah teman
Pulang....pulang pada tempat yang selalu kukenang
Aku akan datang
pada tanah tempat aku dilahirkan
dimana pasarnya adalah riuh keabadian
dengan bahasa yang aku kenal
bahasa ibu, bahasa kehidupan
Pulang....aku pulang
pada deretan jalan-jalan
macet dan gemetaran
suara bedug di langgar tua
langgar berhalaman pohon mangga dan kecapi
Aku pulang....
Karena aku selalu merumahkan kenangan-kenangan
Anda Djogjakarta, Menjelang Lebaran (L.V) 2011.
Cari Blog Ini
Jumat, 26 Agustus 2011
Rabu, 17 Agustus 2011
RENUNGAN
Pada tahun 1934 saat Bung Karno baru saja sampai di tempat pembuangannya di Ende, Flores. Ada seorang muda yang senang melihat kedatangan orang buangan dari Jawa. Anak berumur 14 tahun itu bernama Riwu Ga. Ia setiap pagi berjalan 3 kilometer untuk menonton orang dari Jawa yang katanya terkenal. Suatu siang saat Bung Karno sedang mengerjakan potongan kayu untuk ganjel pintu, Riwu Ga datang membawa pisang dan bertanya-tanya pada Sukarno tentang caranya membuat potongan kayu. Sukarno adalah seorang Insinyur, tapi ia selalu bicara dengan bahasa yang dimengerti lawan bicara dan Sukarno senang dengan anak ini yang banyak ingin tau. Saat itu jam 10 pagi, Sukarno dan Riwu bicara sampai sore.
Akhirnya Sukarno meminta Riwu membantu di rumahnya, banyak juga pemuda flores membantu di rumah Sukarno. Riwu ikut maen tonil dan membenahi baju-baju pemain tonil sambil belajar lagu Indonesia Raya dengan caranya yang gembira. Ia senang dan melompat-lompat ketika Bung Karno melawak dan menceritakan soal yang seru-seru.
Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, Bung Karno akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwa Sukarno. Tapi saat di pinggir pesawat Riwu minta ikut, Bung Karno memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak. Bung Karno juga menolak bila Riwu tidak diajak, jadilah Bung Karno tidak diajak ke Australia. Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut....
Saat dibuang ke Bengkulu dan berjalan kaki di tengah hutan lebat Inggit, Sukarno dan Riwu menuju Kota Padang. Di Padang mereka tinggal di kota itu beberapa bulan, Sukarno tiba di Djakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya. Riwu adalah pembantu kesayangan Sukarno dan Ibu Inggit. Saat Proklamasi 1945 dibacakan dan Fatmawati isteri baru Sukarno yang berada di samping Bung Karno saat membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca dalam hatinya berteriak : "Mustinya Ibu Inggit yang disana, mustinya Ibu Inggit yang berdiri di bawah kibaran merah putih, karena Inggitlah yang tau susah dan jerih payah Sukarno.
Beberapa jam setelah Proklamasi, Sukarno memanggil Riwu dan menyuruh untuk ngabarin satu Djakarta sudah merdeka. Riwu mencari Jeep dan diajaknya seorang bernama Sarwoko yang menyetir. Di tengah jalan Riwu berteriak "Merdeka...Merdeka...Merdeka!!!!!!!" sambil mengepalkan tangan keras-keras. Orang2 pada bingung melihat kelakuan Riwu tapi akhirnya paham, orang tau Sukarno sudah memerdekakan Republik ini.
Di hari tuanya siapa yang mengenal Riwu, dia hanya memacul tanah tandus di Flores, Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana dan dengan jas puluhan juta menghormat pada bendera Indonesia Raya. Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana, karena mungkin saja bau dekil dan baju kotor tak pantas bagi Istana yang megah. Tapi tanpa Riwu kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang.
ANDA DJOGJA, 2011.
Akhirnya Sukarno meminta Riwu membantu di rumahnya, banyak juga pemuda flores membantu di rumah Sukarno. Riwu ikut maen tonil dan membenahi baju-baju pemain tonil sambil belajar lagu Indonesia Raya dengan caranya yang gembira. Ia senang dan melompat-lompat ketika Bung Karno melawak dan menceritakan soal yang seru-seru.
Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, Bung Karno akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwa Sukarno. Tapi saat di pinggir pesawat Riwu minta ikut, Bung Karno memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak. Bung Karno juga menolak bila Riwu tidak diajak, jadilah Bung Karno tidak diajak ke Australia. Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut....
Saat dibuang ke Bengkulu dan berjalan kaki di tengah hutan lebat Inggit, Sukarno dan Riwu menuju Kota Padang. Di Padang mereka tinggal di kota itu beberapa bulan, Sukarno tiba di Djakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya. Riwu adalah pembantu kesayangan Sukarno dan Ibu Inggit. Saat Proklamasi 1945 dibacakan dan Fatmawati isteri baru Sukarno yang berada di samping Bung Karno saat membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca dalam hatinya berteriak : "Mustinya Ibu Inggit yang disana, mustinya Ibu Inggit yang berdiri di bawah kibaran merah putih, karena Inggitlah yang tau susah dan jerih payah Sukarno.
Beberapa jam setelah Proklamasi, Sukarno memanggil Riwu dan menyuruh untuk ngabarin satu Djakarta sudah merdeka. Riwu mencari Jeep dan diajaknya seorang bernama Sarwoko yang menyetir. Di tengah jalan Riwu berteriak "Merdeka...Merdeka...Merdeka!!!!!!!" sambil mengepalkan tangan keras-keras. Orang2 pada bingung melihat kelakuan Riwu tapi akhirnya paham, orang tau Sukarno sudah memerdekakan Republik ini.
Di hari tuanya siapa yang mengenal Riwu, dia hanya memacul tanah tandus di Flores, Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana dan dengan jas puluhan juta menghormat pada bendera Indonesia Raya. Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana, karena mungkin saja bau dekil dan baju kotor tak pantas bagi Istana yang megah. Tapi tanpa Riwu kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang.
ANDA DJOGJA, 2011.
Senin, 08 Agustus 2011
Kangen !!
Burung gereja sudah selesai dengan sayap-sayap kecilnya
mencari angin menadah hujan
pada tepi tiang jendela dan siku-siku rumah
mata api hari ini membakar sepi
dan bulan menjadi tengkorak yang dilupakan
putih tanpa nyala
Aku kangen
kangen pada selendang yang kau ikatkan di masa-masa lama
jalan-jalan kita dan cerita di tengah malam
aku kangen pada ingatanmu
tentang kolesterol atau darah tinggi
Laut menghitam angkasa menjadi neraka
tak peduli ombak meraksasa sebesar gunung merbabu
matamu yang kuingat menusuk tajam pelan-pelan
Terpaksa hidup kutantang sendirian
Sore dulu begitu indah
dengan gagasan dan warna pelangi
seribu kenangan menyerbu bagai roman picisan yang tak kunjung selesai
dan mata hujan menjadi langit-langit setiap bab cerita yang kita bacai
Bunga itu tumbuh pelan
bunga yang kau tanam dengan derasan tanganmu dan doamu di tiap malam
sajadah merah sudah bersimbah air mata
dan lamunan kekesalan menjadi kerak-kerak luka
Aku kangen dan ingin memelukmu
aku rindu pada badai yang membesarkan pikiran
aku rindu pada gairah membangun masa depan yang kau sodorkan
aku rindu pada impian raksasa
aku rindu pada kesederhanaan
Balok-balok kayu dan batu yang sudah kau susun di hatiku
kini sudah menjadi pintu membaja
susah untuk dibuka
mengganti hati, hanyalah urusan tawar-menawar kehidupan
bukan ketulusan, bukan niat menemani
Kesetiaan apakah bisa aku pertahankan
tak peduli aku harus menjadi majnun yang merenungkan layla
tak peduli aku harus menjadi Romeo yang kapiran
Malam ini menepi
esok pagi datang
dan separuh jiwaku hilang
aku kangen
Rinduku adalah sayap-sayap patah yang kehilangan arah
burung tak lagi punya nama
harimau tak lagi prabawa
tanpamu separuh jiwa terbang ke langit jingga
Aku mencintaimu lebih dari tapal batas yang engkau mengerti
aku menyayangimu seperti seorang ibu pada anaknya, tanpa batas waktu
Luka ini sudah menjadi candi batu
diam membisu di hatiku
ruang suci candi hanya menyimpan namamu
dan ketika perkamen-perkamen kisahmu dibuka
hanya kangen yang aku rasai.
Anda, 2009
mencari angin menadah hujan
pada tepi tiang jendela dan siku-siku rumah
mata api hari ini membakar sepi
dan bulan menjadi tengkorak yang dilupakan
putih tanpa nyala
Aku kangen
kangen pada selendang yang kau ikatkan di masa-masa lama
jalan-jalan kita dan cerita di tengah malam
aku kangen pada ingatanmu
tentang kolesterol atau darah tinggi
Laut menghitam angkasa menjadi neraka
tak peduli ombak meraksasa sebesar gunung merbabu
matamu yang kuingat menusuk tajam pelan-pelan
Terpaksa hidup kutantang sendirian
Sore dulu begitu indah
dengan gagasan dan warna pelangi
seribu kenangan menyerbu bagai roman picisan yang tak kunjung selesai
dan mata hujan menjadi langit-langit setiap bab cerita yang kita bacai
Bunga itu tumbuh pelan
bunga yang kau tanam dengan derasan tanganmu dan doamu di tiap malam
sajadah merah sudah bersimbah air mata
dan lamunan kekesalan menjadi kerak-kerak luka
Aku kangen dan ingin memelukmu
aku rindu pada badai yang membesarkan pikiran
aku rindu pada gairah membangun masa depan yang kau sodorkan
aku rindu pada impian raksasa
aku rindu pada kesederhanaan
Balok-balok kayu dan batu yang sudah kau susun di hatiku
kini sudah menjadi pintu membaja
susah untuk dibuka
mengganti hati, hanyalah urusan tawar-menawar kehidupan
bukan ketulusan, bukan niat menemani
Kesetiaan apakah bisa aku pertahankan
tak peduli aku harus menjadi majnun yang merenungkan layla
tak peduli aku harus menjadi Romeo yang kapiran
Malam ini menepi
esok pagi datang
dan separuh jiwaku hilang
aku kangen
Rinduku adalah sayap-sayap patah yang kehilangan arah
burung tak lagi punya nama
harimau tak lagi prabawa
tanpamu separuh jiwa terbang ke langit jingga
Aku mencintaimu lebih dari tapal batas yang engkau mengerti
aku menyayangimu seperti seorang ibu pada anaknya, tanpa batas waktu
Luka ini sudah menjadi candi batu
diam membisu di hatiku
ruang suci candi hanya menyimpan namamu
dan ketika perkamen-perkamen kisahmu dibuka
hanya kangen yang aku rasai.
Anda, 2009
Senin, 01 Agustus 2011
Tausiyah Ramadhan Hari Pertama
"Al-shaumu li wa ana ajzi bihi" (Puasa itu untukKu dan aku akan mengganjarNya. (Hadist Nabi) Artinya disini Puasa adalah sebuah tindakan dan keputusan yang amat individual, sebuah keputusan nurani seseorang manusia untuk mendisiplinkan dirinya sendiri, sebuah laku sunyi, sebuah keheningan yang amat pribadi, jalan yang dibuka pelan-pelan antara hati nurani manusia dengan alam Tuhan, dimana ketika puasa dimenangkan secara kaffah, utuh maka akan ada sentuhan manis Allah SWT dalam diri manusia. Puasa adalah tapa yang amat-amat personal.
Jadi mustinya bagi kaum muslim, sebagai umat Islam puasa bukanlah sebuah kebisingan publik, pemenuhan hiruk pikuk di dalam ruang publik, puasa juga bukan alasan untuk aleman (minta dihormati), menang-menangan sendiri apalagi membuat kelompok lain, lingkungan menjadi tak nyaman karena egoisme kita dalam berpuasa.
Berlakulah puasa sebagaimana orang terdahulu puasa, puasa yang tenang, yang tidak riya' dan menjadi pembersih klep-klep kerakusan duniawi kita untuk membuka jalan menuju Allah SWT.
Jadi mustinya bagi kaum muslim, sebagai umat Islam puasa bukanlah sebuah kebisingan publik, pemenuhan hiruk pikuk di dalam ruang publik, puasa juga bukan alasan untuk aleman (minta dihormati), menang-menangan sendiri apalagi membuat kelompok lain, lingkungan menjadi tak nyaman karena egoisme kita dalam berpuasa.
Berlakulah puasa sebagaimana orang terdahulu puasa, puasa yang tenang, yang tidak riya' dan menjadi pembersih klep-klep kerakusan duniawi kita untuk membuka jalan menuju Allah SWT.
Langganan:
Komentar (Atom)



