Abis
baca blog-blog wanita Indonesia yang nikah dengan bule, dari lima orang
yang nulis semuanya hampir merindukan Indonesia tanah kelahirannya,
tapi hampir semuanya juga membenci Indonesia sebagai sebuah sistem. Ada
seorang wanita yang ibunya harus keluar dari kamar ICU karena tidak
sanggup membayar biaya kamar dan terpaksa harus mati tanpa perawatan
karena uang, lalu ia melihat sistem kesehatan
di Kanada yang begitu manusiawi, padahal ibunya amat mencintai
Indonesia, amat bangga dengan bangsanya bila nonton Bulutangkis - dia
menceritakan saat Icuk bertanding lawan Yang Yang ibunya selalu nonton,
saat sepakbola bertanding ibunya selalu berteriak-teriak, nasionalisme
yang begitu banyak melekat pada diri orang Indonesia. Tapi kadang
nasionalisme ini dibayar dengan sistem yang bejat.
Hebatnya lagi
orang Indonesia tidak pernah membenci bangsanya, sedendam-dendam apapun,
bila ia mengingat Indonesia di negeri yang jauh air matanya selalu
menetes. Ada cerita lagi dari satu wanita Indonesia yang tinggal di
Belgia dan menikah dengan lelaki Belgia, ia punya pengalaman pahit
dengan pemerintahan geblek di Indonesia, tapi ia selalu memiliki
kebiasaan di setiap tanggal 17 Agustus untuk duduk di tepi jendela pada
satu malam dan meneteskan air mata, ia menyanyi sendirian lagu-lagu
tentang kerinduan pada bangsanya.
Mencintai bangsa adalah hal
yang abstrak, ia tidak begitu jelas, tapi ia nyata, ia memenuhi ruang
pikiran dan hati bagi bangsanya. Indonesia ini aneh tiap hari ada saja
hal-hal yang menyebalkan untuk dibicarakan, tapi kecintaan yang luar
biasa tidak pernah menjadikan orang Indonesia terasing oleh
kebangsaannya. Ada satu cerita yang menarik di Kanada juga, ia menangis
saat harus berganti WNI, padahal ia dulu tidak pernah merasa mencintai
Indonesia saat tinggal di Semarang, ia merasa biasa saja, ia bolos saat
upacara bendera dan ia tak hapal nama-nama wapres Indonesia, ia bahkan
tak tahu pulau Sulawesi bila ia melihat gambar peta, Ia keturunan
Cina-Jawa, sebuah peranakan khas Semarang dengan identitas tersendiri,
namun ia ketika ia harus berganti kewarganegaraan ia menangis, ada
sesuatu yang hilang. Akhirnya ia menarik pena-nya menolak tanda tangan
kewarganegaraan dan tetap memilih menjadi orang Indonesia.
Nasionalisme memang absurd, ia seperti udara tak terlihat tapi terasa.........