![]() | ||
| Wilayah Asia Yang Paling Kaya Di Dunia Sebagai Pasar Konsumen, Wilayah Produksi, Arus Modal, dan Sumber Daya Alam (Sumber foto : Asian Map.com) |
Kini wilayah Asia bergerak cepat,
seluruh kekuatan-kekuatan besar Asia ingin menjadi pemain dalam pasar
besar di dunia. Asia menempati urutan nomor satu dalam jumlah penduduk,
arus modal dan sumber daya alam. Inilah yang kemudian Asia akan jadi
wilayah paling kaya di dunia, setelah di masa-masa kolonialisme antara
abad 17-20 Asia dijadikan wilayah jajahan negara-negara Eropa, dan
sepanjang abad 20 dipermainkan oleh politik luar negeri Amerika Serikat.
Pemain-pemain besar Asia yang muncul
saat ini adalah : Arab Saudi dan sekitaran negara teluk yang kaya modal
mereka menjadi kekuatan penuh atas sumber-sumber modal yang banyak
ditanamkan di seluruh dunia, India yang kuat di sumber daya manusia,
Jepang yang sangat tinggi tingkat kemampuan teknologinya, Korea Selatan
sebagai bayang-bayang Jepang, wilayah Indo-China dan Melayu (Vietnam,
Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura dan Indonesia) yang pasar
konsumsinya memiliki daya serap tinggi dan terbesar adalah Cina yang
memiliki hampir semua lini : Sumber Modal, Sumber Daya Alam, Tenaga
Kerja dan Kekuatan Produksi Massal.
Kekuatan Cina jelas merupakan ancaman
bagi kekuatan dagang Amerika Serikat yang menancapkan pengaruhnya di
Asia Tenggara dan Timur selama lebih dari 60 tahun. Kekuatan massal
produksi Cina sekarang sudah menguasai wilayah Asia Tenggara, bahkan
invasi produksi Cina untuk alat-alat produksi merembes ke seluruh
dataran Eropa, puncaknya adalah invasi produk Cina ke Amerika Serikat
pada tahun 2005 yang membuat goncang pasaran produk Amerika Serikat
sehingga mereka harus melakukan pengkhianatan terhadap politik
liberal-nya dengan melakukan tindakan-tindakan diskriminatif atas
perdagangannya dengan Cina.
Amerika Serikat selalu mendasari
provokasi untuk melakukan konflik dagangnya. Wilayah Asia Tenggara
adalah wilayah yang paling rentan dalam konflik dagang dan konflik
militer, sementara Indonesia masih sangat bergantung sekali dengan arus
modal dari Amerika Serikat, tapi beberapa kekuatan internal politik di
Indonesia sudah melihat bahwa harus ada ‘kemandirian politik dan
ekonomi’ seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1960-an.
Perang dagang bisa saja berlanjut
menjadi konflik militer, atau konflik militer adalah diplomasi dalam
perang dagang. Proxy War ini sering dimainkan Amerika Serikat setelah
mereka belajar dari kegagalan pada perang Korea dan Perang Vietnam. Lalu
apakah konflik di Pulau Daiyou akan menjadi perang Proxy antara Amerika
Serikat dan Jepang saat ini?.
Provokasi Jepang dan Kenangan Invasi Jepang ke Shanghai
![]() |
| Pembantaian Nanking, Desember 1937 atas Orang Cina yang dilakukan Tentara Jepang. Merupakan Dendam Kolektif bagi Bangsa Cina kepada Bangsa Jepang (Sumber Foto : Wikipedia) |
Bila dilihat dari trauma sejarah, bangsa Cina masih menyimpan dendam yang luar biasa terhadap bangsa Jepang. Dendam yang menjadi ingatan kolektif mereka adalah saat Invasi Jepang ke Shanghai pada tahun 1937, Invasi ini adalah puncak dari politik ekspansi Jepang yang merampas satu persatu wilayah Cina di masa lalu, perampasan ini dalam sejarah dikenal sebagai ‘insiden-insiden kecil’ seperti Insiden Jembatan Marcopolo’, Insiden Tembok Besar dan Insiden-Insiden lainnya yang jadi pelatuk dalam perang total Cina-Jepang pada tahun 1937 dimana Jenderal Kaum Nasionalis, Chiang Kai Sek menghubungi pihak Komunis dan bersekutu untuk bersatu melawan Jepang. Jepang melakukan pendaratan amfibi ke wilayah Shanghai dan bertempur habis-habisan sekaligus melakukan tindakan-tindakan brutal seperti pemerkosaan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk shanghai. Pendudukan kota Shanghai inilah yang kemudian menjadi awal kebangkitan Nasionalisme Cina periode kedua, pasca Sun Yat Sen. -Kebangkitan yang lebih didasari pada politik kebanggaan orang Cina yang lebih superior dalam sejarah dan budaya ketimbang orang Jepang yang dianggapnya masih barbar.
Sampai sekarangpun, Cina tidak mau
memaafkan Jepang atas tindakannya menginvasi mereka dan membantai jutaan
orang Cina. Bahkan politik luar negeri Cina tanpa tertulis mengatakan
Kuil Yasukuni yang merupakan makam bagi tentara Jepang veteran perang
dunia II adalah kuil para ‘penjahat’ pejabat Cina yang berkunjung ke
Jepang tidak boleh kesana, bahkan Perdana Menteri Jepang yang berani ke
kuil Yasukuni dan melakukan penghormatan dianggap musuh insiden PM
Jepang Junichiro Koizumi (menjabat : 2001-2007), hal yang sama juga
dilakukan oleh Korea Selatan yang menganggap kuil Yasukuni sebagai
tempat haram jadah.
Titik-titik sakral atas sengketa inilah
yang bisa jadi permainan Amerika Serikat dalam geopolitiknya untuk
memanfaatkan ketidakstabilan Asia Timur. Hal ini akan sama persis
dengan posisi konflik Israel-Palestina dimana AS mengambil keuntungan
atas konflik ini dengan persekutuan kuat di negara-negara teluk
sekaligus berperang di wilayah panas Arab Nasionalis seperti : Libya,
Suriah, Mesir, Irak, Iran dan Lebanon.
![]() |
| Konflik Pulau Daiyou, akankah jadi perang di Asia Timur Atau Hanya Gertak Perang Dagang AS kepada Cina? (Sumber : Wikipedia) |
Dua aktivis Jepang mendarat di kepulauan itu sekaligus melakukan wawancara pers bahwa kepulauan itu adalah hak milik pribadi seorang warga Jepang yang sudah dibelinya. Sementara ada data-data masuk ke Pemerintahan RRC serta menyebarluas ke rakyat banyak di Cina soal adanya sumber daya alam yang luar biasa seperti minyak bumi di kawasan itu. Kenangan kolektif atas kebrutalan Jepang di masa lalu juga menjadi pemicu demonstrasi besar anti Jepang di Qingdao yang memaksa dua Pabrikan besar Jepang : Panasonic dan Canon menutup lokasi usahanya.
![]() |
| Ribuan Warga RRC Menyerbu Beberapa Perusahaan Jepang di Cina dan Menghancurkan Pintu-Pintunya, Kemarahan Orang-Orang Cina Ini Bisakah ini mengancam Ekonomi Jepang? (Sumber Foto : Reuters) |
Orang-orang Jepang bersembunyi takut di sweeping
sementara mobil-mobil Jepang dilempari batu. Apa selanjutnya yang
terjadi pada sengketa pulau ini, Jepang kemungkinan tidak memiliki minat
atas perang, karena mereka sudah merasakan pahitnya perang, dan
nasionalisme Jepang hanya tinggal kenangan, mereka sudah sepenuhnya jadi
bangsa pedagang, sementara Cina jelas ini soal gengsi politik di depan
Pemerintahan Taiwan, karena bisa saja Taiwan merebut Pulau itu dan
menegakkan garis klaim Nasionalis tinggalan Chiang Kai Sek di depan para
generasi Maois di RRC. Apakah ini dimanfaatkan oleh Amerika Serikat
sebagai Perang Dagang dalam penguasaan wilayah dagang di Asia Timur dan
Asia Tenggara dengan Jepang sebagai Boneka seperti layaknya Pemerintahan
Bao Dai di Vietnam Selatan pada awal tahun 1960-an?
Kita tunggu perkembangan selanjutnya…………



