Cari Blog Ini

Jumat, 08 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun, Pak Harto

Suharto dengan senyum manisnya yang terkenal (sumber photo : Republika.co.id)


Indonesia harus memiliki pemimpin Lembu Petheng -anak yang tak jelas bapaknya- seperti Ken Arok, seperti Pak Harto yang juga tak jelas siapa bapaknya, karena orang yang tak jelas siapa Bapaknya tidak memiliki rasa minder terhadap masa lalu……. 

(Sudjiwotedjo, Indonesian Lawyer Club 2011)

Ucapan Sudjiwotedjo saat itu menjadi tertawaan banyak orang di studio ILC dan penonton TV One, karena memang tak banyak yang mengerti kedalaman filsafah dalam sejarah Jawa seperti ungkapan Sudjiwotedjo itu.


Mitologi silsilah inilah yang kemudian ditembak oleh Sudjiwotedjo dalam melihat kasus Suharto. –Bagaimana mungkin seorang anak petani biasa membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX tertunduk dan menurut pada Pak Harto, bagaimana mungkin orang yang begitu Prabawa dan penuh kharisma seperti Bung Karno seperti gemetar ketakutan melihat Suharto, bahkan di akhir tahun 1966 dengan nada galau Sukarno berteriak tiga kali menyebut Suharto sebagai keadaan bahwa tak boleh ada yang merebut kursi Presiden : “Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto….” kata Bung Karno sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah barisan para Jenderalnya. Ada apa dengan kekuatan Suharto? 

Jelas Sukarno tidak akan takut dengan kekuatan militer Amerika Serikat, ia sudah terbiasa menghadapi teater perang besar. Bahkan dihadapan Dadong (nama panggilan Presiden Filipina-Macapagal), Sukarno menyatakan siap menghadapi perang sebesar apapun, dan itu memang sudah dilakukan Sukarno ketika ia meletuskan kata-kata Dwikora dan mengancam perang dengan Malaysia, sebuah pidato yang mirip pidato Franklin Delano Roosevelt, “Pidato Pengumuman Perang terbesar setelah Perang Dunia II selesai” di koran-koran besar Amerika menjuluki Sukarno sebagai ‘Tiran’ dengan kekuatan tanpa tanding yang mengancam dunia bebas, tapi di sisi lain di negara-negara bekas jajahan dan negara tertindas Sukarno dijuluki “Hadiah Tuhan untuk Kebebasan Bagi mereka Yang Tertindas” disini Sukarno menunjukkan bukan saja orang nomor satu, tapi juga tokoh dunia.

 Sementara Jenderal AH Nasution sendiri saat menunggui anaknya di RS Gatot Subroto yang sekarat tertembak pasukan penculik pimpinan Letkol Untung, menampik saran Adam Malik. Saat itu Adam Malik berkata pada Nasution yang juga merupakan sepupunya sendiri “Nas, kau ambil itu kekuasaan Angkatan Darat, sekarang juga kau ke Kostrad, kau pegang sendiri militer” tapi Nasution menolak dengan alasan bahwa ‘bagaimana mungkin aku meninggalkan anakku yang sekarat untuk urusan pekerjaan’. Disinilah kemudian Adam Malik kecewa, dan menganggap Nasution lemah, tapi mungkin Adam Malik lupa, sepanjang sejarah karir militer Nasution, ia tak berani berhadapan head to head dengan Sukarno. Seperti yang diucapkan Nasution sendiri di Amerika Serikat dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat di awal tahun 1960-an “Saya tak mungkin berhadapan dengan Sukarno, dialah yang menyadarkan saya tentang arti kemerdekaan, sebelum saya tahu apa itu merdeka di masa saya sekolah dulu” ini artinya kekuatan Sukarno memang secara personal luar biasa, dan anehnya kekuatan Sukarno bisa lebur ditangan Jenderal yang sama sekali tak dikenal sebelumnya, nama Jenderal itu pernah disebut-sebut di koran-koran sepanjang konflik politik yang panas pada paruh pertama 1960-an, namanya hanya muncul sekilas saat pemakaman Jenderal Gatot Subroto dan saat ia diangkat jadi Panglima Mandala dalam Perang Perebutan Irian Barat, itupun kemudian namanya tenggelam oleh Subandrio, Menteri Luar Negeri yang memiliki kelihaian diplomasi dengan mencari celah dukungan Inggris dan Amerika Serikat dalam menendang Belanda keluar dari Irian Barat. 

Suharto lahir dari situasi yang tak jelas – Pernyataan ini bukan hanya lahir dari majalah-majalah gosip yang banyak bermunculan di tahun 1970-an mengenal asal usul Suharto, tapi juga dari buku-buku yang berbobot ilmiah tinggi seperti buku Robert Edward Elson, seorang Profesor dari University of Queensland, Australia yang secara serius meriset Suharto. Dalam satu bab pertamanya tentang asal usul Suharto menjadi bagian paling rumit untuk mendefinisikan kepribadian dan posisi psikologis Suharto dimasa mendatang, analisa Elson ini mirip dengan Karl Marx dalam mengotopsi kritik atas Kapital dalam tulisan Das Kapital tentang bagian pertamanya yang abstraktif untuk mendefinisikan fungsi komoditi dalam kehidupan manusia begitu juga Elson menyajikan riset atas konfigurasi keluarga Suharto yang rumit, mengenaskan serta tidak jelasnya siapa ayah kandung Suharto sesungguhnya dan berpengaruh atas kepribadian Suharto yang pendiam, menganalisa masalah, mempertimbangkan keadaan serta hati-hati dan kepribadian ini menjadi modal dalam keberhasilan hidupnya.
 
Suharto lahir 8 Juni 1921, angka ini juga masih diperdebatkan banyak orang, namun Suharto sendiri meredakan perdebatan ini dan ia secara gamblang menyatakan tanggal lahirnya adalah 8 Juli 1921. Suharto dilahirkan dari seorang Ibu yang galau, yang stress dan seorang sedang prihatin. Hal ini dinyatakan dalam Elson pada bab pertama buku tentang Suharto. – Di buku lain karangan Roeder : Anak desa : Biografi Presiden Suharto, menyebutkan dua tahun setelah kelahiran Suharto orangtua mereka bercerai, tapi Elson lebih ganas lagi menyebutkan waktunya : Orangtua Suharto bercerai empat minggu setelah kelahiran Suharto.
Sukirah sendiri mengalami kondisi stress, ia dikabarkan hilang dan ternyata sedang ‘ngebleng’ puasa tanpa makan dan minum, ia merasa membawa beban hidup yang amat berat. –Kondisi ini secara tak sadar hanya sekilas saja diberitakan para ilmuwan barat yang berpaham rasional, namun bagi kalangan Jawa yang mengerti ilmu kebatinan, jelas Sukirah mengalami beban psikologi luar biasa karena ia mengandung ‘Seorang Raja di Masa Depan’. Penduduk kampung mencari-cari Sukirah, yang kemudian ditemukan dalam keadaan hampir mati karena kurang makan dan minum. 
Dari situasi keprihatinan yang tinggi itulah Suharto lahir. Di usia empat tahun Suharto sudah diserahkan ke kakak ibunya, pada keluarga Kromodiryo. Pada usia yang masih amat muda sekitar lima tahun dan ini mengherankan bagi anak desa seumurnya, Suharto sudah disekolahkan. –Suharto yang berada di dusun amat terpencil bisa bersekolah bagus ini juga menjadi bahan riset yang menarik, siapa ayah Suharto sesungguhnya? Suharto sendiri tak mengalami ikatan emosional yang tinggi kepada orang yang dianggap ayahnya yaitu Kertosudiro, -kemungkinan Suharto sudah mengerti bahwa Kertosudiro bukan ayah kandungnya (Elson, bab I –Permulaan dan Masa Muda Suharto). Di dalam buku otobiografi-nya : Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan, yang disusun oleh Ramadhan KH mengatakan : “dimasa lalu ada teman seingat saya bernama si Kromo, yang mengata-ngatai saya sebagai ‘Den Mas Tahi Mabul’. Dan ini penghinaan bagi Suharto kecil, lalu Suharto menonjok anak itu dan itulah pengalaman satu-satunya Suharto berkelahi, ini artinya berbeda dengan pengalaman berkelahi pertama Sukarno yang mempersoalkan dia dilarang main bola oleh Sinyo Belanda karena ia seorang Pribumi tapi Suharto berkelahi karena persoalan tak jelas asal usulnya. Dari Sukirah sendiri Suharto memang ada keturunan bangsawan Yogyakarta, kakek buyut Suharto : Notosudiro, memiliki isteri yang merupakan anak perempuan dari Hamengkubuwono V. 
Terlepas dari situasi sulit siapa ayah kandungnya, perpecahan keluarga dan segala macam konflik psikologis dalam lingkungannya Suharto tumbuh secara baik, ia adalah pemuda yang tampan, berwajah ningrat dan sangat halus perangainya. Beberapa kali Suharto menjadi bahan rebutan antara Sukirah dan Kertosudiro, sehingga Suharto harus tabah dalam menjalani kehidupan. Suharto sendiri mengakui saat paling bahagia adalah ketika ia ‘ngenger’ (menumpang) pada keluarga Prawirohardjo, yang salah satu anaknya adalah Sulardi, di Wuryantoro. Lewat Sulardi inilah Suharto berkenalan dengan Hartinah, puteri wedana di Wonogiri, yang juga merupakan kawan sekelas Sulardi, kelak Hartinah adalah isteri Suharto. 

Suharto hidup prihatin, ia senang sekali berpuasa “Saya sudah mengalami banyak laku, banyak tindakan pertapaan di diri saya, satu-satunya yang belum saya lakukan adalah tidur diatas sampah” kenang Suharto dalam biografinya. Bertapa adalah ‘keprihatinan’ ala orang Jawa dalam memahami penderitaan, dalam keprihatinan manusia tidak boleh hidup enak, mereka harus mendidik dirinya sendiri dengan keras agar tidak gampang mengeluh dalam kehidupan dan kuat menghadapi godaan dalam menjalani cita-cita. Guru Suharto paling awal dalam soal kebatinan dan pemahaman pada nilai-nilai filsafat Jawa adalah Kyai Daryatmo yang ditemui Suharto sewaktu muda. 

Kemampuan Suharto dalam mengolah diri inilah yang kemudian berhasil menjadikan dirinya sebagai orang disiplin. –Ia juga terus menerus mencari daya linuwih dalam kehidupannya, ia orang yang tidak gemar kenikmatan hidup, ia hanya menjalani apa yang diyakininya benar –terlepas keyakinannya itu membuat sengsara banyak orang, atau membuat keadaan susah- ia tahu apa tujuannya.

Perkenalan Suharto pertama kali dengan militer adalah di KNIL, awalnya ia ingin melamar jadi Angkatan Laut, jadi seorang kelasi, hal ini ia lakukan karena melihat seorang kelasi sedang berlibur di Yogya dan amat gagah. Namun keinginannya saat menjadi kelasi ia urungkan ketika ia mendaftar ke Angkatan Laut Hindia Belanda, soalnya ia mendengar bahwa lowongan yang dibuka hanya sebagai juru masak, sekeluarnya dari pendaftaran kelasi Angkatan Laut, tanpa sengaja ia mendengar bahwa KNIL membuka pendaftaran, ia amat berminat kejadian itu sekitar akhir tahun 1939 atau awal 1940. Hindia Belanda sedang membutuhkan tenaga perang sekitar 35.000 orang pribumi saat itu memang berkembang wacana bahwa kemungkinan Jepang masuk ke Hindia Belanda dan tak mungkin berhadapan dengan Jepang sendirian, seperti di Filipina yang sedang mempersiapkan perlawanan rakyat, maka Belanda harus mempersiapkan pribumi untuk militerisasi demi menghadapi serbuan Jepang. Namun tampaknya wacana militerisasi kaum pribumi menjadi mentah, karena militerisasi ini hanya akan menjadikan ‘senjata makan tuan’ bagi Belanda kelak dikemudian hari, akhirnya kaum pribumi dibatalkan untuk menghadapi Jepang, ratusan ribu senjata yang sedianya digunakan untuk perang disembunyikan dan Pemerintahan Hindia Belanda memilih lari ke Australia.

Suharto masuk dalam program militerisasi besar-besaran itu dan ia lulus sebagai yang terbaik tiga tahun kemudian, tak lama kemudian Jepang masuk. 

 Suharto saat masih berpangkat Overste/Letnan Kolonel. (Sumber Photo : Harian Kedaulatan Rakjat, Yogyakarta)

Ada cerita menarik ketika Suharto ingin masuk KNIL, ia ngangon dua kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito, Sukardjo bercerita dalam bukunya : “Mereka Menodong Bung Karno” bahwa Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta. 

“Kebetulan Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu” katanya kepadaku. “Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali” jawabku sambil mengerat tebuku untuk kugigit dipatahkan. “Penting sih tidak, cuma mau minta pamit”.
“Memang mau kemana sih mas?”
“Aku akan masuk Kumpeni” kata Suharto. “Sekolahan?”
“Aku sudah berhenti sekolah kok” Sukardjo heran lantas bertanya “Padahal kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau tamat saja?”
(Percakapan ini tercatat dalam buku “Mereka Menodong Bung Karno, Kesaksian seorang Pengawal Presiden, Soekardjo Wilardjito, Galang Press cetakan I, 2008)
Suharto pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan. Suharto memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang : Mayjen Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan, sementara di pihak lain sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu menjadi ajudan Bung Karno dan menurut pengakuannya menyaksikan sendiri bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia sebut sebagai : Mayjen Panggabean, Jenderal keempat dalam urusan Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000, dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling menghebohkan. Namun seperti biasa berita ini tetap dimenangkan oleh pembela Suharto yang mau tak mau Suharto telah memenangkan sejarah dengan memasukkan SP 11 Maret 1966 sebagai tonggak penting konstitusi di Indonesia. Sukardjo kemudian diburu dan dipenjara bahkan sempat dibuang ke luar Jawa, namun selalu urung dibunuh apakah karena mungkin ia sepupu Suharto (?), namun yang jelas disini Suharto bisa amat dingin membedakan mana saudara, mana politik, dan inilah yang kemudian membuat Suharto memang merupakan Jenderal Berdarah Dingin, dan memiliki kepribadian lebih kuat apalagi hanya dibandingkan dengan Nasution yang cenderung lemah. 
Kemampuan Suharto dalam memenangkan sejarah ini tak lepas dari kepribadiannya yang teliti sebelum mengambil tindakan dan mengamati. Salah satu modal psikologis dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah ia amat “pendiam” Rosihan Anwar sendiri pernah menceritakan hal itu “Saya berjalan berjam-jam dengan Suharto untuk menemui Jenderal Sudirman dan diantar oleh dia, tapi sekalipun ia tidak bicara, ia hanya menyetir mobil, lalu masuk pedesaan, ia juga memetik kelapa dan satu-satunya ucapan yang ia katakan pada saya adalah “silahkan diminum” –Ia adalah orang yang ‘kulino meneng’ (terbiasa berdiam diri) sebut Rosihan menjuluki watak Suharto. Kelak di tahun 1974 surat kabar Rosihan Anwar ‘Pedoman’ dibredel Pemerintahan Suharto, ketika Mashuri bertanya bagaimana nasib Pedoman pasca peristiwa Malari 1974, Suharto menjawab sinis “Wis dipateni wae (sudah dibunuh saja)” jelas ini menunjukkan Suharto amat dingin terhadap orang yang ia kenal dimasa lalu. Ia lebih mementingkan tujuan dalam mengerjakan sesuatu ketimbang kehangatan hubungan antar manusia. 
Suharto amat berminat dalam latihan-latihan kemiliteran. Ia juga terpengaruh oleh ide-ide nasionalisme yang amat bergema pada masa latihan kemiliteran di PETA, saat itu ide paling besar dari perwira PETA adalah : Nasionalisme Ekstrim, anti Belanda dan Anti Jepang. –ada hal lain yang perlu dicatat PETA berbeda dengan KNIL, dalam PETA tidak adanya pengaruh sipil yang mengendalikan ia seakan-akan bergerak sendiri sementara KNIL amat dipengaruhi keputusan sipil, watak dasar entitas inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana kemudian Jenderal-Jenderal Orde Baru lulusan PETA yang kemudian mengambil alih kendali sejarah, memutuskan hubungan dengan sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil.
Karir Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah memerdekakan Indonesia, ia sendiri mengakui bersorak gembira ia larut dalam eforia kemerdekaan Republik Indonesia, ia langsung bertindak di Yogyakarta dan karena masa lalunya yang baik dalam latihan kemiliteran ia langsung diangkat menjadi Mayor Republik, ini adalah keputusan menarik bagi seorang Suharto, karena bagaimanapun sebagai eks KNIL dan memiliki karir bagus di PETA ia bisa saja menunggu Belanda dan melamar menjadi Perwira KNIL untuk perang dengan Republik, tapi Suharto lebih memilih menjadi pejuang di garis kemerdekaan Republik Indonesia, pilihan ini tidak bisa dianggap remeh karena ini bisa menjelaskan watak nasionalisme Suharto yang puritan, ekstrim dan tidak aneh-aneh, setia pada merah putih walaupun kemudian ia gagal paham soal pandangan yang lebih menjlimet lagi ‘soal kedaulatan total’ ide yang dikeluarkan oleh Tan Malaka dan Bung Karno. Bagi Suharto nasionalisme adalah soal kesejahteraan, cinta tanah air dan rakyat tidak kelaparan. Nasionalisme logistik inilah yang kemudian mewarnai Indonesia selama lebih dari 32 tahun. 
Suharto adalah orang yang beruntung, ia tanpa sengaja masuk ke dalam pusaran sejarah dan kenal dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ia bisa kenal dengan Bung Karno lewat kejadian paling bersejarah : Penangkapan Djenderal Mayoor Sudarsono, saat itu Sudarsono adalah orang yang paling berjasa terhadap pembentukan pasukan di Yogyakarta, ia yang menyerang seluruh markas Jepang dan merebut persenjataan sehingga pasukan di Yogyakarta menjadi pasukan terkuat se Indonesia, kekuatan pasukan inilah yang kemudian menjadikan posisi Sri Sultan Hamengkubuwono IX amat penting serta membuat seluruh kabinet Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta meminta perlindungan pada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sekaligus menyusun strategi militer yang lebih komprehensif untuk menghadapi kekuatan Belanda yang menurut data intelijen Inggris dan sudah diterima Sjahrir akan masuk lewat struktur entitas militer bernama NICA.
Di awal tahun 1946 berkembang perdebatan sengit di dua kelompok : Kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin yang saat itu mereka bersatu dalam Partai Sosialis (PS) serta menjadi dominan dalam Kabinet menghendaki perundingan kepada Belanda sementara di pihak lain kelompok oposisi yang dipimpin Tan Malaka menghendaki perang total, perang tanpa kompromi dengan Belanda. “Tak Perundingan, Tak ada diplomasi, Merdeka-lah kita 100%”. Kelompok Tan Malaka mendapatkan simpati hampir semua perwira militer terutama yang berasal dari PETA. Jenderal Sudirman adalah pengagum Tan Malaka, ia selalu berdiri dan bertepuk tangan ketika Tan Malaka pidato, anak buah Sudirman Jenderal Mayoor Sudarsono dan anak buahnya Mayor AK Yusuf juga amat berdiri di garis Tan Malaka, namun ada situasi over acting dari tindakan Sudarsono yaitu menangkap Perdana Menteri Sjahrir dan pengikutnya. 
Tindakan Sudarsono ini jelas dikecam Sukarno, seorang pemimpin pemuda bernama Sudjojo memerintahkan Suharto –yang saat itu sudah menjadi Letkol karena keberaniannya dalam perang Ambarawa dan menjadi anak buah kesayangan Jenderal Sudirman- untuk menangkap Sudarsono, sementara tak lama kemudian keluar surat perintah dari Sukarno untuk menangkap Sudarsono. 
Suharto berpikir, “bagaimana bisa ia menangkap atasannya, orang yang paling berjasa atas lengkapnya persenjataan pasukan di Yogyakarta dan dikagumi banyak serdadu Yogya, sementara saya sendiri adalah pengikut Sudarsono” tapi Suharto amat hati-hati ia membalas surat Sukarno “ia akan menangkap Sudarsono bila ada perintah dari Jenderal Sudirman” Konflik 3 Juli 1946 ini menjadi amat jelas bagi kita bagaimana menilai kemampuan Suharto dalam manajemen konflik dan mengerti atas situasi, ia mendapatkan pelajaran ‘Bahwa kekuasaan bukanlah selalu orang yang berada di atas posisinya, tapi kekuasaan adalah mereka yang secara realitas memegang kekuatan dan kendali atas keadaan’.
Suharto mengerti saat itu bukan Sukarno yang memegang kendali kekuasaan, tapi Sudirman dan Tan Malaka – soal ini secara jelas diungkapkan banyak sejarawan pada waktu itu tentang pola kekuasaan di Indonesia selama masa revolusi bersenjata 1945-1949. Suharto tak mau melakukan tindakan sebelum tahu jelas sekali situasi dan tak mau bertindak sebelum mengerti siapa yang memegang kendali keadaan, inilah yang kemudian menjadikan Suharto selalu memenangkan sejarah, dan ucapan paling fenomenalnya “PKI berada dalam penculikan para Jenderal” di awal Oktober 1965 menunjukkan bahwa memang Suharto memiliki informasi amat lengkap sebelum kejadian dan bukan merupakan spekulasi. Inilah yang membedakan Suharto dengan pelaku sejarah lainnya. 

Presiden Sukarno, Brigjen Suharto dan Mayor Untung dalam satu inspeksi, Sukarno dan Untung adalah dua orang yang dikalahkan secara tragis oleh Suharto (Sumber Photo : Tabloid Detik)

Hari ini kelahiran Suharto, 8 Juni seorang yang amat penting dalam sejarah Indonesia, memang Sukarno merupakan Bapak Pembebas Rakyat Indonesia, tapi mau tak mau peradaban sekarang ini tetaplah peradaban Suhartorian, seluruh pemegang kekuasaan saat ini merupakan anak didik Suharto yang diberi fasilitas pada jaman Suharto, hampir 100% pelaku penting politik saat ini bukanlah orang yang melawan Suharto. Inilah yang menjelaskan kenapa Sudjiwotedjo mengatakan ‘Siapa Bapak Kandung Suharto?” kekuatan tanpa rasa minder, seperti ketika Suharto disindir oleh Mayjen S Parman sebelum kejadian 1965, “Suharto itu siapa, pendidikannya apa, arep melu-melu ngurus negoro” yang dicatat dalam Buku Subandrio, juga beberapa catatan sejarah tentang para Jenderal yang berpendidikan tinggi dan mengejek Suharto apalagi ketika Suharto dengan lihai menggantikan posisi Bung Karno sebagai Presiden RI di tahun-tahun awal kekuasaannya, Suharto selalu menerima banjir ejekan atas dirinya yang kurang berpendidikan dan memiliki masa lalu tak jelas
Keadaan itu dijawab Suharto dengan tenang termasuk ketika ia mengadakan konferensi pers  saat itu di tahun 1974, ramai sekali perdebatan siapa Bapak Kandung sesungguhnya Suharto, bahkan Mashuri bekas tetangga Suharto dan mantan Menteri Pendidikan memberikan keterangan bahwa Suharto adalah anak keturunan  Cina (seperti yang diungkapkan Elson dalam bukunya). Saat itu ramai spekulasi bahwa Suharto adalah anak kandung Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, artinya dia adalah adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ada juga yang menyatakan bahwa ayah kandung Suharto adalah “orang yang memegang payung kuning Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Namun spekulasi-spekulasi itu dijawab tenang oleh Suharto dalam konferensi pers : “Saya adalah anak Petani”……
Ya, Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di negeri ini yang mustahil dikalahkan, secara politik ia hanya dikalahkan oleh umurnya sendiri…………..
Selamat Ulang Tahun Pak Harto.
8 Juni 2012.
Bahan Bacaan :
Robert Edward Elson : SUHARTO, Sebuah biografi Politik : Pustaka Minda Utama, 2005
Suharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan,  sebuah biografi : Disusun Ramadhan KH dan Gufron Dwipayana,  Penerbit Citra Lamtorogung, 1988
Mereka Menodong Bung Karno -Kesaksian seorang Pengawal Presiden,  Sukardjo Wilardjito, Penerbit : Galang Press, 2008.
Anak Desa : Biografi Presiden Soeharto, O.G Roeder, Penerbit : Gunung Agung, 1976
Suharto and his General : Indonesian Military Politics, 1975-1983 : David Jenkins, Penerbit : Ithaca, 1984
Kebatinan dan hidup sehari-hari orang Jawa,  Niels Murder, Gramedia 1983.


Rabu, 06 Juni 2012

Kisah Kelahiran Bung Karno

Soekemi Sosrodihardjo seorang guru muda dari Surabaya yang ditugaskan untuk mengajar di Sekolah Rakyat (setingkat SD) di Bali, tepatnya di Banjar Paketan-Liligundi-Buleleng, Singaradja Bali. Setelah mengajar Sukemi senang sekali berjalan-jalan mengelilingi desa dan melihat kehidupan sosial masyarakatnya. Bahkan Soekemi sering mencatat bagaimana rakyat desa bergerak.
 
Satu hal yang diperhatikan Soekemi adalah budaya dari banjar Bali yang amat marak itu, sebuah kegiatan sakral dan penuh harmoni. Tiap ada upacara-upacara suci di Pura Bali sendiri ada tarian sakral bernama Tari Rejang. Tarian ini ditarikan khusus perempuan dengan gerakan amat halus, tarian ini bisa amat indahnya bila dilatari bulan purnama dan malam bersih penuh bintang, sehingga penontonnya bisa menjadi amat tenang, khidmat dan penuh syukur pada Tuhan.
 
Suatu saat Soekemi menonton bersama temannya yang seorang guru juga dari Jawa, tarian ini. Ia terpesona dengan dua orang perempuan cantik, tapi ia tak tau siapa namanya kedua perempuan itu. Namun kemudian ada kesempatan dimana Soekemi melempar bunga, dan lemparan bunga itu mengenai seorang penari cantik dengan mata bulat bulan ‘Ni Nyoman Srimben’. Ia penari yang amat cantik dengan bibir yang tebal manis, dan alis mata yang amat hitam, tersenyum pada Soekemi, saat itulah cinta pertama jatuh pada dua hati anak manusia.
 
“Perkenalan adalah takdir, menjadi teman adalah pilihan dan mencintai seseorang kerap diluar kendali dari diri seorang yang sedang jatuh cinta” Soekemi sudah jatuh cinta, ia telah memilih dan ia sanggup menghadapi resikonya apa saja.
 
Rupanya Ni Nyoman Srimben juga jatuh hati pada pemuda dari Jawa ini, -“Ia seorang guru ayah” kata Nyoman Srimben kepada ayahnya I Nyoman Pasek ketika menghaturkan cerita tentang pemuda pilihan hatinya. I Nyoman Pasek tentunya menolak “dia berbeda agama dengan kita” Soekemi sendiri beragama Islam, dan Nyoman Pasek menghendaki Srimben menikah saja dengan pemuda dari banjar-nya sendiri ketimbang pemuda yang berasal dari Jawa, dari tempat yang jauh.
 
Tapi cinta telah mengikat dua perasaan ini, cinta telah menjadikan dua cerita antara Soekemi dan Srimben sebagai naluri aksara puisi, Soekemi melihat dua mata Srimben, ada getaran, bukan saja ia melihat masa depan dirinya sendiri, tapi masa depan yang lebih besar, ‘namun ia tak mengerti’. Srimben sendiri melihat Soekemi juga dengan perasaan sama, ada perasaan pertanggungjawaban bahwa cinta ini harus diteruskan, -apapun resikonya-.
 
Lalu Soekemi bertanya pada Srimben “Apakah kau mencintaiku” lalu Srimben diam lama dia melihat sawah luas membentang hijau di desanya, udara langit putih bersih dan daun-daun pohon kamboja mengayun lembut. –Srimben mengangguk penuh arti-. Akhirnya Soekemi berani melamar menikah pada ayah Srimben, Bapak Nyoman Pasek. Namun Nyoman Pasek secara halus menolak.

Akhirnya dipilih suatu sikap yang berani, yaitu : Ngarorod atau Kawin Lari. Di Tengah Malam Soekemi membawa lari Srimben, lalu dikejar-kejar penduduk desa dan Soekemi berlindung di tempat seorang Polisi. Penyelesaiannya adalah ke Pengadilan, di Pengadilan tampaknya cinta dua anak manusia ini tak bisa dipisahkan, akhirnya semua orang yang menyaksikan rela dengan ikhlas menyatukan dua perbedaan ini karena keberanian dan pertanggungjawaban Soekemi serta Srimben dalam menjalankan cintanya, Soekemi hanya dimintai denda atas tindakannya melakukan Ngarorod, dan keluarga Srimben menyetujui Soekemi menikah dengan Ni Nyoman Srimben.
 
Pernikahan ini berlangsung damai, tiba-tiba datang surat dari penilik sekolah yang mengabarkan bahwa Soekemi harus pindah ke Blitar dan bertugas disana. Ni Nyoman Srimben ikut Soekemi, dengan menumpang perahu layar mereka mengarungi selat Bali menuju Jawa, tampak dari kejauhan pulau Jawa berkabut, keindahan pulau Jawa dengan ratusan nyiur di pantai membuat Srimben merasa bergetar, ada suara lembut menyapa kalbunya ‘Disinilah masa depanmu bermula’.
 
Di Blitar, Soekemi dan Srimben hidup amat sederhana, seperti layaknya penduduk Jawa yang lain, hidup dalam suasana keprihatinan suasana orang yang dijajah, tiap pagi Srimben harus menumbuk padi, menjaga tumbukannya tidak dimakan ayam, ia mencuci dan segala bentuk kegiatan lainnya, ia mencintai suaminya dengan amat sangat yang tiap hari dengan sepeda warna hitam itu pergi ke sekolah mengajar. Di tahun pertama pernikahannya, lahirlah seorang anak perempuan dan diberikan nama sebagai Soekarmini. Gembiralah rumah kecil pak guru itu dengan hadirnya anak perempuan yang lucu.
 
Suatu siang Srimben bermimpi tentang bulan purnama terang sekali, ia bermimpi berjalan di ruang yang bergolak, kemudian melanjutkan ke ruang yang tenang. Ia berdoa semoga mimpinya ini berjalan ke arah kebaikan, tak lama setelah mimpinya ini ada, ia hamil. Di tengah kehamilannya ini ia kerap bermimpi tentang sinar matahari berwarna kuning muda bangkit dari balik cakrawala, dan entah kenapa Srimben sangat menyukai warna pagi matahari. Soekemi senang bukan kepalang, melihat isterinya hamil lagi. Ia mengelus-elus perut isterinya dan membacai surat al fatihah, ia berharap anak ini akan menjadi berguna bagi keluarga dan bangsanya. Anak ini akan dipenuhi oleh rasa cinta, dipenuhi keberanian dalam menghadapi kehidupan dan ketabahan dalam penderitaan untuk mencapai tujuan. Anak ini harus menjadi seorang yang kuat, begitu harapan Soekemi.
 
Lalu tanggal 6 Juni 1901, jam 6 pagi meledaklah suara tangis bayi, Soekemi berdiri dari tempat duduknya, ia mendatangi dukun bayi yang membantu proses kelahiran…”Anakmu laki-laki, Pak Guru…laki-laki” kata dukun bayi itu dengan wajah senang seraya memberi selamat dan Soekemi dengan dada berdegup kencang berlari ke sudut rumah lalu mengucapkan syukur.
 
Malamnya Soekemi menuliskan surat kepada keluarga isterinya di Buleleng dengan kata-kata singkat : “Anakku telah lahir, anak kedua, dia laki-laki dan kuberikan nama Koesno. Semoga ini menjadi awal yang baik dari semuanya”. Tulis Soekemi di tengah pelita yang redup.
 
Bayi itu sehat, gemuk dan pipinya merah. Bayi ini sangat tampan. Bahkan beberapa kerabat Soekemi yang mengunjungi terpesona dengan ketampanan bayi ini. Satu hal yang sangat disenangi Srimben dalam merawat bayi ini adalah menghadapkannya ke timur matahari, dengan cahaya matahari yang merekah, wajah tampan bayi merah ini tertimpa alur-alur cahaya pagi lalu Srimben berucap “ Lihatlah anakku, lihatlah sang Fajar bangkit dari peraduannya, kau lahir ketika sang fajar bangkit dan menerangi dunia, kau lahir bukan saja membawa hari baru, tapi sebuah jaman baru…..” 


Bung Karno semasa sekolah di HBS (Sumber Photo : Yayasan Idayu)
Kelak di kemudian hari ucapan Srimben ini semacam profetik (ramalan) yang dinisbahkan pada diri anak ini, seorang anak yang kemudian sakit-sakitan dan diganti nama menjadi SUKARNO.
Sukarno kecil tumbuh dengan gembira, ia suka berenang-renang dikali, memancing dan bermain gasing. Ia tak mau kalah dalam permainan “Bagi Sukarno, ia tak boleh dikalahkan” kenang Sukarno kelak dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams.
 
Karena kemiskinan Sukarno kerap hidup kekurangan, ia harus menumbuk beras sendiri, ia berjalan kaki ke sekolah tanpa sepatu. Yang paling sedih diingat Sukarno adalah ketika hari menjelang lebaran, banyak anak-anak bermain petasan, ledakan petasan dimana-mana, ia ingin membakar petasan, ia iri teman lainnya bisa membeli dan membakar petasan menyambut malam takbiran. Sukarno ingin merayakan menjelang lebaran dengan petasan “aku ingin petasan…ingin sekali” tapi Sukarno kecil tau, ayahnya tak punya uang, ia tak tega meminta pada bapaknya. Kemudian yang ia lakukan adalah menangis di kamar, ia melingkari wajahnya dengan bantal yang penuh air mata, ia ingin petasan. ‘keinginan anak-anak yang lumrah’. Tak lama ketika Sukarno menangis, datanglah seseorang teman ayahnya mengetuk pintu dan memberikan sebungkus petasan pada Soekemi “ini untuk anakmu” lalu Soekemi memanggil Sukarno dan memberikan sebungkus petasan itu “Ini untuk kamu, hati-hati mainnya” Bukan main gembira hati Sukarno, kenangan ini ia tak bisa lupakan seumur hidupnya, ia juga sadar ‘tangisan yang tulus adalah doa yang didengar Tuhan”. Dan memang sepanjang hidupnya Sukarno kerap menangis diam-diam untuk bangsanya.
 
Sukarno dibawa ayahnya ke rumah indekost HOS Tjokroaminoto di Jalan Plampitan, Surabaya.. saat itu Sukarno diterima di HBS Surabaya, Pak Tjokro adalah kawan dekat ayah Sukarno, “Jagalah baik-baik anakku” kata Soekemi, Pak Tjokro dengan kumis yang tegas itu memegang pundak Sukarno “Nah, kau sekarang di HBS, kau harus bertanggung jawab bukan saja pada hidupmu, tapi juga bangsamu” nasihat Pak Tjokro dengan mata tajam dan wajah yang teduh. Sukarno mengangguk pelan, lalu ia diantarkan ke kamarnya yang gelap, kecil dan agak kotor, -karena kamar yang lain sudah penuh-. Tapi Sukarno menerima dengan gembira, ia memang punya watak selalu senang dalam keadaan apapun. Bagi Sukarno ‘mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa, bergembiralah di tiap hidupmu, seberat apapun masalahmu…gembiralah…gembiralah” itu prinsip Sukarno dalam menjalani kehidupan.

Banyak kawan-kawan yang mengenang Sukarno adalah seorang pelajar yang cerdas, pembaca buku, pintar menggambar – salah satu yang paling diingat adalah ketika di kelas sedang ada pelajaran menggambar bebas, Sukarno muda menggambar anjing dan kandangnya, gambar anjing itu amat hidup dan membuat guru Belandanya terperangah, ia memamerkan gambar Sukarno- tapi nilai gambar itu tetap tidak boleh tinggi dari gambar anak Belanda, diam-diam Sukarno mulai tau bahwa bangsanya terjajah.
 
Sukarno cepat bila mengerjakan PR, setelah selesai mengerjakan PR ia mengusili kawan kost yang lain, hingga kalau malam banyak kamar ditutup pintunya ‘untuk menghindari gangguan Sukarno’. Akhirnya Sukarno iseng-iseng pidato sendirian di kamar, ia meniru seorang dalang dan meniru Pak Tjokro yang sedang berpidato. Bila Sukarno kecil berpidato ia bergerak seakan-akan seorang aktor yang bisa menggenggam dunia, “Kebebasan…Kebebasan..dan Kebebasan” teriak Sukarno meniru Danton tokoh revolusi Perancis dalam khayalannya itu. Lalu anak-anak melongok keluar jendela kamar dan dengan malas-malasan kembali lagi ke meja belajarnya sambil mengomel “Ah, Paling itu Si No…ingin menguasai dunia” kata mereka.

Dan memang Sukarno kelak menguasai dunia, dibawah pesonanya banyak negara-negara terinspirasi untuk merdeka, dibawah jalan hidupnya kemerdekaan Indonesia direbut, bangsa Indonesia memiliki martabatnya, merebut kehormatannya dan berdiri sebagai bangsa besar di dunia. Dan Sukarno-lah alasan terbesar bangsa ini berdiri-.
-Hari ini 6 juni 2012 dan Bung Karno ulang tahun, Selamat Ulang Tahun Bung Karno…………-
Indonesia, 6 Juni 2012

Catatan : Nama Ibunda Sukarno adalah Ni Nyoman Srimben, pada tahun 1954 sebagai Presiden RI, Sukarno menghadiahkan nama Ida Ayu atau Idayu kepada Ibunda-nya dengan disaksikan banyak pejabat RI dan dari negara sahabat, sebuah penghargaan terbesar dari seorang anak kepada ibunya.



Sabtu, 02 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun Pak Tan Malaka

Hari ini Tan Malaka, ulang tahun ke 115 tahun, ia lahir dalam jaman yang berderak dan penggulingan abad penjajahan tahun 1897. Tan Malaka adalah orang yang pertama kali menyebarluaskan kesadaran Nasionalisme dalam bentuk paling radikal, modern dan sistematis, ia tuang itu ke dalam buku-nya yang dipegang banyak anak muda penggerak sejarah seperti Muhammad Yamin, Sukarno atau Soegondo Djojopuspito buku itu adalah Naar de Republiek Indonesia –Menuju Republik Indonesia-.
Tan Malaka muda bersekolah di sekolah guru (Kweekschool), Bukittinggi. Ia adalah anak paling cerdas, ia cepat sekali menghapal, jenius dalam soal bahasa. Untuk bahasa Belanda-nya sendiri ia mendapatkan nilai tertinggi, ia juga pembaca buku yang rakus, kegemaran Tan Malaka sejak kecil adalah berenang di kali setelah berenang ia sering merenung di atas batu kali besar, ia merenung tentang bagaimana air kali bergerak, pikirannya terserap dalam logika-logika paling dasar tentang keadaan. Memang Tan Malaka sering berpikir bagaimana kerja alam, sesuatu yang ia pahami kelak dalam buah tulisnya “Materialisme, Dialektika dan Logika” atau Madilog, sebuah ilmu alamiah dasar tentang rasionalisme, empirisme dalam melihat alam materi, tanpa tahayul, tanpa mitos.
Kecerdasan Tan Malaka membuat guru-gurunya mensponsori pembiayaan kepergian Tan Malaka ke Haarlem Belanda dan dipinjami dana dari ‘Engku Fonds’ untuk bersekolah ke Rijks Kweekschool, di Belanda dengan situasi prihatin Tan Malaka menjalani pendidikan yang berat. Tahun 1919, ia kembali ke Indonesia, ia bekerja di Perkebunan Deli. Saat itu perkebunan Deli, salah satu maskapai perkebunan menggunakan sebuah desa, dijadikan semacam desa ‘potemkin’ untuk memamerkan bahwa pengusaha perkebunan bisa berbuat baik kepada kaum pribumi.
Legenda Tan Malaka, dan menjadi bahan kekaguman banyak generasi muda dari generasi muda jaman Sumpah Pemuda tahun 1920-an, sampai dengan jaman modern sekarang ini, adalah kisah pelariannya. Pelariannya itulah yang kemudian menimbulkan legenda, sekaligus mengabarkan kepada dunia Internasional tentang Indonesia yang berdentam-dentam melawan penjajahan di tanah kolonial, pelarian Tan Malaka selalu ditunggu banyak intelektual-intelektual besar di Asia, seperti di Filipina, Singapura, Malaya, Hong Kong bahkan sampai ke Kanton, Cina.
Kisah pelarian Tan Malaka selalu jadi berita-berita besar di koran-koran luar negeri, dan ini mirip ‘The Jackal’ jaman modern, sebuah perlawanan otak yang beradu dengan kekerasan intelijen. Tan Malaka menyerahkan seluruh hidupnya untuk diburu dan bertarung dengan kematian di tiap detiknya.
Awal dari petualangan politiknya adalah ketika Tan Malaka bertemu dengan Semaun di Prambanan, setelah itu mengadakan pertemuan-pertemuan dengan banyak tokoh kiri dalam tubuh Sarekat Islam yang mulai bergerak dan berdiri tegak menuntut kemerdekaan Indonesia. ‘Pemberontakan bersenjata adalah sesuatu yang tak terhindari dalam situasi jaman bergolak ini’. Itu prinsip kaum kominis pedjuang dijamannya tentang sebuah Indonesia baru. Tan Malaka dijadikan pemimpin PKI di jam-jam pertama, setelah Sneevliet pergi. Tan Malaka adalah pemimpin yang penuh perhitungan, ia tak mau Indonesia jatuh ke tangan Moskow juga jatuh ke tangan Imperialisme barat, seperti Belanda, Inggris dan Amerika Serikat. ‘Kesadaran Tan Malaka’ sedikit banyak dipengaruhi ketika ia bertemu dengan Bapak Kemerdekaan Cina, ‘Sun Yat Sen, pada suatu senja di tahun 1922. “Nasionalisme dan Kebangsaan adalah bentuk geopolitik masa depan, bukan Komintern atau Internasionalisme, hanya nasionalisme-lah yang bisa memperbaiki keadaan, menghormati kehidupan manusia di dalamnya, membebaskan pranata-pranata masyarakat dari penindasan kapitalisme” ini kesadaran tahap pertama Tan Malaka.
Tan Malaka-pun hadir di Kongres Komintern 1921, di depan Jenderal Radek dan Jenderal Zinoviev, Tan Malaka membongkar kesadaran bahwa Gerakan Islam di Djawa itu memiliki semangat revolusioner, apa yang terjadi pada Sarekat Islam dengan mempertentangkan SI dengan Komunisme adalah mainan Intelijen Belanda, dan tidak seharusnya gerakan kemerdekaan sebuah bangsa meninggalkan Umat Islam yang radikal dan bertanggung jawab terhadap keadilan di tengah masyarakat. Pidato Tan Malaka Komintern di tengah markas Komunis, Sovjet inilah yang justru mengenalkan Islam dalam alur gerak positif bagi ‘pembebasan manusia atas penindasannya’. Kelak di masa Revolusi 1945, Tan Malaka sering mengeluarkan pernyataan “Islam adalah darah dalam tubuh bangsa Indonesia’.
Di tahun 1926, Tan Malaka menolak kelompok Prambanan yang dipimpin Alimin dan Muso untuk memberontak, karena perhitungan Tan Malaka, Sovjet Uni dibawah Stalin belum berani buka front dengan Belanda yang didekeng Inggris, apalagi mereka adalah sekutu dalam komitmen perjanjian Versailles 1919, sebuah perjanjian yang menghentikan perang dunia I, dimana Sovjet Uni, Perancis dan Inggris merupakan negara sekutu berhadapan dengan Jerman. Bila anak-anak kominis nekat angkat senjata, maka gerakan politik di Indonesia akan hancur.
Benar saja pemberontakan di Banten dan Silungkang, Sumatera Barat gagal total. Belanda menangkapi 1.300 aktivis kemerdekaan, dibuang ke Digoel, sebagian digantung mati, ratusan pucuk senjata api dan beberapa peti berisi bom ditemukan. Tan Malaka kesal sekali dengan peristiwa ini, alih-alih para pemimpin kominis klik Prambanan mengoreksi diri atas kegagalannya, mereka malah menyalahkan Tan Malaka yang tak ikut memberontak, sejak itu Tan Malaka dicap sebagai ‘Trotskys’ sebuah julukan hina yang berasal dari nama pemimpin Komunis era Lenin yang melawan Stalin. Tan Malaka lari ke Singapura disana ia membuat tulisan tentang ‘Massa Actie’ sebuah tulisan yang berisi ‘syarat-syarat dasar agar sebuah gerakan massa berhasil mencapai tujuan’.
Sial bagi Tan Malaka, walaupun ia menentang pemberontakan ala Muso dan Alimin, namun Tan Malaka dimasukkan sebagai orang nomor satu yang harus dibunuh oleh Intel Belanda. Kemudian intel Belanda mengirim kontak kawat kepada Inggris agar menangkap Tan Malaka hidup atau mati.
Disinilah episode pelarian Tan Malaka. Tan Malaka, lari ke Penang, dari Penang ia menyamar ke Filipina sebagai Ellias Fuentes, di Filipina ia membangun jaringan gerakan kemerdekaan nasional, di Manila pada sebuah pertemuan rahasia dengan banyak pemimpin-pemimpin nasional Filipina, Tan Malaka berbicara soal ‘Gagasan Kemerdekaan Indonesia’.
Gagasan Kemerdekaan Indonesia ala Tan Malaka ini amat mempengaruhi agresivitas pejuang kemerdekaan Filipina. Kehadiran Tan Malaka di Manila tercium intel Inggris yang meminta intel Amerika Serikat (AS, adalah negara yang secara de facto menguasai filipina tahun 1920-an). Untuk membredel Tan Malaka, tapi rencana ini tercium pers, baik pers Inggris di Hong Kong ataupun di Filipina mendukung Tan Malaka, cerita pelarian Tan Malaka adalah cerita petualangan yang banyak digemari kaum muda di tahun 1920-an, ia dianggap sebagai legenda hidup yang terus diburu.
Tan Malaka lari ke Hong Kong lalu ke Kanton, disana ia menyamar jadi guru bahasa Inggris, Tan Malaka senang menikmati kota Shanghai, ia menyaksikan sendiri degup gagasan nasionalisme. Sebelum masuk ke Hongkong dengan nama samaran Ong Song Lee, Tan Malaka bersama Soebakat dan Djamalludin Tamin mendirikan sebuah partai rahasia yang bernama ‘Partai Republik Indonesia’ atau PARI. Partai ini adalah partai bawah tanah yang tidak boleh diketahui PKI, karena bila Komunis tau maka ini dianggap sebagai partai pembelot, karena doktrin komunisme melarang pemimpin komunis mendirikan Partai diluar Partai Komunis yang mengikuti garis Moskow.
Di Amoy, Cina Tan Malaka mendirikan sekolah bahasa, disini ia juga berhadapan dengan perang yang berkecamuk. Jepang mulai bertingkah di Cina, pertempuran-pertempuran kecil sering terjadi di depan matanya, ia menuliskan hal ini dengan amat filmis di bukunya ‘Dari Pendjara ke Pendjara’.
Di Indonesia sendiri petualangan Tan Malaka menjadi legenda paling digemari, seorang penulis asal Medan bernama pena : Matu Mona menuliskan legenda Tan Malaka dengan amat mahir, ia bahkan memasukkan unsur-unsur mistik (sebuah unsur yang mungkin jadi bahan ketawaan Tan Malaka yang rasional) seperti : Tan Malaka bisa menghilang atau Tan Malaka kebal peluru, tapi tulisan Tan Malaka inilah yang menjadi bahan imajinasi anak-anak muda Indonesia untuk menggerakkan sebuah keadaan agar Indonesia bisa Merdeka.
Ketika Jepang berhasil membom Pearl Harbour, Tan Malaka sedang menyamar di Singapura ia menyaksikan jaman yang sudah amat berubah, pergerakan kemerdekaan Indonesia tinggal beberapa inci lagi. Tan Malaka harus pulang, kepulangan Tan Malaka ini dihadang oleh ombak besar, ia menghadapi pertarungan kematian di tengah laut hanya dengan naik kapal kecil kepunyaan orang Cina dan ia menulis itu dalam ‘Dari Penjara ke Penjara’. Perjalanan pulang Tan Malaka dari Singapura ke Indonesia adalah lebih berat dari perjalanan Lenin pulang dari Bern, Swiss ke Moskow dengan Kereta Api.
Tahun 1942 Tan Malaka sampai di Djakarta, ia mencari pekerjaan. Ia mengontrak rumah di Rawadjati, Kalibata. Rumahnya amat dekil, kumuh dan layaknya seperti kandang kambing tapi dari rumah itulah ia menyusun pemikirannya yang tertuang dalam Madilog.
Perlu dicatat awal Kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka-lah yang banyak dicari pemuda Indonesia untuk menjadi Proklamator, tapi Tan Malaka memang belum ditemukan, barulah setelah Tan Malaka, pilihan jatuh ke tangan Sjahrir untuk memerdekakan Indonesia, namun menurut Maruto Nitimihardjo, salah seorang saksi penting Proklamasi 1945, Sjahrir takut menerima tanggung jawab itu. –jadi, memang takdir sejarah kemerdekaan ini dibacakan oleh Sukarno dan Hatta, sekaligus mereka berdua yang menjamin dan menaruh leher atas kemerdekaan Republik.
Setelah kemerdekaan di masa Revolusi 1945-1949, Tan Malaka mengambil peranan penting, ia satu-satunya orang yang dipercaya kaum muda diluar Sukarno, bahkan Jenderal Sudirman menaruh ideologi dan perjuangannya segaris dengan pemikiran Tan Malaka : Merdeka 100%.
Tan Malaka mati dibunuh di Djawa Timur, banyak yang mengira Tan Malaka dibunuh karena menolak dengan keras rencana perjanjian Konferensi Medja Bundar (KMB) 1949.
-Sejarah adalah tragedi demi tragedi, di seluruh hidup Tan Malaka, sejarahnya adalah kumpulan kesengsaraan bagaimana seorang anak manusia menginginkan kemerdekaan bagi bangsanya, dan menghilangkan penindasan bagi umat manusia. Tan Malaka adalah pahlawan di atas para pahlawan………-

Anda Kusmawan, 2 Juni 2012

Rabu, 23 Mei 2012

Mengapa Saham Facebook Jatuh?

Dua hari setelah peluncuran saham facebook (fb) mengalami penurunan dari harga perdananya 11%, sebelumnya saham fb sempat mengalami titik tertingginya di level $45. Saham ini diluncurkan pada level $38 perlembar. Banyak pengamat menilai ini adalah hasil dari ekspektasi yang berlebihan.
Saya sendiri yang sudah sepuluhan tahun bermain saham di BEJ, melihat bahwa ini bukan saja ekspektasi yang berlebihan atas saham fb itu sendiri tapi kemungkinan dari nilai saham itu dalam jangka panjang, saya jadi ingat kasus demam dot.com di awal tahun 2000-an yang banyak merugikan investor karena penggelembungan harga perdana saat IPO.
Sebuah saham harusnya memiliki nilai fundamental jangka panjang diluar hitung-hitungan buku (Book Value) dimana nilai itu tercantum secara implisit dari potensi pasar yang akan diraih. Potensi utama pasar fb yang dijual pada IPO kemarin adalah ‘user’ dari fb. Tapi apa keuntungan peraihan user yang banyak itu bagi pertumbuhan nilai perusahaan? -fb belum menjadikan dirinya sebagai perusahaan transaksi besar di dunia, dan belum bisa menggantikan posisi Google. Apalagi Google terus melawan dengan membangun berbagai aplikasi-aplikasi baru yang kemungkinan bisa memperkecil pasar fb yang selama ini mau menggantikan posisi google sebagai ‘mesin pencari’ di Internet.
Ada yang aneh sejak awal IPO fb, yaitu penggelembungan nilai pada saat IPO oleh penjamin emisi-nya Morgan Stanley, entah penilaian apa yang ia lakukan, pada saat rumor keluar angka US$5 milyar pasar menjadi gempar, tapi nyatanya harga IPO melambung jadi US$ 18,4 milyar penggelembungan sampai 368% dari angka estimasi awal saja sudah menunjukkan, potensi keuntungan di pasar sekunder jadi selama jangka pendek, sudah ada penggerusan nilai fb dimana ‘ruang spekulasi’ bagi para banyak penggoreng harga tipis untuk melakukan pertumbuhan setidak-tidaknya 20% pada kuartal pertama setelah hari-H IPO.
Apakah saham fb memiliki potensi besar jangka panjang?, kemungkinan besar iya, karena dengan dana 156,6 trilyun fb bisa saja melakukan perambahan pasar-pasar baru, tapi ini musti ditunggu dan sifatnya masih spekulatif. -yang jelas dari sisi harafiah fundamental perusahaan, perusahaan fb ini hanya menyajikan ‘keunggulan jumlah user’ bukan sebagai sebuah situs transaksi besar atau situs pencari.

Selasa, 22 Mei 2012

Ibu, Kau Perempuanku

Katanya
Pahlawan adalah seseorang yang selalu berjasa tanpa pamrih
Itu ada pada dirimu
Katanya
Keikhlasan adalah memberi tanpa maksud untuk dipuji
Itu ada pada dirimu
Katanya
Kata-kata yang tak bisa aku ceritakan. Dari mana aku harus memulai semua ini, kalau sementara aku benar-benar menghormatimu. Sering aku mengeluh pada dirimu..namun tak sedikitpun terlihat kerut alis di wajahmu.
Ibu…..kau pahlawanku
Kau yang telah banyak berjuang hingga kini
Hingga waktu tak pernah mau jadi saksi atas dirimu
Riwayatmu selalu ada dalam detak jantungku
Takkan kikis oleh kerasnya kehidupan, terjalnya perjuangan
Bersamamu aku bahagia.

Sabtu, 21 April 2012

Kartini, Jendela Modernisasi Indonesia




Politik Kartini, pada awalnya adalah “Politik Bahasa”, Belanda mampu menguasai Nusantara dengan dua hal : “Bahasa dan Tata Buku”. Dari Bahasa inilah Kartini kemudian mempertanyakan ‘bagaimana dunia bekerja’.

Sejarah Pemikiran RA Kartini, tak lepas dari kerja politik kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, Bupati Demak yang pertama kali memperkenalkan politik bahasa untuk memahami bagaimana kekuasaan Belanda secara substansi bekerja dalam struktur masyarakat Indonesia. Pangeran Ario Tjondronegoro, diangkat menjadi Bupati Demak sekitar tahun 1840-an tak lama setelah selesainya perang Diponegoro. Pangeran Ario Tjondronegoro mempelajari bahwa kekalahan Diponegoro adalah dimulai sebuah jaman baru dimana orang Jawa harus secara detil bisa mempelajari ilmu pengetahuan Eropa lewat bahasa. Saat itu juga mulai berkembang ide-ide rasional bangsa barat yang kemudian dapat dipahami sebagai langkah awal pemahaman manusia dalam menguasai Ilmu Pengetahuan. ‘Ilmu Rasional’ inilah yang kemudian dipelajari dengan detil oleh Pangeran Ario Tjondronegoro. Di umur 25 tahun, Pangeran Ario Tjondronegoro menjabat sebagai bupati Demak. Dialah Bupati yang pertama kali menguasai bahasa Belanda dengan sempurna. Pangeran Ario Tjondronegoro IV juga mengembangkan perpustakaan barat pertama yang kelak menjadi amat berguna bagi dua cucunya yang cerdas : RA Kartini dan Drs. RMP Sosrokartono.

Pangeran Ario Tjondronegoro mengharuskan anak-anaknya untuk menguasai bahasa Belanda. “Jika kalian ingin mengetahui bagaimana rahasia ilmu pengetahuan dan budaya modern, sehingga bangsa Jawa takluk pada orang kulit putih, pelajari bahasa-nya”. Pesan ini dipegang baik-baik oleh dua orang putera Pangeran Ario Tjondronegoro, yaitu : Raden Mas Adipati Aryo Adiningrat dan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Pada permulaan abad 20, di tahun 1900 hanya ada empat bupati yang menguasai bahasa Belanda dengan sempurna, dan menggunakan administrasi pemerintahan resmi dengan bahasa Belanda yaitu : RM Sosroningrat, ayah Kartini (Bupati Jepara), RM Adiningrat, Bupati Demak, Paman Kartini, Bupati Serang RM Djajadiningrat dan Bupati Ngawi, Pangeran Kusumo Utoyo.

Saat itu ada gerakan diam-diam di kalangan elite Jawa untuk memulai suatu pergerakan besar untuk menentang penjajahan Belanda. Gerakan ini kerap luput dicatat dalam banyak buku-buku sejarah, karena gerakan para bangsawan Jawa ini tersembunyi dan tidak kelihatan, kebanyakan sejarawan menilai pergerakan anti penjajahan Belanda yang dilakukan secara modern, hanya bermula pada tahun 1908 ketika Boedi Oetomo. Padahal pergerakan penentangan penjajahan Belanda yang dilakukan diam-diam para bangsawan ini kemudian mampu mendesak adanya politik etis yang mengatalisator dikenalnya system pendidikan modern.

Pada tahun 1880-an, RM Sosroningrat sendiri mengajukan pendapat untuk dibentuk persatuan bupati di tanah Jawa dan diusahakan dikenalkan pendidikan bahasa Belanda agar Bupati tidak memahami konsep pemerintahan modern. Anjuran dari RM Sosroningrat kemudian disambut oleh Bupati Cirebon dan kemudian terjadi gelora dalam menguasai Bahasa Belanda. Kartini kecil beruntung tumbuh dalam situasi yang membuatnya memiliki akses terhadap bahasa Belanda. Di umur 7 tahun ia sudah pandai membaca buku berbahasa Belanda. Ayahnya membuat perpustakaan lengkap yang bukunya merupakan warisan Pangeran Ario Tjondronegoro dan ada supplier dari pedagang buku di Batavia yang tiap bulan mengirim buku, koran dan majalah bernama Jan Wilkers.

Kakak Kartini, Sosrokartono bahkan bisa menguasai 34 bahasa, dia seorang polyglot (orang yang menguasai banyak bahasa) paling terkenal pada jamannya. Sosrokartono juga dikenal sebagai ahli kebatinan paling legendaris yang dikenal orang Jawa.

Banyak yang mengira arti penting Kartini adalah hanya sebagai penulis surat-surat dalam bahasa Belanda, Kartini hanya seorang Jawa yang ‘dibelanda-kan’. Padahal dan ini yang harus kita mengerti semua, Kartini adalah ‘Pembuka pemikiran dari keseluruhan jaman modern di Indonesia’. Dan kaum perempuan Indonesia boleh bangga, bahwa yang membuka Indonesia ke dalam jaman modern, jaman rasional, jaman intelektual-dialektis, adalah seorang Perempuan Jawa dari Jepara : Kartini.

Pengenalan Kartini terhadap buku-buku asing pada awalnya adalah buku kanak-kanak, lalu novel-novel kemudian berkembang ke buku-buku politik dan sosialisme yang menyadarkan posisi manusia dalam masyarakat. Kartini membaca de Vrouw en Sosialisme yang banyak membuka pemahaman Kartini tentang bagaimana sejarah masyarakat dan kedudukan perempuan dalam masyarakat ditilik dari pandangan Sosialisme, Kartini juga membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sejarah Tanah Air Belanda), bahkan Kartini menyebut : “Buku ini adalah yang paling aku suka, karena menyadarkan arti penting tanah air”. Ketika membaca buku Sejarah Tanah Air Belanda, Kartini menyebut dengan khusus gerakan Watergauzen, -sebuah kesatuan gerak rakyat jelata untuk mewujudkan suatu bangsa-. Sayangnya surat-surat Kartini yang berbau sosialis diberangus pemerintahan Belanda, disortir, sehingga surat-surat Kartini yang muncul keluar hanya surat ‘rasa penasaran seorang perempuan Jawa’ tentang kehidupan di luar tembok keraton kadipaten.

Gagasan besar Kartini tentang pikiran-pikiran modern adalah tancapan yang luar biasa pondasi dasar kemodernan Indonesia, Indonesia diajak masuk ke dalam sebuah jaman baru, jaman dimana Eropa menemukan kebesarannya. Disini Kartini tidak mengajak orang Indonesia menjadi orang Eropa tapi mengajak menemukan rahasia kebesaran bangsa Eropa. Dalam surat-surat Kartini, ia menemukan pandangan baru soal geopolitik, nasionalisme, posisi perempuan dalam masyarakat, sistem edukasi yang bertahap tapi menyeluruh ke seluruh lini masyarakat, pembongkaran penindasan kaum feodal dan kritiknya terhadap kelas-kelas di masyarakat.

Kartini memang bukan pahlawan yang bertindak, ia pemikir, ia penggagas, bahkan ia sendiripun kalah dalam mempertahan idealisme-nya di dunia nyata, menjelang perkawinannya ia amat toleran terhadap sistem feodal yang awalnya dikritik sebagai sebab pemula hancurnya bangsa Jawa, ia rela menjadi isteri ketiga Bupati, disini Kartini entah sengaja atau tidak mempertahankan kelasnya dan kenyamanan. Ia tidak keluar menuju satu jaman yang diimpikannya, padahal surat undangan belajar di Sekolah Guru di Batavia sudah tergeletak di ruang pendopo Kabupaten, tapi ia menampik dan memilih menjadi isteri ketiga seorang Bupati Rembang.

Salah satu jasa terbesar Kartini adalah ‘munculnya gerakan etis, dan memaksa pemerintah Hindia Belanda membentuk pos anggaran pendidikan lebih besar, membuka pintu lebar-lebar untuk pendidikan bagi anak-anak pribumi. Orang-orang seperti Sukarno, SM Kartosoewirjo, Semaoen, Musso atau Hatta adalah anak-anak kandung yang dihasilkan dari perjuangan Kartini dalam menuntut pendidikan barat. Dari tangan Kartini-lah, era pergerakan berubah total dari era penuh mitos, sakralitas Perang Diponegoro yang kuno menuju suatu perang pemikiran yang lebih lugas, sesuai jaman dan bahkan mampu menjebol rahasia-rahasia penindasan masyarakat.

Setelah meninggalnya Kartini, pergerakan intelektual Indonesia berkembang amat hebat. Pikiran-pikiran Kartini pada awalnya dijual oleh kelompok sosialis di Parlemen Belanda untuk menggebuk kelompok konservatif dan liberal, awalnya kelompok liberal bersekutu dengan kelompok sosialis namun ketika kelompok sosialis mulai menunjukkan tuntutan yang lebih ganas terhadap hak-hak asasi manusia dan merugikan kelompok liberal yang didukung oleh pengusaha-pengusaha perkebunan menjadikan kelompok liberal beralih bersekutu ke kelompok konservatif. Di tangan partai politik liberal Belanda pikiran Kartini hanya dijadikan etalase suatu kebanggaan bahwa Bangsa Belanda merupakan kiblat baru dalam pemikiran intelektual seorang Perempuan Jawa.

Ketika bangsa Jepang berhasil menghancurkan armada laut Russia di tahun 1905, semangat nasionalisme berkobar dimana-mana, gerakan nasionalisme ini juga mempengaruhi banyak pemikir-pemikir baru yang mulai melakukan diskusi-diskusi politik. Di tahun 1900-an awal, pusat diskusi politik paling penting berada di Solo. Banyak kaum pergerakan dari Sumatera dan luar Jawa mengunjungi Solo untuk berdiskusi dengan kelompok-kelompok radikal yang tercerahkan. Salah satu dedengkot dalam diskusi nasionalisme itu adalah dokter Tjiptomangoenkusumo. Yang biasa dijuluki ‘Onze Tjip’. Dokter Tjipto bisa dikatakan sebagai penyuluh pertama kali tentang nasionalisme Indonesia, pidato pada pertemuan kecil pertama kali ia lakukan di Solo, di Belakang Pasar Legi tentang uraian-uraian nasionalisme, dokter tjipto memiliki kumpulan diskusi di rumah Raden Mas Djojopanatas, yang memiliki jaringan pergerakan radikal para saudagar Jawa. Djojoopanatas adalah orang penting dibalik pembentukan gerakan Rekso Rumekso yang merupakan jaringan dagang-politik pertama kali bagi orang Jawa dan sebagai cikal bakal terbentuknya Sarekat Dagang Islam. Dulu kata ‘Islam’ tidak hanya berkonotasi pada agama, tapi juga ‘rakyat’ secara keseluruhan. Dalam diskusi-diskusi di rumah Djojopanatas inilah kemudian pemikiran Kartini diangkat kembali sebagai tema besar dalam perlawanan penjajahan Belanda, jadi logika politiknya dibalik.

Di tahun 1921, Sukarno muda bertemu dengan Dokter Tjipto, lalu Sukarno muda disuruh dengan detil membaca surat-surat Kartini. Disini kemudian dr. Tjip membuat uraian menyeluruh bahwa “Bahwa nasionalisme Indonesia tak lepas dari pembebasan perempuan itu sendiri” awalnya pandangan dr. Tjipto ini amat maju, tapi kemudian gerakan perempuan Indonesia diredusir oleh Bung Karno hanya sebagai ‘gerakan penyatuan atas perempuan dan laki-laki dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia’. Kesadaran perempuan digeser bukan sebagai bagian perjuangan dalam memahami ‘perempuan sebagai manusia yang utuh dan merombak struktur dunia laki-laki yang menindas tubuh dan pikiran mereka’ tapi hanya lebih pada gerakan penyatuan ‘komunal’ dalam merebut kemerdekaan. Arus inilah yang kemudian menjadi utama selama hampir 50 tahun dalam sejarah pergerakan perempuan Indonesia, sampai pada kejatuhan Sukarno di tahun 1965.

Tapi bagaimanapun juga redusir Sukarno terhadap interpretasi gerakan perempuan membawa gerakan perempuan menemukan kembali pemaknaannya setidak-tidaknya pemaknaan dari ‘tahap pertama penemuan peran perempuan di kalangan masyarakat’, pidato Sukarno di tahun 1932 pada sebuah pertemuan politik di Solo ““Saat ini perjuangan kaum perempuan yang terpenting bukanlah demi kesetaraan, karena dibawah kolonialisme laki-laki juga tertindas. Maka, bersama-sama dengan laki-laki, memerdekakan Indonesia. Karena hanya dibawah Indonesia yang merdekalah, kaum perempuan akan mendapatkan kesetaraannya”. Ditengah-tengah ombak besar nasionalisme yang siang malam menyerbu mimpi-mimpi para pemuda, mayoritas kelompok lainnya memfokuskan diri semata pada pendidikan, pemberantasan buta huruf dan soal-soal keperempuanan. Meskipun hal ini juga amat penting, namun tampa keterlibatan dalam perjuangan kemerdekaan, semua persoalan kesetaraan akan gagal menghasilkan pembebasan dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun” pidato Sukarno inilah yang membuktikan bahwa “GERAKAN PEMBEBASAN PEREMPUAN BUKANLAH BAGIAN DARI PEMIKIRAN ASING, PEMIKIRAN BARAT TAPI BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI SEJARAH INDONESIA MEMBENTUK KEMERDEKAANNYA, DAN MENJADI ALASAN PENTING KENAPA INDONESIA HARUS BERDIRI”.

Pergerakan perempuan di Indonesia pada hakikatnya sudah tumbuh sejak lama, bukan dari gerakan-gerakan yang dituduh oleh sekelompok orang sebagai bagian dari budaya liberal barat, gerakan perempuan di Indonesia sudah menjadi bagian sejarah yang utuh gerak bangsa ini. Pemogokan-pemogokan buruh dan perlawanan untuk mempertanyakan kemerdekaan ditemukan pada gerakan perempuan, dulu di awal tahun 1920-an ada gerakan perempuan bernama ‘Caping Kropak’ yang diorganisir oleh Sarekat Rakyat dengan arsiteknya adalah Semaoen, gerakan ini mampu menekan gubernemen meminta pada penguasaha perkebunan untuk memperhatikan kesejahteraan perempuan.

Pergerakan perempuan di jaman modern, masuk dalam keterlibatan perempuan merebut kemerdekaannya, gerakan ini menjadi luruh dalam persamaan gerakan lelaki, sehingga tidak lagi ada anatomi yang mendasar dalam penjelasan problematika perempuan secara utuh di masa pergerakan, masa kemerdekaan dan masa Revolusi Sukarno.

Gerakan perempuan menjadi lebih menarik dianatomi, ketika gerakan perempuan itu sendiri dihancurkan oleh para Jenderal-Jenderal Negara Orde Baru dalam sebuah penghancuran bertahap, sistematis, dan terarah untuk membentuk suatu peradaban baru Indonesia yang makmur. Penghancuran ini menjadi bagian yang gradual terhadap penghancuran pendukung Sukarno, penghancuran gerakan pemuda, penghancuran gerakan politik di luar sistem dan penghancuran peran perempuan dalam mesin sosial politik.

Tubuh Djamilah, seorang pelacur yang ditangkap dan dijadikan ‘Gerwani’ adalah politik penghancuran pertama kali Gerakan Perempuan di Indonesia. Dalam ‘prasangka’ terhadap tubuh Djamilah itulah kemudian gerakan perempuan paling agresif dan paham realitas persoalan masyarakat, menemukan kiamatnya. Ribuan perempuan yang dituduh terafiliasi Gerwani dimasukkan ke dalam penjara, dihina tubuhnya, dan dipermainkan nasibnya oleh Negara. Disini kemudian Negara berubah menjadi monster yang menakutkan dan mengawali sebuah peradaban baru dimana keseluruhan lini gerakan perempuan ditaklukan dan dijadikan budak atas kemauan negara.

Dalam Negara Orde Baru, penguasaan terhadap sumber-sumber Kapital menjadi mutlak ditangani Negara dan tidak boleh diganggu gugat oleh pergerakan rakyat. Rakyat disini harus menjadi objek atas ketertiban masyarakat, dan perempuan adalah “Pergerakan Rakyat yang Paling Rapuh, sekaligus instrumen yang paling kuat dalam indoktrinasi” maka penghancuran terhadap gerakan perempuan di tahun 1965 lewat tubuh Djamilah itu kemudian dibarengi dengan pembangunan tubuh perempuan yang lain, yang ideal, yang memenuhi kaidah moralitas Orde Baru. Lalu Orde Baru menamakan tubuh perempuan itu sebagai ‘Dharma Wanita dan PKK”.

Degradasi peran intelektual Perempuan yang amat parah berada pada Dharma Wanita, dimana tubuh dan pikiran perempuan dibentuk sebagai ‘pendamping laki-laki’. Namun Orde Baru juga dengan cerdas mengarahkan tubuh perempuan ke dalam bentuk ‘kerja’ sebuah kerja besar bersama dalam PKK. Disini Orde Baru mengarahkan perempuan untuk menjadi ‘volunteer’ atas problem-problem kemasyarakatan seperti kesehatan dan pendidikan, tapi Orde Baru tidak menghitung ‘kerja’ perempuan itu ke dalam angka nominal yang harus dimasukkan ke dalam Pos Pemasukan Negara dan dikembalikan lewat pemasukan pajak kepada gerakan perempuan itu sendirim jadi kerja bakti perempuan adalah kerja gratis. ‘Gerakan kerja bakti’ perempuan ini ternyata membangun dunia kesehatan publik paling spektakuler dalam sepanjang sejarah Indonesia modern, adanya Posyandu dan membangun gerakan kesehatan perempuan lebih maju dan tidak perlu adanya gerakan besar. Disatu sisi Orde Baru membangun memenjarakan pikiran dan tubuh perempuan, disisi lain Orde Baru justru memberikan ruang gerak tanpa sengaja menjadikan perempuan sebagai bagian paling penting kerja masyarakat.

Reformasi 1998 adalah babak pembuka demokrasi, keterbukaan menjadi substansi segala-galanya dalam masyarakat baru Indonesia. ‘Perempuan yang dimasa Sukarno dimasukkan ke dalam satu struktur komunal perjuangan bersama menuju mimpi Sukarno yaitu : Trisakti : Kemandirian ekonomi, Kemandirian Politik dan Berkepribadian dalam Kebudayaan, dimasa Suharto perempuan dipaksa tubuh dan pikirannya dalam struktur negara, maka di masa reformasi perempuan juga tak lepas dari prasangka yang dibuat atas nama agama dan kultural’. Pembebasan perempuan di masa reformasi lebih rumit tapi juga memiliki kemajuan luar biasa dalam mendefinisikan perempuan sebagai bagian utama kesetaraan gender.

Politik atas tubuh dan pikiran perempuan mendapatkan tempatnya dalam gerakan besar dunia yang bernama ‘Gender Mainstreaming’ atau yang disebut juga Pengarusutamaan Gender (PUG).

Pengarusutamaan Gender, bukan saja gerakan menganalisa ketertindasan perempuan tapi juga menganalisa kesetaraan bagi laki-laki, anak-anak, dan peluang akses mereka dalam menyentuh hak Kapital. Inilah langkah maju tersebut, Perempuan yang selama ini diasingkan dalam proses penentuan masa depannya sendiri menjadi memiliki hak yang lebih lugas. Problem terpenting perempuan saat ini adalah ‘keadilan mendapatkan hak akses ekonomie dalam sektor lapangan kerja’. Ketidakadilan inilah yang kerap ditopang bahwa perempuan ‘adalah pengganggu’ dalam struktur dunia yang diciptakan laki-laki.

Sumber-sumber Kapital yang dikuasai oleh Negara juga kerap terancam oleh hak-hak kaum perempuan, bila di jaman Suharto, kaum Perempuan dirampok hak-hak ekonomie-nya maka di jaman reformasi perempuan juga diasingkan dalam hak-hak ekonomie yang dibentuk dengan sekumpulan prasang-prasangka atas tubuh perempuan. RUU Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, sebagai misal adalah proyek Negara dalam mencaplok tanah-tanah rakyat yang digunakan untuk negara atau swasta, legalitas UU ini bisa memberikan kekuasaan negara berlaku kriminal terhadap pemilik tanah dengan menembaki mereka yang menolak lahannya dicaplok. Perempuan juga banyak merugi dengan adanya UU ini karena bila lahan diambil biasanya yang menanggung beban adalah perempuan, mereka akan mengalami pekerjaan beban berat berganda, karena biasanya kaum lelaki setelah hak lahannya tercabut tidak segera mendapatkan akses ekonomie lain, sementara kaum perempuan terasa lebih bertanggung jawab terhadap makan anak-anak mereka.

Kaum perempuan juga sering mengalami penindasan kultural, dalam perkawinan mereka kerap dijadikan alat jual beli dalam hukum adat, sehingga perkawinan itu bukan lagi dijadikan sebagai ‘Memanusiakan kemanusiaan’ tapi sebuah ‘Pemaksaan yang diluar kendali manusia’. Banyak problem perempuan yang harus digali oleh masyarakat seperti problem kesehatan, problem ancaman kematian saat melahirkan bayi, dan kesehatan gizi anak-anak yang kerap menjadi beban kaum perempuan dan negara tak ambil peduli.

Problem perempuan yang sedemikian rumit karena tak mendapatkan hak akses ekonomie yang setara, hak tanggung jawab yang juga setara karena adanya prasangka, menjadikan pikiran-pikiran Kartini menemukan aktualitasnya. Seperti surat Kartini pada Nyonya Van Kool, tahun 1901 : “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya.

Negara dan Masyarakat sampai saat ini masih salah kaprah dengan menggunakan tradisi Orde Baru yang memberikan prasangka atas tubuh perempuan dalam memperingati “Hari Kartini” dengan menggunakan pakaian adat tradisional, bukannya malah mengenalkan pemikiran-pemikiran pembaharuan atas hak tubuh dan hak pikiran perempuan yang lebih merdeka.

Dari Kartini, kita banyak belajar untuk peradaban Indonesia yang lebih maju dan memanusiakan manusia.


 Jogjakarta, 21 April 2012

Selasa, 17 April 2012

Yang paling disukai perempuan adalah drama, sesederhana apapun perempuan itu ia pasti menyukai drama, perempuan tak akan pernah bisa melihat mawar merah, seperti kembang merah biasa yang melar dalam rautan pagi, ia akan melihat mawar merah seperti lukisan dimana garis-garisnya adalah perasaan.

Dalam mata perempuan, keseluruhan hidupnya adalah drama, ia senang menangis, karena dalam tangisan ada keindahan, mungkin hanya perempuan yang tau letak keindahan menangis itu dimana. Ia merasakan bahwa cinta bukanlah sekedar cumbu dan kecupan kening, tapi ketika kecupan kening itu datang, maka ia menggambarkan dunia ini seperti dikepung ribuan pelangi.

Itulah perempuan, ia senang dengan drama, ia menjadikan kehidupan ini indah, seimbang dan penuh senyum. Hanya sayang lelaki selalu datang dan mengajarinya bagaimana berkelahi dan membentak realitas.

Pahami perempuan dalam bentuk drama-nya, maka engkau akan paham apa mau-nya ketika ia diam.