Cari Blog Ini

Sabtu, 02 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun Pak Tan Malaka

Hari ini Tan Malaka, ulang tahun ke 115 tahun, ia lahir dalam jaman yang berderak dan penggulingan abad penjajahan tahun 1897. Tan Malaka adalah orang yang pertama kali menyebarluaskan kesadaran Nasionalisme dalam bentuk paling radikal, modern dan sistematis, ia tuang itu ke dalam buku-nya yang dipegang banyak anak muda penggerak sejarah seperti Muhammad Yamin, Sukarno atau Soegondo Djojopuspito buku itu adalah Naar de Republiek Indonesia –Menuju Republik Indonesia-.
Tan Malaka muda bersekolah di sekolah guru (Kweekschool), Bukittinggi. Ia adalah anak paling cerdas, ia cepat sekali menghapal, jenius dalam soal bahasa. Untuk bahasa Belanda-nya sendiri ia mendapatkan nilai tertinggi, ia juga pembaca buku yang rakus, kegemaran Tan Malaka sejak kecil adalah berenang di kali setelah berenang ia sering merenung di atas batu kali besar, ia merenung tentang bagaimana air kali bergerak, pikirannya terserap dalam logika-logika paling dasar tentang keadaan. Memang Tan Malaka sering berpikir bagaimana kerja alam, sesuatu yang ia pahami kelak dalam buah tulisnya “Materialisme, Dialektika dan Logika” atau Madilog, sebuah ilmu alamiah dasar tentang rasionalisme, empirisme dalam melihat alam materi, tanpa tahayul, tanpa mitos.
Kecerdasan Tan Malaka membuat guru-gurunya mensponsori pembiayaan kepergian Tan Malaka ke Haarlem Belanda dan dipinjami dana dari ‘Engku Fonds’ untuk bersekolah ke Rijks Kweekschool, di Belanda dengan situasi prihatin Tan Malaka menjalani pendidikan yang berat. Tahun 1919, ia kembali ke Indonesia, ia bekerja di Perkebunan Deli. Saat itu perkebunan Deli, salah satu maskapai perkebunan menggunakan sebuah desa, dijadikan semacam desa ‘potemkin’ untuk memamerkan bahwa pengusaha perkebunan bisa berbuat baik kepada kaum pribumi.
Legenda Tan Malaka, dan menjadi bahan kekaguman banyak generasi muda dari generasi muda jaman Sumpah Pemuda tahun 1920-an, sampai dengan jaman modern sekarang ini, adalah kisah pelariannya. Pelariannya itulah yang kemudian menimbulkan legenda, sekaligus mengabarkan kepada dunia Internasional tentang Indonesia yang berdentam-dentam melawan penjajahan di tanah kolonial, pelarian Tan Malaka selalu ditunggu banyak intelektual-intelektual besar di Asia, seperti di Filipina, Singapura, Malaya, Hong Kong bahkan sampai ke Kanton, Cina.
Kisah pelarian Tan Malaka selalu jadi berita-berita besar di koran-koran luar negeri, dan ini mirip ‘The Jackal’ jaman modern, sebuah perlawanan otak yang beradu dengan kekerasan intelijen. Tan Malaka menyerahkan seluruh hidupnya untuk diburu dan bertarung dengan kematian di tiap detiknya.
Awal dari petualangan politiknya adalah ketika Tan Malaka bertemu dengan Semaun di Prambanan, setelah itu mengadakan pertemuan-pertemuan dengan banyak tokoh kiri dalam tubuh Sarekat Islam yang mulai bergerak dan berdiri tegak menuntut kemerdekaan Indonesia. ‘Pemberontakan bersenjata adalah sesuatu yang tak terhindari dalam situasi jaman bergolak ini’. Itu prinsip kaum kominis pedjuang dijamannya tentang sebuah Indonesia baru. Tan Malaka dijadikan pemimpin PKI di jam-jam pertama, setelah Sneevliet pergi. Tan Malaka adalah pemimpin yang penuh perhitungan, ia tak mau Indonesia jatuh ke tangan Moskow juga jatuh ke tangan Imperialisme barat, seperti Belanda, Inggris dan Amerika Serikat. ‘Kesadaran Tan Malaka’ sedikit banyak dipengaruhi ketika ia bertemu dengan Bapak Kemerdekaan Cina, ‘Sun Yat Sen, pada suatu senja di tahun 1922. “Nasionalisme dan Kebangsaan adalah bentuk geopolitik masa depan, bukan Komintern atau Internasionalisme, hanya nasionalisme-lah yang bisa memperbaiki keadaan, menghormati kehidupan manusia di dalamnya, membebaskan pranata-pranata masyarakat dari penindasan kapitalisme” ini kesadaran tahap pertama Tan Malaka.
Tan Malaka-pun hadir di Kongres Komintern 1921, di depan Jenderal Radek dan Jenderal Zinoviev, Tan Malaka membongkar kesadaran bahwa Gerakan Islam di Djawa itu memiliki semangat revolusioner, apa yang terjadi pada Sarekat Islam dengan mempertentangkan SI dengan Komunisme adalah mainan Intelijen Belanda, dan tidak seharusnya gerakan kemerdekaan sebuah bangsa meninggalkan Umat Islam yang radikal dan bertanggung jawab terhadap keadilan di tengah masyarakat. Pidato Tan Malaka Komintern di tengah markas Komunis, Sovjet inilah yang justru mengenalkan Islam dalam alur gerak positif bagi ‘pembebasan manusia atas penindasannya’. Kelak di masa Revolusi 1945, Tan Malaka sering mengeluarkan pernyataan “Islam adalah darah dalam tubuh bangsa Indonesia’.
Di tahun 1926, Tan Malaka menolak kelompok Prambanan yang dipimpin Alimin dan Muso untuk memberontak, karena perhitungan Tan Malaka, Sovjet Uni dibawah Stalin belum berani buka front dengan Belanda yang didekeng Inggris, apalagi mereka adalah sekutu dalam komitmen perjanjian Versailles 1919, sebuah perjanjian yang menghentikan perang dunia I, dimana Sovjet Uni, Perancis dan Inggris merupakan negara sekutu berhadapan dengan Jerman. Bila anak-anak kominis nekat angkat senjata, maka gerakan politik di Indonesia akan hancur.
Benar saja pemberontakan di Banten dan Silungkang, Sumatera Barat gagal total. Belanda menangkapi 1.300 aktivis kemerdekaan, dibuang ke Digoel, sebagian digantung mati, ratusan pucuk senjata api dan beberapa peti berisi bom ditemukan. Tan Malaka kesal sekali dengan peristiwa ini, alih-alih para pemimpin kominis klik Prambanan mengoreksi diri atas kegagalannya, mereka malah menyalahkan Tan Malaka yang tak ikut memberontak, sejak itu Tan Malaka dicap sebagai ‘Trotskys’ sebuah julukan hina yang berasal dari nama pemimpin Komunis era Lenin yang melawan Stalin. Tan Malaka lari ke Singapura disana ia membuat tulisan tentang ‘Massa Actie’ sebuah tulisan yang berisi ‘syarat-syarat dasar agar sebuah gerakan massa berhasil mencapai tujuan’.
Sial bagi Tan Malaka, walaupun ia menentang pemberontakan ala Muso dan Alimin, namun Tan Malaka dimasukkan sebagai orang nomor satu yang harus dibunuh oleh Intel Belanda. Kemudian intel Belanda mengirim kontak kawat kepada Inggris agar menangkap Tan Malaka hidup atau mati.
Disinilah episode pelarian Tan Malaka. Tan Malaka, lari ke Penang, dari Penang ia menyamar ke Filipina sebagai Ellias Fuentes, di Filipina ia membangun jaringan gerakan kemerdekaan nasional, di Manila pada sebuah pertemuan rahasia dengan banyak pemimpin-pemimpin nasional Filipina, Tan Malaka berbicara soal ‘Gagasan Kemerdekaan Indonesia’.
Gagasan Kemerdekaan Indonesia ala Tan Malaka ini amat mempengaruhi agresivitas pejuang kemerdekaan Filipina. Kehadiran Tan Malaka di Manila tercium intel Inggris yang meminta intel Amerika Serikat (AS, adalah negara yang secara de facto menguasai filipina tahun 1920-an). Untuk membredel Tan Malaka, tapi rencana ini tercium pers, baik pers Inggris di Hong Kong ataupun di Filipina mendukung Tan Malaka, cerita pelarian Tan Malaka adalah cerita petualangan yang banyak digemari kaum muda di tahun 1920-an, ia dianggap sebagai legenda hidup yang terus diburu.
Tan Malaka lari ke Hong Kong lalu ke Kanton, disana ia menyamar jadi guru bahasa Inggris, Tan Malaka senang menikmati kota Shanghai, ia menyaksikan sendiri degup gagasan nasionalisme. Sebelum masuk ke Hongkong dengan nama samaran Ong Song Lee, Tan Malaka bersama Soebakat dan Djamalludin Tamin mendirikan sebuah partai rahasia yang bernama ‘Partai Republik Indonesia’ atau PARI. Partai ini adalah partai bawah tanah yang tidak boleh diketahui PKI, karena bila Komunis tau maka ini dianggap sebagai partai pembelot, karena doktrin komunisme melarang pemimpin komunis mendirikan Partai diluar Partai Komunis yang mengikuti garis Moskow.
Di Amoy, Cina Tan Malaka mendirikan sekolah bahasa, disini ia juga berhadapan dengan perang yang berkecamuk. Jepang mulai bertingkah di Cina, pertempuran-pertempuran kecil sering terjadi di depan matanya, ia menuliskan hal ini dengan amat filmis di bukunya ‘Dari Pendjara ke Pendjara’.
Di Indonesia sendiri petualangan Tan Malaka menjadi legenda paling digemari, seorang penulis asal Medan bernama pena : Matu Mona menuliskan legenda Tan Malaka dengan amat mahir, ia bahkan memasukkan unsur-unsur mistik (sebuah unsur yang mungkin jadi bahan ketawaan Tan Malaka yang rasional) seperti : Tan Malaka bisa menghilang atau Tan Malaka kebal peluru, tapi tulisan Tan Malaka inilah yang menjadi bahan imajinasi anak-anak muda Indonesia untuk menggerakkan sebuah keadaan agar Indonesia bisa Merdeka.
Ketika Jepang berhasil membom Pearl Harbour, Tan Malaka sedang menyamar di Singapura ia menyaksikan jaman yang sudah amat berubah, pergerakan kemerdekaan Indonesia tinggal beberapa inci lagi. Tan Malaka harus pulang, kepulangan Tan Malaka ini dihadang oleh ombak besar, ia menghadapi pertarungan kematian di tengah laut hanya dengan naik kapal kecil kepunyaan orang Cina dan ia menulis itu dalam ‘Dari Penjara ke Penjara’. Perjalanan pulang Tan Malaka dari Singapura ke Indonesia adalah lebih berat dari perjalanan Lenin pulang dari Bern, Swiss ke Moskow dengan Kereta Api.
Tahun 1942 Tan Malaka sampai di Djakarta, ia mencari pekerjaan. Ia mengontrak rumah di Rawadjati, Kalibata. Rumahnya amat dekil, kumuh dan layaknya seperti kandang kambing tapi dari rumah itulah ia menyusun pemikirannya yang tertuang dalam Madilog.
Perlu dicatat awal Kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka-lah yang banyak dicari pemuda Indonesia untuk menjadi Proklamator, tapi Tan Malaka memang belum ditemukan, barulah setelah Tan Malaka, pilihan jatuh ke tangan Sjahrir untuk memerdekakan Indonesia, namun menurut Maruto Nitimihardjo, salah seorang saksi penting Proklamasi 1945, Sjahrir takut menerima tanggung jawab itu. –jadi, memang takdir sejarah kemerdekaan ini dibacakan oleh Sukarno dan Hatta, sekaligus mereka berdua yang menjamin dan menaruh leher atas kemerdekaan Republik.
Setelah kemerdekaan di masa Revolusi 1945-1949, Tan Malaka mengambil peranan penting, ia satu-satunya orang yang dipercaya kaum muda diluar Sukarno, bahkan Jenderal Sudirman menaruh ideologi dan perjuangannya segaris dengan pemikiran Tan Malaka : Merdeka 100%.
Tan Malaka mati dibunuh di Djawa Timur, banyak yang mengira Tan Malaka dibunuh karena menolak dengan keras rencana perjanjian Konferensi Medja Bundar (KMB) 1949.
-Sejarah adalah tragedi demi tragedi, di seluruh hidup Tan Malaka, sejarahnya adalah kumpulan kesengsaraan bagaimana seorang anak manusia menginginkan kemerdekaan bagi bangsanya, dan menghilangkan penindasan bagi umat manusia. Tan Malaka adalah pahlawan di atas para pahlawan………-

Anda Kusmawan, 2 Juni 2012

Rabu, 23 Mei 2012

Mengapa Saham Facebook Jatuh?

Dua hari setelah peluncuran saham facebook (fb) mengalami penurunan dari harga perdananya 11%, sebelumnya saham fb sempat mengalami titik tertingginya di level $45. Saham ini diluncurkan pada level $38 perlembar. Banyak pengamat menilai ini adalah hasil dari ekspektasi yang berlebihan.
Saya sendiri yang sudah sepuluhan tahun bermain saham di BEJ, melihat bahwa ini bukan saja ekspektasi yang berlebihan atas saham fb itu sendiri tapi kemungkinan dari nilai saham itu dalam jangka panjang, saya jadi ingat kasus demam dot.com di awal tahun 2000-an yang banyak merugikan investor karena penggelembungan harga perdana saat IPO.
Sebuah saham harusnya memiliki nilai fundamental jangka panjang diluar hitung-hitungan buku (Book Value) dimana nilai itu tercantum secara implisit dari potensi pasar yang akan diraih. Potensi utama pasar fb yang dijual pada IPO kemarin adalah ‘user’ dari fb. Tapi apa keuntungan peraihan user yang banyak itu bagi pertumbuhan nilai perusahaan? -fb belum menjadikan dirinya sebagai perusahaan transaksi besar di dunia, dan belum bisa menggantikan posisi Google. Apalagi Google terus melawan dengan membangun berbagai aplikasi-aplikasi baru yang kemungkinan bisa memperkecil pasar fb yang selama ini mau menggantikan posisi google sebagai ‘mesin pencari’ di Internet.
Ada yang aneh sejak awal IPO fb, yaitu penggelembungan nilai pada saat IPO oleh penjamin emisi-nya Morgan Stanley, entah penilaian apa yang ia lakukan, pada saat rumor keluar angka US$5 milyar pasar menjadi gempar, tapi nyatanya harga IPO melambung jadi US$ 18,4 milyar penggelembungan sampai 368% dari angka estimasi awal saja sudah menunjukkan, potensi keuntungan di pasar sekunder jadi selama jangka pendek, sudah ada penggerusan nilai fb dimana ‘ruang spekulasi’ bagi para banyak penggoreng harga tipis untuk melakukan pertumbuhan setidak-tidaknya 20% pada kuartal pertama setelah hari-H IPO.
Apakah saham fb memiliki potensi besar jangka panjang?, kemungkinan besar iya, karena dengan dana 156,6 trilyun fb bisa saja melakukan perambahan pasar-pasar baru, tapi ini musti ditunggu dan sifatnya masih spekulatif. -yang jelas dari sisi harafiah fundamental perusahaan, perusahaan fb ini hanya menyajikan ‘keunggulan jumlah user’ bukan sebagai sebuah situs transaksi besar atau situs pencari.

Selasa, 22 Mei 2012

Ibu, Kau Perempuanku

Katanya
Pahlawan adalah seseorang yang selalu berjasa tanpa pamrih
Itu ada pada dirimu
Katanya
Keikhlasan adalah memberi tanpa maksud untuk dipuji
Itu ada pada dirimu
Katanya
Kata-kata yang tak bisa aku ceritakan. Dari mana aku harus memulai semua ini, kalau sementara aku benar-benar menghormatimu. Sering aku mengeluh pada dirimu..namun tak sedikitpun terlihat kerut alis di wajahmu.
Ibu…..kau pahlawanku
Kau yang telah banyak berjuang hingga kini
Hingga waktu tak pernah mau jadi saksi atas dirimu
Riwayatmu selalu ada dalam detak jantungku
Takkan kikis oleh kerasnya kehidupan, terjalnya perjuangan
Bersamamu aku bahagia.

Sabtu, 21 April 2012

Kartini, Jendela Modernisasi Indonesia




Politik Kartini, pada awalnya adalah “Politik Bahasa”, Belanda mampu menguasai Nusantara dengan dua hal : “Bahasa dan Tata Buku”. Dari Bahasa inilah Kartini kemudian mempertanyakan ‘bagaimana dunia bekerja’.

Sejarah Pemikiran RA Kartini, tak lepas dari kerja politik kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, Bupati Demak yang pertama kali memperkenalkan politik bahasa untuk memahami bagaimana kekuasaan Belanda secara substansi bekerja dalam struktur masyarakat Indonesia. Pangeran Ario Tjondronegoro, diangkat menjadi Bupati Demak sekitar tahun 1840-an tak lama setelah selesainya perang Diponegoro. Pangeran Ario Tjondronegoro mempelajari bahwa kekalahan Diponegoro adalah dimulai sebuah jaman baru dimana orang Jawa harus secara detil bisa mempelajari ilmu pengetahuan Eropa lewat bahasa. Saat itu juga mulai berkembang ide-ide rasional bangsa barat yang kemudian dapat dipahami sebagai langkah awal pemahaman manusia dalam menguasai Ilmu Pengetahuan. ‘Ilmu Rasional’ inilah yang kemudian dipelajari dengan detil oleh Pangeran Ario Tjondronegoro. Di umur 25 tahun, Pangeran Ario Tjondronegoro menjabat sebagai bupati Demak. Dialah Bupati yang pertama kali menguasai bahasa Belanda dengan sempurna. Pangeran Ario Tjondronegoro IV juga mengembangkan perpustakaan barat pertama yang kelak menjadi amat berguna bagi dua cucunya yang cerdas : RA Kartini dan Drs. RMP Sosrokartono.

Pangeran Ario Tjondronegoro mengharuskan anak-anaknya untuk menguasai bahasa Belanda. “Jika kalian ingin mengetahui bagaimana rahasia ilmu pengetahuan dan budaya modern, sehingga bangsa Jawa takluk pada orang kulit putih, pelajari bahasa-nya”. Pesan ini dipegang baik-baik oleh dua orang putera Pangeran Ario Tjondronegoro, yaitu : Raden Mas Adipati Aryo Adiningrat dan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Pada permulaan abad 20, di tahun 1900 hanya ada empat bupati yang menguasai bahasa Belanda dengan sempurna, dan menggunakan administrasi pemerintahan resmi dengan bahasa Belanda yaitu : RM Sosroningrat, ayah Kartini (Bupati Jepara), RM Adiningrat, Bupati Demak, Paman Kartini, Bupati Serang RM Djajadiningrat dan Bupati Ngawi, Pangeran Kusumo Utoyo.

Saat itu ada gerakan diam-diam di kalangan elite Jawa untuk memulai suatu pergerakan besar untuk menentang penjajahan Belanda. Gerakan ini kerap luput dicatat dalam banyak buku-buku sejarah, karena gerakan para bangsawan Jawa ini tersembunyi dan tidak kelihatan, kebanyakan sejarawan menilai pergerakan anti penjajahan Belanda yang dilakukan secara modern, hanya bermula pada tahun 1908 ketika Boedi Oetomo. Padahal pergerakan penentangan penjajahan Belanda yang dilakukan diam-diam para bangsawan ini kemudian mampu mendesak adanya politik etis yang mengatalisator dikenalnya system pendidikan modern.

Pada tahun 1880-an, RM Sosroningrat sendiri mengajukan pendapat untuk dibentuk persatuan bupati di tanah Jawa dan diusahakan dikenalkan pendidikan bahasa Belanda agar Bupati tidak memahami konsep pemerintahan modern. Anjuran dari RM Sosroningrat kemudian disambut oleh Bupati Cirebon dan kemudian terjadi gelora dalam menguasai Bahasa Belanda. Kartini kecil beruntung tumbuh dalam situasi yang membuatnya memiliki akses terhadap bahasa Belanda. Di umur 7 tahun ia sudah pandai membaca buku berbahasa Belanda. Ayahnya membuat perpustakaan lengkap yang bukunya merupakan warisan Pangeran Ario Tjondronegoro dan ada supplier dari pedagang buku di Batavia yang tiap bulan mengirim buku, koran dan majalah bernama Jan Wilkers.

Kakak Kartini, Sosrokartono bahkan bisa menguasai 34 bahasa, dia seorang polyglot (orang yang menguasai banyak bahasa) paling terkenal pada jamannya. Sosrokartono juga dikenal sebagai ahli kebatinan paling legendaris yang dikenal orang Jawa.

Banyak yang mengira arti penting Kartini adalah hanya sebagai penulis surat-surat dalam bahasa Belanda, Kartini hanya seorang Jawa yang ‘dibelanda-kan’. Padahal dan ini yang harus kita mengerti semua, Kartini adalah ‘Pembuka pemikiran dari keseluruhan jaman modern di Indonesia’. Dan kaum perempuan Indonesia boleh bangga, bahwa yang membuka Indonesia ke dalam jaman modern, jaman rasional, jaman intelektual-dialektis, adalah seorang Perempuan Jawa dari Jepara : Kartini.

Pengenalan Kartini terhadap buku-buku asing pada awalnya adalah buku kanak-kanak, lalu novel-novel kemudian berkembang ke buku-buku politik dan sosialisme yang menyadarkan posisi manusia dalam masyarakat. Kartini membaca de Vrouw en Sosialisme yang banyak membuka pemahaman Kartini tentang bagaimana sejarah masyarakat dan kedudukan perempuan dalam masyarakat ditilik dari pandangan Sosialisme, Kartini juga membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sejarah Tanah Air Belanda), bahkan Kartini menyebut : “Buku ini adalah yang paling aku suka, karena menyadarkan arti penting tanah air”. Ketika membaca buku Sejarah Tanah Air Belanda, Kartini menyebut dengan khusus gerakan Watergauzen, -sebuah kesatuan gerak rakyat jelata untuk mewujudkan suatu bangsa-. Sayangnya surat-surat Kartini yang berbau sosialis diberangus pemerintahan Belanda, disortir, sehingga surat-surat Kartini yang muncul keluar hanya surat ‘rasa penasaran seorang perempuan Jawa’ tentang kehidupan di luar tembok keraton kadipaten.

Gagasan besar Kartini tentang pikiran-pikiran modern adalah tancapan yang luar biasa pondasi dasar kemodernan Indonesia, Indonesia diajak masuk ke dalam sebuah jaman baru, jaman dimana Eropa menemukan kebesarannya. Disini Kartini tidak mengajak orang Indonesia menjadi orang Eropa tapi mengajak menemukan rahasia kebesaran bangsa Eropa. Dalam surat-surat Kartini, ia menemukan pandangan baru soal geopolitik, nasionalisme, posisi perempuan dalam masyarakat, sistem edukasi yang bertahap tapi menyeluruh ke seluruh lini masyarakat, pembongkaran penindasan kaum feodal dan kritiknya terhadap kelas-kelas di masyarakat.

Kartini memang bukan pahlawan yang bertindak, ia pemikir, ia penggagas, bahkan ia sendiripun kalah dalam mempertahan idealisme-nya di dunia nyata, menjelang perkawinannya ia amat toleran terhadap sistem feodal yang awalnya dikritik sebagai sebab pemula hancurnya bangsa Jawa, ia rela menjadi isteri ketiga Bupati, disini Kartini entah sengaja atau tidak mempertahankan kelasnya dan kenyamanan. Ia tidak keluar menuju satu jaman yang diimpikannya, padahal surat undangan belajar di Sekolah Guru di Batavia sudah tergeletak di ruang pendopo Kabupaten, tapi ia menampik dan memilih menjadi isteri ketiga seorang Bupati Rembang.

Salah satu jasa terbesar Kartini adalah ‘munculnya gerakan etis, dan memaksa pemerintah Hindia Belanda membentuk pos anggaran pendidikan lebih besar, membuka pintu lebar-lebar untuk pendidikan bagi anak-anak pribumi. Orang-orang seperti Sukarno, SM Kartosoewirjo, Semaoen, Musso atau Hatta adalah anak-anak kandung yang dihasilkan dari perjuangan Kartini dalam menuntut pendidikan barat. Dari tangan Kartini-lah, era pergerakan berubah total dari era penuh mitos, sakralitas Perang Diponegoro yang kuno menuju suatu perang pemikiran yang lebih lugas, sesuai jaman dan bahkan mampu menjebol rahasia-rahasia penindasan masyarakat.

Setelah meninggalnya Kartini, pergerakan intelektual Indonesia berkembang amat hebat. Pikiran-pikiran Kartini pada awalnya dijual oleh kelompok sosialis di Parlemen Belanda untuk menggebuk kelompok konservatif dan liberal, awalnya kelompok liberal bersekutu dengan kelompok sosialis namun ketika kelompok sosialis mulai menunjukkan tuntutan yang lebih ganas terhadap hak-hak asasi manusia dan merugikan kelompok liberal yang didukung oleh pengusaha-pengusaha perkebunan menjadikan kelompok liberal beralih bersekutu ke kelompok konservatif. Di tangan partai politik liberal Belanda pikiran Kartini hanya dijadikan etalase suatu kebanggaan bahwa Bangsa Belanda merupakan kiblat baru dalam pemikiran intelektual seorang Perempuan Jawa.

Ketika bangsa Jepang berhasil menghancurkan armada laut Russia di tahun 1905, semangat nasionalisme berkobar dimana-mana, gerakan nasionalisme ini juga mempengaruhi banyak pemikir-pemikir baru yang mulai melakukan diskusi-diskusi politik. Di tahun 1900-an awal, pusat diskusi politik paling penting berada di Solo. Banyak kaum pergerakan dari Sumatera dan luar Jawa mengunjungi Solo untuk berdiskusi dengan kelompok-kelompok radikal yang tercerahkan. Salah satu dedengkot dalam diskusi nasionalisme itu adalah dokter Tjiptomangoenkusumo. Yang biasa dijuluki ‘Onze Tjip’. Dokter Tjipto bisa dikatakan sebagai penyuluh pertama kali tentang nasionalisme Indonesia, pidato pada pertemuan kecil pertama kali ia lakukan di Solo, di Belakang Pasar Legi tentang uraian-uraian nasionalisme, dokter tjipto memiliki kumpulan diskusi di rumah Raden Mas Djojopanatas, yang memiliki jaringan pergerakan radikal para saudagar Jawa. Djojoopanatas adalah orang penting dibalik pembentukan gerakan Rekso Rumekso yang merupakan jaringan dagang-politik pertama kali bagi orang Jawa dan sebagai cikal bakal terbentuknya Sarekat Dagang Islam. Dulu kata ‘Islam’ tidak hanya berkonotasi pada agama, tapi juga ‘rakyat’ secara keseluruhan. Dalam diskusi-diskusi di rumah Djojopanatas inilah kemudian pemikiran Kartini diangkat kembali sebagai tema besar dalam perlawanan penjajahan Belanda, jadi logika politiknya dibalik.

Di tahun 1921, Sukarno muda bertemu dengan Dokter Tjipto, lalu Sukarno muda disuruh dengan detil membaca surat-surat Kartini. Disini kemudian dr. Tjip membuat uraian menyeluruh bahwa “Bahwa nasionalisme Indonesia tak lepas dari pembebasan perempuan itu sendiri” awalnya pandangan dr. Tjipto ini amat maju, tapi kemudian gerakan perempuan Indonesia diredusir oleh Bung Karno hanya sebagai ‘gerakan penyatuan atas perempuan dan laki-laki dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia’. Kesadaran perempuan digeser bukan sebagai bagian perjuangan dalam memahami ‘perempuan sebagai manusia yang utuh dan merombak struktur dunia laki-laki yang menindas tubuh dan pikiran mereka’ tapi hanya lebih pada gerakan penyatuan ‘komunal’ dalam merebut kemerdekaan. Arus inilah yang kemudian menjadi utama selama hampir 50 tahun dalam sejarah pergerakan perempuan Indonesia, sampai pada kejatuhan Sukarno di tahun 1965.

Tapi bagaimanapun juga redusir Sukarno terhadap interpretasi gerakan perempuan membawa gerakan perempuan menemukan kembali pemaknaannya setidak-tidaknya pemaknaan dari ‘tahap pertama penemuan peran perempuan di kalangan masyarakat’, pidato Sukarno di tahun 1932 pada sebuah pertemuan politik di Solo ““Saat ini perjuangan kaum perempuan yang terpenting bukanlah demi kesetaraan, karena dibawah kolonialisme laki-laki juga tertindas. Maka, bersama-sama dengan laki-laki, memerdekakan Indonesia. Karena hanya dibawah Indonesia yang merdekalah, kaum perempuan akan mendapatkan kesetaraannya”. Ditengah-tengah ombak besar nasionalisme yang siang malam menyerbu mimpi-mimpi para pemuda, mayoritas kelompok lainnya memfokuskan diri semata pada pendidikan, pemberantasan buta huruf dan soal-soal keperempuanan. Meskipun hal ini juga amat penting, namun tampa keterlibatan dalam perjuangan kemerdekaan, semua persoalan kesetaraan akan gagal menghasilkan pembebasan dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun” pidato Sukarno inilah yang membuktikan bahwa “GERAKAN PEMBEBASAN PEREMPUAN BUKANLAH BAGIAN DARI PEMIKIRAN ASING, PEMIKIRAN BARAT TAPI BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI SEJARAH INDONESIA MEMBENTUK KEMERDEKAANNYA, DAN MENJADI ALASAN PENTING KENAPA INDONESIA HARUS BERDIRI”.

Pergerakan perempuan di Indonesia pada hakikatnya sudah tumbuh sejak lama, bukan dari gerakan-gerakan yang dituduh oleh sekelompok orang sebagai bagian dari budaya liberal barat, gerakan perempuan di Indonesia sudah menjadi bagian sejarah yang utuh gerak bangsa ini. Pemogokan-pemogokan buruh dan perlawanan untuk mempertanyakan kemerdekaan ditemukan pada gerakan perempuan, dulu di awal tahun 1920-an ada gerakan perempuan bernama ‘Caping Kropak’ yang diorganisir oleh Sarekat Rakyat dengan arsiteknya adalah Semaoen, gerakan ini mampu menekan gubernemen meminta pada penguasaha perkebunan untuk memperhatikan kesejahteraan perempuan.

Pergerakan perempuan di jaman modern, masuk dalam keterlibatan perempuan merebut kemerdekaannya, gerakan ini menjadi luruh dalam persamaan gerakan lelaki, sehingga tidak lagi ada anatomi yang mendasar dalam penjelasan problematika perempuan secara utuh di masa pergerakan, masa kemerdekaan dan masa Revolusi Sukarno.

Gerakan perempuan menjadi lebih menarik dianatomi, ketika gerakan perempuan itu sendiri dihancurkan oleh para Jenderal-Jenderal Negara Orde Baru dalam sebuah penghancuran bertahap, sistematis, dan terarah untuk membentuk suatu peradaban baru Indonesia yang makmur. Penghancuran ini menjadi bagian yang gradual terhadap penghancuran pendukung Sukarno, penghancuran gerakan pemuda, penghancuran gerakan politik di luar sistem dan penghancuran peran perempuan dalam mesin sosial politik.

Tubuh Djamilah, seorang pelacur yang ditangkap dan dijadikan ‘Gerwani’ adalah politik penghancuran pertama kali Gerakan Perempuan di Indonesia. Dalam ‘prasangka’ terhadap tubuh Djamilah itulah kemudian gerakan perempuan paling agresif dan paham realitas persoalan masyarakat, menemukan kiamatnya. Ribuan perempuan yang dituduh terafiliasi Gerwani dimasukkan ke dalam penjara, dihina tubuhnya, dan dipermainkan nasibnya oleh Negara. Disini kemudian Negara berubah menjadi monster yang menakutkan dan mengawali sebuah peradaban baru dimana keseluruhan lini gerakan perempuan ditaklukan dan dijadikan budak atas kemauan negara.

Dalam Negara Orde Baru, penguasaan terhadap sumber-sumber Kapital menjadi mutlak ditangani Negara dan tidak boleh diganggu gugat oleh pergerakan rakyat. Rakyat disini harus menjadi objek atas ketertiban masyarakat, dan perempuan adalah “Pergerakan Rakyat yang Paling Rapuh, sekaligus instrumen yang paling kuat dalam indoktrinasi” maka penghancuran terhadap gerakan perempuan di tahun 1965 lewat tubuh Djamilah itu kemudian dibarengi dengan pembangunan tubuh perempuan yang lain, yang ideal, yang memenuhi kaidah moralitas Orde Baru. Lalu Orde Baru menamakan tubuh perempuan itu sebagai ‘Dharma Wanita dan PKK”.

Degradasi peran intelektual Perempuan yang amat parah berada pada Dharma Wanita, dimana tubuh dan pikiran perempuan dibentuk sebagai ‘pendamping laki-laki’. Namun Orde Baru juga dengan cerdas mengarahkan tubuh perempuan ke dalam bentuk ‘kerja’ sebuah kerja besar bersama dalam PKK. Disini Orde Baru mengarahkan perempuan untuk menjadi ‘volunteer’ atas problem-problem kemasyarakatan seperti kesehatan dan pendidikan, tapi Orde Baru tidak menghitung ‘kerja’ perempuan itu ke dalam angka nominal yang harus dimasukkan ke dalam Pos Pemasukan Negara dan dikembalikan lewat pemasukan pajak kepada gerakan perempuan itu sendirim jadi kerja bakti perempuan adalah kerja gratis. ‘Gerakan kerja bakti’ perempuan ini ternyata membangun dunia kesehatan publik paling spektakuler dalam sepanjang sejarah Indonesia modern, adanya Posyandu dan membangun gerakan kesehatan perempuan lebih maju dan tidak perlu adanya gerakan besar. Disatu sisi Orde Baru membangun memenjarakan pikiran dan tubuh perempuan, disisi lain Orde Baru justru memberikan ruang gerak tanpa sengaja menjadikan perempuan sebagai bagian paling penting kerja masyarakat.

Reformasi 1998 adalah babak pembuka demokrasi, keterbukaan menjadi substansi segala-galanya dalam masyarakat baru Indonesia. ‘Perempuan yang dimasa Sukarno dimasukkan ke dalam satu struktur komunal perjuangan bersama menuju mimpi Sukarno yaitu : Trisakti : Kemandirian ekonomi, Kemandirian Politik dan Berkepribadian dalam Kebudayaan, dimasa Suharto perempuan dipaksa tubuh dan pikirannya dalam struktur negara, maka di masa reformasi perempuan juga tak lepas dari prasangka yang dibuat atas nama agama dan kultural’. Pembebasan perempuan di masa reformasi lebih rumit tapi juga memiliki kemajuan luar biasa dalam mendefinisikan perempuan sebagai bagian utama kesetaraan gender.

Politik atas tubuh dan pikiran perempuan mendapatkan tempatnya dalam gerakan besar dunia yang bernama ‘Gender Mainstreaming’ atau yang disebut juga Pengarusutamaan Gender (PUG).

Pengarusutamaan Gender, bukan saja gerakan menganalisa ketertindasan perempuan tapi juga menganalisa kesetaraan bagi laki-laki, anak-anak, dan peluang akses mereka dalam menyentuh hak Kapital. Inilah langkah maju tersebut, Perempuan yang selama ini diasingkan dalam proses penentuan masa depannya sendiri menjadi memiliki hak yang lebih lugas. Problem terpenting perempuan saat ini adalah ‘keadilan mendapatkan hak akses ekonomie dalam sektor lapangan kerja’. Ketidakadilan inilah yang kerap ditopang bahwa perempuan ‘adalah pengganggu’ dalam struktur dunia yang diciptakan laki-laki.

Sumber-sumber Kapital yang dikuasai oleh Negara juga kerap terancam oleh hak-hak kaum perempuan, bila di jaman Suharto, kaum Perempuan dirampok hak-hak ekonomie-nya maka di jaman reformasi perempuan juga diasingkan dalam hak-hak ekonomie yang dibentuk dengan sekumpulan prasang-prasangka atas tubuh perempuan. RUU Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, sebagai misal adalah proyek Negara dalam mencaplok tanah-tanah rakyat yang digunakan untuk negara atau swasta, legalitas UU ini bisa memberikan kekuasaan negara berlaku kriminal terhadap pemilik tanah dengan menembaki mereka yang menolak lahannya dicaplok. Perempuan juga banyak merugi dengan adanya UU ini karena bila lahan diambil biasanya yang menanggung beban adalah perempuan, mereka akan mengalami pekerjaan beban berat berganda, karena biasanya kaum lelaki setelah hak lahannya tercabut tidak segera mendapatkan akses ekonomie lain, sementara kaum perempuan terasa lebih bertanggung jawab terhadap makan anak-anak mereka.

Kaum perempuan juga sering mengalami penindasan kultural, dalam perkawinan mereka kerap dijadikan alat jual beli dalam hukum adat, sehingga perkawinan itu bukan lagi dijadikan sebagai ‘Memanusiakan kemanusiaan’ tapi sebuah ‘Pemaksaan yang diluar kendali manusia’. Banyak problem perempuan yang harus digali oleh masyarakat seperti problem kesehatan, problem ancaman kematian saat melahirkan bayi, dan kesehatan gizi anak-anak yang kerap menjadi beban kaum perempuan dan negara tak ambil peduli.

Problem perempuan yang sedemikian rumit karena tak mendapatkan hak akses ekonomie yang setara, hak tanggung jawab yang juga setara karena adanya prasangka, menjadikan pikiran-pikiran Kartini menemukan aktualitasnya. Seperti surat Kartini pada Nyonya Van Kool, tahun 1901 : “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya.

Negara dan Masyarakat sampai saat ini masih salah kaprah dengan menggunakan tradisi Orde Baru yang memberikan prasangka atas tubuh perempuan dalam memperingati “Hari Kartini” dengan menggunakan pakaian adat tradisional, bukannya malah mengenalkan pemikiran-pemikiran pembaharuan atas hak tubuh dan hak pikiran perempuan yang lebih merdeka.

Dari Kartini, kita banyak belajar untuk peradaban Indonesia yang lebih maju dan memanusiakan manusia.


 Jogjakarta, 21 April 2012

Selasa, 17 April 2012

Yang paling disukai perempuan adalah drama, sesederhana apapun perempuan itu ia pasti menyukai drama, perempuan tak akan pernah bisa melihat mawar merah, seperti kembang merah biasa yang melar dalam rautan pagi, ia akan melihat mawar merah seperti lukisan dimana garis-garisnya adalah perasaan.

Dalam mata perempuan, keseluruhan hidupnya adalah drama, ia senang menangis, karena dalam tangisan ada keindahan, mungkin hanya perempuan yang tau letak keindahan menangis itu dimana. Ia merasakan bahwa cinta bukanlah sekedar cumbu dan kecupan kening, tapi ketika kecupan kening itu datang, maka ia menggambarkan dunia ini seperti dikepung ribuan pelangi.

Itulah perempuan, ia senang dengan drama, ia menjadikan kehidupan ini indah, seimbang dan penuh senyum. Hanya sayang lelaki selalu datang dan mengajarinya bagaimana berkelahi dan membentak realitas.

Pahami perempuan dalam bentuk drama-nya, maka engkau akan paham apa mau-nya ketika ia diam.

Hapuskan Ujian Nasional

Saya tidak pernah memandang penting entitas pendidikan, gelar akademis dan sederet hal-hal formalitas dalam Intelektualitas. Kerna intelektualitas tidak pernah bisa dibangun dengan ukuran-ukuran yang dibentuk oleh entitas, sebab entitas itu juga berisi orang-orang yang juga tak jelas ukuran-ukurannya. Ketika kau terobsesi pada formalitas intelektualitas, disaat itulah kau dilatih untuk menjadi beo atas pemikiran orang lain dan gagal untuk mencari ilmu secara otodidak, kau gagal membangun metode sistematika dirimu sendiri, kedisiplinanmu adalah kedisiplinan atas kepatuhan intelektualitas yang diciptakan atas arus besar.

Pendidikan yang berbasis pada industri memiliki tolok ukur yang seragam, dan ini aneh kerna di masa sekarang keseragaman tidak dapat dibentuk, dunia sekarang mengarah pada semakin simetrisnya informasi, semua orang mendapatkan hak akses terhadap banyak informasi. Hadirnya internet adalah langkah awal pembuka penghancuran entitas sebagai bentuk modal yang memberikan gelar, hak klaim intelektual dan segala tetek bengek sakralitas ilmu pengetahuan.

Ujian Nasional adalah bentuk sakralitas ilmu pengetahuan dalam bentuk lain, ujian nasional adalah bentuk paling usang dari masyarakat industri, padahal kita sekarang berada pada peradaban masyarakat informasi. Indonesia sekarang menghadapi masalah paling genting, yaitu : Kekacauan antara dimana posisi Negara. Ketika kaum perempuan dikenai prasangka atas tubuhnya, Negara masuk ke dalam tubuh mereka, begitu juga dengan pendidikan, Negara masuk ke dalam hak intelektual anak didik. Disini negara tidak lagi berperan sebagai fasilitator, tapi negara berperan langsung sebagai Persoon yang berhak atas nasib masa depan seseorang. Hal ini tidak baik dalam negara modern, di dalam negara modern, fungsi negara hanya masuk ke dalam ruang-ruang bersama, ruang publik dan pranata atas ruang publik yang tidak menyentuh ke dalam hak tubuh, hak intelektual dan hak keyakinan.

Ujian Nasional yang memiliki indikator-indikator baku yang kaku, hanya akan menciptakan pola pikir masyarakat industri yang seragam, menggugurkan kemampuan kreatif anak-anak didik. Hendaknya ujian nasional ditiadakan, hanya entitas yang berkepentingan langsung-lah yang memberikan ujian dan berhak atas tolok ukur intelektualitas, bukan negara dengan segala bentuk perangkatnya yang berpeluang menindas.

Penindasan atas peradaban pendidikan kita adalah ketika negara mulai ikut campur dalam proses intelektualitas dan penilaian intelektualitas seseorang, kemudian nasib seseorang ditentukan oleh klaim negara ini sebagai prasyarakat mereka masuk ke dalam pranata sosial, padahal urusan negara adalah hanya menciptakan desain interior pranata ruang bukan urusan seleksi masuknya Individu ke pranata sosial, negara disini malah menciptakan kategori, bukan menjadi sumber akhir yang dibentuk kategori.

Hentikan Ujian Nasional berbasis Masyarakat Industri, Bentuk ujian dengan muatan lokal yang berbasis pada masyarakat informasi, dan Menjadi dewasalah Indonesia..........

Senin, 23 Januari 2012

ANDAI SAYA BUKAN RAKYAT INDONESIA (Sajak Grafiti)

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan menutup sumur dan menguruk telaga
karena rakyat Indonesia minumnya Aqua dan Coca-Cola.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan membuka kedai KFC di mana-mana
karena rakyat Indonesia senang makanan gaya Amerika.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan menggusur pasar dan warung tradisional
karena rakyat Indonesia suka belanja di swalayan dan mal.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan memasok barang-barang dari luar negeri
karena rakyat Indonesia kurang mencintai produk pribumi.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan menghalau perusahaan sumbu kompor dari bumi pertiwi
karena rakyat Indonesia merasa lebih keren memakai gas elpiji.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan meruntuhkan gedung-gedung koperasi
karena rakyat Indonesia hutang ke bank merasa bergengsi.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan memborong tambang mineral dan gas bumi
karena rakyat Indonesia malas menggalinya sendiri.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan bikin pabrik dan merekrut buruh Indonesia
karena rakyat Indonesia terkenal sangat murah upahnya.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya tak akan menggunakan bahasa Indonesia
karena rakyat Indonesia lebih bangga berbahasa Eropa.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya tak akan menulis puisi tentang penindasan negara
karena rakyat Indonesia gemar puisi derai daun cemara.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan mencuri ikan dan pulau di perbatasan Indonesia
karena rakyat Indonesia cuek pada wilayah kedaulatannya.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan mengganti nilai-nilai UUD ’45 dan Pancasila
karena rakyat Indonesia sudah tak lagi mengacuhkannya.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan bersekongkol dengan para penguasa
karena rakyat Indonesia tak akan berani melawannya.