Cari Blog Ini

Selasa, 18 September 2012

Demo Anti Jepang di Cina : Perang Dagang Terselubung?

Wilayah Asia Yang Paling Kaya Di Dunia Sebagai Pasar Konsumen, Wilayah Produksi, Arus Modal, dan Sumber Daya Alam (Sumber foto : Asian Map.com)
Kini wilayah Asia bergerak cepat, seluruh kekuatan-kekuatan besar Asia ingin menjadi pemain dalam pasar besar di dunia. Asia menempati urutan nomor satu dalam jumlah penduduk, arus modal dan sumber daya alam. Inilah yang kemudian Asia akan jadi wilayah paling kaya di dunia, setelah di masa-masa kolonialisme antara abad 17-20 Asia dijadikan wilayah jajahan negara-negara Eropa, dan sepanjang abad 20 dipermainkan oleh politik luar negeri Amerika Serikat.

Pemain-pemain besar Asia yang muncul saat ini adalah : Arab Saudi dan sekitaran negara teluk yang kaya modal mereka menjadi kekuatan penuh atas sumber-sumber modal yang banyak ditanamkan di seluruh dunia, India yang kuat di sumber daya manusia, Jepang yang sangat tinggi tingkat kemampuan teknologinya, Korea Selatan sebagai bayang-bayang Jepang,  wilayah Indo-China dan Melayu (Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura dan Indonesia) yang pasar konsumsinya memiliki daya serap tinggi dan terbesar adalah Cina yang memiliki hampir semua lini :  Sumber Modal, Sumber Daya Alam, Tenaga Kerja dan Kekuatan Produksi Massal.

Kekuatan Cina jelas merupakan ancaman bagi kekuatan dagang Amerika Serikat yang menancapkan pengaruhnya di Asia Tenggara dan Timur selama lebih dari 60 tahun. Kekuatan massal produksi Cina sekarang sudah menguasai wilayah Asia Tenggara, bahkan invasi produksi Cina untuk alat-alat produksi merembes ke seluruh dataran Eropa, puncaknya adalah invasi produk Cina ke Amerika Serikat pada tahun 2005 yang membuat goncang pasaran produk Amerika Serikat sehingga mereka harus melakukan pengkhianatan terhadap politik liberal-nya dengan melakukan tindakan-tindakan diskriminatif atas perdagangannya dengan Cina.

Amerika Serikat selalu mendasari provokasi untuk melakukan konflik dagangnya. Wilayah Asia Tenggara adalah wilayah yang paling rentan dalam konflik dagang dan konflik militer, sementara Indonesia masih sangat bergantung sekali dengan arus modal dari Amerika Serikat, tapi beberapa kekuatan internal politik di Indonesia sudah melihat bahwa harus ada ‘kemandirian politik dan ekonomi’ seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1960-an.

Perang dagang bisa saja berlanjut menjadi konflik militer, atau konflik militer adalah diplomasi dalam perang dagang. Proxy War ini sering dimainkan Amerika Serikat setelah mereka belajar dari kegagalan pada perang Korea dan Perang Vietnam. Lalu apakah konflik di Pulau Daiyou akan menjadi perang Proxy antara Amerika Serikat dan Jepang saat ini?.

 Provokasi Jepang dan Kenangan Invasi Jepang ke Shanghai 
Pembantaian Nanking, Desember 1937 atas Orang Cina yang dilakukan Tentara Jepang. Merupakan Dendam Kolektif bagi Bangsa Cina kepada Bangsa Jepang (Sumber Foto : Wikipedia)


Bila dilihat dari trauma sejarah, bangsa Cina masih menyimpan dendam yang luar biasa terhadap bangsa Jepang. Dendam yang menjadi ingatan kolektif mereka adalah saat Invasi Jepang ke Shanghai pada tahun 1937, Invasi ini adalah puncak dari politik ekspansi Jepang yang merampas satu persatu wilayah Cina di masa lalu, perampasan ini dalam sejarah dikenal sebagai ‘insiden-insiden kecil’ seperti Insiden Jembatan Marcopolo’, Insiden Tembok Besar dan Insiden-Insiden lainnya yang jadi pelatuk dalam perang total Cina-Jepang pada tahun 1937 dimana Jenderal Kaum Nasionalis, Chiang Kai Sek menghubungi pihak Komunis dan bersekutu untuk bersatu melawan Jepang.  Jepang melakukan pendaratan amfibi ke wilayah Shanghai dan bertempur habis-habisan sekaligus melakukan tindakan-tindakan brutal seperti pemerkosaan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk shanghai.  Pendudukan kota Shanghai inilah yang kemudian menjadi awal kebangkitan Nasionalisme Cina periode kedua, pasca Sun Yat Sen.  -Kebangkitan yang lebih didasari pada politik kebanggaan orang Cina yang lebih superior dalam sejarah dan budaya ketimbang orang Jepang yang dianggapnya masih barbar.

Sampai sekarangpun, Cina tidak mau memaafkan Jepang atas tindakannya menginvasi mereka dan membantai jutaan orang Cina. Bahkan politik luar negeri Cina tanpa tertulis mengatakan Kuil Yasukuni yang merupakan makam bagi tentara Jepang veteran perang dunia II adalah kuil para ‘penjahat’  pejabat Cina yang berkunjung ke Jepang tidak boleh kesana, bahkan Perdana Menteri Jepang yang berani ke kuil Yasukuni dan melakukan penghormatan dianggap musuh insiden PM Jepang Junichiro Koizumi (menjabat : 2001-2007), hal yang sama juga dilakukan oleh Korea Selatan yang menganggap kuil Yasukuni sebagai tempat haram jadah.

Titik-titik sakral atas sengketa inilah yang bisa jadi permainan Amerika Serikat dalam geopolitiknya untuk memanfaatkan ketidakstabilan Asia Timur.  Hal ini akan sama persis dengan posisi konflik Israel-Palestina dimana AS mengambil keuntungan atas konflik ini dengan persekutuan kuat di negara-negara teluk sekaligus berperang di wilayah panas Arab Nasionalis seperti : Libya, Suriah, Mesir, Irak, Iran dan Lebanon.

Apakah Amerika Serikat akan bermain pada konflik ini?. Pemerintahan komunis RRC tentu tidak akan menurunkan gengsinya dengan melepas kepulauan Cina, tapi Jepang tidak juga memiliki kekuatan kemiliteran karena sejak pengakuan kekalahan Jepang atas Amerika Serikat setelah dibom sekutu pada Agustus 1945, Jepang hanya memiliki pasukan bela diri,  jadi apa yang dibaca intel-intel RRC atas pergerakan Jepang di Kepulauan Daiyou itu?

Konflik Pulau Daiyou, akankah jadi perang di Asia Timur Atau Hanya Gertak Perang Dagang AS kepada Cina? (Sumber : Wikipedia)

Dua aktivis Jepang mendarat di kepulauan itu sekaligus melakukan wawancara pers bahwa kepulauan itu adalah hak milik pribadi seorang warga Jepang yang sudah dibelinya. Sementara ada data-data masuk ke Pemerintahan RRC serta menyebarluas ke rakyat banyak di Cina soal adanya sumber daya alam yang luar biasa seperti minyak bumi di kawasan itu. Kenangan kolektif atas kebrutalan Jepang di masa lalu juga menjadi pemicu demonstrasi besar anti Jepang di Qingdao yang memaksa dua Pabrikan besar Jepang : Panasonic dan Canon menutup lokasi usahanya.
 
Ribuan Warga RRC Menyerbu Beberapa Perusahaan Jepang di Cina dan Menghancurkan Pintu-Pintunya, Kemarahan Orang-Orang Cina Ini Bisakah ini mengancam Ekonomi Jepang? (Sumber Foto : Reuters)

Orang-orang Jepang bersembunyi takut di sweeping sementara mobil-mobil Jepang dilempari batu.  Apa selanjutnya yang terjadi pada sengketa pulau ini, Jepang kemungkinan tidak memiliki minat atas perang, karena mereka sudah merasakan pahitnya perang, dan nasionalisme Jepang hanya tinggal kenangan, mereka sudah sepenuhnya jadi bangsa pedagang, sementara Cina jelas ini soal gengsi politik di depan Pemerintahan Taiwan, karena bisa saja Taiwan merebut Pulau itu dan menegakkan garis klaim Nasionalis tinggalan Chiang Kai Sek di depan para generasi Maois di RRC. Apakah ini dimanfaatkan oleh Amerika Serikat sebagai Perang Dagang dalam penguasaan wilayah dagang di Asia Timur dan Asia Tenggara dengan Jepang sebagai Boneka seperti layaknya Pemerintahan Bao Dai di Vietnam Selatan pada awal tahun 1960-an?

Kita tunggu perkembangan selanjutnya…………