Cari Blog Ini

Selasa, 29 November 2011

Tentang Rasa Syukur

Bersukurlah kamu bisa makan ditempat layak, bisa makan enak dengan tenang. Kerna jutaan diluar sana saudara-saudara kita sebangsa masih mengais-ngais untuk mencari nasi, masih makan dari tempat yang terbuang.

Apalah artinya kemerdekaan bila tidak membuat orang tertawa, bila tidak bisa menembus batas-batas kemiskinan. Negara ini didirikan bukan untuk memperkaya segelintir orang, bukan untuk memperkaya orang-orang berseragam. Ketika kita melihat Anggaran Jamuan Makan Gubernur DKI 4,9 Milyar dan Anggaran Makan Pemda DKI 19 Milyar. Lalu kenapa rakyatnya masih mengais-ngais sampah?

Negara ini didirikan agar menjadi rumah bersama, bukan jembatan yang memisahkan antara kamu dan aku, antara yang kaya dan miskin. Kemiskinan bukanlah takdir tapi sebuah kesalahan pengurusan dalam masyarakat, ketika kemiskinan kau anggap takdir maka detik itu juga engkau telah menghina Tuhan yang memberikan hadiah terbesar bagi manusia : Berpikir.

Kembalikan Indonesia Raya kedalam ranah kemanusiaannya, sebuah negara yang bisa mengembalikan manusia pada fungsi kemanusiaannya. Dan tak ada yang lebih besar daripada fungsi kemanusiaan kecuali dia bisa makan dengan cara yang terhormat.

Berpikirlah, karena agamamu selalu mengajarkan manusia untuk berpikir.........

Akibat Perceraian Jaman Sekarang

70% perceraian dini (usia pernikahan dibawah 5 tahun) terjadi karena pasangan gagap menghadapi realitas kapitalisme. Pengertian-pengertian kita selama ini bahwa pernikahan adalah ruang sakral terhadap cinta sesungguhnya sudah hancur ketika kapitalisme menjadi satu-satunya ruang hidup kita. Relasi kita tidak lagi didasari pada hubungan saling mencintai karena ruang kapitalisme itu sudah mengasingkan gegap cinta itu ke sudut gelap. Perjuangan membangun rumah kehidupan tidak lagi didasarkan pada daya hidup saling menyayangi tapi didasari pada siapa memanfaatkan siapa? - Konsumerisme-lah yang menyebabkan ini semua.

Bila pasangan di jaman lalu, melandaskan pernikahan pada status sosial, pekerjaan dan latar belakang keluarga juga meletakkan keseimbangan dalam kehidupan pribadi dan sosial dengan meletakkan relasi yang tidak seimbang antara kekuasaan lelaki dan ketidakberdayaan perempuan sehingga perempuan tidak bisa menjadi diri yang sebenarnya dan kebanyakan dari langgengnya pernikahan itu pada hubungan saling ketertindasan, maka di jaman sekarang relasi seperti itu sudah hancur. Relasi-relasi yang didasarkan pada pandangan konvensional (status sosial, pekerjaan suami atau latar belakang keluarga) tidak lagi menjadi landasan penting, yang terpenting adalah terciptanya arus kas yang lancar untuk menghidupkan kebahagiaan. Kebahagiaan dalam relasi kapitalisme adalah imajinasi-imajinasi konsumtif yang kemudian dijadikan ukuran dalam meletakkan kebahagiaan keluarga. Ketika suami tidak berdaya menghadapi kegagapan dalam menjelaskan relasi kapitalisme ini maka pernikahan diujung kehancuran.

Banyak pasangan muda yang kaget melihat relasi ini karena tertutupnya gambaran cinta seperti screen saver romantis yang menutupi dunia realitas. Realitas kita adalah realitas kapitalisme, setiap hirupan nafasmu adalah nafas kapitalisme, semua imajinasi kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kapitalisme dan ketika kita mencari alternatif-alternatif diluar itu maka kita akan terasingkan dalam masyarakat.

Landasan relasi kapitalisme inilah yang menjadikan alasan terpenting bagi terciptanya sebuah perceraian dengan selubung macam-macam : Ketidaksesuaian paham, perselingkuhan, keyakinan, gaya hidup dan pertikaian antar keluarga besar. Jadi sebelum engkau mengerti tentang hakikat pernikahan, mengerti dulu-lah tentang bagaimana struktur masyarakat bekerja, hubungan bisa dibangun berdasarkan apa? dan bagaimana sebuah relasi bisa bekerja dengan baik pada situasi-situasi kapitalisme.

Al Ustadz Anda

Jumat, 25 November 2011

Sukarno, ACFTA dan Bangkrutnya Indonesia sekarang ini.

Di tahun 1928 Sukarno senang sekali memperhatikan arah politik dunia, setiap bacaan ia arahkan pada arah politik dunia atau geopolitik. Bila di tahun-tahun sebelumnya Sukarno amat menyukai bacaan dengan landasan-landasan ilmu pikir murni, seperti Komunisme, Kapitalisme, Pan Islamisme ataupun sejarah, maka sejak awal 1928 Sukarno mulai memperhatikan apa yang terjadi dalam politik Internasional.

Pernah pada satu saat ia berjumpa dengan wartawan dan meminta mengulas terus apa yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, Sukarno merasa sudah ada perkembangan di Jerman karena pemerintahan Weimar sudah amat buruk, Hitler mulai menunjukkan pesonanya di depan Angkatan Darat Jerman, Inggris sedang mengalami kesulitan, sementara Amerika Serikat lagi menikmati masa jaya-jayanya ekonomi kapitalis liberal sebelum akhirnya hancur pada tahun 1929 akibat depresi besar yang terjadi berkat permainan spekulasi saham yang berlebihan, spekulasi inilah yang kemudian menjadikan Amerika mengirim bisnismen-bisnismennya ke Jerman untuk melobi pihak Eropa dan mengadu domba mereka sehingga terjadi Perang Besar, jika perang besar terjadi maka Amerika Serikat bisa menggerakkan perekonomiannya.

Sukarno senang sekali dengan peta politik Internasional ia kerap menandai jajahan Inggris dengan tinta biru, jajahan Belanda dengan tinta merah dan jajahan Perancis ia coret dengan garis bergelombang. Suatu hari Sukarno kedatangan temannya dari Singapura yang membawa dua buku berjudul Seapower in the Pacific dan “The Great Pacific War” karangan Hector Charles Bywater. Bywater adalah seorang jurnalis Amerika yang mengikuti perkembangan politik dunia, ia melakukan pengamatan apa yang terjadi dalam konstelasi-konstelasi kekuatan dunia itu, dalam renungannya Bywater menuliskan bahwa “kelak suatu hari akan terjadi perebutan kekuasaan di Lautan Pasifik antara Kekaisaran Jepang dengan Amerika Serikat dalam memperebutkan wilayah Asia Pasifik”. Dalam bukunya Bywater menuliskan bahwa serangan itu bermula dari pengeboman Pangkalan Militer Amerika Serikat di Filipina – (walaupun kemudian terjadi tahun 1942 bahwa yang dibombardir justru dari Pearl Harbour). Sukarno berpikir dalam-dalam soal yang diberikan Bywater ini, ia merenung dan membawa pulpennya lalu menuliskan catatannya diatas kertas : “Apabila Filipina diserbu Jepang, maka Jepang akan masuk lewat dua kemungkinan : Jawa atau langsung dari Pangkalan Militernya di Okinawa. Andai Jawa yang dikuasai maka otomatis ia akan menguasai Nusantara, penguasaan Jawa ini akan sedikit banyak mengusir Belanda. Lalu Sukarno teringat pada ramalan Jayabaya yang sudah amat dikenal dalam cerita-cerita rakyat (folklore) orang Jawa : “Kelak akan ada bangsa cebol berkulit kuning yang akan menguasai Jawa seumur jagung” seumur jagung adalah kalimat idiom dari kata waktu “singkat” . Akan ada penguasaan waktu yang amat singkat. Di titik inilah Sukarno menandai pertaruhan politiknya. “Pertarungan yang amat singkat akan menjadikan pertaruhan politik Indonesia ke depan, pertaruhan jangka panjang”.

Sejak menggeluti pemikiran Bywater, Sukarno mengarahkan seluruh daya politiknya pada pertarungan Internasional untuk memanfaatkan kesempatan bagi Indonesia. Ia paham bila pertarungan itu dibawa ke dalam, maka Indonesia belum kuat, harus mempermainkan politik Internasional untuk kemerdekaan Indonesia dan keuntungan-keuntungan strategis lainnya.

Pada tahun 1929, Sukarno sekali lagi menemukan Amerika Serikat menemui depresi ekonomi besar. Sukarno melakukan hitung-hitungan politik, bila Amerika Serikat mengalami depresi besar maka yang terjadi adalah Amerika membutuhkan modal. Sukarno berpikir bahwa satu-satunya cara mendapatkan modal Amerika harus menciptakan perang baru – (teori Sukarno ini sampai sekarang masih digunakan Amerika dalam mengelola konflik politik Internasional yang pada ujung-ujungnya adalah penguasaan sumber-sumber minyak bumi dan penguasaan alam). Sukarno juga melihat sumber daya alam Indonesia sebagai sumber logistik terbesar dalam Perang Asia Pasifik. Kebangkitan fasisme di penjuru dunia menarik perhatian Sukarno, kebangkitan fasisme adalah tahap akhir dari kebangkrutan Kapitalis ini yang Sukarno baca dari analisa-analisa ekonom Komunis tentang Kapitalisme. Sukarno sendiri akhirnya lebih setuju dengan tulisan yang menyatakan “Fasisme akan mati dengan sendirinya karena tidak sesuai dengan kodrat pertumbuhan masyarakat” Kematian fasisme ini menjadikan Sukarno akan mempermainkan Jepang bila kelak Jepang datang. Sukarno sendiri dengan daya ciptanya sudah memperkirakan kemerdekaan Indonesia akan terjadi pada Agustus 1945. Ini juga kelak menjadi naskah sandiwara tonil yang ia lakukan di Flores dengan judul sama : Agustus 1945.

Penemuan arsitektur geopolitik Sukarno inilah yang kemudian menjadi landasan kerja politik Sukarno, tinggal dia bagaimana menyadarkan rakyat tentang arah masa depan. Lalu setiap waktu Sukarno berpidato soal Perang Pasifik ini. Laporan-laporan Intel Belanda menyebutkan Pidato Sukarno tentang Perang Pasifik ini akan amat diperhatikan oleh banyak orang, tapi yang lebih menakutkan apabila kemudian Amerika Serikat atau Jepang memperhatikan apa omongan Sukarno, maka ini akan memancing kekuatan luar negeri untuk hajar Belanda.

Pada awalnya Sukarno dianggap anak manis dalam Pergerakan Nasional di Indonesia, tapi dengan gagasannya soal Perang Asia Pasifik maka Sukarno dianggap memancing keributan yang lebih berbahaya lagi yaitu “Masuknya kekuatan Internasional dalam menggugat jajahan Belanda” dalam hal ini Jepang. Pada tanggal 28 Desember 1929, Sukarno diundang oleh Raden Mas Sujudi dari Yogyakarta untuk berbicara di depan rapat politik kaum kebangsaan di Solo. Sukarno datang dan berpidato di Solo dengan penuh semangat dan gayanya yang dramatik : Imperialis, perhatikanlah! Dalam waktu tidak lama lagi, Perang Pasifik menggeledek menyambar-nyambar membelah angkasa, ”Apabila, Samudera Pasifik merah oleh darah, dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan bom dan dinamit. Di saat itulah rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka”. Disini Sukarno terus menerus menulis tentang kemerdekaan yang akan terjadi, artinya Sukarno memberikan visi agar rakyat Indonesia bersiap. Dan tulisan Sukarno memang dibaca hampir seluruh rakyat Indonesia yang terdidik lewat koran-koran, -hal yang menunjukkan betapa tulisan Sukarno bisa menjadikan alam bawah sadarnya adalah ucapan Jenderal Nasution ketika ditawari oleh agen asing untuk memberontak melawan Sukarno tapi Nasution menolak dan menjawab dengan tegas “Sejak saya kecil, sejak saya tak tau apa artinya Nasionalisme, Sukarno-lah yang mengajari saya lewat tulisan-tulisannya di koran-koran tentang Nasionalisme, dialah yang menyadari saya tentang sebuah KeIndonesiaan di masa saya muda” begitu juga dengan catatan Deliar Noer semasa ia kecil, semasa ia kanak-kanak di usia 8 tahun Deliar Noer mencatatkan di bukunya sebagai tulisan anak kecil ia menulis : “Kelak aku akan jadi Sukarno, akan jadi Hatta” ini berarti tulisan Sukarno memang sudah tersebar amat luas di seluruh wilayah Hindia Belanda dan mempengaruhi banyak orang. Tulisan ini kemudian menjadi tanggung jawab bagi Sukarno mengarahkan ke arah mana rakyat harus bertindak.

Sukarno sudah melihat Perang Asia Pasifik sebagai alat paling penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Disini Sukarno sudah melakukan sebuah Pemetaan yang jelas dan tahapan-tahapan pasti kepada rakyat Indonesia. Gara-gara pidato di atas Sukarno kemudian ditangkap oleh Polisi Belanda, Rumah Sujudi digerebek dan seluruh rombongan Sukarno digelandang ke halaman lalu disuruh ganti pakaian di halaman dan kemudian diangkut truk ke Stasiun Tugu Yogyakarta, dimasukkan ke Gerbong Khusus tanpa jendela dibawa ke Bandung untuk diadili. Di depan Landraad (Pengadilan) Sukarno berkata terus menerus tentang sumber daya alam yang dikeruk Belanda. Disana Sukarno digetok hukuman 4 tahun penjara hanya karena membela nasib bangsanya.

Apa yang dilakukan Sukarno demi bangsanya sangat berbeda sekali dengan apa yang dilakukan pemerintahan SBY sekarang. Apakah anda masih ingat sewaktu SBY masih jadi Menkopolkam di tahun 2003 dan bertemu dengan seorang penggede Amerika Serikat, SBY mengatakan tanpa tau malu : “I love the United States, with all its faults. I consider it my second country.” (Saya mencintai Amerika Serikat, dengan segala kesalahan-kesalahannya, Saya akui Amerika Serikat ini adalah Negara Kedua bagi Saya). Ucapan model apa ini!! ....bagaimanapun ucapan ini dilakukan oleh seorang Pemimpin bukan seorang warga biasa dalam situasi emosional. Seorang Pemimpin bangsa hanya harus memiliki satu loyalitas, ya kepada bangsanya sendiri. Lalu apa yang terjadi pada ACFTA 2010. ACFTA adalah perjanjian perdagangan Bebas antara ASEAN-CINA, disini Indonesia masuk ke dalam wilayah perjanjian 2010. Tapi Indonesia sama sekali tidak mempersiapkan infrastruktur untuk menghadapi Perdagangan Bebas dengan Cina, coba anda perhatikan ada apa dibalik gagapnya SBY terhadap persoalan ACFTA ini, SBY sama sekali tidak melakukan gebrakan kepada rakyatnya “Ayo bangun infrastruktur, ayo kita mulai siap bertanding” tapi ia malah asik dengan dirinya sendiri, dana anggaran digarong dimana-mana sehingga rakyat tidak kuat bertanding dalam iklim Perdagangan Bebas.

Sebenarnya hal ini adalah permainan, dengan tidak siapnya Indonesia berdagang dengan Cina, maka rakyat akan marah-marah dengan Cina, lalu kenapa? Itulah yang ditakuti Amerika Serikat. Cina akan menjadi kekuatan paling penting di Asia Tenggara, Ekonomi Cina secara bertahap akan membangkrutkan dominasi Ekonomi Amerika Serikat yang sudah direbutnya dengan membunuhi 3 juta nyawa orang Indonesia lewat rekayasa Gestapu 65, Menggulingkan Sukarno, Membangun Pemerintahan buas Militer Orde Baru dan memenjarakan ribuan orang untuk kesalahan yang tak dimengertinya. Inilah landasan ekonomi Amerika Serikat dibangun di Indonesia. Sementara Cina membangun ekonominya sendiri masuk ke Pasar tanpa membunuhi satu-pun orang Indonesia, tapi Amerika marah karena pasarnya direbut, lalu datanglah Obama ke KTT Asean di Bali. Lewat perantaraan SBY pula Amerika Serikat melakukan kontrak dagang dengan ASEAN. Amerika Serikat menempatkan Pangkalan Militernya di Darwin untuk menggertak Cina. Disini rakyat Indonesia tetap harus jadi milik Amerika Serikat. Apa yang dilakukan SBY bisa diindikasikan begitu Pro-nya SBY kepada Amerika Serikat sehingga ia seakan-akan menghambat jalur pertarungan antara ekonomi rakyat Indonesia untuk bersiap menghadapi Cina.

Rusaknya kerangka pemikiran SBY adalah selama 7 tahun pemerintahannya ia tidak menjalankan gebrakan ekonomi yang mengarahkan pada perubahan politik dagang Internasional. Tak ada satupun analisa-analisa yang keluar tentang ekonomi dagang Internasional dimana Indonesia harus menempatkan dirinya, tak ada satupun kebijakan yang menyeluruh untuk membangkitkan Indonesia dalam pertarungan dagang ke depan. Obsesinya sama sekali hampa, dan ia sibuk dengan dirinya sendiri.

Sesungguhnya Indonesia sedang menghadapi bahaya masa depan, yaitu : Bahaya Imperialisme Dagang dan Modal. Jaringan-jaringan perdagangan kita akan ditutup oleh kekuatan modal Internasional, ini akan berdampak pada bangkrutnya ekonomi rakyat, gerakan muda harus memperhatikan dengan amat serius ekonomi perdagangan Internasional agar jangan nanti kita hanya jadi perluasan Pasar Cina atau tetap menjadi budak Amerika Serikat.

Bila ekonomi rakyat bangkrut, maka tak ada lagi yang ada dalam diri kita kecuali badan. Dan bila badan menjadi satu-satunya hak milik yang diperdagangkan maka selamanyalah kita tetap akan jadi kuli, jadi bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa. Kita harus membangun kembali kerangka ekonomi dan strategi menyeluruh sekaligus merumuskan keadaan-keadaan seperti yang dilakukan Sukarno dalam membentuk peta ke arah Indonesia merdeka. Inilah yang harus kita lakukan untuk menerobos dan membongkar kembali apa yang sesungguhnya terjadi dalam keIndonesiaan kita.

Rabu, 23 November 2011

Ketika Sukarno Menikahkan anaknya

Pada tahun 1969 Sukarno ditengah sakit ginjalnya yang parah menghadiri pernikahan anaknya Rahmawati Sukarnoputeri dengan Martomo Pariatman Marzuki atau dikenal dengan panggilan Tommy. Pernikahan itu jauh dari kemewahan, dalam kondisi yang amat prihatin. Pernikahan cukup berlangsung di rumah Ibu Fatmawati di Jalan Sriwijaya Kebayoran.

Saat Bung Hatta datang ke pernikahan itu dan memberi selamat kepada Rachma. Tiba-tiba terbuka pintu ada beberapa tentara. di antara kerumunan tentara ada Bung Karno yang memakai jas hitam agak kedodoran dengan muka bengkak-bengkak datang ke pernikahan anaknya itu. Ketika melihat kehadiran Bung Karno di sana, semua mata tertuju ke pintu. Beberapa orang meledak tangisnya termasuk Guntur. Hatta mengusap air mata dan tersedu-sedu melihat Sukarno. Fatmawati langsung berlari ke arah Sukarno dan menciumi suaminya itu. Sukarno berusaha tertawa tapi jelas ia sudah amat kepayahan. Sementara di luar rumah berita kedatangan Sukarno mulai diketahui banyak orang, dari tukang becak sampai tukang dagangan berlarian ke depan pagar rumah Sriwijaya mereka berteriak-teriak : “Hidup Bung Karno….Hidup Bung Karno” komandan tentara kaget dan memerintahkan agar Sukarno tidak terlalu lama di rumah Sriwijaya, ia harus segera pulang ke Wisma Yaso.

Inilah satu-satunya pernikahan Bung Karno untuk anaknya yang ia hadiri. Sebuah tragedi memilukan dari seorang yang mendirikan bangsa ini. Seorang yang sepanjang hidupnya bekerja untuk Indonesia Raya. Seorang yang membebaskan bangsanya.

Senin, 21 November 2011

Pancasila itu Rumah Kita, Bukan Ideologi Kita

Pancasila Itu Bukan Ideologi Kita, Tapi Pancasila Adalah Rumah Kita

Di tanggal ini 66 tahun yang lalu pada sebuah komite persiapan kemerdekaan, Sukarno sebagai ketua bicara kepada banyak anggota yang terdiri dari perwakilan masyarakat, tokoh agama, birokrat dan perwakilan militer Jepang yang saat itu menguasai Indonesia. Bung Karno berpidato tentang bagaimana sebuah negara berdiri, bagaimana sebuah negara memiliki tujuannya, apa dasar-dasar dari tujuan itu. "Itulah yang kusebut sebagai Philosofische grondslag (dasar filosofi) dari Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi".

Sebuah bangsa harus berdiri dengan konsep. Tanpa itu ia menjadi hampa. Sebuah bangsa harus menyadari sejarahnya, karena dengan sejarahnya ia tahu siapa dirinya. Maka Sukarno berkata pada tahun 1960-an, "Pancasila bukanlah sebuah penemuan raksasa seperti yang ditemukan Marx pada meja-meja perpustakaan London, bukanlah sebuah hasil pergesekan pemikiran-pemikiran seperti yang ditemukan para pemikir Perancis, atau perdebatan-perdebatan dari pendiri Amerika Serikat tapi Pancasila adalah persoalan bagaimana sebuah bangsa bisa mengenang masa lalunya, tau siapa dirinya dan bagaimana dirinya bekerja di tengah masyarakat dan hadir untuk masa depan dunia".

Pancasila adalah "Kumpulan kesadaran Kita" maka apabila kita asing dengan Pancasila, itu bukan kita terasingkan dari ideologi atau hapalan-hapalan Pancasila tapi kita terasingkan pada diri kita sendiri, kita terasing dari kesadaran kita. Disadari atau tidak Pancasila adalah definisi dari manusia Indonesia itu sendiri. Baik sebagai impian, sebagai cita-cita dan sebagai manusia yang merumuskan hidupnya.

Manusia Indonesia senang bercerita, mendongeng, mencari, beribadah dan amat percaya pada Iman KeTuhanan. Manusia Indonesia pada hakikatnya adalah orang yang mencari Tuhannya. Orang yang mencari bagaimana suasana kebatinan itu bertemu dengan Tuhan, se Atheisnya pun dia, Se Sekulernya pun dia, dia pasti dilandasi pada ajaran-ajaran agamanya, pada dasar-dasar dia punya do'a. Seperti DN Aidit pemimpin PKI, sejak kecil dia khatam mengaji Al Qur'an, sejak muda ia disiplin shalat bagaimana kemudian kehidupannya menjadi amat percaya dengan materialisme yang menafikan nilai-nilai paramateri tapi sebagai manusia Indonesia DN Aidit sekalipun akan berdoa ketika ia menemukan kesulitan dalam hidupnya, karena itulah watak manusia Indonesia sesungguhnya. Ia merupakan gambaran Iman yang naik turun, ia merupakan epos manusia menemukan dirinya dalam gambaran Tuhan. Seperti yang digambarkan Hamka dalam Tasawuf Modern "Manusia harus menciptakan keseimbangan jasmani dan rohani, antara materi dan non materi, lebih dari itu manusia harus aktif di dunia ini" Konsepsi keTuhanan disini adalah KeTuhanan yang aktif, ia punya sejarah di muka bumi sebagai sebuah bentuk kesadaran bahwa manusia mencari Tuhannya. Dan ketika manusia mencari Tuhan, manusia memiliki pengalaman pribadi, pengalaman ini dihargai oleh masyarakat sebagai pengalaman keTuhanan baik itu menggunakan disiplin agama, spiritual atau ritual-ritual yang tidak menyimpang nilai-nilai kemanusiaan. Rumah Ibadah di tengah-tengah masyarakat yang hidup dengan damai adalah sebuah harmoni dasar bahwa Manusia dihargai Kemanusiaannya dalam Mencari dan menemukan Tuhannya.

Manusia yang sudah menemukan Tuhan, sudah menanamkan nilai-nilai KeTuhanan dalam dirinya maka ia mendapatkan nilai kemanusiaan. Dari kemanusiaan maka lahirlah hukum-hukum yang beradab, hukum-hukum yang adil. Konsepsi keadilan ini harus mempertimbangkan dengan detil. “Bahwa Keadilan adalah proses membacai Kemanusiaan, keadilan adalah membangun peradaban, membangun hukum yang tahu tatanan”.

Dengan tatanan itu maka manusia diarahkan untuk bersatu. “Persatuan Indonesia” bukanlah kata singkat, ia adalah proses pembentukan peradaban baru, Indonesia Baru, dimana manusia yang jumlahnya terdiri ratusan suku, beratus-ratus bahasa dilebur menjadi “Manusia Indonesia”. Konsepsi Manusia Indonesia inilah yang digadang-gadang Bung Karno sebagai manusia yang akan berhadapan dengan “Manusia Liberal Ekonomistis model Amerika Serikat”, “Manusia Fasisme” seperti Jerman (apa yang terjadi di Jaman Hitler), “Manusia Komunisme” (Seperti yang diproyeksikan Leninisme). Manusia Indonesia akan menjadi model dari pertumbuhan sejarah lingkungan yang mempengaruhi jiwa manusia itu dalam menanggapi perkembangan lingkungan. Jadi Persatuan Indonesia adalah Peradaban kita sendiri, konsepnya bukan saja persatuan wilayah NKRI tapi bersatunya tubuh dengan pikiran terhadap Konsepsi-Konsepsi dasar manusia dalam berbangsa.

Manusia Indonesia adalah Manusia yang bermusyawarah, ia senang berdialog, ia senang membangun komunikasinya lewat nada-nada harmoni, ia tidak dilahirkan dari persaingan, tidak dilahirkan dari definisi-definisi ruang “main benar sendiri”. Manusia Indonesia adalah definisi dari manusia yang senang merumuskan satu hal dengan mendengarkan suara yang lain dan suara masyarakatnya. Inti dari Musyawarah adalah “Terciptanya Harmoni, situasi dimana tidak ada perdebatan-perdebatan yang menyakitkan hati dan menghasilkan kemarahan”.

Keadilan Sosial adalah tujuan dari bangsa ini berdiri. Manusia menemukan keadilannya bukan dari apa yang ia butuhkan tapi dari situasi apa yang ia rasakan kemudian perasaan itu menemukan hukum-hukumnya, menemukan apa yang berkembang di tengah masyarakat. Keadilan Sosial adalah situasi dimana kita bisa mendirikan bangunan penting yaitu : Kesejahteraan Umum.

Jadi Pancasila itu adalah diri kita sendiri, proyeksi manusia Indonesia menemukan dirinya. Itu adalah karakter dasar dan bukan ideologi yang harus dicekoki. Apabila di hari-hari ini kita lihat ada gerakan agama yang mau menang sendiri, membakari rumah ibadah itu akan berhenti dengan sendirinya karena tidak sesuai dengan karakter bangsa ini, bila juga kita lihat beberapa orang yang berlagak menjadi barat, berlagak mengalami transformasi intelektual kebarat-baratan kemudian menafikan adanya bangsa, adanya nasionalisme, mentertawakan Sukarno, mentertawakan Sosialisme yang dipikirkan para pendiri bangsa, mengatakan modal asing dan persaingan pasar bebas adalah dewa, maka itu juga akan hancur dengan sendirinya, karena karakter dasar kita akan menolaknya.

Pancasila itu adalah sejarah diri kita, sejarah nilai-nilai kita dia bukan ideologi yang dipaksakan karena Pancasila adalah Rumah Kita Sendiri

Kamis, 17 November 2011

Pram : Nyanyi Sunyi Seorang Bisu...

Foto Atas : Pram Semasa Muda....
(Pramoedya Ananta Toer, Pengarang Terbesar Indonesia)
Revolusi Belum Selesai Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II

Et,
Kalau orang tidak pernah atau tidak mau ceritai kau tentang Revolusi Indonesia, biar aku yang mendongeng untukmu. Siapa tahu cerita itu bisa jadi imbangan bagi kondisi kesehatanmu yang kurang menguntungkan. Siapa tahu, ya siapa tahu! Tak sekurang-kurangnya orang yang mendapat kekuatan dari sebuah cerita.

Pada waktu Proklamasi diucapkan, tak ada yang menduga, di Indonesia bakal meletup suatu revolusi, menjamah daratan dan perairan. Pengucapnya, Soekarno, ideolog, brahmana, mewakili para ideolog, para Brahmana Indonesia, dari ujung rambut sampai telapak kaki, menyuarakan Proklamasi itudengan keraguan – ragu terhadap masa lewat rakyatnya yang dikenalnya belum cukup mewakili kekuatan dan kemauan politik, ragu terhadap masa mendatang yang diwakili oleh kemungkinan tindakan kekerasan dari pihak bala tentara Jepang lain yang mendukung Proklamasi, lebih lagi pada Sekutu, pemenang Perang Dunia II.
Proklamasi kemerdekaan diucapkan. Kenyataannya: seperti dalam dongengan, suatu krisi revolusioner mendadak menyingkap didepan mata, seperti tabir itu tiba-tiba terbuka dan panggung terpampang. Belum, Et, belum revolusi itu sendiri. Krisis revolusioner itu adalah titik puncak keadaan sosial, ekonomi dan politik. Orang sudah tak lagi lebih lama dapat menenggang keadaan yang morat-marit, kemelaratan yang sudah menghalau orang ke lubang atau tepian kuburan, dan di bidang politik dan kekuasaan ada terjadi vakum. Pendeknya, pada waktu itu, barang siapa jadi melihat keadaan dan berani tampil memimpin, dia akan jadi pemimpin. Dan, Et, krisis revolusioner yang menjadi puncak keadaan ini, sayang, bukan karena faktor subyektif Indonesia, dia berjalan secara sosial-alamiah, karena dimungkinkan oleh vakum kekuasaan kolonial. Sayang. Ya, sayang. Sekiranya pendorong utamanya faktor subyektif Indonesia, perkembangan akan menjadi lain, lebih jernih, lebih terpimpin. Apa daya, justru pare ideolognya sendiri ragu sudah pada titik awal.

Waktu Soekarno-Hatta hendak bicara di hadapan rapat raksasa di Lapangan Ikada (lapangan Gambir bagian tenggara) kami bertiga sudah siap mendengarkan di lapangan itu. Yang kumaksud dengan kami adalah Abdul Kadir Hadi, Soekirno dan aku sendiri. Kami memasuki lapangan dari jalan raya di selatannya. Waktu itu di pinggir kanan jalan telah berderet beberapa tank dan panser Jepang. Di antarab dua kendaraan baja itu kami masuk, ke lapangan. Tanpa kecurigaan. Tanggal berapa waktu itu? 19 September 1945!
Lapangan itu benar-benar sudah penuh dengan barisan yang bersaf-saf. Setiap padanya membawa papan nama kesatuannya – Barisan Pelopor dan Banteng seluruh Jakarta. Juga pada luarnya di belakang barisan ini berjubel orang-orang seperti kami, tanpa ikatan organisasi. Sorak-sorai dan pekikan semua barisan di depan dan tengokan kepala mereka kearah selatan, tiba-tiba membuat kami bertiga menjadi sadar: gelora suara yang membelah langit itu ternyata ditujukan kepada tentara Jepang. Mereka pada bersenjata bambu runcing, parang, dan mungkin juga belati atau keris. Dengan sendirinya kami bertiga, yang tidak bersenjata, terbungkuk-bungkuk mencari batu. Aku sendiri mendapat tidak lebih dari tiga yang kumasukkan ke dalam kantong celana. Satu tetap dalam genggaman.

Rasanya begitu lama kami menunggu dalam ketegangan. Yang diharap-harapkan tak kunjung muncul. Nah, waktu iring-iringan memasuki jalan tepian bagian selatan lapangan – bukan yang kami lalui waktu masuk – dari kejauhan nampak mobil-mobil itu dihentikan oleh serdadu Jepang. Rasanya kami tak habis-habis menunggu. Barisan-barisan semakin riuh-rendah mengelu-elukan Soekarno-Hatta, Presiden dan Wakil Presiden RI pertama. Insiden itu membikin suasana semakin tegang. Tak ada yang bisa mendengar pembicaraan diantara mereka. Sesuatu yang tidak beres terasa mengawang di udara. Dan di geladak panggung tinggi, seperti sebuah menara pengintaian, berdiri beberapa serdadu Jepang bersenjata. Pengeras suara yang memberitakan kedatangan Presiden dan Wakil Presiden tak berdaya menghadapi sorak-sorai dan pekik-jerit. Akhirnya iring-iringan berjalan terus. Dan waktu Presiden tampil, keadaan menjadi senyap. Di podium suaranya terdengar lunak: tenang, pulanglah dengan tenang. Kemudian rombongan meninggalkan tempat. Takkan ada tambahan pada kata-kata lunak tersebut. Hanya protokol menunjukkan jalan keluar lapangan – jalan yang baru ditinggalkan iring-iringan Soekarno-Hatta.

Barisan demi barisan, tanpa membubarkan diri, meninggalkan lapangan melalui jalan yang telah ditentukan. Sorak-sorai, pekik-jerit, dan debu membubung memenuhi jalanan yang menjadi sempit. Di pinggiran jalan berjajar pohon palma, di bawahnya deretan truk terbuka dengan serdadu Jepang di geladaknya, semua bersenjata senapan bersangkur terhunus. Di tubuh jalanan: barisan-barisan yang berjejal. Serdadu-serdadu itu menghalau setiap orang yang dianggapnya terlalu dekat pada truknya. Menghalau dengan bedilnya dari atas geladak truk. Mula-mula tidak terjadis sesuatu. Tetap jalanan semakin mejadi padat. Barisan-barisan semakin melebar. Para serdadu Jepang semakin sibuk menghalau. Sembari memekin dan bersorak-sorai orang mulai membela diri dari ancaman bayonet dengan bambu runcing mereka. Massa yang gusar karena gagal mendengarkan Presidennya, mabuk oleh pekik, sorak-sorai, dan anggar laras senapan berbayonet dengan bambu runcing ….. dan itulah untuk pertama kali aku saksikan, bagaimana orang Indonesia sama sekali tidak lagi takut pada Dai Nippon dengan militernya yang mahsyur akan kekejaman dan kekejiannya. Krisis revolusioner sedang berkembang. Dan aku lihat, Et, seseorang dari barisan menghunus pedang dan menebas tangan salah seorang serdadu Jepang. Beberapa dari jarinya putus. Tetapi insiden tak berkembang lebih lanjut. Mereka tidak terprovokasi.

Inggris, atas nama Sekutu, mendarat. Dari R. Moedigdo, pamanku, seorang redaktur Domei, yang telah menjadi Antara, kudengar salah seorang rekannya, Sipahutar, salah seorang pendiri kantor berita itu pada tahun 30-an, berniat mendirikan panitia penyambutan. Tantangan, caci-maki dan penolakan dari rekan-rekannya membikin niat itu buyar. Tentara Inggris mulai membebaskan orang-orang Eropa tawanan Jepang dari kamp-kamp di wilayah Jakarta. Para bekas tawanan itu sebagian mereka persenjatai dan mulai menembaki penduduk. Juga serdadu-srdadu Jepang. Para pemuda Jakarta mulai menjaga keamanan lingkungannya masing-masing. Masa ini biasa dinamai “jaman siap”. Gelombang teriakan “siap” melanda lingkungan yang dimasuki oleh serdadu atau bekas tawanan yang mengamuk.
Sekarang krisis revolusioner itu beralih menjadi Revolusi yang sebenarnya. Kalau tadinya para pemuda mempersenjatai diri dan menjaga keamanan lingkungannya dari amukan Jepang dan bekas tawanan, di Medan Senen para paria sudah meninggalkan lingkungannya dan mulai menyerang. Mungkin ada orang Indonesia yang sudah jadi merah mukanya mendengar dongengku ini: Revolusi Indonesia dimulai oleh para paria Medan Senen. Apa boleh buat, itulah justru kesaksian yang dapat kuberikan. Yang menggerebak mukanya boleh punya dongeng sendir, sekiranya punya kesaksian lain. Dalam Abad ke-13 pun seorang paria yang mengawali babak Jawa-Hindu, meninggalkan Hindu-Jawa. Orang itu tak lain dari Ken Arok. Suksesnya menyebabkan sang paria ini diangkat menjadi putera Brahmana, Syiwa dan Wisynu sekaligus. Orang melupakan kenyataan: sebagai paria dia berada di luar semua kasta Hindu yang ada.

Hanya saja paria Medan Senen tak mampu mengangkat diri jadi pimpinan.

Membaca Pikiran Sukarno

Tidak seperti Suharto yang berpikir bahwa kekuatan terbaik adalah diri sendiri, adalah kemampuan diri sendiri dan orang-orang terdekatnya dimana Suharto selalu memperhatikan keadaan orang-orang terdekatnya dan ia tidak pernah percaya pada kekuatan diluar lingkaran terdekatnya. Sukarno selalu berpikir bahwa kekuatan terbaik adalah "Sesuai Kebutuhan Sejarah". Apabila Suharto sangat percaya pada intuisi-nya maka Sukarno sangat percaya pada Intelektualitas dan kemampuannya dalam menafsirkan arah gerak sejarah. Dari arah gerak sejarah inilah Sukarno menentukan "Siapa Teman, Siapa Lawan".

Sukarno mendirikan PNI 1927 dengan memanfaatkan kehancuran total PKI. Disana ada kevakuman sejarah dan dengan lompatan luar biasa ia mampu menjadi "Pemimpin Nasional" Sementara semua jago-jago lama Komunis berlarian ke luar negeri dikejar intel Belanda dan Inggris, sebagian besar ditangkapi dan dipenjarakan ke Digul, Sukarno membangun ruang gerak baru bernama Nasionalisme dan sontak ia menjadi raksasa baru dan pusat perhatian seluruh bangsa. Sukarno dengan cepat menjadi pemimpin dengan memanfaatkan keadaan. -Sukarno dengan lihai memanfaatkan kehancuran PKI kemudian menjadikan Nasionalisme sebagai arus besar sejarah - inilah keberhasilan pertama Sukarno.

Di Jaman Jepang Sukarno memilih bergabung dengan Jepang, pertimbangannya sederhana : Apabila Jepang menang perang dalam pertempuran Asia Pasifik maka Indonesia langsung merdeka dan menjadi anggota Persekutuan Asia Timur Raya. Sukarno selalu melihat kondisi geopolitik. Di tahun 1931 dia selalu berbicara "Kemerdekaan Indonesia bergantung pada Perang Asia Pasifik" dan tidak ada satupun ahli politik serta pemimpin dunia yang memperkirakan ada perang Asia Pasifik hanya Sukarno yang berkata demikian, pada tahun 1942 saat Jepang mengebom Pearl Harbour dan Perang Pasifik dimulai barulah orang sadar bahwa Sukarno selalu mengatakan demikian 10 tahun sebelumnya. Saat mendengar kabar AS mengumumkan perang dengan Jepang, Sukarno berkata dengan Inggit "Nggit, Aku merasa inilah saatnya Indonesia Merdeka". Sukarno sudah paham lama satu-satunya kekuatan yang bisa mengusir Belanda adalah kekuatan luar dan ia harus memanfaatkan kekuatan luar.

Sukarno pulang ke Jakarta dan memanfaatkan kekuatan Jepang untuk mengeliminir semua aset Belanda dan menjadikan namanya tetap Flamboyan di tengah rakyat. Walaupun di Jaman Jepang ia dikatakan bertanggung jawab terhadap Romusha namun itu bukanlah kerjaan Sukarno, justru Sukarno yang meminta Jepang agar Indonesia punya kekuatan militernya sendiri. Sukarno paham kunci setelah Perang Pasifik adalah kekuatan militer antar wilayah dan Indonesia harus jadi tandem yang seimbang apabila Jepang menang perang atau kalau Jepang kalah perang maka Indonesia harus punya Angkatan Perang-nya untuk berhadapan dengan pemenang perang : 1. Amerika Serikat (menurut perhitungan Sukarno akan berpangkalan di Filipina dan menjadi dominasi di Asia Tenggara) 2. Inggris (berpangkalan di Malaya) 3. Sovjet Uni (Yang menurut perkiraan Sukarno akan mencari tempat baru di Asia Tenggara).

Asia Tenggara selalu menjadi titik perhatian Sukarno, ada dua wilayah Asia Tenggara yang dijajah oleh kekuatan lemah Internasional : 1. Indochina dan 2. Indonesia. Indochina dijajah Perancis dan Indonesia dijajah Belanda. Dua titik lemah inilah yang diperkirakan Sukarno akan dikuasai Moskow atau Peking. Disinilah Sukarno menempatkan dirinya sebagai pemain politik Internasional, langkah pertama yang ia lakukan adalah menghindari Indonesia menjadi satelit Moskow dan Peking. Ia melihat Peking masih lemah dan bisa ia manfaatkan setelah menjadi raksasa dunia sementara satu-satunya kekuatan besar adalah Moskow.

Akhirnya memang Moskow masuk ke Vietnam, tapi Cina-lah yang memenangkan perang di Vietnam. Sukarno adalah orang paling cerdik dalam memanfaatkan ini. Disatu sisi ia memegang Tan Malaka dengan melakukan deal politik untuk menyambungkan kekuatan laskar rakyat sebagai beking tentara resmi yang masih lemah, Sukarno menemui Tan Malaka pada September 1945. Kemudian di sisi lain ia pegang Sjahrir. Tujuan utama dari politik Sukarno 1945 adalah "Mencegah agar jangan Moskow bermain di Jawa" Apabila Moskow bermain di Jawa maka resikonya Belanda akan memanfaatkan kekuatan Amerika Serikat untuk menghantam Komunisme sebagai Project Pertama kali "Membendung Kekuatan Merah di Asia" yang memang sudah diperkirakan oleh Churchill sebelumnya, kata Churchill "Setelah Hitler, Musuh kita adalah Stalin". Maka Sukarno berpegang kuat-kuat pada doktrin Churchill ini, dan hanya ada dua kekuatan yang bisa menghindari Indonesia dari Moskow : Tan Malaka yang dibenci Moskow dan Sjahrir cs yang berkiblat pada Eropa Barat. Sukarno memanfaatkan dua orang ini sebagai tangan kanan dan tangan kirinya lalu berhasil. Sukarno dengan cerdas memperpendek perang dan kemudian ia melakukan perang besar selanjutnya : Revolusi Indonesia Sesungguhnya.

Revolusi Sukarno sesungguhnya adalah Revolusi Modal. Dan ini ia buktikan di tahun 1960, Sukarno tau bahwa Indonesia adalah negara paling kaya di muka bumi, dan kekayaan terbesar di Indonesia justru di wilayah Irian Barat. Irian Barat harus dijadikan lumbung modal Indonesia untuk menguasai politik di Asia Tenggara dengan menguasai politik di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi kekuatan nomor empat dunia setelah Amerika Serikat, Sovjet dan Cina, maka Sukarno memilih pembantu terdekatnya adalah Subandrio. Lagi-lagi Sukarno menunjukkan kejeniusan luar biasa, ia memanfaatkan kemampuan diplomasi Subandrio untuk menekan Kennedy. Sukarno menodong Kennedy apabila persoalan Irian Barat tidak beres maka AS akan menghadapi dua front di Asia Tenggara : Front Hanoi dan Front Jakarta. Kennedy mengalah dan memerintahkan Belanda mundur setelah 'Gertak' Sukarno dengan puluhan pesawat buatan Sovjet dan beberapa korvet yang siap menyerang ke Irian Barat dan mempermalukan Belanda.

Kennedy dimusuhi CIA setelah mengalah pada Bung Karno dan ditembak mati dengan meninggalkan cerita politik konspirasi. Lalu naiklah Lyndon B Johnson orang yang sangat keras dalam soal Asia Tenggara. Ia masuk ke Vietnam dengan brutal. Sukarno melihat bahwa persoalan Vietnam akan menjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa, ia berniat menghentikan perang di Vietnam dengan membangun poros persekutuan di luar AS. Sasaran antara Sukarno adalah Inggris dan mendepak Inggris dari Asia Tenggara. Karena bagi Sukarno, Inggris adalah otak bisnis di Asia Tenggara sementara Beking Keamanannya AS. Tapi Sukarno tau bahwa berhadapan dengan AS langsung tidak akan bisa maka Sukarno memperhatikan perkembangan politik di Peking. Mao sedang naik daun, kekuatan merahnya menggetarkan Amerika Serikat, Sukarno ingin memanfaatkan Mao Tse Tung bertarung langsung dengan AS di Asia Tenggara, Sukarno yakin Mao pasti menang karena keinginan utama AS bukanlah perang tapi dagang. Ini dibuktikan ketika Amerika mundur secara memalukan dari Perang Korea.

Maka untuk melancarkan hegemoni Indonesia di Asia Tenggara, Sukarno membuka front dengan Inggris di Kalimantan Utara. Lagi-lagi Sukarno menggunakan politik gertak. Apabila penguasaan Irian Barat, Sukarno memanfaatkan panasnya politik AS-Sovjet. Maka dalam kasus Ganjang Malaysia sesungguhnya Sukarno sedang nge-test Cina sebagai kekuatan di Asia. Dengan memanfaatkan kekuatan Cina maka Indonesia akan bisa memperpendek perang di Vietnam dan menghentikan pembantaian Amerika disana. Dengan menguasai hegemoni di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi negara paling kaya di Asia setelah Cina.

Tapi pemikiran Sukarno yang melompat jauh ke depan, pemikiran Sukarno yang sudah paham tentang pertarungan modal tidak pernah mampu dibaca tandem-tandem politik di dalam negeri. Terbukti Sukarno diboikot Jenderal-Jenderalnya sendiri dalam kasus Ganjang Malaysia. Sukarno dikentuti orang-orang yang belagak Intelektual tapi tidak bertanggung jawab.

Apabila Sukarno berhasil memainkan politik Ganjang Malaysia maka Irian Barat tidak akan jatuh ke Freeport, sepenuhnya kekayaan alam Indonesia dibangun untuk bangsa Indonesia dan kekayaan negara. Tidak ada yang namanya sekolah harus bayar, Rumah Sakit harus bayar. Indonesia akan diciptakan oleh Sukarno sebagai negara paling memakmurkan rakyatnya dan memang step pertamannya adalah menciptakan struktur modal.

Inilah kejeniusan Sukarno yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua, dialah bapak bangsa yang mewarisi kekayaan nasional bangsa Indonesia. Bukan mewarisi hutang ribuan trilyun seperti yang dilakukan Suharto dan mungkin juga SBY.

Kisah 9 Juli di Oranje Boulevard

Ada kisah yang banyak orang lupa tentang bagaimana sejarah kepemimpinan negeri ini bermula sehingga melahirkan negara terbesar nomor lima di dunia. Kisah ini dimulai pada suatu senja sekitar jam 18.30 saat itu di rumah Sukarno yang baru saja ia tempati di Jalan Pegangsaan, datanglah Gatot Mangkupradja yang membawa kabar bahwa Sjahrir akan melakukan politik penolakan terhadap Jepang dan lebih memilih berjuang secara illegal.

"Kabarnya ia sudah punya tempat di Cipanas sebagai pusat kegiatannya, tapi saya tak tau pasti apakah itu benar" kata Gatot di depan Bung Karno.
"Lalu bagaimana dengan Hatta?"
"Inilah bung yang saya kuatirkan, andai Hatta ikut nanti kelompok Illegal kebanyakan, kalau mereka kalah atau ditangkap kempetai kita akan banyak kehilangan pemimpin, Amir sudah bangun kelompoknya sendiri di Surabaya dia nggak bakal mau muncul ikut-ikutan Dai Nippon"
"Ya...ya aku paham maksud kau Gatot...aku paham kita memang terpaksa harus kerjasama dengan Dai Nippon, itu sebuah keterpaksaan, karena aku tak mau rakyat kehilangan pemimpinnya dan kemudian Nippon mengangkat pemimpin boneka yang akan menyulitkan banyak orang nantinya".

"Gatot makanlah dulu, nanti habis sholat Isya aku coba ke rumah Hatta" kata Sukarno sambil menyuruh salah seorang pelayannya menyiapkan makanan. Saat Gatot makan malam, Sukarno shalat Isya. Dalam sholat itu Sukarno berdoa dalam-dalam agar kepemimpinan negeri ini bisa terjaga, setelah Sholat selesai Sukarno agak lama merenung air wudhu-nya belum mengering.

Jam 20.30 Sukarno dengan masuk ke dalam mobil Studebaker-nya yang disetiri Arif. "Rif, kita ke rumah Hatta di Oranje Boulevard" mobil itupun berjalan ke arah rumah Hatta di Oranje Boulevard (sekarang Jl. Diponegoro, Menteng). Saat itu Hatta sedang membaca buku di ruang perpustakaannya yang rapih. Tau ada mobil memasuki halamannya Hatta keluar teras. Tak berapa lama Sukarno keluar dari mobil.

"Oh, No...masuk-masuk...." seru Hatta menyambut Sukarno.
Hatta membawa Sukarno ke ruang tamunya. "Sedang apa kau Hatta?" tanya Sukarno kepada Hatta. "aku lagi baca buku...wah ini gara-gara Sjahrir bawa anak asuhnya, tiga peti buku-ku terpaksa aku tinggalkan di Banda" kata Hatta seraya menyesali bukunya yang tertinggal.

"Oh, begitu hahahaha....Sjahrir...Sjahrir" Sukarno tertawa keras. Tak lama kemudian muncul asisten Hatta menyajikan minuman. Setelah selesai asisten itu menyiapkan minuman Sukarno berdehem. "Hatta...."
"Ya" jawab Hatta menyambut panggilan lirih Sukarno.
"Aku dengar Sjahrir akan melakukan gerakan bawah tanah?"
"Ya, dua hari yang lalu ia bilang begitu, ada bungalow bibinya di Cipanas yang akan jadi pusat gerakannya"
"Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya Sukarno lagi.
"Aku belum bisa memutuskan, No...."
"Begini Hatta, aku tau kau dan aku bukanlah jenis sahabat yang cocok, kau berbeda total dengan aku dari sisi apapun. Tapi kita dihadapkan pada situasi amat genting, pertaruhan terbesarnya adalah bila kita tidak muncul Jepang akan mempersiapkan pemimpin-pemimpin boneka yang hanya semata-mata mencari keuntungan kekuasaan dan materi. Ya...aku akui memang aku bertaruh saat ini, tapi bagaimanapun Dai Nippon adalah realitas"
"Bagaimana menurutmu bila kita tampil ke muka?" kata Hatta lagi sambil menerawang wajah Sukarno.
"Kita menjawab tanggung jawab terhadap negeri ini. Dan memang dunia ini aneh Hatta....aneh, kau yang dulu terus menerus menyerangku tapi anehnya aku hanya percaya sama kau untuk memimpin negeri ini".

Seperti yang diketahui sebelumnya pada tahun 1932 Hatta menulis tentang kisah Sukarno yang meratap-ratap minta ampun pada Pemerintah Hindia Belanda. dan sejak saat itu Hatta juga banyak mengeritik Sukarno. Tapi Hatta juga yang kemudian berusaha menyelamatkan keberadaan Partai Sukarno saat Sukarno dibawa ke penjara oleh Pemerintahan Hindia Belanda.

Hatta diam, ia berpikir dalam-dalam. Hatta tak suka pada Jepang, tapi rasa tak suka ini mau tak mau harus disingkirkan, sebab bila Sukarno ditinggal sendirian, Sukarno malah bisa menjadi makanan sekutu nantinya apabila Jepang kalah. Dan apabila Jepang menang, Sukarno malah bisa terjebak menjadi pemimpin boneka. Ia harus menjaga irama perjuangan ini, Hatta dipercaya oleh elite intelektual, sementara Sukarno sudah amat dikenal oleh bangsanya, sulit membayangkan negeri ini merdeka tanpa melihat Sukarno. Sejak tahun 1922 sampai 1942, sekitar 500 artikel tulisan Sukarno di Koran-koran menjadi bacaan masyarakat luas, seluruh rakyat bangsa ini seakan selalu menunggu tulisan Sukarno yang bernas itu.

“Baiklah, aku akan mendampingimu memimpin negeri ini, No….” kata Hatta ia paham sahabatnya ini tak akan mampu berjalan sendirian, ia adalah orang yang bergelora tapi kadang-kadang ia sering terjebak pada gelora yang membawa isi hati.

“Lupakan semua perbedaan kita dimasa lalu, kita harus bertanggung jawab terhadap masa depan negeri ini” Hatta mengulurkan tangan ke Sukarno, dan mereka bersalaman. Lalu berpelukan “Sekarang kita satu, disatukan dalam perjuangan yang sama”

“Setuju” sejak itulah Sukarno dan Hatta tak pernah pisah lagi. Setelah selesai kemerdekaan Sukarno selalu meminta Hatta menulis pidato-pidato resminya, atau setiap pidato resmi yang ditulis Sukarno dibaca Hatta dulu.

Tapi persahabatan bukanlah soal cerita romantika pertemanan, persahabatan punya caranya sendiri mengembangkan sayap pikiran-pikiran. Di tahun 1956 Hatta mengundurkan diri karena Parlemen membatalkan persetujuan perjanjian KMB 1949. Di tahun 1957 Sukarno karena alasan mulai intervensinya Amerika Serikat, ia mengutarakan ide Demokrasi Terpimpin. Hatta marah atas ide Sukarno lalu ia menuliskan artikel “Demokrasi Kita” di tahun 1960 menanggapi dibubarkannya konstituante dan pembubaran dua partai politik besar : Masjumi dan PSI.

Kemarahan antara Sukarno dan Hatta adalah sebuah kemarahan yang aneh, hanya mereka berdua yang tahu.

Namun kemarahan dua orang yang paling bertanggungjawab terhadap pendirian Republik ini menjadi luntur menguap oleh waktu, saat di tanggal 16 Juni 1970 Hatta menulis surat dengan air mata yang menetes. Surat itu adalah permohonan kepada Presiden Suharto agar ia bisa bertemu dengan Sukarno sahabatnya yang diinternir Suharto di Wisma Yaso. Setelah kondisinya gawat ia dirawat di RS Gatot Subroto, itupun setelah Suharto dipaksa oleh Rachmawati untuk membawa ayahnya ke RS.

Tanggal 19 Juni 1970, utusan Suharto datang dan mengabarkan Hatta bisa menengok Sukarno. Diantar puterinya Hatta ke kamar Sukarno yang bau dan pengap, kaleng ada dimana-mana, ada sebuah Koran bekas, dan baju-baju lusuh bergelantungan. Hatta diam saja melihat keadaan ini dia terus menahan gejolak di hatinya, seorang yang sepanjang hidupnya bermimpi mendirikan Negara ini, dipenjara untuk bangsa ini berakhir pada kamar yang amat kumuh, ditempatkan pada ruang perawatan kelas miskin.

Hatta memegang bahu Sukarno, lalu Sukarno yang sedang tertidur membuka matanya “Ah, No” kata Hatta.
“Hatta…Hatta” air mata Sukarno keluar dan membasahi bantal. “Hoe gaat het met jou?” Hatta diam saja tangannya memijiti tangan Sukarno yang panas, tapi tak lama kemudian tangis Hatta meledak. Sukarno minta dibangunkan dan diambilkan kaca mata lalu memandang Hatta lama.

………lama sekali dan kemudian dua orang yang pernah melahirkan bangsa ini menangis pada sebuah kamar yang pengap.

Inilah tangisan sejarah, tangisan masa depan. Dan masa depan itu adalah kini. Sukarno-Hatta menangis, karena di masa depan Indonesia pejabat hanya berfoya-foya makan duit yang seharusnya dibangun untuk kesejahteraan bersama, karena wakil rakyat seperti tak punya hati, saat dikritik soal hidup mewah, malah balas menjawab ‘kenapa kau jadi munafik…” seakan-akan pembenaran harta benda menjadi ukuran segala-galanya, inilah sebuah keadaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sebuah amoralitas dan kebangkrutan sebuah idée atas nasionalisme kita.

Seandainya Sukarno atau Hatta mau mereka akan lebih memilih ke Australia daripada memimpin dengan resiko digantung Jepang, mereka aman dengan Belanda. Sjahrir juga akan lebih memilih hidup nyaman di Australia daripada harus bertarung nyawa tiap waktu untuk menggerakkan gerakan bawah tanah. Tapi kita tau mereka bukanlah pemimpin boneka, mereka lahir dari Lumpur sejarah, mereka memimpin karena dirinya memang berkualitas, bukan karena mereka anak siapa, atau punya mertua siapa.

Kepada kisah Sukarno dan Hatta kita banyak belajar bagaimana sebuah tanggung jawab kepemimpinan harus dijalankan.

Kisah Norman Vincent Peale dan Bukunya

Pada musim semi di tahun 1952, Norman Vincent Peale menyusun sebuah buku yang ia beri nama "The Power of Positive Thinking" selama 3 minggu ia mengetik naskah itu berdasarkan pengalaman pribadinya dalam menghadapi orang-orang disekitarnya, keluhan-keluhannya dan caranya berpikir. Hingga saat naskah selesai ia berpikiran aneh, naskah itu ia buang ke keranjang sampah....

Isterinya yang sedang menggoreng telor dan ayam untuk makan malam melihat apa yang dilakukan Norman dan bertanya "Kenapa kau buang naskahmu itu?" Norman menoleh pada isterinya lalu menjawab dengan nada melarang "Jangan kau ambil naskah ini dari keranjang sampah, Ok....."

Isterinya menuruti apa mau Norman, tapi besok paginya saat ia mau buang sampah, ia melihat naskah itu, demi menuruti suaminya ia tidak mengambil naskah itu, tapi ia membawa keranjang sampah itu ke sebuah perusahaan penerbitan kotanya. Kebetulan ia mengenal bagian editor yang teman sekolahnya waktu SMP. Isteri Norman membawa keranjang sampah ke lobi perusahaan itu kemudian ia mencari temannya. Temannya muncul dan bertanya "ada apa kau bawa keranjang sampah?"

Lihat Norman membuang naskah yang baru disusunnya dan melarang saya membuang ke tempat sampah, sementara saya dilarang mengambil naskah ini, jadi saya bawa saja keranjang sampahnya kesini. Teman Isteri Norman ketawa dan mengambil naskah itu. Dua minggu kemudian naskah itu terbit.

Naskah yang kemudian jadi buku "The Power of Positive Thinking" kini jadi salah satu buku terlaris di dunia, sampai saat ini sudah 20 juta buku terjual terus menerus dan masih cetak ulang. Inilah sebuah kisah, buku yang bercerita tentang positive thinking justru lahir dari sikap negative thinking atas prospek buku itu di masa depan dan diselamatkan oleh sikap positive thinking isteri Norman yang percaya bahwa sesuatu akan ada hasilnya bila kita selesaikan dengan baik.

Pelajaran dari kisah ini adalah, ketika kamu merasa karyamu atau pekerjaanmu kurang baik, kurang memuaskan jangan langsung putus asa dan mengobrak abrik karyamu, kerjakanlah dengan tekun dan selesaikan, biarlah waktu yang akan menilai

Selasa, 01 November 2011

Mbah Sira memanggil salah satu santrinya. “Tolong baca ini, yang lantang biar mereka ngeh!” kata mbah Sira sambil menyerahkan selembar kertas.
Sang santri yang gemetaran, berdiri dihadapan kawan-kawannya yang duduk menunduk di ruang tamu, di teras dan di halaman rumah mbah Sira.
Dengan terbata-bata, ia mulai membaca catatan yang diberikan mbah Sira.
***
SEPENGGAL LUPA TENTANG FREEPORT
Kontrak dimulai tahun 1967 dan baru akan berakhir tahun 2041.
Beberapa sumber menghitung bahwa sejak 1967 sampai 2010 (43 tahun) sudah menghasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas.
Kalau diuangkan dengan patokan harga emas tiap gram sekarang senilai Rp 500.000,- saja, maka jumlah uang yang dihasilkan kurang lebih adalah;
724 trilyun 700 ribu gram kali Rp 500.000,- = 362.350 trilyun.
Artinya tiap tahun Freeport menghasilkan kekayaan sebesar:
362.350 trilyun : 43 = 8.426,7442 trilyun
Katakanlah setelah dipotong macam-macam biaya hasil bersihnya adalah 8.000 trilyun (coba bandingkan dengan anggaran APBN tahun ini yang cuma 1.202 trilyun)
Dari jumlah ini, Indonesia hanya mendapat 1%. Artinya hanya sekitar 80 trilyun tiap tahun (kalau menurut berita-berita di media massa jumlahnya malah hanya 15 sampai 20 trilyun pertahun, alias seperempat dari cukai rokok yang tahun 2010 saja menyumbang devisa sebesar 66 trilyun). Sementara sisanya yang 99% masuk ke perusahaan di AS.
Sekarang mari kita bayangkan, kalau saja pemerintah berani menuntut perubahan kontrak karya dan meminta bagian 30% saja, maka tiap tahun kita bisa memperoleh minimal 2.400 trilyun (alias dua kali lipat APBN tahun ini).
Itu baru dihitung dari nilai emas, belum lagi dari hasil tambang lainnya.
Meski demikian, baru dari emas yang dihasilkan saja, kita sudah bisa menghitung bahwa pada dasarnya kita tak perlu lagi punya hutang, rakyat juga akan sejahtera, bisa memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis. Bukan cuma Papua yang akan sejahtera dan bermartabat, tapi seluruh Indonesia.
Apalagi sekarang ditemukan uranium yang harganya 100 kali harga emas. Bahkan menurut para ahli, bila dipakai untuk PLTN, kandungan uranium disana mampu dipakai utuk menerangi seluruh dunia.
(diambil dari berbagai sumber, karena transparansi tak bisa ditunjukkan oleh pihak Freeport)
***
“Nah, kalau begini, menurut kalian siapa yang sebenarnya berkepentingan untuk selalu melempar api ke Papua?” mbah Sira menyapukan pandangannya ke seluruh santrinya.
“Kalian ini lucu dan memprihatinkan! Ini tanah kalian, ini kekayaan kalian, tapi kalian malah suka ribut tentang remah-remah yang sengaja disebar dan membiarkan rotinya dinikmati Freeport sendirian!”
“Belum lagi presidennya, ditengah bangsa yang tak henti ditumpuk masalah, kok masih sempat-sempatnya membuat dan meluncurkan album keempat…!”