Cari Blog Ini
Jumat, 29 April 2011
Kisah Raden Saleh di London
Raden Saleh Syarif Bustaman diundang ke istana Buckingham sebagai pelukis Istana kelas satu. Raden Saleh yang melukis semua pose Ratu, termasuk saat Ratu menikah dengan Pangeran Albert pada tahun 1860-an. Raden Saleh disediakan ruangan di samping Istana Buckingham dan melukis hampir semua istana sang Ratu. Kemudian setelah perayaan Pameran Kristal yang diadakan Pangeran Albert, Raden Saleh pulang membawa uang yang banyak dari Ratu Victoria. Uang itu dibelikan lahan yang luas di Cikini dan dijadikan rumah Raden Saleh.
Rumah Raden Saleh di Tjikini merupakan rumah dengan penerangan lampu pijar pertama di Batavia, lalu dijadikan titik nol oleh pengembang Bouwplow di Menteng. Kemudian dijadikan kebun binatang dan oleh Ali Sadikin rumah itu menjadi Taman Ismail Marzuki.
Anehnya, di dekat rumah itu ada sebuah rumah kecil yang sering digunakan oleh Van Der Post, Perwira Intel Inggris sekaligus orang kepercayaan Mountbatten untuk bertemu dengan Sutan Sjahrir. Atas pengaruh Van Der Post, Inggris tidak mau campur untuk urusan dengan Belanda yang berniat menjajah Indonesia. Van Der Post adalah dukunnya Pangeran Charles. Saat Pangeran Charles ke Jakarta, yang dicarinya adalah Poppy Sjahrir isteri Sjahrir dan ia membawa surat pribadi Van Der Post pada isteri Sjahrir, lalu Pangeran Charles bilang : "Poppy adalah wanita terbaik di dunia di mata saya"
Kamis, 28 April 2011
Sajak Orang Yang Mau Cerai
Sajak Orang Yang Mau Cerai
By. Anda Djogjakarta
(diambil dr kisah sahabtku (pak Eko) yg td share hingga larut malam ini)
Perpisahan adalah takdir
suatu jalan kehidupan yang mau tak mau menimpa semua orang
tapi perpisahan yang dipaksakan adalah getir
hidup menjadi kosong
ketika mimpi berubah menjadi kata-kata bohong
Perceraian ini harus terjadi bila mimpiku dan mimpimu menjadi pahit
lidahmu dan lidahku tak pernah satu lagi
mainkan irama tentang nyanyian bisu masa depan
yang selalu kita katakan di ambang pernikahan dulu
yang pelan-pelan menumbuhkan beringin di hatimu
Kenangkanlah masa dulu
ketika kita saling jatuh hati
mengirimi sajak atau memainkan lagu
pada tepi senja yang ranum
pada belaian seperti arus air yang melembutkan batu-batu kali
dan kenangkanlah ketika aku merabaimu dengan gemetar
lalu cinta merambat pada setiap malam kita
Mengapa ini harus diakhiri
dengan kebosanan
dengan prasangka yang bukan-bukan
dan kemarahanmu meledakkan cakrawala.............
Rindu yang retak bukan berarti harus berserak-serak
Dan kita dipisahkan oleh malam yang berjarak
Namun perceraian terpaksa disabdakan pada hati yang terkotak
dan kerak mimpiku bukan lagi beludrumu tentang rindu
tapi sudah menjadi air api yang mencengkeram seluruh hidupku
Wajahmu yang dulu secantik senyum Monalisa
kini kulihat seperti Medusa
Mana bisa kulihat hatimu yang menyanyikan bait-bait kerinduan
Bila hatiku sudah tidak lagi kau pegang
Perceraian yang akan kita lakukan
mungkin saja membuat baru kehidupan
atau ini hanyalah tragedi
dimana takdir sudah lama digariskan.
Bulan perak tak lagi jadi raja malam
air mata menggenangi sarung bantal
pada malam sepi, dengan bintang seperti kuarsa yang tak bermakna
Bila saja kesederhanaan datang pada cinta yang sempurna
Maka tak perlulah ada perpisahan
Perceraian mungkin saja hanya satu bab dalam novel kehidupan
Tapi percayalah itu bab paling menegangkan.
By. Anda Djogjakarta
(diambil dr kisah sahabtku (pak Eko) yg td share hingga larut malam ini)
Perpisahan adalah takdir
suatu jalan kehidupan yang mau tak mau menimpa semua orang
tapi perpisahan yang dipaksakan adalah getir
hidup menjadi kosong
ketika mimpi berubah menjadi kata-kata bohong
Perceraian ini harus terjadi bila mimpiku dan mimpimu menjadi pahit
lidahmu dan lidahku tak pernah satu lagi
mainkan irama tentang nyanyian bisu masa depan
yang selalu kita katakan di ambang pernikahan dulu
yang pelan-pelan menumbuhkan beringin di hatimu
Kenangkanlah masa dulu
ketika kita saling jatuh hati
mengirimi sajak atau memainkan lagu
pada tepi senja yang ranum
pada belaian seperti arus air yang melembutkan batu-batu kali
dan kenangkanlah ketika aku merabaimu dengan gemetar
lalu cinta merambat pada setiap malam kita
Mengapa ini harus diakhiri
dengan kebosanan
dengan prasangka yang bukan-bukan
dan kemarahanmu meledakkan cakrawala.............
Rindu yang retak bukan berarti harus berserak-serak
Dan kita dipisahkan oleh malam yang berjarak
Namun perceraian terpaksa disabdakan pada hati yang terkotak
dan kerak mimpiku bukan lagi beludrumu tentang rindu
tapi sudah menjadi air api yang mencengkeram seluruh hidupku
Wajahmu yang dulu secantik senyum Monalisa
kini kulihat seperti Medusa
Mana bisa kulihat hatimu yang menyanyikan bait-bait kerinduan
Bila hatiku sudah tidak lagi kau pegang
Perceraian yang akan kita lakukan
mungkin saja membuat baru kehidupan
atau ini hanyalah tragedi
dimana takdir sudah lama digariskan.
Bulan perak tak lagi jadi raja malam
air mata menggenangi sarung bantal
pada malam sepi, dengan bintang seperti kuarsa yang tak bermakna
Bila saja kesederhanaan datang pada cinta yang sempurna
Maka tak perlulah ada perpisahan
Perceraian mungkin saja hanya satu bab dalam novel kehidupan
Tapi percayalah itu bab paling menegangkan.
Adversity
Adversity secara arti kamus adalah kemalangan, artinya bahwa manusia mempunyai kecerdasan dalam menghadapi kemalangan yang menimpa dirinya.
Adversity Quotient adalah orang-orang yang memiliki ketangguhan tinggi dalam menghadapi hambatan.
Dimensi Kecerdasan Ketangguhan
kita perlu mengenal dimensi-dimensi kecerdasan ketangguhan (AQ) Dimensi AQ dapat diringkas dalam kata CO2RE
C adalah Control
Seberapa besar control yang anda rasakan saat anda dihadapkan pada persoalan yang sulit, bermusuhan dan berlawanan? Perhatikan, kata kunci disini adalah merasakan. Kendali sebenarnya, dalam suatu situasi, hampir pasti tidak dapat diukur. kendali yang dirasakan jauh lebih penting.
Kehidupan penuh dengan situasi di mana mungkin orang mengatakan dengan penuh keyakinan "Tidak ada yang dapat kamu lakukan terhadap masalah ini". tetapi seseorang telah mengubah wajah sejarah. Ketika Mahatma Gandhi memutuskan untuk menggulingkan imperium inggris melalui perlawanan pasif, ia tidak memiliki kekuasaan resmi. Dia hanyalah "pria kecil berkulit coklat" dengan pendirian yang sangat kukuh dan memiliki tekad yang tak kenal lelah untuk mencari keadilan bagi rakyatnya. Penjajahan selama berabad-abad telah memunculkan perasaan tidak berdaya yang luas. Rakyat pada masa Gandhi hidup, menerima keadaan mereka sebagai nasib malang belaka.
Seluruh kampanye Gandhi melawan Inggris bergantung pada suatu hal : Kemampuannya mengubah kendali yang dirasakan oleh orang India atas penjajahan-penjajahan mereka. Meskipun tidak ada yang berani memastikan bahwa Gandhi akan berhasil pada tahun-tahun awal perjuangannya, dia membuktikan bahwa kemerdekaan dapat diperoleh dan keadilan akan menang. Dia membalikan persepsi-persepsi, kemudian mengubah persepsi menjadi kenyataan.
Sulit untuk menaksir terlalu tinggi kekuatan dari kendali yang dirasakan itu. Namun tanpa kendali semacam itu, harapan dan tindakan akan hancur. Dengan kendali semacam itu, hidup dapat diubah dan tujuan-tujuan dapat terlaksana. Seandainya Gandhi tidak merasakan kendali tersebut pada waktu itu, india serta penduduknya yang hampir satu miliar itu mungkin sampai sekarang masih dibawah kekuasaan Inggris.
Perbedaan antara Respons AQ yang rendah dan yang tinggi dalam hal kendali ini sangat dramatis. Mereka yang ber AQ-nya lebih tinggi merasakan kendali yang lebih besar atas peristiwa-peristiwa dalam hidup dari pada yang AQ-nya lebih rendah. Akibatnya, mereka akan mengambil tindakan, yang akan menghasilkan lebih banyak kendali lagi. Mereka yang memiliki AQ lebih tinggi cenderung melakukan pendakian (Climbers), sementara orang-orang yang AQ-nya lebih rendah cenderung untuk mendirikan kemah (Campers) atau berhenti (Quitters).
Sangat menarik bila kita bandingkan pendekatan Paul G.Stoltz dengan pendekatan Stephen R.Covey mengenai "Lingkaran Kepedulian" dan "Lingkaran Pengaruh". Behubungan dengan sikap Proaktif, Covey menyebutkan satu cara lain yang sangat bagus untuk lebih sadar diri sehubungan dengan tingkat proaktivitas kita adalah dengan melihat dimana kita memfokuskan waktu dan energi kita. Masing-masing dari kita memiliki jangkauan luas hal-hal yang kita pedulikan-kesehatan kita, anak-anak kita, masalah ditempat kerja, utang negara, perang nuklir. Kita dapat mengisahkan hal-hal yang tidak melibatkan kita secara mental atau emosional dengan menciptakan "Lingkaran Kepedulian".
Ketika kita melihat ke dalam hal-hal dilingkaran kepedulian, tampak jelas ada beberapa hal yang tidak dapat kita kontrol secara nyata dan ada beberapa hal yang kita dapat perbuat sesuatu terhadapnya. kita kemudian dapat mengelompokkan bagian yang terakhir ini kedalam "Lingkaran pengaruh".
Dengan menentukan mana dari kedua lingkaran ini yang merupakan fokus dari sebagian besar waktu dan energi kita, kita dapat menemukan banyak hal tentang tingkat Proaktivitas kita.
Orang Proaktif memfokuskan upaya mereka didalam lingkaran pengaruhnya. Mereka mengerjakan hal-hal yang terhadapnya mereka dapat berbuat sesuatu. Sifat dari energi mereka adalah positif, yang menyebabkan lingkaran pengaruh mereka membesar.
Sebaliknya, orang Reaktif--bukan Proaktif--memfokuskan upaya mereka pada lingkaran kepedulian. Mereka berfokus pada kelemahan orang lain, masalah di lingkungan, dan keadaan yang mereka tidak bisa kendalikan. Fokus mereka menyebabkan sikap menyalahkan dan menuduh, bahasa reaktif, dan meningkatnya perasaan jadi korban. Energi negatif yang dihasilkan oleh fokus ini, digabungkan dengan tidak kepedulian meeka terhadap hal-hal yang mampu mereka perbuat, menyebabkan lingkaran pengaruh mereka semakin mengecil.
O adalah Origin dan Ownership
Siapa atau apa yang menjadi muasal suatu kesulitan? Dan sejauh mana Anda berperan memunculkan kesulitan? Di permukaan kedua pertanyaan mengenai asal-usul dan pengakuan ini tampaknya mirip. Namun, kalau dicermati lagi, kita akan menemukan bahwa ada perbedaan yang sangat besar diantara keduanya. Mari kita mulai dengan asal-usul atau origin, yang ada kaitannya dengan rasa bersalah.
Orang-orang yang ber AQ-nya rendah cenderung menempatkan rasa bersalah yang tidak semestinya atas peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi dalam banyak hal, mereka melihat dirinya sendiri sebagai satu-satunya asal-usul kesulitan tersebut.
Rasa bersalah memiliki dua fungsi penting. Pertama, rasa bersalah itu membantu kita untuk belajar. Dengan menyalahkan diri sendiri, kita akan cenderung merenung, belajar, dan menyesuaikan tingkah laku kita. Inilah yang namanya perbaikan. Yang kedua, rasa bersalah itu menjurus kepada penyesalan. Penyesalan dapat memaksa kita untuk memeriksa batin kita dan mempertimbangkan apakah ada hal-hal yang kita lakukan, telah melukai orang lain. Penyesalan merupakan motivator yang sangat kuat. Bila digunakan dengan sewajarnya, penyesalan dapat membantu menyembuhkan kerusakan yang nyata, dirasakan, atau yang mungkin timbul dalam suatu hubungan antar manusia.
Suatu kadar rasa bersalah yang adil dan tepat diperlukan untuk menciptakan pembelajaran yang kritis atau umpan balik yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan secara terus menerus. kemampuan menilai apa yang kita lakukan dengan benar atau salah dan bagaimana kita dapat memperbaikinya merupakan hal yang mendasar untuk mengembangkan diri kita sebagai Pribadi.
Seperti kritik, rasa bersalah hanya bermanfaat dalam dosis yang terukur. Jika terlalu banyak, dapat sangat melemahkan semangat dan menjadi Destruktif. Sekali rasa bersalah menjadi destruktif, rasa bersalah dapat menghancurkan energi, harapan, harga diri, dan system kekebalan kita. Rasa bersalah dalam ukuran harga diri, dan system kekebalan kita. Rasa bersalah dalam ukuran yang tepat akan menggugah seseorang untuk bertindak. Rasa bersalah yang terlampau besar menyebabkan kelumpuhan.
Barangkali ketika kita membaca bagian ini kita berpikir, "Ya, tetapi bukankah mempersalahkan diri sendiri merupakan suatu yang baik?" Ingat, mempersalahkan diri sendiri itu baik dan efektif, tapi hanya sampai tahap tertentu. Terlalu berlebihan mempersalahkan diri sendiri, sampai melampaui peran seseorang dalam menimbulkan kesulitan, bisa menjadi Destruktif, yang jauh lebih penting adalah sampai sejauh manakah kita bersedia memikul tanggung jawab.
Orang dengan AQ tinggi hanya akan mengakui bahwa sumber (origin) kesalahan dan kesulitan itu sebagian besar berasal dari orang lain atau dari luar. Artinya, peran diri sendiri sebagai sumber kesulitan hanya kecil dan sewajarnya. Namun, orang dengan AQ tinggi akan mengambil tangung jawab (ownership) atas masalah yang timbul.
AQ mengajarkan untuk membatasi penyalahan diri secara berlebihan yang destruktif. Di saat yang bersamaan, AQ mengajar orang untuk meningkatkan rasa tanggung jawab mereka sebagai salah satu cara memperluas kendali, pemberdayaan, dan motivasi dalam mengambil tindakan.
R adalah Reach
Seberapa jauh suatu kesulitan akan merembes ke wilayah kehidupan yang lain?Respons-respons dengan AQ yang rendah akan membuat kesulitan merembes ke segi-segi lain kehidupan seseorang. Rapat yang berjalan dengan tidak lancar dapat mengacaukan seluruh kegiatan pada hari itu; sebuah konflik dapat meretakkan hubungan yang sudah terjalin; suatu penilaian kinerja yang negatif akan menghambat karier, yang kemudian akan menimbulkan kepanikan secara financial, sulit tidur, kepahitan, menjaga jarak dengan orang lain, dan pengambilan keputusan yang buruk.
Jadi semakin rendah AQ seseorang, semakin dia menganggap peristiwa-peristiwa buruk sebagai bencana, membiarkannya meluas, sehingga menyedot kebahagiaan dan ketenangan hati saat prosesnya berlangsung. Menganggap suatu kesulitan sebagai bencana, yang akan menyebar dengan cepat sekali, bisa sangat berbahaya karena akan menimbulkan kerusakan bila dibiarkan tak terkendali.
Sebaliknya semakin tinggi AQ , semakin besar kemampuan untuk membatasi jangkauan masalah pada peristiwa yang sedang dihadapi. Suatu penolakan adalah sekedar--tidak kurang dan tidak lebih. Kesalahpahaman dengan orang yang dikasihi, meskipun sangat menyakitkan, adalah kesalahpahaman, dan bukan tnda kita akan hancur.
E adalah Endurance
Berapa lama kesulitan akan berlangusng?Berapa lama penyebabkesulitan akan berlangsung?semakin rendah AQ seseorang, semakin besar dia akan menganggap kesulitan akan berlangsung lama, atau bahkan selama-lamanya.
Cap-cap permanen seperti pecundang, orang bodoh yang selalu gagal, dan orang yang suka menunda-nunda, dan kata-kata seperti selalu dan tidak pernah membawa akibat yang tersembunyi dan berbahaya. Kata-kata itu membuat seseorang tidak berdaya untuk melakukan perubahan. Ada perbedaan yang amat besar antara, "Saya harus berhati-hati supaya tidak menunda segala sesuatu sampai menit terakhir", dan "saya adalah orang yang suka menunda-nunda". Yang satu menyiratkan tindakan, dan yang lain adalah merupakan cap. Yang satu mencerminkan pengetahuan tentang dirinya sendiri, dan yang lain dengan cepat menjadi sebuah dalih.
Salah seorang teman Stoltz bertengkar dengan anak tirinya yang sudah remaja, yang hanya mengangkat bahunya sewaktu dia dengan tak berdaya menjelaskan tentang nilai-nilai sekolah yang buruk. Kata remaja itu, " Harus bagaimana lagi, saya memang malas. Ayah saya mengatakan mewarisi itu memang sifat darinya'. Remaja ini telah menelan sendiri kesulitannya dalam mempelajari geometri dan, dengan bantuan ayahnya, mengubahnya menjadi penyakit.
Hal serupa berlaku pula untuk penyebab kesulitan. Berdasarkan penelitian Seligman tentang teori atribusi, sebagaimana dilakukan oleh Lorraine Johnsons dan Stuart Biddle dari University of Exetere di inggris, menunjukan bahwa ada perbedaan dramatis antara orang yang mengaitkan kesulitan dengan sesuatu yang sifatnya sementara versus sesuatu yang sifatnya permanen.
Dalam menerapkan teori atribusi dibidang olahraga, mereka menemukan bahwa orang yang melihat kemampuan sebagai penyebab kegagalan (penyebab yang stabil) cenderung kurang bertahan dibandingkan dengan orang yang mengaitkan kegagalan dengan usaha (penyebab yang sifatnya sementara) yang mereka lakukan.
Jika lamaran kita ditolak, dan kita mengaitkan penolakan itu dengan sesuatu yang sifatnya sementara--misalnya kurang berusaha, strateginya buruk, atau pekerjaaanya tidak cocok--kita akan cenderung yakin bahwa penyesuaian-penyesuaian atas kekurangan-kekurangan itu akan memperbaiki peluang kesuksesan kita dimasa depan. Tetapi, jika seseorang mengaitkan penolakan itu dengan sesuatu yang lebih stabil atau abadi--seperti kecerdasaannya. kemampuan menulis surat pengantar yang memang tidak baik, penampilannya--akan lebih besar kemungkinannya orang tersebut akan menyerah.
(Tautan Sendy Sentosa -Mentor AQ)
Sumber :
- Adversity Quotient; Turning Obstacles into Opportunities (Paul G.Stoltz)
- The Seven Habits of Highly Effective People (Stephen R.Covey)
- SEPIA (SQ,EQ,PQ,IQ,AQ) A new Model of Human Intelligence
Imajinasi dalam Alam Pikiran Bung Karno
Pidato Bung Karno : Imajinasi
"Saudara-saudara, Djuga saja pernah tjeritakan dinegara-negara Barat itu hal artinja manusia, hal artinja massa, massa.
Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, "basically" - pada dasar dan hakekatnja - adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah jang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah achirnja penentu sedjarah, "The Makers of History". Bahwa massa inilah jang tak boleh diabaikan ~ dan bukan sadja massa jang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Djerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.
Sebagai tadi saja katakan: Bahwa "World Prosperity", "World Emancipation", "World Peace", jaitu kekajaan, kesedjahteraan haruslah kekajaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.
Itu saja gambarkan, saja gambarkan dengan seterang-terangnja. Saja datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika - Djerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saja katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku jang diberi kewadjiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! - Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku jang berbuat, "Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!"
Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga!
Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin tjarilah peladjaran dari pada hal hal ini semuanja, agar supaja saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerdjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.
Apa jang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Jang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu - terutama sekali di Amerika Serikat - apa jang saja katakan tempoh hari disini " Hollandsdenken " tidak ada.
"Hollands denken" itu apa? Saja bertanja kepada seorang Amerika. Apa "Hollands denken" artinja, berpikir secara Belanda itu apa? Djawabnja tepat Saudara-saudara "That is thinking penny-wise, proud, and foolish", katanja.
"Thinking penny-wise, proud and foolish". Amerika, orang Amerika berkata ini, "Thinking penny-wise" artinja Hitung……..satu sen……..satu sen……..lha ini nanti bisa djadi dua senapa `ndak?........ satu sen……..satu sen……… "Thinking penny-wise"………"Proud" : congkak, congkak, "Foolish" : bodoh.
Oleh karena akhirnja merugikan dia punja diri sendirilah, kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan "Hollands denken" itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikut, lantas mendjadi orang jang berpikir "penny-wise, proud and foolish".
Jang tidak mempunjai "imagination", tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunjai keberanian - Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai "imagination", mempunjai fantasi-fantasi besar: mempunjai keberanian ; mempunjai kesediaan menghadapi risiko ; mempunjai dinamika.
George Washington Monument misalnja,
tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai "imagination" itu, Saudara-saudara.
Bangsa jang tidak mempunjai : imagination" tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa jang tidak mempunjai "imagination"………ja, bikin tugu, ja "rongdepo", Saudara-saudara. Tugu "rong depo" katanja sudah tinggi, sudah hebat.
"Pennj-wise" tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai "imagination",: "imagination" hebat, Saudara-saudara.
Perlu djembatan? Ja, bikin djembatan……tetapi djangan djembatan jang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan tjagak, Saudara-saudara, Ja , umpamanja kita di sungai Musi…….Tiga hari jang lalu saja ini ditempatnja itu lho Gubernur Sumatera Selatan - Pak Winarno di Palembang - Pak Winarno, hampir hampir saja kata dengan sombong, menundjukkan kepada saja "ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi" - Saja diam sadja -"Sungai Ogan" - Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu. Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan !!
Kalau bangsa dengan "imagination" zonder tjagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu djembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah djembatan itu !! Dan saja melihat di San Fransisco misalnja, djembatan jang demikian itu ; djembatan jang pandjangnja empat kilometer, Saudara-saudara ; jang hanja beberapa tjagak sadja.
Satu djembatan jang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; jang kapal jang terbesar bisa berlajar dibawah djembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu djembatan jang lima kilometer lebih pandjangnja, "imagination", "imagination" "imagination"!!! Tjiptaan besar!!!
Kita jang dahulu bisa mentjiptakan tjandi-tjandi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu jang sampai sekarang belum hancur ; kita telah mendjadi satu bangsa jang kecil djiwanja, Saudara-saudara!! Satu bangsa jang sedang ditjandra-tjengkalakan didalam tjandra-tjengkala djatuhnja Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Mendjadi satu bangsa jang kecil, satu bangsa tugu "rong depa".
Saja tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak tjantik. Tapi saja berkata : Tiga danau di Flores lebih tjantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan tjukup : bahan ketjantikan, bahan kekajaan. Bahan kekajaan sebagai tadi saja katakan : "We have only scratched the surface " - Kita baru `nggaruk diatasnja sadja.
Kekajaan alamnja, Masja Allah subhanallahu wa ta'ala, kekajaan alam. Saja ditanja : Ada besi ditanah-air Tuan? - Ada, sudah ketemu :belum digali. Ja, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percajalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunjai Uranium pula.
Kita kaja, kaja, kaja-raja, Saudara-saudara : Berdasarkan atas "imagination", djiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerdja! Gali! Bekerdja! Dan kita adalah satu tanah air jang paling cantik di dunia.
(Pidato Bung Karno, 1957).
Bahwa dunia ini dihidupi oleh manusia. Bahwa manusia didunia ini, Saudara-saudara, "basically" - pada dasar dan hakekatnja - adalah sama; tidak beda satu sama lain. Dan oleh karena itu manusia inilah jang harus diperhatikan. Bahwa massa inilah achirnja penentu sedjarah, "The Makers of History". Bahwa massa inilah jang tak boleh diabaikan ~ dan bukan sadja massa jang hidup di Amerika, atau Canada, atau Italia, atau Djerman, atau Swiss, tetapi massa diseluruh dunia.
Sebagai tadi saja katakan: Bahwa "World Prosperity", "World Emancipation", "World Peace", jaitu kekajaan, kesedjahteraan haruslah kekajaan dunia : bahwa emansipasi adalah harus emansipasi dunia; bahwa persaudaraan haruslah persaudaraan dunia ; bahwa perdamaian haruslah perdamaian dunia ; bahwa damai adalah harus perdamaian dunia, berdasarkan atas kekuatan massa ini.
Itu saja gambarkan, saja gambarkan dengan seterang-terangnja. Saja datang di Amerika,- terutama sekali di Amerika - Djerman dan lain-lain dengan membawa rombongan. Rombongan inipun selalu saja katakan : Lihat, lihat , lihat, lihat!! Aku jang diberi kewadjiban dan tugas untuk begini : Lihat, lihat, lihat!! - Aku membuat pidato-pidato, aku membuat press-interview, aku memberi penerangan-penerangan; aku jang berbuat, "Ini lho, ini lho Indonesia, ini lho Asia, ini lho Afrika!!"
Saudara-saudara dan rombongan : Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga!
Perhatikan, perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin tjarilah peladjaran dari pada hal hal ini semuanja, agar supaja saudara saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerdjaan raksasa kita membangun Negara dan Tanah Air.
Apa jang mereka perhatikan, Saudara-saudara? Jang mereka harus perhatikan, bahwa di negara-negara itu - terutama sekali di Amerika Serikat - apa jang saja katakan tempoh hari disini " Hollandsdenken " tidak ada.
"Hollands denken" itu apa? Saja bertanja kepada seorang Amerika. Apa "Hollands denken" artinja, berpikir secara Belanda itu apa? Djawabnja tepat Saudara-saudara "That is thinking penny-wise, proud, and foolish", katanja.
"Thinking penny-wise, proud and foolish". Amerika, orang Amerika berkata ini, "Thinking penny-wise" artinja Hitung……..satu sen……..satu sen……..lha ini nanti bisa djadi dua senapa `ndak?........ satu sen……..satu sen……… "Thinking penny-wise"………"Proud" : congkak, congkak, "Foolish" : bodoh.
Oleh karena akhirnja merugikan dia punja diri sendirilah, kita itu, Saudara-saudara, 350 tahun dicekoki dengan "Hollands denken" itu. Saudara-saudara, kita 350 tahun ikut-ikut, lantas mendjadi orang jang berpikir "penny-wise, proud and foolish".
Jang tidak mempunjai "imagination", tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunjai keberanian - Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai "imagination", mempunjai fantasi-fantasi besar: mempunjai keberanian ; mempunjai kesediaan menghadapi risiko ; mempunjai dinamika.
George Washington Monument misalnja,
tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah!!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai "imagination" itu, Saudara-saudara.
Bangsa jang tidak mempunjai : imagination" tidak bisa membikin Washington Monument. Bangsa jang tidak mempunjai "imagination"………ja, bikin tugu, ja "rongdepo", Saudara-saudara. Tugu "rong depo" katanja sudah tinggi, sudah hebat.
"Pennj-wise" tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai "imagination",: "imagination" hebat, Saudara-saudara.
Perlu djembatan? Ja, bikin djembatan……tetapi djangan djembatan jang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan tjagak, Saudara-saudara, Ja , umpamanja kita di sungai Musi…….Tiga hari jang lalu saja ini ditempatnja itu lho Gubernur Sumatera Selatan - Pak Winarno di Palembang - Pak Winarno, hampir hampir saja kata dengan sombong, menundjukkan kepada saja "ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi" - Saja diam sadja -"Sungai Ogan" - Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu. Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan !!
Kalau bangsa dengan "imagination" zonder tjagak, Saudara-saudara !!
Tapi sini beton, tapi situ beton !! Satu djembatan, asal kapal besar bisa berlalu dibawah djembatan itu !! Dan saja melihat di San Fransisco misalnja, djembatan jang demikian itu ; djembatan jang pandjangnja empat kilometer, Saudara-saudara ; jang hanja beberapa tjagak sadja.
Satu djembatan jang tinggi dari permukaan air hingga limapuluhmeter; jang kapal jang terbesar bisa berlajar dibawah djembatan itu. Saja melihat di Annapolis, Saudara-saudara, satu djembatan jang lima kilometer lebih pandjangnja, "imagination", "imagination" "imagination"!!! Tjiptaan besar!!!
Kita jang dahulu bisa mentjiptakan tjandi-tjandi besar seperti Borobudur, dan Prambanan, terbuat dari batu jang sampai sekarang belum hancur ; kita telah mendjadi satu bangsa jang kecil djiwanja, Saudara-saudara!! Satu bangsa jang sedang ditjandra-tjengkalakan didalam tjandra-tjengkala djatuhnja Madjapahit, sirna ilang kertaning bumi!! Kertaning bumi hilang, sudah sirna sama sekali. Mendjadi satu bangsa jang kecil, satu bangsa tugu "rong depa".
Saja tidak berkata berkata bahwa Grand Canyon tidak tjantik. Tapi saja berkata : Tiga danau di Flores lebih tjantik daripada Grand Canyon. Kita ini, Saudara-saudara, bahan tjukup : bahan ketjantikan, bahan kekajaan. Bahan kekajaan sebagai tadi saja katakan : "We have only scratched the surface " - Kita baru `nggaruk diatasnja sadja.
Kekajaan alamnja, Masja Allah subhanallahu wa ta'ala, kekajaan alam. Saja ditanja : Ada besi ditanah-air Tuan? - Ada, sudah ketemu :belum digali. Ja, benar! Arang-batu ada, Nikel ada, Mangan ada, Uranium ada. Percajalah perkataan Pak Presiden. Kita mempunjai Uranium pula.
Kita kaja, kaja, kaja-raja, Saudara-saudara : Berdasarkan atas "imagination", djiwa besar, lepaskan kita ini dari hal itu, Saudara-saudara.
Gali ! Bekerdja! Gali! Bekerdja! Dan kita adalah satu tanah air jang paling cantik di dunia.
(Pidato Bung Karno, 1957).
Mahalnya Pernikahan Pangeran William-Kate Middleton
CINTA menjadi sangat mahal ketika melibatkan keluarga kerajaan. Pangeran atau putri kerajaan menghabiskan miliaran dolar untuk pernikahan. Terbaru adalah pasangan Kerajaan Inggris, Pangeran William dan Kate Middleton.
Gaun berlapis emas dan berlian, kue pernikahan setinggi manusia, perayaan yang memakan waktu berhari-hari, dan ratusan ribu bunga adalah gambaran kecil dari betapa mahalnya pernikahan seorang pangeran atau putri raja.
Mahalnya pernikahan anggota keluarga kerajaan bukanlah cerita baru. Pada 19 April 1770, juga tercatat sebagai pernikahan mewah antara putri Marie Antoinette dari Kerajaan Prancis dengan Louis Auguste. Putri Marie saat itu mengenakan gaun yang berlapiskan berlian. Sedangkan pernikahan antara Pangeran Arthur, anak Raja Henry VII dan Ratu Elizabeth, dengan Cahterine dari Aragon juga menghabiskan biaya yang sangat mahal. Meski pernikahan yang berlangsung pada 1501 tidak diketahui secara pasti biayanya, kemewahan bisa dilihat dari gaun yang dijahit dengan benang emas dan pesta pernikahan berlangsung selama dua minggu. Pada 1719, pernikahan Putra Mahkota Friedrich Augustus Saxony dengan Maria Josepha dari Austria juga terbilang mewah karena perayaan pernikahan hampir satu bulan atau 28 hari.
Daily Beast, media di Inggris, menyebutkan terdapat 10 pernikahan anggota keluarga kerajaan yang menelan biaya hingga miliaran rupiah. Pernikahan termahal yang dicatat Daily Beast adalah pada 1468 antara Margaret of York dan Charles the Bold of Burgundy, yang menyatukan Inggris dan Burgundi untuk mengecewakan Raja Louis XI dari Prancis. Pernikahan itu diperkirakan menghabiskan USD325 juta hampir Rp3 triliun (angka disesuaikan dengan nilai saat ini). Perayaan ini juga termasuk pertarungan empat hari antara ksatria-ksatria paling kondang di Eropa dan sebuah mahkota bertahta mutiara dan permata yang dibuat untuk mempelai wanita. Termahal kedua adalah pernikahan Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum dari Dubai dan Putri Salama pada awal Mei 1981.
Pernikahan yang digelar tujuh hari ini diperkirakan menghabiskan anggaran USD100 juta atau sekitar Rp900 miliar. Pada pernikahan ini duta besar, pangeran, dan bangsawan serta pejabat dari negara Arab dan Afrika diterbangkan dengan 34 jet pribadi.
“Pernikahan itu masih dianggap sebagai yang termahal di masa modern begitu disesuaikan dengan inflasi,” begitu Daily Beast menuliskan.
Termahal ketiga adalah pernikahan Putra Mahkota Spanyol Felipe dan Letizia Ortiz Rocasolano pada 22 Mei 2004. Diperkirakan, pernikahan yang hanya dua bulan setelah bom teroris yang menewaskan 191 orang di Madrid ini menghabiskan sekitar USD29 juta atau sekitar Rp261 miliar. Lebih dari 1.500 tokoh penting menghadiri upacara pernikahan yang digelar di Katedral Almudena di Madrid.
Sedangkan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton diletakkan pada posisi empat. Biaya pernikahan Pangeran William dengan Kate ini diperkirakan mengalahkan pernikahan orangtuanya, Pangeran Charles dan Putri Diana. Daily Beast menempatkan pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana pada posisi 9 dengan biaya USD5 juta atau Rp45 miliar. “Meski belum angka pasti berapa biaya pernikahan William- Kate, banyak yang memperkirakan pernikahan ini menghabiskan USD16 juta (Rp144 miliar),” tulis Daily Beast.
Biaya pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton menjadi salah satu topik bahasan menarik menjelang pernikahan pada 29 April. Sayangnya biaya besar tersebut diambil dari uang rakyat, bukan dari kekayaan keluarga kerajaan. Bahkan, Daily Mail menyebut bahwa biaya pernikahan Kate-William paling mahal dalam sejarah Inggris dengan menghabiskan 20 juta poundsterling (Rp284,99 miliar).
Globe and Mail malah memprediksi biaya yang harus dikeluarkan untuk pernikahan itu mencapai USD78 juta (Rp673,14 miliar). Padahal, menurut salah satu kajian, rata-rata pernikahan orang Inggris hanya membutuhkan biaya USD29.000 (Rp250 juta). Dikabarkan, biaya itu di luar biaya pengamanan yang dilakukan oleh polisi dan aparat keamanan menyusul adanya ancaman serangan terorisme dalam pesta penikahan itu.
Padahal, Inggris belum lepas sepenuhnya dari krisis ekonomi. Tetapi, kerajaan justru menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah. Meski keluarga kerajaan memiliki kekayaan hingga miliaran dolar, tetap saja pernikahan itu dianggap banyak pihak sebagai sebuah ironi. Ditambah lagi, Press TV melaporkan, deklarasi pada 29 April sebagai hari libur nasional itu telah merugikan ekonomi Inggris sekitar USD9,6 miliar atau Rp86,4 triliun. Sedangkan Konfederasi Industri Inggris memperkirakan kerugian ekonomi akibat libur itu mencapai USD6,4 miliar atau Rp57,6 triliun. Angka yang tidak sedikit dalam menggerakkan ekonomi rakyat Inggris. Dalam beberapa bulan lalu Inggris menghadapi serangkaian aksi demonstrasi anti-pemerintah. Mereka mengkritik penghematan yang dilakukan pemerintah.
Masyarakat menolak penghematan itu karena berdampak dengan penutupan banyak fasilitas dan pelayanan publik. Sangat ironis ketika Pemerintah Inggris saat ini justru mendukung pernikahan kerajaan dengan biaya besar. Meski banyaknya protes, pemerintah bersikeras untuk tidak mengubah biaya pernikahan. Faktanya, banyak masyarakat menghadapi pengangguran tetapi pasangan kerajaan itu justru menghabiskan jutaan dolar uang pajak rakyat demi gengsi pernikahan yang mewah dan tidak dilupakan sejarah. Tapi, ada pihak yang mengklaim kalau biaya pernikahan itu dikeluarkan oleh Ratu Elizabeth yang memiliki kekayaan USD455 juta.
Kantor Pangeran Charles, ayah William, menyebutkan pihak keluarga kerajaan akan menanggung biaya yang berkaitan dengan pernikahan, mulai dari bunga, resepsi, transportasi.
“Semua itu akan dibayar oleh keluarga kerajaan dengan kontribusi dari keluarga Middletons,” demikian keterangan Clarence House. Juru Bicara Istana St James juga menyatakan, Ratu Elizabeth dan Pangeran Charles akan ikut berkontribusi pada biaya pernikahan William-Kate.
“Ini akan menjadi kontribusi keluarga namun belum ada keputusan akhir yang dibuat. Jika resepsi diadakan di istana, Ratu akan membayarnya,” ujar juru bicara Istana St James.
Kenyataannya, keluarga pengantin perempuan yang memiliki perusahaan penyuplai pesta tidak dianggap sebagai orang dari kalangan yang mapan. Tetapi, mereka harus mengeluarkan biaya senilai USD157.000 untuk hotel, gaun pengantin, dan bulan madu. Gaun yang bakal dipakai Kate memiliki harga sekitar USD47.000 dan pakaian untuk pasangan pria senilai USD31.000.
The Sunday Times melaporkan, keluarga Kate juga akan membayar beberapa kamar di Hotel Goring di kawasan kelas atas London, distrik Belgravia. Di hotel itu akan disewa lima kamar hotel yang terdiri atas dua kamar tidur bagi Kate dan adiknya, Pippa, serta pendamping pengantin perempuannya.
Carole dan Michael serta putra mereka James, adik laki-lakinya, juga dilaporkan menginap di hotel itu, tidak jauh dari Istana Buckingham untuk mempersiapkan pernikahan pada 29 April di gereja Westminster Abbey di London. Sebenarnya keluarga Middleton mendapatkan jutaan poundsterling dari bisnis barang pesta mereka.
ANDA 2011
hmmmm (L.V)
bisa bisanya yach mau sholat ied masi bisa narsis .....
tapi ok juga ... walaupun pak ustads lg isi ceramah (masa bodoh)
s.................................ssssstttt aq yakin klo tau ni foto aq share pasti aq kena omelan (paling cerewet)
biarin ajalah .... pisss yach(L.V)
tapi ok juga ... walaupun pak ustads lg isi ceramah (masa bodoh)
s.................................ssssstttt aq yakin klo tau ni foto aq share pasti aq kena omelan (paling cerewet)
biarin ajalah .... pisss yach(L.V)
A Thousand Splendid Suns
Kisah yang memilukan. Itulah yang saya rasakan saat membaca buku ini, saat membaca kisah kehidupan Mariam dan Laila, dua orang perempuan Afghanistan, yang menggambarkan secara keseluruhan mengenai kehidupan para perempuan Afghanistan.
Mariam... terlahir sebagai seorang perempuan Afghan, dan sebagai seorang harami (anak haram) pada tahun 1959. Semasa kecilnya Mariam hidup di sebuah desa, Gul Daman, bersama ibunya di sebuah kolba dan hidup dalam kemiskinan. Kelahirannya sebagai seorang anak di luar nikah merupakan aib tidak hanya bagi ibunya, Nana, tapi juga bagi ayahnya, Jalil, dan keluarganya. Keluguan, rasa penasaran akan dunia di luar Gul Daman, dan keinginan untuk bisa dicintai dan hidup bersama ayahnya, merupakan awal dari kisah menyedihkan Mariam.
Mariam memutuskan untuk pergi dari Gul Daman menuju Herat untuk menemui ayahnya. Diluar dugaannya, Jalil bahkan tidak ingin bertemu dengannya. Mariam pun kembali ke Gul Daman dan mendapati ibunya yang telah meninggal. Sepeninggalan ibunya, ayah Mariam membawanya ke Herat dan menikahkannya dengan seorang pria yang berusia 40 tahun dan berasal dari Kabul, seorang pengusaha dan pemilik toko sepatu bernama Rasheed. Dan saat itu Mariam hanyalah seorang gadis berusia 15 tahun. Kehidupan pernikahannya dengan Rasheed pun tak lebih baik karena Mariam sendiri tidak bisa memberikan keturunan bagi Rasheed. Meskipun pernikahan mereka masih tetap bertahan hingga bertahun-tahun kemudian, namun bagi Rasheed, Mariam tak lebih dari sebuah beban yang harus ditanggungnya.
Berbeda dengan Mariam, Laila dilahirkan di sebuah keluarga yang utuh. Hanya saja, seperti Mariam, Laila juga merupakan seorang perempuan dan karena itulah, bagi ibunya, Laila tak lebih dari seorang anak bungsu. Ibunya tentu saja lebih memuja kedua kakak laki-lakinya yang telah pergi berjihad sejak dia masih kecil. Malang bagi Laila yang harus kehilangan keluarganya karena peperangan yang melanda Afghanistan. Saat itulah Laila bertemu dengan Mariam. Dia diselamatkan oleh Mariam dan Rasheed dari reruntuhan rumahnya yang dibom. Terluka dan telah kehilangan keluarganya, Laila tidak memiliki pilihan lain, demi keselamatan bayi yang dikandungnya, maka Laila menerima lamaran Rasheed untuk menjadikannya istri kedua. Saat itu Laila hanyalah seorang gadis berusia 14 tahun.
Kehidupan Laila hanya sedikit lebih baik dari Mariam karena saat itu dia sedang mengandung, meskipun dia mengambil keputusan yang berbahaya karena anak yang dikandungnya bukanlah anak Rasheed. Ketika bayinya lahir, yang ternyata adalah bayi perempuan yang kemudian dinamakan Aziza, maka kehidupan Laila pun sama menderitanya dengan Mariam. Tak jarang Rasheed menggunakan kekerasan baik kepada Mariam maupun Laila. Dan peperangan yang terus berlanjut di Afghanistan hanya memperburuk keadaan tak hanya bagi Mariam dan Laila, namun juga bagi seluruh kaum perempuan dan anak-anak dan orang-orang tak berdosa lainnya. Akan tetapi, dalam berbagai kesulitan yang mereka alami, di antara luka yang ditorehkan oleh suami, di tengah-tengah peperangan yang berkepanjangan, Mariam dan Laila sama-sama menemukan cinta dan keyakinan bahwa pada akhirnya mereka akan tetap bertahan
Milton Friedman, Bapak Pasar Bebas. Tokoh yang menjadi anutan kelompok Widjojo Nitisastro yang kemudian dijadikan bahan acuan resmi pendidikan ekonomi bagi bangsa Indonesia. Ruang pelajaran ekonomi tanpa alternatif. Nyaris semua ekonom kita yang dipake penguasa berkiblat pada pemikiran orang ini.
==========================
Ia telah menyumbangkan sejumlah pemikirannya dalam makro-ekonomi, mikro-ekonomi, sejarah ekonomi, dan statistik kepengacaraan kapitalisme laissez-faire. Pada 1976, dia mendapat Penghargaan Hadiah Nobel "untuk pencapaiannya di bidang analisis konsumsi, teori dan sejarah moneter, dan demonstrasi kompleksitas dari kebijakan tentang stabilisasi".
Sebagai ahli ekonomi yang legendaris dan memperjuangkan kebebasan individu, ia telah mempengaruhi kebijakan ekonomi tiga Presiden Amerika Serikat, yaitu Richard Nixon, Gerald Ford, dan Ronald Reagan serta Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher.
Dalam buku-bukunya, kolom Majalah Newsweek, dan sebuah show televisi publik, ia memperjuangkan kebebasan individu dalam ekonomi dan politik. Pejabat-pejabat Amerika Serikat memuji sumbangannya yang telah menyampaikan kepada jutaan orang sebuah pengertian manfaat ekonomi dari pasar bebas yang kompetitif. Ia sempat melihat pembaharuan pasar bebas menyebar ke bekas dunia komunis dan Amerika Latin. "Saya harap apa yang saya tulis menyumbang ke hal itu, tetapi itu bukanlah kekuatan yang menggerakkan. Orang-orang seperti saya, apa yang lakukan adalah menjaga gagasan-gagasan ini terbuka sampai waktunya bila ketika (gagasan-gagasan) itu bisa diterima," katanya.
Membongkar apa yang terjadi di balik surat Kartini
Saat itu tahun 1880-an menjelang pergantian abad 20. Pemikiran Multatuli menjadi dentuman rasa berdosa orang Belanda bahwa mereka bisa kaya raya diatas bangkai orang-orang Hindia yang dipaksa kerja rodi untuk membangun infrastruktur jalan dan perkebunan-perkebunan swasta di seluruh tanah Sumatera dan Jawa. Yang menjadi perhatian disini adalah program akumulasi modal perkebunan adalah kerjaan kelompok liberal, kemudian setelah kaum liberal kehilangan suara pada tahun 1880-an mereka malah seakan-akan menyalahkan kelompok konservatif terhadap kekejiannya sendiri di masa lalu. Kaum liberal kemudian menggunakan tangan kelompok Sosialis yang sedang naik daun.
Pertarungan di Parlemen Belanda yang kemudian melahirkan banyak nama di harian-harian Belanda macam Van Dedem, Van Kol ataupun Van Deventer menjadikan sebuah sodoran baru perlawanan politik kelompok liberal untuk membangun benteng baru yaitu : "Akumulasi Budaya". Kaum liberal menganggap kelompok konservatif secara perlahan memenangkan akumulasi modal setelah mendapat dukungan angkatan bersenjata dan keluarga kerajaan, sementara kelompok liberal mendapatkan penghinaan atas suara Multatuli dari sinilah kemudian Kartini menjadi besar karena pertarungan politik di parlemen Belanda antara kelompok liberal garis keras yang didukung kelompok sosialis dengan kelompok konservatif.
Kegelisahan Kartini adalah kegelisahan penasaran ingin tau, bukan kegelisahan perlawanan. Ia hanya bertanya dalam surat-suratnya tentang diskriminasi-diskriminasi yang terjadi. Pemikiran Kartini belum sampai pada pemahaman bahwa yang terjadi atas diskriminasi seksual wanita adalah persoalan diskriminasi modal yang menggunakan kekerasan rasial sebagai program politik kolonial. Kartini tanpa sadar merindukan peradaban kolonial tersebut, bahwa wanita Indonesia harus masuk ke dalam sistem pendidikan barat agar mengerti bagaimana dunia bekerja tanpa sedikitpun ia mengeritik soal modal yang menjadi landasan peradaban masyarakat. Di titik persoalan lama, Kartini menggugat tentang kekolotan agama, kekerasan struktur feodal Jawa terhadap penindasan elite dengan bawahan dan segala bentuk diskriminasi sosial yang menghancurkan perempuan dan perasaan alam bawah sadar anak-anak, tapi Kartini belum sadar bahwa yang membuat semua itu adalah sistem permodalan asing bernama Kolonialisme.
Di satu pihak kegelisahan Kartini dimanfaatkan kelompok liberal untuk menghardik kelompok konservatif dan ini menghasilkan kemenangan luar biasa, modal budaya bisa diraih kelompok liberal untuk memperluas akumulasi modal mereka, dengan masuknya sistem pendidikan barat maka kelompok liberal akan mendapatkan sebarisan tenaga terdidik yang bisa dibayar murah dan kelak dalam pemikiran mereka akan diciptakan cendikiawan creol yang status sosialnya disamakan dengan orang Belanda sehingga ketika Hindia disatu masa berdiri sendiri maka kaum creol terdidik inilah yang akan memegang Hindia.
Di tahun 1920-an ketika nama Kartini naik daun setelah kematiannya yang tragis dan Pane menerjemahkan surat-suratnya, nama Kartini kemudian digunakan oleh kaum pergerakan untuk membangun saluran suara perempuan. Disini surat-surat kartini tidak lagi ditafsirkan sekedar gugatan wanita Jawa terhadap diskriminasi seksual tetapi oleh kaum pergerakan dikonversi menjadi gugatan modal. Dan Sukarno-lah yang menguasai ini dengan baik, Sukarno selalu mendengung-dengungkan apa yang ditulis dalam surat Kartini adalah sebuah perlawanan perempuan terhadap sistem, sebuah pembongkaran sistematis. Konversi pemikiran Kartini yang penasaran ingin tau saja, menjadi Kartini yang menggugat peradaban sepenuhnya adalah hasil kerja politik Sukarno. Disini Sukarno mampu membangun imajinasi seorang Ibu yang berpikiran maha raksasa mampu menandingi pejuang-pejuang emansipasi Amerika atau Eropa yang sedang naik daun di tahun 20-an.
Sampai pada masa Sukarno berkuasa citra Kartini yang Rebel menjadi semakin sosialistik, apalagi saat anak Kartini. Kolonel Susalit terlibat dalam peristiwa Madiun 1948 adalah Sukarno yang menyelamatkannya sendiri demi sebuah citra Ibu Bangsa. Sukarno menggambarkan wanita Indonesia adalah seorang Kartini bertangan Sarinah, seorang berpikiran bangsawan tapi bertindak sebagai wanita yang mau masuk ke dalam lumpur masyarakat seperti Sarinah. Citra Kartini Rebel inilah yang kemudian dipatahkan oleh Suharto.
Di jaman Suharto surat Kartini tidak lagi menjadi penting, tapi Baju Kartini menjadi sebuah simbol modal luar biasa untuk menjadikan wanita Indonesia masuk ke dalam sistem Suhartorian. Semua lini harus terkooptasi ke dalam Sistem Suhartorian termasuk Kartini itu sendiri, citra Kartini yang rebel menurut imajinasi Sukarno menjadi Kartini yang bangsawan Jawa, bercitra anggun dan berbakti kepada suami, Kartini yang enggan berpikiran memberontak, yang tak paham persoalan-persoalan buruh, yang tak sensitif terhadap ketidakadilan. Kartini dalam konteks Suhartorian menjadi Kartini dengan alam kenyamanan, citra Kartini dikembalikan ke Keraton Kadipaten Mayong Jepara, menjadi sebuah figur yang lembut, selembut ibu-ibu dharma wanita.
ANDA, 21 April 2011.
Langganan:
Komentar (Atom)







