Foto Atas : Pram Semasa Muda....
(Pramoedya Ananta Toer, Pengarang Terbesar Indonesia)
Revolusi Belum Selesai Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II
Et,
Kalau orang tidak pernah atau tidak mau ceritai kau tentang Revolusi Indonesia, biar aku yang mendongeng untukmu. Siapa tahu cerita itu bisa jadi imbangan bagi kondisi kesehatanmu yang kurang menguntungkan. Siapa tahu, ya siapa tahu! Tak sekurang-kurangnya orang yang mendapat kekuatan dari sebuah cerita.
Pada waktu Proklamasi diucapkan, tak ada yang menduga, di Indonesia bakal meletup suatu revolusi, menjamah daratan dan perairan. Pengucapnya, Soekarno, ideolog, brahmana, mewakili para ideolog, para Brahmana Indonesia, dari ujung rambut sampai telapak kaki, menyuarakan Proklamasi itudengan keraguan – ragu terhadap masa lewat rakyatnya yang dikenalnya belum cukup mewakili kekuatan dan kemauan politik, ragu terhadap masa mendatang yang diwakili oleh kemungkinan tindakan kekerasan dari pihak bala tentara Jepang lain yang mendukung Proklamasi, lebih lagi pada Sekutu, pemenang Perang Dunia II.
Proklamasi kemerdekaan diucapkan. Kenyataannya: seperti dalam dongengan, suatu krisi revolusioner mendadak menyingkap didepan mata, seperti tabir itu tiba-tiba terbuka dan panggung terpampang. Belum, Et, belum revolusi itu sendiri. Krisis revolusioner itu adalah titik puncak keadaan sosial, ekonomi dan politik. Orang sudah tak lagi lebih lama dapat menenggang keadaan yang morat-marit, kemelaratan yang sudah menghalau orang ke lubang atau tepian kuburan, dan di bidang politik dan kekuasaan ada terjadi vakum. Pendeknya, pada waktu itu, barang siapa jadi melihat keadaan dan berani tampil memimpin, dia akan jadi pemimpin. Dan, Et, krisis revolusioner yang menjadi puncak keadaan ini, sayang, bukan karena faktor subyektif Indonesia, dia berjalan secara sosial-alamiah, karena dimungkinkan oleh vakum kekuasaan kolonial. Sayang. Ya, sayang. Sekiranya pendorong utamanya faktor subyektif Indonesia, perkembangan akan menjadi lain, lebih jernih, lebih terpimpin. Apa daya, justru pare ideolognya sendiri ragu sudah pada titik awal.
Waktu Soekarno-Hatta hendak bicara di hadapan rapat raksasa di Lapangan Ikada (lapangan Gambir bagian tenggara) kami bertiga sudah siap mendengarkan di lapangan itu. Yang kumaksud dengan kami adalah Abdul Kadir Hadi, Soekirno dan aku sendiri. Kami memasuki lapangan dari jalan raya di selatannya. Waktu itu di pinggir kanan jalan telah berderet beberapa tank dan panser Jepang. Di antarab dua kendaraan baja itu kami masuk, ke lapangan. Tanpa kecurigaan. Tanggal berapa waktu itu? 19 September 1945!
Lapangan itu benar-benar sudah penuh dengan barisan yang bersaf-saf. Setiap padanya membawa papan nama kesatuannya – Barisan Pelopor dan Banteng seluruh Jakarta. Juga pada luarnya di belakang barisan ini berjubel orang-orang seperti kami, tanpa ikatan organisasi. Sorak-sorai dan pekikan semua barisan di depan dan tengokan kepala mereka kearah selatan, tiba-tiba membuat kami bertiga menjadi sadar: gelora suara yang membelah langit itu ternyata ditujukan kepada tentara Jepang. Mereka pada bersenjata bambu runcing, parang, dan mungkin juga belati atau keris. Dengan sendirinya kami bertiga, yang tidak bersenjata, terbungkuk-bungkuk mencari batu. Aku sendiri mendapat tidak lebih dari tiga yang kumasukkan ke dalam kantong celana. Satu tetap dalam genggaman.
Rasanya begitu lama kami menunggu dalam ketegangan. Yang diharap-harapkan tak kunjung muncul. Nah, waktu iring-iringan memasuki jalan tepian bagian selatan lapangan – bukan yang kami lalui waktu masuk – dari kejauhan nampak mobil-mobil itu dihentikan oleh serdadu Jepang. Rasanya kami tak habis-habis menunggu. Barisan-barisan semakin riuh-rendah mengelu-elukan Soekarno-Hatta, Presiden dan Wakil Presiden RI pertama. Insiden itu membikin suasana semakin tegang. Tak ada yang bisa mendengar pembicaraan diantara mereka. Sesuatu yang tidak beres terasa mengawang di udara. Dan di geladak panggung tinggi, seperti sebuah menara pengintaian, berdiri beberapa serdadu Jepang bersenjata. Pengeras suara yang memberitakan kedatangan Presiden dan Wakil Presiden tak berdaya menghadapi sorak-sorai dan pekik-jerit. Akhirnya iring-iringan berjalan terus. Dan waktu Presiden tampil, keadaan menjadi senyap. Di podium suaranya terdengar lunak: tenang, pulanglah dengan tenang. Kemudian rombongan meninggalkan tempat. Takkan ada tambahan pada kata-kata lunak tersebut. Hanya protokol menunjukkan jalan keluar lapangan – jalan yang baru ditinggalkan iring-iringan Soekarno-Hatta.
Barisan demi barisan, tanpa membubarkan diri, meninggalkan lapangan melalui jalan yang telah ditentukan. Sorak-sorai, pekik-jerit, dan debu membubung memenuhi jalanan yang menjadi sempit. Di pinggiran jalan berjajar pohon palma, di bawahnya deretan truk terbuka dengan serdadu Jepang di geladaknya, semua bersenjata senapan bersangkur terhunus. Di tubuh jalanan: barisan-barisan yang berjejal. Serdadu-serdadu itu menghalau setiap orang yang dianggapnya terlalu dekat pada truknya. Menghalau dengan bedilnya dari atas geladak truk. Mula-mula tidak terjadis sesuatu. Tetap jalanan semakin mejadi padat. Barisan-barisan semakin melebar. Para serdadu Jepang semakin sibuk menghalau. Sembari memekin dan bersorak-sorai orang mulai membela diri dari ancaman bayonet dengan bambu runcing mereka. Massa yang gusar karena gagal mendengarkan Presidennya, mabuk oleh pekik, sorak-sorai, dan anggar laras senapan berbayonet dengan bambu runcing ….. dan itulah untuk pertama kali aku saksikan, bagaimana orang Indonesia sama sekali tidak lagi takut pada Dai Nippon dengan militernya yang mahsyur akan kekejaman dan kekejiannya. Krisis revolusioner sedang berkembang. Dan aku lihat, Et, seseorang dari barisan menghunus pedang dan menebas tangan salah seorang serdadu Jepang. Beberapa dari jarinya putus. Tetapi insiden tak berkembang lebih lanjut. Mereka tidak terprovokasi.
Inggris, atas nama Sekutu, mendarat. Dari R. Moedigdo, pamanku, seorang redaktur Domei, yang telah menjadi Antara, kudengar salah seorang rekannya, Sipahutar, salah seorang pendiri kantor berita itu pada tahun 30-an, berniat mendirikan panitia penyambutan. Tantangan, caci-maki dan penolakan dari rekan-rekannya membikin niat itu buyar. Tentara Inggris mulai membebaskan orang-orang Eropa tawanan Jepang dari kamp-kamp di wilayah Jakarta. Para bekas tawanan itu sebagian mereka persenjatai dan mulai menembaki penduduk. Juga serdadu-srdadu Jepang. Para pemuda Jakarta mulai menjaga keamanan lingkungannya masing-masing. Masa ini biasa dinamai “jaman siap”. Gelombang teriakan “siap” melanda lingkungan yang dimasuki oleh serdadu atau bekas tawanan yang mengamuk.
Sekarang krisis revolusioner itu beralih menjadi Revolusi yang sebenarnya. Kalau tadinya para pemuda mempersenjatai diri dan menjaga keamanan lingkungannya dari amukan Jepang dan bekas tawanan, di Medan Senen para paria sudah meninggalkan lingkungannya dan mulai menyerang. Mungkin ada orang Indonesia yang sudah jadi merah mukanya mendengar dongengku ini: Revolusi Indonesia dimulai oleh para paria Medan Senen. Apa boleh buat, itulah justru kesaksian yang dapat kuberikan. Yang menggerebak mukanya boleh punya dongeng sendir, sekiranya punya kesaksian lain. Dalam Abad ke-13 pun seorang paria yang mengawali babak Jawa-Hindu, meninggalkan Hindu-Jawa. Orang itu tak lain dari Ken Arok. Suksesnya menyebabkan sang paria ini diangkat menjadi putera Brahmana, Syiwa dan Wisynu sekaligus. Orang melupakan kenyataan: sebagai paria dia berada di luar semua kasta Hindu yang ada.
Hanya saja paria Medan Senen tak mampu mengangkat diri jadi pimpinan.
Cari Blog Ini
Kamis, 17 November 2011
Membaca Pikiran Sukarno
Tidak seperti Suharto yang berpikir bahwa kekuatan terbaik adalah diri sendiri, adalah kemampuan diri sendiri dan orang-orang terdekatnya dimana Suharto selalu memperhatikan keadaan orang-orang terdekatnya dan ia tidak pernah percaya pada kekuatan diluar lingkaran terdekatnya. Sukarno selalu berpikir bahwa kekuatan terbaik adalah "Sesuai Kebutuhan Sejarah". Apabila Suharto sangat percaya pada intuisi-nya maka Sukarno sangat percaya pada Intelektualitas dan kemampuannya dalam menafsirkan arah gerak sejarah. Dari arah gerak sejarah inilah Sukarno menentukan "Siapa Teman, Siapa Lawan".
Sukarno mendirikan PNI 1927 dengan memanfaatkan kehancuran total PKI. Disana ada kevakuman sejarah dan dengan lompatan luar biasa ia mampu menjadi "Pemimpin Nasional" Sementara semua jago-jago lama Komunis berlarian ke luar negeri dikejar intel Belanda dan Inggris, sebagian besar ditangkapi dan dipenjarakan ke Digul, Sukarno membangun ruang gerak baru bernama Nasionalisme dan sontak ia menjadi raksasa baru dan pusat perhatian seluruh bangsa. Sukarno dengan cepat menjadi pemimpin dengan memanfaatkan keadaan. -Sukarno dengan lihai memanfaatkan kehancuran PKI kemudian menjadikan Nasionalisme sebagai arus besar sejarah - inilah keberhasilan pertama Sukarno.
Di Jaman Jepang Sukarno memilih bergabung dengan Jepang, pertimbangannya sederhana : Apabila Jepang menang perang dalam pertempuran Asia Pasifik maka Indonesia langsung merdeka dan menjadi anggota Persekutuan Asia Timur Raya. Sukarno selalu melihat kondisi geopolitik. Di tahun 1931 dia selalu berbicara "Kemerdekaan Indonesia bergantung pada Perang Asia Pasifik" dan tidak ada satupun ahli politik serta pemimpin dunia yang memperkirakan ada perang Asia Pasifik hanya Sukarno yang berkata demikian, pada tahun 1942 saat Jepang mengebom Pearl Harbour dan Perang Pasifik dimulai barulah orang sadar bahwa Sukarno selalu mengatakan demikian 10 tahun sebelumnya. Saat mendengar kabar AS mengumumkan perang dengan Jepang, Sukarno berkata dengan Inggit "Nggit, Aku merasa inilah saatnya Indonesia Merdeka". Sukarno sudah paham lama satu-satunya kekuatan yang bisa mengusir Belanda adalah kekuatan luar dan ia harus memanfaatkan kekuatan luar.
Sukarno pulang ke Jakarta dan memanfaatkan kekuatan Jepang untuk mengeliminir semua aset Belanda dan menjadikan namanya tetap Flamboyan di tengah rakyat. Walaupun di Jaman Jepang ia dikatakan bertanggung jawab terhadap Romusha namun itu bukanlah kerjaan Sukarno, justru Sukarno yang meminta Jepang agar Indonesia punya kekuatan militernya sendiri. Sukarno paham kunci setelah Perang Pasifik adalah kekuatan militer antar wilayah dan Indonesia harus jadi tandem yang seimbang apabila Jepang menang perang atau kalau Jepang kalah perang maka Indonesia harus punya Angkatan Perang-nya untuk berhadapan dengan pemenang perang : 1. Amerika Serikat (menurut perhitungan Sukarno akan berpangkalan di Filipina dan menjadi dominasi di Asia Tenggara) 2. Inggris (berpangkalan di Malaya) 3. Sovjet Uni (Yang menurut perkiraan Sukarno akan mencari tempat baru di Asia Tenggara).
Asia Tenggara selalu menjadi titik perhatian Sukarno, ada dua wilayah Asia Tenggara yang dijajah oleh kekuatan lemah Internasional : 1. Indochina dan 2. Indonesia. Indochina dijajah Perancis dan Indonesia dijajah Belanda. Dua titik lemah inilah yang diperkirakan Sukarno akan dikuasai Moskow atau Peking. Disinilah Sukarno menempatkan dirinya sebagai pemain politik Internasional, langkah pertama yang ia lakukan adalah menghindari Indonesia menjadi satelit Moskow dan Peking. Ia melihat Peking masih lemah dan bisa ia manfaatkan setelah menjadi raksasa dunia sementara satu-satunya kekuatan besar adalah Moskow.
Akhirnya memang Moskow masuk ke Vietnam, tapi Cina-lah yang memenangkan perang di Vietnam. Sukarno adalah orang paling cerdik dalam memanfaatkan ini. Disatu sisi ia memegang Tan Malaka dengan melakukan deal politik untuk menyambungkan kekuatan laskar rakyat sebagai beking tentara resmi yang masih lemah, Sukarno menemui Tan Malaka pada September 1945. Kemudian di sisi lain ia pegang Sjahrir. Tujuan utama dari politik Sukarno 1945 adalah "Mencegah agar jangan Moskow bermain di Jawa" Apabila Moskow bermain di Jawa maka resikonya Belanda akan memanfaatkan kekuatan Amerika Serikat untuk menghantam Komunisme sebagai Project Pertama kali "Membendung Kekuatan Merah di Asia" yang memang sudah diperkirakan oleh Churchill sebelumnya, kata Churchill "Setelah Hitler, Musuh kita adalah Stalin". Maka Sukarno berpegang kuat-kuat pada doktrin Churchill ini, dan hanya ada dua kekuatan yang bisa menghindari Indonesia dari Moskow : Tan Malaka yang dibenci Moskow dan Sjahrir cs yang berkiblat pada Eropa Barat. Sukarno memanfaatkan dua orang ini sebagai tangan kanan dan tangan kirinya lalu berhasil. Sukarno dengan cerdas memperpendek perang dan kemudian ia melakukan perang besar selanjutnya : Revolusi Indonesia Sesungguhnya.
Revolusi Sukarno sesungguhnya adalah Revolusi Modal. Dan ini ia buktikan di tahun 1960, Sukarno tau bahwa Indonesia adalah negara paling kaya di muka bumi, dan kekayaan terbesar di Indonesia justru di wilayah Irian Barat. Irian Barat harus dijadikan lumbung modal Indonesia untuk menguasai politik di Asia Tenggara dengan menguasai politik di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi kekuatan nomor empat dunia setelah Amerika Serikat, Sovjet dan Cina, maka Sukarno memilih pembantu terdekatnya adalah Subandrio. Lagi-lagi Sukarno menunjukkan kejeniusan luar biasa, ia memanfaatkan kemampuan diplomasi Subandrio untuk menekan Kennedy. Sukarno menodong Kennedy apabila persoalan Irian Barat tidak beres maka AS akan menghadapi dua front di Asia Tenggara : Front Hanoi dan Front Jakarta. Kennedy mengalah dan memerintahkan Belanda mundur setelah 'Gertak' Sukarno dengan puluhan pesawat buatan Sovjet dan beberapa korvet yang siap menyerang ke Irian Barat dan mempermalukan Belanda.
Kennedy dimusuhi CIA setelah mengalah pada Bung Karno dan ditembak mati dengan meninggalkan cerita politik konspirasi. Lalu naiklah Lyndon B Johnson orang yang sangat keras dalam soal Asia Tenggara. Ia masuk ke Vietnam dengan brutal. Sukarno melihat bahwa persoalan Vietnam akan menjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa, ia berniat menghentikan perang di Vietnam dengan membangun poros persekutuan di luar AS. Sasaran antara Sukarno adalah Inggris dan mendepak Inggris dari Asia Tenggara. Karena bagi Sukarno, Inggris adalah otak bisnis di Asia Tenggara sementara Beking Keamanannya AS. Tapi Sukarno tau bahwa berhadapan dengan AS langsung tidak akan bisa maka Sukarno memperhatikan perkembangan politik di Peking. Mao sedang naik daun, kekuatan merahnya menggetarkan Amerika Serikat, Sukarno ingin memanfaatkan Mao Tse Tung bertarung langsung dengan AS di Asia Tenggara, Sukarno yakin Mao pasti menang karena keinginan utama AS bukanlah perang tapi dagang. Ini dibuktikan ketika Amerika mundur secara memalukan dari Perang Korea.
Maka untuk melancarkan hegemoni Indonesia di Asia Tenggara, Sukarno membuka front dengan Inggris di Kalimantan Utara. Lagi-lagi Sukarno menggunakan politik gertak. Apabila penguasaan Irian Barat, Sukarno memanfaatkan panasnya politik AS-Sovjet. Maka dalam kasus Ganjang Malaysia sesungguhnya Sukarno sedang nge-test Cina sebagai kekuatan di Asia. Dengan memanfaatkan kekuatan Cina maka Indonesia akan bisa memperpendek perang di Vietnam dan menghentikan pembantaian Amerika disana. Dengan menguasai hegemoni di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi negara paling kaya di Asia setelah Cina.
Tapi pemikiran Sukarno yang melompat jauh ke depan, pemikiran Sukarno yang sudah paham tentang pertarungan modal tidak pernah mampu dibaca tandem-tandem politik di dalam negeri. Terbukti Sukarno diboikot Jenderal-Jenderalnya sendiri dalam kasus Ganjang Malaysia. Sukarno dikentuti orang-orang yang belagak Intelektual tapi tidak bertanggung jawab.
Apabila Sukarno berhasil memainkan politik Ganjang Malaysia maka Irian Barat tidak akan jatuh ke Freeport, sepenuhnya kekayaan alam Indonesia dibangun untuk bangsa Indonesia dan kekayaan negara. Tidak ada yang namanya sekolah harus bayar, Rumah Sakit harus bayar. Indonesia akan diciptakan oleh Sukarno sebagai negara paling memakmurkan rakyatnya dan memang step pertamannya adalah menciptakan struktur modal.
Inilah kejeniusan Sukarno yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua, dialah bapak bangsa yang mewarisi kekayaan nasional bangsa Indonesia. Bukan mewarisi hutang ribuan trilyun seperti yang dilakukan Suharto dan mungkin juga SBY.
Sukarno mendirikan PNI 1927 dengan memanfaatkan kehancuran total PKI. Disana ada kevakuman sejarah dan dengan lompatan luar biasa ia mampu menjadi "Pemimpin Nasional" Sementara semua jago-jago lama Komunis berlarian ke luar negeri dikejar intel Belanda dan Inggris, sebagian besar ditangkapi dan dipenjarakan ke Digul, Sukarno membangun ruang gerak baru bernama Nasionalisme dan sontak ia menjadi raksasa baru dan pusat perhatian seluruh bangsa. Sukarno dengan cepat menjadi pemimpin dengan memanfaatkan keadaan. -Sukarno dengan lihai memanfaatkan kehancuran PKI kemudian menjadikan Nasionalisme sebagai arus besar sejarah - inilah keberhasilan pertama Sukarno.
Di Jaman Jepang Sukarno memilih bergabung dengan Jepang, pertimbangannya sederhana : Apabila Jepang menang perang dalam pertempuran Asia Pasifik maka Indonesia langsung merdeka dan menjadi anggota Persekutuan Asia Timur Raya. Sukarno selalu melihat kondisi geopolitik. Di tahun 1931 dia selalu berbicara "Kemerdekaan Indonesia bergantung pada Perang Asia Pasifik" dan tidak ada satupun ahli politik serta pemimpin dunia yang memperkirakan ada perang Asia Pasifik hanya Sukarno yang berkata demikian, pada tahun 1942 saat Jepang mengebom Pearl Harbour dan Perang Pasifik dimulai barulah orang sadar bahwa Sukarno selalu mengatakan demikian 10 tahun sebelumnya. Saat mendengar kabar AS mengumumkan perang dengan Jepang, Sukarno berkata dengan Inggit "Nggit, Aku merasa inilah saatnya Indonesia Merdeka". Sukarno sudah paham lama satu-satunya kekuatan yang bisa mengusir Belanda adalah kekuatan luar dan ia harus memanfaatkan kekuatan luar.
Sukarno pulang ke Jakarta dan memanfaatkan kekuatan Jepang untuk mengeliminir semua aset Belanda dan menjadikan namanya tetap Flamboyan di tengah rakyat. Walaupun di Jaman Jepang ia dikatakan bertanggung jawab terhadap Romusha namun itu bukanlah kerjaan Sukarno, justru Sukarno yang meminta Jepang agar Indonesia punya kekuatan militernya sendiri. Sukarno paham kunci setelah Perang Pasifik adalah kekuatan militer antar wilayah dan Indonesia harus jadi tandem yang seimbang apabila Jepang menang perang atau kalau Jepang kalah perang maka Indonesia harus punya Angkatan Perang-nya untuk berhadapan dengan pemenang perang : 1. Amerika Serikat (menurut perhitungan Sukarno akan berpangkalan di Filipina dan menjadi dominasi di Asia Tenggara) 2. Inggris (berpangkalan di Malaya) 3. Sovjet Uni (Yang menurut perkiraan Sukarno akan mencari tempat baru di Asia Tenggara).
Asia Tenggara selalu menjadi titik perhatian Sukarno, ada dua wilayah Asia Tenggara yang dijajah oleh kekuatan lemah Internasional : 1. Indochina dan 2. Indonesia. Indochina dijajah Perancis dan Indonesia dijajah Belanda. Dua titik lemah inilah yang diperkirakan Sukarno akan dikuasai Moskow atau Peking. Disinilah Sukarno menempatkan dirinya sebagai pemain politik Internasional, langkah pertama yang ia lakukan adalah menghindari Indonesia menjadi satelit Moskow dan Peking. Ia melihat Peking masih lemah dan bisa ia manfaatkan setelah menjadi raksasa dunia sementara satu-satunya kekuatan besar adalah Moskow.
Akhirnya memang Moskow masuk ke Vietnam, tapi Cina-lah yang memenangkan perang di Vietnam. Sukarno adalah orang paling cerdik dalam memanfaatkan ini. Disatu sisi ia memegang Tan Malaka dengan melakukan deal politik untuk menyambungkan kekuatan laskar rakyat sebagai beking tentara resmi yang masih lemah, Sukarno menemui Tan Malaka pada September 1945. Kemudian di sisi lain ia pegang Sjahrir. Tujuan utama dari politik Sukarno 1945 adalah "Mencegah agar jangan Moskow bermain di Jawa" Apabila Moskow bermain di Jawa maka resikonya Belanda akan memanfaatkan kekuatan Amerika Serikat untuk menghantam Komunisme sebagai Project Pertama kali "Membendung Kekuatan Merah di Asia" yang memang sudah diperkirakan oleh Churchill sebelumnya, kata Churchill "Setelah Hitler, Musuh kita adalah Stalin". Maka Sukarno berpegang kuat-kuat pada doktrin Churchill ini, dan hanya ada dua kekuatan yang bisa menghindari Indonesia dari Moskow : Tan Malaka yang dibenci Moskow dan Sjahrir cs yang berkiblat pada Eropa Barat. Sukarno memanfaatkan dua orang ini sebagai tangan kanan dan tangan kirinya lalu berhasil. Sukarno dengan cerdas memperpendek perang dan kemudian ia melakukan perang besar selanjutnya : Revolusi Indonesia Sesungguhnya.
Revolusi Sukarno sesungguhnya adalah Revolusi Modal. Dan ini ia buktikan di tahun 1960, Sukarno tau bahwa Indonesia adalah negara paling kaya di muka bumi, dan kekayaan terbesar di Indonesia justru di wilayah Irian Barat. Irian Barat harus dijadikan lumbung modal Indonesia untuk menguasai politik di Asia Tenggara dengan menguasai politik di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi kekuatan nomor empat dunia setelah Amerika Serikat, Sovjet dan Cina, maka Sukarno memilih pembantu terdekatnya adalah Subandrio. Lagi-lagi Sukarno menunjukkan kejeniusan luar biasa, ia memanfaatkan kemampuan diplomasi Subandrio untuk menekan Kennedy. Sukarno menodong Kennedy apabila persoalan Irian Barat tidak beres maka AS akan menghadapi dua front di Asia Tenggara : Front Hanoi dan Front Jakarta. Kennedy mengalah dan memerintahkan Belanda mundur setelah 'Gertak' Sukarno dengan puluhan pesawat buatan Sovjet dan beberapa korvet yang siap menyerang ke Irian Barat dan mempermalukan Belanda.
Kennedy dimusuhi CIA setelah mengalah pada Bung Karno dan ditembak mati dengan meninggalkan cerita politik konspirasi. Lalu naiklah Lyndon B Johnson orang yang sangat keras dalam soal Asia Tenggara. Ia masuk ke Vietnam dengan brutal. Sukarno melihat bahwa persoalan Vietnam akan menjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa, ia berniat menghentikan perang di Vietnam dengan membangun poros persekutuan di luar AS. Sasaran antara Sukarno adalah Inggris dan mendepak Inggris dari Asia Tenggara. Karena bagi Sukarno, Inggris adalah otak bisnis di Asia Tenggara sementara Beking Keamanannya AS. Tapi Sukarno tau bahwa berhadapan dengan AS langsung tidak akan bisa maka Sukarno memperhatikan perkembangan politik di Peking. Mao sedang naik daun, kekuatan merahnya menggetarkan Amerika Serikat, Sukarno ingin memanfaatkan Mao Tse Tung bertarung langsung dengan AS di Asia Tenggara, Sukarno yakin Mao pasti menang karena keinginan utama AS bukanlah perang tapi dagang. Ini dibuktikan ketika Amerika mundur secara memalukan dari Perang Korea.
Maka untuk melancarkan hegemoni Indonesia di Asia Tenggara, Sukarno membuka front dengan Inggris di Kalimantan Utara. Lagi-lagi Sukarno menggunakan politik gertak. Apabila penguasaan Irian Barat, Sukarno memanfaatkan panasnya politik AS-Sovjet. Maka dalam kasus Ganjang Malaysia sesungguhnya Sukarno sedang nge-test Cina sebagai kekuatan di Asia. Dengan memanfaatkan kekuatan Cina maka Indonesia akan bisa memperpendek perang di Vietnam dan menghentikan pembantaian Amerika disana. Dengan menguasai hegemoni di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi negara paling kaya di Asia setelah Cina.
Tapi pemikiran Sukarno yang melompat jauh ke depan, pemikiran Sukarno yang sudah paham tentang pertarungan modal tidak pernah mampu dibaca tandem-tandem politik di dalam negeri. Terbukti Sukarno diboikot Jenderal-Jenderalnya sendiri dalam kasus Ganjang Malaysia. Sukarno dikentuti orang-orang yang belagak Intelektual tapi tidak bertanggung jawab.
Apabila Sukarno berhasil memainkan politik Ganjang Malaysia maka Irian Barat tidak akan jatuh ke Freeport, sepenuhnya kekayaan alam Indonesia dibangun untuk bangsa Indonesia dan kekayaan negara. Tidak ada yang namanya sekolah harus bayar, Rumah Sakit harus bayar. Indonesia akan diciptakan oleh Sukarno sebagai negara paling memakmurkan rakyatnya dan memang step pertamannya adalah menciptakan struktur modal.
Inilah kejeniusan Sukarno yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua, dialah bapak bangsa yang mewarisi kekayaan nasional bangsa Indonesia. Bukan mewarisi hutang ribuan trilyun seperti yang dilakukan Suharto dan mungkin juga SBY.
Kisah 9 Juli di Oranje Boulevard
Ada kisah yang banyak orang lupa tentang bagaimana sejarah kepemimpinan negeri ini bermula sehingga melahirkan negara terbesar nomor lima di dunia. Kisah ini dimulai pada suatu senja sekitar jam 18.30 saat itu di rumah Sukarno yang baru saja ia tempati di Jalan Pegangsaan, datanglah Gatot Mangkupradja yang membawa kabar bahwa Sjahrir akan melakukan politik penolakan terhadap Jepang dan lebih memilih berjuang secara illegal.
"Kabarnya ia sudah punya tempat di Cipanas sebagai pusat kegiatannya, tapi saya tak tau pasti apakah itu benar" kata Gatot di depan Bung Karno.
"Lalu bagaimana dengan Hatta?"
"Inilah bung yang saya kuatirkan, andai Hatta ikut nanti kelompok Illegal kebanyakan, kalau mereka kalah atau ditangkap kempetai kita akan banyak kehilangan pemimpin, Amir sudah bangun kelompoknya sendiri di Surabaya dia nggak bakal mau muncul ikut-ikutan Dai Nippon"
"Ya...ya aku paham maksud kau Gatot...aku paham kita memang terpaksa harus kerjasama dengan Dai Nippon, itu sebuah keterpaksaan, karena aku tak mau rakyat kehilangan pemimpinnya dan kemudian Nippon mengangkat pemimpin boneka yang akan menyulitkan banyak orang nantinya".
"Gatot makanlah dulu, nanti habis sholat Isya aku coba ke rumah Hatta" kata Sukarno sambil menyuruh salah seorang pelayannya menyiapkan makanan. Saat Gatot makan malam, Sukarno shalat Isya. Dalam sholat itu Sukarno berdoa dalam-dalam agar kepemimpinan negeri ini bisa terjaga, setelah Sholat selesai Sukarno agak lama merenung air wudhu-nya belum mengering.
Jam 20.30 Sukarno dengan masuk ke dalam mobil Studebaker-nya yang disetiri Arif. "Rif, kita ke rumah Hatta di Oranje Boulevard" mobil itupun berjalan ke arah rumah Hatta di Oranje Boulevard (sekarang Jl. Diponegoro, Menteng). Saat itu Hatta sedang membaca buku di ruang perpustakaannya yang rapih. Tau ada mobil memasuki halamannya Hatta keluar teras. Tak berapa lama Sukarno keluar dari mobil.
"Oh, No...masuk-masuk...." seru Hatta menyambut Sukarno.
Hatta membawa Sukarno ke ruang tamunya. "Sedang apa kau Hatta?" tanya Sukarno kepada Hatta. "aku lagi baca buku...wah ini gara-gara Sjahrir bawa anak asuhnya, tiga peti buku-ku terpaksa aku tinggalkan di Banda" kata Hatta seraya menyesali bukunya yang tertinggal.
"Oh, begitu hahahaha....Sjahrir...Sjahrir" Sukarno tertawa keras. Tak lama kemudian muncul asisten Hatta menyajikan minuman. Setelah selesai asisten itu menyiapkan minuman Sukarno berdehem. "Hatta...."
"Ya" jawab Hatta menyambut panggilan lirih Sukarno.
"Aku dengar Sjahrir akan melakukan gerakan bawah tanah?"
"Ya, dua hari yang lalu ia bilang begitu, ada bungalow bibinya di Cipanas yang akan jadi pusat gerakannya"
"Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya Sukarno lagi.
"Aku belum bisa memutuskan, No...."
"Begini Hatta, aku tau kau dan aku bukanlah jenis sahabat yang cocok, kau berbeda total dengan aku dari sisi apapun. Tapi kita dihadapkan pada situasi amat genting, pertaruhan terbesarnya adalah bila kita tidak muncul Jepang akan mempersiapkan pemimpin-pemimpin boneka yang hanya semata-mata mencari keuntungan kekuasaan dan materi. Ya...aku akui memang aku bertaruh saat ini, tapi bagaimanapun Dai Nippon adalah realitas"
"Bagaimana menurutmu bila kita tampil ke muka?" kata Hatta lagi sambil menerawang wajah Sukarno.
"Kita menjawab tanggung jawab terhadap negeri ini. Dan memang dunia ini aneh Hatta....aneh, kau yang dulu terus menerus menyerangku tapi anehnya aku hanya percaya sama kau untuk memimpin negeri ini".
Seperti yang diketahui sebelumnya pada tahun 1932 Hatta menulis tentang kisah Sukarno yang meratap-ratap minta ampun pada Pemerintah Hindia Belanda. dan sejak saat itu Hatta juga banyak mengeritik Sukarno. Tapi Hatta juga yang kemudian berusaha menyelamatkan keberadaan Partai Sukarno saat Sukarno dibawa ke penjara oleh Pemerintahan Hindia Belanda.
Hatta diam, ia berpikir dalam-dalam. Hatta tak suka pada Jepang, tapi rasa tak suka ini mau tak mau harus disingkirkan, sebab bila Sukarno ditinggal sendirian, Sukarno malah bisa menjadi makanan sekutu nantinya apabila Jepang kalah. Dan apabila Jepang menang, Sukarno malah bisa terjebak menjadi pemimpin boneka. Ia harus menjaga irama perjuangan ini, Hatta dipercaya oleh elite intelektual, sementara Sukarno sudah amat dikenal oleh bangsanya, sulit membayangkan negeri ini merdeka tanpa melihat Sukarno. Sejak tahun 1922 sampai 1942, sekitar 500 artikel tulisan Sukarno di Koran-koran menjadi bacaan masyarakat luas, seluruh rakyat bangsa ini seakan selalu menunggu tulisan Sukarno yang bernas itu.
“Baiklah, aku akan mendampingimu memimpin negeri ini, No….” kata Hatta ia paham sahabatnya ini tak akan mampu berjalan sendirian, ia adalah orang yang bergelora tapi kadang-kadang ia sering terjebak pada gelora yang membawa isi hati.
“Lupakan semua perbedaan kita dimasa lalu, kita harus bertanggung jawab terhadap masa depan negeri ini” Hatta mengulurkan tangan ke Sukarno, dan mereka bersalaman. Lalu berpelukan “Sekarang kita satu, disatukan dalam perjuangan yang sama”
“Setuju” sejak itulah Sukarno dan Hatta tak pernah pisah lagi. Setelah selesai kemerdekaan Sukarno selalu meminta Hatta menulis pidato-pidato resminya, atau setiap pidato resmi yang ditulis Sukarno dibaca Hatta dulu.
Tapi persahabatan bukanlah soal cerita romantika pertemanan, persahabatan punya caranya sendiri mengembangkan sayap pikiran-pikiran. Di tahun 1956 Hatta mengundurkan diri karena Parlemen membatalkan persetujuan perjanjian KMB 1949. Di tahun 1957 Sukarno karena alasan mulai intervensinya Amerika Serikat, ia mengutarakan ide Demokrasi Terpimpin. Hatta marah atas ide Sukarno lalu ia menuliskan artikel “Demokrasi Kita” di tahun 1960 menanggapi dibubarkannya konstituante dan pembubaran dua partai politik besar : Masjumi dan PSI.
Kemarahan antara Sukarno dan Hatta adalah sebuah kemarahan yang aneh, hanya mereka berdua yang tahu.
Namun kemarahan dua orang yang paling bertanggungjawab terhadap pendirian Republik ini menjadi luntur menguap oleh waktu, saat di tanggal 16 Juni 1970 Hatta menulis surat dengan air mata yang menetes. Surat itu adalah permohonan kepada Presiden Suharto agar ia bisa bertemu dengan Sukarno sahabatnya yang diinternir Suharto di Wisma Yaso. Setelah kondisinya gawat ia dirawat di RS Gatot Subroto, itupun setelah Suharto dipaksa oleh Rachmawati untuk membawa ayahnya ke RS.
Tanggal 19 Juni 1970, utusan Suharto datang dan mengabarkan Hatta bisa menengok Sukarno. Diantar puterinya Hatta ke kamar Sukarno yang bau dan pengap, kaleng ada dimana-mana, ada sebuah Koran bekas, dan baju-baju lusuh bergelantungan. Hatta diam saja melihat keadaan ini dia terus menahan gejolak di hatinya, seorang yang sepanjang hidupnya bermimpi mendirikan Negara ini, dipenjara untuk bangsa ini berakhir pada kamar yang amat kumuh, ditempatkan pada ruang perawatan kelas miskin.
Hatta memegang bahu Sukarno, lalu Sukarno yang sedang tertidur membuka matanya “Ah, No” kata Hatta.
“Hatta…Hatta” air mata Sukarno keluar dan membasahi bantal. “Hoe gaat het met jou?” Hatta diam saja tangannya memijiti tangan Sukarno yang panas, tapi tak lama kemudian tangis Hatta meledak. Sukarno minta dibangunkan dan diambilkan kaca mata lalu memandang Hatta lama.
………lama sekali dan kemudian dua orang yang pernah melahirkan bangsa ini menangis pada sebuah kamar yang pengap.
Inilah tangisan sejarah, tangisan masa depan. Dan masa depan itu adalah kini. Sukarno-Hatta menangis, karena di masa depan Indonesia pejabat hanya berfoya-foya makan duit yang seharusnya dibangun untuk kesejahteraan bersama, karena wakil rakyat seperti tak punya hati, saat dikritik soal hidup mewah, malah balas menjawab ‘kenapa kau jadi munafik…” seakan-akan pembenaran harta benda menjadi ukuran segala-galanya, inilah sebuah keadaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sebuah amoralitas dan kebangkrutan sebuah idée atas nasionalisme kita.
Seandainya Sukarno atau Hatta mau mereka akan lebih memilih ke Australia daripada memimpin dengan resiko digantung Jepang, mereka aman dengan Belanda. Sjahrir juga akan lebih memilih hidup nyaman di Australia daripada harus bertarung nyawa tiap waktu untuk menggerakkan gerakan bawah tanah. Tapi kita tau mereka bukanlah pemimpin boneka, mereka lahir dari Lumpur sejarah, mereka memimpin karena dirinya memang berkualitas, bukan karena mereka anak siapa, atau punya mertua siapa.
Kepada kisah Sukarno dan Hatta kita banyak belajar bagaimana sebuah tanggung jawab kepemimpinan harus dijalankan.
"Kabarnya ia sudah punya tempat di Cipanas sebagai pusat kegiatannya, tapi saya tak tau pasti apakah itu benar" kata Gatot di depan Bung Karno.
"Lalu bagaimana dengan Hatta?"
"Inilah bung yang saya kuatirkan, andai Hatta ikut nanti kelompok Illegal kebanyakan, kalau mereka kalah atau ditangkap kempetai kita akan banyak kehilangan pemimpin, Amir sudah bangun kelompoknya sendiri di Surabaya dia nggak bakal mau muncul ikut-ikutan Dai Nippon"
"Ya...ya aku paham maksud kau Gatot...aku paham kita memang terpaksa harus kerjasama dengan Dai Nippon, itu sebuah keterpaksaan, karena aku tak mau rakyat kehilangan pemimpinnya dan kemudian Nippon mengangkat pemimpin boneka yang akan menyulitkan banyak orang nantinya".
"Gatot makanlah dulu, nanti habis sholat Isya aku coba ke rumah Hatta" kata Sukarno sambil menyuruh salah seorang pelayannya menyiapkan makanan. Saat Gatot makan malam, Sukarno shalat Isya. Dalam sholat itu Sukarno berdoa dalam-dalam agar kepemimpinan negeri ini bisa terjaga, setelah Sholat selesai Sukarno agak lama merenung air wudhu-nya belum mengering.
Jam 20.30 Sukarno dengan masuk ke dalam mobil Studebaker-nya yang disetiri Arif. "Rif, kita ke rumah Hatta di Oranje Boulevard" mobil itupun berjalan ke arah rumah Hatta di Oranje Boulevard (sekarang Jl. Diponegoro, Menteng). Saat itu Hatta sedang membaca buku di ruang perpustakaannya yang rapih. Tau ada mobil memasuki halamannya Hatta keluar teras. Tak berapa lama Sukarno keluar dari mobil.
"Oh, No...masuk-masuk...." seru Hatta menyambut Sukarno.
Hatta membawa Sukarno ke ruang tamunya. "Sedang apa kau Hatta?" tanya Sukarno kepada Hatta. "aku lagi baca buku...wah ini gara-gara Sjahrir bawa anak asuhnya, tiga peti buku-ku terpaksa aku tinggalkan di Banda" kata Hatta seraya menyesali bukunya yang tertinggal.
"Oh, begitu hahahaha....Sjahrir...Sjahrir" Sukarno tertawa keras. Tak lama kemudian muncul asisten Hatta menyajikan minuman. Setelah selesai asisten itu menyiapkan minuman Sukarno berdehem. "Hatta...."
"Ya" jawab Hatta menyambut panggilan lirih Sukarno.
"Aku dengar Sjahrir akan melakukan gerakan bawah tanah?"
"Ya, dua hari yang lalu ia bilang begitu, ada bungalow bibinya di Cipanas yang akan jadi pusat gerakannya"
"Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya Sukarno lagi.
"Aku belum bisa memutuskan, No...."
"Begini Hatta, aku tau kau dan aku bukanlah jenis sahabat yang cocok, kau berbeda total dengan aku dari sisi apapun. Tapi kita dihadapkan pada situasi amat genting, pertaruhan terbesarnya adalah bila kita tidak muncul Jepang akan mempersiapkan pemimpin-pemimpin boneka yang hanya semata-mata mencari keuntungan kekuasaan dan materi. Ya...aku akui memang aku bertaruh saat ini, tapi bagaimanapun Dai Nippon adalah realitas"
"Bagaimana menurutmu bila kita tampil ke muka?" kata Hatta lagi sambil menerawang wajah Sukarno.
"Kita menjawab tanggung jawab terhadap negeri ini. Dan memang dunia ini aneh Hatta....aneh, kau yang dulu terus menerus menyerangku tapi anehnya aku hanya percaya sama kau untuk memimpin negeri ini".
Seperti yang diketahui sebelumnya pada tahun 1932 Hatta menulis tentang kisah Sukarno yang meratap-ratap minta ampun pada Pemerintah Hindia Belanda. dan sejak saat itu Hatta juga banyak mengeritik Sukarno. Tapi Hatta juga yang kemudian berusaha menyelamatkan keberadaan Partai Sukarno saat Sukarno dibawa ke penjara oleh Pemerintahan Hindia Belanda.
Hatta diam, ia berpikir dalam-dalam. Hatta tak suka pada Jepang, tapi rasa tak suka ini mau tak mau harus disingkirkan, sebab bila Sukarno ditinggal sendirian, Sukarno malah bisa menjadi makanan sekutu nantinya apabila Jepang kalah. Dan apabila Jepang menang, Sukarno malah bisa terjebak menjadi pemimpin boneka. Ia harus menjaga irama perjuangan ini, Hatta dipercaya oleh elite intelektual, sementara Sukarno sudah amat dikenal oleh bangsanya, sulit membayangkan negeri ini merdeka tanpa melihat Sukarno. Sejak tahun 1922 sampai 1942, sekitar 500 artikel tulisan Sukarno di Koran-koran menjadi bacaan masyarakat luas, seluruh rakyat bangsa ini seakan selalu menunggu tulisan Sukarno yang bernas itu.
“Baiklah, aku akan mendampingimu memimpin negeri ini, No….” kata Hatta ia paham sahabatnya ini tak akan mampu berjalan sendirian, ia adalah orang yang bergelora tapi kadang-kadang ia sering terjebak pada gelora yang membawa isi hati.
“Lupakan semua perbedaan kita dimasa lalu, kita harus bertanggung jawab terhadap masa depan negeri ini” Hatta mengulurkan tangan ke Sukarno, dan mereka bersalaman. Lalu berpelukan “Sekarang kita satu, disatukan dalam perjuangan yang sama”
“Setuju” sejak itulah Sukarno dan Hatta tak pernah pisah lagi. Setelah selesai kemerdekaan Sukarno selalu meminta Hatta menulis pidato-pidato resminya, atau setiap pidato resmi yang ditulis Sukarno dibaca Hatta dulu.
Tapi persahabatan bukanlah soal cerita romantika pertemanan, persahabatan punya caranya sendiri mengembangkan sayap pikiran-pikiran. Di tahun 1956 Hatta mengundurkan diri karena Parlemen membatalkan persetujuan perjanjian KMB 1949. Di tahun 1957 Sukarno karena alasan mulai intervensinya Amerika Serikat, ia mengutarakan ide Demokrasi Terpimpin. Hatta marah atas ide Sukarno lalu ia menuliskan artikel “Demokrasi Kita” di tahun 1960 menanggapi dibubarkannya konstituante dan pembubaran dua partai politik besar : Masjumi dan PSI.
Kemarahan antara Sukarno dan Hatta adalah sebuah kemarahan yang aneh, hanya mereka berdua yang tahu.
Namun kemarahan dua orang yang paling bertanggungjawab terhadap pendirian Republik ini menjadi luntur menguap oleh waktu, saat di tanggal 16 Juni 1970 Hatta menulis surat dengan air mata yang menetes. Surat itu adalah permohonan kepada Presiden Suharto agar ia bisa bertemu dengan Sukarno sahabatnya yang diinternir Suharto di Wisma Yaso. Setelah kondisinya gawat ia dirawat di RS Gatot Subroto, itupun setelah Suharto dipaksa oleh Rachmawati untuk membawa ayahnya ke RS.
Tanggal 19 Juni 1970, utusan Suharto datang dan mengabarkan Hatta bisa menengok Sukarno. Diantar puterinya Hatta ke kamar Sukarno yang bau dan pengap, kaleng ada dimana-mana, ada sebuah Koran bekas, dan baju-baju lusuh bergelantungan. Hatta diam saja melihat keadaan ini dia terus menahan gejolak di hatinya, seorang yang sepanjang hidupnya bermimpi mendirikan Negara ini, dipenjara untuk bangsa ini berakhir pada kamar yang amat kumuh, ditempatkan pada ruang perawatan kelas miskin.
Hatta memegang bahu Sukarno, lalu Sukarno yang sedang tertidur membuka matanya “Ah, No” kata Hatta.
“Hatta…Hatta” air mata Sukarno keluar dan membasahi bantal. “Hoe gaat het met jou?” Hatta diam saja tangannya memijiti tangan Sukarno yang panas, tapi tak lama kemudian tangis Hatta meledak. Sukarno minta dibangunkan dan diambilkan kaca mata lalu memandang Hatta lama.
………lama sekali dan kemudian dua orang yang pernah melahirkan bangsa ini menangis pada sebuah kamar yang pengap.
Inilah tangisan sejarah, tangisan masa depan. Dan masa depan itu adalah kini. Sukarno-Hatta menangis, karena di masa depan Indonesia pejabat hanya berfoya-foya makan duit yang seharusnya dibangun untuk kesejahteraan bersama, karena wakil rakyat seperti tak punya hati, saat dikritik soal hidup mewah, malah balas menjawab ‘kenapa kau jadi munafik…” seakan-akan pembenaran harta benda menjadi ukuran segala-galanya, inilah sebuah keadaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sebuah amoralitas dan kebangkrutan sebuah idée atas nasionalisme kita.
Seandainya Sukarno atau Hatta mau mereka akan lebih memilih ke Australia daripada memimpin dengan resiko digantung Jepang, mereka aman dengan Belanda. Sjahrir juga akan lebih memilih hidup nyaman di Australia daripada harus bertarung nyawa tiap waktu untuk menggerakkan gerakan bawah tanah. Tapi kita tau mereka bukanlah pemimpin boneka, mereka lahir dari Lumpur sejarah, mereka memimpin karena dirinya memang berkualitas, bukan karena mereka anak siapa, atau punya mertua siapa.
Kepada kisah Sukarno dan Hatta kita banyak belajar bagaimana sebuah tanggung jawab kepemimpinan harus dijalankan.
Kisah Norman Vincent Peale dan Bukunya
Pada musim semi di tahun 1952, Norman Vincent Peale menyusun sebuah buku yang ia beri nama "The Power of Positive Thinking" selama 3 minggu ia mengetik naskah itu berdasarkan pengalaman pribadinya dalam menghadapi orang-orang disekitarnya, keluhan-keluhannya dan caranya berpikir. Hingga saat naskah selesai ia berpikiran aneh, naskah itu ia buang ke keranjang sampah....
Isterinya yang sedang menggoreng telor dan ayam untuk makan malam melihat apa yang dilakukan Norman dan bertanya "Kenapa kau buang naskahmu itu?" Norman menoleh pada isterinya lalu menjawab dengan nada melarang "Jangan kau ambil naskah ini dari keranjang sampah, Ok....."
Isterinya menuruti apa mau Norman, tapi besok paginya saat ia mau buang sampah, ia melihat naskah itu, demi menuruti suaminya ia tidak mengambil naskah itu, tapi ia membawa keranjang sampah itu ke sebuah perusahaan penerbitan kotanya. Kebetulan ia mengenal bagian editor yang teman sekolahnya waktu SMP. Isteri Norman membawa keranjang sampah ke lobi perusahaan itu kemudian ia mencari temannya. Temannya muncul dan bertanya "ada apa kau bawa keranjang sampah?"
Lihat Norman membuang naskah yang baru disusunnya dan melarang saya membuang ke tempat sampah, sementara saya dilarang mengambil naskah ini, jadi saya bawa saja keranjang sampahnya kesini. Teman Isteri Norman ketawa dan mengambil naskah itu. Dua minggu kemudian naskah itu terbit.
Naskah yang kemudian jadi buku "The Power of Positive Thinking" kini jadi salah satu buku terlaris di dunia, sampai saat ini sudah 20 juta buku terjual terus menerus dan masih cetak ulang. Inilah sebuah kisah, buku yang bercerita tentang positive thinking justru lahir dari sikap negative thinking atas prospek buku itu di masa depan dan diselamatkan oleh sikap positive thinking isteri Norman yang percaya bahwa sesuatu akan ada hasilnya bila kita selesaikan dengan baik.
Pelajaran dari kisah ini adalah, ketika kamu merasa karyamu atau pekerjaanmu kurang baik, kurang memuaskan jangan langsung putus asa dan mengobrak abrik karyamu, kerjakanlah dengan tekun dan selesaikan, biarlah waktu yang akan menilai
Isterinya yang sedang menggoreng telor dan ayam untuk makan malam melihat apa yang dilakukan Norman dan bertanya "Kenapa kau buang naskahmu itu?" Norman menoleh pada isterinya lalu menjawab dengan nada melarang "Jangan kau ambil naskah ini dari keranjang sampah, Ok....."
Isterinya menuruti apa mau Norman, tapi besok paginya saat ia mau buang sampah, ia melihat naskah itu, demi menuruti suaminya ia tidak mengambil naskah itu, tapi ia membawa keranjang sampah itu ke sebuah perusahaan penerbitan kotanya. Kebetulan ia mengenal bagian editor yang teman sekolahnya waktu SMP. Isteri Norman membawa keranjang sampah ke lobi perusahaan itu kemudian ia mencari temannya. Temannya muncul dan bertanya "ada apa kau bawa keranjang sampah?"
Lihat Norman membuang naskah yang baru disusunnya dan melarang saya membuang ke tempat sampah, sementara saya dilarang mengambil naskah ini, jadi saya bawa saja keranjang sampahnya kesini. Teman Isteri Norman ketawa dan mengambil naskah itu. Dua minggu kemudian naskah itu terbit.
Naskah yang kemudian jadi buku "The Power of Positive Thinking" kini jadi salah satu buku terlaris di dunia, sampai saat ini sudah 20 juta buku terjual terus menerus dan masih cetak ulang. Inilah sebuah kisah, buku yang bercerita tentang positive thinking justru lahir dari sikap negative thinking atas prospek buku itu di masa depan dan diselamatkan oleh sikap positive thinking isteri Norman yang percaya bahwa sesuatu akan ada hasilnya bila kita selesaikan dengan baik.
Pelajaran dari kisah ini adalah, ketika kamu merasa karyamu atau pekerjaanmu kurang baik, kurang memuaskan jangan langsung putus asa dan mengobrak abrik karyamu, kerjakanlah dengan tekun dan selesaikan, biarlah waktu yang akan menilai
Selasa, 01 November 2011
Mbah Sira memanggil salah satu santrinya. “Tolong baca ini, yang lantang biar mereka ngeh!” kata mbah Sira sambil menyerahkan selembar kertas.
Sang santri yang gemetaran, berdiri dihadapan kawan-kawannya yang duduk menunduk di ruang tamu, di teras dan di halaman rumah mbah Sira.
Dengan terbata-bata, ia mulai membaca catatan yang diberikan mbah Sira.
***
SEPENGGAL LUPA TENTANG FREEPORT
Kontrak dimulai tahun 1967 dan baru akan berakhir tahun 2041.
Beberapa sumber menghitung bahwa sejak 1967 sampai 2010 (43 tahun) sudah menghasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas.
Kalau diuangkan dengan patokan harga emas tiap gram sekarang senilai Rp 500.000,- saja, maka jumlah uang yang dihasilkan kurang lebih adalah;
724 trilyun 700 ribu gram kali Rp 500.000,- = 362.350 trilyun.
Artinya tiap tahun Freeport menghasilkan kekayaan sebesar:
362.350 trilyun : 43 = 8.426,7442 trilyun
Katakanlah setelah dipotong macam-macam biaya hasil bersihnya adalah 8.000 trilyun (coba bandingkan dengan anggaran APBN tahun ini yang cuma 1.202 trilyun)
Dari jumlah ini, Indonesia hanya mendapat 1%. Artinya hanya sekitar 80 trilyun tiap tahun (kalau menurut berita-berita di media massa jumlahnya malah hanya 15 sampai 20 trilyun pertahun, alias seperempat dari cukai rokok yang tahun 2010 saja menyumbang devisa sebesar 66 trilyun). Sementara sisanya yang 99% masuk ke perusahaan di AS.
Sekarang mari kita bayangkan, kalau saja pemerintah berani menuntut perubahan kontrak karya dan meminta bagian 30% saja, maka tiap tahun kita bisa memperoleh minimal 2.400 trilyun (alias dua kali lipat APBN tahun ini).
Itu baru dihitung dari nilai emas, belum lagi dari hasil tambang lainnya.
Meski demikian, baru dari emas yang dihasilkan saja, kita sudah bisa menghitung bahwa pada dasarnya kita tak perlu lagi punya hutang, rakyat juga akan sejahtera, bisa memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis. Bukan cuma Papua yang akan sejahtera dan bermartabat, tapi seluruh Indonesia.
Apalagi sekarang ditemukan uranium yang harganya 100 kali harga emas. Bahkan menurut para ahli, bila dipakai untuk PLTN, kandungan uranium disana mampu dipakai utuk menerangi seluruh dunia.
(diambil dari berbagai sumber, karena transparansi tak bisa ditunjukkan oleh pihak Freeport)
***
“Nah, kalau begini, menurut kalian siapa yang sebenarnya berkepentingan untuk selalu melempar api ke Papua?” mbah Sira menyapukan pandangannya ke seluruh santrinya.
“Kalian ini lucu dan memprihatinkan! Ini tanah kalian, ini kekayaan kalian, tapi kalian malah suka ribut tentang remah-remah yang sengaja disebar dan membiarkan rotinya dinikmati Freeport sendirian!”
“Belum lagi presidennya, ditengah bangsa yang tak henti ditumpuk masalah, kok masih sempat-sempatnya membuat dan meluncurkan album keempat…!”
Sang santri yang gemetaran, berdiri dihadapan kawan-kawannya yang duduk menunduk di ruang tamu, di teras dan di halaman rumah mbah Sira.
Dengan terbata-bata, ia mulai membaca catatan yang diberikan mbah Sira.
***
SEPENGGAL LUPA TENTANG FREEPORT
Kontrak dimulai tahun 1967 dan baru akan berakhir tahun 2041.
Beberapa sumber menghitung bahwa sejak 1967 sampai 2010 (43 tahun) sudah menghasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas.
Kalau diuangkan dengan patokan harga emas tiap gram sekarang senilai Rp 500.000,- saja, maka jumlah uang yang dihasilkan kurang lebih adalah;
724 trilyun 700 ribu gram kali Rp 500.000,- = 362.350 trilyun.
Artinya tiap tahun Freeport menghasilkan kekayaan sebesar:
362.350 trilyun : 43 = 8.426,7442 trilyun
Katakanlah setelah dipotong macam-macam biaya hasil bersihnya adalah 8.000 trilyun (coba bandingkan dengan anggaran APBN tahun ini yang cuma 1.202 trilyun)
Dari jumlah ini, Indonesia hanya mendapat 1%. Artinya hanya sekitar 80 trilyun tiap tahun (kalau menurut berita-berita di media massa jumlahnya malah hanya 15 sampai 20 trilyun pertahun, alias seperempat dari cukai rokok yang tahun 2010 saja menyumbang devisa sebesar 66 trilyun). Sementara sisanya yang 99% masuk ke perusahaan di AS.
Sekarang mari kita bayangkan, kalau saja pemerintah berani menuntut perubahan kontrak karya dan meminta bagian 30% saja, maka tiap tahun kita bisa memperoleh minimal 2.400 trilyun (alias dua kali lipat APBN tahun ini).
Itu baru dihitung dari nilai emas, belum lagi dari hasil tambang lainnya.
Meski demikian, baru dari emas yang dihasilkan saja, kita sudah bisa menghitung bahwa pada dasarnya kita tak perlu lagi punya hutang, rakyat juga akan sejahtera, bisa memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis. Bukan cuma Papua yang akan sejahtera dan bermartabat, tapi seluruh Indonesia.
Apalagi sekarang ditemukan uranium yang harganya 100 kali harga emas. Bahkan menurut para ahli, bila dipakai untuk PLTN, kandungan uranium disana mampu dipakai utuk menerangi seluruh dunia.
(diambil dari berbagai sumber, karena transparansi tak bisa ditunjukkan oleh pihak Freeport)
***
“Nah, kalau begini, menurut kalian siapa yang sebenarnya berkepentingan untuk selalu melempar api ke Papua?” mbah Sira menyapukan pandangannya ke seluruh santrinya.
“Kalian ini lucu dan memprihatinkan! Ini tanah kalian, ini kekayaan kalian, tapi kalian malah suka ribut tentang remah-remah yang sengaja disebar dan membiarkan rotinya dinikmati Freeport sendirian!”
“Belum lagi presidennya, ditengah bangsa yang tak henti ditumpuk masalah, kok masih sempat-sempatnya membuat dan meluncurkan album keempat…!”
Jumat, 28 Oktober 2011
Rahasia Proklamasi 1945
Sekitar awal tahun 1945 Bung Karno dan Bung Hatta ke Dalat Saigon ,dia bareng dengan beberapa orang Tokoh penting Malaya seperti Dato' Ibrahim Hadji Jacoub, Adenan dan Sekar Chandra Bose didampingi Marsekal Terauchi ingin bertemu Gunseikan. Tapi disana delegasi tidak berjumpa dengan Gunseikan yang saat itu dikabarkan sedang mabok (hal ini terungkap beberapa tahun kemudian).
Saat itu Sukarno sudah mengantungi tanggal kemerdekaan akan terjadi pada 25 Agustus 1945. Tapi Sukarno harus menunggu konfirmasi dari pihak Jepang. Penggede Jepang masih sibuk mempertahankan seluruh pulau-pulau luar Jepang yang sudah diinvasi sekutu. Kunjung tak ada jawaban, kemudian keluarlah tanggal konfirmasi yakni 7 September 1945 kemerdekaan bisa dilakukan. Sekembalinya dari Dalat, ada sikap lain dari Sukarno dan Hatta ia amat merahasiakan apa yang terjadi pada pertemuan di Dalat.
Beberapa kali tokoh pemuda seperti Wikana, Sukarni atau Maruto mendesak, "Pembicaraan di Dalat" tapi Sukarno bungkem seribu bahasa, Hatta pun begitu. Yang jelas para pemuda merasa akan terjadi 'Proklamasi buatan Djepang'. Beberapa pemuda di rumah Maruto berkumpul untuk melakukan tindakan nekat, meng-fait accompli sebuah tindakan yang mengunci agar jangan sampai 'Proklamasi buatan Djepang' terjadi di Indonesia.
Sementara di lain waktu, kelompok bawah tanah (Illegal) sudah menyatakan penyatuan kepemimpinan akan berada di tangan Sjahrir. Mereka menolak Amir karena dinilai terlalu dekat dengan Belanda. Pemuda-pemuda tersebut kemudian menyusun Proklamasi dimana nantinya Sjahrir yang akan membacakan, para pemuda sepakat bahwa Sjahrir yang akan memimpin perjuangan, karena Sjahrir bersih dari tuduhan kolaborator dengan Jepang.
Mendapat beban tanggung jawab luar biasa, Sjahrir merasa gamang. Apakah ia bisa melakukan Proklamasi, 'apakah rakyat dibelakang saya'. Kegamangan itulah yang kemudian membuat Sjahrir pergi ke rumah Maruto di Jalan Veteran I, dengan keraguan luar biasa Sjahrir bertanya pada Maruto "Bung yakin pemuda kita sudah siap?..."Siapa yang memimpin pemuda?" . Membuat dan menyiarkan proklamasi itu gampang tapi mempertahankannya yang sulit. Itu perlu kekuatan, dimana kekuatan kita?.
Maruto berusaha menerangkan kesiapan pemuda, ia yang akan ambil resiko, pemuda siap dan panjang lebar Maruto menjawab kegamangan Sjahrir. Maruto kecewa setelah Sjahrir pulang dari rumahnya masih menyimpan rasa ragu.
Lalu Maruto bertemu dengan kliknya : Sukarni, Pandu Kartawiguna, Adam Malik dan Chaerul Saleh. Sukarni beberapa kali geleng-geleng sambil nggak percaya Sjahrir bisa ragu seperti itu. Pandu nggebrak meja dan marah-marah mendengar kelakuan Sjahrir yang ragu, Adam Malik ketawa dan ia paham dengan jalan pikiran Sjahrir, Chaerul Saleh idem dengan Adam Malik.
Nggak lama kemudian keadaan makin genting, Maruto pergi ke Cirebon. Di sana ia berjumpa dengan dr. Sudarsono (Bapaknya eks Menhan Juwono Sudarsono). -Son-, panggilan akrab Sudarsono meminta teks proklamasi yang dia kira sudah diteken Sjahrir. "Mana teks proklamasi itu?" Maruto menjawab "Belum ada, Son" Lalu Son marah-marah "Aku sudah bersepeda 60 km tapi nggak ada teks itu, bilang sama Sjahrir saya akan buat sendiri teks itu!" Akhirnya Son, sendiri nekat mengumumkan 'Proklamasi Cirebon' 16 Agustus 1945. Dihadiri sekitar 150-an orang terutama dari tokoh PNI-Pendidikan, Proklamasi dilakukan di alun-alun Cirebon.
Sementara di Djakarta kondisi makin genting. Djawoto mengabarkan kepada beberapa tokoh pemuda bahwa Sjahrir malah mengunjung Sukarno-Hatta untuk melakukan Proklamasi. "Lha, daripada Sjahrir yang ndesak biar kita aja desak itu Sukarno" pikir pemuda. Lalu terjadilah peristiwa Rengasdengklok, dimana Sukarno dipaksa Sukarni yang sama-sama berdarah Blitar untuk memerdekakan Indonesia sekarang juga. Itu juga terjadi insiden gebrak-gebrakan meja sampai tangan Sukarno sakit, Hatta yang menenangkan semuanya. Hatta masih ragu apakah Djepang kalah beneran? - Hal ini kerap jadi ungkitan setelah masa Proklamasi, bahkan setelah kejatuhan Sukarno 1966, Sukarni laris diwawancarai oleh wartawan asing tentang apa yang terjadi sebenarnya pada peristiwa 16/17 Agustus 1945 itu.
Sukarno-Hatta menolak pada awalnya karena mereka terikat komitmen pada Djepang. Tapi Sukarni lebih nekat lagi. Ternyata ada rahasia penting disini yang membuat Sukarno dan Hatta mau ikut kemauan Sukarni cs. Sewaktu di Dalat, Saigon. Penggede Djepang meminta kemerdekaan Indonesia itu meliputi wilayah : "eks Hindia Belanda dan Seluruh Malaya" Bung Karno dan Bung Hatta amat merahasiakan hal ini agar jangan sampai pemuda-pemuda itu tahu. Sebab kalau Malaya ikut serta, maka Indonesia harus siap berhadapan dengan pemenang perang yaitu : Inggris, dan kemungkinan kemerdekaan Indonesia batal secara hukum" Sukarno-Hatta menghitung kekuatan pemuda tidak akan sanggup bila menghadapi serbuan Inggris, sementara Belanda pasti senang bila Inggris ikut campur soal eks Hindia Belanda. Itulah hebatnya Sukarno dan Hatta yang mampu memprediksi peta kekuatan lawan secara dingin. Sukarno itu penuh perhitungan dan yang paling cerdas disini sebenarnya Hatta, ia mampu memprediksi secara detil apa yang terjadi bila sesuatu dilakukan. Bersama Hatta sebenarnya Sukarno menemukan kekuatan daya nalarnya, sayang setelah tandem Sukarno, Subandrio daya terobos Sukarno menjadi tak terkendali, tak ada hitungan politik yang dingin dan cermat. Tapi yang jelas disini dari awal Sjahrir juga mengira senjata paling efektif adalah melakukan agitasi ala Sukarno jadilah di awal kemerdekaan pada jam-jam pertama Sjahrir merapat ke Sukarno, Sjahrir gagal prediksi bahwa dikemudian waktu kekuatan bersenjata amat pesat, apalagi setelah kemunculan Tan Malaka di ruang publik. Perang menjadi sedemikian heroik. Amir Syarifudin juga berhasil mengonsolidasi militer resmi menjadi kekuatan raksasa yang bisa melawan agresi militer Belanda kelak dikemudian hari.
Tiga orang tokoh Malaya : Dato' Ibrahim Hadji Jacoub, Adenan dan Chandra Sekar Bose (Sekar-Bose meninggal karena pesawatnya ditembak). kecewa karena Malaya tidak ikut diproklamasikan kemerdekaannya satu dengan wilayah Indonesia. Akhirnya Ibrahim dan Adenan ikut perjuangan Indonesia. Ibrahim berganti nama menjadi Iskandar Kamel, Iskandar Kamel ini sohibnya Tun Abdul Razak, ia berjuang perang dengan Belanda takut pulang ke Malaya kerna bila pulang takut kena tuduh bagian dari kolaborator Djepang. Akhirnya ia masuk TNI dan jadi Kolonel. Terakhir ia menjadi Ketua Partindo, pada pemilu 1971, Iskandar Kamel masuk Partai Murba. Sementara Adenan yang awalnya masuk TNI lalu berhenti dari dinasnya dan pergi ke Amerika Serikat disana ia mendirikan Biro Arsitek "Adenan & Adenan"
Saat itu Sukarno sudah mengantungi tanggal kemerdekaan akan terjadi pada 25 Agustus 1945. Tapi Sukarno harus menunggu konfirmasi dari pihak Jepang. Penggede Jepang masih sibuk mempertahankan seluruh pulau-pulau luar Jepang yang sudah diinvasi sekutu. Kunjung tak ada jawaban, kemudian keluarlah tanggal konfirmasi yakni 7 September 1945 kemerdekaan bisa dilakukan. Sekembalinya dari Dalat, ada sikap lain dari Sukarno dan Hatta ia amat merahasiakan apa yang terjadi pada pertemuan di Dalat.
Beberapa kali tokoh pemuda seperti Wikana, Sukarni atau Maruto mendesak, "Pembicaraan di Dalat" tapi Sukarno bungkem seribu bahasa, Hatta pun begitu. Yang jelas para pemuda merasa akan terjadi 'Proklamasi buatan Djepang'. Beberapa pemuda di rumah Maruto berkumpul untuk melakukan tindakan nekat, meng-fait accompli sebuah tindakan yang mengunci agar jangan sampai 'Proklamasi buatan Djepang' terjadi di Indonesia.
Sementara di lain waktu, kelompok bawah tanah (Illegal) sudah menyatakan penyatuan kepemimpinan akan berada di tangan Sjahrir. Mereka menolak Amir karena dinilai terlalu dekat dengan Belanda. Pemuda-pemuda tersebut kemudian menyusun Proklamasi dimana nantinya Sjahrir yang akan membacakan, para pemuda sepakat bahwa Sjahrir yang akan memimpin perjuangan, karena Sjahrir bersih dari tuduhan kolaborator dengan Jepang.
Mendapat beban tanggung jawab luar biasa, Sjahrir merasa gamang. Apakah ia bisa melakukan Proklamasi, 'apakah rakyat dibelakang saya'. Kegamangan itulah yang kemudian membuat Sjahrir pergi ke rumah Maruto di Jalan Veteran I, dengan keraguan luar biasa Sjahrir bertanya pada Maruto "Bung yakin pemuda kita sudah siap?..."Siapa yang memimpin pemuda?" . Membuat dan menyiarkan proklamasi itu gampang tapi mempertahankannya yang sulit. Itu perlu kekuatan, dimana kekuatan kita?.
Maruto berusaha menerangkan kesiapan pemuda, ia yang akan ambil resiko, pemuda siap dan panjang lebar Maruto menjawab kegamangan Sjahrir. Maruto kecewa setelah Sjahrir pulang dari rumahnya masih menyimpan rasa ragu.
Lalu Maruto bertemu dengan kliknya : Sukarni, Pandu Kartawiguna, Adam Malik dan Chaerul Saleh. Sukarni beberapa kali geleng-geleng sambil nggak percaya Sjahrir bisa ragu seperti itu. Pandu nggebrak meja dan marah-marah mendengar kelakuan Sjahrir yang ragu, Adam Malik ketawa dan ia paham dengan jalan pikiran Sjahrir, Chaerul Saleh idem dengan Adam Malik.
Nggak lama kemudian keadaan makin genting, Maruto pergi ke Cirebon. Di sana ia berjumpa dengan dr. Sudarsono (Bapaknya eks Menhan Juwono Sudarsono). -Son-, panggilan akrab Sudarsono meminta teks proklamasi yang dia kira sudah diteken Sjahrir. "Mana teks proklamasi itu?" Maruto menjawab "Belum ada, Son" Lalu Son marah-marah "Aku sudah bersepeda 60 km tapi nggak ada teks itu, bilang sama Sjahrir saya akan buat sendiri teks itu!" Akhirnya Son, sendiri nekat mengumumkan 'Proklamasi Cirebon' 16 Agustus 1945. Dihadiri sekitar 150-an orang terutama dari tokoh PNI-Pendidikan, Proklamasi dilakukan di alun-alun Cirebon.
Sementara di Djakarta kondisi makin genting. Djawoto mengabarkan kepada beberapa tokoh pemuda bahwa Sjahrir malah mengunjung Sukarno-Hatta untuk melakukan Proklamasi. "Lha, daripada Sjahrir yang ndesak biar kita aja desak itu Sukarno" pikir pemuda. Lalu terjadilah peristiwa Rengasdengklok, dimana Sukarno dipaksa Sukarni yang sama-sama berdarah Blitar untuk memerdekakan Indonesia sekarang juga. Itu juga terjadi insiden gebrak-gebrakan meja sampai tangan Sukarno sakit, Hatta yang menenangkan semuanya. Hatta masih ragu apakah Djepang kalah beneran? - Hal ini kerap jadi ungkitan setelah masa Proklamasi, bahkan setelah kejatuhan Sukarno 1966, Sukarni laris diwawancarai oleh wartawan asing tentang apa yang terjadi sebenarnya pada peristiwa 16/17 Agustus 1945 itu.
Sukarno-Hatta menolak pada awalnya karena mereka terikat komitmen pada Djepang. Tapi Sukarni lebih nekat lagi. Ternyata ada rahasia penting disini yang membuat Sukarno dan Hatta mau ikut kemauan Sukarni cs. Sewaktu di Dalat, Saigon. Penggede Djepang meminta kemerdekaan Indonesia itu meliputi wilayah : "eks Hindia Belanda dan Seluruh Malaya" Bung Karno dan Bung Hatta amat merahasiakan hal ini agar jangan sampai pemuda-pemuda itu tahu. Sebab kalau Malaya ikut serta, maka Indonesia harus siap berhadapan dengan pemenang perang yaitu : Inggris, dan kemungkinan kemerdekaan Indonesia batal secara hukum" Sukarno-Hatta menghitung kekuatan pemuda tidak akan sanggup bila menghadapi serbuan Inggris, sementara Belanda pasti senang bila Inggris ikut campur soal eks Hindia Belanda. Itulah hebatnya Sukarno dan Hatta yang mampu memprediksi peta kekuatan lawan secara dingin. Sukarno itu penuh perhitungan dan yang paling cerdas disini sebenarnya Hatta, ia mampu memprediksi secara detil apa yang terjadi bila sesuatu dilakukan. Bersama Hatta sebenarnya Sukarno menemukan kekuatan daya nalarnya, sayang setelah tandem Sukarno, Subandrio daya terobos Sukarno menjadi tak terkendali, tak ada hitungan politik yang dingin dan cermat. Tapi yang jelas disini dari awal Sjahrir juga mengira senjata paling efektif adalah melakukan agitasi ala Sukarno jadilah di awal kemerdekaan pada jam-jam pertama Sjahrir merapat ke Sukarno, Sjahrir gagal prediksi bahwa dikemudian waktu kekuatan bersenjata amat pesat, apalagi setelah kemunculan Tan Malaka di ruang publik. Perang menjadi sedemikian heroik. Amir Syarifudin juga berhasil mengonsolidasi militer resmi menjadi kekuatan raksasa yang bisa melawan agresi militer Belanda kelak dikemudian hari.
Tiga orang tokoh Malaya : Dato' Ibrahim Hadji Jacoub, Adenan dan Chandra Sekar Bose (Sekar-Bose meninggal karena pesawatnya ditembak). kecewa karena Malaya tidak ikut diproklamasikan kemerdekaannya satu dengan wilayah Indonesia. Akhirnya Ibrahim dan Adenan ikut perjuangan Indonesia. Ibrahim berganti nama menjadi Iskandar Kamel, Iskandar Kamel ini sohibnya Tun Abdul Razak, ia berjuang perang dengan Belanda takut pulang ke Malaya kerna bila pulang takut kena tuduh bagian dari kolaborator Djepang. Akhirnya ia masuk TNI dan jadi Kolonel. Terakhir ia menjadi Ketua Partindo, pada pemilu 1971, Iskandar Kamel masuk Partai Murba. Sementara Adenan yang awalnya masuk TNI lalu berhenti dari dinasnya dan pergi ke Amerika Serikat disana ia mendirikan Biro Arsitek "Adenan & Adenan"
Kamis, 27 Oktober 2011
Calon Arang
Calon Arang, Kartini, Djamilah dan Kekuasaan
Ketika wanita menjadi janda
Mulailah sudah prasangka
Melucuti kemurnian rahim
Rumah-rumah menanam pandan di pintu-pintu
Anak-anak menutup lubang pusar
Lelaki menggosok-gosok kumisnya....
(Cok Savitri, Narasi Pembelaan Dirah)
Begitulah narasi yang kerap digumuli Cok Savitri dalam pentas Dirah tujuh tahun silam, Cok Savitri yang memiliki darah keturunan langsung dari Calon Arang membela nenek moyangnya itu sebagai perempuan yang berani memberontak pada kekuasaan. Oleh Cok Savitri, Calon Arang bukan lagi digambarkan sebagai pemuja Btari Durga yang jahat, penganut aliran Siwa Tantri yang doyan sembahyang di kuburan sambil nari nengkleng...namun Calon Arang digambarkan sebagai perempuan yang berani menantang dominasi kaum lelaki terhadap penafsiran susunan masyarakat. Calon Arang berani menantang intervensi negara terhadap keyakinan anggota masyarakat. Namun dalam sejarah cerita-cerita itu noda Calon Arang dilebur menjadi warna hitam sebuah dongeng...seperti Djamilah.
Alkisah, setelah aksi penculikan beberapa Jenderal di akhir tahun 1965. Santer kemudian disebut nama Djamilah dalam koran-koran milik Angkatan Darat. Djamilah mencoba bertahan hidup sebagai pelacur di sebuah kawasan dekat Halim. Entah kenapa perempuan muda berwajah manis ini kemudian tertangkap oleh tentara, setelah disiksa dan ditelanjangi ia kemudian dibebaskan setelah sebelumnya dipaksa menandatangani sebuah pernyataan bahwa dia adalah pemimpin cabang Gerwani, sebuah organisasi gerakan perempuan yang sejalan dengan PKI. Djamilah dan Gerwani adalah dua sisi mata uang yang sama setelah ‘Gerakan’ Tiga Puluh September mengalami transformasi menjadi ‘Peristiwa’ G 30 S. Makna pergeseran kata Gerakan dan Peristiwa ini mengalami perluasan merusak, dan salah satunya adalah Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia dimana ikon Gerwani hancur lebur. Gerwani diresidu sejarah hanyalah sebuah organisasi yang memproduksi penari genjer-genjer ditengah pesta seksual Pemuda Rakyar saat para Jenderal merenggang nyawa. Dan film garapan Arifin C. Noer serta buku sejarah resmi Orde Baru menulisnya demikian. Walaupun kemudian terbukti bahwa penyiksaan dengan silet dan kata-kata ‘darah itu merah...djenderal’ dengan latar belakang lagu ‘Genjer-genjer ono Jenderal Pathing Keleler’ hanyalah lakon carangan yang digarap para penulis naskah yang dibayar oleh junta militer Orde Baru. Seandainya RUU APP gol, maka penulis porno kisah dongeng penyiksaan para Jenderal bisa dikenakan pasal pidana, namun toch sejarah bukan pengandaian....
Sejarah tentang kisah perempuan selalu berkaitan erat dengan kekuasaan lelaki yang menyelubunginya. Suatu sore seorang bangsawan anak bupati Jepara berkata pada ayahnya yang bertubuh tambun. “Romo, saya mau sekolah di Belanda” sang Bapak dengan kumis lantang berkata pelan ‘Sudahlah Kartini, kamu dirumah saja...biarlah kakang mas mu yang bersekolah di Belanda...” dan memang Raden Mas Sosrokartono, kakak Raden Adjeng Kartini menimba ilmu di Belanda, walaupun kemudian dunia mengenalnya sebagai tokoh kejawen tiada tanding di jamannya, Kyai yang berfilsafat Bambu Kuning, yang senang memberi pengobatan di tengah alun-alun Bandung dengan gelas bertuliskan aksara arab pertama ‘Alif’. Lalu dimana Kartini yang gandrung dengan budaya barat dan ingin bersekolah. Ia melahirkan seorang bayi dengan bertarung nyawa dan kalah ketika melahirkan Soesalit, Kartini menjadi madu seorang Bupati, menjadi perlambang objek nafsu lelaki dan kekuasaan, namun ia melahirkan Soesalit yang kelak anaknya ini menjadi seorang Jenderal kesayangan Bung Karno di tahun-tahun Revolusi 1945-1949.
Kisah perempuan seringkali adalah kisah perlawanan atas nama kesadaran persamaan...tapi seringkali kisah itu berujung pada kekalahan. Karena jangankan memiliki kesadaran atas persamaan hak-nya, memiliki tubuhnya sendiri kadang perempuan tidak diperbolehkan. Seperti yang diucapkan seorang perempuan pemberani Indonesia, Gadis Arivia dalam kuliah-kuliahnya “Jangan-jangan perempuan tak lagi memiliki tubuhnya sendiri karena kepemilikannya sudah diambil oleh hukum”
......Entahlah toch lelaki sering menafsirkan perempuan sebagai bangunan porno dalam pikirannya, atau memang lelaki sesungguhnya tak sanggup memiliki daya tahan perlawanan seperti perempuan?
Ketika wanita menjadi janda
Mulailah sudah prasangka
Melucuti kemurnian rahim
Rumah-rumah menanam pandan di pintu-pintu
Anak-anak menutup lubang pusar
Lelaki menggosok-gosok kumisnya....
(Cok Savitri, Narasi Pembelaan Dirah)
Begitulah narasi yang kerap digumuli Cok Savitri dalam pentas Dirah tujuh tahun silam, Cok Savitri yang memiliki darah keturunan langsung dari Calon Arang membela nenek moyangnya itu sebagai perempuan yang berani memberontak pada kekuasaan. Oleh Cok Savitri, Calon Arang bukan lagi digambarkan sebagai pemuja Btari Durga yang jahat, penganut aliran Siwa Tantri yang doyan sembahyang di kuburan sambil nari nengkleng...namun Calon Arang digambarkan sebagai perempuan yang berani menantang dominasi kaum lelaki terhadap penafsiran susunan masyarakat. Calon Arang berani menantang intervensi negara terhadap keyakinan anggota masyarakat. Namun dalam sejarah cerita-cerita itu noda Calon Arang dilebur menjadi warna hitam sebuah dongeng...seperti Djamilah.
Alkisah, setelah aksi penculikan beberapa Jenderal di akhir tahun 1965. Santer kemudian disebut nama Djamilah dalam koran-koran milik Angkatan Darat. Djamilah mencoba bertahan hidup sebagai pelacur di sebuah kawasan dekat Halim. Entah kenapa perempuan muda berwajah manis ini kemudian tertangkap oleh tentara, setelah disiksa dan ditelanjangi ia kemudian dibebaskan setelah sebelumnya dipaksa menandatangani sebuah pernyataan bahwa dia adalah pemimpin cabang Gerwani, sebuah organisasi gerakan perempuan yang sejalan dengan PKI. Djamilah dan Gerwani adalah dua sisi mata uang yang sama setelah ‘Gerakan’ Tiga Puluh September mengalami transformasi menjadi ‘Peristiwa’ G 30 S. Makna pergeseran kata Gerakan dan Peristiwa ini mengalami perluasan merusak, dan salah satunya adalah Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia dimana ikon Gerwani hancur lebur. Gerwani diresidu sejarah hanyalah sebuah organisasi yang memproduksi penari genjer-genjer ditengah pesta seksual Pemuda Rakyar saat para Jenderal merenggang nyawa. Dan film garapan Arifin C. Noer serta buku sejarah resmi Orde Baru menulisnya demikian. Walaupun kemudian terbukti bahwa penyiksaan dengan silet dan kata-kata ‘darah itu merah...djenderal’ dengan latar belakang lagu ‘Genjer-genjer ono Jenderal Pathing Keleler’ hanyalah lakon carangan yang digarap para penulis naskah yang dibayar oleh junta militer Orde Baru. Seandainya RUU APP gol, maka penulis porno kisah dongeng penyiksaan para Jenderal bisa dikenakan pasal pidana, namun toch sejarah bukan pengandaian....
Sejarah tentang kisah perempuan selalu berkaitan erat dengan kekuasaan lelaki yang menyelubunginya. Suatu sore seorang bangsawan anak bupati Jepara berkata pada ayahnya yang bertubuh tambun. “Romo, saya mau sekolah di Belanda” sang Bapak dengan kumis lantang berkata pelan ‘Sudahlah Kartini, kamu dirumah saja...biarlah kakang mas mu yang bersekolah di Belanda...” dan memang Raden Mas Sosrokartono, kakak Raden Adjeng Kartini menimba ilmu di Belanda, walaupun kemudian dunia mengenalnya sebagai tokoh kejawen tiada tanding di jamannya, Kyai yang berfilsafat Bambu Kuning, yang senang memberi pengobatan di tengah alun-alun Bandung dengan gelas bertuliskan aksara arab pertama ‘Alif’. Lalu dimana Kartini yang gandrung dengan budaya barat dan ingin bersekolah. Ia melahirkan seorang bayi dengan bertarung nyawa dan kalah ketika melahirkan Soesalit, Kartini menjadi madu seorang Bupati, menjadi perlambang objek nafsu lelaki dan kekuasaan, namun ia melahirkan Soesalit yang kelak anaknya ini menjadi seorang Jenderal kesayangan Bung Karno di tahun-tahun Revolusi 1945-1949.
Kisah perempuan seringkali adalah kisah perlawanan atas nama kesadaran persamaan...tapi seringkali kisah itu berujung pada kekalahan. Karena jangankan memiliki kesadaran atas persamaan hak-nya, memiliki tubuhnya sendiri kadang perempuan tidak diperbolehkan. Seperti yang diucapkan seorang perempuan pemberani Indonesia, Gadis Arivia dalam kuliah-kuliahnya “Jangan-jangan perempuan tak lagi memiliki tubuhnya sendiri karena kepemilikannya sudah diambil oleh hukum”
......Entahlah toch lelaki sering menafsirkan perempuan sebagai bangunan porno dalam pikirannya, atau memang lelaki sesungguhnya tak sanggup memiliki daya tahan perlawanan seperti perempuan?
Langganan:
Postingan (Atom)




